November 02, 2020
Penulis — kurawa100

Ibu Tiri yang Erotis

Ibu Tiri Yang Erotis

Pagi itu tanpa sengaja pandanganku tertumbuk ke sebuah flashdisk berwarna merah yang tergeletak di dekat pintu depan. Iseng kuambil dengan yakin bahwa flashdisk itu bukan milik suamiku, karena flashdisk punya suamiku selalu yang berwarna hitam.

Lalu punya siapa flashdisk ini? Apa isinya?

Rasa penasaran menjalar. Lalu kubawa flashdisk itu ke dalam kamarku. Kuaktifkan laptopku sambil memasukkan flasdisk itu ke USB.

Ternyata flashdisk itu punya Tito, anak tiriku yang sekarang sedang sekolah. Tadinya kusangka flashdisk itu berisi hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan ujian, karena ia sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Ternyata bukan. Isinya beberapa video dewasa! Aaah, apakah Tito sudah layak menyimpan video-video sepanas ini?

Tiba-tiba perhatianku tertuju ke folder yang berjudul Mami. Apa isinya? Bukankah aku yang biasa dipanggil mami olehnya? Apakah folder itu berisi sesuatu yang menyangkut diriku?

Dengan penasaran kubuka folder itu. Ternyata isinya tulisan mengenai diriku! Jujur, aku berdebar-debar membacanya :

Sejak ibu kandungku tiada, Mami hadir dalam kehidupan Papi. Waktu Papi menikah dengan Mami, umurku baru 7 tahun. Aku senang-senang saja punya ibu tiri yang harus kupanggil Mami itu. Terlebih setelah bertahun-tahun ia menjadi pengganti ibuku, aku merasa benar-benar mendapat pengganti ibu kandungku, yang menyayangi diriku, yang selalu memperlakukanku dengan lemah-lembut dan sebagainya.

Setahuku, pada waktu Mami resmi menjadi istri Papi, usianya baru 20 tahun. Sedangkan Papi sudah 40 tahun. Perbedaan usia yang sangat jauh. Tapi kelihatannya mereka enjoy-enjoy saja. Dalam hal itu aku salut juga pada Papi, karena beliau mampu mendapatkan seorang gadis yang masih belia untuk dijadikan istrinya.

Waktu aku masih kecil, sosok Mami tak pernah kuperhatikan secara khusus. Aku cuma tahu bahwa ia seorang ibu tiri yang baik, yang memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.

Tapi setelah aku di SMA, diam-diam aku mulai sering memperhatikan ibu tiriku itu. Bahwa ia seorang wanita muda yang cantik, bertubuh tinggi semampai, berkulit putih bersih (untuk ukuran orang Indonesia).

Panjang lebar ia memujiku dalam tulisan itu. Tapi yang membuatku terlongong, ketika kubaca kalimat berikut ini:

Pagi itu aku mau minta uang kepada Mami, untuk keperluan sekolah. Memang Papi sudah menyuruhku agar segala keperluanku harus meminta kepada Mami, supaya hatinya enak, katanya.

Papi sudah berangkat kerja. Mami masih di kamarnya. Seperti biasa, kubuka saja pintu kamar Mami, lalu masuk ke dalam. Tapi apa yang kulihat? Oooohaku benar-benar dibuat terkejut lalu terpanakarena Mami masih tidur terlentang di tempat tidurnya, dengan kimono terbuka lebar. sehingga sepasang kakinya yang putih mulus itu tak tertutup apa-apa.

Maka bagian yang berbulu lebat hitam itu tampak jelas di mataku!

Aku tak tahu apakah Mami terbiasa tidur tanpa celana dalam atau tengah malam dia buang air dan malas mengenakan kembali celana dalamnya, entahlah. Yang jelas aku jadi gemetaran dan buru-buru keluar lagi dari kamar Mami, dengan perasaan yang tak menentu.

