November 01, 2020
Penulis — pujasejagat

Solo, Surakarta Dekat Kartasura

Solo, memang kota yang sangat menggoda bagi ku. Aku bahkan memendam keinginan tinggal di Solo daripada di Jakarta. Kota ini rasanya bisa menentramkan hatiku, dan yang lebih menarik lagi adalah putri Solo itu lho.

Itulah kekagumanku buat Solo. Ini adalah perjalananku untuk kesekian kalinya ke Solo. Namun kali ini bukan dalam rangka tugas atau bisnis, tapi hanya alas an yang sangat sederhana, mau pijat saja.

Jangan salah duga dulu, aku bukan mencari pemijat wanita, tetapi pemijat pria. Dia adalah Pak Min yang cukup kondang di Solo. Tapi aku ingin juga agak berlama-lama di Solo untuk sekedar refreshing. Kalau berasalan di rumah banyak hal bisa didalihkan, bisnislah, tugaslah, ya macam-macamlah.

Aku sebelumnya sempat diperkenalkan kepada Pak Min, ahli memijat oleh saudaraku di Jogya. Sebulan lalu aku mencoba kemampuan Pak Min. Aku menginap di hotel dan Pak Min segera ku kontak. Pijatannya memang luar biasa, sakit, tetapi rematikku di bahu beberapa hari kemudian memang terasa berkurang sakitnya.

Di usia kepala 5 memang mulai banyak gangguan kesehatan, dan ketangguhan agak berkurang.

Untuk alasan pijat itulah aku kembali ke Solo. Kali ini aku mencari hotel dengan kamar yang luas, katakanlah setingkat suite room. Setelah urusan pijat pada siang hari, aku tertidur sampai menjelang sore.

Perutku mulai terasa lapar, aku kurang suka dengan makanan hotel. Dengan baju santai aku jalan ke depan hotel. Beberapa tukan becak mendekatiku dan menawarkan jalan-jalan keliling kota. Kupilih tukang becak yang cukup tua dan kelihatannya ramah. Meski umurnya sekitar 40 an, tetapi tenaganya masih kuat.

Warung itu terkenal, sehingga tukang becak yang belakangan kuketahui namanya Paino segera mempersilakan aku duduk di becaknya. Dia dalam perjalanan menawarkan aku untuk menyewanya pulang pergi. Aku menyetujui saja.

Ketika sampai ke warung soto, Pak Paino kuajak makan sekalian, tetapi dia kelihatan segan dan agak malu. Setelah kupaksa, akhirnya dia mau juga ikut makan soto bersamaku. Kebiasaan ku memang begitu. Apalah artinya biaya menraktir seporsi soto. Aku kan kemudian bisa mengorek informasi lebih banyak, serta lebih memahami pribadi si Paino.

Pulangnya Paino mulai melancarkan serangan khas tukang becak Solo. “Pak apa perlu dicarikan teman, apa gimana??” katanya.

“Bapak tau tempatnya, apa?” tanyaku.

“Wah tukang becak hotel, pasti tau Pak, ada penampungan, ada yang rumahan, ada yang tukang pijet, tinggal bapak mau yang maaa.. na??” katanya dengan logat Jawa yang kental..

“Punya koleksi STW,?” tanyaku.

“STW ada ABG juga ada,” katanya.

“Ah saya lagi pengen yang STW, tapi bukan yang pasaran, ada nggak,” tanyaku.

“Ada pak, dia malah belum pernah ke hotel, janda dekat gang rumah saya,” kata Paino.

“Orangnya gimana,” tanyaku.

“Ya kalau menurut saya sih lumayan, janda belum punya anak. Dia pernah ngomong ke saya kalau ada kerjaan mijet tamu hotel, katanya dia mau. Orang nggak punya pak. Kalau bapak mau lihat dulu, monggo saya antarkan,” katanya.

Setelah berbicara agak panjang dan mengatur strategi, akhirnya aku setuju melihat, tetangga si Paino.

Aku minum es kelapa muda dan si janda itu pura-pura beli rinso di warung sebelah. Dia memandangku dan aku pun sempat mencermati dirinya.

Wah lumayan juga, agak gemuk, tampang khas Jawa. Dan mukanya cukup manis.

