November 01, 2020
Penulis — Mekangkang

Pesugihan Gunung Kemukus

Chapter 1: Pesugihan Nikmat​

Perkenalkan namaku Bagas Saputra umurku 18 tahun dengan berat badan 55kg, baru saja aku lulus SMK sekarang aku bekerja sebagai kuli bangunan panggilan di kampungku.

Walaupun begitu, hati kecilku berkata, bagas kamu jangan sedih karna kamu adalah ninja warrior. Hehehe. Aku memiliki senjata laras panjang kira-kira 17cm dan cukub besar.

Keseharianku sekarang terbiasa dengan pekerjaan berat membuat tubuhku mulai berbentuk, kekar dan berotot.

Sebenarnya aku ingin seperti teman-temanku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, namun apa daya, kami hanyalah keluarga miskin, pekerjaan ayahku hanyalah petani dan ibuku hanya mengurus pekerjaan rumah tangga saja.

Suhendro nama ayahku, pria bertubuh kekar, berkumis tebal dan berumur sekitar 40 tahun.

Sedangkan ibuku bernama Indrayanti berumur 35 tahun, dengan berat badan kira-kira 48kg dengan toket rata-rata wanita ideal yaitu sekitar 34b setahuku, bokong ibuku semok dan lekuk tubuh seperti wanita muda yang masih seperti wanita duapuluhan tahun walaupun sudah memiliki satu anak tunggal yaitu aku.

Ayah dan ibuku menikah diusia muda karena dulunya dijodohkan.

Dahulu ayahku merupakan juragan tanah, namun karena kesialannya beliau tertipu oleh tetangganya. Tetangganya berniat menyediakan jasa perantara membeli rumah, namun uang hasil jual tanah ayahku dibawa kabur.

Alhasil keluarga kami sekarang menjadi miskin. Berbagai cara telah ayahku lakukan untuk menyambung hidup dengan berganti-ganti pekerjaan namun tetap saja keluarga kami menjadi miskin.

Itulah sebabnya aku pendidikanku harus terhenti dan pekerjaanku sekarang menjadi kuli bangunan.

Suatu hari saat ayahku pulang dari gunung, dia tiba-tiba mengatakan kepadaku “aku dapat wangsit dari jin penunggu watu kumpul”, perlu diketahui “watu kumpul” yang ayah sebutkan tersebut adalah kumpulan batu besar di dalam hutan yang membentuk seperti gua dan mengalir sungai di dalamnya dan itu berada dekat tanah sempit kepunyaan ayahku yang tersisa.

Aku dalam hati tertawa mendengar pernyataan ayahku tersebut, namun dengan maksud menghormati aku pura-pura mendengarkannya.

“Panggil Ibumu!”, seru ayahku, lalu aku panggil Ibuku yang segera datang menuju ke ayah.

“Ada apa pakne?”, tanya ibuku dengan heran. Lalu ayahku menjelaskannya, “ini lho bune, aku tadi dapet bisikan ghaib katanya kalau mau derajad dan harta kita kembali maka salah satu keluarga kita harus ikut ritual di gunung kemukus.

Bahkan harta yang dijanjikan akan mencapai berkali-kali lipat dari harta kita waktu dulu bune”.

Aku dan ibuku keheranan dengan pernyataan ayahku tersebut, tetapi nampaknya ibuku berangsur-angsur mempercayai perkataan ayahku setelah mereka ngobrol panjang lebar.

Aku lalu mengabaikan mereka dan beranjak menonton TV cinema di tr*ns 7 yang judulnya Lupa Perjanjian Gunung Kemukus. Dalam hatiku, aneh kok bisa pas gini acara tv nya, sama-sama lucu dan nggak masuk akal.

Aku benar-benar tidak mempercayai kisah tersebut yang diceritakan ayahku maupun yang ada di TV.

Sekitar 10 menit kemudian tiba-tiba aku dipanggil ibuku, “Bagas sini!” Lalu aku menuju ke arah ibuku dan ayahku yang sedang duduk di kursi samping rumah.

“Jadi gini, keluarga kita kan sekarang udah miskin, mau nggak mau hidup kita bakalan sesekali kelaparan dan kesusahan, setiap hari kerja lembur bagai quda, tubuh sakit dan pegal-pegal tak dapat kita hindari.

