November 01, 2020
Penulis — yakuza58

Memaksa Mama Eksib

“Lantai ruang tamu jangan lupa dipel,” ujar Mama. “Lebaran tahun kemarin lantainya kurang bersih tuh.”

“Baik Ma,” kataku sambil membawa ember berisi air dan kain pel. Mama memang cerewet, mendekati hari Lebaran gini cerewetnya semakin menjadi-jadi.

Kuperas kain pel sampai setengah kering, lalu kuhempaskan ke lantai. Kugosok lantai sampai bersih berkilau. Kurasa pekerjaanku sempurna, tapi entah kenapa selalu ada kurangnya di mata Mama.

Satu jam kemudian, aku sudah mengepel seluruh lantai ruang tamu. Lantainya yang mengilap membuatku yakin Mama tidak akan mengomel lagi.

“Bagian itu masih belum bersih tuh!” seru Mama. Aku hampir melompat karena kaget. Barangkali Mama dulu pernah belajar jadi ninja karena bisa muncul di mana saja tanpa ketahuan.

“Belum bersih dimananya?” tanyaku. “Mama bahkan bisa ngaca di situ.”

“Masih burem gitu,” kata Mama. “Nih lihat cara Mama ngepel.”

Mama mengambil kain basah, memerasnya, lalu menempelkannya ke lantai yang menurutnya masih buram. Ia jelas lebih pandai membersihkan lantai karena dalam beberapa kali gerakan, lantai yang menurutku sudah bersih jadi semakin bersih.

Aku melongo melihat Mama. Bukan karena kagum dengan teknik membersihkan lantai dari Mama, tapi karena pantat Mama yang terpampang jelas di depanku. Mungkin karena ia terlalu bersemangat membersihkan lantai, Mama terlalu menundukkan badan sampai pantatnya menungging tinggi. Bagian bawah dasternya terlipat sampai melewati bagian atas pantatnya.

Pantat Mama yang padat terlihat bergoyang-goyang setiap kali Mama bergerak. Kudekatkan wajahku hingga berjarak beberapa senti dari anus dan memeknya. Ugh, ingin sekali kutempelkan wajahku tepat di belahan pantatnya itu!

“Kamu denger gak apa yang Mama bilang?” pertanyaan Mama membuatku cepat-cepat menjauhkan wajah dari pantatnya. Untung saja dia tidak menyadari kelakukanku.

“De-denger kok,” kataku.

“Ya ini lebih bersih dari tahun kemarin. Kamu istirahat aja dulu, Mama mau masak buat buka puasa nanti.” Mama menyemplungkan kain pel ke ember, lalu berjalan menuju dapur.

Aku menghela napas lega. Kalau dia menoleh sedikit saja, pasti ketahuanlah kelakuanku! Tapi kok bisa-bisanya aku tertarik sama pantat Mama?

Perasaan aneh itu menggangguku seharian. Aku jadi sulit konsentrasi. Kucoba menenangkan pikiran dengan menonton Youtube, membaca twitwar di Twitter, dan melihat foto cewek-cewek cantik di Instagram, tapi pikiranku terus menampilkan pantat Mama.

“Memangnya gak boleh nafsu sama ibu sendiri?” pikirku. Akal sehatku mengatakan itu tidak boleh, tapi kontolku berkata lain. Melihat Mama lewat saja sudah membuat batang kontolku mengeras.

Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja, terutama saat bertemu Mama. Ketika buka puasa, aku menanggapi obrolan kedua orangtuaku seperti biasa meskipun kontolku terus berdiri tegak karena mataku selalu mencuri-curi pandang ke arah teteknya yang menggembung di balik daster atau ke pantatnya.

Usai buka puasa, Ayah izin pergi sholat di masjid, sedangkan aku memilih di rumah saja karena harus membantu Mama membersihkan peralatan makan. Mama berulang kali membahas soal kegiatan di sekolah selama puasa dan semuanya cuma aku iyakan. Aku tidak peduli dengan topik itu karena dipikiranku cuma bagaimana cara bisa melihat pantatnya lagi.

“Oke Mama mau wudhu dulu,” ujar Mama setelah mencuci piring terakhir. Ia masuk ke kamar mandi, lalu menyalakan keran air.

Aku menunggu giliran wudhu sambil menonton Youtube di dapur. Keinginan untuk melihat pantatnya lagi aku kesampingkan dulu sebentar. Barangkali ini bukan saatnya.

Tiba-tiba lampu mati. Kudengar Mama menjerit histeris dari kamar mandi. Beliau memang kagetan dan sangat takut kegelapan.

“Cepetan bawa lilin atau senter!” seru Mama. “Mama baru selesai kencing sudah mati lampu aja.”

Kunyalakan lampu di handphone, lalu kudekati Mama di kamar mandi. “Mama jangan gerak dulu, banyak paku tajam di dekat pintu.”

