November 01, 2020
Penulis — Mr_Boy

Menanam Benih di Rahim Ibu dan Adikku

Saya yang newbie kembali hadir menyuguhkan kisah tabu yang semoga saja renyah untuk dinikmati, hanya ingin meramaikan dunia lendir agar semakin basah. Segala yang ada didalam cerita ini hanyalah imajinasi liar dari penulis.

Bau sampah yang dibawa angin sampai menusuk hidung, makanan busuk, kaleng-kaleng bekas dan botol plastik berserakan dimana-mana. Aku melihat orang sibuk memungut sisa-sisa makanan tapi bukan untuk dimakan, hanya mencari siapa tahu ada botol plastik atau apapun yang bisa dijual ke penadah.

Ini bukan pilihan ibu bapakku juga bukan keinginanku hidup seperti ini. Tapi aku bersyukur meskipun hidup susah, masih bisa makan meskipun dari hasil memungut sampah.

Aku Rama bersama adikku Anita sering dipanggil Nita, pergi sepagi mungkin memungut sampah, agar mendapatkan hasil jual yang tentunya lebih banyak. Tentu kami berdua harus berebut dengan yang lain memunguti sampah yang dibuang dari ibukota.

Enak sekali rasanya jadi orang kota, hidup kaya, makanan enak, minuman segar, pakaian mereka baru-baru hidup berkecukupan.

Kadang aku merasa iri jika melihat mereka dari kejauhan, begitu bahagianya menjalani kehidupan seakan tanpa masalah. Kami sekeluarga malah harus memunguti sampah demi sesuap nasi, agar punggung kami bisa tegak berdiri, untuk mencari sisa-sisa sampah yang laku untuk dijual.

Ibuku Martini usianya sekitar 40 tahunan, begitu tabah menjalani hidup bersama ayah. Tak hanya rupanya yang cantik menurut pandanganku. Ibu juga memiliki tubuh yang montok, payudara besar, bokong besar seperti kuda Nil pantatnya. Sedangkan ayahku kurus hitam, mungkin karena sering panas-panasan. Tapi aku kadang bertanya-tanya, meskipun ayah seperti itu tapi ibu sangat mencintainya.

Usiaku dengan anita adikku beda 5 tahun denganku (Anita 18 tahun saya 23 tahun), kami berdua sudah tidak mengenal yang namanya bangku sekolah sejak sd. Boro-boro untuk biaya melanjutkan sekolah, untuk makan pun kami merasa susah.

Sebagai anak pertama, aku tidak di didik untuk mengeluh sedari kecil. Ketika aku berumur 5 tahun, oleh ayahku aku diajak memungut sampah, betapa bahagianya aku waktu itu. Tapi aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku sedang hidup dalam kesusahan.

Aku dan nita selalu pergi bersama memunguti sampah plastik uang kotor, dalam hati kecilku, aku ingin menangis. Tak tega rasanya tangan adikku memunguti sampah yang kotor dan berbau. Diusianya yang sudah memasuki usia remaja, seharusnya bermain bersama temannya. Tapi nita lebih senang bersamaku daripada bersama orang lain yaitu teman sebayanya.

“Nita kamu istirahat aja dirumah, atau main sama teman-teman kamu.. kemarin kita sudah mengumpulkan banyak sampah plastik, kakak gak tega melihat kamu nanti sakit?”

“Kak, aku gak ada waktu untuk bermain. Meskipun nita kerja setiap hari memunguti sampah, asal bersama kakak, nita menganggap kerja sambil bermain bersama kakak.”

“Kakak senang punya adik yang begitu sabar juga cantik seperti kamu, kakak berharap kehidupan kita kelak tidak seperti ini.”

“Amiin.. nita senang kak, punya kakak seperti kak Rama. Orangnya baik, bertanggung jawab dan selalu perhatian sama Nita. Juga Nita senang Nita bisa curhat dan ngobrol sama kakak, Nita hanya ingin terus bersama dengan kakak.”

“Kakak juga ingin selalu bersama adikku yang cantik, perhatian dan sayang sama kakaknya..” ingin aku usap kepalanya tapi tanganku kotor.

“Emang aku cantik ya kak?”

“Iyaa kamu adikku yang paling cantik.. yuk kita mungutin sampah lagi?”

“Iyaa kak…”

Adikku Nita terlihat senang sekali mendapat pujian dariku, kami selalu bersama dan tidak mau berjauhan. Sampah terus berdatangan sampai menggunung banyak sekali, cuaca panas terik matahari yang menyakiti kulit, sudah tak kami rasakan. Tapi lebih aku khawatirkan jika perut sakit karena menahan lapar.

Jam 4 sore kami pulang membawa sampah plastik dua karung untuk dikumpulkan terlebih dahulu dirumah, dua karung itu aku pikul dengan sebatang kayu. Tak mungkin aku biarkan adikku membawa beban seberat itu.

Setelah sampai di rumah, ibu sudah menyiapkan makanan untukku. Meskipun lauknya seadanya, tapi kami tetap mensyukuri nikmat hidup ini. Aku dan Nita mandi bergiliran, lalu istirahat sejenak sebelum makan.

Ayah baru saja pulang dengan gerobaknya, membawa banyak barang bekas untuk dijual, lalu mandi dan kami pun sekeluarga makan bersama.

Rumah kami terbuat dari kayu dan dindingnya terbuat dari papan, dengan atap dari asbes, dua kamar, kamar mandi nyatu sama dapur, dengan lantainya dari semen.