Setelah dia berlalu aku kembali ke becak, dan aku langsung setuju agar Paino membawanya ke hotel.

Padahal aku baru di pjat oleh Pak Min. Pemijat profesional ini bukan sembarangan, untuk memastikan keberadaannya aku harus telepon jauh-jauh hari. Langganannya banyak dan sering ke luar kota dan keluar negeri. Banyak pengusaha dan petinggi yang jadi pelanggannya.

Nah aku habis dipijat Pak Min, malah pengin dipijat lagi. Masalahnya pijatan Pak Min tadi sakit. Aku sekarang ingin pijatan yang nyaman.

Sekitar satu jam aku menunggu di kamar hotel sampai ketiduran. Aku terkesiap ketika pintu kamarku diketok. Pak Min dan janda itu berada di depan pintu. Pak Min kuselipin limpulRp, dan pemijatnya kusilakan masuk.

Namanya Marni, Dia duduk di kursi dengan menundukkan kepala. Mungkin ini adalah job yang pertamanya, sehingga dia rikuh berada di kamar hotel bersamaku. Kutawari minum, untuk mencairkan suasana, tapi dia menolak.

Aku merokok sebentar sambil membuka obrolan. Marni jadi janda karena suaminya kawin lagi setelah tidak puas karena Marni tidak bisa punya anak. Dia hidup dengan bekerja sebagai buruh cuci. Rumahnya adalah kamar kontrakan yang dibayar bulanan. Dia tinggal bersama keponakannya perempuan yang baru datang dari kampung ingin cari kerja di Solo.

“Sudah pernah mijet mbak,” tanyaku.

“Kalau di hotel, belum, tapi mijet suami dulu sering,” katanya tertahan karena malu.

Dari obrolan itu, suasananya mulai cair. Aku membuka baju hingga tinggal celana dalam dan tidur telungkup. Mbak Marni mulai melancarkan pijatan dimulai dari kaki. Tekanan pijatannya masih kurang nyaman, mungkin karena dia belum mahir.

Akhirnya aku bangkit dan berusaha mengajarkan cara pijatan yang kusukai. Untuk itu Mbak Marni kuminta tidur telungkup. Mulanya dia menolak. Mungkin malu bercampur sungkan, tetapi setelah aku membujuk dan setengah paksa, akhirnya dia pasrah.

Repotnya dia mengenakan kain kebaya dan jarik, jadi agak susah.

Di kamar hotel untungnya ada disediakan kimono, Mbak Marni lalu kuminta melepas bajunya di kamar mandi dan menggantinya mengenakan kimono. Mulanya dia agak malu, tetapi setelah kubujuk-bujuk dia akhirnya mau juga. Sebelumnya aku ikut masuk ke kamar mandi menjelaskan penggunaan kran2 di kamar mandi. Paling tidak kalau dia kebelet pipis tidak perlu ditahan lama-lama, karena bingung cara penggunaan kran air panas, air dingin.

Setelah kamar mandi kututup, tidak lama kemudian terdengar air toilet menggelontor. Ternyata dia memang kebelet pipis.

Mbak Marni keluar dengan kimono. Dia agak malu-malu, meskipun seluruh tubuhnya tertutup rapat. Aku kembali memintanya telungkup dan kuajarkan pijatan dengan tekanan-tekanan di sekitar kakiku.

Setelah dia paham, aku kembali dipijatnya. Pijatannya mulai terasa nyaman dengan tekanan-tekanan yang kuinginkan. Mbak Marni agak nekat juga, dia belum begitu paham memijat, tetapi sudah berani terima orderan pijat. Mungkin karena desakan ekonomi akhirnya dia terpaksa melakukan pekerjaan ini. Menurut Mbak Marni, Painolah yang punya ide agar Mbak Marni mencari tambahan jadi pemijat di hotel.

Obrolan mereka soal ide Paino itu baru 2 hari lalu. Mbak Marni ternyata doyan ngobrol setelah suasananya cair. Aku yang sebenarnya ingin tidur sambil dipijat jadi terpaksa menimpali omongannya.

