November 02, 2020
Penulis — qsanta

Insiden Bersama Mama

Kesel banget rasanya naik lift yang penuh sesak kayak gini. Melihat dari mimik mukanya, kayaknya mama juga merasakan hal yang sama. Ntah ada berapa orang, yang jelas bener-bener sesak. Aku terjebak di bagian dalamnya sementara mama persis di depanku. Sebelah kanan dan kiriku orang berseragam, ada juga yang kayak pebisnis.

Entah kenapa aku mau saja saat diajak mama ke kantornya. Katanya disuruh bantuin mama pindah kantor. Minggu lalu mama dipromosikan dan akan menempati tempat yang baru. Karena aku adalah anak idola, idaman wanita, maka aku setuju saat mama menawariku uang untuk membantunya pindah kantor.

Omong-omong, mama kini menempel padaku. Wajahnya pun sangat dekat dengan wajahku. Beberapa kali kurasakan nafas mama menghangati pipiku. Sementara payudara mama menekan dadaku. Rambut mama panjang terikat. Mama juga suka senam, makanya tubuhnya agak terjaga. Pantat dan payudaranya agak besar sedikit.

Mama menoleh mencoba melihat keadaan lift. Kulihat kancing di pakaian mama terbuka di paling atas. Dengan tekanan pada dadaku membuat sela kancing agak longgar hingga aku bisa mengintip ke dalamnya. Ternyata mama memakai bh hitam. Kurasakan kontolku mulai mengeras hingga menekan selangkangan mama. Namun mama tak bereaksi apa-apa.

Saat mama menoleh kembali kepadaku, kuangkat kepala hingga kami saling bertatapan. Mama terlihat frustasi sambil menggerak-gerakan kakinya. Tanpa disadari gerakan mama malah membuat rangsangan kepada kontolku.

Doyan bener orang-orang di lift, bisik mama, nafasnya meniup bibirku.

Lift pun terbuka. Namun bukannya keluar, malah beberapa orang masuk membuat lift semakin sesak. Beberapa orang mengeluh menyuruh agar jangan dulu masuk, nunggu lift selanjutnya. Tapi ternyata tak digubris. Kulihat yang terakhir masuk ada pria berbadan agak gempal membuat punggungku menekan dinding lift dan tubuh mama makin menekan tubuhku.

Mama terlihat makin kesal. Aku juga sih. Payudara mama terasa lembut menekan dadaku. Paha mama kini nyelip diantara selangkanganku. Kontolku jadi mengeras dan agak keluar sedikit dari celana pendek bagian kananku. Jadinya kontolku ditekan oleh pahaku dan paha mama. Tubuh mama jadi agak menegang, mungkin kini menyadarinya.

Mama mencoba bergerak, mungkin ingin menjauhi kontoku. Namun gerakan mama malah membuat kontolku makin keras keenakan. Gerakan mama membelai kontolku dan paha mama menekan testisku. Aku mencoba sekuat tenaga agar tak menikmati hal ini, namun rasanya sia-sia. Aku tak mau orgasme di lift penuh orang.

Sayang, itu mu bisik mama padaku. Rasanya, andai mama menyebut kemaluan, bahkan kontol, aku bisa langsung orgasme.

Maaf mah, gumamku malu.

Tiba-tiba lift berhenti. Mama terlihat khawatir sambil menoleh. Pipi mama mengelus pipiku dan beberapa helai rambut mengelitiki hidungku. Orang-orang mulai ribut. Tiba-tiba terdengar suara keras, meski tak sekeras suara bigbang, dan lift langsung turun. Orang-orang mulai teriak panik hingga lift mulai tersentak dan berhenti.

Berhentinya lift membuat kepalaku membentur dinding lift. Orang-orang pada panik, bahkan ada yang menangis. Tidak ada yang cedera karena lift terlalu penuh, ironis. Namun kini posisi orang-orang mulai tak karuan. Bahkan ada yang saling dorong.

