November 03, 2020
Penulis — yakuza58

Asiknya Mengerjai Mama

“Rasanya ngentot cewek itu gimana ya?” gumam Budi.

Aku yang sedari tadi fokus mendengarkan pelajaran langsung kaget. “Woi waktunya belajar. Bukannya mikir gituan.”

“Tapi gue susah konsen kalau udah mikir gituan,” ujarnya. “Gue bosan coli. Pengen ngerasain memek cewek beneran.”

“Cewek seperti apa yang loe mau?” tanyaku. Untunglah kami duduk di bangku paling belakang sehingga Bu Endah tidak mendengar pembicaraan kami.

Budi menunjuk ke Bu Endah. “Kurang lebih kayak Bu Endah ini. Toketnya gede, pantatnya semok pula.”

“Tapi dia sudah empat puluhan,” kataku.

“Malah bagus,” ujar Budi. “Gue suka yang matang-matang. Yang udah berumur gitu toketnya lebih besar dan nakal.”

Kuakui kalau Bu Endah memang menarik. Meski ia mengenakan jilbab dan seragam guru yang tertutup rapat, tapi itu tidak menutupi lekuk tubuhnya. Kadang-kadang aku pun membayangkan Bu Endah mengajar di kelas kami sambil telanjang seperti di film bokep jepang. Kadang-kadang…

“Mungkin ini aneh, tapi gue seringkali ngintip mama gue sendiri,” kata Budi.

Pulpenku sampai terjatuh.

“Mama kamu sendiri?” aku tak percaya. “Kurangin pikiran cabulmu. Masa ngintip mama sendiri.”

“Tapi coba deh bayangin…” Budi menegakkan badan. “Mama gue setiap hari cuma di rumah pakai daster pendek. Kakinya suka ngangkang-ngangkang kalau tidur. Sering juga ganti baju di depan gue seolah gue gak ada. Kalau tiap hari loe ngelihat toket dan memek mama loe, gue yakin loe bakal nafsu juga.”

Wajahku memerah. Budi melihat perubahan wajahku.

“Jangan-jangan loe juga doyan sama mama loe sendiri? Ngaku aja, gak apa-apa kok.”

Aku menghela napas. “Mama gue memang cantik, tapi gue gak sampai ngintipin kayak loe.”

“Sayang sekali, padahal mama loe itu lebih seksi ketimbang mama gue,” ujar Budi. “Toket mama loe kelihatannya gede tuh. Loe gak mau lihat pentilnya?”

“Cukup. Gue gak mau denger loe ngomongin mama gue.”

“Bayangin nih kalau mama loe ngabulin semua permintaan loe, apa yang bakal loe minta?”

Aku memejamkan mata. Pertanyaan Budi menganggu pikiranku.

“Gue pengen mama potongin semua dasternya sependek mungkin, kira-kira di bawah toketnya. Biar gue bisa lihat memeknya tiap hari.”

Budi terkekeh. “Nah loh, loe naksir mama loe juga kan. Akui saja kalau yang matang-matang lebih menarik.”

“Tapi gue gak pernah sampai ngintip mama. Gue cuma ambil kesempatan doang.”

“Kesempatan gimana?”

“Misalnya, kalau mama lagi motong ikan. Dia pasti motongnya sambil jongkok di lantai tuh. Nah, gue biasanya suka duduk di depannya sambil ngajak mama ngobrol. Kadang-kadang gue bisa ngelihat memeknya, tapi paling sering ya cuma sempaknya doang sih.”

“Anjir cadas juga loe,” ujar Budi. “Aih pasti mama loe enak juga dikentot. Tapi itu kayaknya gak mungkin ya.”

Pembicaraan itu berhenti karena Bu Endah memberi kami tugas yang harus dikerjakan sebelum pulang. Aku tidak sanggup berkonsetrasi karena memikirkan kata-kata Budi. Ah dasar sahabat jahanam.

Kami pulang sambil jalan kaki karena rumah kami berada di satu jalur. Sambil berjalan, kami sesekali membicarakan ibu-ibu yang lewat. Kami hampir mengenal semua nama mereka karena kampung kami cukup kecil. Apa yang kami bicarakan tidak jauh-jauh dari urusan toket dan selangkangan.

“Coba lihat itu Ibu Aminah,” bisik Budi sambil menunjuk ke seorang wanita yang sedang menjemur pakaian. “Gue denger, suaminya sering melaut berbulan-bulan. Gue yakin kalau digoda dikit, gue pasti bisa ngentot dia.”

Ibu Aminah melambaikan tangan ke arah kami. Kami pun membalasnya dengan canggung.

