November 03, 2020
Penulis — Antingmama

Anting Emas Ibuku

Namaku Eko, umurku 23 tahun dengan tinggi badan 175 cm dan berat 72 kg. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan baru saja menyandang gelar sarjana dari salah satu perguruan tinggi negeri di kota Yogyakarta. Setelah selesai kuliah, aku memutuskan kembali ke kota asalku Magelang dan tinggal bersama kedua orang tua dan 2 orang adik perempuanku yang masih sekolah.

Ayahku bernama Haryo berusia 48 tahun dengan perawakan kulit agak gelap, tinggi 168 cm dan berat 70 kg. Saat ini ia bekerja di salah satu instansi pemerintahan di kota Magelang sebagai PNS. Ibuku sendiri bernama Ningrum berusia 45 tahun berwajah ayu khas wanita Jawa dengan postur tinggi 163 cm dan berat 65 kg, ukuran payudara 36B, dan berkulit kuning langsat.

Siang itu terik matahari begitu menyengat, melengkapi rangkaian hariku yang begitu melelahkan. Lelah itu hadir bukan karena tubuhku ini yang terforsir akibat kerja keras melibatkan fisik, melainkan lelah karena pikiran yang terkuras. Bagaimana tidak? Hampir tiap hari semenjak aku diwisuda pikiran ini dipaksa untuk berpikir keras mengenai strategi apa yang harus kulakukan untuk segera mendapatkan pekerjaan, langkah apa yang harus kulakukan apabila aku gagal diterima kerja dll.

Di kala matahari memaksaku untuk terus mengayunkan tangan menyebak keringat yang bercucuran, kulihat dari dalam kamar orang tuaku ayunan tangan lain yang membuat suasana menjadi lebih sejuk, seketika itu panas yang kurang ajar perlahan hilang. Ayunan itu berasal dari tangan Ibu yang sedang menyisir rambut indahnya yang panjangnya sepunggung didukung dengan parasnya yang cantik alami serta dandanan sederhananya.

Aku: “Bu, Ibu mau pergi kemana? Kok siang-siang gini dandanannya_nyetil_banget?”

Ibu: “Ibu mau ke pasar, le (Tole: Panggilan untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa)”

Aku: “Lha terus yang jagain warung siapa Bu?”

Ibu: “Lha ya kamu to, Ibu cuman sebentar kok. Nanti mau minta oleh-oleh apa?”

Aku: “Biasaaaa Bu!!! Baksoooooo Lestari…”

(Bakso Lestari adalah salah satu bakso terkenal di Magelang, tepatnya di daerah Pasar Rejowinangun. Kebetulan juragan baksonya adalah orangtua dari teman SD ku. Soal rasaaa jangan tanya. Asal jangan minta dibayarin ya!)

Kebetulan pas di hari itu Bapak belum pulang kerja dan adik masih kuliah, sehingga aku yang dapat jatah jaga warung. Tanpa kusadari, ada pemandangan lain yang kulihat dari penampilan Ibu waktu itu. Raut muka yang sedikit masam tergambar jelas dari wajah Ibu. Sebelum melangkahkan kakinya keluar rumah, tiba-tiba Ibu mendekatiku.

Ibu: “Le, boleh minta tolong endak?”

Aku: “Boleh, Bu. Mau minta tolong apa?”

Ibu: “Tolong lepasin anting di kedua telinga Ibu ya!”

Aku: “Buat apa Bu kok malah mau dilepas?”

Ibu: “Antingnya mau tak jual. Buat bayar ini itu dan segala macem.”

Seketika itu aku kaget bukan main mendengar perintah dari Ibu. Aku langsung melakukan analisa jauh mendalami kalimat “Antingnya mau tak jual. Buat bayar ini itu dan segala macem.” Aku menyadari memang ada alasan kuat yang mendasari keputusan Ibu, terlebih karena faktor ekonomi di keluargaku akhir-akhir ini.

Tangan ini gemeteran memegang telinga Ibu, sampai beberapa kali aku mencoba melepaskan anting itu, namun tetap saja gagal. Alhasil yang didapat hanyalah kedua telinga Ibu yang memerah. Aku tahu jika sedikit memaksakan melepas anting itu akan berhasil, namun aku tidak tega dan tidak rela melakukannya.

Ibu: “Pie sih le? Gitu aja kok endak bisa. Malah sakit tok jadinya telinga Ibu.”

Aku: “Maaf Bu saya endak bisa melepas antingnya. Bu, saya sarankan ndak usah dijual. Cari solusi lain yang lebih pas.”

Ibu: “Yawis! Besok lagi aja. Ibu berangkat dulu, Ibu keburu belanja kebutuhan buat Arisan Ibu-ibu RT besok lusa. Assalamualaikum.”

Aku: “Iya Bu hati-hati nggih! Walaikumsalam.”

Dalam hati aku sedikit lega, semoga niat Ibu menunda atau bahkan membatalkan penjualan anting itu benar terealisasi. Aku tidak habis pikir, apakah sebegitunya rumitnya faktor ekonomi keluarga sehingga mendorong Ibu mengambil keputusan itu. Ataukah ada hal lain yang aku belum mengetahuinya? Aku pun coba mencari tahu penyebabnya.

Setelah peristiwa di siang tadi, malamnya sebelum tidur aku berpikir. Aku tidak rela Ibuku menjual anting emasnya tersebut. Selain karena kasihan padanya, aku juga merasa Ibuku memang lebih cantik jika tetap memakai anting emas tersebut apalagi didukung dengan postur tubuhnya yang sintal itu. Ketika membayangkan hal tersebut tanpa terasa penisku “mengeras” dengan sendirinya.

Keesokannya aku bangun pagi-pagi sekali untuk mandi dan bersiap pergi mencari kerja. Saat aku akan masuk ke kamar mandi, kulihat Ibuku sedang memasak di dapur menyiapkan sarapan untukku dan kedua adikku karena Ayah sedang dinas keluar kota saat ini. Saat akan masuk ke kamar mandi, kusempatkan untuk melihat lekuk tubuh Ibuku dari belakang, Terlihat pinggulnya yang masih padat walaupun sudah memiliki 3 orang anak.

Kembali penisku berdiri tegak melihat pemandangan tersebut. Agar tidak ketahuan, aku pun langsung masuk ke kamar mandi. Ketika sedang mandi, penisku tetap saja mengeras tanpa ampun karena membayangkan kecantikan dan kemontokan Ibuku, aku pun mencoba mengocok penisku untuk mengeluarkan “cairan putihku”.

Saat sedang asyik mengocok penis, kulihat ada BH dan CD milik Ibuku di tumpukan baju kotor di ember pojok kamar mandi. Tanpa pikir panjang kuambil BH dan CD Ibuku yang berwarna cream tersebut sambil mencium dan menggesekkan kedua benda tersebut ke penisku. Ketika akan keluar, aku pun membayangkan sedang bersenggama dengannya lalu kutempelkan ujung penisku ke CD Ibuku lalu kusemprotkan spermaku lumayan banyak disitu.

Ibuku Ningrum

Setelah itu aku bersarapan bersama Ibu dan kedua adikku karena Ayahku sedang dinas keluar kota. Saat sarapan aku sangat terpesona melihat Ibuku yang tampil cantik dengan memakai dress warna hijau yang agak ketat. Ketika aku mencuri-curi pandang ke bagian payudaranya, tatapan mataku tertangkap basah oleh Ibuku.

Karena malu, aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke piring makanan. Pagi itu tidak banyak perbincangan yang terjadi diantara kami berempat hanya Ibu menasihati kedua adikku untuk rajin belajar dan memintaku untuk giat mencari pekerjaan. Setelah sarapan kedua adikku langsung berpamitan pergi ke sekolah sedangkan aku kembali ke kamarku sebentar mengambil berkas-berkas lamaran kerja dan sedikit merapikan kamarku.

“Bu, aku pergi dulu ya mau ngelamar kerjaan”. Kataku pada Ibu

“Yowis nak, hati-hati ya di jalan”. Balas Ibuku dengan ramah dengan tatapan penuh harap.