Gilanyasetelah berada di dalam kamarku lagi, jiwaku jadi dikuasai hasrat yang tak terkendalikan. Penisku ngaceng beratmembayangkan indahnya kalau aku bisa menyentuh dan menggeluti bagian tubuh di antara kedua pangkal paha Mami yang tampak sangat merangsang itu. Oooohkenapa aku jadi begini?

Banyak lagi yang ia tulis di catatan rahasia ini. Kesimpulannya, ia jadi sering membayangkan diriku. Bahkan pada suatu malam ia pernah bermimpi didekati olehku dalam keadaan sama-sama telanjang. Lalu ia melakukan sesuatu yang sering dibayangkannya. Dan esoknya ia mendapati celananya basah, akibat mimpi itu.

Di catatan itu pun ia mengakui bahwa kalau lamunan tentang diriku tak terkuasai lagi, ia melakukan masturbasi, sambil membayangkan tengah menggeluti tubuhku! Bahkan ia pernah melakukan onani berkali-kali dalam semalam, untuk meredakan khayalannya tentang diriku.

Semuanya itu membuatku jadi serba salah. Tadinya aku akan menegur Tito, karena kutemukan video porno di dalam flashdisknya itu. Tapi tulisan di flashdisk itu, yang berisi kekagumannya terhadap diriku, membuatku jadi kikuk. Maka kuambil keputusan untuk meletakkan kembali flashdisk itu di tempatnya semula, lalu aku akan bersikap pura-pura tidak tahu saja.

Namun di hari-hari berikutnya, aku mulai sering memperhatikan Tito secara diam-diam. Mulai memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Dan gilanya, aku mulai membayangkan serunya jika tubuhku digeluti oleh anak muda yang anak tiriku sendiri itu. Maklum, aku baru berusia 30 tahun, sementara suamiku sudah 50 tahun. Sesekali memang aku suka membayangkan sosok muda yang perkasa, yang tidak loyo seperti suamiku. Tapi sungguh, tadinya aku tak pernah membayangkan sosok muda itu anak tiriku sendiri.

Bang Martin (suamiku) tidak impoten. Tapi yah. potensi lelaki yang usianya sudah setengah abad, tentu beda dengan yang masih muda. Setiap kali berhubungan sex dengan suamiku, aku selalu tidak puas. Tapi aku tak pernah menggerutu ataupun memperlihatkan sikap tidak puas. Karena tenggang rasaku cukup kuat.

Karena di sisi lain, aku mempunyai kepuasan duniawi darinya. Apa pun yang kuinginkan, selalu dikabulkan. Bahkan kehidupan orang tuaku di kampung, sangat diperhatikan oleh suamiku. Rumah baru dibangunkan. Perabotan serba mahal dibelikan. Sehingga derajat orang tuaku jadi meningkat setelah aku menikah dengan Bang Martin.

Kehidupanku sendiri tak pernah kekurangan. Rumahku cukup megah, di daerah perumahan paling elit di kotaku. Mobil untuk keperluan pribadiku sudah dibelikan. Perhiasan yang mahal-mahal pun sudah menjadi milikku. Maka tiada alasan bagiku untuk tidak merasa puas menjadi istri Bang Martin.

Tapi kenapa sejak membaca file dari flashdisk Tito, pikiranku jadi sering melayang-layang tak menentu? Kenapa aku jadi sering memperhatikan gerak-gerik Tito secara diam-diam?

Hari demi hari berlalu dengan pesatnya. Tanpa terasa sebulan telah berlalu. Dan kesempatan yang diam-diam kutunggu pun tiba.

Bang Martin terbang ke Kaltim, untuk mengurus bisnisnya. Biasanya dia bisa lebih dari sebulan berada di Kaltim. Kali ini pun rencananya 40 hari dia akan berada di sana.

Rasanya aku tak sabar lagi menunggu kesempatan ini.