Tidak ada salahnya kita mau mencoba pesugihan gunung kemukus ini.

Kamu harus merahasiakan hal ini dari tetangga dan teman-teman kuli kamu.

Jadi gini rencananya, kamu besok anterin bune ke gunung kemukus”.

“Kenapa nggak sama pakne aja bu?” Tanyaku.

Pakne besok ada janji sama pak RT mau garap sawah pak RT jadi nggak bisa.

Pesugihan ini kalau bisa secepatnya segera dilakukan” kata ibuku.

Aku hanya mengangguk dan menyanggupi permintaan ibuku walaupun dalam hatiku masih tidak percaya dengan cerita khayal tersebut.

Keesokan harinya dengan kendaraan motor butut dan bermodal uang 100ribu pemberian ayah, aku dan ibuku berangkat menuju ke wilayah gunung kemukus.

Kulihat ibu mengenakan rok mini dan baju yang sangat ketat.

Aku benar-benar tidak tahu apa tujuan ibuku memakai pakaian seperti itu, jarang-jarang dirumah memakai pakaian model mini seperti itu.

Aku agak menelan ludah melihat ibuku yang seksi bertoket besar dengan rok mini dan kaos biru ketat menempel di tubuhnya yang sintal itu.

Lalu aku bergegas menyalakan mesin motor bututku dan mulai berangkat.

Jarak rumahku ke gunung kemukus ini sekitar 30 menit kalau lancar.

Di jalan kulihat setiap cowok yang berpapasan dengan motorku matanya selalu tertuju ke arah pantat ibuku, dan ada beberapa pemuda yang sengaja mengikuti dari belakang laju motorku untuk melihat rok ibuku yang memamerkan paha mulusnya.

Pantas saja kalau pahanya dinikmati banyak orang, roknya aja sempit gitu, ujarku dalam hati.

Lalu sampailah ke sebuah bangunan diluar area pulau yang aku tidak tahu apa fungsi bagunan itu.

Lalu ibuku turun, lalu aku memarkirkan motorku di bawah pohon rindang samping bangunan.

Aku lalu menghampiri ibuku dan ketika kulihat paha mulus ibuku aku benar-benar menahan sekuat tenaga agar aku tidak ngaceng.

Nggak enak juga kalau aku kepergok ibuku saat aku sedang menatap pahanya itu lalu aku memalingkan muka berpura-pura melihat sekitar.

“Kamu tunggu sini, bune mau ke dalam dulu tanya orang” lalu dia pergi menuju bangunan tersebut.

Lalu setelah beberapa saat ibuku keluar dan menghampiriku lagi, ayo kita naik ke gunung.

Aku ketahui kemudian dari cerita ibuku bahwa rumah tersebut adalah rumah juru kunci gunung kemukus yang orangnya dipilih keturunan asli pengabdi secara turun-temurun, di rumah itu tadi adalah keturunan ke-2 yang bernama Mbak Darto sedangkan yang akan kita tuju ini adalah keturunan pertama.

Kami terlebih dahulu harus menyeberangi perairan menggunakan perahu untuk sampai ke seberang. Aku bergegas membeli tiket untuk dua orang habis 30.000 rupiah.

Saat prosesi naik perahu, kami harus berdesak-desakan karena berebut tempat duduk karena ramainya pengunjung laki-laki maupun perempuan yang juga berniat kesana.

Akhirnya kami naik namun sialnya kami tidak mendapatkan jatah kursi, alhasil aku dan ibuku terpaksa berdiri berpegangan gantungan di tengah perahu.

Perahu yang kami naiki ini modelnya persis seperti bus-bus yang sering kami naiki.

Dengan dua kursi kanan dan dua kursi kiri dan ditengah-tengahnya ada celah untuk lewat. Ibuku berdiri tepat dibelakangku menghadap ke arah depan perahu sedangkan posisiku berada didepannya dan posisi tubuhku memunggunginya.

Sesekali kurasakan ibuku seperti terdesak ke depan dan toketnya sesekali mengenai punggungku, beliau seperti merasakan terlalu sempit area berdirinya, padahal kalau ku perhatikan belakangnya tidak terlalu sempit-sempit amat.

Namun setelah ku amati secara lebih mendetail ternyata dibelakang ibuku terlihat seorang laki-laki seumuran ayahku sedang pura-pura terdesak ke arah pantat ibuku, laki-laki itu dengan pola memaju mundurkan selangkangannya tepat ke arah pantat ibuku.

