November 01, 2020
Penulis — Antingmama

Perang Bosnia

Namaku Adam Hafizovic usiaku 18 tahun tinggi badan 182 cm dan berat 75 kg dan tinggal di Kota Sarajevo Bosnia. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Papaku bernama Asmir Hafizovic berusia 44 tahun tinggi badan 176 cm berat 72 kg adalah seorang tentara berpangkat Letnan Kolonel di Tentara Nasional Yugoslavia (JNA).

Mamaku bernama Zarifa Hafizovic bekerja membuka toko pakaian di Sarajevo berusia 40 tahun berwajah cantik dan berambut pirang dengan tinggi badan 174 cm, berat 70 kg, dan ukuran payudara 36D. Oh ya aku juga punya dua adik laki-laki dan perempuan yaitu Samir Hafizovic berusia 14 tahun dan Fatima Hafizovic berusia 10 tahun.

Adam Hafizovic

Zarifa Hafizovic

Dahulu negaraku dikenal dengan nama Yugoslavia, suatu negara Multietnis dan Multiagama di Tenggara daratan Eropa. Ya Yugoslaviaku dulu adalah negara yang makmur, terbuka dan kuat ditambah dengan kerukunan antar etnis yang terjalin cukup erat membuatku bangga sebagai Warga Negara Yugoslavia.

Di tahun 1991 terjadilah tragedi memilukan di negaraku. Satu-persatu negara bagian Yugoslavia mulai memisahkan diri. Sebenarnya gejala perpecahan sudah terlihat ketika pemimpin besar kami Josip Broz Tito meninggal di tahun 1980. Sepeninggal Tito, pemerintah pusat di Beograd yang didominasi etnis Serbia mulai berusaha mendominasi perpolitikan Yugoslavia secara egois, sehingga menimbulkan ketidakpuasan dari etnis-etnis lain seperti Slovenia, Kroasia, Muslim (Bosnia), Montenegro, Macedonia, Kosovo Albania dan berbagai etnis minoritas lainnya.

akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari Pemerintah Beograd.

Ya dimulai dari 1991, lautan api seakan menyelimuti negaraku. Kami yang tinggal di Bosnia pun merasa Yugoslavia sudah berubah dari yang dulu dan memutuskan untuk memisahkan diri dari Federasi. Melihat Bosnia ingin memerdekakan diri, Pemerintah Pusat Beograd meresponnya dengan mengirim tentara ke Bosnia untuk meredam pemberontakan.

Tentara Serbia mulai menyerang Bosnia di bulan April 1992. Ya mereka mengepung wilayah Bosnia dan mulai menebar teror kepada penduduk disini. Aku dan keluargaku pun merasa ketakutan dengan tindakan tentara Serbia yang begitu barbar nan brutal menghajar penduduk Bosnia. Karena merasa terpanggil, Papaku akhirnya memutuskan untuk desersi dari JNA dan bergabung dengan tentara Republik Bosnia Herzegovina untuk memperjuangkan kemerdekaan negara kami.

Semula Mamaku menentang keinginan Papa mengingat Tentara Serbia terkenal kejam nan bengis dalam membantai lawan-lawannya. Namun karena keinginan Papa sudah bulat maka Mama pun pasrah mengizinkannya dan mendoakan supaya Papa berhasil dan pulang dengan selamat. Semenjak itu Papa meninggalkan rumah dan bergabung bersama kawan-kawannya sesama mantan anggota JNA yang telah desersi.

Sepeninggal Papa, Mama tetap membuka tokonya untuk berusaha berjualan secara normal walaupun pada akhirnya Mama seringkali menutup toko lebih cepat karena takut dengan Tentara Serbia. Setelah beberapa bulan hidup dalam ketakutan, kedua adikku Samir dan Fatima pun ikut hilang. Aku menduga mereka berdua diculik oleh Tentara Serbia.

Aku pun berusaha menenangkan Mama dan meyakinkannya bahwa Samir dan Fatima pasti bisa ditemukan. Ya aku berusaha menghiburnya agar tidak panik dan tabah. Namun sebagai Ibu kandung, Mama tetap saja risau dengan kepergian kedua anaknya tanpa kabar yang jelas.

Malam itu di Bulan Februari 1993, banyak penduduk kota Sarajevo ditangkapi oleh Tentara Serbia. Bahkan banyak yang dipukuli dan disiksa. Semua menderita. Popor senjata, membuat banyak kepala orang berdarah-darah. Aku dan Mamaku Zarifa pun akhirnya ditangkap oleh Tentara Serbia di rumahku lalu dibawa dan ditahan secara terpisah.

