November 02, 2020
Penulis — Kusumawardhani

Bunda dan Wanita-Wanitaku- true story

Namaku singkat saja, Odi. Meski usiaku baru 18 tahun, aku sudah punya pekerjaan tetap, sebagai pelukis otodidak. Meski tak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, aku bisa melukis dengan berbekal bakat saja. Dan berkat ketekunanku, hanya dalam tempo singkat lukisan-lukisanku laku terjual dengan harga yang cukup tinggi.

Lukisan-lukisanku beraliran naturalisme. Setiap objek lukisanku selalu “kusalin” dengan cermat di kanvasku. Sehingga lukisan-lukisanku tak berbeda dengan objek yang kulukis.

Aku senang melukis apa saja. Pemandangan indah dengan alam pegunungan mau pun pantai, selalu saja membuat decak kagum dari para pembeli lukisan-lukisanku.

Sejak umur 17 tahun aku sudah hidup mandiri. Karena aku berusaha mereai pertengkaran ayah dengan ibuku. Tapi Ayah malah menghardikku dengan kasar dan mengusirku dari rumahnya, karena aku dianggap membela Bunda.

Tanpa banyak membantah lagi, kukemasi pakaian dan alat-alat lukisku, lalu meninggalkan rumah orang tuaku pada hari itu juga. Bunda memelukku sambil menangis. Bunda melarangku untuk pergi. Tapi aku sudah kepalangan sakit hati. Meski pun Bunda menghalangiku, aku teap pergi juga setelah mencium pipi kanan dan pipi kiri Bunda.

Setelah jauh dari rumah orang tuaku, aku minta tolong kepada Tinton (sahabatku) untuk mencarikan rumah kecil yang bisa kusewa, untuk tempat tinggal sekaligus untuk tempat melukisku.

Setelah mencari ke sana -sini, akhirnya Tinton mendapatkan rumah sederhana yang mau dikontrakkan. Rumah itu cuma rumah panggung yang dindingnya terbuat dari kayu murahan semua. Letaknya pun di kampung yang cukup jauh dari kotaku.

Entah kenapa, aku langsung sreg kepada rumah sederhana yang tidak terlalu kecil. Ada kamarnya, ada ruang tengahnya yang akanj kujadikan tempat melukisku, ada dapurnya yang ada tungkunya dan untuk menyalakannya harus memakai kayu bakar. Yang disebut kamar mandi, bukanlah kamar. Hanya tertutup sebatas dada, dengan sebuah sumur di sampingnya, yang harus ditimba dengan ember untuk mendapatkan airnya.

Biarlah, semuanya kuanggap normal-normal saja, yang penting uang kontraknya sesuai dengan kocekku saat itu.

Yang kuanggap cocok adalah ruang tengahnya itu. Pasti bisa kujadikan tempat untuk melukis, dengan kata kerennya cocok untuk studio atau sanggar lukisanku.

Kebetulan uang kontraknya murah. Langsung kubayar saja untuk kontrak selama setahun. Duit sisaku masih bisa kubelikan kasur, tikar, alat-alat dapur seadanya.

Untungnya meski rumah ini sederhana, listriknya sudah ada. Hanya menurut perjanjian, selama aku mengontrak rumah itu, rekening listrik tiap bulan harus kubayar sendiri.

Jadi di rumah panggung ini aku harus mencuci sendiri, masak sendiri, bersih-bersih rumah sendiri. Semuanya harus kukerjakan sendiri.

Namun, apakah rumah panggung sederhana ini membawa rejeki besar untukku, atau memang sudah waktunya aku mendapatkan rejeki yang berlimpah. Entahlah. Aku hanya percaya bahwa semua yang kudapatkan ini adalah anugerah dari Tuhan.

Ya, rumah sederhana itu membuatku nyaman sekali untuk berkarya secara produktif. Sehingga lukisan-lukisan sulit pun selalu kuselesaikan dalam waktu singkat.

Ini membuatku semakin disenangi oleh pemilik gallery yang suka menjualkan lukisan-lukisanku.

Dengan sendirinya duit pun mengalir ke tanganku. Bahkan pada suatu saat aku memberanikan diri untuk menyelenggarakan pameran tunggal.

Tadinya aku menganggap diriku mulai berlebihan, karena lukisan-lukisan yang dipajang di pameran tunggal itu kupasang harga yang jauh lebih mahal daripada standarku. Tapi apa yang terjadi? Lukisan-lukisanku yang dipamerkan itu terjual habis semuanya!

Bahkan ada seorang lelaki bule bernama Gustav yang memesan beberapa lukisan wanita telanjang, dengan harga yang lebih mahal lagi. Aku hanya mengiyakan dan menyimpan kartu nama Gustav itu di dalam dompetku. Padahal saat itu aku bingung sendiri, karena aku belum pernah melukis wanita telanjang. Apalagi lukisan wanita telanjang dengan memakai model.