Melihat tatapan Ibuku yang penuh harap seperti itu aku langsung reflek memeluk tubuhnya dengan erat. Ibuku pun yang awalnya kaget karena selama ini aku jarang memeluknya akhirnya membalas pelukanku dengan erat. Sewaktu memeluknya aku pun berkata padanya:

“Bu, antingnya jangan dijual ya, aku gak mau Ibu sampe harus jual anting ini cuma karena gak punya uang”. Kataku sambil memegang anting-anting yang ada di telinganya.

“Ya mau gimana nak, Ibu sebenarnya juga gak mau jual anting Ibu tapi kamu tau sendiri kan keuangan keluarga kita kayak gimana? Ayahmu sendiri gajinya pas pasan, penghasilan dari warung Ibu juga kadang nutup kadang juga kurang, sementara kedua adikmu yang masih sekolah itu juga butuh biaya, makanya Ibu kemaren minta bantuan kamu buat lepasin anting di telinga Ibu ini buat tak jual tapi kamunya malah gak mau”.

“Ibu gak usah khawatir, pokoknya aku bakal usaha cari pekerjaan sedapat mungkin, nanti kalo udah keterima kerja, gajiku bakal aku kasih ke Ibu untuk nutupin kebutuhan keluarga kita”. Hiburku sambil mengelap air mata yang mengalir pelan di kedua pipinya.

“Iya nanti Ibu doain kamu biar dapet kerjaan bagus supaya kamu sukses dan bisa ngebantu Ibu dan kedua adikmu yang masih sekolah itu”. Balas Ibuku dengan manis.

“Yaudah aku pergi dulu ya Bu, Muah. Kucium pipi kiri Ibuku dengan lembut.

“Ih kamu tumben cium-cium Ibu. Katanya sambil tersenyum.

“Abisnya Ibu cantik sih, apalagi kalo pake anting-anting emas kayak gini cantiknya jadi tambah sempurna”. Pujiku padanya.

“Bisa aja kamu ngegombalnya, Yowis Ibu mau nyuci baju dulu abis itu baru buka warung, kamu juga cepetan cari kerja sana ntar kesiangan lagi”. Ujar Ibuku menyudahi obrolan kami di pagi ini.

“Ok Bu, aku pergi dulu ya, Muah. Kataku pamit sambil mencium pipi kirinya. Ibuku hanya tersenyum manis melihat tingkahku.

Setelah itu aku pun keluar rumah menaiki motor kesayanganku untuk berkeliling ke berbagai perusahaan mencari pekerjaan. Di sela-sela perjalanan aku teringat bahwa tadi pagi aku baru saja onani dengan menyemburkan spermaku ke CD Ibuku. Aku berharap semoga saja spermaku sudah mengering sehingga Ibuku tidak curiga padaku.

POV Ningrum

Kenalkan namaku Ningrum usiaku 45 tahun. Aku adalah Ibu dari tiga orang anak yaitu Eko 23 tahun, Fitri 17 tahun, dan Nia 15 tahun. Suamiku Haryo berusia 48 tahun bekerja sebagai PNS di Dinas Pendidikan di Kota Magelang sedangkan aku membuka warung kecil-kecilan di depan rumah untuk membantu perekonomian keluarga karena gaji suamiku sebagai PNS terkadang kurang mencukupi untuk kebutuhan kami berlima.

Namun akhir-akhir ini kondisi ekonomi keluargaku agak menurun. Suamiku juga mulai agak pelit dalam memberikan uang bulanannya padaku ditambah lagi penghasilan dari warungku tidak ada penambahan secara signifikan membuat kondisiku jadi semakin sulit. Aku curiga bahwa suamiku memiliki wanita idaman lain karena melihat perangainya belakangan ini yang agak kurang perhatian terhadap kami dan juga sering keluar kota tanpa alasan jelas.

Pada suatu malam sehabis berhubungan badan dengan suamiku, secara iseng aku mencoba mengecek HPnya, ketika kubuka fitur WA dan Telegram disitu kulihat percakapan mesra antara suamiku dengan seorang wanita muda berusia 25 tahun bernama Ratih yang juga berprofesi sebagai PNS sama seperti suamiku. Awalnya mereka hanya bertemu dalam sebuah seminar yang diadakan di Kota Solo tempat Ratih bekerja dan tinggal disana.

Namun lama-kelamaan hubungan mereka jadi makin akrab saling bertukar pesan mesra di WA dan Telegram bahkan sering bertemu tanpa sepengatuhuanku dan anak-anak. Melihat bukti tersebut aku menangis melihat perbuatan suamiku yang saat ini tengah tertidur pulas. Aku pun berkata “Kenapa kamu mengkhianatiku mas?

Aku pun beringsut ke arah cermin besar yang ada di meja riasku. Kulihat tubuhku dengan tinggi 163 cm dan berat 65 kg serta payudara ukuran 36B ini menurutku masih cukup bagus walaupun agak berisi karena sudah melahirkan 3 orang anak. Aku berpikir apakah aku harus membalas perbuatan suamiku dengan berselingkuh dengan lelaki lain seperti yang dia lakukan kepadaku?

Tapi dengan siapa aku harus berselingkuh? Bagaimana dengan anak-anakku nanti jika tau Ibu dan Ayahnya saling berselingkuh dibelakang? Oh sungguh aku tidak ingin membuat anak-anakku menjadi tambah sedih terutama kepada Nia dan Fitri yang masih bersekolah. Aku mencoba cara lain untuk mengobati kesedihanku ini.

Beberapa hari kemudian, aku berpikir untuk menjual anting-anting emas yang ada di kedua telingaku ini. Anting-anting emas ini sebenarnya pemberian dari suamiku di hari ulang tahun pernikahan kami setahun yang lalu dan selalu kupakai tanpa pernah melepasnya. Namun karena aku kecewa terhadap perselingkuhan suamiku ditambah dengan ekonomi keluarga kami yang agak menurun aku memutuskan untuk menjual antingku ini.

Aku pun meminta bantuan anak sulungku Eko untuk melepaskan antingku ini. Setelah berusaha selama hampir setengah jam rupanya dia tidak berhasil melepaskan anting-anting di kedua telingaku. Eko beralasan anting-antingku sulit untuk dilepas dan dia menyarankan agak aku tidak menjualnya sembari mencari solusi lain yang dirasa lebih tepat.

Keesokan harinya ketika aku sarapan dengan Eko dan kedua adiknya yaitu Nia dan Fitri, kulihat dia mencuri-curi pandang ke arah payudaraku dan kebetulan memang hari itu aku memakai dress warna hijau yang agak ketat sehingga membuat payudaraku terlihat sangat menonjol. Kulihat tatapan mata Eko seperti tatapan seorang lelaki pada wanita bukannya tatapan seorang anak pada Ibunya.

Setelah sarapan kedua putriku Nia dan Fitri langsung pamit ke sekolah sedangkan Eko pergi kamarnya untuk mengambil berkas-berkas yang tertinggal sementara aku pergi ke dapur untuk membereskan sisa sarapan kami tadi. Setelah selesai aku pun bermaksud untuk ke ruang depan untuk bersih-bersih. Saat sedang berjalan aku berpapasan dengan Eko yang baru saja keluar dari kamarnya.

Tidak kusangka ternyata Eko malah memeluk erat tubuhku. Aku pun kaget karena aku tahu betul watak Eko selama ini yang cuek dan jarang mau berdekatan denganku tiba-tiba sekarang ini malah memeluk tubuhku dengan erat. Aku pun dengan naluri keibuanku langsung reflek membalas pelukannya dengan lebih erat.

Mendengar ucapannya itu aku pun terharu dengan menitikkan air mata sambil menjelaskan alasanku menjual anting-anting karena alasan kondisi ekonomi keluarga saat ini yang tengah menurun. Tentu saja aku tidak memberitahukan tentang perselingkuhan Ayahnya selama ini kepada Eko karena aku tahu kalau sampai Eko mengetahui perilaku Ayahnya tersebut dia pasti akan marah besar.

Eko pun menghibur hatiku sambil menggombal bahwa aku lebih cantik jika tetap memakai anting-anting. Aku tersipu malu dengan perkataannya ditambah lagi dengan ciuman Eko di kedua pipiku membuatku bahagia bahwa anakku ternyata juga bisa memberikanku perhatian dengan lebih baik dibandingkan dengan Ayahnya.

