November 02, 2020
Penulis — Kusumawardhani

ISTANA INCEST - True Story

Pada saat itu aku masih anak tanggung. Masih senang main gasing, kelereng dan layang-layang. Dan aku masih ingat benar, pada saat itu aku sedang memburu layang-layang putus talinya, entah karena kalah beradu dengan layang-layang lain, atau karena putus sendiri di tangan pemiliknya.

Aku memburu layang-layang itu seolah memburu harta karun yang sangat berharga. Sehingga aku tak peduli harus menyeberangi sungai, menerobos rumpunan pohon bambu, menerobos hutan pinus dan… tiba-tiba kulihat ada anak cewek berseragam SMP terjatuh di tengah hutan pinus itu.

Melihat cewek itu terjatuh, aku pun lupa pada layang-layang yang belum kudapatkan itu. Aku malah memburu cewek itu untuk menolongnya.

Setelah berhasil membangkitkan cewek itu, kutanya, “Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak, “cewek itu menggeleng, “terima kasih ya.”

Lalu cewek itu berlari menjauhiku.

“Hai! Kenapa kamu lari? Aku bukan orang jahat tau…! “seruku sambil berusaha mengejar anak cewek itu.

“Kamu Leon kan?” seru anak cewek itu tanpa menghentikan larinya.

“Iya. Kok tau?”

“Kamu saudaraku !”

“Haaa? Memangnya namamu siapa?”

“Dina !” sahutnya sambil berlari terus.

Aku yang sudah letih mengejar-ngejar layangan itu, harus mengejar anak cewek itu pula, akhirnya menghentikan langkahku. Buat apa mengejar anak cewek yang mengaku sebagai saudaraku itu. Apa untungnya?

Lalu aku pulang dan langsung mandi, untuk membersihkan keringat dan debu di badanku.

Setelah mandi dan mengenakan baju rumah, aku menghampiri Mami yang sedang nonton televisi di ruang keluarga.

“Mam… tadi ada anak cewek seusiaku, ngaku saudara sama aku. Betul gitu?” tanyaku.

“Siapa namanya?” Mami balik bertanya.

“Mmm… kalau gak salah dengar… namanya Dina Mam.”

“Oh… iya. Itu saudara seayah berlainan ibu denganmu.”

“Berlainan ibu?” tanyaku heran.

“Iya. Istri Papi kan empat orang. Bukan hanya Mami sendiri.”

“Empat orang?” aku kaget dan terheran-heran. Karena baru saat itulah aku mendengar bahwa Papi punya istri 4 orang.

Lalu Mami menuturkan semuanya. Bahwa Mami itu istri pertama Papi. Sementara istri kedua Papi bernama, Yuli. Istri ketiga bernama Maryam dan istri keempat bernama Anisa.

Mendengar penuturan Mami itu aku cuma mengangguk-angguk saja, karena saat itu aku belum dewasa. Belum mengerti seluk beluk polygami dan segala tetek bengeknya.

Saat itu aku cuma bisa berkata di dalam hati, pantesan Papi hanya seminggu di rumah, lalu menghilang selama tiga minggu. Rupanya Papi sedang menggilir istri-istrinya.

Tadinya kusangka Papi sedang sibuk mengurus bisnisnya di luar kota. Ternyata sibuk menggilir istri-istrinya.

Saat itu aku hanya tahu bahwa Papi seorang pengusaha, yang selalu sibuk dengan bisnisnya.

Setelah aku duduk di SMA pun, aku tetap menganggap semuanya itu positif. Terlebih lagi kalau mengingat bahwa aku sangat dimanjakan oleh Papi. Maklum, aku ini satu-satunya anak cowok di antara sekian banyak anak Papi dari istri-istri mudanya.

Dari Papi, aku ini anak sulung. Sementara dari Mami, aku ini anak tunggal.

Papi sering mengajakku jalan ke luar kota. Sering pula Papi mengatakan bahwa akulah satu-satunya anak Papi yang akan meneruskan nama marganya. Sementara anak-anak perempuannya takkan bisa menurunkan marganya lagi setelah pada menikah kelak.

Aku selalu enjoy kalau diajak Papi jalan ke mana pun. Karena aku merasa Papi menganggapku sebagai teman, selain menganggapku anak kesayangannya.

