November 03, 2020
Penulis — kurawa100

Akibat Vacuum Cleaner

Aku sedang tidur saat ini terjadi. Suara vacuum cleaner membangunkanku. Saat kulihat jam, ternyata masih tengah malam. Kupikir anakku menumpahkan sesuatu dan membersihkannya dengan vacuum cleaner. Saat aku bangun, suara vacuum cleaner menghilang. Kuikat rambutku, kupakai daster hingga menutupi cd dan bhku.

Bima? Ngapain malam-malam nyalain vacuum cleaner?

Mama?

Bima terkejut. Dia duduk di sofa. Diantara pahanya terdapat pipa plastik yang tersambung ke vacuum cleaner. Belum kulihat semuanya, bima sudah mengambil bantal sofa dan menutupi pandanganku.

Ma, bima, bima---

Oh tuhan!

Aku menggelengkan kepala. aku hampir berlari mendekati, lalu kusadari anakku sedang onani memakai vacuum cleaner. Lalu meledaklah kemarahanku.

Kau apakan vacuum cleaner mama?

Bima hanya, bima hanya---

Lalu aku berbalik dan menghadap dinding.

Dasar nakal. Mama marah sama kamu. Menjijikan. Pakai pakaianmu dan tidur sana. Besok kita bicarakan ini!

Dengar dulu ma. Bima punya masalah di sini.

Kau benar kau memang bermasalah. Kita tak memakai alat rumah tangga untuk onani. Kau sudah pake bajumu?

Ma, bantu bima ma.

Kenapa? Bukankah kau sendiri yang bermain-main sama vacuum cleaner.

Ma, punya bima nyangkut di vacuum cleaner.

Aku tetap menatap dinding. Rupanya itu masalahnya. Aku tak tahu mesti bilang apa.

Udah setengah jam nyangkut ma. Bima perlu bantuan.

Paksakan saja keluar.

Udah bima coba. Tapi susah. Panggil sama ambulan ma.

Bima kan tahu, mama lagi gak punya uang.

Tapi ini sakit ma. Jika tak cepat ditangani, bisa-bisa punya bima mesti dipotong. Tolong ma.

Dasar anak nakal. Mama tak percaya kau lakukan ini.

Kalau gitu tolong bantu bima ma.

Gimana mau bantu? Bima kan telanjang.

Bima tak peduli mama bakal lihat apa. Tolong lakukan sesuatu.

Kuhela nafas dan berbalik. Kulihat semua dengan jelas. Bima sedang duduk telanjang di sofa. Anakku tampan, juga rajin olahraga, terutama basket. Aku sebenarnya bangga pada anakku. Kuakui kadang aku kagum melihat anakku. Tapi sekarang, melihatnya seperti ini cukup memilukan.

Selang nya benar-benar menyedot kepunyaan anakku. Testisnya terlihat jelas dan besar. Jelas bima sudah tumbuh besar. Bulu kelaminnya tak ada, mungkin dicukur semua. Sedangkan bulu kelaminku tumbuh subur, tak kucukur. Aku sebenarnya tak mau melihat kepunyaan anakku tapi sekarang terpaksa kulihat.

Sekarang mama mesti ngapain?

Bima juga gak tau mah.

apakah gak apa-apa jika kucabut selangnya?

Bima juga udah coba ma.

Coba lagi terus.

Coba aja sama mama.

Baiklah. Bilang kalau sakit.

Memang sudah sakit ma.

Kupegang selangnya, kutekan perutnya. Kucoba cabut perlahan. Aku gugup memikirkan betapa dekatnya tanganku dengan kepunyaan anakku. Sungguh situasi yang canggung antara ibu dan anak.

Mama tarik sekarang.

Ya.

“Go.”

Saat kutarik, bima meringis.

Pelan-pelan ma.

Maaf. Kenapa kepunyaanmu tak mengecil?