Karena itu aku hanya menjawab permintaan Gustav, bahwa aku akan mengerjakan pesanannya. Tapi aku minta dia bersabar, karena aku tidak bisa melukis dalam waktu cepat. Ternyata orang bule itu stay di Jakarta, sebagai wakil perusahaannya yang berpusat di Jerman. Lalu ia menjelaskan lukisan-lukisan yang diinginkannya.

Aku memang membutuhkan model, agar lukisanku lebih hidup. Tapi siapa yang bisa kujadikan model yang bersedia kulukis dalam keadaan telanjang?

Entahlah.

Aku sudah mencoba melukis wanita telanjang tanpa model. Tapi aku kecewa sendiri, karena hasilnya tidak memuaskan.

Ah, mungkin pesanan orang bule itu harus kulupakan saja. Karena aku merasa tidak mampu melukis tanpa model. Melukis foto-foto wanita telanjang memang mudah. Tapi foto-foto itu wanita bule semua. Wanita yang anatominya berbeda dengan wanita sebangsa denganku.

Dalam keadaan kecewa itulah Bunda datang. Langsung memelukku sambil menangis-nangis.

“Ada apa Bunda? Kok datang-datang menangis seperti ini?” tanyaku setelah tangisan Bunda mereda.

“Bunda sudah bercerai dengan ayahmu,” sahut Bunda sambil terisak-isak.

“Haaa…? Kok bisa?” aku terperanjat mendengar pengakuan Bunda itu.

“Panjang ceritanya. Pokoknya Bunda tidak mau dimadu. Lantas ayahmu menceraikan bunda.”

“Jadi Ayah mau kawin lagi?”

Bunda mengangguk sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Aku cuma bisa menghela nafas. Lalu mengusap-usap punggung Bunda. “Sudahlah. Kalau begitu, Bunda tinggal di sini aja. Biar aku nggak kesepian,” kataku.

“Memang bunda ingin tinggal sama kamu aja, biar bisa mengobati keperihan hati bunda ini, Nak.”

“Iya Bunda. Silakan. Lagian sekarang aku sudah punya penghasilan yang lumayan lah. Kalau hanya untuk kebutuhan kita berdua, aku sudah mampu. Rumah ini juga tadinya cuma ngontrak. Sekarang sudah kubeli Bun.”

Kehadiran Bunda di rumahku yang sederhana ini membangkitkan gairah kerjaku untuk melukis dan melukis terus. Uang pun mengalir dari gallery ke tanganku.

Yang menyenangkan, setelah ada Bunda, aku tak perlu memasak dan mencuci sendiri. Bunda semua yang mengerjakannya. Aku sering melarang Bunda mencuci pakaianku, karena tidak tega melihatnya bekerja terlalu berat. Tapi Bunda tidak merasa terlalu letih. Karena waktu masih tinggal bersama Ayah, pekerjaan bunda jauh lebih banyak lagi.

Memang rumahku ini masih kecil. Aku sedang mengumpulkan uang untuk membangun rumah tembok di tanah yang masih kosong, lalu rumah kayu ini akan direnovasi tapi akan tetap sebagai rumah panggung yang berdindingkan kayu semua.

Sebulan kemudian, pemilik gallery laporan padaku, bahwa orang bule bernama Gustav itu sering menanyakan apakah pesanannya sudah dibuat dan ada yang sudah selesai?

Aku bingung menjawabnya. Karena aku belum punya gadis model yang mau dilukis dalam keadaan telanjang. Tapi aku seenaknya saja menjawab laporan pemilik gallery itu, “Iya, kalau nanyain lagi, mohon bersabar gitu. Saya memang sudah mulai melukis pesanannya, tapi saya membutuhkan waktu yang agak lama, supaya hasilnya sempurna.

Dan pada waktu aju sedang kebingungan itu, tiba-tiba aku teringat kepada Bunda. Aaah… kenapa aku baru ingat sekarang, setelah Bunda cukup lama tinggal di rumahku? Bukankah ibu kandungku itu punya wajah yang cukup cantik? Kenapa aku tidak meminta bantuan beliau saja untuk menjadi wanita model lukisanku?

Setibanya di rumah, aku langsung menghampiri Bunda yang sedang menyetrika pakaianku dan pakaiannya sendiri.

“Bunda…!”

“Odi? Udah pulang lagi?”

“Iya Bun. Aku mau minta bantuan Bunda nih.”

“Bantuan apa?”

“Begini,” kataku, “aku kan dapat pesanan lukisan wanita telanjang dari orang bule. Pesanannya cukup banyak. Harganya juga mahal sekali. Tapi aku belum berpengalaman nyari wanita yang bisa kujadikan model.”