Setelah membersihkan ruang depan secara cepat. Aku langsung menuju kamar mandi dimana terletak ember cucian yang menumpuk untuk dicuci. Saat akan mencuci pakaian, pandangan mataku terttuju BH dan CD berwarna cream yang kupakai semalam. Setelah kuperiksa aku kaget setengah mati, kulihat CDku berlumuran cairan putih kental dan ketika kucium baunya aku langsung tahu bahwa itu adalah cairan sperma.

Pertanyaannya sperma siapakah ini? Apakah ini milik Eko? Yang jelas satu-satunya penghuni lelaki di rumah saat ini hanyalah Eko karena suamiku sekarang tidak berada dirumah. Oh Eko, kenapa kamu bernafsu sama Ibu? Apakah Ibu masih sangat menggoda di hadapanmu sehingga kamu sanggup melakukan ini? Aku membatin sambil terus melanjutkan cucianku.

POV Eko

Singkat cerita, selama satu minggu ini aku sudah berusaha mencari kerja kemana-mana, berbagai interview sudah aku lewati dan aku berharap diantara semua itu ada satu perusahaan yang akan menerimaku. Selama seminggu ini juga hubunganku dengan Ibu menjadi lebih akrab, dia selalu memberikanku motivasi dan semangat untukku.

Setiap pagi setelah Ayah dan kedua adikku pergi, kami selalu menyempatkan untuk berpelukan dan saling mencium pipi masing-masing. Bahkan 2 hari kemarin aku sempat meminta mencium bibirnya. Ibuku yang awalnya menolak ajakanku akhirnya pasrah ketika bibirku mencium bibir merahnya layaknya seorang suami yang mencium bibir istrinya.

Hari ini aku mendapat panggilan interview di salah satu perusahaan di bidang IT. Aku berharap interviewku berhasil dan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Waktu pagi hari seperti biasa setelah sarapan dan kedua Adikku pergi ke sekolah aku menyempatkan diri untuk “bermesraan” dengan Ibu. Sewaktu sedang “bermesraan” Ibuku berpesan kepadaku.

“Nak, nanti kalo sudah selesai wawacara kerjanya, langsung cepet pulang ya bantuin Ibu sama kedua adikmu ya beresin rumah soalnya nanti malam rumah kita dapat giliran jadi tuan rumah arisan bulanan Ibu-ibu RT”.

“Iya bu, nanti habis dari wawancara aku langsung pulang buat bantuin Ibu sama Nia dan Fitri beres-beres rumah”.

“Ok, semoga sukses ya wawancaranya anak Ibu yang ganteng, hati-hati di jalan”.

“Iya bu doain aku ya, CUPP”. Tutupku dengan mencium bibirnya dengan lembut. Ibuku tersenyum manis melihat tingkahku.

Setelah itu aku pamit untuk pergi menghadiri wawancara kerja. Saat wawancara kerja aku menjawab semua pertanyaan dengan begitu percaya diri karena pompaan semangat Ibuku pagi tadi. Tidak kusangka rupanya perusahaan media tersebut tertarik dengan CVku sebagai lulusan IT. Setelah melewati rangkaian proses wawancara akhirnya mereka menerimaku sebagai karyawan.

Aku kembali ke rumah pada sore hari. Kulihat Ibu, kedua adikku dan beberapa orang tetanggaku ikut membantu persiapan acara arisan bulanan ini. Melihat mereka yang sedang sibuk aku langsung membantu merapikan meja dan kursi dan menyiapkan makanan dengan cepat. Setelah merapikan semua peralatan makanan aku langsung pergi mandi dengan cepat dan makan terlebih dahulu karena aku tahu jika arisan dimulai maka aku dipastikan hanya bisa berdiam diri di kamar karena di luar banyak Ibu-ibu yang sedang duduk mengadakan arisan.

Sewaktu arisan akan dimulai, Ibuku yang dari tadi sibuk berdandan di dalam kamarnya akhirnya keluar juga. Sewaktu melihatnya dandanannya aku sungguh terpukau ternyata Ibuku masih cantik dan seksi. Ibu malam itu mengenakan setelan dress berwarna merah yang ketat dan rambutnya dikuncir kuda menampakkan lehernya yang mulus dan anting-anting emas yang bergoyang bebas.

Ketika arisan dimulai, aku mengintip dari kamarku, kulihat banyak Ibu-ibu yang berpenampilan cantik seperti Ibuku, namun anehnya hanyak kepada Ibuku aku bernafsu. Selama berlangsungnya arisan penisku mengeras dengan hebat. Aku bingung apakah harus onani atau tidak mengingat terakhir kali aku onani sekitar seminggu yang lalu ketika aku menyemprotkan spermaku ke CD Ibuku.

Akhirnya arisan bulanan di rumahku berakhir dengan lancar. Aku beserta Ibu dan kedua adikku mulai membereskan meja dan bangku beserta sisa-sisa makanan Ibu-ibu arisan tadi. Selesai berbenah aku langsung menuju dapur untuk membuat teh hangat untukku dan Ibuku sementara kedua adikku langsung pergi ke kamarnya untuk tidur karena besok mereka harus sekolah.

“Bu, ini aku bawain teh untuk Ibu”.

“Oh, iya nak taruh aja di meja deket Kasur Ibu”. Aku pun masuk ke kamarnya sambil menutup pintu dan langsung menaruh kedua gelas teh tersebut di meja dekat Kasur Ibu sambil duduk di pinggirnya.

“Gimana tadi wawancara kerjanya? Diterima gak?”. Tanya Ibuku sambil membalikkan badannya ke arahku.

“Alhamdulillah Bu, aku diterima kerja di perusahaan IT di daerah kota, gajinya lumayan dan waktu kerjanya juga fleksibel jadi gak harus selalu datang pagi ke kantor”. Kataku sambil menyeduh teh hangat.

“Syukurlah kalo begitu jadi kamu sekarang bisa ngeringanin beban Ibu”. Kata Ibuku sambil tersenyum beranjak dari meja riasnya lalu duduk di sampingku sambil menyeduh teh hangat yang aku bawakan tadi.

Setelah meminum teh hangat sampai separuh begitu juga dengan Ibuku yang juga hanya meminum sampai separuh. Mata kami saling berpandangan, kulihat tatapan matanya mengisyaratkan kebahagiaan dan juga senyum manisnya yang menggoda. Aku pun langsung memeluk Ibuku sambil berkata:

“Bu mulai sekarang Ibu gak perlu jual anting-anting Ibu ini ya soalnya kan aku udah kerja jadi kalo ada perlu apa-apa bilang sama aku aja gak perlu sampai jual perhiasan kayak kemarin”. Kataku padanya sambil memeluk dan memegang anting-anting emas cantik di kedua telinganya.

“Makasih ya nak, udah perhatian banget sama Ibu”. Kata Ibuku membalas perlukanku dengan erat.

Aku yang sudah mulai terbakar hawa nafsu mulai menciumi wajah Ibuku, pertama kucium keningnya, kedua pipinya lalu yang terakhir di bibirnya. Ibu pun menikmati perlakuanku dan membalas ciumanku dengan mesra. Cumbuan tersebut berlanjut ketika aku mulai mendorong badannya terlentang di atas kasur dan mulai menindih menciumi seluruh tubuhnya.

“Kamu nafsu ya sama Ibu, Ko?”. Tanya Ibuku.

“Iya Bu, soalnya aku gak tahan setiap hari ngeliat Ibu cantik dan seksi kayak gini OHH”. Kataku bernafsu sambil menindih tubuhnya.

“Jangan sayang, kita ini Ibu dan anak gak boleh sampe gituan”. Ibuku menolak sambil membentak.

“Terus yang kita lakuin tadi dosa gak bu OHH”. Kataku sambil menggesekkan penisku ke vaginanya.

“Ya kan beda nak, tadinya Ibu kira kamu cuma mau ciumin Ibu kayak biasanya, eh tahunya malah kayak begini HASSHH”. Kata Ibuku yang mulai terangsang.

Tuh kan Ibu udah mulai nafsu, aku lepas aja ya dressnya Bu, aku tau kok Ibu kesepian karena sering ditinggal Ayah.