Bahkan tanpa ragu-ragu, Papi pernah menuturkan bahwa selain punya empat orang istri, Papi juga punya beberapa simpanan. Dan pada suatu saat kelak, pasti aku akan dikenalkan dengan simpanan-simpanan Papi itu, katanya.

Mendengar penuturan Papi itu, aku hanya ketawa. Aneh memang, saat itu aku malah merasa kagum dan bangga karena punya ayah yang bisa mendapatkan cewek-cewek cantik, meski pun usianya sudah kepala empat.

Kekagumanku yang lain, adalah pandainya Papi merukunkan keempat istrinya. Tak jarang aku melihat Mami ngobrol secara akrab dengan istri Papi yang lain. Sehingga aku pun merasa akrab dengan mereka. Bahkan sering juga aku sengaja berkunjung ke rumah istri-istri muda Papi. Mereka pun selalu menyambut kunjunganku dengan sikap ramah dan memperlakukanku seperti anak mereka sendiri.

Setelah aku jadi mahasiswa, aku semakin bisa menilai semuanya itu dengan pandangan yang lebih matang. Aku pun bisa menilai bahwa Papi telah berbuat adil kepada istri-istrinya. Dan aku merasa beruntung dilahirkan sebagai anak laki-laki. Karena anak dari istri-istri Papi yang lain, semuanya perempuan.

Sayangnya anak Mami cuma aku satu-satunya. Sehingga aku sering merasa kesepian kalau sedang berada di rumah. Sementara istri-istri Papi yang lain, pada punya anak dua semua. Dan semuanya anak perempuan.

Setelah jadi mahasiswa, aku pun sering diminta Papi untuk mengemudikan mobilnya. Tentu saja setelah Papi yakin bahwa cara nyetirku sudah memenuhi syarat. Sudah punya SIM pula.

Maka aku pun semakin tahu gerakan bisnis Papi. Tahu pula bahwa Papi sering nongkrong di rumah Oom Daniel, salah seorang teman bisnis Papi.

Rumah Oom Daniel seolah dijadikan basecamp kelompok bisnis Papi. Aku belum tertarik kepada dunia bisnis. Karena itu kalau aku mengantarkan Papi ke rumah Oom Daniel, aku lebih asyik main game dari hapeku di dalam mobil.

Yang paling menyenangkan, kalau bisnis Papi ada yang “meledak”, Papi suka ngasih duit yang cukup banyak padaku. Biasanya sambil dibarengi ucapan, “Buat apel ke rumah pacarmu.”

Padahal aku belum punya pacar. Meski teman cewekku banyak, tapi tiada seorang pun yang sesuai dengan kriteriaku.

Maka duit yang sering Papi kasih, kukumpulkan saja di tabunganku. Demikian banyaknya duit yang sudah kuterima dari Papi, sampai pada suatu hari duit tabunganku itu bisa beli mobil baru. Cuma mobil SUV pasaran. Tapi lumayan lah… buat kuliah.

Papi kelihatan kaget melihatku beli mobil baru itu. “Dari mana kamu punya duit sebanyak itu?” tanyanya.

“Kan duit dari Papi dikumpulin terus,” sahutku, “akhirnya bisa beli mobil buat kuliah. Hahahaaa… terima kasih ya Pap. Sering-sering aja kasih duit jajan yang banyak.”

“Beneran itu duit dari papi?”

“Bener… sebentar ya… “kutinggalkan Papi untuk mengambil buku tabunganku. Lalu menghampiri Papi lagi sambil menyerahkan buku tabunganku itu. “Papi periksa aja deh buku tabunganku. Tanggalnya kan ada… pasti Papi bisa ingat tanggal-tanggal ngasih duit itu. Sesuai dengan tanggal setor di buku tabunganku kan?

Papi memperhatikan buku tabunganku. Lalu mengangguk-angguk sambil memegang bahuku, “Kamu memang anak yang tidak mau sembarangan menghamburkan duit. Dan keras untuk mewujudkan keinginanmu. Syukurlah… papi bangga punya anak seperti kamu…”

“Aku juga bangga punya ayah seperti Papi,” sahutku sambil mencium tangan Papi.

“Tapi kalau papi pengen disetirin, kamu masih bisa kan?”