Aku yang tadinya tidak tahu menahu mengenai hal ini hanya mencoba berpositive thinking saja, mungkin karena memang benar-benar sempit area berdiri lelaki itu.

Setelah perahu berlabuh kami lalu turun, saat proses turun dari perahu terpaksa kami harus agak berdesak-desakan dan aku terpisah agak jauh dari posisi ibuku, kulihat beberapa lelaki lainnya sengaja menempel ke tubuh ibuku dan ada yang sengaja menggesek-gesekkan kemaluannya di rok mini ibuku namun ibuku sepertinya tidak sadar sedari tadi.

Sesampainya di seberang lalu kami turun dan aku bisa bersama ibuku lagi, lalu aku berniat berjalan ke gunung bersama ibuku.

Saat ibuku berbalik badan, kulihat beberapa genangan cairan kental kulihat di rok bagian belakang yang aku sangat paham dari teksturnya pasti merupakan sperma laki-laki.

Ternyata dugaanku yang mencoba positive thinking tadi salah, tadi saat berdiri di dalam perahu pasti ibuku dijadikan obyek pelecehan seksual oleh beberapa orang karena kulihat genangan spermanya sangat banyak, kutaksir pasti lebih dari satu orang.

Karena kulihat ada genangan cukup banyak di 2 bagian yang berbeda, yaitu sebelah kanan atas pantat ibuku, dan genangan lainnya di tengah-tengah pas arah tengah pantat ibuku lumayan banyak sampai hampir meleleh jatuh, namun karena model kain rok mini yang dipakai ibuku bermodel agak tebal, kurasa bisa menyerap cairan sehingga tidak jadi jatuh meleleh.

Kalau sampai meleleh ke paha pasti ibuku bakal sadar.

Namun aku hanya pura-pura tidak tahu dengan hal itu, karena aku juga tidak enak kalau mau menunjukkannya dan membahasnya. Aku biarkan saja dan tidak memberitahu ibuku peristiwa tadi cukup aku saja yang tahu, nanti juga lama-lama bakal kering sendiri walaupun kutahu nanti kering akan tetap meninggalkan bercak putih.

Lalu aku dan ibuku melanjutkan perjalanan menaiki anak tangga, kulihat disekelilingku ramai seperti pasar malam, banyak orang jualan serba-serbi peralatan rumah tangga dan ada beberapa bilik-bilik yang aku menduganya pasti bilik PSK yang menjajakan tubuhnya di tempat ini.

Setelah cukup lama naik tangga dan agak lelah akhirnya sampailah ke bangunan yang dimaksud. Ibuku lalu masuk kembali ke ruangan tersebut.

Namun sesaat kemudian ibuku keluar dengan muka agak kecewa. Aku lalu bertanya, kenapa bune kok muram begitu?

“Jadi gini nak, kita udah ketinggalan kloter, seharusnya kita kemari itu kemarin sebelum jum’at pon, bukannya pas malem jum’at ponnya.

Kita harus datang kesini sebelum hari H agar kuota penerimaanya belum penuh.

Sekarang sudah terlambat, kita harus menunggu kloter berikutnya kalau mau ikut ritual pesugihan gunung kemukus ini, kalau mau sekedar ziarah sih setiap hari juga buka dan kuota unlimited, tapi kalau mau pesugihan harus sebelum malam jumat pon.

Puncak ziarah ramainya memang hari ini yaitu tepat malam Jum’at Pon jadi sekarang emang ramai-ramainya”, ujar ibuku.

Lalu sesaat kemudian orang tua yang ku ketahui itu adalah juru kunci keturunan pertama keluar dari bangunan itu lalu menghampiri kami berkenalan denganku dan kuketahui namanya adalah Mbah Marwoto.

“Itu anak anda bu?”, tanya mbah Marwoto.

“Iya mbah”, jawab ibuku.

“Kalau yang datang ibu dan anak ke sini akan diperlakukan spesial bu, kapan saja mereka mau melakukan ritual pesugihan gunung kemukus mereka diijinkan, tidak musti menunggu malam Jum’at pon”, ujar kakek itu.

“Ritual puncaknya akan dilaksanakan nanti malam”, tambah kakek itu”.