“Ihh kamu ya, tau aja kalo Ibu kesepian yaudah ayo buka bajumu nak HASSHH”. Pinta Ibuku

Aku pun membuka baju kaos, celana pendek dan CDku lalu kubantu Ibu melepaskan dressnya beserta CD dan BHnya hingga kami berdua telanjang bulat. Kembali kuciumi tubuh Ibuku mulai dari wajah, lalu turun ke leher, perut hingga akhirnya ke vagina Ibu yang merah merekah. Kujilati klitorisnya hingga dia menggelinjang hebat.

“AHH terus nak, jilatin vagina Ibu, buat Ibu melayang sayang OHH”. Desahnya padaku

“OHH merahnya vaginamu Bu, UHH nikmat”.

Kujilati terus vagina Ibu hingga dia akhirnya orgasme dengan lidahku “OHH CREET CREET CREET AHH”. Kata Ibuku sambil mengerang dan akhirnya tergeletak lemas di atas ranjang.

Kuberikan waktu istirahat beberapa saat untuk Ibu menikmati sisa-sisa orgasmenya. Tampak wajahnya memerah karena puas namun aku masih ingin melanjutkan permainan. Akhirnya aku naik ke atas tubuh Ibu sambil menyodorkan penisku ke mulutnya.

“Bu, isepin ya punyaku”. Kataku sambil menyodorkan penisku ke wajah Ibu yang matanya masih nampak terpejam.

Ibuku pun mulai membuka matanya pelan-pelan dan terbelalak melihat ukuran penisku yang panjangnya 17 cm dan diameternya 4 cm.

“Astaga, gede banget penismu nak, punya Ayahmu aja gak sebesar ini”. kata Ibuku kaget.

“Yaudah ayo isepin punyaku Bu”. Pintaku padanya.

Dalam hati aku bangga ternyata penisku lebih besar dari punya Ayahku. Oh Ibu akan kubawa kau ke langit ketujuh malam ini.

“CUPP CUPP SLURUP SLURUP”. Ibuku akhirnya mencium kepala penisku dan menjilatinya dengan penuh nafsu.

“OHH iya terus bu AHH AHH”. Desahku menahan nikmat.

Ibuku pun terus menjilati dan mengulum penisku ke dalam mulutnya. Terlihat bibirnya yang merah bekas lipstick tadi membuatku semakin bergairah.

Setelah 10 menit Ibu menghisap penisku, aku merasa sudah akan keluar. Namun aku tidak mau keluar secepat itu. Bagiku inilah saatnya masuk ke permainan utama. Aku sudah tidak tahan lagi ingin memasukkan penisku ke vaginanya dan bertekad untuk membuang spermaku yang panas dan kental ini ke dalam rahim Ibuku tempat aku dikandung dulu.

“Bu, aku udah gak tahan mau masukkin AHH!!”. Kataku memohon padanya.

“Yowis le, masukkan aja penismu ke vagina Ibu”. Kata Ibuku sambil melepaskan kulumannya.

Aku pun turun dari kepala Ibu lalu mengambil posisi siap tempur sedangkan Ibuku mulai membuka pahanya untuk memberikan jalan masuk untuk penisku. Dengan perlahan Ibu memegang penisku lalu memasukkannya ke vaginanya yang walaupun sudah basah namun tetap terasa agak sulit karena ukuran penisku yang cukup besar.

“BLESS SREETT BLESS SREEETT”. Penisku mulai merangsek masuk ke vaginanya.

“UHH pelan sayang, punyamu terlalu besar untuk vagina Ibu OHH”. Kata Ibuku sambil mendesah.

Setelah berhasil masuk, aku mulai menyodok Ibuku secara perlahan. Kunikmati persetubuhan ini sambil menciumi wajah dan payudaranya yang montok.

“OHH Ibu, PLAKK PLOKK PLAKK PLOKK OHH OHH!”.

Kami sering berganti posisi, kadang aku yang di ata, kadang juga Ibu yang di atas, sesekali kami bercinta dalam posisi menyamping sambil menikmati wajah cantik Ibuku, semua kami lakukan dengan penuh cinta dan nafsu.

30 menit berlalu, Ibuku sudah mencapai 3 kali orgasme. Aku yang sudah mulai merasa ingin keluar mulai mempercepat dan menekan lebih dalam sodokan penisku ke dalam vaginanya. Saat menyodok lebih dalam, aku merasakan ada sesuatu yang kenyal di ujung vaginanya. Aku sadar bahwa itu adalah rahim Ibu tempat aku dikandung dulu.

“OHH Bu, aku gak tahan lagi mau keluar OHH PLOK PIOK!”.

“Ojok metu neng jero le! Nanti Ibu hamil anakmu OHH!”.

“Aku wes ndak tahan Bu, OHH OHH OHH!”. Ujarku bernafsu.

10 menit kemudian, aku mulai mengejang, kumasukkan penisku dalam-dalam sampai menyentuh mulut rahimnya lalu kusemprotkan spermaku habis-habisan ke dalam tubuhnya karena sudah seminggu ini aku tidak mengeluarkan sperma.

“OHH Ibu maafin aku, terimalah sperma anakmu ini OHH OHH CROTT CROTT CROTT CRUUOOT CROTT CROTT AHH AHH”. Kataku sambil menyemprotkan spermaku 7 kali ke dalam rahimnya tempat aku dikandung dulu.

AHH Eko, kenapa kamu keluar di dalam OHH OHH CREETT CREETT CREETT AHH. Ujar Ibuku yang juga berhasil mencapai orgasmenya.

Akhirnya setelah mengeluarkan cairan kami masing-masing aku pun ambruk di atas tubuh Ibuku. Kuresapi sisa-sisa kenikmatan ini sambil menciumi leher dan juga anting-anting yang ada di telinga Ibuku. Tak lama kemudian, kudengar isak tangis dari mulut Ibuku. Aku mulai sedikit bangkit untuk melihat wajah Ibuku dan benar saja cucuran air mata banyak membasahi wajah cantiknya.

“Bu, maaf ya aku tadi terlalu bernafsu sampai lepas kontrol”. Kataku meminta maaf.

“Kamu jahat Eko, Ibu kan udah bilang tadi spermamu jangan keluarin di dalam tapi kamunya malah gak dengerin Ibu”. Kata Ibuku sambil terisak-isak.

“Tenang bu, kalo Ibu sampe hamil Eko bakal tanggung jawab kok”. Kataku sambil menenangkan Ibu.

“Tapi itu kan tabu nak, masak Ibu dihamili anaknya sendiri sih”. Ujar Ibuku yang tangisannya mulai mereda.

“Semuanya udah terlanjur Bu, gak ada yang perlu disesali, CUP”. Kataku sambil mencium keningnya lalu memeluknya dengan erat.

Akhirnya Ibuku pun mulai berhenti menangis dan tidak kusangka ia pun membalas pelukanku dengan erat. Tak terasa 30 menit sudah aku menindih Ibu sambil berpelukan, kulihat wajahnya yang cantik dengan matanya terpejam membuatku terangsang kembali. Penisku yang tadinya agak melemas mulai mengeras lagi.

“Kamu masih mau lagi ya Ko, Ibu udah capek ini”.

“Iya bu aku nafsu soalnya Ibu udah cantik pakai anting lagi, aku jadi gak tahan OHH”. Kataku sambil menyodoknya dengan cepat

“Jadi selama ini kamu ngelarang Ibu jual anting karena ngeres ya sama Ibu, dasar anak nakal”. Kata Ibuku tersenyum sambil mencubit hidungku.

20 menit kemudian, aku merasakan spermaku akan keluar lagi. Kupercepat sodokanku sambil mencium bibir serta memagut lehernya yang mulus. Lalu ketika nafsuku benar-benar sudah diujung kutekan penisku dalam-dalam sampai menyentuh rahimnya dan akhirnya kusemprotkan spermaku untuk kedua kalinya. Kali ini tersisa 5 semprotan sperma ke dalam rahim Ibuku tapi terasa sangat nikmat.

”Bu, aku mau punya anak dari Ibu terimalah sperma anakmu ini OHHHH CROTT CROTT CROTT CROTT CROTT”.

“AHH banyak banget spermamu nak, nanti Ibu bisa hamil nih AHH AHH CREETT CREETT CREETT”.