“Tentu aja bisa Pap. Asal di luar waktu kuliah aja. Aku seneng kok nyetirin Papi, biar dapet uang dengar juga kalau bisnis Papi ada yang cair.”

“Beres itu sih. yang penting… keep my secret from leaking…(jagalah rahasiaku jangan sampai bocor)“

“Beres soal itu sih Pap,” sahutku sambil mencolekkan ujung telunjuk ke perut Papi.

Ya… memang makin lama makin banyak rahasia Papi yang harus kututup. Tak boleh ngomong kepada siapa pun, termasuk kepada Mami.

Aku jadi tahu beberapa cewek simpanan Papi. Memang masih muda-muda sekali. Cantik-cantik pula.

Dan aku memegang teguh semua rahasia Papi. Karena selain sudah berjanji untuk merahasiakannya, aku pun tak mau kalau Papi dan Mami jadi bertengkar nantinya.

Karena itu aku merasa kompak dengan Papi. Dan Papi menganggapku teman sekaligus tangan kanannya, bukan menganggap sekadar anak kandungnya belaka.

Namun pada suatu hari, ketika aku dan Papi sedang berada di sebuah café, terjadilah pembicaraan yang sangat mengejutkan… karena aku tak pernah menduga akan terjadi dialog seperti ini :

“Leon… di zaman sekarng ini banyak bahaya yang mengintip anak muda. Antara lain… narkoba.”

“Percaya deh Pap… aku sih jauh dari barang terlarang begitu. Minum alkohol aja gak pernah. Merokok juga hanya sekali-sekali aja. Belum kecanduan.”

“Syukurlah kalau begitu. Tapi bukan hanya narkoba yang bisa merusak masa depanmu. Kalau kamu sembarangan main perempuan, maka HIV/AIDS juga mengintaimu.”

“Soal itu juga aku takkan pernah menyentuh perempuan nakal Pap. Aku juga takut terkontaminasi penyakit yang gak ada obatnya itu.”

“Nah baguslah kalau begitu. Berarti darahmu masih bersih kan?”

“Dijamin bersih Pap.”

Papi tercenung beberapa saat. Lalu berkata lagi :

“Begini… papi ini sudah mulai tua Leon. Sedangkan istri dan simpanan papi lumayan banyak.”

“Hehehe… terus kenapa Pap?”

“Kalau simpanan sih gampang mutusinnya. Tapi istri-istri papi kan dinikahi secara sah. Papi tak mau ada salah seorang di antara mereka yang selingkuh di belakang papi. Apalagi kalau mengingat bahwa mereka itu masih muda-muda, belum empatpuluhan lah semuanya. Tentu hasrat birahi mereka masih menggebu-gebu.

“Maksud Papi, aku harus mengawasi istri-istri Papi, agar jangan sampai nyeleweng, begitu?”

“Bukan begitu,” sahut Papi sambil menengok ke sekitar café itu. Seperti takut ada orang luar yang ikut mendengarkan. Memang banyak sekali pengunjung café itu. Sehingga Papi mengajakku pergi dan akan melanjutkan pembicaraan di dalam mobil.

Setelah berada di dalam mobil yang sedang kukemudikan di jalan aspal, Papi melanjutkan pembicaraannya, “Daripada kamu maen sama perempuan nggak bener dan daripada istri-istri papi menyeleweng… papi ingin agar kamu dekati mereka… lalu gauli mereka sebagai pengganti papi.”

“Papi… apa Papi nggak salah ngomong?”

“Nggak, Nak. Papi nggak salah ngomong. Papi ingin kamu memuasi nafsu seks mereka semua. Karena Papi sendiri tidak mampu lagi memuaskan mereka. Tapi ingat… semua ini harus dirahasiakan, terutama kepada Mami… jangan sampai dia tau kalau semua ini papi yang mengaturnya.”

Batinku terhenyak. Kata-kata Papi itu terngiang-ngiang terus di telingaku…Papi ingin kamu memuasi nafsu seks mereka semua. Karena Papi sendiri tidak mampu lagi memuaskan mereka…

Mereka semua? Apakah Papi lupa bahwa di antara mereka semua itu ada Mami, ibu kandungku? Kalau sekadar menyarankan agar aku menggauli istri-istri mudanya saja, mungkin masih masuk di akalku. Tapi jelas benar, tadi Papi bilang “mereka semua”. Berarti Mami pun termasuk di dalam target yang harus “kukerjakan”.

