November 03, 2020
Penulis — Neena

Rumah Kami Surga Kami - Petualangan Hot - Langkah Langkah Jalang

Aku masih ingat benar, setahun setelah ibuku meninggal, Papa menikah lagi dengan seorang janda muda beranak dua orang. Jadi keadaannya seimbang, karena saat itu Papa pun punya anak dua orang, aku dan Yoga (adikku). Perbedaannya, Papa membawa dua anak cowok, sementara ibu tiriku membawa dua anak cewek.

Waktu Papa menikah itu, usianya baru 43 tahun. Sementara ibu tiriku berusia 32 tahun. Tapi anehnya, saudara-saudara tiriku itu usianya lebih tua dariku. Pada saat Papa menikah lagi itu usiaku baru 10 tahun, sedangkan Yoga baru berusia 9 tahun. Tapi saudara-saudara tiriku lebih tua dua dan tiga tahun dariku.

Belakangan aku tahu bahwa Papa menikah dengan almarhumah ibuku waktu usianya sudah 32 tahun. Kemudian aku lahir pada saat usia Papa sudah 33 tahun. Setahun kemudian Yoga pun lahir.

Sedangkan ibu tiriku yang sudah kusebut Mama itu menikah waktu usianya baru 19 tahun. Lalu waktu Mama berusia 20 tahun lahirlah Mbak Ayu. Setahun kemudian lahir pula Mbak Ita.

Suasana di rumah kami jadi hangat setelah aku punya ibu tiri yang ternyata sangat baik itu. Beliau memperlakukan aku dan Yoga seperti anak kandungnya sendiri. Begitu pun Papa, memperlakukan Mbak Ayu dan Mbak Ita seperti anak kandungnya sendiri. Sehingga orang yang belum tahu seluk beluk keluarga kami, pastilah menganggap aku dan Yoga itu anak kandung Mama.

Mungkin di antara Papa dengan Mama dahulu sudah sepakat, bahwa mereka akan saling menitipkan anak-anak yang akan diperlakukan secara adil dan penuh kasih sayang.

Begitulah singkatnya latar belakang keluargaku.

Hari demi hari… bulan demi bulan dan tahun berganti tahun berjalan terus dengan cepatnya… kami semua hidup dalam suasana damai. Tak pernah ada keributan yang berarti, karena aku, Yoga dan kedua kakak tiriku suka saling mengalah.

Tanpa terasa waktu berlalu, kami berempat sudah jadi mahasiswa-mahasiswi semua. Mbak Ayu sudah semester akhir, tinggal menunggu skripsi saja. Mbak Ita sudah semester lima, Yoga baru semester pertama, sementara aku sudah semester tiga.

Rumah kami pun sudah diperbesar. Kamarnya jadi ada 4. Anak-anak Papa dan Mama mendapat kamar masing-masing.

Sementara itu, Papa membangun pavilyun yang terpisah dari rumah utama. Di pavilyun itulah tempat Papa dan Mama.

Mungkin Papa dan Mama sengaja ingin menempati pavilyun itu agar tidak terasa berisik oleh suara kami berempat, yang terkadang memang mengeluarkan suara keras. Sewlain daripada itu, mungkin juga Papa ingin melatih kemandirian kami berempat dengan memberikan kebebasan menempati rumah utama.

Di rumah utama, kamar paling depan dipakai oleh Yoga, agar rumah kami ada “perisai” di setiap bagian krusial. Jadi Yoga ditempatkan di kamar paling depan, hitung-hitung ada penjaga keamanan di rumah kami. Di samping kamar Yoga adalah kamar Mbak Ita.

Aku dan Mbak Ayu ditempatkan di lantai dua. Kamarku yang paling depan, sementara kamar Mbak Ayu di bagian dalam, terhalang oleh ruang belajar.

Di ruang belajar itu aku dan Mbak Ayu sering belajar bareng. Tapi tentu saja kami menekuni jenis ilmu yang berbeda, karena kami berlainan fakultas.

