November 01, 2020
Penulis — udin bengong

Pantat besar mamaku yang menyejukan jiwa

“Ada apa sih sayang… pulang kuliah koq kamu keliatan murung begitu… gak seperti biasanya…” tegur mama, dengan melongokan wajahnya dari sisi pintu kamar yang dibuka separuh. Namun aku yang tergolek malas ditempat tidur kamarku, tak menjawab pertanyaan mama itu, kecuali tadi hanya melirik sebentar kearah wajahnya.

Melihat reaksiku itu, mama segera masuk menghampiriku.

“Sakit..?” seraya ditempelkan telapak tangannya pada keningku. Yang aku jawab dengan gelengan lemah.

“Kalau gitu ada apa… cerita dong..” desak mama, sambil menghempaskan bokongnya yang masih terbungkus rok seragam pegawai salah satu instansi pemerintah diatas bibir ranjangku.

“Mmm… so’al cewek…? Si Ririn lagi..?” tebak mama, yang aku jawab dengan menarik nafas panjang… dengan reaksiku yang hanya seperti itu, sepertinya mama telah mendapatkan jawaban yang kongkrit bahwa tebakannya itu adalah benar.

“Bertengkar lagi…? Ribut..?”

“Malah sudah bubaran mah… putus..” jawabku dengan nada putus asa, seraya merubah posisi tubuhku kearah dinding, sehingga punggungku membelakangi mama.

Kali ini mama yg menarik nafas panjang, seraya mungusap-usap bagian belakang kepalaku.

“Ya sudah… mungkin dia bukan jodohmu… kamu gak perlu murung seperti itu… kamu laki-laki, kamu juga ganteng dan pinter… sejak jauh hari mama memang sudah kurang begitu sreg dengan Ririn.. mama ingin ngomong sama kamu, tapi mama kawatir kamu salah terima dan menuduh mama yang tidak-tidak…

“Ririn tidak layak mendapatkan kamu gus… dan kamu, terlalu bagus untuk Ririn…” ujar mama, sambil menutup pintu kamar, lalu menghilang dibalik daun pintu yang bertempelkan poster seorang musisi rock mancanegara.

Mungkin apa yang dikatakan mama ada benarnya. Tapi Ririn.. Ah, aku begitu mencintainya. Sudah sejak SMA aku menjalin hubungan dengan Ririn. Bagiku, Ririn telah begitu dalam berada didalam relung-relung jiwaku. Hubungan kami juga sudah begitu jauh. Ya, begitu jauh, sehingga kamipun sudah terbiasa melakukan hubungan suami istri.

Disinilah, dikamar inilah aku dan Ririn biasa memadu cinta… dan birahi. Itu kami lakukan disaat mama sedang bekerja dikantornya. Karna memang aku dan mama hanya tinggal berdua dirumah ini semenjak papa meninggal 4 tahun lalu karna serangan jantung. Dan semenjak itulah mama menjadi seorang single parent dalam membesarkan aku.

Aku sebetulnya masih mempunyai seorang kakak perempuan yang usianya terpaut 4 tahun lebih tua dariku. Namun 1 tahun sebelum ayah meninggal, kakakku itu telah menikah dan tinggal bersama suaminya, karna suaminya itu memang termasuk laki-laki yang sudah mapan secara ekonomi. Dengan pertimbangan itu pulalah orang tuaku merestui Kak Indah menikah muda, yaitu selepas lulus SMA, tepatnya diusia 18 tahun, karna orang tuaku menganggap tanpa kak Indah harus bekerjapun, ekonomi suaminya sudah mampu menopang segala kebutuhannya, toh merekapun sudah terlanjur saling cinta, begitupun dari pihak keluarga bedar suami Kak Indah memang sudah mendesak agar mereka segera menikah.

Begitu halnya kak Indah, mamapun dulu menikah dengan papa pada usia 18 tahun, namun bedanya mama tetap kuliah walau statusnya sudah sebagai ibu rumah tangga. Menurut cerita salah satu family yang mulutnya agak ember, katanya sih mama “kecelakaan” duluan saat dulu pacaran dengan ayah, sehingga terpaksa harus dinikahkan beberapa hari setelah lulus-lulusan SMA, itupun dengan kandungan yang sudah berumur 4 bulan.

Sepeninggalan papa, mamapun sepertinya tidak memiliki niat untuk mencari pengganti papa, padahal waktu papa meninggal, usia mama juga belum terlalu tua, masih sekitar 38 tahunan dan masih cantik.

Kini usia mama sudah menginjak 42 tahun. Nama lengkap mama Dian herlina, biasa dipanggil ibu Dian. kak Indah 23 tahun, nama lengkapnya, Indah panorama, sedangkan aku Bagus Budi pekerti, 19 tahun.