Setelah mengeluarkan cairan kami masing akhirnya kami pun ambruk karena kelelahan. Aku rebah sambil memeluknya dari samping. Kulihat jam di kamar sudah menunjukkan pukul 12 malam berarti kurang lebih 2 jam sudah aku bersetubuh dengan Ibuku. Untuk keamanan, sebelum tidur aku masih menyempatkan diri untuk mengunci pintu dari dalam dan menutup jendela agar tidak ada yang mengetahui, tak lupa kunyalakan kipas angin agar tidak kepanasan.

Jam 4 pagi aku terbangun. Kulihat Ibuku masih tertidur kelelahan akibat persetubuhan tadi. Melihat Ibuku yang tidur telanjang tersebut membuat nafsuku kembali bangkit. Aku pun naik ke atas tubuhnya sambil mengelus-elus penisku yang telah mengeras, lalu kubuka kedua pahanya dan kulihat kondisinya masih agak basah akibat persetubuhan tadi malam.

Akhirnya setelah 30 menit berlalu, aku pun sudah merasa akan keluar. Kupercepat sodokan penisku di vaginanya dan ketika akan keluar kutekan penisku dalam-dalam hingga menyentuh rahimnya lalu kuciumi anting-anting emas yang ada di telinganya dan akhirnya, CROTT CROTT CROTT keluarlah sisa-sisa spermaku sebanyak 3 kali semprotan ke dalam rahimnya lalu diikuti oleh orgasme Ibuku yang membuat kelamin kami terasa sangat lengket.

Setelah 15 menit menindih tubuh Ibuku akhirnya aku mencabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat aliran spermaku mengalir dari dalam vaginanya dengan jumlah yang cukup banyak. Muncul pertanyaan dalam pikiranku, Apakah Ibuku akan hamil akibat perbuatanku ini? mengingat usia Ibuku yang walaupun sudah menginjak 45 tahun tetapi ia masih menstruasi artinya ia masih produktif.

Membayangkan Ibu yang hamil karena perbuatanku membuatku memiliki perasaan sedikit tertarik. Aku cepat membuang pikiran tersebut dan tidak terlalu mempedulikannya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 4.45 pagi. Aku pun langsung keluar kamar untuk mandi karena biasanya Ibuku bangun pukul 5 pagi. Kuambil celana dan baju yang berserakan di lantai kamar dan memakainya kembali lalu aku keluar kamar Ibuku dan untungnya kedua adikku masih tertidur lelap jadi kondisinya cukup aman.

POV Ningrum

Sekitar jam 5 pagi akhirnya aku terbangun. Kulihat Eko sudah tidak ada di kamar. Mungkin dia bangun lebih awal karena ini hari pertamanya masuk kerja. Sejenak setelah bangun aku merasa rahimku terasa hangat dan penuh. Aku pun bangkit lalu duduk di pinggir ranjang dan seketika cairan putih kental keluar dari dalam vaginaku merembes membasahi sprei.

Sambil duduk aku merenung dan menangis mengingat kejadian tadi malam dimana untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bersetubuh dengan lelaki lain dan parahnya lagi lelaki tersebut adalah anakku sendiri yaitu Eko. Aku merasa diriku tidak berbeda dengan suamiku Haryo yang berselingkuh dengan wanita lain yakni Ratih, bedanya sekarang aku berselingkuh dengan anakku sendiri.

Saat duduk di tepi ranjang, aku merasakan banyak sekali cairan sperma yang meleleh keluar dari vaginaku sampai membasahi sprei. Dalam hatiku timbul kekhawatiran mengingat aku masih dalam usia subur. ”Oh Eko sperma kamu banyak banget keluar di rahim Ibu, gimana kalo nanti Ibu hamil karena benihmu ini?

Tapi aku berpikir lagi, jika benar aku bisa hamil dari benih Eko apakah suamiku akan mau kembali kepadaku dan meninggalkan selingkuhannya yang bernama Ratih itu? Sejujurnya saat ini aku masih mencintai suamiku Haryo walaupun aku kecewa dengan perbuatannya yang berselingkuh di belakangku. Sedangkan dengan Eko aku menemukan kenyamanan yang selama ini tidak aku dapatkan dari suamiku.

Tak terasa sudah hampir 15 menit aku merenung dalam kamar. Aku pun langsung bergegas membereskan kamar lalu mengambil handuk untuk mandi. Ketika keluar kamar aku beringsut untuk menuju kamar putriku Fitri dan Nia dan kulihat kedua putriku masih tertidur. Dengan cepat kubangunkan mereka untuk segera bersiap-siap pergi ke sekolah.

Setelah itu aku masuk ke kamar mandi untuk mandi dengan cepat lalu mempersiapkan makan pagi untuk ketiga anakku. Aku tidak melihat Eko saat itu. Mungkin saja ia sudah mandi duluan dariku dan adik-adiknya. Namun aku merasa malu untuk mengecek ke kamarnya mengingat kejadian semalam. Aku berpikir tunggu saja sampai dia keluar kamar toh pasti dia nanti juga bakal sarapan bersama denganku dan kedua adiknya.

POV Eko

Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja. Aku merasa sangat bersemangat karena semalam aku sudah mendapatkan “suntikan energi” dari Ibuku yaitu dengan bersetubuh dengannya. Aku pun bersiap-siap dengan seksama agar hari pertama kerja nanti bisa berjalan optimal. Setelah selesai bersiap-siap aku pun bergegas keluar kamar untuk sarapan bersama Ibu dan kedua adikku.

Ketika keluar kamar dan berjalan ke meja makan, kulihat Ibu dan kedua adikku sudah duduk manis menungguku untuk sarapan bersama. Kuperhatikan Ibuku memakai kemeja lengan pendek yang agak ketat dengan rok selutut bermotif bunga-bunga sedangkan kedua Adikku seperti biasa mengenakan seragam sekolahnya.

Selama sarapan pagi aku lebih banyak bercengkrama dengan kedua adikku sedangakan Ibu lebih banyak diam dan mengangguk-angguk saja. Namun dibalik itu kulihat tatapan mata Ibu berbeda dari biasanya. Tatapannya khas seperti seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Aku pun tidak terlalu menanggapinya karena takut ketahuan oleh kedua adikku.

“Mas, hari ini pertama masuk kerja ya?”. Tanya Fitri adikku

“Iya Fit, emangnya kenapa”. Tanyaku kembali padanya.

“Nanti kalo udah gajian, beliin aku baju baru ya mas hehehehe”. Pintanya sambil nyengir padaku.

“Aku juga dong mas, masak Fitri aja yang dibeliin”. Protes Nia yang juga meminta hal yang sama.

“Haduh kalian ini, mas belum gajian aja udah minta macem-macem, bisa langsung ludes gajiku sebulan kalo ngelayanin semua permintaan kalian”. Jawabku pada kedua adikku.

“Fitri, Nia, mas kalian kan baru mulai kerja, jangan dibebanin permintaan yang macem-macem dong, kasian nanti gajinya langsung abis lagi”. Ujar Ibuku sambil tersenyum penuh arti kepadaku.

”Iya kita mintanya dibeliinnya juga yang gak mahal-mahal amat kok, hehehehe”. Ujar Fitri yang juga diamine oleh Nia.

“Yowis, cepetan habisin sarapannya nanti kalian telat lho”. Kata Ibuku menyudahi perbincangan.

Akhirnya sarapan pun berakhir, seperti biasa Ibuku akan ke dapur membereskan sisa-sisa sarapan tadi setelah kedua adikku berangkat lebih dulu karena takut terlambat sekolah. Sedangkan aku berangkat lebih belakangan karena seperti biasa aku dan Ibu akan “berpacaran singkat” alias bermesra-mesraan sejenak setelah mereka berdua berangkat sekolah.

Selesai Ibu membereskan sisa-sisa makanan pagi tadi di dapur, kami pun berpapasan di ruang tengah. Ibuku menatapku dengan senyuman manis. Aku pun langsung menghampirinya lalu memeluknya dengan erat. Kami pun lalu saling bertatapan dan tidak lama kemudian bibir kami menyatu dalam satu ciuman yang mesra.

“Bu, aku berangkat dulu ya, doain aku biar kerjaannya lancar”. Kataku pada Ibu.