Mbak Marni jadi akrab, banyak hal diungkapkannya termasuk kehidupannya ketika masih punya suami dulu.

Tapi masalahnya sebagai tukang pijat pengetahuannya masih boleh dibilang Nol. Aku terpaksa jadi instruktur. Untuk babak mengurut dengan lumuran cream aku minta Mbak tidur telungkup dan aku mengajarinya bagaimana melakukan pengurutan. Kali ini dia tidak lagi canggung. “Wah aku tugase mijet malah dipijet,” katanya.

Awalnya aku mengurut bagian telapak kaki, kiri dan kanan, lalu betis kiri dan kanan. Sampai urusan ngurut betis, kimono mulai tersingkap sampai lutut.

Lutut bagian belakang adalah salah satu titik sensitif wanita. Aku melakukan sentuhan dan urutan khusus di daerah ini. Aku memang rada jahil, tapi ingin tahu juga apakah Mbak Marni terpengaruh dengan sentuhan ku. Terus terang dari tadi aku sudah berfikir untuk menggumuli Marni, tapi aku ingin melalui proses yang alami.

Marni mengaku pijatanku itu enak dan kadang-kadang bikin kemrenyeng. Bisa jadi dia merasa geli atau juga terangsang. Aku tidak minta penegasan apa arti kemrenyeng.

Giliran berikutnya adalah mengurut bagian paha. Sengaja aku tidak menyingkap kimononya, tetapi tanganku menerobos melumasi dan mengurut pahanya. Paha si Marni ini terasa tegap. Ini adalah model paha wanita yang aku senangi. Bagian dalam paha wanita adalah bagian yang juga menimbulkan rangsangan. Aku berkali-kali mengurut bagian itu sampai dekat sekali dengan bagian kemaluannya.

Gerakanku mengurut itu menyebabkan kimononya makin tersingkap ke atas sehingga celana dalam Marni kelihatan. Dia tidak peduli. Malah kadang-kadang beringsut merasakan urutanku yang mendekati bagian kemaluannya. Tanganku kemudian beringsut masuk ke balik celana dalamnya dan mengurut gumpalan bokongnya yang besar.

Gerakan urutanku mulai nakal karena jempol kiri dan kananku mulai menerobos belahan pantatnya sampai dekat dengan kemaluannya. Jempolku sudah merasakan bulu-bulu kemaluannya. Tapi Marni tidak perduli. Gerakan jempolku naik dan turun melalui belahan pantatnya semakin membuat Marni melayang.

“Aduh Pak saya nggak tahan lama-lama, rasanya jadi nggak karuan,” kata Marni setengah terengah.

“Tahan dulu biar ngajarinya nggak sepotong-sepotong, saya tuntaskan dulu,” kataku.

Bagian punggung adalah bab berikutnya. Kimono, ketika kuminta dibuka, Marni tidak terlalu mempertahankan, meski dia mengatakan malu. Tapi dengan alasan mengurut punggung, maka dia menyerah membuka kimono sambil tetap tiduran.

Kimono sudah terbuka dan Marni tidur telungkup dengan celana dalam dan BH. Meskipun dia STW tetapi tubuhnya masih berpotongan gitar. Pinggangnya kecil, bokongnya gede, dan susunya juga gemuk.

Mulanya aku mengurut punggungnya dengan membiarkan BHnya tetap terpasang. Namun setelah beberapa saat aku buka kaitan BHnya agar aku lebih leluasa mengurutnya dia tidak protes, alias diam saja.

Marni memuji urut ku benar-benar nikmat. Aku mulai mengurut bagian samping badannya sehingga sesekali menyentuh pinggir payudaranya. Bagian ini juga adalah titik sensitif perempuan.

Aku memintanya berbalik, sehingga telentang. Dia malu, tapi tali BHnya tidak dia pasangkan, kecuali mempertahankan BHnya menutupi payudaranya yang meluber.

Aku cuek dan pura-pura tidak memperhatikan. Padahal aku terkesan tetaknya besar sekali.

Aku mulai lagi dari kaki lagi, tetapi hanya sebentar lalu pindah kebagian paha. Aku kembali mengurut paha bagian dalam, dan kali ini jempolku sudah sampai menyentuh bulu kemaluannya yang terasa agak jarang.