Seorang wanita mengenakan topi camping tampang berjalan di depan kami sambil membawa sekeranjang jagung di pundak.

“Ibu Nur oke juga,” kataku. “Gue pernah ngebantuin dia ngumpulin jagung-jagungnya yang jatuh ke jalan. Pas dia lagi menunduk-nunduk ngumping jagung, teteknya keluar dong dari kerah kaosnya. Teteknya masih kencang dan pentilnya cokelat tua. Bangsat, gue langsung ngaceng.”

“Wah lain kali gue sering ngebantuin dia juga ah, siapa tahu hoki,” ujar Budi.

Rumah-rumah di kampung kami letaknya saling berjauhan dan biasanya dibatasi oleh perkebunan atau tanah lapang. Rumah Budi masih jauh ke depan, sementara rumahku sudah hampir dekat.

Aku melihat sesuatu yang aneh di kejauhan, tepatnya di pagar rumahku. Sesuatu itu tampak seperti kaki yang bergerak-gerak. Aku harus lebih dekat lagi untuk memastikannya. Kuajak Budi untuk mempercepat jalan.

Kami terkejut saat mengetahui ternyata itu benar-benar sepasang kaki dan lebih terkejut lagi karena pemilik kedua kaki itu adalah Mama. Entah bagaimana caranya, tubuhnya terjepit di pagar kayu dalam keadaan menelungkup. Bagian bawah tubuhnya berada di luar, sementara tubuh bagian atasnya berada di halaman rumah.

“Mama!” teriakku. Aku masuk ke halaman rumah, lalu menepuk kedua pipinya. “Mama! Bangun Ma!”

Kedua matanya terbuka sedikit. “Eh? Mama di mana ini?”

Aku menghela napas lega. Setidaknya Mama sudah siuman. “Kok bisa-bisanya badan Mama terjepit pagar.”

“Terjepit pagar?” Mama berusaha mengingat-ingat. “Oh iya, Mama tadi lagi perbaikin pagar. Tahu-tahu Mama dengar suara patah, terus gelap.”

“Mama jangan bergerak dulu ya, aku sama Budi mau ngeluarin Mama,” kataku. “Ayo Bud, kita tarik kaki Mama.”

Budi memegang kedua pergelangan kaki Mama, sementara aku memegang pinggangnya.

“Satu… dua… tiga. Tarik!”

Kami berusaha menarik sekeras mungkin. Bukannya tertarik keluar, Mama malah teriak kesakitan. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Kuintip ke sebelah untuk tahu apa yang membuat tubuhnya sulit ditarik. Ternyata tetek Mama yang besar mengganjal di tengah-tengah pagar. Pantan saja dia berteriak kesakitan.

“Yah, mau gak mau kita hancurin kayu di sebelahnya,” kataku.

“Sssst… coba lihat,” kata Budi. Tangan menunjuk ke Mama.

Mataku mendelik saat melihat apa yang ditunjuknya. Daster Mama tersibak sampai melewati bagian atas pantatnya. Aku bisa melihat bongkahan pantat Mama yang tampak menggembung di balik sempak ungu ketat.

Aku menelan ludah. “Wow.”

“Tidak bisakah kita… menyentuhnya?” ujar Budi. Matanya tidak lepas menatap pantat Mama.

“Mu-mungkin boleh sebentar,” bisikku.

Budi menempelkan telapak tangannya ke pantat Mama, lalu mengusapnya.

“Halus bener,” bisiknya.

Aku ikut mengusapkan telapak tanganku ke pantat Mama. “Wah, kamu bener.”

“Kalian lagi apa?” tanya Mama. “Benerin baju Mama dong. Nanti pantat Mama keliatan orang.”

“Eh iya, sebentar Ma,” kataku.

“Coba kita pelorotin sempaknya,” bisik Budi.

“Gile loe. Kalau dia teriak terus kedengeran orang gimana?”

Budi menggelengkan kepala. “Memangnya loe baru lahir kemarin? Jam segini orang-orang pada ke kebun semua. Kagak bakal ada yang denger Mama teriak.”

“Tapi…”

“Ini kesempatan loe buat ngelihat memek Mama loe. Masa loe udah puas cuma ngintip doang.”

Bajingan itu benar-benar merasuki pikiranku. Tanpa sadar, tanganku sudah meraih karet sempak mama, lalu kutarik sampai lepas melewati ujung kakinya.

“Eh kamu ngapain Nak!” teriak Mama. “Sempak Mama jangan dilepas gitu!”

“Ini semua salah Mama,” kataku. “Salah Mama kenapa jarang pakai sempak di rumah. Mama sengaja pamer begitu kah? Salah Mama bikin aku jadi nafsu sama Mama.”