“Terus? Apa yang bisa bunda bantu? Nyariin gadis yang mau dijadikan model lukisanmu?”

“Aaahhh… ngapain nyari jauh-jauh. Kalau pakai orang luar, pasti minta gede bayarannya.”

“Terus?”

“Daripada membayar orang luar, mendingan Bunda aja modelnya. Nanti uang penjualan lukisannya kita bagi dua. Bagaimana?”

“Jadi… bunda harus telanjang bulat pada waktu kamu sedang melukis bunda? Yang bener aja… hihihiii… bunda bakal pegel dan terutama malunya itu.”

“Malu sama siapa? Kan hanya ada aku dengan Bunda berdua. Masa telanjang di depan anak Bunda aja malu? Satu hal yang perlu Bunda ingat, lukisannya akan dijual dengan harga yang mahal sekali, Bun. Hasil penjualan lukisannya kita bagi dua. Hitung-hitung kerja sama aja antara aku dengan Bunda.”

“Iya sih… bunda juga sedang butuh duit mulu. Apalagi sebulan lagi Yona kan mau melahirkan. Pasti dia butuh bantuan dari orang tua. Karena suaminya cuma buruh pabrik.”

“Ohya? Mbak Yona sudah dekat mau lahiran?”

“Kira-kira sebulan lagi,” sahut Bunda.

Mbak Yona, kakakku satu-satunya itu, kuanggap kurang beruntung. Punya wajah cantik, tapi cuma punya suami yang buruh pabrik. Yang gajinya takkan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

“Makanya Bun… kalau Bunda ikuti penawaranku, soal duit untuk bantu Mbak Yona sih soal kecil.”

“Mmmm… nanti deh… bunda pikirin dulu ya Od.”

“Iya,” sahutku sambil melangkah ke belakang, ke arah tempat mandi yang beratapkan langit.

Setiap kali mandi, aku sering bertekad ingin secepatnya punya rumah tembok yang kamar mandinya seperti orang-orang gedongan. Tidak seperti sekarang, kalau sedang mandi, yang terlindung hanya sampai dada. Ke atasnya bisa dilihat oleh orang-orang yang lalu lalang di jalan.

Tapi mungkin sebentar lagi juga aku akan mampu membuat rumah tembok, yang orang bilang gedong. Kalau sudah punya gedong, aku mau membuat kamar yang ada kamar mandinya. Mau membuat ruang khusus untuk studio lukis pula, supaya bisa lebih konsentrasi pada waktu melukis.

Selesai mandi, aku masuk ke dalam kamarku. Kulihat Bunda sedang berbaring di bednya. Di dalam kamarku memang ada dua bed. Yang satu dipakai untuk Bunda, yang satu lagi untukku sendiri.

“Odi… kamu yakin bunda bisa dijadikan model lukisanmu? tanya Bunda pada waktu aku sedang mengenakan pakaian kerjaku yang sudah berlepotan cat minyak.

“Yakin,” sahutku, “tapi coba lihat dulu kalau Bunda telanjang seperti apa?”

Bunda tidak kelihatan ragu-ragu. Diasternya dilepaskan. Lalu beha dan celana dalamnya juga dilepaskan.

Aku terkesiap dibuatnbya.

Waktu masih kecil, aku sering mandi dengan Bunda. Jadi aku sering melihat Bunda telanjang Tapi setelah dewasa begini, aneh… aku jadi salah tingkah.

Lalu kataku, “Bunda masih memenuhi syarat untuk dijadikan model lukisanku. Di Eropa nenek-nenek pun bisa dijadikan model lukisan telanjang. Dan selalu laku saja. Sedangkan Bunda… wajah Bunda masih cantik, buah dada Bunda belum melorot turun… bokong Bunda juga masih indah.”

“Kenapa harus melihat bokong segala?”

“Kan ada juga lukisan wanita membelakangi pelukis. Jadi punggung dan pantatnya yang dijadikan fokus si pelukis. Ohya… sebaiknya jembut Bunda rapikan pakai gunting. Jangan dibiarkan tidak beraturan gitu tumbuhnya.”

“Diguntingin jadi pendek-pendek atau sekalian digundulin aja pakai pisau silet? Kan zaman sekarang musim dibersihin jembutnya.”

“Iya… memang lebih baik digundulin sampai bersih sekali.”

“Iya, “Bunda mengangguk sambil mengenakan kembali celana dalamnya, “Jadi bunda memenuhi syarat nih buat dilukis?”

“Sangat memenuhi syarat. Kulit Bunda pjutih mulus. Tubuh Bunda juga tergolong seksi,” sahutku yang sejak tadi memalingkan muka, karena jadi salting melihat Bunda telanjang bulat, sementara aku sudah mulai dewasa. Bukan anak kecil lagi.

© 2022 - CeritaSeru.xyz