Mungkin selang ini seperti cincin yang mencengkram kontol mah.

Jangan memakai kata itu di depan mama.

Sakit ma.

Baiklah. Kita butuh pelumas.

Gimana memakainya kan milikku di selang.

Akan kita potong selangnya.

Begitukah?

Jangan mulai. Bima yang mulai memasukan punya bima ke vacuum cleaner.

Aku bangkit menuju dapur, kuambil pisau. Bima terlihat takut saat melihatku membawa pisau. Bima menegang saat kupegang selang dekat pada miliknya’. Kutekan pisau pada selangnya.

Jangan bergerak.

Tunggu ma, jangan disana. Nanti punya bima terpotong setengahnya.

Kutatap selangnya. Setengah? Rupanya anakku tumbuh besar.

Lalu, mesti mama potong di mana?

Di sini ma.

Bima menunjukan tangannya kira-kira di dekat ujung miliknya. Aku ternganga, miliknya lebih panjang dari duganku. Aku tak percaya, tapi aku diam saja. Kumulai mengiris selangnya. Saat hampir selesai kupotong, mulai terlihat kepala milik bima. Aku tercengang. Milik’nya ternyata benar panjang dan sepertinya tak senang berada di selang.

Um. Oke, lebih baik?

Belum. Keluarkan mah.

Tunggu mama ambil dulu lotion.

Aku ke kamarku mencoba menenangnkan diri. Aku tahu ini salah, tapi aku terangsang. Kepunyaanku terasa gelid dan basah. Sudah lama aku tak bersenggama, tapi pikiran tentang milik anakku membuat nafsuku bangkit.

Nah, ini.

Aku berkata sambil duduk di sofa, kuberikan sebotol pada bima.

Tumpahkan di sana.

Kubalik kepalaku saat dia menumpahkan lotion sampai ke ujung selang. Tapi kulirik bima dengan sudut mataku. kepunyaanku terasa gatal saat bima memasukan jarinya, mencoba meratakan lotion di sekujur miliknya.

Oh. Udah mentok ma.

Ehem. Mau mama tarik selangnya?

Aku ingin bima jawab ya. Aku ingin menarik selang itu dan melihat miliknya’. Kuteriakkan pada diriku sendiri betapa aku menginginkannya, walau hanya melihat, menatap. Tak lebih dari itu. Kubersumpah pada diri sendiri.

Ya. Tolong ma.

Baiklah.

Kupegang selangnya dan kutarik pelan. Bima meringis menahan sakit. Sepertinya tak berhasil. Lalu kuputar sedikit berharap lotionnya bakal merembes masuk. Kurasakan semakin licin. Kucoba menariknya lagi. Mulai terlihat batangnya yang keras, memerah dan dengan tarikan terakhir, akhirnya terbebaslah miliknya yang langsung bergerak-gerak.

Makasih mah.

Hm..

Aku menjauh, membawa potongan selang lalu berdiri.

Jauhkanlah selalu milikmu dari vacuum cleaner. selamat malam.

Biasanya, aku bangun pagi, mandi, membangunkan bima, membuat sarapan dan pergi kerja melayani pengunjung restoran. Tapi sekarang, setelah mandi, kuketuk kamar anakku dan menyuruhnya bangung tanpa melihatnya. Masih ada makanan semalam, hingga aku tak perlu membuat sarapan.

Tumben sekarang lebih pagi.

Yuni, adikku, menyapaku. Kami seperti kembar, hanya saja susu dan pantatnya lebih besar. Juga lebih jalang. Sejak kecil kadang aku iri, tapi aku tetap yang paling pintar.

Tak sabar ingin kerja.

Kupakai seragamku, aku tak memakai kerudung. Kusiapkan bekalku untuk nanti siang. Tak lupa buku catatan dan pulpen kusiapkan.

Memangnya kenapa?