Tentara Serbia yang menggiring mereka dari kota itu, benar-benar kasar. Banyak anak gadis, janda bahkan isteri orang diperkosa dan diperlakukan seperti binatang. Termasuk aku beserta Mamaku.

Setelah beberapa hari berada dalam tahanan, mereka yang berseragam loreng-loreng dan tidak diketahui dari mana, selalu saja beringas dan suka memukuli. Memukul dan menyiksa, seperti sebuah hiburan bagi mereka. Terlebih jika yang dipukuli itu menjerit-jerit dan mati ketakutan dan terkencing-kencing.

Saat itu aku benar-benar tidak tahu bagaimana keadaan keluargaku. Apakah Papaku masih hidup atau tidak. Dia juga tak tahu bagaimana keadaan Mamaku serta dua orang adik-adikku. Mereka yang berada dalam tahanan itu hanya diam dan saling menatap. Takut berbicara. Salah sedikit berbicara, ada saja prajurit yang mabuk mencari-cari alasan untuk memukuli dan menyiksa.

Malam pukul 02.00 para Tentara Serbia itu mengeluarkanku dari sel. Aku dimasukkan ke dalam sebuah kamar. Di sana dia sudah kulihat Mamaku yang dalam keadaan telanjang bulat. Bugil, tanpa sehelai benang pun. Aku pun dipaksa untuk bugil juga. Mereka memaksaku untuk bersetubuh dengan Mama kandungku di bawah ancaman bayonet yang tajam oleh tiga orang prajurit Serbia.

Aku sangat keberatan melakukan perintah itu. Karena selain tabu, aku juga kasihan dengan Mamaku sekalipun harus kuakui tubuhnya yang bugil sekarang cukup menggodaku namun aku tetap menghormatinya sebagai orang tuaku. Mamaku terlihat sangat tak mampu melihatku diperlakukan dengan kasar oleh Tentara Serbia.

“Lakukanlah nak, apa yang mereka perintahkan. Daripada kamu mati sia-sia,” kata Mamanya memelas dengan kasih sayang yang rela mati demi anaknya.

“Tidak Ma… biarlah aku mati, asal Mama selamat,” kata Alif dengan bahasa Bosnia.

Tapi akhirnya kucium bibir Mamaku, saat seorang prajurit Serbia itu memukul pipi Mama dengan keras. Tak tahan melihat Mama disiksa. Aku pun sudah berkali-kali meminta kepada para Tentara Serbia itu, agar aku saja yang disiksa, asal jangan Mamaku.

Selanjutnya Mama pun ditelentangkan oleh mereka. Aku dipaksa menyetubuhi Mamanya. Saat kedua tangan Mama merengkuh tengkukku agar menciumnya dan memperkosanya, aku yang belum pernah bersetubuh itu, jadi kebingungan. Dibalasnya ciuman Mamanya.

“Lakukanlah, apa yang mereka kehendaki, yang penting kamu selamat,” bisik Mamanya. Adam memeluk Mamanya disaksikan oleh tiga orang prajurit berseragam loreng dan buas itu. Supaya cepat, Mamaku menuntun kontolku memasuki lubang memeknya. Saat itu kontolku pun akhirnya tegang juga, begitu cepat memasuki pepek Mamanya.

Secara refleks, aku mulai memaju mundurkan kontolnya dalam lubang vagina Mamaku. Kami saling menutup mata agar tidak merasa malu. Plak Plok Plak Plok Plak Plok! Begitulah bunyi persetubuhan kami. Setelah 15 menit kemudian akhirnya aku mengejang dan mengeluarkan spermanya di rahim Mamaku diikuti dengan siraman cairan hangat dari dalam memek Mama menyirami kontolku.

Tentara Serbia itu tertawa terbahak-bahak kesenangan. Salah seorang pergi meninggalkan kamar. Tak lama kemudian dia datang lagi dengan tiga orang perempuan dari kampung lain yang juga sudah 10 hari ditahan. Tentara Serbia itu, masing-masing mengambil seorang perempuan itu di hadapanku dan Mamaku. Mereka melepaskan nafsu bejatnya, di sela-sela tangis ketiga perempuan yang mereka perkosa.

Menjelang subuh, aku pun berpakaian dan diseret kembali ke tahanannya sedangkan Mamaku pun juga disuruh berpakaian. Tiga hari setelah itu, aku diambil lagi ke tahanannya oleh prajurit yang sama. Aku dipaksa lagi memperkosa Mama. Agar kelihatan seperti diperkosa, Mamanya pura-pura meronta.