“Iya nak, Ibu doain biar kerjaanmu lancar”. Balas Ibuku.

“Nanti kalo aku udah gajian, aku janji bakal bantuin warung Ibu sekalian beliin Ibu baju dan asesoris baru”. Janjiku pada Ibuku.

“Makasih ya nak tapi gak usah terlalu berlebihan ya, sisain tabungan untuk keperluanmu”. Kata Ibu menasihatiku.

“Tenang Bu, aku gak bakal abisin semua uangku kok, pasti sisanya aku tabung”. Balasku pada Ibu.

“Nah gitu dong, itu baru namanya anak Ibu”. Ujar Ibuku kembali memelukku erat.

Aku pun membalas pelukannya dengan lebih erat. Akhirnya setelah selesai “bermesra-mesraan” dengannya aku pun berpamitan karena takut terlambat. Kembali ciuman bibir aku layangkan padanya lalu aku bergegas untuk pergi ke kantor.

3 Bulan kemudian

Tak terasa sudah 3 bulan aku bekerja di kantorku. Suasana kerja yang enak ditambah rekan kerja yang bersahabat dan juga “gaul” ala generasi Milennial membuatku kerasan bekerja disini. Banyak proyek yang sudah aku dan teman-teman kerjakan disini dan hasilnya pun cukup sukses. Penghasilanku pun cukup besar karena selain gaji kami juga mendapatkan

_fee_tambahan dari setiap proyek yang membuat pundi-pundi keuanganku terisi penuh.

Bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Ibu? Kalo soal itu jangan ditanya lagi. Kami berdua sudah seperti suami istri. Aku sudah memenuhi janjiku untuk membantu pengeluaran warungnya dan membelikan baju baru dan asesoris cantik seperti kalung, gelang, cincin, dan juga anting-anting baru untuknya. Sedangkan untuk adikku aku juga memenuhi janjiku dengan membelikan mereka baju-baju yang bagus sesuai permintaan mereka dahulu.

Kegiatan seksualku dengan Ibu masih berlangsung dan kami cukup pintar untuk menyembunyikan hal itu dari Ayah dan kedua adikku. Terkadang kami melakukannya di kamar Ibu, di kamarku, atau mencuri waktu sebelum berangkat kerja ketika Ayah dan kedua adikku sudah berangkat ke kantor dan sekolah masing-masing.

Pernah satu kali karena saking tidak tahannya menahan hawa nafsu aku menyelinap masuk ke kamar Ibu dan kulihat Ayah dan Ibu berbaring tertidur pulas di atas kasurnya. Kusiapkan kloroform dan sapu tangan untuk membius Ayahku agar dia tidak terbangun ketika aku menggauli Ibu.

Setelah selesai membius Ayah, aku pun pindah ke tempat Ibuku tidur. Kulihat tubuhnya yang montok mulus dan wajahnya yang cantik sedang tidur terlentang membuat nafsuku tak tertahan lagi. Kuciumi wajah dan leher Ibuku ditambah dengan anting-anting cantiknya yang juga tidak luput dari ciumanku. Kubuka kimono tidurnya yang berwarna biru tua dan benar saja ia tidak memakai apapun di balik kimononya.

Melihat itu aku langsung menciumi kedua payudaranya lalu turun ke perut dan akhirnya vaginanya pun kucium dan kujilati sampai basah. Kulihat Ibuku mulai terangsang atas perbuatanku walaupun matanya masih terpejam. Setelah vaginanya cukup basah, aku pun langsung membuka seluruh pakaianku hingga telanjang bulat.

Setelah telanjang bulat, aku pun langsung menaiki tubuh Ibuku untuk menggaulinya. Perlahan kuarahkan penisku ke vaginanya. Aku pun berusaha memasukinya dengan hati-hati takut Ibuku terbangun. Akhirnya setelah berusaha keras penisku berhasil memasuki vaginanya BLESS BLESS SREETT SREETT. Aku merasakan sensasi yang luar biasa dimana aku menggauli Ibuku di samping Ayahku yang sedang tertidur.

Kugerakkan penisku pelan-pelan di dalam vaginanya sambil menciumi seluruh wajah, leher dan kedua payudara montoknya. Pelan tapi pasti sodokanku makin lama makin cepat membuat tubuhnya terguncang-guncang. Alhasil Ibuku pun terbangun dan mulai membuka matanya. Melihat tindakanku seperti itu Ibuku pun kaget setengah mati karena sebelumnya aku tidak pernah menggaulinya saat ia tidur disamping Ayahku.

“Eko, kamu udah gila ya! Lepasin Ibu, nanti kalo Ayahmu tahu bisa gawat!”. Ujar Ibuku protes.

“Tapi aku udah gak tahan Bu, lagian Ayah juga udah aku kasih obat jadi gak bakalan bangun”. Ujarku pada Ibu yang akhirnya membuatnya sedikit tenang.

“Kamu nekat banget sih, masak gaulin Ibu di samping Ayahmu”. Ujar Ibuku masih protes atas tindakanku.

“Namanya juga udah nafsu Bu, kalo gak dilampiasin aku nanti bisa pusing. Yang penting sekarang Ibu layanin aku sampai puas ya OHHH OHHH OHHH PLOK PLOK PLOK”. Jawabku sambil mempercepat sodokan penisku pada vaginanya.

Setelah 30 menit menyodoknya aku merasa akan keluar. Kusodok vagina Ibuku dalam-dalam sampai menyentuh rahimnya. Ketika itu bertekad untuk “membuahi Ibuku” di samping Ayahku sendiri. Aku merasakan sensasi yang luar biasa membayangkan Ibu akan hamil karena “dibuahi” anaknya sendiri di samping suaminya.

“Bu, aku mau keluar, aku mau buahin Ibu pakai spermaku ini OHH OHH”. Kataku menjerit.

“Jangan sayang, Ibu lagi subur, nanti spermamu bisa membuahi Ibu AHH AHH”. Tolak Ibuku.

“Aku udah gak tahan lagi Bu, aku pengen buahin Ibu di samping Ayah OHH”. Ujarku sambil mempercepat sodokan pada vaginanya.

“Jangan nak, nanti Ibu hamil benihmu”. Kata Ibuku yang mulai mengeluarkan air mata membasahi pipinya yang mulus.

“OHHH Ibu, aku udah gak tahan lagi, aku ingin membuahimu sekarang OHHH OHHH CROOTT CROOTT CROOTT CROOTT”. Kataku sambil menyemburkan sperma ke rahimnya sebanyak 10 kali semprotan.

“AHH kenapa kamu buahin Ibu di samping Ayahmu Eko AHHH AHHH CREETT CREETT CREEETT CREETT”. Teriak Ibuku yang juga mencapai orgasmenya dengan menyemburkan 7 kali semprotan menyirami penisku yang ada di dalam vaginanya.

Akhirnya setelah selesai mencapai kepuasan masing-masing, tubuhku pun ambruk menindih tubuh Ibuku. Aku sengaja tidak mencabut penisku karena ingin meresapi sisa-sisa kenikmatan persetubuhan kami. Tak lama kudengar isak tangis dari mulut Ibuku. Ia sepertinya

_shock_dengan apa yang aku lakukan padanya. Aku pun sedikit bangkit untuk melihat wajahnya walaupun masih dalam posisi menindih dan mengunci selangkangan Ibuku dengan penisku.

“Ibu kenapa nangis terus dari tadi”. Tanyaku sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.

“HIKS HIKS HIKS Ibu merasa bersalah udah selingkuh di samping Ayahmu”. Kata Ibuku sambil menangis.

“Ayah kan udah aku kasih obat bu, jadi tenang aja dia gak bakalan bangun”. Kataku berusaha menenangkannya.

Akhirnya pun tangisan Ibuku mulai mereda, walaupun air matanya masih mengalir namun ia sudah lebih tenang dibandingkan tadi. Aku pun masih menindih Ibuku sambil menciumi leher dan anting-anting emasnya serta mengisap kedua payudaranya. Tak lama kemudian nafsuku bangkit lagi. Kugerakkan kembali penisku menyodok vagina Ibuku dengan cepat.