“Nak!” Mama meronta-ronta, tapi kayu pagar yang menjepit Mama tampak kokoh tak bergeming.

Aku sudah tidak peduli dengan konsekuensi nanti, yang aku rasakan cuma ingin mengentotnya.

“Coba buka anusnya,” kata Budi. “Biar gue yang rekam. Ini kejadian langka, jangan disia-siakan.”

Kupegang bongkahan pantat Mama, lalu kulebarkan. Terlihatlah lubang kecil agak kehitaman yang ditumbuhi jembut di kiri dan kanan. Kontolku yang dari tadi tegak berdiri, kini mengerang tidak karuan.

“Mantap!” seru Budi kegirangan. “Sekarang buka memeknya.”

Memek Mama terasa hangat saat dua jari telunjukku masuk ke dalam dan membukanya. Bulu jembutnya lebih tebal di bagian memek dan menggelitik kedua telapak tanganku.

“Ough Mama, aku sudah gak tahan!”

Kulepas celana sekolahku dan kontolku yang dari tadi sesak di celana langsung berdiri tegak bebas. Lubang kontolku mengeluarkan cairan bening, tanda siap bertempur.

“Anjir, loe mau ngentot Mama loe? Loe kentot memeknya, gue kentot mulutnya. Boleh ya?” pinta Budi.

“Silakan,” kataku.

Budi langsung lari ke halaman, lalu membuka celananya. Mama menatap kontol Budi yang berdiri tegak di depannya.

“Ini namanya pemerkosaan!” teriak Mama. “Kamu mau memperkosa ibu kamu sendiri?”

Aku sudah tidak peduli. Kuhujam kepala kontolku ke anus Mama. Ini permulaan yang bagus sebelum masuk ke memeknya. Mama berteriak kesakitan.

“Ampun Nak!”

Kontolku agak sakit saat menerobos masuk ke anus Mama yang sempit. Begitu berhasil masuk setengah batang, kontolku jadi semakin membesar dan Mama semakin berteriak.

“Jangan digerakin. Sakit!”

“Berisik! Dasar lonte!” teriakku. Kutampar pantatnya keras-keras. “Cepetan masukin kontol loe ke mulutnya biar dia diam!”

“Oke boss!” seru Budi. Rahang Mama dicengkramnya, lalu ditarik ke bawah agar terbuka. “Mulut Bibi pasti gak pernah ngerasain kontol kan? Sekarang coba ini!”

“Hmmph!” Mama hampir tersedak ludahnya sendiri saat kontol Budi masuk ke mulutnya. Budi keenakan sampai memejamkan mata. “Jadi gini rasanya disepong,” gumamnya.

Meski sempit, kupaksa pinggangku untuk bergerak maju mundur. Awalnya memang sulit, tapi beberapa menit kemudian kontolku bisa lancar bergerak maju mundur.

“Oh Mama, pantatmu enak banget!” aku mengerang keenakan.

Mama tidak berteriak karena mulutnya disumpal kontol Budi. Namun, dari suara napasnya yang menggebu-gebu, aku bisa merasakan ketegangan dan ketakutannya.

Gesekan-gesekan di anus Mama membuat kontolku semakin tegang dan rasanya seperti meledak. Aku tidak sanggup menahannya lagi.

“Aaaaah!”

Aku merasa lega luar biasa. Kucabut kontolku dari anus Mama. Bibir anusnya belepotan cairan putih kental.

Meski sudah memuntahkan sperma, kontolku masih berdiri tegak. Sekarang saatnya ke hidangan utama.

Kontolku yang masih berlumuran sperma langsung kumasukkan ke dalam memek Mama. Memeknya lebih longgar daripada anus sehingga kontolku bisa masuk lebih lancar.

Aku tertawa saat menyadari memek Mama ternyata becek. “Dasar lonte, diperkosa gini malah becek.”

Kontolku membesar lagi. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Kugerakkan pinggangku maju mundur seperti yang aku lakukan saat menikmati anus Mama. Pinggang Mama kupegang erat-erat sampai meninggalkan jejak jari merah.

“Ayo goyangin pantatmu, lonte! Jangan diem aja!” seruku sambil menampar pantatnya.

Awalnya Mama tidak mau menggoyangkan pantatnya. Namun, lama-lama ia mulai menggerakkan pantatnya naik dan turun. Mulanya pelan saja, lalu jadi semakin kencang.

“Nah gitu dong!” aku jadi semakin bersemangat.

