November 01, 2020
Penulis — qsanta

Mamanya Eri

Bingung aku. Lulus smk, dapet beasiswa sekolah gratis di universitas di bandung, jurusan tata boga. Perkuliahan masih lama, tapi aku tentu harus pindah dari sekarang. Untungnya ada teman sd dulu yang kini pindah di bandung. Namun dia lagi kuliah di jogja. Entah tau kondisiku dari mana, akhirnya dia bujuk aku agar tinggal di rumahnya saja.

Seingatku, mamanya Eri cukup lumayan. Meski tubuhnya tak lagi langsing, yah tipikal ibu - ibu biasa. Bahkan bisa dibilang montok. Sebenarnya aku merasa canggung bertemu dengan beliau, tapi mau gimana lagi.

Ayahnya Eri, kuingat tak bersahabat. Aku selalu merasa tak dianggap. Rasanya ada sesuatu pada diriku yang tak disukainya. Aku tak ingin tinggal serumah dengan ayahnya Eri. Tapi serumah dengan mamanya Eri membuat ketakutanku agak sedikit berkurang.

Aku tetap gugup. Bagaimana kalau ternyata mamanya Eri gak lagi ramah padaku? Aku selalu merasa paling diterima diantara teman - temannya Eri. Bahkan aku selalu diterima saat main ke rumah Eri, namun ternyata Erinya lagi main keluar. Aku selalu diajak masuk dan main sendiri.

Ingatanku tentang Eri sebenarnya makin memudar, namun entah kenapa ingatanku tentang mamanya malah kuat. Sekuat esenza, keramik yang ada iklannya di tv.

Sebuah mobil tiba - tiba berhenti di depanku. Pintu supirnya terbuka, lantas seorang wanita paruh baya keluar dan menyapaku.

“Ali?”

Aku mengangguk lantas dia tersenyum. Aku angkat ranselku yang kutaruh di jalan, disamping tasku yang lain, lantas aku pakai. Bu Bambang langsung menghampiri dan meraih tasku.

“Sini, biar ibu bantu.”

“Gak perlu bu, Ali bisa kok.”

Tapi Bu Bambang langsung mengambil dan menaruhnya di bagasi.

“Udah lama nunggunya ya? Maafin Ibu ya, abisnya macet sih.”

“Enggak kok Bu.”

Setelah Bu Bambang menaruh tasku, lantas aku menaruh ranselku di bagasi. Saat aku berdiri, Bu Bambang lantas memelukku. Aku diam terpana.

“Masih ada barang bawaan lagi gak?”

Aku masih terpana, tak mampu bersuara, hanya menggeleng tanda tiada.

“Masih tetep pendiam ya.”

Aku mengangguk. Dia lantas tertawa.

“Pintunya bisa dibuka lho.”

Aku tersadar, lantas masuk ke pintu depan, sebelah kursi supir. Setelah itu, Bu Bambang pun ikut masuk.

“Ibu senang bisa membantumu dan kamu mau tinggal sama ibu.”

“Iya bu. Maaf udah ngerepotin.”

“Enggak kok. Ibu juga kadang sendirian di rumah. Biar ada yang nemenin sekalian ngajarin masak.”

“Iya bu. Tapi kan …”

“Nah, gitu dong.”

Tangan kiri nya dilepas dari kemudi, lantas memegang tangan kananku. Meski tangannya terasa hangat, namun kegugupanku membuatku hanya mampu menatap jalanan di depan.

“Ibu sudah gak sabar nih.”

kugeser posisi dudukku hingga menyudut ke arah pintu, dengan maksud melihat Bu Bambang. Kulihat Bu Bambang kini fokus di belakang kemudi. Roknya kulihat agak sedikit naik, memperlihatkan pahanyanya yang mulus. Bu Bambang bersuara, membuatku takut ketahuan sedang melihat tubuhnya. Namun ternyata dia hanya teriak ke pengemudi lain di jalanan.

Setelah bebera saat, aku terkadang dilihatnya sedang melihat padanya. Tentu aku makin canggung dan kembali melihat ke jalanan. Namun sepertinya Bu Bambang tak keberatan. Seiring percakapan kami, perlahan kecanggunganku menghilang. Bahkan Bu Bambang juga bilang sesuatu tentang aku yang harus keluar dari dalam tempurung, biar gak seperti katak, katanya.

“Tapi hati - hati, kalau enggak, cewek - cewek cantik bakal menerkam. Abisnya kamu ganteng sih.”

Aku jadi malu mendengarnya. Benarkah beliau berpikir aku ganteng? Sesadarku, wajahku biasa saja. Bahkan seingatku gak ada yang pernah bilang aku ganteng.

Kami berhenti dulu di stasiun pengisian bahanbakar umum, lantas isi bensin. Setelah itu, Bu Bambang beli dua es cone. Lantas kembali mengemudi.

“Coba nih punya ibu,” kata Bu Bambang sambil mendekatkan es cone-nya yang ada di tangan kiri ke dekat mulutku.

Aku menggelengkan kepala, lantas beliau menarik tangannya. Aku jadi menyesal telah menolak tawarannya. Rupanya penyesalanku ini terlihat olehnya. Lantas beliau kembali mendekatkan es cone ke dekat mulutku. Langsung saja aku jilat.

“Seger…”

“Nih lagi.”

Kubuka mulut, kujulurkan lidah, namun tangan Bu Bambang bergerak menjauhkan es cone dari mulutku. Kumajukan kepala, namun es itu makin menjauh. Lantas Bu Bambang tertawa.