Lalu dituntunlah kami ke sebuah ruangan dan kami dipersilahkan beristirahat disitu.

Aku dan ibuku heran diperlakukan seperti tamu kehormatan di sini, kami disuguhi minuman teh hangat dan aneka jajanan pasar dan kami ketahui kemudian bahwa tidak semua peserta pesugihan diperlakukan spesial seperti ini.

Saat petang menjelang aku disuguhi minuman jamu berwarna cokelat dan didalamnya dimasukkan kuning telur ayam kampung 2 butir.

Aku yang membayangkan warnanya bisa menebak rasanya pasti sangat pahit dan serasa enggan untuk meminumnya, namun si mbah juru kunci ini berkata “kamu harus minum jamu ini nak demi berhasilnya ritual yang akan ibumu nanti jalankan di puncak gunung sana”.

“Sudah turuti saja apa kata mbah Marwoto”, ujar ibuku menambahkan. Akhirnya dengan terpaksa aku mencoba mencicipinya sedikit.

“Wow mantap, rasanya tak terlalu buruk” ujarku kemudian segera menghabiskannya.

Lalu kami dipersilahkan mandi dengan air bunga namun ditempat yang terpisah.

“Aku heran, yang mau melaksanakan ritual itu kan ibuku, kenapa aku juga harus minum ramuan aneh dan ikutan harus mandi kembang?, ”risauku dalam hati.

Lalu setelah selesai, aku dipakaikan pakaian coklat khas keraton Solo, dan kulihat ibuku telah selesai dirias dengan hanya make up tipis membuatnya terlihat sangat cantik seperti pengantin jawa dengan model sanggul dan dihias bunga di sela-sela rambutnya, dan pakaiannya kini hanya berbalut kain jarit cokelat bermotif batik menunjukkan lekuk tubuhnya yang aduhai.

Lalu malam pun mulai datang, pukul 21.00 kami di ajak ke puncak gunung yang kata juru kunci tersebut merupakan tempat inti dari pesugihan gunung kemukus ini.

Si kakek sangat ramah dan berbincang kepadaku walaupun baru kenal.

“Nak, itu orang-orang kalau mau ziarah ke arah kiri ke makamnya Kanjeng Samudro, tapi kalau ritual pesugihan kita harus naik lagi.

Walaupun mbah sudah lumayan tua begini stamina mbah masih tetap terjaga karena setiap harinya terbiasa naik turun bukit ini”, ujar mbah Marwoto.

Setelah sampai disana aku dan ibuku pun kaget dengan apa yang kami lihat ini.

Ternyata di sini sedang berlangsung ngewe masal sekitar 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan di tanah lapang yang tengahnya ada semacam keramik yang sekitarnya diterangi oncor bambu dan baru aku ketahui dari penjelasan mbah marwoto bahwa ritual tersebut dibimbing oleh juru kunci keturunan ke-3 yaitu Mbah salim yang terlihat seumuran ayahku. Dia berdiri di tengah-tengah kerumunan manusia-manusia telanjang itu.

Lalu ibuku bertanya pada mbah marwoto yang menemani kami tersebut:

“Mbah, kata suamiku ritual ngewe yang dimaksud itu satu lawan satu dengan pasangan yang baru dikenalnya di gunung ini, kok ini malah jadi masal gini?”.

Ya sejatinya memang seperti ini, kalau ritual di bilik-bilik bawah tadi itu ritual palsu isinya PSK dan mereka cuma menipu pengunjung dengan kedok ritual ngewe 1 vs 1”.

Info yang sampai ke suami ibu pasti dari orang-orang yang belum begitu mengenal tempat ini”, tambahnya.

“Tapi mbah, kata suamiku pernah dibisiki makhluk tak kasat mata di watu kumpul dekat daerahku. Masak suamiku bisa salah info?”tanya ibuku.

“Mungkin bisikan itu benar, namun info tambahan yang kurang jelas mungkin didapatkannya dari warga sekitar suami ibu tinggal yang sebenarnya tidak tau menau tentang sejatinya tempat ini”, Jawab mbah Marwoto.

“Suami anda pernah ke watu kumpul ya bu?” Tanya mbah marwoto.

Ibuku lalu menjawab: “Inggih mbah, tanah yang didalamnya terdapat watu kumpul itu benar-benar milik suamiku, itu warisan dari kakeknya sehingga suamiku tidak berani menjualnya walaupun keadaan kami sekarang terpuruk seperti sekarang, dia bersikeras tidak mau menjualnya karena larangan wasiat kakeknya.

