October 31, 2020
Penulis — thealfonso

Ibu 1

Ibuku, kau yang terindah dalam hidupku. Kau bagai matahari yang selalu menyinari hati. Kau bagaikan air yang menetes sejuk di tengah panasnya jiwa. Kaulah yang menyegarkan hati.

Kau bekerja untuk menyambung hidup orang-orang tersayang. Kau tak peduli apa kata orang. Yang kau tahu hanyalah demi kasih sayang untuk hidup lebih panjang. Untuk dijalani baik siang maupun malam. Bagiku kaulah yang tercantik. Kaulah yang terindah.

Kaulah yang terindah dari indahnya bunga yang menghias Taman Eden. Ibuku tersayang, kaulah desah nafasku. Ibuku cantik, memang kuakui ibuku cantik, ibuku cerdas di atas rata-rata kepintarannya, ibuku murah hati mau menolong siapapun juga yang membutuhkan, ibuku ramah mau berteman dengan siapapun, ibuku sopan menghormati yang lebih tua, ibuku sexy dengan kerling matanya setiap pria tunduk kepadanya ibuku awet muda ibuku sangat menggoda banyak pria tua maupun muda menaruh hati pada ibuku berharap mendapatkan cintanya setiap pria berputus asa hendak mendapatkan cinta kasih ibuku.

Di saat saya sakit, tiada hentinya ibuku memelukku membelaiku, sepertinya ibuku tidak akan melepaskan barang sekejap pun dari tatapan matanya. Saat ku pilek, ibuku selalu memberi obat Dan wanti-wanti supaya saya tidak membeli es, Dan selalu memperhatikan setiap makanan yang akan masuk ke mulutku demi kesehatanku.

Saya tidak menyesal saat teman-temanku berburu gadis-gadis muda sebaya dan sepertinya saya tidak bisa ikut berlari berburu gadis yang sebaya denganku.

Kaki ini bagai kaki kijang yang tidak berdaya yang terjerat oleh tali pemburu. Kalau pun kudijerat seorang pemburu, sungguh saya tidak sedih. Karena sang pemburu memberikan rumput yang terbaik memberiku air yang sejuk dari mata air yang membual tiada habisnya. Saya juga tidak menyesali tatkala ada teman yang cemburu kepada kekasihnya mewarnai romantika cinta, karena saya tidak perlu akan pernah cemburu kepada kepada kekasihku, karena kekasihku adalah belahan jiwaku, bagi kekasihku, jiwaku adalah jiwanya, air mataku adalah airmata yang keluar dari mata jernihnya.

Bila ibuku pulang dari kantor, itulah saatnya yang kutunggu-tunggu. Bukannya tidak ada yang berada di rumah yang menemaniku, ada mBak Ipah, pembantu ibuku, ada juga Suster Santi yang membantu merawatku sejak saya baru beberapa hari lahir. Ada ayahku, tetapi sering pergi. Nenekku yang sudah pensiun, selalu berada di rumah, tetapi bila pergi bisa satu minggu lebih, bagiku itu lama sekali.

Di sekolah, saya sebangku dengan Agus. Suatu saat, jam pelajaran dimulai. Hari ini ulangan bahasa Indonesia. Lembaran demi lembaran soal dibagikan. Saat yang menyenangkan bila bisa menjawab pertanyaan-pertanyan yang diisi pada lembar jawaban. Saya tidak menutupi jawabanku, kubiarkan terbuka, karena teman sebangkuku selalu memintaku untuk tidak menutupi jawabanku, karena dia mau meniru jawabanku.

Saat keluar, Ia memukulku, katanya, pelit amat sih! saya menjawab, saya tidak pelit, yang melarang bu guru, saya balas pukul. Perkelahian tak terelakkan. Kami berdua distrap karena berkelahi. Disaksikan teman-teman satu kelas. Berdiri di depan kelas dengan satu kaki diangkat ke atas.

di lain hari, ulangan lagi pelajaran IPS Ia menyontek lagi, ditegur lagi. Kali ini Agus distrap berdiri di depan kelas dengan satu kaki diangkat, setelah itu, bu guru memberi waktu untuk mengerjakan ulangannya sendiri hingga selesai. Agus pulang lebih lambat dari biasanya.