Yang menyenangkan belajar dengan Mbak Ayu itu, adalah seringnya dia membuatkan minuman dan makanan ringan untukku. Minumannya terkadang teh manis atau kopi susu, terkadang black coffee saja. Makanan ringannya, terkadang bawan, pisang goreng atau french fries.

Setelah selesai belajar, kami suka ngobrol ke barat ke timur. Bahkan sering juga Mbak Ayu nonton bokep koleksiku yang selalu tersimpan di flashdisk, lalu diputar di laptopnya. Namun aku hanya berani menyimpan 1-2 film bokep di flasdisk itu, lalu didelete kalau sudah bosan menontonnya.

Tapi yang satu itu tentunya secara rahasia. Bahkan sering Mbak Ayu meminjam flashdisk berisi bokep itu, untuk ditonton di dalam kamarnya. Dengan suara yang didengarnya lewat earphone.

Bukan cuma menontonnya, Mbak Ayu juga sering mengajakku berdiskusi tentang segala yang pernah ditontonnya itu.

Bahkan pada suatu malam, setelah menonton bokep di ruang belajar, Mbak Ayu berkata,” Kata teman yang udah pengalaman sih dioral sama cowok itu nikmat sekali.”

Aku tersenyum dan menyahut, “Iya Mbak. Terutama kalau yang oralnya fokus ke clitoris. Kan clitoris itu paling peka di tubuh cewek.”

“Wow… kamu udah banyak tau ya. Emangnya udah punya pengalaman sama cewek?” ucap Mbak Ayu sambil menepuk bahuku.

“Pengalaman sih belum ada Mbak. Cuma sering dengar ceritanya saja dari teman yang udah punya pengalaman. Juga sering baca buku pengetahuannya. Mbak sendiri udah punya pengalaman?”

“Hiiiih…! Pengalaman dari mana? Pacaran aja baru satu kali waktu masih di SMA dahulu. Sampai sekqarang belum pacaran lagi.”

“Terus… sama pacarnya diapain aja?”

“Ciuman bibir aja belum pernah. Paling cuma cipika-cipiki.”

Aku mengangguk-angguk dan percaya pada pengakuan kakak tiriku itu.

Tapi Mbak Ayu seperti sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya.

Sesaat kemudian dia malah bangkit dari sofa ruang belajar. “Mau tidur duluan ah… udah malam sekali tuh, “katanya sambil menunjuk ke jam dinding digital yang sudah menunjukkan pukul 23.05.

“Iya Mbak. Sleep tight and have a nice dream,” sahutku sambil berdiri juga.

“You too…” sahut Mbak Ayu sambil melangkah keluar ruang belajar dan masuk ke dalam kamarnya.

Aku pun melangkah ke arah kamarku. Dan melupakan percakapan dengan Mbak Ayu tadi.

Keesokan malamnya Mbak Ayu tidak muncul di ruang belajar. Sejak jam 7 malam dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Lalu tidak keluar lagi.

Begitu pula pada malam-malam berikutnya. Mbak Ayu tidak muncul lagi di ruang belajar. Sementara aku tetap menyibukkan diri untuk menghafal di ruang belajar. Karena fakultasku adalah fakultas yang banyak hafalannya.

Sebenarnya di lantai bawah pun ada ruang belajar yang biasa dipakai oleh Yoga dan Mbak Ita. Tapi aku tak pernah nyelonong ke ruang belajar mereka. Begitu juga Yoga dan Mbak Ita, tak pernah nyelonong ke ruang belajar di lantai dua.

Beberapa malam kemudian, Mbak Ayu muncul lagi di ruang belajar. Aku yang sedang duduk di belakang meja tulisku menyambutnya dengan sikap ceria, “Mbak lama juga gak muncul di ruang belajar kita ini.”

“Biasa… ada langganan datang,” sahutnya sambil tersenyum.