Tanganku menyuruk ke balik celananya dan memijat bagian atas kemaluannya lalu jempolku kiri dan kanan turun sampai menekan gundukan kemaluannya kebawah.

Marni terlihat sudah sangat terangsang sehingga tidak peduli lagi dan rasa malunya sudah sirna.

Jempolku memang belum masuk ke liang vaginanya, tetapi sudah menyentuh clitorisnya. Setiap sentuhan halus si clitorisnya dia menggelinjang. Berkali-kali aku lakukan sampai akhirnya tanpa izinnya aku peloroti celananya. Marni malah membantu dengan mengangkat pinggulnya.

Di depanku terpampang jelas kemaluan Marni yang ditumbuhi jembut yang jarang tetapi bentuknya gemuk. Kata orang Jawa, mentul. Aku kembali melakukan urutan di sekitar kemaluannya. Marni menggelinjang-gelinjang setiap kali clitorisnya tersentuh.

Aku tinggalkan bagian kemaluan lalu naik ke perut dengan gerakan halus aku mengusap perutnya. Bagian ini tidak terlalu aku tekan dan tidak lama juga aku melakukannya. Pijatan naik ke atas dan aku mulai menjangkau bagian dada. Aku sengaja mengurut bagian pinggir payudaranya dengan gerakan memutar. Akibatnya BHnya tidak lagi menutupi kedua gundukan daging itu.

BHnya aku singkirkan dan Marni tidak protes. Setelah kedua payudaranya terpampang bebas aku melakukan pijatan memutar, dengan diakhiri oleh usapan telunjukku memutar di puting susunya.

Marni sudah tidak karuan. Dia sudah sangat terangsang. Dia lupa bahwa seharusnya dia mengingat semua gerakan pijatanku. Dia malah menikmati pijatanku.

Setelah kurasa cukup aku kembali memijat daerah sekitar kemaluannya. Dimulai dari bagian pinggir akhirnya telunjukku mengusap-usap clitorisnya. Marni menggelinjang dan mendesis-desis. Kelihatannya dia semakin hot.

Pelan-pelan jari tengahku menerobos masuk ke dalam lubang vaginanya. Jariku mencari wilayah Gspot, sampai kutemukan bagian jaringan lembut di dalam dinding atas vaginanya. Kuusap-usap bagian itu dengan gerakan halus. Marni sesekali mengaduh keenakan. Aku memperkirakan dia sudah hampir mencapai orgasmenya.

Kumasukkan jari tengah dan jari manisku. Aku mengambil posisi bersimpuh di sisi kirinya. Dengan gerakan tiba-tiba aku melakukan gerakan mengangkat tubuh Marni berstumpu kedua jariku di lubang vaginanya. Kuangkat berkali-kali sampai tubuhnya terangkat sedikit, tetapi dampaknya Marni sudah seperti orang kesetanan, mendesis, mengaduh dan kadang berteriak lirih.

Tidak sampai 3 menit gerakan itu aku lakukan Marni mulai mencapai titik orgasme ditandai dengan teriakan yang tertahan. Tepat pada saat dia mencapai orgasme aku menghentikan gerakan dan dengan tangan yang satu berusaha menyibak kedua bibir kemaluannya. Dari lubang kencingnya muncrat cairan agak kental, seperti layaknya ejakulasi pada pria.

Setelah ejakulasinya reda mbak Marni mengatakan bahwa seumur hidup dia belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Badannya dirasakannya lemas dan tulang-tulang rasanya mau copot, dia merasa lelah sekali dan ngantuk.

Seharusnya setelah mendapat pelajaran memijat dia ganti akan memijatku, tetapi sekarang sudah tertidur mendengkur halus. Aku menutup badannya yang telanjang bulat dengan selimut. Aku ikut tidur di sebelahnya dalam satu selimut.

Entah berapa lama aku tertidur. Mbak Marni kelihatannya masih pulas. Kamar terasa gelap. Aku meraih tombol lampu dan sekaligus remote TV. Aku duduk bersandar di tempat tidur sambil menonton TV.