Tanganku terjebak. Yang kanan terjulur keluar dan tertekan oleh orang sehingga tak bisa bergerak. Begitu pula yang kiri. Aku mencoba bergerak namun tak bisa. Saat itu kusadari mama tak lagi didepanku. Aku mulai panik, teringat sebuah adegan dalam film Panic Room. Aku mulai memanggil mama. saat melihat ke bawah, ternyata ada.

Kejadian tadi membuat mama jatuh hingga berlutut. Tekanan orang lain membuat mama tak berkutik. Karena mama cukup tinggi, wajah mama sejajar perutku. Payudara mama menekan selangkanganku. Mama terlihat ketakutan, namun untungnya mama tak menangis bahkan menjerit seperti yang lain. Kacamata mama tetap pada tempatnya.

Kita pasti mati Tuhan teriak orang berbadan gempal.

Diam, ini semua karena kamu ngotot masuk, timpal yang lain.

Yang lain ikut bersuara, namun tak jelas.

Musibah ini. Bukan salah siapa-siapa, yang lain mencoba bersikap netral.

Kuputuskan untuk membiarkan ocehan mereka. Kutatap mama.

Mama baik-baik saja?

Mama mengangkat kepala menatapku sambil tersenyum, namun terlihat tegang. Aku lega melihat mama tak cedera dan senyum. Kulihat mama ketakutan, namun mama bersikap tetap tenang. Tatapanku tak berhenti di wajah mama. kini tatapanku menuruni wajah mama hingga ke leher dan payudaranya. Pantatku semakin menekan dinding lift akibat kuatnya tekanan yang mendorong.

Kini kontolku makin menegang dan entah bagaimana caranya masuk antara celah bh kanan kiri hingga kontolku menggesek kulit lembut payudara mama. Aku yakin mama menyadari ini. Mama terlihat bingung sebelum menuntuk. Pasti sangat mengejutkan melihat kontol anaknya keluar dari bhnya. Mama lalu menatapku.

Mama lalu melihat sekeliling, khawatir ada orang lain yang melihatnya dalam posisi yang memalukan. Untungnya tak ada yang memperhatikan. Adu argumen yang tadi udah berhenti. Kini sepertinya semua orang memilih diam, sambil berdoa.

Mama menjadi sangat hati-hati mencoba bergerak melepaskan diri. Sudah kukatakan mama baru saja dapat promosi, andai ada gosip baru mama membuat anaknya orgasme dengan susunya, meski akibat insiden, bisa jadi mama memilih pindah pekerjaan.

Perlahan, mama mencoba menarik payudara dari kontolku. Sayangnya, di belakang mama sangat sumpek hingga gerakannya terbatas. Saat mama berhasil menarik payudara beberapa cm, ternyata malah ditekan lagi. Kontolku rasanya seperti dikocok. Mama mencoba lagi, namun seperti tadi malah menekan kembali. Karena memakai bh, kontolku serasa dicengkram.

Mama mencoba mundur membuat kontolku meluncur turun seperti dibelai, belaian yang membuat kontolku menyemburkan lahar putih. Spermaku muncrat ke bibirnya membuat mama terkejut. Mama mencoba menarik nafas dan membuka mulutnya saat semburan kedua meluncur tepat ke dalam mulut. Spermaku meleleh keluar lewat bibir lalu mama menatapku.

Tatapan mama seolah mengatakan berani-beraninya kamu menyemprotkan sperma ke mamamu!

Kontol seperti menjawab dengan menyemburkan lagi sperma ke pipi mama dan lensa kanan kaca mata mama. Mama kembali mencoba memundurkan wajahnya. Namun semprotan baruku mengenai rahang mama hingga mengucur ke payudara mama.

Aku gemetar menikmati orgasmeku. Kucoba untuk mengontrol nafas sementara jantungku berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Rasanya ini adalah orgasmeku yang paling nikmat.

Di sisi lain, mama terlihat tidak senang. Mama terlihat marah. Mengingat apa yang terjadi, aku memaklumi kalau mama marah.

Maaf, kataku lirih. Kuhindari tatapan mata mama.