Tapi aku tak mau membantah ucapan Papi. Aku bahkan bertanya. “Emangnya Papi sekarang sudah impoten?”

Papi tersenyum getir. Dan menyahut, “Impoten sih nggak. Tapi sudah tumpul… tidak setajam dulu lagi.”

Aku berkata di dalam hati, Siapa suruh punya istri dan simpanan banyak-banyak?

Tapi tentu saja aku tak berani mengatakannya secara lisan.

“Bagaimana? Kamu sanggup melaksanakan misi rahasia ini?” tanya Papi ketika aku masih terbengong-bengong memikirkannya.

“Maaf Pap… apakah Papi rela kalau aku menggauli mereka?” aku balik bertanya.

“Kalau istri-istri papi selingkuh dengan orang lain, tentu aja papi takkan rela. Tapi kalau kamu yang melakukannya, papi sangat rela. Karena kamu darah daging papi. Kamu adalah bagian dari diri papi sendiri. Lakukanlah dengan cara yang halus. Jangan sampai mereka tahu kalau semuanya itu papi yang ngatur,” kata Papi.

“Mungkin bulan depan aku baru bisa melaksanakan tugas dari Papi itu,” ucapku.

“Kenapa harus bulan depan?”

“Lusa aku mulai ujian Pap. Setelah ujian, aku libur selama sebulan. Jadi bebas mau ngapain juga.”

Papi menepuk bahuku sambil berkata, “Oke, persiapkan sematang mungkin ya. Jangan menimbulkan kekisruhan sekecil apa pun nanti.”

Obrolan rahasia dengan Papi itu sangat berpengaruh bagi jiwaku. Memang istri-istri muda Papi itu selalu bersikap ramah dan manis padaku. Bahkan Mama Maryam, istri ketiga Papi, sikapnya sering seolah “mengundang” padaku. Hanya saja aku tak pernah menanggapinya. Tapi setelah ada tugas rahasia dari Papi…

Namun diam-diam aku mulai memikirkan Mami.

Memang secara “sayup-sayup” aku suka terangsang juga kalau Mami duduk sembarangan, sehingga pahanya tampak jelas di mataku. Bahkan celana dalamnya pun kelihatan. Pada saat-saat seperti itulah aku suka membayangkan seandainya Mami kuajak bersetubuh apakah Mami akan meladeniku?

Tapi bayangan seperti itu selalu kutindas sendiri. Gila… Mami kan ibu kandungku… Mami kan yang melahirkanku ke dunia ini. Masa aku punya pikiran kotor pada ibu kandungku sendiri? Kayak gak ada perempuan lain aja di dunia ini. Gila! Aku harus mengusir pikiran kotor ini!

Tapi setelah ada “tugas rahasia” dari Papi itu, aku malah jadi serius memikirkan seandainya Mami… ya seandainya Mami kugauli… bagaimana jadinya ya?

Ya… kata-kata Papi itu masih terngiang-ngiang di telingaku*… Papi ingin kamu memuasi nafsu seks mereka semua…*

Kalau SEMUA istri Papi, berarti Mami pun termasuk di dalamnya. Berarti Papi menginstruksikan untuk menggauli Mami juga…!

Maka setelah berpisah dengan Papi, aku pulang dengan semangat baru. Semangat yang aneh tapi nyata.

Setibanya di rumah, hari sudah mulai malam.

Kulihat Mami sedang nonton tv di ruang keluarga. Seperti biasa kalau pulang atau mau berangkat, kucium dulu tangan Mami, lalu kucium pipi kanan dan pipi kirinya.

“Udah lama aku gak tidur sama Mami,” kataku.

“Terus, malam ini mau tidur sama mami, begitu?” tanya Mami sambil tersenyum.

“Iya,” sahutku sambil duduk di samping Mami.

“Makan dulu sana, terus cuci kaki yang bersih kalau mau tidur sama mami.”

“Sudah makan tadi sama Papi.”

“Lalu kemana Papi sekarang?”

“Nggak tau, “aku menggeleng.

Mami menghela napas panjang.