“Bu, aku mencintaimu dan aku gak akan ninggalin Ibu serta bakalan tanggung jawab kalo sampai Ibu hamil karena benihku CUPP”. Kataku sambil mencium bibirnya yang manis.

Melihat itu Ibu tidak menjawab apapun namun ia hanya memelukku erat, kulihat tatapan sayunya menyiratkan suatu harapan padaku. Aku pun membalas pelukannya dengan lebih erat sambil kembali mengucapkan kata-kata cinta padanya.

Setelah itu kurasakan pelukan Ibuku mulai melemah dan ia tertidur karena kecapaian akibat persetubuhan kami tadi. Aku pun beringsut untuk bangkit dan mencabut penisku. Agar Ayah tidak curiga, kuambil tissue basah yang tersedia di kamar itu untuk membersihkan keringat dan spermaku yang ada pada tubuh Ibu.

Tak lupa kuikat kembali kaitan kimono Ibuku yang tadi terlepas saat aku menggaulinya tadi dan membuat seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada tubuh Ibu. Setelah beres aku membersihkan keringat yang ada di tubuhku lalu kembali mengenakan pakaianku seperti semula lalu aku keluar dari kamar Ibu. Kulihat kondisinya cukup gelap menandakan perbuatanku pada Ibu tadi aman dan tidak diketahui oleh kedua adikku.

1 Bulan kemudian

POV Ningrum

Sudah 4 bulan Eko bekerja di perusahaan IT. Aku melihat ia cukup giat bekerja dan sering memanjakanku dan kedua adiknya dengan membelikan barang-barang bagus untuk kami bertiga. Aku pun sering menasihatinya untuk tidak terlalu banyak mengeluarkan uang dan sebaiknya lebih banyak ditabung untuk kepentingannya nanti.

Iya pun hanya mengiyakan dan berkata bahwa uangnya masih cukup banyak sehingga aku tidak usah khawatir. Eko selain membantu modal warungku, ia juga membelikanku baju baru dan asesoris cantik seperti kalung, gelang, cincin, dan anting-anting. Dalam hati aku senang ia sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan juga membantu ekonomi keluarga.

Suamiku sendiri seperti biasa, masih agak cuek dengan keadaan keluarga walaupun sudah agak mendingan dibandingkan dengan 4 bulan lalu. Dia pun mulai sering berada di rumah walaupun sesekali masih ke luar kota dengan berbagai macam alasan. Aku pun hanya memakluminya dan berharap ia sudah memutuskan hubungan dengan selingkuhannya yang bernama Ratih itu.

Namun, ada hal lain yang aku rasakan kali ini. Ya, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Aku sudah telat menstruasi satu bulan ini. bukan hanya itu, aku juga merasa sering pusing dan mual-mual. Ya Allah apakah aku hamil? Seingatku ada Eko dan suamiku yang selama ini aktif menggauliku. Aku pun berinisiatif untuk membeli test pack untuk mengecek apakah aku hamil atau tidak.

Akhirnya beberapa hari kemudian aku pun pergi ke dokter kandungan di rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Setelah dilakukan pengecekan oleh, dokter pun mengucapkan selamat bahwa aku positif hamil 4 minggu alias satu bulan. aku bertanya pada dokter apakah di usiaku yang ke 45 tahun masih cukup aman untuk hamil dan melahirkan.

Dia menjawab bahwa wanita seusiaku ini sudah mencapai batas akhir usia subur seorang wanita yaitu 18-45 tahun jadi tidak heran aku masih bisa hamil di usia segini. Namun ia berpesan karena usiaku sudah 45 tahun aku harus lebih hati-hati menjaga kandunganku dan juga makan-makanan bergizi serta istirahat yang cukup.

Sampai di rumah aku menangis karena harus hamil di usia segini. Dalam hati aku yakin bahwa bayi ini adalah hasil hubunganku dengan Eko mengingat suamiku agak jarang menggauliku dan kalaupun ia menggauliku, itu dilakukan saat di masa aku tidak subur. Sedangkan Eko, dia menggauliku kapan saja baik aku saat subur maupun tidak.

Teringat satu bulan yang lalu ketika Eko menyelinap ke kamarku dan menggauliku di samping Ayahnya! Saat itu aku ingat aku sedang dalam kondisi yang sangat subur dan Eko mengeluarkan spermanya habis-habisan ke dalam rahimku. “Oh Eko, kamu sudah membuahi Ibumu sendiri” kataku dalam hati. Saat ini rumahku kosong dan warung sengaja aku tutup sehingga aku akan memberitahukan kepada seluruh anggota keluargaku saat mereka sudah sampai di rumah.

Tak lama kemudian Fitri dan Nia pulang ke rumah. Saat mereka sampai di rumah kuberitahukan pada mereka mengenai kehamilanku ini. awalnya mereka kaget mendengar kabar ini seakan tidak percaya kalau akan kehadiran seorang adik lagi di usia mereka yang sudah beranjak remaja. Namun setelah itu mereka berdua memujiku bahwa aku masih cantik dan awet muda sehingga masih pantas untuk menimang seorang anak lagi.

Tak lama kemudian Eko pulang ke rumah. Kulihat di depan rumah ia membawa mobil Toyota Avanza yang diparkir di depan rumah. Saat sampai di rumah ia pun mencium tanganku dan memelukku erat. Aku pun berinisiatif untuk mengajaknya ke kamarku untuk menanyakan tentang mobil yang ia bawa sekaligus memberitahukan kabar kehamilanku padanya.

“Nak, kamu dapat uang darimana bisa beli mobil baru”. Tanyaku pada Eko.

“Sebenarnya aku emang udah lama nabung bu buat beli mobil bahkan aku udah mulai nabung semenjak aku kuliah. Cuma ya baru kebelinya ya sekarang pas Eko udah kerja nunggu punya gaji dulu hehehehehe”. Katanya sambil nyengir padaku.

“Wah enak nih kita bisa jalan-jalan bareng dong pake mobilmu”. Kataku senang.

“Tenang bu, nanti kita sekeluarga jalan-jalan pake mobil Eko”. Balasnya padaku.

“Oh ya sebenarnya Ibu juga ada berita baru untuk kamu”. Kataku padanya.

“Wah ada berita baru apa nih”. Tanyanya penasaran.

“Ibu hamil nak, ini anak kamu”. Kataku sambil mengusapkan tangannya ke perutku.

“Hah Ibu hamil? Ini beneran benihku Bu? Tanyanya kaget padaku.

“Cuma kamu yang gaulin Ibu waktu subur, sedangkan Ayahmu Cuma gaulin Ibu waktu lagi gak subur, makanya Ibu yakin ini benihmu”. Kataku dengan tatapan penuh harap padanya sambil kembali mengusap-usapkan tangan Eko pada perutku.

Mendengar itu, Eko langsung menciumiku dan menindihku. Aku mengingatkan padanya agar tidak melakukannya pada sore ini karena ada kedua adikku di kamar lain. Tetapi sepertinya ia tidak peduli dan tak lama kami sudah dalam posisi telanjang bulat. Aku pun akhirnya mengunci pintu dan menutup jendela dengan tirai lalu kami pun melakukan hubungan intim.

Kuingatkan padanya agar melakukannya dengan perlahan mengingat ada kedua adiknya di dalam rumah dan juga janin di dalam kandunganku. Eko pun menurut dan melakukannya dengan perlahan. Kami pun melakukannya hanya 1 ronde tapi terasa sangat nikmat dan romantis sekali. Setelah selesai sebelum pergi ke kamarnya, ia menciumi perutku yang terisi “adik sekaligus anaknya”.

Malam itu kami makan malam dengan akrab dan bersenda gurau karena Eko yang sudah membeli mobil baru dan akan kehadiran seorang adik lagi dalam keluarga kami. Kami bercanda dan mengatakan bahwa mobil yang dibeli Eko merupakan rezeki untuk anak dalam kandunganku ini. aku pun tertawa mendengarnya begitu juga ketiga anak-anakku.

Suamiku saat itu izin pulang malam karena baru saja kembali dari luar kota. Aku pun tidak mempermasalahkannya karena kehadiran ketiga anakku di meja makan malam ini sudah cukup membuatku senang. Setelah itu aku pun membereskan makan malam dibantu kedua putriku, sedangkan Eko langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena kelelahan.