Lalu kuputar otakku. Kuputar sampai soresampai Tito tampak sudah pulang dari sekolahnya.

Aku pun keluar dari kamarku. Menghampiri pintu kamar Tito. Tadinya aku cuma mau mengajak makan di luar padanya. Tapi ketika kubuka pintu kamarnya, o my Goddia baru menanggalkan seluruh seragam sekolahnya, mau mengganti dengan pakaian rumahdanaku benar-benar terkejut ketika melihat bagian tubuh anak tiriku yang di bawah perutnya itu.

Mungkinkah abg berusia 17 tahun bisa memiliki penis sepanjang dan sebesar itu? Jauh lebih tinggi tegap daripada punya ayahnya! Tapi cepat aku ingat cerita suamiku, bahwa mendiang ibu kandung Tito itu wanita Pakistan. Mungkin anatomi Tito banyak menuruni garis ibunya. Sementara suamiku asli Indonesia, maka penisnya pun biasa-biasa saja.

Kita makan di luar aja yuk, kataku pada Tito yang tampak kaget dan cepat-cepat menutupi kemaluannya dengan kedua tangannya.

Iiya Mam sahutnya tergagap. Dan aku bersikap seolah tak melihat sesuatu yang aneh.

Beberapa saat kemudian aku dan anak tiriku sudah berada di dalam mobil yang melesat ke arah utara. Sengaja kubiarkan Tito yang nyetir mobilku. Karena sekarang ia sudah punya SIM. Dan cara nyetirnya sudah cukup halus.

Papi ngasih duit gak? tanyaku ketika sedanku sudah berada di Jalan Setiabudhi.

Enggak Mam, sahut Tito, Papi bilang kalau ada kebutuhan minta sama Mami aja.

Iya, aku mengangguk-angguk kecil. Sementara ingatanku melayang pada yang kulihat sekilas tadi. Sebentuk penis remaja yang terkulai lemas tapi panjang dan gede banget. Gak kebayang seperti apa kalau penis anak tiriku itu sudah tegang. hmmmgila, diam-diam aku jadi horny nih.

Tito membelokkan mobil ke pekarangan restoran langgananku. Di sini kan makannya Mam? tanyanya sebelum mematikan mesin mobilku.

Iya. Kamu juga udah lapar kan?

Hehee. iya Mam. Kan pulang sekolah tadi belum makan.

Lalu kami melangkah memasuki restoran itu.

Pada saat menunggu makanan pesanan datang, aku tatap wajah Tito. Emang tampan wajah anak tiriku itu. Maklum darah campuran dengan Pakistan. Tubuhnya tinggi semampai, hidungnya mancung, matanya bundar dan kulitnya sawo matang.

Udah lama gak ke Ciater, kataku, Nanti pulangnya ke sana yuk.

Iya Mam, Tito mengangguk dengan senyum ceria, Aku paling seneng berendem di Ciater.

Tapi ini sudah sorepulangnya pasti malem nanti.

Di Ciater kan rame terus duapuluhempat jam Mam. Makin malam makin rame, sampe subuh masih aja banyak orang yang datang. Tapi.

Kenapa?

Kita gak bawa handuk dan sabun Mam.

Beli aja di sini. Kan di samping restoran ini ada minimart tuh

Oh, iyaiya Mam. Sekarang aja belinya Mam, sambil nunggu pesanan kita datang.

Iya, aku mengangguk sambil mengeluarkan ATMku, Pake debit aja. Beli handuk dua, sabun cair dan shampoo yang biasa mami pakai ya. Nomor pinnya 3050.

Iya Mam.

Ohya, sekalian beli buat cemilan juga To.

Iya, Tito berdiri dan bergegas keluar dari restoran.

Diam-diam kubuka tas kecilku. Kuambil sebutir pil kontrasepsi dan kutelan, didorong oleh air teh yang sudah terhidang di mejaku.