Spermaku menghiasi pipi kanan, bibir dan di helaian rambut mama. Leher dan payudara mama seperti mengkilap. Blus putih mama kini terlihat transparan. Spermaku sungguh banyak akibat rangsangan tak sengaja ini.

Meski baru saja orgasme, namun kontolku tak benar-benar mengecil. Tentu saja karena kontolku ada diantara payudara mama. Bahkan sekarang kembali menegang melesak dari belahan payudara mama yang terlubrikasi oleh spermaku.

Pupil mama kembali melebar menyadari kontolku. Mama melihat sekilas ke payudaranya, setelah menyadari apa yang terjadi, mama kembali menatapku, tegas. Tatapan mama seperti menegurku, anaknya, karena nakal.

Namun, bukannya takut aku malah makin terangsang.

Mama diam tak bergerak sambil tetap menatapku tajam. Namun kontolku tetap tegang. Bahkan kontolku merasakan detak jantung mama yang semakin cepat.

Sungguh aneh, pikirku. Di sini, di dalam lift macet penuh sesak, aku baru saja menikmati payudara mama, menyembur wajah mama dan kini aku akan melakukannya lagi. Aku harus cepat keluar dari lift. Tak ada orang normal yang mencumbui payudara mamanya. Kalau pertama kali masih bisa ditolerir karena insiden, maka jika melakukannya lagi tentu sangat aneh.

Kucoba menggerakan lenganku. Lengan kiriku benar-benar terjebak, namun yang kanan bisa bergerak sedikit. Telapak kananku menekan dinding. Andai bisa kuputar lalu kutarik, mungkin bakal bebas. Kucoba putarkan tangan, bisa. Namun kini tanganku meluncur di sesuat yang lembut, hangat dan besar.

Oh.

Kucoba meremasnya sambil melirik ke kanan. Ternyata ada sepasang paruh baya. Yang pria terjebak sepertiku sedangkan yang wanita menekannya. Tanganku terjebak diantara keduanya dan kini menutupi payudara kanan wanita itu. Kucoba meremas lagi membuat wajahnya sedikit mengerut.

Yan, Jangan di sini! kudengar wanita itu berbisik ke pria.

Yan, tentu saja tak mengerti ucapannya. Hah?

Ternyata wanita itu tak tahu bahwa itu tanganku. Kurasakan kontolku berkedut saat kuremas lagi payudaranya. Wanita itu mengernyit menatap Yan sambil menggeleng-geleng lalu berpaling. Wanita itu agak menarik tubuh sepertinya agar Yan (tanganku) semakin leluasa. Aku mulai membelai dan kurasakan putingnya mulai mengeras.

Aku semakin keasikan meremas payudaranya. Tanpa disadari, aku mulai memaju mundurkan pinggul membuat kontolku meluncur diantara payudara mama. Sensasinya fantastis karena kini bisa kugerakan sendiri. Spermaku menjadi pelumas hingga kontolku bergerak mulus.

Tiba-tiba kurasakan payudara mama seperti menampar kontolku, membuatku menatapnya. Mama masih berlutut, terlihat marah namun wajahnya masih dihiasi speramku. Mama kini terlihat gelisah sambil memelototiku dari balik kacamatanya. Namun kini aku tak berpaling. Kutatap mata mama penuh nafsu.

Sambil saling bertatapan, kutarik pinggulku lalu kudorong lagi. Kemarahan di matanya mendadak hilang, digantikan dengan kejutan dan ketakutan. Kutarik lagi pinggul lalu kudorong sekerasnya. Pahaku bersuara saat menampar bagian bawah susu mamaku. Akibat gerakanku, dagu mama kini terolesi spermaku juga.

Aku terus menatap mama sambil menggerakkan pinggulku membuat suara seperti sek sek sekk…

Wanita tadi menggigit bibir mencoba menahan erangan saat tanganku mengelus susunya. Wanita itu memakai sweater tipis. Putingnya kupilin. Kulepas tatapanku pada mama dan melihat pundak kanan wanita itu bergerak naik turun. Kurasa wanita itu menyelipkan tangan ke selangkangannya sambil menikmati aksi yang dia kira pasangannya.