“Mama hanya berpura-pura diperkosa dan berpura-pura meronta,” bisik Mamanya pada Adam. Pada akhirnya aku pun berlagak memperkosa Mama yang sudah pasrah, demi keselamatan anaknya, karena Mamaku juga tidak tahu, bagaimana nasib suaminya dan dua lagi anaknya.

Ada sekitar 10 kali kami melakukan persetubuhan itu, sampai akhirnya Tentara Serbia pun membebaskan aku dan Mamaku. Kami pun pulang ke rumah tapi tak menemui keluarganya. Aku dan Mamaku sepakat pergi meninggalkan kampung, karena kondisi keamanan sudah tidak kondusif lagi. Aku juga melihat kaum ibu lainnya ada beberapa yang hamil, beserta dengan perempuan muda lainnya, juga hamil.

Sore itu disalah satu sudut rumah kami, aku dan Mama mengorek-ngorek lubang dengan parang yang sudah hitam berkarat.

“Ada apa, Ma?” tanyaku.

“Mama menyembunyikan emas di sini,” bisik mama. Aku pun jadi bersemangat untuk membantu Mama. Benar saja, di sebuah kaleng kecil, Mamaku mengambilnya dan membuka kaleng itu. Saat kalengnya dibuka, terlihat perhiasan emas Mama cukup banyak tersimpan disitu.

“Emas ini ada 2 Kg. Kita bisa pindah jauh dari sini,” kata Mama. Aku pun setuju. Terlebih setelah kami mendengar kedua adikku dan juga Papaku mati dibunuh oleh Tentara Serbia bersama dengan penduduk lain. Karena waktu sudah sore aku pamit pada Mamaku untuk mandi. Saat akan keluar ruangan kulihat Mama sedang merapikan perhiasannya.

Malam itu aku dan Mama pun makan malam. Ya kali ini makan malam kami terasa hambar karena Papa dan kedua adikku sudah tiada di tangan Tentara Serbia. Kulihat tatapan mata Mama yang kosong seperti memendam kesedihan selama makan malam ini. Ya makan malam kali ini terasa hening tidak seperti biasanya yang selalu riuh dengan kehadiran Papa dan kedua Adikku.

Setelah makan malam aku pun beranjak ke ruang tengah untuk menonton TV bersama dengan Mama. Tayangan TV kebanyakan meliput tentang perang di negara kami. Mamaku yang duduk di sofa di sampingku pun sampai menatap TV dengan berkaca-kaca sambil mengeluarkan air mata dengan perlahan melihat kekejaman Tentara Serbia di TV.

“Udah ma jangan sedih terus, mungkin memang udah takdir kita harus ngalamin hal seperti ini”. Kataku sambil membelai rambut pirangnya.

“Mama masih belum rela ditinggal Papa sama kedua adikmu hiks hiks hiks!”

Aku tak menjawab dan hanya membelai rambut dan menciumi keningnya. Oh ya ada hal yang berbeda dengan penampilan mamaku malam ini. Ya kulihat dia memakai anting-anting dan kalung emas malam ini ditambah dengan dress dan bandana warna biru dengan sedikit make up. Tidak biasanya mama berdandan seperti itu dirumah karena setahuku dia hanya memakai perhiasan kalau hanya keluar rumah.

“Mama, aku mau nanya deh sama Mama”.

“Mau nanya apa sayang”. Tanyanya sambil mengusap air mata di pipinya.

“Tumben Mama pakai anting-anting sama kalung dirumah, biasanya anting-anting sama kalungnya dipakai kalo keluar rumah aja”. Kataku sambil memegangi anting-anting dan kalung emasnya.

“Mama pakai anting-anting sama kalung ini karena ini hadiah dari Papa waktu dulu. Anting-anting sama kalung yang Mama pakai sekarang ini juga gak akan Mama jual karena ini sebagai pengingat Mama sama Papa kamu”. Jawab Mama sambil membelai kepalaku.

“Berarti gak semua perhiasannya Mama jual dong”. Tanyaku padanya.

“Ya enggaklah sayang, sebagian kecil Mama simpan buat kenang-kenangan”. Kata mamaku sambil mencoba tersenyum.

“Ma, aku udah ngantuk nih kita tidur yuk”. Ajakku pada Mama.

“Tapi kita tidur bareng ya, Mama takut kalo nanti tiba-tiba Tentara Serbia dateng terus mereka nyelakain kita lagi”. Kata Mamaku khawatir.

“Iya Ma,“. Kataku meyakinkannya.

Setelah itu aku dan Mama pun menuju kamar untuk tidur bersama di kamar Mama dan Papa.

© 2022 - CeritaSeru.xyz