Yuni bersandar ke meja sambil mengunyah permen karet dan berseringai seolah dia tau ada sesuatu dan kami tau aku akan memberitahunya. Kuambil nafas dalam-dalam, melihat sekitar agar tak ada yang mendengar.

Semalam kupergoki bima masturbasi.

Benarkah? Sudah waktunya. Ingat saat kita kecil dan mama memergoki bobi sedang mastrubasi? Itulah saat kita pertama kali melihat kontol, benarkan? Mama berteriak, sungguh lucu.

Memang lucu. Tapi tak lucu kalau dia anakmu.

Ha ha ha Jadi, apa yang kau lakukan?

Tunggu, aku tak sebegitunya. Bima tak hanya masturbasi. Kalau itu saja sih aku mengerti. Bukankah kubilang kamarnya selalu penuh tisu. Tapi malam tadi kontolnya ada di selang vacuum cleaner.

Apa barusan kau bilang kontol?

Ya. Karena panjang dan besar.

Benarkah? Kontol besar dan panjang susah dicari.

Jangan kasar. Ini serius.

Kenapa kontolnya ada di selang.

Ia memakainya. Tapi itu masih wajar.

Ada yang tak wajar?

Ya, kontolnya mampet. Jadi kubantu dia mengeluarkannya.

Oh tuhan. Kau pasti bercanda.

Tidak, kupotong selangnya dan kuluberi lotion lalu ku putar dan kutarik hingga keluar.

Ah bohong.

Benar. Lalu setelah itu aku pergi begitu saja. Sungguh memalukan.

Kenapa? Bukankah dia yang ketahuan tak bercelana.

Aku ibunya. Kulihat kontolnya. Oh tuhan, sungguh besar, panjang dan bahkan testisnya juga besar. Dan saat lepas dari selang

Oh tuhan, kau menyukainya. Lihat dirimu. Wajahmu merah. Kau suka kontol bima.

Ew, tentu tidak. Dia anakku. Jangan kasar!

Kau sebenarnya terangsang. Aku tahu. Membicarakannya saja membuatmu terganggu. Lihatlah dirimu.

Yuni, hentikan.

Ayolah. Aku tahu. Kita dulu masturbasi bersama.

Itu puluhan tahun lalu. Saat kita kecil. Dewasalah sebentar.

Hehehe

Hari itu aku sibuk bekerja. Setelah kerja aku malas pulang ke rumah. Rasanya malu bertemu anakku. Tapi aku lega ternyata bima mengurung diri di kamarnya saat aku pulang. Meski begitu, kubuatkan sarapan dan kusuruh bima makan.

Bima, makan dulu nak.

Nanti aja mah, bima belum lapar.

Oke.

Biasanya aku marah dan memaksanya makan, tapi malam ini! Akhirnya aku santai sendirian. Tapi, jam 8an bima keluar kamarnya. Aku sedang duduk di sofa, gugup, tapi bima terlihat seperti sedang sakit. Langkahnya gontai.

Hey mah.

Iya sayang.

Bima makan dulu, mungkin langsung tidur, jadi

Oke,

Kudengar bima makan di dapur. Lalu kembali lagi ke kamarnya. Langkahnya seperti orang yang bersalah. Sifat keibuanku pun muncul.

Tunggu bima. Kamu sakit nak?

Tidak mah.

Ia bohong. Aku tahu anakku bohong.

Sayang, ada apa? Apa kau terluka karena tadi malam?

Sedikit, tapi tak apa apa. Maafkan bima mah. Bima takkan mengulanginya. Bima sambungkan lagi selangnya dengan selotip mah.

Oh ya? Makasih sayang.

Ya. Met malam mah.

Met malam sayang.

Apapun yang terjadi, kubiarkan bima sendirian. Mungkin kontolnya memang sakit. Tentu tak bisa kulihat dan kuperiksa. Aku pun ke ranjangku. Senang akhirnya bima dan aku bicara kembali. Sepertinya kami bakal melupakan apa yang pernah terjadi. Atau, begitulah yang kukira hingga bima membangunkanku.