Nafasku tak karuan. Keringat mengucur di wajahku. Pinggul dan tanganku tak henti bergerak. Kembali kutatap mama. ternyata mama menunduk melihat kontolku terus menggesek susunya yang berkilau karena spermaku. Kulihat dari celah bh puting mama mengeras.

Aku mengerang dibuatnya. Mama kembali menatapku. Namun kini tak terlihat tatapan penuh murka angkara. Kini mama terlihat cemas, takut juga nafsu. Bibir mama mengeluarkan nafas yang menghangatkan kontolku. Kupercepat gerakan pinggulku. Dada mama naik turun seiring nafasnya. Mama lalu mulai menggerakan payudara mencoba menyelaraskan dengan gerakanku.

Kurasakan orgasmeku kian dekat. Kontolku, tanganku, semuanya menikmati susu. Pinggulku semakin cepat. Tanganku semakin meremas. Mama melihatku dan menyadari apa yang akan terjadi. Gerakannya semakin cepat.

Jangan dorong-dorong! kata orang dibelakang mama. Untungya dia tak berbalik.

Aku dan mama makin terengah-engah. Tanganku meraih bagian leher sweater dan menarik ke bawah hingga susu itu pun terbebas. Wanita itu terkejut dan kulihat dia. Sungguh seksi, wajahnya penuh keringat. Susunya terpampang. Kuremas dan kumainkan putingnya. Membuat wanita itu mengerang menyentak.

Kenapa kamu? kata pria itu melihat wanitanya orgasme di depannya.

Kembali kulihat mama yang penuh nafsu. Saat pria itu terbengong, tanganku seperti tak tertekan maka langsung kutarik tanganku. Kini, dengan tangan kiriku yang leluasa kuraih kepala mama. jariku membelai rambutnya membuat mama terlihat kaget. Matanya penuh nafsu juga kebingungan. Mama membuka bibir seolah akan bertanya apa yang terajadi.

Kutekan kepala mama hingga menunduk membuat kontolku melesak ke dalam mulut mama.

“Mrrrphhhh-glggg !!!”

Mama berteriak, namun suaranya teredam oleh kontolku. Mama berusaha menarik kepalanya namun tanganku menguncinya. Spermaku pun muncrak ke tenggorokannya. Mama terbatuk dan mengeluh. Kupejamkan mataku. Gigiku gemeretak.

Tak lama kemudian, aku terengah-engah. Puas. Wajahku penuh keringat. Kubuka mata dan melihat mama yang masih menggerak-gerakan kepala. Kulepaskan tanganku. Air mata mama menetes lalu mencoba menarik nafas. Spermaku mengalir keluar dari mulut mama membasahi susu dan bajunya.

Melihat mama menenangkan diri, mulai timbul rasa bersalah. Namun aku tetap melihat mama. Rambutnya berantakan. Maskaranya rusak oleh air mata. Pipi dan bibirnya dan dada mama penuh sperma.

Kini, rasa bersalah sirna. Yang kulihat adalah ada wanita cantik berlutut didepanku yang baru saja memuaskanku. Saat melirik ke arah wanita di sebelahku, terlihat dia kaget. Mungkin menyadari tangan lain yang bermain.

Akhirnya lift pun terbuka. Semua berlomba keluar. Namun mama masih diam karena tangannya ditekan pantatku ke dinding. Mama terus memelototiku marah sekaligus panik karena akan keluar. Mama jelas terlihat seperti telah di gilir di lift.

Kini kuhindari tatapan mama. Bukan karena takut oleh amarah mama. Namun karena takut akan kembali tegang jika melihat mama. Kuulurkan tangan mencoba membantu namun malah ditepis oleh mama.

Jangan sentuh mama, dasar durhaka.

“Tunggu mama di mobil, mama ke toilet dulu!

Aku pun menuju tempat parkir yang telah dipenuhi wartawan. Ternyata lift tadi ulah sekelompok orang yang menyabotase gedung.

*Sekian.*​

© 2022 - CeritaSeru.xyz