“Langganan? Langganan apa?”

“Langganan perempuan. Datang bulan.”

“Owh… kirain apa. Suka berapa hari datang bulannya Mbak?”

“Sepuluh harian. Aku kalau datang bulan suka sakit kepala. Makanya gak mau mikir yang berat-berat.”

“Tapi sekarang sudah bersih?”

“Sejak dua hari yang lalu juga sudah bersih. Sekarang sih mau begadang sampai pagi juga gak apa-apa.”

“Owh, iya… sekarang kan malam Minggu, ya.”

“Iya. Malam Minggu yang sepi… karena Papa, Mama, Ita dan Yoga pada ke Semarang.”

“Iya… kita berdua kebagian jaga rumah sampai Senin pagi, ya Mbak.”

Memang Papa, Mama, Mbak Ita dan Yoga pada ke Semarang. Mau menghadiri pernikahan keponakan Papa alias saudara sepupuku. Dan rumah tidak boleh ditinggalkan tanpa ada yang menunggunya. Karena itu aku dan Mbak Ayu tidak diajak ke Semarang, agar rumah tetap aman. Maklum belakangan ini sering terjadi pencurian di daerah kami.

Mbak Ayu menghampiri kursi yang sedang kududuki. Dan memegang kedua bahuku dari belakang, “Justru sekarang kita punya kesempatan baik, Sam.”

“Emangnya mau ngapain Mbak? Mau nonton bokep semalam suntuk?” tanyaku tanpa menoleh ke belakang.

Lalu terdengar suara Mbak Ayu di belakang kursiku, “Sam… aku ingin tau kayak apa sih rasanya kalau punyaku dijilatin seperti dalam bokep-bokep itu… kamu mau kan melakukannya?”

Aku tersentak kaget. Permintaan kakak tiriku itu benar-benar di luar dugaan. Tak pernah terpikirkan sedikit pun kalau Mbak Ayu mau meminta sesuatu yang belum pernah kulakukan itu.

Aku pun bangkit dari kursiku. Menatap wajah kakak tiriku yang sebenarnya cantik itu. Dan baru sekarang aku memperhatikan kecantikannya. “Mbak serius?” tanyaku.

Mbak Ayu memegang pergelangan tanganku. Lalu mengajak duduk di sofa ruang belajar itu.

“Serius Sam… aku penasaran… karena teman-temanku sudah pada sering merasakannya. Cuma aku sendiri yang belum pernah. Sam mau kan menghilangkan rasa penasaranku?” Mbak Ayu memegang tanganku erat-erat.

“Mau sih mau Mbak. Tapi takut…”

“Takut apa?”

“Takut ketahuan sama Papa dan Mama… pasti mereka marah sekali nanti…”

“Ya jangan sampai mereka tau dong. Jadikan rahasia kita berdua aja.”

Saat itu Mbak Ayu mengenakan daster katun berwarna abu-abu polos. Dan tiba-tiba saja daster itu disingkapkan sampai perutnya. Membuatku tersentak lagi. Karena kakak tiriku itu tidak mengenakan celana dalam. Sehingga aku bisa langsung melihat kemaluannya yang… aaaah… jantungku berdebar-debar dibuatnya…

“Mbak… “hanya itu yang terlontar dari mulutku. Dengan perasaan gugup tak menentu.

“Ayo jilatin, Sam. Please… “pinta Mbak Ayu dengan nada memohon.

“Tapi Mbak… menurut buku yang pernah kupelajari, tidak boleh langsung menyentuh kemaluan. Harus ciuman dulu… harus mainkan toket dulu dan sebagainya.”

“Ya udah… ikuti aja petunjuk yang pernah kamu pelajari itu.”

“Di sini?”

“Menurutmu harus di mana? Di sini atau di kamarku atau di kamarmu?”

“Biar akunya pede, di kamarku aja Mbak.”

“Ayo, “Mbak Ayu bangkit dari sofa, lalu melangkah duluan ke dalam kamarku.