Mah?

Huh?

Kujawab. Lalu aku duduk dan melihat bima di pintu kamarku. Kututupi dadaku dengan selimut. Aku tak mau bima melihatku hanya baju dan cd saja. Bima hanya memakai celana pendek.

Mah, kurasa bima perlu ke rs.

Aku terkejut lalu bangkit duduk di ranjang. Selimutnya jatuh tapi tak kupedulikan bahkan jika putingku terlihat dari balik bajuku. Aku sibuk menatap tubuh bima, menduga apa yang terjadi. Bima membungkuk memegang pahanya.

Duduklah bima. Ada apa? Jangan-jangan vacum cleaner lagi?

Tidak, bukan itu.

Bima pun duduk di sudut ranjang.

Apakah k milikmu sakit lagi akibat semalam?

Kurasa ya. Rasanya punyaku dan bolanya sakit.

Maksudmu, kau juga memakusan bolamu ke vacuum cleaner?

Sudahlah mah, jangan ungkit vacuum cleaner lagi. Bawa saja bima ke rs.

Sayang, mama lagi gak punya uang. Mama tak bisa membawa bima ke UGD kalau tak darurat. Ada apa? Bilang pada mama sayang!

Tangannya sedang memegang bolanya. Dari celananya bisa kulihat tonjolan panjang. Aku tahu apa itu dan memekku terasa bergetar.

Bima tak mau membicarakannya. Bawa saja bima ke rs.

Kalau memang parah, akan mama bawa. Tapi jika hanya butuh obat dari apotek sih buat apa ke rs.

Baiklah. Sejujurnya, bima tak bisa keluar.

Bima tak bisa ejakulasi?

Ya.

Kenapa tidak?

Aku tahu anakku sering mastrubasi. Di kamarnya selalu berserakan tisu bekasnya. Tapi aku selalu pura-pura tak tahu. Yang jelas, anakku tak punya masalah ejakulasi. Bahkan dulu sodaraku juga masturbasi saat kami kecil. Jadi saat aku mulai tau anakku mastrubasi, aku selalu mengetuk pintu saat mau masuk kamarnya.

Dengar. Bima terlalu sering masturbasi.

Begitukah?

Bukannya bima tak normal. Hanya saja jika bima tak masturbasi sehari saja, maka bola bima terasa sakit. Makanya bima selalu masturbasi pagi hari sebelum sekolah. Kadang setelah sekolah juga kadang sebelum tidur.

Tiga kali sehari? Mama tak menyangka sesering itu.

Mama pasti pikir bima aneh.

Saat ini membawanya ke rs mungkin lebih baik daripada melanjutkan obrolan ini.

Tidak sayang. Mama rasa wajar bagi anak seumuruan kamu.

Oke.

Tapi, gimana kalau tak ejakulasi, apakah bolanya sangat sakit?

Maksudku adalah, pake saja baby oil atau lotion.

Bima tak tahu. Keseringan masturbasi membuat bima jadi susah ejakulasi. Makanya bima pake vacuum cleaner. Bima denger itu dari temen. Bima pikir bakal berguna.

Oh gitu. Sudah berapa lama bima susah untuk

Ejakulasi? Beberapa minggu.

Awalnya kenapa tuh? Apa karena cedera saat olah raga atau---?

Tidak. Bima dioral mah.

Aku tak tahu berapa lama aku terdiam.

Apa?

Oh. Seorang cewek mengoralku saat pesta di rumah temen.

Mama tak tahu kamu udah punya pacar.

Tidak mah. Aku bahkan tak kenal dia. Di pesta dia tanya apakah ada yang punya kontol panjang, sebab temannya punya film saat ngoral kontol panjang dan dia tak mau kalah. Jadi saat dia bilang, beberapa orang mengangkat tangan dan saat para pria membuka celana, aku yang menang.