“Watu kumpul itu sebenarnya dahulu adalah air terjun tempat biasanya pangeran samudro bersemedi, alirannya yang lumayan deras membuatnya biasa dimanfaatkan oleh warga sekitarnya.

Tapi lambat laun air itu surut setelah warga sekitar itu membunuh dengan keji junjungan kami pangeran samudro beserta ibunya.

Kalau dilihat dari informasi yang ibu berikan, berarti suami ibu ini sebenarnya adalah keturunan orang kepercayaan Pangeran Samudro pada masa lampau karena yang mengurus tempat semedi itu setelah meninggalnya junjungan kami tidak lain adalah orang kepercayaan kanjeng samudro.

Esok hari sampaikan hormat saya kepada beliau bu karena beliau adalah keturunan sejati pengabdi setia junjungan kami yang berarti beliau saudara kami.

“Pasti pertemuan kita ini sudah ditakdirkan bu” tambah mbah Marwoto.

Dalam hati kecilku berkata ”Oh ternyata ritual yang dimaksud itu sebenarnya adalah ngewe, jadi ayah dan ibuku ternyata sudah tau sejak awal dengan apa yang hendak dilakukan ibuku di gunung ini tidak lain dan tidak bukan adalah ngewe, pantesan pakaian yang ibuku kenakan pas berangkat tadi sangat mini sampai-sampai dilecehkan roknya dipejuhi orang-orang di perahu, Oh my god, jadi tujuan ibuku kesini ternyata mau ngewe sama orang yang baru dikenalnya nanti”.

Lalu kami menunggu mereka semua selesai melakukan ritualnya, kulihat beberapa orang laki-laki dengan tanpa malu melakukan hubungan terlarang dengan orang yang baru dikenalnya disini, menggenjot dengan berbagai posisi sebebas-bebasnya tanpa ada yang menegur membuat pikiranku mulai berhayal kemana-mana.

Namun bila kulihat, tubuh wanita-wanita tersebut benar-benar gembrot khas ibu-ibu membuatku nafsuku sedikit bisa kutahan.

Kuperhatikan satu-satu wanita-wanita tersebut, kulihat wajah mereka biasa saja nggak ada satupun yang menurutku cantik.

Satu-satunya wanita yang paling cantik wajahnya dan aduhai indah tubuhnya disini adalah ibuku yang kini berdiri disampingku sambil berbincang protes dengan mbah marwoto.

Membuatku berkhayal melakukan hal tak senonoh tersebut pada ibuku, namun segera kutepis pemikiran liar tersebut dan membayangkan hal yang lainnya untunk menghilangkan sange ini.

Satu-persatu pasangan tersebut berpindah ke keramik yang ada di tengah dan menggenjot secara cepat dan menembakkan spermanya ke dalam vagina partnernya.

Lalu bergantian pasangan berikutnya sampai semuanya ke 20 pasangan gila itu selesai.

Setelah selesai bau sperma tercium dimana-mana.

Cairan sperma berhamburan di lantai keramik putih yang merupakan tempat yang telah disiapkan untuk ritual tersebut karena memang saat ejakulasi para pasangan itu harus menumpahkan spermanya ke dalam mem*k pasangan yang baru dikenalnya lalu membuang sisa aliran peju dari meme*k partner wanita ke keramik ritual.

“Hari ini kita kedatangan tamu spesial, ini adalah ibu yang bernama Indrayanti dan anaknya yang bernama Bagas dan hari ini akan mengulang ritual keramat istimewa.

Perlu kalian ketahui asal usul sebenarnya dari ritual gunung kemukus ini bahwa dahulu Pangeran Samudra junjungan kita sangat mencintai ibu kandungnya dan gemar menyenggamai ibunya.

Saat mereka melakukannya di siang hari, mereka keburu dipergoki warga dan orang kerajaan, dan langsung dibunuh.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang pangeran Samudra sempat berpesan, siapa yang bisa melanjutkan hubungan intim mereka, segala permintaannya akan dikabulkan.

Dan hari ini kita kedatangan ibu dan anak yang hendak meneruskan wasiat beliau”, Ngewe dengan orang yang baru dikenal saja khasiatnya sangat mujarab, apalagi kalau anak dan ibunya yang ngewe pasti langsung dikabulkan apapun permintaanmu”. kata juru kunci tersebut.