Setelah berada di dalam kamar, kututup dan kukuncikan pintu kamarku, lalu menghampiri kakak tiriku yang sudah duluan duduk di pinggiran tempat tidurku.

“Mau sambil nonton bokep sebagai penuntun kita?” tanyaku sambil membuka lipatan laptopku dan meletakkannya di atas tempat tidurku, menyandar ke dinding.

“Iya… itu penting Sam. Biar jangan ngawur,” sahutnya.

Aku tercenung sejenak. Mengingat-ingat video yang berisi oral sex sebagai foreplay. Lalu kuambil flashdisk silver dan kupasangkan di laptop yang sudah kuaktifkan. Sesaat kemudian layar laptopku mulai menayangkan adegan sepasang orang bule yang bersetubuh. Keduanya sudah telanjang bulat di kebun apel.

“Wah… langsung pada telanjang gitu ya. Berarti kita juga harus telanjang seperti mereka?” tanya Mbak Ayu sambil menelungkup dengan wajah menghadap ke arah layar laptopku.

“Mungkin memang harus begitu Mbak,” sahutku.

“Kamu juga harus telanjang dong,” ucap Mbak Ayu sambil menepuk punggungku.

“Aku sih gak usah telanjang. Kan Mbak cuma ingin dioral. Bukan mau bersetubuh. Jadi aku hanya akan menggunakan tangan dan mulut… jadi gak usah telanjang kan?”

“Nggak fair dong ah. Seperti di film itu kan sama-sama telanjang.”

“Mereka nantinya bersetubuh Mbak. Wajar aja kalau sama-sama telanjang.”

“Pokoknya kamu harus telanjang juga ah. Biar aku gak risih telanjang sendirian,” ucap Mbak Ayu sambil menurunkan celana trainingku sampai terlepas dari kakiku. Baju kausku pun ditanggalkannya, sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam saja. Pada saat itulah Mbak Ayu melepaskan dasternya, sehingga langsung jadi telanjang bulat.

Aku tertegun. Memperhatikan sekujur tubuh kakak tiriku dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Tubuh yang tinggi montok, dengan sepasang payudara yang gede dan bokong yang semok pula. Sementara kulitnya yang putih bersih, begitu mulusnya, tak terlihat noda setitik pun.

Memang sangat berbeda kalau kubandingkan dengan Mbak Ita. Kalau Mbak Ayu berperawakan tinggi montok, Mbak Ita tergolong tinggi semampai.

“Aku sudah boleh menyentuh bagian-bagian penting di tubuh Mbak?” tanyaku ragu.

“Iya… anggap aja aku ini cewek di dalam film itu. Dan kamu cowoknya. Jangan canggung-canggung,” sahut Mbak Ayu sambil merebahkan diri kembali di atas tempat tidurku.

“Padahal kita ini saudara, ya Mbak.”

“Saudara lain ayah beda ibu. Hihihiiii… kita kan sebenarnya cuma terbawa oleh papamu dan mamaku. Kamu ini jadi adikku. Padahal kita tidak ada hubungan darah. Ayolah… jangan buang-buang waktu Sam.”

Aku melirik ke layar laptopku. Si cowok tampak sedang mengemut pentil toket ceweknya, sementara tangan si cowok sedang menggerayangi kemaluan si cewek.

Dengan jantung berdebar-debar aku pun bermaksud untuk mengikuti adegan di layar laptopku. Merayap ke atas tubuh telanjang kakak tiriku, Dan langsung memagut pentil toket Mbak Ayu, sementara tanganku mulai mengusap-usap kemaluannya yang bersih dari rambut.

Tapi sebelum kumulai mengemut pentil toketnya, Mbak Ayu berkata setengah berbisik, “Cium bibirku dulu Sam…”

Kuikuti keinginannya. Kupagut bibir Mbak Ayu, yang disambut dengan juluran lidahnya. Kusedot-sedot lidah kakak tiriku itu. Lalu kami saling lumat dengan gairah yang makin lama makin menghangat.