Aku terkejut melihatnya. Masih abg sudah begitu? Bener-bener parah.

Maaf mah.

Tidak apa-apa. Lagian bima juga udah besar kok. Lalu kau apakan cewek itu?

Tidak di apa-apain mah, dia cuma mengoral saja.

Kutelan ludahku.

Oke.

Maaf mah.

Tak apa-apa. Mama cuma ingin tahu kenapa bima tak bisa .

Ejakulasi? Bima udah tahu pasti karena oral seks. Abisnya nikmat sih. Jadi bima terus memikirkannya. Masturbasi pun jadi tak terasa nikmat. Itulah kenapa bima mencoba vacuum cleaner.

Apa bima tak pernah dioral sebelumnya?

Pernah sih mah, tapi hanya dijilat saja. Itu pun cuma sebentar. Tapi yang kemarin, oralnya sampai bima keluar.

“Oh. Um, oke.”

Tapi sekarang bola bima rasanya sakit. Makanya bima ingin ke rs.

Bima pikir milik bima bermasalah karena vacuum, jadi bima gak bisa

Ejakulasi?

Ya, itu.

Mungkin. Yang bima tahu sekarang bima tak bisa keluar meskipun udah masturbasi.

Sayang, mama tak tau apa yang akan dilakukan dokter. Mama pikir ini sih tak ada obatnya. Jika ada juga mungkin mama tak bisa membelinya.

Terus bima mesti ngapain ma?

Bima menatapku. Menunggu jawaban, terlihat kesakitan. Kurasakan sebuah dilema. Aku bisa menyuruhnya tidur atau aku bisa membantunya ejakulasi. Sisi keibuanku mengatakan betapa salahnya pilihan yang kedua. Tapi sisi kewanitaanku ingin melihat kontol anakku lagi, memegangnya dan melihat pria seutuhnya.

Gimana kalokalo mama bantu bima ehm? Oke?

Apa mah?

Maksud mama, jika mama, mama lakukan itu. Apa bima mengerti?

Bima gak ngerti ma.

“Okay, um…”

Wajahku memerah hingga pipiku terasa sakit.

Bima. Karena bima sakit, jika bima mau, mama bisa, tau kan

Aku mendesah. Jika aku tak bisa mengatakannya, aku takkan pernah melakukannya.

Mama akan mengusap kontolmu hingga ejakulasi.

Sekarang nampaknya bima yang tak bisa berkata-kata. Bahkan rasa sakit hilang dari wajahnya.

Serius mah? Dan apa mama barusan bilang kontol?

Mama hanya ingin membantu. Mama lihat kamu kesakitan jadi mama ingin menyembuhkanmu.

Bima tak percaya mama mau lakukan itu. Bukankah, em itu salah?

Tentu saja ini salah. Bahkan mama tak senang. Tapi mama tak sanggup memabwamu ku rs. Jadi mama cuma bisa ini. Kalau bima gak mau, tidurkan saja. Tapi mama takkan bawa bima ke rs.

Tapu, uh, masturbasi tak ada gunanya mah.

Mama yakin akan lebih baik jika mama yang melakukanya. Mama juga pernah melakukannya.

Mama tau caranya?

Ya. Sekarang, berdiri. Mama tak punya banyak waktu.

Aku gugup sekaligus terangsang. Ini salah, tapi kuyakinkan diri bahwa ini agar anakku tak kesakitan. Lebih daripada itu tidak. Tapi tentunya sulit bertahan pada logika saat anakku berdiri di sudut ranjang dengan celananya dipelorotkan. Kontolnya yang panjang menegang di udara diiringin bayangan panjang di dinding.