Diusia mama yang menginjak 42 tahun itu, mama masih terlihat cantik dan menarik. Kulitnya yang putih bersih masih terlihat licin bercahaya, tak ada terlihat gurat-gurat tua sedikitpun, apalagi keriput. Dengan tinggi badannya yg sekitar 168 cm dan berat 85kg, memang tidak bisa dikatakan langsing. Bahkan cenderung bisa disebut gemuk atau subur, istilah bulenya chubby.

Namun itu justru terlihat padat berisi, montok dan juga seksi. Buah dadanya masih terlihat kencang dan tidak kendor. Namun yang paling istimewa dari mama adalah bokong atau pantatnya. Bokong mama begitu besar dan menantang, bentuknya bak gitar spanyol. Walaupun begitu perut mama tidak terlihat besar atau buncit sebagaimana layaknya orang-orang gemuk kebanyakan, sehingga kesan gembrot tidak bisa disematkan pada diri mama.

Justru kesan seksi lah yang lebih mengemuka. Mungkin memang mama rajin berolahraga dan senam yang teratur sehingga penampilan mama masih terlihat menarik. Tak heran, banyak teman-temanku yang dengan konyolnya menggodaku dengan celotehan “nyokap elu masih boleh ya gus…” “Gile, nyokap elu seksi abis gus..

pantatnya yg gua gak tahan.. kalah tuh bedug mesjid..” brengsek memang teman-temanku itu… bahkan ada juga yang kurang ajar dengan mengatakan “Gus, gua kadang-kadang kalau lagi coli suka bayangin nyokap elu..” namun aku tidak pernah merasa tersinggung dengan ocehan teman-temanku itu. Toh mereka berkomentar seperti itu karna kami memang sudah sedemikian akrabnya.

Ah, kembali pikiranku tertuju pada Ririn. Sial benar, tak kusangka setelah begitu dalam aku mencintainya, dan hubungan kamipun sudah sedemikian jauh, begitu gampangnya dia meninggalkan aku dengan alasan-alasan yang menurutku kurang relevan dan terlalu dibuat-buat. Dan biang kerok penyebab itu semua, siapa lagi kalau bukan anak pakultas kedokteran yang katanya putra pejabat itu.

“Bagus… bangun gus… udah mahgrib nih… eh.. Bagus… bangun dong, kamu kan belum makan sayang…”

Ah, teriakan mama membuatku terjaga. Rupanya aku ketiduran tadi.

Dengan malas aku terbangun dan duduk ditepi ranjang, sementara mama masih melongok dari tepi daun pintu yang terbuka separuh.

“Ayo, kamu mandi dulu sana… setelah itu kita makan” ajak mama, seraya berlalu dari situ. Dan beberapa saat kemudian akupun beranjak untuk menuruti perintah mama.

Setelah mandi, akupun kembali masuk kedalam kamar. Sepertinya perasaan hatiku masih kurang plong. Rasa kecewa dan kesal kehilangan kekasih masih menyelimuti sanubari ini, yang bahkan membuatku malas untuk makan malam yang telah disiapkan mama diatas meja makan.

“Baguuuusss… aduuh… ayo kita makan dulu dong… kamu ini.. mama udah beliin ayam geprek kesukaan kamu nih…” teriak mama dari arah meja makan. Yang mau tidak mau, dengan rasa malas kulangkahkan juga kakiku menuju meja makan. Kulihat mama sudah duduk sambil menyendokan nasi pada piringnya.

“Kamu tu, cemen banget sih… laki-laki koq diputusin cewek aja sampai kayak gitu… “ejek mama, seraya kugeser kebelakang kursi yang masih menghimpit rapat pada meja makan, dan aku duduk tepat dihadapan mama.

“Bagus.. bagus… mama aja yang cewek, dulu waktu SMA juga pernah ditinggalin sama cowok mama… tapi mama enggak gitu-gitu amat kaya’ kamu…” ujar mama sambil menyuap nasi kedalam mulutnya. Sedangkan aku baru mulai menyendok nasi pada piringku.

Sepanjang makan malam itu, bahkan aku tidak membuka suara sama sekali. Hanya menyaksikan mulut mama yang mengunyah makanan sambil tak hentinya menasehati aku, atau lebih tepatnya meng’olok-olok aku. Mulut yang dikatakan oleh temanku mulut nafsuin, karna mulut mama memang agak lebar, serta bibirnya yang sedikit penuh.

Mama memang selalu berjilbab saat keluar rumah, namun saat berada dirumah, walaupun ada teman-temanku berkunjung, mama tidak pernah mengenakan jilbab, sehingga teman-temanku juga bisa melihat rambut mama yang hitam kecoklatan panjang sebahu itu. Apalagi mama juga sering mengenakan legging ketat sehingga bokong mama tambah terlihat menantang teman-temanku itu.

Hanya beberapa sendok saja makanan yang berhasil masuk mengisi lambungku, setelah itu akupun kembali masuk kedalam kamar.

© 2022 - CeritaSeru.xyz