Untuk pertama kalinya aku baru tahu kalau memek wanita bisa sehangat dan selicin ini. Memeknya memang tidak sesempit anus, tapi lebih mudah dinikmati. Pikiranku sampai mengawang-ngawang tidak karuan.

Sepuluh menit kemudian, spermaku bermuncratan keluar untuk yang kedua kali. Cairannya sampai menetes-netes di bibir memek Mama.

Di saat yang sama, Budi sudah selesai memakai mulut Mama.

“Jangan diludahin!” perintah Budi. “Telan semua!”

Mama menggeleng. Budi menampar pipi Mama. “Telan!”

Mama menundukkan kepala, lalu menelan semua sperma di mulutnya. Budi mengelus rambut Mama. “Begitu dong. Bibi memang yang terbaik.”

“Loe gak mau coba memeknya?” kataku.

“Pengen sih, tapi gue mau istirahat dulu,” kata Budi.

“Yah payah loe. Masa cuma keluar sekali doang,” ejekku. “Gue keluar dua kali di anus sama memeknya.”

“Loe maniak seks sebenernya. Cuma loe tahan-tahan aja.”

“Enaknya sekarang kita apain Mama ya?” aku mencari ide. “Gue pengen coba mulutnya juga, tapi gue capek.”

“Lihat deh, tetek Mama loe menggantung kayak tetek sapi,” kata Budi.

Perut Mama tertahan pondasi semen di bawah, sehingga tubuhnya tidak sepenuhnya menyentuh tanah. Kedua teteknya bergelantungan keluar sampai pentilnya hampir menyentuh tanah. Kalau dilihat-lihat memang seperti sapi perah.

“Kita coba perah yuk, siapa tahu ada susunya,” kataku.

Aku jongkok di sebelah Mama. Kujepit kedua pentilnya dengan jari telunjuk dan jempol, lalu kutarik-tarik seperti memerah sapi.

“Sa-sakit Nak…” suara Mama terdengar lirih. Jelas ia kecapekan dan kesakitan.

Pentilnya mengeras dan teteknya semakin kencang. Aku takjub melihat perubahan itu.

“Wah, Mama doyan juga pentilnya ditarik-tarik begini? Ngomong dong dari dulu.”

“Mama loe jangan dilepasin dulu dong. Gue mau istirahat bentar abis itu mau pakai pantatnya,” pinta Budi. Ia ikut duduk di sebelah Mama sambil menarik-narik pentilnya.

“Mama gue dipakai mulu. Mama loe tuh memeknya nganggur,” kataku.

“Ya ya, nanti deh ibu gue kita coba,” ujar Budi.

Sebuah ide jahat melintas di benakku.

“Mumpung loe lagi istirahat. Gue ada ide,” kataku. Kubisikkan ide itu ke Budi. Ia menatapku tidak percaya.

“Loe serius mau gituin Mama loe? Wah cadas bener loe.”

Mama menatap kami berdua. “Ja-jangan…”

“Ah lonte, diem aja loe,” kataku. “Yuk kita kerjain.”

Kedua tangan Mama kami letakkan di belakang badannya, lalu kami ikat dengan lakban hitam. Mulutnya juga kami tutup dengan lakban. Kedua kakinya kami lebarkan sehingga anus dan memeknya melebar. Mama kuancam bakal kena tampar kalau berani menutup kakinya.

Baju Mama yang awut-awutan kami gunting sehingga Mama telanjang bulat. Tampaknya sampai beberapa hari ke depan, Mama tidak perlu memakai baju lagi.

Budi mengambil spidol hitam dari ranselnya, lalu menyerahkannya padaku.

“Loe aja deh yang tulis. Dia kan Mama loe.”

Kurebut spidol dari tangan Budi, lalu kutulis besar-besar di atas pantat Mama.

NGENTOT GRATIS

Usai menulis, kudekati wajah Mama. “Jangan bilang kami pelakunya kalau ada yang nanya siapa yang memperkosa Mama,” kataku.

“Ada bapak-bapak mau lewat sini,” kata Budi. “Yuk kita sembunyi di sana. Coba kita lihat apa reaksinya kalau ngelihat Mama.”

Kami berlari ke pagar samping rumah yang tertutup rapat. Di kejauhan terlihat bayang-bayang segerombolan pria yang tampaknya mau pulang untuk beristirahat.

Jantungku berdegup kencang ketika bayang-bayang itu semakin jelas. Salah seorang dari mereka tampaknya menyadari ada Mama yang terjepit pagar.

“Eh bukannya itu Bu Ida? Kenapa tuh dia?” kata pria tersebut.

Aku tertawa cekikikan. Mengerjai Mama ternyata seasik ini.

© 2022 - CeritaSeru.xyz