November 02, 2020
Penulis — ironcrot88

Bu Hajjah Tati

BU HAJJAH TATI

Sore itu Hajjah Tati baru saja sampai di muka rumahnya di sebuah perumahan di dareah Bekasi. Ia memang baru sebulan ini tepilih menjadi dekan di fakultas sastra di Universitas Islam di wilayah Bekasi itu, setelah sekitar 15 tahun pengabdiannya yang tak mengenal lelah di Universitas tersebut. Hari itu ia merasa lelah sekali setelah dua hari ini harus memimpin rapat panjang dan penuh perdebatan di kampus tempat ia mengajar.

Hajjah Tati harus memimpin sebuah rapat yang dilematis. Ia berjuang sendirian mempertahankan keputusannya untuk mengeluarkan dua orang mahasiswa yang minggu lalu tertangkap basah sedang memperkosa seorang mahasiswi juniornya yang berjilbab, bersama dengan 2 orang lelaki lainnya di dalam area kampus.

Semua dosen laki-laki peserta rapat, juga ketua serta wakil pengurus Yayasan pemilik Universitas tersebut, yang mana juga laki-laki, menginginkan Hajjah Tati membatalkan keputusan yang diambilnya tiga hari yang lalu itu. Dalam rapat panjang itu, Hajjah Tati bersikeras mempertahankan keputusannya. Ini dilakukannya bukan tanpa kompromi, ia merasa sudah berkompromi untuk tidak melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib, tetapi ia berkeras untuk tetap mengeluarkan kedua mahasiswa bejat itu.

Yang menjadikan sulitnya keputusan tersebut adalah Abdul, salah satu dari dua mahasiswa itu adalah keponakan dari Bp. Harun, pengusaha kaya d0natur (jadi d0natur HANYA melalui admin, BUKAN lewat staff lain) utama dari Yayasan tempat bernaungnya Universitas Islam tersebut. Sehingga pengurus Yayasan takut keputusan mengeluarkan Abdul, pamannya jadi berang dan menyetop aliran dana ke Yayasan.

Selain itu pengurus Yayasan juga merasa sudah berkompromi, dengan menyediakan uang tunai sebesar 200 juta kepada keluarga Nuraini serta menanggung semua biaya rumah sakti Nuraini, mahasiswi tingkat satu yang manis dan berjilbab itu, korban perkosaan “gang-bang” Abdul dan rekan2nya. Keluarga Nuraini adalah keluarga yang kurang mampu, sehingga uang sejumlah itu akan sangat berarti besar untuk mereka.

Tetapi sore itu, akhirnya Hajjah Tati berhasil mengalahkan semua argument lawan-lawan debatnya yang semuanya laki-laki itu dan tetap mempertahankan keputusannya mengeluarkan Abdul dan Santo dari Universitas tersebut.

Tepat ketika sampai dimuka rumahnya, supir bu Tati turun dan memencet bel di pintu pagar rumah bu Tati. Tiba-tiba dua orang kekar, keturunan Arab memukul dengan keras Miskun, sang sopir, sampai pingsan. Bu Tati menjerit histeris melihat adegan itu, belum sempat berpikir panjang, tiba-tiba pintu mobilnya dibuka kedua lelaki kekar itu dan mereka menarik paksa tubuh bu Tati, menggendongnya serta membawa masuk kedalam sebuah mobil van hitam besar yang sudah mengintai sejak lama.

Pintu langsung menutup dan mobil tersebut melaju kencang keluar dari perumahan itu. Kemudian 2 pria kekar tadi menutup kedua mata bu Hajjah Tati dengan kain sehingga ibu dekan nan lembut itu tidak bias melihat dibawa kemana dirinya. Bu Tati berteriak minta tolong, tapi Abdul langsung menampar wajah manis Bu Tati nan masih berhiaskan jilbabnya dengan keras.

Dalam keadaan mata tertutup ketat oleh kain, tangan-tangan langsung merabai tubuh Bu Tati, meremas dan membelai-belai teteknya. Ada yang merabai pahanya dan kemaluannya. Lalu mereka mulai melucuti pakaian Bu Tati. Abdul menarik sepatunya, dan melucuti gamis putih yang dipakainya. Santo menarik pakaian dalamnya yang tipis hingga robek dan menyusupkan tangannya ke dalam bh Bu Tati.

Bu Tati kaget setengah mati oleh suara itu. Suara yang pernah didengarnya siang tadi di kampus. Ya, suara itu adalah suara mahasiswa yang dikeluarkan oleh bu Tati, dekan fakultas sastra Universitas Islam Bekasi.

© 2022 - CeritaSeru.xyz