Batangnya masih merah akibat semalam, tapi sungguh terlihat indah, keras dan berurat. Memekku terasa basah ingin dimasuki kontol yang sudah lama tak didapat. Melihat kontol anakku beda lagi, apalagi memegangnya. Tapi ngwee anakku, takkan pernah terjadi. Dan sekarang, mengocok kontol anakku, hanya terjadi sekarang dan takkan terulang kembali.

Oke, baiklah, um, gimana biasanya bima masturbasi, pake pelumas atau tidak?

Kucoba menenangkan diri saat benda besar ini ada di hadapanku.

Kebanyakan tanpa pelumas, sejak mama selalu marah kalau kuambil lotion mama.

Oh, jadi kamu mengambilnya buat itu. Mulai sekarang ambil saja semaumu.

Kubawa botol lotion dan ku tumpahkan ke tanganku.

Bahkan ambil saja botol ini kalau udah selesai. Siap?

Ya.

Nafasnya memberat. Mungkin ia sama gugupnya denganku.

Baiklah, mama pegang kontolmu sekarang.

Oke.

Kucengkram batangnya. Keras seperti besi. Tak bisa kubayangkan seandainya batang sebesar ini memperkosaku. Telapak tanganku menyusuri batang kontolnya menyebarkan lotion. Erangan bima menyadarkanku.

Merasa baikan?

Ya.

Ini cuma sekali, sekarang saja.

Kuingatkan bima dan diriku sendiri. Aku menyukai memegang kontolnya. Tapi aku janji, takkan mengulangi lagi.

Uh huh

Bima melihat tanganku memainkan batangnya. Lotionnya mongering. Kuambil lagi botolnya dan kukucurkan pada tanganku. Kusebarkan ke ujung kontolnya lalu kututup tanganku.

Mama rasa temanmu cemburu padamu.

Bisa jadi.

Anakku menutup mata sambil menikmatinya. Kutarik pangkal batangnya hingga anakku keenakan.

Ewe

Mama tak suka bima berkata kasar.

Maaf ma.

“Mmmhmm.”

“Sh… mama sungguh pintar.”

Kupercepat aksiku. Kucengkram kontolnya dari atas hingga ke pangkalnya.

Apa bima pikir mamamu punya kehidupan seksual saat muda?

Bima menunduk melihat tanganku.

Kurasa bima takkan bisa menebaknya.

Lagian mama telah mengandungmu saat 19 tahun.

Kuganti tanganku saat lenganku mulai lelah.

Di sekolah tangan mama terkenal lho.

Bima rasa mama disukai banyak pria. Apa mama ngewe banyak pria dulu?

Kuremas kuat-kuat kontolnya karena bertanya seperti itu.

Tidak. Mama hanya tidur dengan ayahmu. Sebelumnya mama hanya punya beberapa pacar dan hanya melakukan dengan tangan.

Kalau mengoral?

Itu bukan urusanmu.

Kutekuk kontol bima agar ia tahu aku tak suka obrolannya. Ia mengerang lagi.

Hanya penasaran. Tapi benar gak?

Benar apa?

Mengoral kontol.

Kupelototi bima, kutekan helm kontolnya, kumasukan jempolku.

Yang sopan kalau ngomong..

Ayolah mah, mama kan meremas kontol bima. Bima hanya ingin tahu buat khayalan.

Aku malu mendengarnya. Ya. Kontolnya diremas ibunya. Ini membuaku malu.

Mama belajar mengoral saat mengadung dirimu. Mama tak nyaman tidur dengan ayahmu saat hamil, jadi mama gunakan mulut mama.

Apa mama menyukainya?

Sekarang bima bener-bener tak perlu tahu.

Bima menyeringai.

Berarti ya.

Kocokanku kubuat mantap sedang memekku makin basah melihat kontolnya. Meski dilumasi lotion, aku ingin menjilat dan menghisapnya, memenuhi mulutku, merasakan spermanya. Berpikir aku takkan pernah mendapatkannya sungguh membuat frustasi. Rasanya aku perlu mencari pacar lagi. Aku menengadah, menatapnya.