Malamnya suamiku pun tiba di rumah. Saat itu semua anak-anakku sudah tidur. Aku pun membuka pintu dan mencium tangan suamiku. Setelah itu ia pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan aku menyiapkan makan malam yang sudah aku sisakan khusus untuknya. Aku menemaninya makan malam itu.

“Mas, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu”. Ujarku padanya

“Ya udah kamu mau ngomong apa”. Katanya sambil menahan kantuk

“Aku hamil mas”. Kataku pelan

“Hah hamil? Yang bener kamu? Katanya kaget sekaligus heran.

“Iya aku hamil mas, memangnya kenapa? Kamu gak suka ngeliat aku hamil?

“Bukan, bukan itu maksudku tapi”. Suamiku mulai gugup.

“Tapi apa? Kamu berharap selingkuhanmu si Ratih itu yang hamil begitu?. Kataku dengan nada tinggi.

“Gak, bukan itu maksudku”. Katanya berkelit

“Aku udah tahu semuanya mas, selama ini kamu sering ke luar kota buat ngunjungin selingkuhanmu si Ratih itu kan gak selalu karena alasan pekerjaan”. Balasku sengit.

“Melihat itu suamiku hanya tertunduk diam tak menjawab.

“Dapat apa kamu selama selingkuh sama Ratih? Uang? Seks? Atau apa? Tanyaku padanya dengan keras.

Suamiku makin terdiam melihat aku marah begitu kuatnya.

“Lihat mas, di saat kamu selingkuh aja aku masih bisa melayani kamu dengan sabar. Bukan Cuma itu aja, aku pun masih sudi menampung benihmu ini dalam rahimku mas, karena aku tahu anak ini gak bersalah”. Kataku dengan nada keras walaupun dengan sedikit bumbu kebohongan.

Melihat itu suamiku pun hanya mampu menangis dan berlutut di hadapanku.

“Maafkan aku Ningrum, maafkan aku yang berdosa ini”. kata suamiku penuh tangis penyesalan.

“Sebenarnya aku udah berniat buat ngajuin cerai mas, tapi aku kasian liat ketiga anak kita kalo orangtuanya sampai bercerai apalagi sama anak dalam kandunganku ini”. Kataku sambil mengusap-usap perutku dan menatap tajam ke arah suamiku.

“Jangan ceraikan aku Ningrum, aku masih sangat mencintaimu”. Kata suamiku lalu bangkit memelukku dengan erat.

“Apa buktinya kalo kamu mencintaiku? Buktinya kamu malah selingkuh sama orang lain!”. Balasku melepaskan pelukannya dan kembali menatapnya dengan tajam.

“Aku akan meninggalkan Ratih secepatnya dan kembali menjadi suami dan ayah yang baik untuk ketiga anak kita dan juga calon anak dalam kandunganmu ini, Oh nak maafkan Ayah ya, mulai sekarang Ayah akan menjagamu sampai kamu lahir nanti CUPP”. Janji suamiku sambil mengelus perutku dan mencium bayi di dalam kandunganku ini.

Melihat tingkahnya seperti itu, tak terasa air mataku tumpah dan kami berpelukan saat itu. Ya setelah sekian lama akhirnya kami kembali berpelukan mesra sebagai suami istri. Rasa cintaku yang hampir padam padanya akhirnya mulai menyala kembali. Namun satu hal yang suamiku tidak tahu. Anak dalam kandunganku ini sebenarnya adalah anaknya Eko dan bukan anak dari benihnya.

Setelah itu bisa ditebak. Aku dan suamiku kembali berhubungan intim dengan panas. Ya inilah yang disebut dengan_make up__sex_yaitu seks setelah bertengkar. Aku menikmati permainan ini dengan luar biasa dan suamiku juga seperti melakukan ini sebagai bentuk permintaan maafnya padaku. Ya aku akhirnya berhasil mencapai orgasme berkali-kali sedangkan suamiku menyirami janinku dengan spermanya sebanyak 3 kali. Akhirnya kami pun tertidur kelelahan sambil berpelukan telanjang.

Keesokan harinya ketika bangun, suamiku memberiku hadiah ciuman di bibir dan kembali mengelus perutku dan menempelkan telinganya pada perutku. Aku sambil tersenyum berkata bahwa usianya baru satu bulan jadi belum terasa pergerakan janinnya. Namun suamiku tidak peduli. Dia berharap bahwa anak ini akan lahir dengan jenis kelamin laki-laki supaya bisa genap 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki dalam keluarga kami.

Pagi harinya kami berlima sarapan bersama. Aku merasakan bahwa hubungan keluarga kami kembali utuh dan akrab. Pagi itu kami bercengkrama layaknya keluarga pada umumnya. Suamiku memuji Eko karena sudah berhasil membeli mobil dan meminta agar mau mengantarkan Ibunya yang sedang hamil ini ke dokter kandungan jika Ayahnya sedang berhalangan.

Eko pun langsung menyanggupinya dengan tegas. Kedua putriku Fitri dan Nia juga senang akan kehadiran adik baru, dan menyatakan akan berbagi tugas denganku di rumah karena mereka tahu jika nanti aku sudah hamil besar maka akan kesulitan mengerjakan tugas rumah sendirian maka dari itu mereka mau membantu untuk meringankan beban tugasku di rumah.

Bulan demi bulan berjalan tidak terasa perutku sudah semakin membesar dan jalanku sudah mulai kepayahan. Ya aku sudah tidak sanggup lagi mengerjakan tugas-tugas rumah seperti sewaktu belum hamil dulu, ditambah usiaku yang sudah menjelang 46 tahun ini membuatku agak malas untuk beraktifitas. Untung saja ketiga anakku dan suamiku begitu perhatian terhadap Ibunya ini.

mereka mau menggantikan tugasku untuk mengurus rumah dan warung dan mengantarkanku untuk kontrol ke dokter kandungan. Aku pun membatasi “jatah seks” untuk Eko dan suamiku, syukurnya mereka mau mengerti dengan keadaanku walaupun terkadang aku terpaksa melayani mereka karena kasihan melihat mereka menahan nafsu seks.

Sebulan kemudian akhirnya tepat di usia ke 46 tahun aku kembali melahirkan. sesuai dengan saran dokter diawal kehamilanku, aku melakukannya secara Caesar mengingat usiaku yang sudah tidak muda lagi. Awalnya suamiku agak takut karena biaya operasi Caesar biasanya tergolong mahal namun akhirnya setelah berembuk dengan Eko akhirnya mereka berdua patungan untuk membiayai biaya operasiku.

Setelah melahirkan ternyata bayi yang keluar adalah laki-laki. Kami sekeluarga sangat senang sekali karena sekarang jumlah laki-laki dan perempuan menjadi berimbang dalam keluarga kami yaitu 3 laki-laki dan 3 perempuan. Kami pun berembuk dan sepakat menamainya dengan panggilan Arya. Terlihat si kecil Arya sangat mirip dengan Eko yang sejatinya adalah “kakak sekaligus Ayahnya”.

Ya akhirnya keluarga kami kembali utuh karena kehadiran Arya. Suamiku begitu menyayangi anak ini dan selalu memperhatikannya dengan agak berlebihan. Lain halnya dengan kedua putriku Fitri dan Nia, mereka sudah seperti Asisten bagiku dalam menjaga dan merawat Arya, namun karena tahun ini Nia lulus SMA dan kuliah di luar kota, praktis hanya Fitri dan Aku yang merawat Arya sedangkan Nia hanya datang di saat dia libur kuliah.

Begitulah keluarga kami, walaupun sempat ada masalah kegaduhan namun akhirnya kami bersatu kembali menjadi keluarga yang bahagia. Aku pun berterima kasih pada Eko, jika tidak karena ia menghamiliku mungkin saja aku sudah bercerai dengan Ayahnya. “Eko terima kasih ya, benih-benih spermamu sudah berhasil menyelamatkan pernikahan Ayah dan Ibumu ini, dan juga terima kasih Arya kamu telah hadir di saat yang tepat untuk melengkapi kebahagiaan kami dan menghapus luka batin diantara Ayah dan Ibumu”.

Sekian dan terima kasih.

© 2022 - CeritaSeru.xyz