Aku merebahkan kepalaku di atas Mami yang malam itu mengenakan kimono biru muda.

“Kalau mau tidur sama mami, mandi dulu gih. Biar jangan bau keringat.”

“Mau mandi aja ah sekalian,” sahutku sambil bangkit dan melangkah ke dalam kamar Mami. Lalu masuk ke dalam kamar mandi Mami.

Sebenarnya di kamarku juga ada kamar mandi. Tapi aku memang biasa sesukanya mau mandi di mana, Mami pun tak pernah negur.

Sehabis mandi, kukenakan baju dan celana piyama. Lalu melangkah ke ruang keluarga.

“Bobo yuk Mam… udah lama aku nggak dipelukin Mami sebelum bobo,” kataku sambil menarik pergelangan tangan Mami dengan gaya manjaku sebagai anak tunggal Mami.

“Iya, iyaaa… mau matiin dulu tv…” sahut Mami sambil mengarahkan remote control ke arah tv. Setelah tv off, Mami mengikuti langkahku ke dalam kamarnya.

“Aku kangen banget sama Mami… udah lama sekali aku gak dipelukin sama Mami sebelum bobo,” kataku sambil naik duluan ke atas tempat tidur.

“Sekarang kamu kan sudah gede,” sahut Mami sambil tersenyum, “Umurmu sekarang sudah delapan belas tahun kan?”

“Iya,” sahutku ketika Mami sudah naik juga ke atas tempat tidur, “Berarti umur Mami sekarang sudah tigapuluhenam tahun kan?”

“Kok hafal sama umur mami?” Mami tampek agak heran.

“Kan Mami sendiri yang ngomong, bahwa Mami melahirkan aku ketika umur Mami hampir delapanbelas tahun. Berarti kalau dijumlahkan dengan umurku sekarang, jadi tigapuluhenam kan?”

“Hihihi… iya… iya…” kata Mami sambil menghimpitkan pahanya ke atas pinggangku yang sedang rebah miring menghadapi Mami.

“Tadi diajak makan di mana sama Papi?” tanya Mami sambil membelai rambutku.

“Di café. Makan steak doang, gak pake nasi. Papi sayang banget sama aku ya Mam.”

“Iya. Soalnya kamu satu-satunya anak cowok Papi.”

“Ohya Mam… tolongin aku Mam.”

“Tolongin apa?”

“Pengen nyobain gituan Mam.”

“Gituan apa sih?”

“Pengen nyobain bersetubuh Mam.”

“Apaaa?!” Mami terperanjat dan melepaskan pelukannya.

“Kan umurku sekarang sudah delapanbelas. Sudah mahasiswa pula Mam. Makanya aku mau minta diajarin cara-cara bersetubuh Mam,” ucapku sambil memegang pergelangan tangan Mami.

Mami jadi duduk dengan kepala tertunduk.

“Kan sama siapa lagi aku minta diajarin kalau bukan sama Mami?” desakku dengan sikap manja.

“Kok kamu bisa mikirin yang begituan sih? Selesaikan aja dulu kuliahmu. Lantas kawin. Dengan sendirinya yang begituan bakal kamu alami, Leon.”

“Aaah… aku inginnya sekarang. Aku malah merasa ketinggalan. Di zaman sekarang anak SMA juga banyak yang sudah ngerasain begituan. Masa aku sendiri yang belum pernah merasakannya?”

Mami cuma menatapku dengan sorot kebingungan.

“Kalau aku mau sama pelacur sih gampang. Pake duit duaratusribu juga bisa. Tapi aku nggak mau nyentuh pelacur. Makanya minta diajarin sama Mami aja.”

“Mami kan ibumu. Yang melahirkan kamu, Leon.”

“Iya, iyaaa… memangnya salah kalau aku curhat dan minta bantuan sama Mami? Atau mendingan aku nyari pelacur aja? Biar rasa penasaranku hilang…”

“Iiiih… jangan Sayang… !” Mami mengguncang kedua bahuku. “Kalau dengan pelacur, nanti bisa ketularan HIV-AIDS!”

“Iya Mam. Tapi kalau tititku udah ngaceng… suka pegel sekali Mam. Sekarang juga lagi ngaceng nih,” kataku sambil menurunkan celana piyamaku, lalu memperlihatkan kontolku yang sedang ngaceng ini.