Mendengar suara TV mbak Marni terbangun. Ia melihat sekeliling. Terlihat dia seperti mengingat-ingat sesuatu. Ternyata dia bingung ketika bangun sedang berada dimana. Akhirnya dia melihatku dan ingatannya pulih bahwa dia baru tertidur di kamar hotel mewah.

“Mas aku tadi di apake, kok iso lemes tenan lan enak banget,” katanya.

Aku hanya menjawab bahwa tadi adalah pelajaran pijat komplit. Mbak Marni merasa badannya sudah segar.

Saya menawarkan dia agar menginap saja malam ini di hotel. Besok pulangnya akan saya sangoni sejuta. “Ah mas aku jadi malu, nggak usah dibayarpun aku mau tidur ama mas, orangnya baik. Aku cuma kepikiran si Indri, dia sendirian, tapi udahlah dia tadi tau kok aku kerja,” kata mbak Marni.

Marni lalu memelukku dan kepalanya di letakkan di atas dadaku. Aku dianggapnya seperti suaminya.

Ruangan hotel terasa sangat dingin. Remote AC kuraih untuk mematikan AC, paling tidak mengurangi dingin.

“Mas aku kebelet pipis, tapi aku malu gak pake baju,” kata Marni.

“Malu sama sapa, dari tadi aku sudah liat kamu telanjang, kan ndak ada orang lain,” kataku.

“Tapi jangan diketawai ya mas badanku gemuk,” katanya sambil menyibakkan selimut lalu berjalan terburu-buru ke kamar mandi.

Aku dengar dia menggelontorkan wc dan terdengar juga suara shower.

Aku berdiri menuju meja untuk membuat air panas guna membuat kopi. Kebetulan Marni keluar, dia sekalian aku ajarkan cara memasak air dengan ceret listrik guna membuat kopi. “Sudah mas sini saya saja yang buat kopinya,” katanya.

Aku duduk sambil menghirup kopi dan merokok. Marni bermanja dengan ku. Dia duduk dipangkuanku. Aku masih mengenakan celana dalam sedang Marni telanjang bulat dipangkuanku.

Aku memeluknya dari belakang dan meremas-remas teteknya, Telapak tanganku tidak muat menutup semua teteknya. Marni meski miskin dia beruntung memiliki body yang bagus. Pantatnya besar menyembul kebelakang dan memiliki pinggang yang agak ramping serta perutnya tidak membuncit.

Wajahnya lumayan manis. Mungkin karena kurang perawatan keayuannya sangat bersahaja.

“Ayo mas sekarang saya pijat, saya sudah seger dan masih ingat pelajarannya tadi,” katanya.

Aku segera bangkit dan langsung tengkurap. Marni menjalankan tugasnya. Kini pijatannya sudah nikmat. Dia memahami bagian-bagian mana yang terasa enak dipijat.

“Wis celananya dicopot aja mas, biar kita sama-sama telanjang, adil to,” katanya sambil meloloskan celana dalamku.

Aku benar-benar menikmati pijatannya, kecuali bagian yang sakit bekas dipijat Pak Min tadi siang. Marni kuminta bagian yang sedang “njarem” untuk tidak disentuh.

Dia pandai pula memainkan jarinya mengurutku mulai dari kaki sampai ke pundak. Sensasi dipijat perempuan telanjang adalah ketika dia menduduki tubuhku terasa rambut kemaluannya menggerus-gerus di punggung.

Giliran disuruh telentang, tak ayal lagi penisku langsung tegak bebas. “Wah mas itunya udah ngaceng ya,” katanya sambil meraih penisku.

Dia pandai pula memijat dan berlama-lama di bagian kemaluanku. Aku merasa sudah terbang dengan kenikmatan sentuhannya. Tidak aku sangka dia memainkan lidahnya menjilati penis dan buah zakarku. Sesekali dikulumnya batang penisku lalu disedotnya. Rasanya air maniku seperti akan dipaksa keluar.

“Mas boleh nggak aku masuki ke tempik ku,” tanyanya.

Aku hanya mengangguk saja.

Marni mengatur posisi diatas tubuhku dan perlahan-lahan dibenamkannya penisku ke dalam memeknya. Setelah terbenam semua dia berhenti sebentar, lalu dia melakukan kontraksi. Penisku terasa seperti dipijat oleh vagina Marni. Dia melakukannya berkali-kali menambah kenikmatan di sekujur penisku.