Setengah jam kemudian kami sudah meninggalkan restoran itu. Dan bergerak menuju Lembang, kemudian menuju pemandian air panas mineral Ciater. Udara sudah gelap ketika kami tiba di Ciater. Waktu pintu mobil kubuka, hiii. hawa dingin menyerbu ke dalam mobilku. Dingin sekali.

Mami bawa baju renang? tanya Tito setelah mematikan mesin mobil dan mengeluarkan kantong plastik berisi peralatan mandi yang dibeli tadi.

Nggak, sahutku, Berendam di kamar mandi aja.

Iya, Mam. Di kamar mandi jauh lebih bersih, karena gak nyampur sama orang-orang.

Tapi temanin mami nanti ya. Takut mandi sendirian udah gelap gini.

Tito menatapku sesaat, lalu mengangguk dan menunduk. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tapi aku yakin dia takkan menyangka bahwa semuanya ini sudah kurencanakan sejak di rumah tadi.

Kamar mandinya mau pakai dua apa satu aja Mam? tanya Tito waktu mau beli tiket kamar mandi.

Satu aja, sahutku, Kan kamu harus nemanin mami

Waktu menuju ke deretan kamar mandi, kulihat di kolam renang banyak yang sedang berendam air panas. Tapi tidak sebanyak di hari-hari weekend. Dengan sendirinya kamar mandi pun banyak yang kosong.

Aku dan Tito masuk ke dalam kamar mandi yang terlihat paling bersih. Tito langsung mengalirkan air panas ke bak mandi yang cukup lebar dan dalam itu, sementara aku mengeluarkan peralatan mandi dari kantong plastik.

Kutanggalkan celana panjang dan baju kausku, sehingga tinggal celana dalam dan beha yang masih melekat di tubuhku. Lalu duduk di bibir bak yang sudah terisi air panas mineral hampir setengahnya.

Lhokamu mau berendam dengan pakaian lengkap gitu? Buka dong semuanya, kataku pada Tito yang tampak salah tingkah, mungkin karena melihat diriku yang tinggal mengenakan beha dan CD doang.

Iiya Mam sahutnya tergagap sambil menanggalkan celana jeans dan baju kausnya, kemudian menggantungkannya di kapstok, berdampingan dengan pakaianku.

Pada saat yang sama aku pun menanggalkan beha dan celana dalamku, kemudian masuk ke dalam bak, duduk sambil melonjorkan kakiku.

Ayo masuk sinibuka dulu celana dalamnya, biar jangan kebasahan, kataku.

Tito menoleh dan tampak kaget ketika melihatku sudah bertelanjang bulat. Lalu tampak ragu waktu mau menanggalkan celana dalamnya.

Ayolah. cepetan buka celananya, kataku lagi, Di dalam kamar mandi kan gak boleh lama-lama, karena uap belerangnya bisa bikin sesak napas.

Iiya Mam, Tito membelakangiku sambil menurunkan celana dalamnya. Kemudian melangkah ke arah bak sambil menutupi kemaluannya dengan kedua tangannya. Dan aku pura-pura tidak memperhatikannya.

Lalu ia duduk bersandar ke dinding di sampingku. Genangan air panas sudah mencapai dadaku. Tapi beningnya air membuat sekujur tubuhku tampak jelas. Termasuk kemaluanku yang berbulu lebat ini (karena suamiku melarang mencukurnya).

Tapi Tito tetap menutupi penisnya dengan kedua tangannya. Dan sepertinya tidak berani memandang ke arah kemaluanku.

Kalau sudah rendaman di sini enak yabadan kita seperti abis dipijitin, kataku sambil meraih sabun cair dari bibir bak. Lalu kuelus-eluskan ke sekujur tubuhku, sehingga air panas ini mulai dipenuhi busa sabun.

Iya Mam sahut Tito hampir tak terdengar.

Untuk mengusir kecanggungan Tito, aku duduk membelakangi Tito sambil berkata, Sabuni punggung mami, To.