Di rumah saya baru saja dibuatkan ketapel oleh ayah untuk menembak burung, dengan tanah liat pelurunya. Ketapel kubawa ke mana-mana.

Saat di tanah kosong yang banyak ditumbuhi pepohonan ku mencari burung, saya mau membidik burung, burung apa saya tidak tahu namanya. Agus kelihatannya ramah padaku. Ia tampak dari kejauhan berlari kearahku. Saat mendekat, mana kubantu Mano. kutunjukkan pelurunya berupa butiran-butiran tanah liat.

Ohitu kalau kena burungnya tidak akan apa-apa. katanya, lalu Ia meminjam ketapelku, saya tidak keberatan, dicarinya batu bulat sebesar kelereng. Ini baru mantap, katanya. Dipasangnya ketapel itu tempat peluru, direntangkan ketapel itu kearahku. tuing sakitnya bukan main. saya menangis sejadi-jadinya, disaksikan banyak orang.

Ibu-ibu menolongku, menggendongku ke rumah, kepalaku berdarah. Agus berlari sekuat-kuatnya menuju ke rumah. ini bu lestari, cucunya kecelakaan, kata yang menggendongku, tapi ada yang berkata, ditembak pakai ketapel sama Agus. nenekku menelpon ibuku, lalu kudibawa ke dokter. Ibuku menyusulku ke dokter, sambil menangis, ibuku bertanya, ada apa anakku?

Kami pulang berempat, saya di belakang dipangku nenek, sedangkan ibuku yang membawa mobil, susterku di samping ibuku. Sebenarnya, saya sudah tidak perlu suster lagi, tetapi Suster Santi mau bekerja di keluarga ibuku.

Sampai di rumah, ibu marah besar kepada ayahku, anakku celaka kamu di mana? Ha?! ayahku gelagapan menjawabnya, kalau tidak kemana-mana disuruh jaga anaknya, malah tidak jelas kemana. ibuku memarahi ayah, tidak hanya dengan mulutnya, tetapi juga memukulinya. Ayahku memohon ampun. Nenekku melerainya.

Puas memukuli ayah, ibuku melabrak orang tuanya Agus. Lukaku beberapa hari baru sembuh. Agus masih duduk sebangku denganku. Saya berangkat dan pergi ke sekolah biasa jalan kaki, tetapi kadang ayah atau ibuku mengantar. Pada saat saya pulang sekolah, saya dijemput ayah, dengan naik motor. Ayah membawaku berputar-putar keliling kota.

Ayahku membawa motornya kencang sekali, membuatku ketakutan. Ayahku menggodaku, dipercepat saat saya ketakutan, saya menangis, menangis ketakutan, ayah membawaku pulang. Sampai di rumah saya masih menangis. Ibuku sudah sampai di rumah, bertanya kepada ayah, ada apa Mano menangis? ayahku ketakutan, diam seribu bahasa.

Saya mengadu, ayah bawa motornya kencang sekali. ibuku marah merah mukanya, kamu ya, sudah berulang kali jaga anakku, kamu sengaja membuatku marah ya? ditamparnya pipinya hingga berbekas telapak tangan. Ayahku ketakutan. Ibuku memeluk ayahku, lain kali jangan lakukan itu lagi yasayang, emak sayang Sama Harly.. dibelainya rambut ayahku dengan tangannya yang lembut.

Itulah ibuku, walau marah seperti apa pun, ibuku selalu sayang ayahku. Ayahku tidak pernah berani memukul ibuku. Ayahku sangat takut kepada ibuku. Tetapi ibu selalu berkata kepadaku bahwa saya harus sayang kepada ayah dan hormat kepada ayah. Itulah yang selalu diajarkan ibuku kepadaku.

© 2022 - CeritaSeru.xyz