Tadinya aku ingin melakukan seperti yang ditayangkan di layar laptopku, menggerayangi kemaluan Mbak Ayu sambil mengemut pentil toketnya. Tapi adegan di layar laptopku sudah bergerak lebih jauh. Wajah si cowok sudah berada di depan kemaluan ceweknya. Lalu mulai mengoral cewek itu.

Menyaksikan adegan itu aku pun berubah pikiran.

Wajahku melorot turun ke perut Mbak Ayu. Menjilati pusar perutnya sesaat. Lalu turun lagi, sehingga wajahku langsung berhadapan dengan kemaluan kakak tiriku.

Aku terlongong sesaat di depan kemaluan yang sangat bersih dari rambut itu. Bentuknya tembem pula. Jujur… kalau memperturutkan nafsu, ingin saja kujebloskan batang kemaluanku ke dalam celah yang sedang kungangakan ini. Namun aku mati-matian mengontrol diriku sendiri, agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mbak Ayu sendiri tampak ingin mengikuti adegan di layar laptopku. Kedua tangannya menarik sepasang pahanya ke atas dan dikangkangkan selebar mungkin. Sementara ujung lidahku sudah mendarat di permukaan kemaluannya yang sedang kungangakan dengan kedua tanganku ini.

Lidahku pun mulai beraksi. Menjilati bagian yang berwarna pink dan mengkilap basah itu. Mbak Ayu pun mulai menahan-nahan nafasnya. Entah apa yang sedang dirasakannya. Sementara rintihan-rintihan nya mulai terdengar, meski cuma perlahan sekali. “Iya Saaam… iyaaa… ooooh… ini enak sekali Saaam…

Namun aku pun sebenarnya sudah mulai sulit mengatur nafasku sendiri. Karena semua yang kuhadapi ini benar-benar membangkitkan gejolak nafsu birahiku.

Meski begitu, aku masih tetap berusaha mengontrol diriku sendiri. Menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang melampaui batas. Meski membuatku tersiksa.

Dan aku semakin giat menjilati kemaluan Mbak Ayu. Bahkan setelah kutemukan clitorisnya, aku pun memusatkan jilatanku ke arah kelentit itu. Sementara kedua tanganku terjulur ke arah dada kakak tiriku. Dan mulai meremas sepasang toketnya dengan lembut.

Terasa paha Mbak Ayu mulai mengejang-ngejang. Sementara rintihan-rintihannya mulai terdengar meski seperti ditahan, mungkin agar jangan terlalu keras. “Saaaam… ooooh… ini lebih enak lagi Saaam… iyaaaa. jilatin terus kelentitnya Saaam… dudududuuuuh… enak sekali Saaam…”

Mbak Ayu merintih terus sambil berkelojotan. Kedua tangannya terkadang meremas-remas kain seprai, terkadang mencengkram sepasang bahuku dan terkadang juga meremas-remas rambutku sampai kusut masai.

Makin lama, raungan histeris Mbak Ayu makin tidak terkendalikan lagi. Seandainya Papa, Mama dan saudara-saudaraku sedang berada di rumah, pastilah akan heboh mendengar suara rintihan Mbak Ayu yang makin lama makin keras ini.

“Iyaaaa Saaaam… ini enak sekali Saaam… jilatin terus itilnya Saaaam… iyaaaaaa… iyaaaa… ooooooh Saaaam… ini luar biasa enaknya Saaam…”

Mbak Ayu semakin histeris, sementara aku pun semakin sulit mengendal9ikan diri. Karena membayangkan betapa nikmatnya kalau kontolku dimasukkan ke dalam kemaluan kakak tiriku yang sudah basah sekali ini.

Namun aku tetap mati-matian mempertahankan nafsuku sendiri. Jangan sampai melakukan sesuatu yang kusesali di kemudian hari.