Marni kemudian melakukan gerakan memutar, sehingga penisku seperti mengaduk vaginanya dan aku merasa penisku seperti diremas-remas.

Sepertinya aku tidak akan mampu bertahan jika dia terus melakukan gerakan itu. Badannya kutarik sehingga dia menindihku.

Pada posisi itu dia kelihatannya mengatur posisi agar clitorisnya tersentuh oleh jembutku lalu dia menekan dan menggesekkan dengan gerakan penuh perasaan. Marni lalu mendesis-desis. Aku melihat situasi itu makin terangsang dan rasanya sebentar lagi laharku akan keluar. Marni makin menekankan clitorisnya ke tubuhku dan gerakannya agak cepat.

Agak lama Marni menindih tubuhku sampai seluruh orgasmenya tuntas. Pelan-pelan diangkatnya tubuhnya sambil tanggannya menjaga agar maniku tidak tumpah. Dia lalu buru-buru berjalan ke kamar mandi sambil mengepit tangannya di kemaluan.

Aku tergeletak lemas. Marni keluar dari kamar mandi dengan handuk lembab di tangannya. Penis dan sekitar kemaluanku dibersihkannya dengan handuk kecil yang lembab dan hangat.

Kami istirahat sebentar. Aku lalu merasa ingin berendam di bathtub dengan air hangat. Marni kuajari membersihkan bathtub. Bathtub di kamar suit hotel ini tidak berbentuk memanjang, tetapi segitiga seperti bak jacuzi. Marni mengerti cara mengatur air panas.

Sementara dia mempersiapkan air mandi aku menelpon room service untuk memesan dua porsi nasi goreng.

Nikmat sekali rasanya berendam air hangat di bak. Inginnya berlama-lama. Apalagi berendam berdua dengan Marni yang montok.

Tengah kami berendam, bel pintu berbunyi, menandakan pesanan nasi gorengku sudah datang. Dengan berbalut kimono aku membuka pintu dan menyelesaikan urusan orderku itu.

Aku kembali berendam. Mungkin karena terendam air hangat, penisku kembali memuai. Apalagi Marni bersandar ke badanku sehingga bokongnya menyentuh penisku. Aku meremas-remas teteknya yang kenyal dan gede sekali. Kami saling menyabuni, Penisku semakin mengeras karena Marni mengocok dan melumuri sabun di penisku.

Kami mentas dan belum mengeringkan badan dengan handuk Marni kupeluk dari belakang. Penisku kutusuk ke bagian pantatnya. Marni kuarahkan membungkuk sambil berpegangan meja toilet, lalu kutusuk penisku dari belakang. Permainan begini sebenarnya kurang nyaman bagi penisku, karena penetrasinya kurang maksimal.

Gumpalan daging di bokongnya agak menghalangi penetrasi lebih jauh. Jadi sensasinya saja yang kunikmati. Belum sampai 5 menit aku mulai merasa lelah. Marni kuputar dan kutarik duduk diatas pangkuanku. Aku duduk di toilet bowl yang tertutup. Marni mengangkang duduk dipangkuanku dengan posisi berhadapan.

Aku tidak bisa memperkirakan berapa lama kami bermain dengan posisi itu. Karena aku asyik menyedot susu Marni yang terpampang di depanku. Kurasakan Marni menemukan posisi yang membuat rangsangan di vaginanya maksimal sehingga dia mulai mendesis-desis lagi. Sementara aku agak merasa kebal, karena sudah sekali orgasme.

Kami mencuci kemaluan dengan sabun, sementara penisku masih terus tegak. Tanpa mengeringkan dengan handuk badan kami sudah kering. Aku membimbing Marni ke Tempat tidur. Aku ciumi kedua payudaranya lalu pelan-pelan turun ke bawah, sampai akhirnya aku menjilati sekitar kemaluannya. Mulanya Marni mencegah karena katanya jijik.