Iya Mam suara anak tiriku makin tersendat, seperti sedang menahan napas. Lalu kurasakan telapak tangannya mengeluskan sabun cair ke punggungku. Kubiarkan agak lama ia menyabuni punggungku.

Punggung Mami mulus gak To? tanyaku pada satu saat.

Mumumulus sekali, Mam sahutnya tersendat-sendat.

Kuambil gayung plastik dan kusirami punggungku dengan air panas. Lalu aku berdiri, tetap membelakangi Tito. Paha dan kakinya juga To. Nanti gantiansetelah mami, nanti giliran kamu yang akan mami sabuni, kataku.

Tito tetap duduk sambil melakukan perintahku. Mulai menyabuni paha bagian belakangku. Meski gemetaran tangannya terasa enak menggosok-gosokkan sabun dari lipatan lutut sampai pangkal pahaku.

Sengaja kurenggangkansepasang pahaku, agar ia bisa leluasa memandang bagian yang di antara kedua pangkal pahaku.

Jangan ragu-ragu gitu Tosabuni semua yang bisa kamu sabuni, kataku.

Yayaya Mam. sahutnya dengan suara napas yang tersengal-sengal.

Sekarang tangan kirinya terasa memegang paha kiriku, sementara tangan kanannya mulai menyabuni selangkanganku, sementara bunyi napasnya semakin terengah-engah, seperti orang yang habis lari marathon.

Dan aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat ini. Lalu aku membalikmenghadap ke arah Tito yang tampak kaget, terbelalak memandang kemaluanku yang sekarang tepat berada di depan matanya.

Sabuni ininya juga, To kataku sambil menunjuk ke arah kemaluanku.

Dengan takut-takut Tito menyabuni kemaluanku. Dan tahukah dia bahwa sejak tadi mataku tertuju ke arah penisnya yang dahsyat itu?

Kucurahkan sabun cair ke telapak tanganku, lalu kueluskan ke penis Tito yang panjang gede ini. Dia agak terkejut. Tapi lalu terdiam salah tingkah ketika aku mulai menyabuni batang kemaluannya, tentu saja dengan cara yang terarahseperti sedang mengocoknya.

Mamoooh Tito terpejam.

Kenapa? Kamu sudah lama ingin menyentuh kemaluan mami kan? Sentuhlah kenapa jadi berhenti? Mami gak marah kok

OhMami baik sekali tangan Tito mulai menggerayangi kemaluanku. Tangannya terasa semakin gemetaran. Sementara aku sendiri mulai asyik mempermainkan penis anak tiriku yang makin lama makin membesar dan menegang ini.

Kemaluanku jadi penuh dengan busa sabun. Batang kemaluan Tito juga. Dan Tito diam saja ketika batang kemaluannya kutarik, lalu kuelus-eluskan ke belahan vaginaku. Wahaku sudah benar-benar horny. Dan tak peduli lagi penis siapa yang sedang kuelus-eluskan ke celah vaginaku ini.

Punyamu udah tegang gini, To kataku sambil membayangkan nikmatnya kalau penis Tito mengenjot liang kemaluanku, Kamu sudah pernah main sama cewek?

Mamain gimana, Mam? Tito tampak ragu menatapku.

Bersetubuhpernah?

Belum Mam.

Masa?

Berani sumpah, belum pernah Mam…

Tapi ngocok sih suka kan?

Iiya Mam. kok Mami bisa tau?!

Tau lah. Mami juga tau kamu pernah lihat kemaluan mami waktu mami masih tidur kan? Ngaku aja terus terang. mami gak marah kok.

Iiyatapi itu gak sengaja Mam.

Aku tersenyum. Kukecup pipinya, lalu berbisik, Ya udahgak apa-apa. Sejak saat itu kamu mikirin mami terus kan? Jujur aja jawab. Mami suka anak yang jujur.