Hampir keluar?

Tidak, belum.

Aku sedikit terkejut. Dulu tanganku biasa membuat ayahnya keluar hanya dalam waktu yang cepat. Tapi sekarang tanganku malah pegal kembali. Kuganti lagi tanganku.

Bima pasti susah keluar ya. Oh anakku sayang.

Rasanya sungguh nikmat.

Aku mulai memainkan helmnya. Bima mengerang kenikmatan. Pasti bentar lagi ejakulasi. Dan lebih cepat dia keluar, lebih cepat lagi kumainkan memekku. Semalam aku tak melakukan apa-apa. Tapi malam ini mama butuh masturbasi.

Udah siap sayang?

Huh? Belum, belum ma.

Kulirik anakku.

Berapa lama biasanya bima masturbasi?

Entahlah, setengah jam atau sejam.

Oh tuhan

Kutatap lagi kontolnya. Aku hanya bisa membayangkan ditumbuk benda ini di memekku yang sempit. Aku harus menyuruhnya berhenti. Apakah anakku menipuku?

Mama tak melakukan kesalahan kan?

Tidak. Hanya memang lama keluarnya.

Oke, tapi mama udah ngantuk nih.

Memekku juga sudah sangat terangsang.

Gimana caranya agar cepat keluar?

Ia menunduk melihatku untuk beberapa saat.

Maukah mama, uh membuka baju mama?

Aku terkesiap. Aku terkejut dia mengatakan itu. Awalnya aku mengandalkan keahlianku, kukatakan pada diriku ini hanya agar anakku tak kesakitan, tapi bahkan bisa membuatku terangsang. Tapi saat mendengar kata-kata anakku, kupikir dia telah melangkah terlalu jauh. Kuhentikan kocokanku.

BIMA, aku ini mamamu!

Maaf ma, kan mama yang minta. Tolong jangan berhenti ma.

Tangnnya memegang tanganku dan membimbingnya kembali ke kontolnya. Cepat tarik tanganku.

Tidak, jangan meminta itu pada mama.

Santai saja. Bima pikir tak perlu dibesarkan. Bima juga telanjang.

Tapi beda. Ada apa denganmu?

Bima kira jika liat mama telanjang, bima bisa keluar lebih cepat, seperti rangsangan visual. Ayolah ma, jangan berhenti. Bola bima makin sakit nih.

Anakku mengambil tanganku lagi dan meletakannya di kontolnya. Lalu ia tekan tanganku agar mengocoknya. Kasihan anakku. Ia sungguh ingin ejakulasi. Idenya memang masuk akal, tapi membiarkannya melihatku telanjang sungguh membuat tak nyaman. Sebagian karena memekku sudah basah dan anakku pasti tahu dan sebagian karena aku tak yakin aku bisa bertahan dan tak meminanya meniduriku.

Takan mama biarkan bima liat kepunyaan mama

Kalau gitu, bolehkan bima lihat susu mama?

BIMA!

Apa? Bima tak berkata kasar.

Itu juga tetap tak boleh.

Tapi mama mengocok kontolku!

Mama hanya menolongmu agar tak kesakitan.

Aku marah, kupelintir kontolnya dengan tanganku, menyentakkanya. Tapi rupanya dia tak merasa terganggu. Bima malah memohon.

Tolonglah ma. Bima pasti cepat keluar.

Bima, susu mama kecil. Takkan terlalu membantu.

Tapi bima suka ma. Bima suka melihat mama dibaju tanpa bh hingga puting mama kelihatang.

BIMA.

Aku mencoba marah tapi ucapannya membuat putingku makin keras. Aku tahu anakku melihatnya dari balik bajuku.

Jika mama tak ingin diperhatikan, pakai saja bh.

Percuma. Ukuran bh mama A.

Jika mama tak pake bh, tentu orang-orang memperhatikan. Apalagi aku.