“Iyee… makanya cepetan keluarin Mama dari sini,” ujar Mama.

Terdengar gerendel pintu tergeser, lalu pintu pun terbuka. Apa yang kulihat membuatku melongo seperti sebelumnya. Setelah buang air kecil, Mama rupanya belum sempat memakai celananya kembali. Ia berdiri setengah jongkok di atas kakus, sedangkan tangan kirinya berpegangan di dinding agar tidak jatuh.

“Nak, kamu sudah di belakang? Ambilin kacamata Mama dulu di kotak sabun” ujarnya.

Aku baru ingat kalau penglihatan Mama sangat buruk, apalagi di kegelapan. Ingatan itu membuat pikiran jahatku semakin bergerilya.

Aku tidak menjawab Mama. Kutundukkan kepalaku sampai sejajar dengan memeknya. Kulihat bulu jembutnya masih basah oleh air kencing yang belum tuntas. Kontolku yang sempat tertidur langsung tegang kembali.

Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kumatikan lampu di handphone agar Mama tidak menyadari kehadiranku. Sebenarnya pencahayaan dari lampu jalan yang menerobos masuk ke dalam sudah cukup untuk melihat Mama, tapi tentu itu tidak cukup bagi Mama untuk melihatku.

Kuarahkan kamera handphone ke arah pantat Mama. Kuambil foto sebanyak mungkin, lalu gantian kufoto memeknya yang masih basah. Ah, lumayanlah buat bahan coli.

Setelah mengambil foto sebanyak mungkin, barulah kuambil kacamata Mama. Beliau langsung memakainya.

“Nah begini kan enakan,” ujarnya. “Ayo kamu keluar dulu, Mama mau pakai celana.”

Rupanya kulkas di rumah korslet sehingga listrik di rumah kami mati. Ayah langsung memperbaikinya begitu sampai di rumah, sedangkan aku langsung lari ke kamar untuk melihat hasil foto yang kubuat.

“Ooooh!” aku berseru kegirangan karena foto-foto itu cukup jelas meski minim pencahayaan. Anus dan memek Mama terlihat jelas, beberapa bahkan menunjukkan wajah Mama yang matanya menyipit.

Aku sampai coli empat kali sambil melihat foto-foto yang kuhasilkan. Belum pernah aku coli senikmat ini dengan bermodalkan foto atau video cewek lain. Mamaku sendiri ternyata bahan coli terbaik!

Saat melihat foto yang menampilkan wajah Mama, mendadak sebuah ide yang lebih jahat melintas di benakku.

Bagaimana kalau…

Hehehehe…

Besok ada haro terakhir puasa. Rumah sudah dibersihkan, tinggal urusan masak-masak untuk Lebaran yang belum selesai. Ayah lagi pergi ke pasar untuk mencari ayam kampung, tinggal aku dan Mama di rumah.

“Mama lagi sibuk?” tanyaku sambil mengintip ke dapur. “Ada yang mau kuomongin.”

“Bentar ya, Mama lagi motongin bumbu,” kata Mama.

“Ini penting, Ma,” kataku bersikeras.

“Oke deh,” Mama mencuci pisaunya di wastafel. “Kamu mau ngomong apa?”

“Mama tahu gak ini siapa?” tanyaku sambil menunjukkan layar handphone.

Mama membetulkan letak kacamatanya. “Ini kan foto memek… ini foto Mama?!”

Badannya bergetar karena kaget.

“Kapan kamu ambil foto itu?” tanya Mama.

“Kemarin pas mati lampu. Masa Mama lupa,” kataku.

“Ngapain kamu fotoin memek Mama? Kamu masih kecil sudah bandel ya!” serunya.

“Loh aku memang bandel, Mama sama Ayah saja yang gak tahu,” jawabku santai. “Aku cuma mau bilang kalau foto sebagus ini kayaknya sayang kalau disimpan sendirian. Gimana kalau saudara-saudara yang lain lihat?”

Badan Mama semakin bergetar karena marah. “Ya jangan disebarin ke keluarga! Kamu mau Mama malu?!”

“Aku janji gak bakal sebarin ini ke grup keluarga besar…” kataku. “… asalkan Mama mau nurutin semua apa yang aku mau.”

“Gila kamu!” seru Mama. “Ayah harus tahu kelakuanmu!”

“Coba aja bilang,” kataku. “Foto-foto ini langsung kusebarin ke grup WA keluarga.”

Tahu-tahu tubuh Mama ambruk ke lantai.

“O-oke kalau itu maumu,” kata Mama. “Mama pasti ngelakuin apa yang kamu mau, tapi jangan sebarin foto itu ke grup keluarga.”

“Aku janji Ma. Aku janji,” kataku meyakinkan.

“Jadi kamu mau Mama ngelakuin apa?”

Mendengar itu membuat darah di kepalaku mendidih. Rencanaku berhasil!

“Sekarang aku mau Mama lepas celana,” kataku. “Ayo cepat.”