Iya Mam, Tito menunduk, Mami cantik sekali. akuaku sering membayangkan mami.

Tapi kita gak boleh berlama-lama di kamar mandi ini. Nanti habis napas kita. Mending pulang aja yuk. Nanti kita lanjutkan di rumah aja. Tapi harus hati-hatijangan sampai ketahuan sama pembantu-pembantu.

Iya Mamtapi.

Kenapa?

Di sini kan ada hotel.

Oh, iya ya. kamu udah gak sabar ya?

Tito cuma nyengir malu-malu.

Ya udah, kita cek in di hotel sini aja.

Kubilas tubuhku dengan air panas, lalu kulap dengan handuk. Dan kukenakan lagi pakaianku. Tito juga melakukan hal yang sama.

Beberapa menit kemudian aku dan Tito sudah berada di kamar hotel yang masih berada di dalam kompleks pemandian air panas itu juga.

Setelah menguncikan pintu kamar hotel, kupeluk pinggang Tito sambil berkata perlahan, Kamu gak nyangka semuanya ini bakal terjadi kan?

Iya Mam, Tito membalas dengan pelukan di pinggangku, Rasanya seperti mimpi

Kamu udah punya pacar? tanyaku sambil mengecup pipinya.

Belum Mam.

Kenapa? Biasanya anak SMA sekarang kelas satu juga udah punya pacar.

Akuaku…

Kenapa? Kok seperti takut-takut gitu ngomongnya?

Aku telanjur mengagumi Mamijadi gak ada semangat buat deketin cewek di sekolah, Mam kata Tito bergetar.

Sambil tersenyum aku membisiki telinga Tito, Malam ini mami akan menjadi milikmu. Kamu boleh melakukan apa saja pada mami. Tapi ingatini rahasia kita berdua ya.

Iya Mam. Aku janji akan merahasiakan semua ini.

Aku tersenyum, lalu melepaskan baju kaus dan celana panjangku. Tito memandangku dengan sorot yang jauh beda daripada biasanya. Aku tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Lepasin dong pakaianmu, kataku sambil duduk di pinggir tempat tidur.

Iya Mam, Tito mengangguk, lalu menanggalkan celana jeans dan t-shirtnya. Tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhnya, sementara aku pun sudah menanggalkan behaku.

Pandanganku tertumbuk ke arah celana dalam Tito. Tampak jelas, ada tonjolan, ada yang mendorong dari balik celana dalam anak tiriku itu.

Dengan perasaan semakin dikuasai nafsu, kutarik pergelangan tangan Tito, lalu kupeluk lehernya sambil berkata, Kalau mami kasih apa yang selama ini selalu kamu bayangkan, apa yang pertama kali ingin kamu lakukan pada mami?

Kalau aku berterus terang, Mami marah gak? Tito balik bertanya dengan suara agak tertahan.

Nggak. aku menggeleng, Apa yang sangat ingin kamu lakukan pertama kalinya?

Akuaku ingin menciumi bibir Mamimenciumi leher Mamimenciumi payudara Mami.

Cuma itu?

Aku juga inginingin menciumi dan menjilati kemaluan Mami

Seperti di video yang sering kamu lihat?

Iiya Mam. tapiMami gak marah kan?

Nggak, aku menggeleng lagi. Lalu mengecup bibir Tito dengan sepenuh gairah. Dan kataku, Mami sayang kamu. karena itu semuanya akan mami kasihtapi mami minta semangat belajarmu harus meningkat, jangan sebaliknya, ya.

Iiya Mamaku juga sayang Mami. kata Tito tergagap, karena aku mulai menyelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dan terasa batang kemaluannya yang dahsyat ini sudah tegang sekali. Membuatku makin dikuasai nafsu. Lalu aku tarik pinggang Tito dan meraihnya ke atas tempat tidur, sementara tanganku tetap memegang penis tegang dan hangat ini.