Ayah dan ibu tidur dikamar depan, sedangkan aku dan Dita dikamar belakang. Meskipun kami sekamar berdua, tapi ditengahnya ada sekat setinggi 1 meter panjang 2 meter yang terbuat dari bilik bambu. Jadi Nita akan melewati tempat tidurku menuju ke tempat tidurnya.

Foto Denah Rumah Seadanya

Suatu hari adikku Nita sakit panas, ayah menyuruhku untuk menjaga adikku. Sedangkan ayah dan ibu pergi ke tempat pembuangan sampah sambil mendorong gerobak dan keranjang besar yang digendong oleh ibu.

Sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya, tentu aku sangat khawatir melihat adikku terlihat menggigil kedinginan, meskipun sudah aku selimuti.

Ku ambilkan obat demam dan mengompres adikku dengan kain basah dikeningnya, setiap kain lapnya kering, aku ganti dengan yang baru.

“Kak Rama, maaf yaa? Nita merepotkan kakak. Gara-gara Nita kakak jadi tidak bekerja”

“Nita, kamu tenang saja ya? kakak tentu lebih memilih menjaga kamu. Kalau masalah memungut sampah itu masalah gampang, sebagai kakak yang baik tentu akan mementingkan adiknya daripada yang lain. Cepat sembuh yaa? kakak akan selalu ada buat kamu..”

ku usap kepalanya sambil mengganti kain didahinya yang terasa hangat dengan yang baru lagi.

“Kak, tidur disini ya sama Nita..?”

“Bukannya kita selalu tidur bersama dek?”

“Iyaa sihh, tapi kan beda kasur.. Maksud Nita tidur sama Nita disini sekasur, Nita pengen ngobrol sama kakak sampai tidur. Tidur disini yaa kak?” Kata adikku memelas, antara senang dan takut berkecamuk di hatiku. Dulu sejak kami masih anak-anak memang sering tidur berdua. Tapi setelah kami dewasa kamarnya disekat menjadi dua.

“Baiklah, kalau itu membuat kamu senang, kakak sih nurut aja sama kamu.” padahal sebenarnya aku senang banget.

“Bentar ya dek, kakak mau ke dapur dulu masakin bubur ayam buat kamu.. kamu belum makan kan?”

“Iya kak belum..”

“Tunggu ya kakak kedapur dulu..”

Sedari dulu aku ingin sekali menikmati tubuh adikku yang putih dan imut, payudaranya mungkin sebesar jeruk Medan yang dibelah dua. Juga pernah aku lihat secara langsung tubuhnya yang telanjang bulat, ketika secara tidak sengaja aku melihat Nita memakai celana dalamnya, meskipun Nita tidak menyadari ada kakaknya berdiri melihat tubuh mulusnya.

Aku pun kedapur masakin buat adikku bubur ayam, memang tak ada ayam, ayamnya aku ganti dengan tahu dan tempe goreng. Sambil mengaduk-aduk bubur yang sudah mendidih dipanci, aku merenung

‘nita, sebenarnya sudah lama kakak ingin tidur bareng lagi sekasur, penasaran kakak ingin mencicipi tubuh kamu dek. Kakak ingin melihat tubuh kamu bugil dari depan’.

Tidak berapa lama matang juga bubur yang sudah kubuat, lalu aku tuangkan ke mangkok dan ku bawa ke kamar adikku.

“Dek, udah matang buburnya makan dulu ya? Kamu duduk biar kakak yang suapin..”

Ku bantu adikku duduk dikasur sambil bersender di dinding papan, lalu ku suapi adikku perlahan-lahan sambil ku tiupin dulu sebelum masuk ke mulutnya. Sambil menelannya Nita terus menatapku lalu tersenyum.

“Bahagianya Nita mempunyai kakak seperti kak Rama, seandainya suami Nita kelak seperti kak Rama, pasti Nita akan bahagia.”

“Kakak juga mengharapkan kamu selalu bahagia dek, kakak akan berusaha mengubah nasib agar jangan seperti sekarang ini, membahagiakan orang tua juga kamu” kataku kepada adikku Nita.

Dirumah, aku tak merawat adikku saja. Tapi memasak nasi juga lauk pauknya, merapihkan isi rumah beres-beres agar ibu nanti datang tidak merasa terbebani setelah kerja memungut sampah diluar.

Sore pun ayah dan ibu datang, lalu ku sediakan untuk mereka teh manis hangat dan ku taruh diteras depan yang terbuat dari bilik bambu setinggi 1 meter diatas tanah.

Ayah ibu sangat senang atas perhatianku kepadanya, ibu pun terlihat senang melihat isi rumah rapih bersih juga makanan yang sudah tersedia.

“Rama, gimana adik kamu sudah mendingan sayang?” Kata ibu.

“Alhamdulillah Bu panasnya sudah mulai turun, tapi sudah aku suapin bubur untuk Nita”

“Wah-wah! Ibu bangga sekali perhatian kamu sama adik kamu begitu besar nak, kalau bukan kamu yang jagain siapa lagi? Ayah ibu sibuk diluar” kata ibu.

“Iya Bu, tentu Rama akan menjaga dan merawat Nita. Ayah ibu jangan khawatir.”

Malam pun hampir tiba, sesuai janjiku pada nita, aku pun akan menemani Nita tidur sekasur dengannya.

Anita

© 2022 - CeritaSeru.xyz