Ibuku mengetahui itu langsung berkata, “Tidak! Tidak kalau harus sama anak kandungku”.

Ku kira tidak seperti ini”, kata ibuku.

Lalu juru kunci itu memerintahkan ke-6 pembantunya untuk menyeret paksa ibuku ke tengah arena perkawinan masal tadi, disusul aku yang juga kemudian dibopong paksa.

Ini benar-benar malah menjadi seperti pemaksaan dan permerkosaan.

Tepat pukul 22.00 Ibuku ditelantangkan begitu saja di atas keramik yang tadi berhamburan peju dari para peserta, dengan tangannya dipegangi kanan kiri dan aku diposisikan didepan ibuku.

Aku yang dalam hati sangat terangsang melihat ibuku terkapar meronta-ronta dihadapanku. Namun ada yang aneh dari tubuhku, sepertinya aku lebih merasa terangsang dan batang kejantananku seketika mengacung maksimal.

Dugaanku bahwa pasti tadi jamu yang aku minum merupakan obat perangsang dan obat kuat.

Aku kasihan melihat ibuku, namun semakin aku memperhatikannya kejantananku benar-benar tidak bisa diajak kompromi malah tambah mengacung maksimal.

Lalu akhirnya kuturuti nafsu setan yang sedari tadi membisikiku bahwa aku harus ngentot ibuku.

Aku lalu mencopot kain jarit yang dipakai ibuku lalu menggunakannya sebagai alas, lalu ibuku diangkat ke tengah jarit tersebut dan aku mengarahkan kont*lku ke liang senggamanya.

Lalu dengan satu tusukan Blessssh, hilang sudah perjakaku di mem*k ibu kandungku, walaupun aku sesekali pernah melakukan coli tapi aku tidak mengira mem*k wanita pertama yang kurasakan adalah milik ibu kandungku sendiri.

Lalu aku tusukkan sedikit demi sedikit ke mem*k ibuku, setelah beberapa genjotan akhirnya masuklah semua bagian kont*lku ke lubang yang dulu merupakan tempat kelahiranku dahulu.

Aku genjot secara keras maju mundurkan kont*lku ke meme*k ibuku dan tanpa meminta ijin ibuku ku remas-remas payudara ibuku kanan kiri bergantian lalu aku mencoba membisikkan ke telinganya udah nurut aja bu, buat ritual ini lengkap.

Lalu setelah beberapa lama ibuku ikut mendesah dan melihat ibuku yang sudah tidak melawan keempat lelaki yang tadi memegangi kaki dan tangan ibuku kini beranjak pergi.

Aku lalu kini bisa menggenjot ibuku dengan leluasa.

Kulihat disekitarku puluhan pasang mata menonton ritual terlarang kami ini dan dari pandangan para lelaki itu mereka kelihatan bernafsu melihat ibuku yang seksi ini aku genjot kasar seperti ini.

Lama-lama aku terbiasa dan tidak malu walaupun mereka melihatku.

Lalu setelah beberapa lama aku menggenjot ibuku, akhirnya aku merasakan ada yang hendak keluar dari kont*lku ini, ku entot ibuku dengan gerakan yang lebih cepat lagi dan akhirnya Crotttt-croooot-crooot spermaku membludak keluar di dalam mem*k ibuku lalu disusul siraman cairan orgasme hangat dari ibuku.

Kami berdua puas rasanya dan aku mengecup bibir ibuku dan kulihat ibu tersenyum kepadaku menandakan dia sekarang telah takhluk sepenuhnya padaku.

Lalu gemuruh sorakan dari ke 40 orang peserta dan 6 orang pembantu ritual, serta ke 3 juru kunci yang berada disitu tepuk tangan seperti merayakan peristiwa spesial.

Setelah kurasakan telah keluar di dalam aku lalu mencabut kemaluanku dari liang mem*k ibu kandungku tersebut.

Lalu melelehlah cairan peju perjakaku yang overoad keluar membasahi pakaian ibuku yang kini dipakai sebagai alas yaitu jarit yang sebelumnya juga telah ternoda sperma dari peserta sebelumnya tepat di atas keramik ritual.

© 2022 - CeritaSeru.xyz