Mama mengumpulkan tenaga sebentar, lalu bangkit berdiri. Diraihnya karet sempak yang mengikat pinggangnya, lalu diturunkan sampai ke mata kaki.

“Sekarang menungging sambil terus memotong sayur,” kataku. “Besok ‘kan Lebaran. Mama gak boleh buang-buang waktu.”

Mama mematuhi perintahuku. Ia berdiri ke arah wastafel, lalu meneruskan memotong bumbu dan sayur yang sempat tertunda. Pantatnya ditunggingkan sampai pinggangnya melengkung.

“Ah, Mama ini sebenarnya binal,” gumamku saat melihat lengkungan indahnya.

Aku harus bertindak cepat sebelum Ayah pulang. Kuturunkan celanaku beserta sempaknya. Kontolku sudah berdiri tegak siap menerobos ke lubang memek siapa pun. Kuludahi tanganku, lalu kuoles ke batang dan kontolku sampai licin.

“Mama siap?”

“Eh siap apa?”

Aku langsung menghujam batang kontolku ke memek Mama. Serangan tiba-tiba itu membuat tubuh Mama mengejang sampai pisau yang dipegangnya jatuh ke lantai.

“Anak durhaka! Masa kamu ngentot ibu kandungmu sendiri?” seru Mama.

Aku tidak menanggapinya dan terus memompa memeknya. Omelan Mama tergantikan pekikan saat batang kontolku yang kian membesar semakin menggesek-gesek bibir memeknya.

“Aduh!”

Memek Mama tidak selonggar yang aku kira. Mungkin karena ia baru melahirkan anak satu dan jarang bersetubuh lagi dengan Ayah sehingga memeknya terasa agak sempit. Namun, sempitnya itu malah membuat batang kontolku terus ereksi tanpa henti.

“Oh Mama, memek seenak ini harusnya aku pakai dari dulu!” kataku.

Kedua tangan Mama mencengkram erat-erat pinggiran wastafel. Keningnya bercucuran keringat sampai menetes di ujung dagu. Kedua matanya terpejam; entah karena menikmati, kesakitan, atau malah keduanya.

Kepalaku sampai pusing karena terlalu menikmati dinding-dinding memeknya yang licin dan hangat. Aku tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai ibu kandungku. Aku menganggapnya tidak lebih dari budak seks yang bisa disuruh-suruh kapan pun aku mau.

Batang kontolku semakin mengeras dan rasanya seperti mau meledak. Aku tidak tahan lagi. Kusemprotkan seluruh pejuhku ke dalam memek Mama.

“Aaaaah!” aku berseru lega.

Kucabut batang kontolku dari memeknya. Aku terlalu banyak menyemprotkan pejuh sampai-sampai bibir memeknya belepotan.

“Anak sialan,” rintih Mama. Badannya mendadak lemas, tapi ia masih mencengkram pinggiran wastafel.

Aku terduduk di lantai. Seluruh tenagaku terkuras habis. Ini beda dengan coli; yang ini lebih menggairahkan, seru, dan menegangkan.

“Mulai sekarang…” kataku sambil berusaha bangkit. “… Mama harus nunjukin pantat, memek, dan tetek Mama setiap hari. Mama cuma boleh tertutup rapat kalau ada Ayah. Mengerti?”

Mama mengangguk. Aku bersiul senang. “Gitu dong. Tenang, gak bakal ada masalah deh.”

Selesai membersihkan badan, Ayah menelepon kalau dia akan mencari ayam ke kampung sebelah karena ayam di kampungku sudah habis. Dia akan pulang dua atau tiga jam lagi.

Nasibku benar-benar beruntung kali ini! Ini saat yang tepat untuk melatih Mama.

“Ayah bilang kalau dia mau cari ayam di kampung sebelah. Mungkin dia pulang tiga jam lagi,” kataku.

Mama cuma diam. Jelas dia masih marah kepadaku.

“Ayo ganti baju Mama dengan kaos ini,” kataku sambil melempar sehelai kaus merah ke Mama.

Mama mengamati kaus merah yang kuberikan. “Inikan kaus tiga tahun lalu. Udah kekecilan.”

“Justru itu Mama harus pakai,” kataku. “Oiya, lepas beha Mama. Pentil Mama harus nyemplak di kaos itu.”

Mama pun mengganti dasternya dengan kaus kekecilan itu. Kaus itu memang kecil, tapi terbuat dari bahan karet sehingga masih bisa dikenakan. Kontolku menegang lagi saat melihat tubuh Mama yang montok terbungkus kaus ketat yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya.

“Mama wajib pakai kaos itu tiap kali Ayah gak ada di rumah. Ngerti ‘kan?”

Mama mengangguk.

Di pikiranku sudah terbayang tugas-tugas yang harus dikerjakan Mama. Enaknya dia disuruh apa ya?

© 2022 - CeritaSeru.xyz