Marni belum pernah di oral suaminya, sehingga dia belum punya pengalaman. Aku tetap bertahan sampai lidahku menyentuh sekitar clitorisnya. Marni menggeliat dan akhirnya tangan yang tadinya berusaha mencegah kepalaku mendekati vagina sudah melemas. Marni mulai menikmati jilatanku di sekitar clitorisnya.

Dia mulai mendesah-desah dan aku memfokuskan jilatan ke seputar kepala clitorisnya. Pinggulnya mulai bergerak mengikuti gejolak nafsunya. Aku terpaksa menahan gerakan itu dengan kedua tanganku memeluk kedua pahanya yang besar. Gerakan itu menyulitkan jilatanku terfokus. Aku sekarang menyerang langsung ujung clitoris yang terasa menonjol.

Sementara orgasme. Lidahku kutekan ke clitorisnya. Clitorisnya ikut berdenyut-denyut seperti penis pria.

Wajah puas tergambar di wajah Marni. Aku meneruskan aksiku mencolokkan kedua jariku kedalam vagina. Aku mulai melakukan aksi mengangkat badan Marni dengan kedua jariku dengan ritme cepat. Marni melolong-lolong karna kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mungkin belum sampai satu menit dia sudah menjerit mencapai orgasme Kembali kutekan seluruh permukaan kemaluannya sampai denyutan orgasmenya tuntas.

Jeda sekitar satu menit aku kembali melakukan aksi merangsang Gspot dengan aksi kedua jariku kedlam vaginanya. Marni mendesis-desis sambil sesekali meneriakkan ampun karena badannya lemas sekali. Tapi aku tidak perduli dan aksi kuteruskan. Marni makin cepat mencapai orgasme lagi. Begitu berkali-kali aku lakukan sehingga Marni mencapai multi orgasme berkali-kali.

Aku berusaha berkonsentrasi menggenjot Marni. Mungkin karena efek multi orgasme tadi, Marni kembali mendapat orgasmenya, sementara aku masih setengah jalan. Jadi meski dia berteriak-teriak minta ampun dan minta aku berhenti sebentar, tapi tetap aku genjot. Keganasan itu rupanya membuat Marni menjadi lebih cepat mendapat orgasme lagi.

Spermaku tidak banyak keluar, sehingga tidak sampai tumpah keluar. liang vagina. Aku segera ke kamar mandi membersihkan penisku dan berkumur, lalu membawa handuk lembab untuk membersihkan kemaluan Marni yang banjir.

Ruang terasa panas, karena tadi AC kumatikan. Aku menghidupkan AC dan Marni yang sudah pasrah kuselimuti. Aku pun ikut menyelinap di bawah selimut. Kami terlelap.

Aku terbangun karena sinar matahari mulai menembus tirai dan juga kebelet pipis. Usai melepaskan hajat kecilku Marni mengikuti pipis juga di kamar mandi.

Badanku terasa lelah sekali dan tidak seperti biasanya, jika pagi penisku bangun, tapi kali ini dia tetap loyo. Aku berpikir, mungkin karena semalam sudah terlalu banyak tugas, sehingga dia sekarang malas bangun.

Aku tidur tengkurap dan kuminta Marni yang sudah segar untuk memijatku. Pijatan pagi-pagi gini nikmatnya luat biasa. Apalagi yang dipijat dan yang memijat sama-sama bugil. Aku dan Marni main satu ronde lagi setelah akhirnya penisku bangun karena dirangsang Marni.

Kami Mandi bersama dan kulihat jam sudah menunjukkan 10 pagi. Sarapan di restoran hotel tentunya sudah tutup.

Aku mengeluarkan uang di dompetku 10 lembar uang ratusan dan kuserahkan ke Marni. Dia mulanya malu-malu menerima, tapi akhirnya dimasukkan juga uang itu ke dalam dompet di tasnya, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Sebelum pamit pulang Marni kuminta untuk menemaniku lagi malam nanti. Dia sempat mencatat no HP ku. Lalu kuantar turun menemui Paino untuk pulang ke rumah.

Aku kembali ke kamar meneruskan tidur sebentar. Tapi mata susah terpejam, karena perut lapar.

Bersambung…

Kalau warga disini berkenan dgn cerita repost ini akan dilanjut

© 2022 - CeritaSeru.xyz