Kulihat kontolnya sesaat kukocokan tanganku. Lotionnya makin mengering. Harus kutambahkan lagi dan tanganku juga mulai pegal. Kurasa biarlah anakku melihat susuku. Mungkin aku juga menyukainya.

Baiklah, mama buka baju mama. Tapi jangan menyentuhnya.

Oke.

Kulepaskan tanganku dari kontolnya. Kupegang bagian bawah bajuku dan melepaskannya. Anakku menjilat bibirnya. Putingku sudah sangat keras hingga terasa sakit, sepertinya mereka ingin perhatian. Aku sangat ingin disentuh.

Senang sekarang?

Yah.

Tangannya maju mendekati dadaku. Aku mencoba mundur, tapi dalam sekejap tangannya telah meraba susuku. Putingku terselip diantara jempol dan telunjuknya.

Bima. Mama bilang jangan menyentuhnya.

Ayolah ma. Bima pingin keluar.

Anakku mengambil tanganku dan mengembalikan ke kontolnya. Sementara jari-jarinya mulai memutar putingku. Memekku makin basah, tapi anakku tak boleh tahu.

Kamu memang nakal.

Aku marah, mencoba agar tak mengerang tapi aku menggeliat. Aku mulai menggesekan memekku ke ranjang. Kutahan agar tanganku tak memegang memekku dan memainkannya. Lalu kualihkan fokusku ke kontolnya. Kupegang dengan dua tangan agar cepat keluar. Aku seperti tertantang. Keluarlah sialan!

Oh, mama bima sampai ma

Ya. Aku menang, bima makin meremas pentilku. Sedangkan aku sibuk memperhatikan kontol di depanku wajahku. Betapa ingin kumasukan ke mulutku dan merasakannya, tapi dia anakku, bahkan ini juga sudah terlalu jauh. Lalu muncratlah.

Semburan pertama mengenai mataku. Aku mengerlingkan mata dan kubuka mulutku. Semburan berikutnya mengalir ke mulutku. Aku menyukainya. Kutelan langsung sementara semburan lainnya mengenai wajahku. Mataku masih tertutup tapi kudengar anakku mengerang merasakan ejakulasinya. Spermanya muncrat ke dagu, leher dan dadaku.

Sudah baikan sekarang?

Ya. Maaf bima memuncratkannya di tubuh mama.

Gak apa-apa sayang.

Kuberi remasan terkakhir sebelum kontol anakku kulepaskan. Memekku rasanya terbakar dan kontol itu masih agak tegak. Pasti masih nikmat rasanya.

Udah gak sakit lagi kan?

Ya. Akhirnya. Bima gak bermaksud keluar di mulum mama seperti tadi.

Anankku menunduk melihatku. Kuseka daguku.

Mama mesti cuci muka. Tak pernah terpikirkan mama bakal menelan sperma anak sendiri. Tapi yang penting kau sudah sembuh.

Terimakasih atas semuanya ma. Mama memang yang terbaik.

Ya, sama-sama. Sekarang tidurlah. Mama sudah capek.

Oke mah, selamat malam.

Malam juga sayang.

Begitu pintu kamar ditutup bima, langsung kubuka cdku dan berbaring. Kumasukan jari ke memekku dan aku mengerang pelan. Akhirnya. Tangan lainnya kumainkan di susuku yang lengket dan basah oleh sperma anakku. Kujilat juga tanganku yang belepotan sperma.

Oh nikmat

Kuhisap jariku yang liat dan lengket oleh sperma seolah itu adalah kontol anakku. Tangan lainnya tetap bermain di memekku, memainkan klitorisku juga. Kugigit jariku pelan agar tak terlalu keras mengerang. Tak butuh waktu lama, aku langsung orgasme hingga membuatku lemas. Oh tuhan, aku sungguh butuh seks, seks yang sebenenarnya.

© 2022 - CeritaSeru.xyz