Setelah belasan menit aku menjilati kemaluan kakak tiriku, akhirnya dia berkelojotan dengan nafas tak beraturan. Lalu ia mengejang sambil menahan nafasnya… perutnya pun terangkat dan terdengar rintihannya, “Oooooh… Saaam… ini… ini seperti ada yang mau keluar… ooooh… Saaaaaaam…”

Aku pun merasakan sesuatu yang lain. Kemaluan Mbak Ayu terasa berkedut-kedut. Mungkin ia sedang menikmati orgasmenya.

Dugaanku tidak meleset. Sesaat kemudian Mbak Ayu mendorong kepalaku sambil berkata, “Jauhkan dulu mulutmu dari memekku Sam… ooooh…”

Kuikuti permintaannya itu. Kujauhkan mulutku dari kemaluan kakak tiriku. Lalu duduk bersila di samping tubuh telanjang yang sangat menggiurkan itu.

Mbak Ayu yang masih celentang itu menatapku dengan senyumnya yang tampak begitu manis di mataku.

“Mbak sudah orgasme ya?” ucapku sambil mengelus-elus perut Mbak Ayu yang terasa lembab oleh keringat.

Mbak Ayu bangkit, duduk di sampingku sambil menyahut, “Kayaknya sih iya… barusan terasa seperti melayang-layang… lalu ada sesuatu yang mengalir di dalam kemaluanku. Nikmat sekali… terima kasih Sam…”

Ucapan Mbak Ayu itu dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibirku. Dalam suasana batin yang sudah berubah.

Ya, dalam keadaan seperti ini aku memandang Mbak Ayu tak sekadar kakak tiri yang harus kuanggap seperti kakak kandungku belaka. Aku pun memandang Mbak Ayu sebagai cewek yang menggiurkan, karena tubuh tinggi montoknya begitu mulus dan hangat. Wajahnya pun cantik, sehingga bodohlah aku ini kalau melepaskan kesempatan ini begitu saja.

Karena itu, ketika Mbak Ayu mengecup bibirku, langsung kusambut dengan lumatan hangat, sambil mendekap pinggangnya yang masih telanjang bulat. Dan Mbak Ayu pun terasa menyambut lumatanku. Lengannya melingkar di leherku, lalu balas melumat bibirku, tak ubahnya membalas lumatan kekasih tercintanya.

Setelah ciuman kami terlepas, Mbak Ayu menatapku sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. “Sam… kamu sudah memuasi diriku… tapi Sam sendiri belum mendapatkan apa-apa ya?”

“Nggak apa-apa Mbak. Yang penting Mbak sudah puas. Kalau aku sih gampang… dikocok juga nanti ngecrot,” sahutku.

“Kuemut aja ya. Mau?”

“Kalau Mbaknya mau sih silakan aja.”

“Mau, “Mbak Ayu mengangguk sambil tersenyum, “hitung-hitung belajar aja. Tapi putar dulu bokep yang ada adegan ngemut penis.”

Dengan mudah kuputar bokep yang sesuai dengan permintaan Mbak Ayu. Bokep yang menonjolkan felatio (ngemut penis). Kebetulan ada bokep yang dimintanya itu.

Adegan di bokep itu awalnya gantian saling oral, kemudian berlanjut ke adegan posisi 69.

“Nah itu adegan enamsembilan Mbak,” kataku setelah layar laptopku menayangkan adegan 69. ceweknya di atas cowoknya di bawah dalam posisi sungsang.

“Heee… boleh juga tuh… kita ikutin posisi itu ya, “ajak kakak tiriku sambil mengguncang pergelangan tanganku.

Aku pun menyetujui ajakan Mbak Ayu. Lalu melepaskan celana dalamku sambil menelentang di dekat laptopku. Sengaja kuambil posisi sedemikian rupa, agar Mbak Ayu tetap bisa memandang ke arah layar laptopku pada waktunya nanti.