“Iiiih… kontolmu… malah lebih gede daripada kontol Papi gini…” ucap Mami sambil memegang kontolku.

“Sebentar,” kata Mami sambil melepaskan kontolku. Lalu menarik laci meja riasnya. Dan mengeluarkan botol lotion yang biasanya dipakai untuk memijat Papi.

Lalu Mami menghampiriku lagi sambil memegang botol lotion itu.

Sambil duduk bersila di depanku, Mami menyemprotkan lotion itu ke tangan kirinya. Lalu tangan kanannya mengusap-usap tangan kirinya yang sudah berlumuran lotion. Dan dipegangnya kontolku, sambil menyemprotkan juga lotion itu ke kontolku.

“Kontolku mau diapain Mam?” tanyaku pura-pura heran. Padahal aku sudah tahu, bahwa Mami akan mengocok kontolku.

Mami malah menyuruhku menelentang. Lalu Mami mulai mengocok kontolku, seperti sudah kuduga sebelumnya.

Mungkin Mami ingin agar kontolku yang sudah ngaceng ini bisa ngecrot di dalam kocokannya.

Tapi aku malah memejamkan mataku sambil membayangkan yang jelek-jelek. Membayangkan kontolku sedang dipegang oleh seekor gorilla yang menakutkan. Supaya aku tidak merasakan enaknya dikocok oleh Mami.

Lalu apa yang terjadi? Lebih dari setengah jam Mami mengocok kontolku, namun Mami belum berhasil juga membuatku ngecrot.

Mami tampak keringatan, tapi belum bisa juga membuat kontolku ngecrot.

Tapi Mami belum putus asa kelihatannya. Mami mendekatkan mulutnya ke kontolku. Lalu Mami mulai mengulum kontolku dengan lincahnya.

Lagi-lagi aku memejamkan mataku, sambil membayangkan gorilla itu mau menggigit kontolku. Lamunan ini membuatku takut… dengan sendirinya aku tidak bisa menikmati selomotan Mami yang semakin lincah, sambil mengurut-urut kontol ngacengku.

Tapi Mami tetap tidak berhasil membuat kontolku ngecrot. Padahal wajah dan leher Mami sudah keringatan. Karena memang lebih dari setengah jam Mami menyelomoti kontolku tanpa hasil apa-apa.

Soalnya aku terus-terusan membayangkan kontolku sedang berada di dalam mulut gorilla yang mengancam untuk menggigit kontolku…!

Dengan sendirinya aku sama sekali tidak bisa merasakan enaknya permainan mulut Mami…!

“Kok nggak meletus-meletus ya?” gumam Mami sambil menyeka keringatnya dengan kertas tissue.

“Mami,” ucapku sambil memegang tangan Mami.

“Hmm?” Mami menatapku.

“Mungkin harus pakai memek, Mam…”

Mami tidak menjawab. Malah turun dari tempart tidur, lalu melangkah ke kamar mandi. Terdengar bunyi kencing Mami di dalam kamar mandi. Lalu terdengar bunyi ceboknya juga.

“Leon…! “Mami memanggilku dari kamar mandi.

“Ya Mam?” aku bergegas turun dari tempat tidur. Melangkah ke kamar mandi yang pintunya tidak tertutup. Tampak Mami sedang membersihkan tangannya yang berlepotan lotion. Berkumur-kumur juga di depan washtafel.

“Ada apa Mam?” tanyaku sambil mendekap pinggang Mami dari belakang.

“Mami nggak tega juga melihat kontolmu ngaceng terus gitu. Pasti pegel kan?”

“Iya Mam. Pegel sekali,” sahutku sambil mempererat dekapanku di pinggangnya.

“Mungkin kamu benar. Kontolmu harus pakai memek supaya bisa ngecrot.”

“Iya Mam. Aku yakin… kalau pakai memek Mami, pasti ngecrot.”

“Tapi kamu bisa merahasiakannya nanti?”

“Pasti Mam. Aku akan merahasiakannya.”

“Awas ya… jangan sampai Papi tau.”

“Iya Mam… percayalah, aku pasti merahasiakannya kepada siapa pun.”

© 2022 - CeritaSeru.xyz