Supaya leluasa, kutanggalkan celana dalamku, kemudian kusuruh Tito pun melepaskan celana dalamnya.

Dalam keadaan sudah sama-sama telanjang bulat ini, tiada lagi rahasia di antara fisik kami. Lalu aku merebahkan diri, menelentang sambil tersenyum kepada anak tiriku yang tampak masih sangat canggung itu. Dan kuraih badannya ke atas dadaku sambil berkata, Ayolah… katanya ingin mencium bibir mami.

Tito yang sudah telungkup di atas dadaku spontan menjawab dengan tindakan. Dengan ganas ia mencium bibirku dan kusambut dengan lumatan dan pelukan bergairah.

Dan penis Tito yang sudah tegang itu terasa menempel ke kemaluanku. Ini membuatku bergairah untuk memegangnya. Aah… benar-benar dahsyat batang kemaluan anak tiriku ini. Membuat napsuku makin menggila. Rasanya ini penis yang sangat aduhai. Panjang besar, ereksinya pun sempurna. Benar-benar keras, tidak seperti penis ayahnya.

Dan aku tak sabar lagi. Aku ingin segera menikmati gesekan penis yang sempurna ereksinya ini.

Maka diam-diam kutarik penis Tito, sampai agak membenam ke liang vaginaku yang sudah membasah ini. Lalu kataku, Kalau mau ngemut vegy mami nanti aja di rumah ya. Supaya kamu bisa sepuasnya menjilati vegy mami. Sekarang dorong aja penisnya To… biar masuk…

I… iya Mam… sahut Tito dengan napas memburu. Lalu terasa batang kemaluan aduhai itu mendesak kuat ke dalam liang vaginaku yang sudah licin oleh lendir birahiku ini.

Ooooh… sudah masuk sedikit To… iiiiyaaaa… dorong lagi… ooooh… desahku sambil memeluk leher anak tiriku. Benar-benar mantap… batang kemaluan yang sangat tegang dan gagah ini sudah masuk setengahnya. Membuat desir birahiku makin menggila. Bukan main rasanya… baru dibenamkan separuh saja sudah menimbulkan nikmat yang begini dahsyatnya…

Spontan saja pahaku membuka selebar-lebarnya, seolah mengucapkan selamat datang buat sebentuk penis perkasa yang siap memuasi hasrat birahiku.

Iya… ayun dikit-dikit… bisikku.

Ayun? Tito tampak bingung.

Iya… entotin dikit-dikit… nanti lama-lama juga masuk semua… bisikku sambil memeluk pinggang Tito.

I… iya Mam… sahutnya sambil melakukan perintahku. Awalnya seperti ragu-ragu menggerak-gerakkan penisnya. Tapi akhirnya ia mulai mengayun penisnya dengan benar. Maju mundur, maju mundur, maju mundur… dan makin lama penisnya makin dalam membenam ke dalam liang kemaluanku.

Disusul dengan suara Tito yang tersendat-sendat dan bergetar, Duuuh… Maaaam… duuuuuuh… enak banget Mam…

Kusambut dengan pelukan erat di pinggang Tito, dengan kecupan-kecupan penuh nafsu di pipinya, di bibirnya… aaah… tahukah dia bahwa sebenarnya aku pun tengah merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa saat ini?

Namun sayangnya, baru sebentar Tito mengayun penisnya, tiba-tiba ia menahan napasnya, lalu mendengus… dan terasa penisnya menyemprot-nyemprotkan cairan hangatnya. Aaah… dia sudah ejakulasi. Padahal aku belum apa-apa.

Tapi aku memakluminya. Yah, maklum ia belum berpengalaman. Dan mungkin tadi ia terlalu bernafsu, sehingga tak kuasa mengontrol diri lagi. Biarlah… aku yakin ia bisa dengan cepat dibangkitkan lagi.

© 2022 - CeritaSeru.xyz