Setelah aku menelentang dengan penis yang sudah sangat tegang ini, Mbak Ayu menelungkup di atasku dalam posisi terbalik. Wajahnya berada di atas penisku, sementara kemaluannya berada di atas wajahku.

Lagi-lagi aku menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan. Menyaksikan sebentuk kemaluan yang tembem dan agak menganga, karena sudah mencapai orgasmenya tadi. Dan kini aku akan menjilatinya kembali, sementara Mbak Ayu akan mengoral penisku.

Ya… ia mulai menjilati leher dan puncak penisku, seperti yang sedang ditayangkan di layar laptopku. Lalu ia mengulum penisku yang sedang dipegangnya, lalu air liurnya terasa mengalir ke badan penisku.

Aku tidak memberi pengarahan tentang bagaimana cara mengoral penis yang baik. Biarlah dia mengerti sendiri dengan mengikuti adegan-adegan di layar laptopku. Lagian aku sendiri mulai sibuk menjilati kemaluannya yang sudah bertempelan dengan mulutku.

Jujur, aku sendiri baru pertama ini merasakan dioral oleh perempuan. Karena itu ketika Mbak Ayu makin agresif menyelomoti dan mengurut-urut penisku, melayang-layang juga batinku dibuatnya. Dalam nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Ketika aku sedang asyik menjilati kemaluan Mbak Ayu, terkadang aku sendiri mengejang-ngejang karena permainan oral kakak tiriku itu menyentuh bagian sensitif di penisku, yang membuatku harus menahan nafas saking enaknya.

Mbak Ayu juga sama. Ketika sedang asyik menyelomoti dan mengurut-urut penisku, terkadang ia pun mengejang-ngejang, terutama pada waktu aku menjilati kelentitnya.

Begitulah yang terjadi. Kami saling mengoral, tapi terkadang diam dan mengejang, karena merasakan nikmatnya dioral.

Lebih dari setengah jam kami melakukannya, sampai akhirnya penisku berejakulasi, sementara Mbak Ayu sudah duluan mencapai orgasme lagi untuk yang kedua kalinya.

“Aduuuuh… luar biasaaa…” ucap Mbak Ayu sambil menelentang di sampingku.

“Apanya yang luar biasa Mbak?”

“Luar biasa enaknya…” sahut Mbak Ayu sambil memiringkan tubuhnya ke arahku. Dan mengelus dadaku yang masih keringatan, “Kalau penismu dimasukkan ke dalam memekku, mungkin lebih enak lagi, ya Sam.”

“Jangan mikir ke sana Mbak. Kita cari yang aman-aman aja. Kalau benar-benar bersetubuh kan ada resikonya. Pertama, virginitas Mbak hilang. Kedua, Mbak bisa hamil.”

“Aku rela kalau kamu yang ambil perawanku,” kata Mbak Ayu sambil memegangi penisku yang sudah lemas, “Soal hamil kan bisa dicegah. Besok aku beli pil kontrasepsi ya.”

“Besok kan Minggu Mbak. Apotek tutup semua.”

“Oh iya ya. Senin aja beli pil kontrasepsinya.”

“Senin pagi Papa, Mama, Yoga dan Mbak Nita udah pada pulang.”

“Iya ya… “Mbak Ayu tampak seperti sedang berpikir.

“Santai aja Mbak… jangan terburu nafsu. Apa pun yang Mbak inginkan, akan kulakukan. Tapi jangan terburu-buru gitu. Kita cari dulu waktunya yang ngepas.”

“Janji ya… kamu bakal mau menyetubuhiku nanti…”

“Iya, iya… asalkan Mbak bisa merahasiakannya dan jangan menyesal di kemudian hari.”

Mbak Ayu tersenyum manis. Mengecup pipiku, lalu berbisik, “Aku akan merahasiakannya. Dan takkan menyesal di kemudian hari.”

Dan malam semakin larut…

© 2022 - CeritaSeru.xyz