November 01, 2020
Penulis — diono_cilik

Tidak Seperti yang Ku Bayangkan

Chapter 1 : Lawrence

Hari terasa terik dan kegiatan di dalam juga sangat membosankan. Setiap hari hanya tugas saja yang dikerjakan. Lelah tidak, pusing pun tak ada obatnya. Beberapa kali dicoba tak pernah menyenangkan rasanya. Terlebih, jika sepanjang bulan ini jarang hujan, rasanya ingin cepat pulang.

“Zim, nomor 5 Lo udah?” Aku menghampiri Arzima yang ada di bangku seberang. Aku mengalami kesulitan mengerjakan salah satu nomor.

“Oh, nih.” seraya memberikan bukunya

Sembari mengerjakan tugas, Ku lihat Zima sedang membaca – baca komik. Di sisinya Ku lihat ada beberapa DVD. Segera Ku ambil. “Wah, Lawrence of Arabia??”

“Hmm.” Ia hanya mengangguk.

“Ini kan keren Zim. Boleh pinjem gak?”

“Ada. Tapi ketinggalan CD-nya di rumah. Tadinya mau Gw pinjemin ke Sita. Dia juga pengen nonton. Jadinya, Gw kasih yang lain. Lo tahu juga?” masih membaca komik.

“Tahu lah. Ini kan cerita awal mula Arab jadi negara kan ya. Mantep. Boleh Zim gw kapan – kapan maen ke rumah Lo?”

“Lah, emangnya Lo gak punya DVD Player-nya apa?”

“Rusak. Lo kayaknya banyak koleksinya ya? Apa aja?”

“Ada The Godfather 1, 2, 3. Pulp Fiction, Reservoir Dog, Mulholand Drive, American Pie lengkap, The Bourne 1, 2, 3. Doraemon. Ya gitu lah.”

“Ooh. Keren kayaknya tuh.”

“Ntar aja klo mau ke rumah. Gak ada kegiatan kan Lo? Rumah Lo yang searah ke Utara kan?”

***​

“Siang Tante.” sembari diriku mencium tangan Ibunya Arzima.

“Oh, Dio ya?” dengan sedikit menurunkan kacamatanya, Ibunya Zima menyapa Ku. Ku lihat Ia sedang membaca majalah.

“Kok tahu Tante? Heranku.

“Iya, tadi Zima WA Tante. Katanya ada temennya mau main ke sini. Duh, jarang – jarang loh Zima kedatangan temennya.” jelasnya padaku.

“Mah, laper.” rintih Zima.

“Itu, Mamah sudah siapin makanan. Kalian makan dulu sana, tapi cuci tangan dulu ya.”

“Tante gak makan?” tawarku padanya.

“Sudah. Kalian makan sana.”

***​

Ku lihat sekeliling rumah Zima ternyata cukup luas di dalam. Dari luar sih terlihat kecil, ternyata dalamnya lumayan panjang. Beberapa foto terlihat di ruang tamu. Ku lihat ada foto Zima masih kecil bersama kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun, foto keluarga di ruang lain hanya menampilkan Zima dan kedua orang tuanya.

“Oi, mau nonton gak?” mukaku diciprati air oleh Zima.

“Nonton lah!”

Sepanjang film Aku hanya fokus menonton film. Film yang sudah lama ingin ditonton akhirnya tersampaikan. Beberapa kali Zima keluar kamar mengambil cemilan dan sesekali terdengar sedang berbicara dengan Ibunya. Setelah selesai Aku pun mengobrol dengannya.

“Gw liat, foto keluarga Lo beda yang di ruang makan sama di ruang tamu?”

“Gak ada Kakak gw ya? Udah gak ada Kakak gw. Tiga tahun lalu udah gak ada. Sakit.”

“Ooh (salah bertanya sepertinya).”

Zima menjelaskan tentang Kakaknya yang sudah tidak ada. Dia juga mengatakan jika Ayahnya bekerja di luar negeri, di Jerman. Sesekali Ayahnya pulang. Ayahnya sangat sibuk. Di sana kerja ya kerja, berlibur ya berlibur. Banyak kontrak yang harus diselesaikan. Sekalinya libur bisa satu bulan dan itu ya untuk pulang ke rumah.

Setelah setengah jam mengobrol, Aku berpamitan dengan Ibunya Zima.

“Mah, Dio mau pulang.”

Shit! Ibunya tadi terlihat biasa saja saat menyapaku di awal. Ku lihat Ibunya Zima sedang latihan senam di teras belakang sambil mendengarkan audio. Wanita paruh baya ini yang tadi dengan santainya memakai daster panjang, sekarang mengenakan tank top dan celana hot pants. Aku tak berani lama – lama menatap, segeraku cium tangannya dan berpamitan.

“Oh, hati – hati Dio ya. Sering – sering ke sini. Kasihan Zima gak ada temennya.”

“Apaan sih, Mah.” protes Zima.

“Balik gw ya Zim.” pamitku pada Zima.

© 2022 - CeritaSeru.xyz