Aku tak ingat apakah beliau suka menggodaku sedemikian rupa. Kumajukan lagi kepalaku, namun ternyata lidahku malah menjilati jemari Bu Bambang yang memegang es cone itu.

“Bener - bener seger,” kataku mencoba menutupi kegugupan akibat insiden tak sengaja itu.

“Moga aja rasanya enak.”

Aku jadi malu mendengarnya.

“Coba ibu pingin cicipi punyamu.”

Kujulurkan es cone namun Bu Bambang hanya sedikit menggerakan kepala membuatnya tak bisa menjangkau es coneku. Kujulurkan lagi tapi susah. Akhirnya kubuka dulu sabuk pengamanku. Posisiku jadi agak ke tengah. Kudekatkan es cone ke mulutnya. Lidahnya menjulur menjilat es, lantas lidah itu menghilang ke dalam mulutnya.

Namun tak cukup sampai di situ, lidahnya kembali terjulur. Kali ini bukan es cone yang menjadi targetnya. Jemarikulah yang dijilatinya. Jilatan ketiga kembali ke es. Begitu banyak es yang terjilat, membuat sebagian tumpah membasahi dagunya. Kulepas tisu dari gagang es cone untuk mengelap dagunya.

“Makasih Li.”

“Sama - sama.”

Aku kembali membetulkan posisi duduk.

“Lagi dong.”

Kembali kudekatkan es cone ke depan mulutnya. Namun ternyata sudah mulai meleleh. Segera kuletakan tangan kiri di bawah es cone agar tak jatuh. Namun telat, beberapa tetes telah membasahi dagu Bu Bambang. Reflek Bu Bambang mengedepankan kepalanya membuat tetesan yang turun dari dagu menetes di paha beberapa milimiter dari roknya.

“Dingin, bersihin dong.”

Aku hanya melongo melihat es cone yang mulai meleleh di paha Bu Bambang.

“Ambil dong Li, colek.”

Kucoba mencolek es. Namun lelehannya makin masuk ke dalam.

“Jangan sampai kena rok!”

Tangan kiri Bu Bambang, yang masih memegang es cone, menarik ke roknya ke dalam, memperlihatkan lagi sisi dalam pahanya.

Otomatis, es cone di tangan Bu Bambang meleleh jatuh menimpa pahanya yang telah tertetesi es coneku. Tangan Bu Bambang jadi makin dalam menarik roknya hingga terlihat garis tipis celana dalamnya.

Berbeda dengan es cone yang terus bergerak, pikiranku malah diam.

“Ibu mesti nyetir nih. Jadi kamu yang harus bersihin esnya.”

Mataku terpaku pada celana dalamnya yang menutupi selangkangan Bu Bambang.

“Ali.

“Ali.”

“Ya.”

“Jangan didorong, ambil!”

“Iya.”

Kucolek tanganku agar esnya keluar. Akhirnya bagian terbesar es ada di jariku. Aku bingung cari lap untuk mengelap jariku, namun kuputuskan untuk memasukannya ke mulut dan menjilatinya.

Kembali kuletakan tangan di paha Bu Bambang untuk mengambil esnya. Kulihat pahanya basah, namun mataku kembali terpaku pada cd pink Bu Bambang.

Mungkin melihat arah mataku, dan efek yang ditimbulkan es cone mulai melebar, Bu Bambang akhirnya mengangkat roknya sepinggang hingga terpampanglah dengan jelas, selangkangannya yang terbungkus cd pink.

Kembali kudaratkan jemari di pahanya, kini pendaratanku makin mendekati cdnya. Kucolek es dan saat jemariku di depan mulut, Bu Bambang bersuara.

“Hey.”

Kutatap Bu Bambang yang telah membuka mulutnya. Kini kumasukan tangan ke mulut Bu Bambang. Jemariku langsung mengenai lidahnya. Bibirnya menutup sebelum aku menarik tanganku. Jemariku langsung dihisapnya.

Aku diam. Terkejut. Hingga beliau bergumam agar aku menarik tanganku. Kutarik namun ternyata mulut beliau masih menyedotnya hingga akhirnya jemariku bebas, lepas.

“Enak ya. Cepet bersihin.”

Aku kecewa saat melihat pahanya. Hanya tinggal sedikit yang tersisa.

“Udah meleleh.”

“Sayang dong. Padahal enak.”

Bu Bambang tertawa. Aku ikut tertawa sambil mencolek pahanya. Kembali kumasukan jemariku, yang hanya ada sedikit es, ke dalam mulut Bu Bambang. Namun kini kugerakan jemariku dalam lebar lidahnya.

“Mmmmm…”

“Satu lagi.”

Kenapa aku gak bilang masih ada banyak? Lagian Bu Bambang kan gak liat.

Saat aku kembali duduk dengan benar di kursi, Bu Bambang menyodorkan lap di tangannya.

“Lap pake ini dong.”

Kuraih dan kulap.

“Pelan - pelan. Paha ibu kan bukan meja.”

Kulap, namun tanganku tak berani menyentuh cd pinknya.

“Makasih Li. O, ya, bentar lagi nyampai nih.”

Saat aku akan memasang sabuk pengaman, kusadari ada gundukan di celanaku. Kutatap Bu Bambang namun tampaknya beliau tak menyadarinya. Akhirnya mobil parkir di sebuah rumah. Bu Bambang membetulkan roknya.

“Akhirnya kita sampai Li.”

© 2022 - CeritaSeru.xyz