November 01, 2020
Penulis — pujasejagat

Pemijat

Setelah pensiun di usia 55 tahun tidak ada kegiatan dan kesibukan. Pada awalnya memang terasa bebas karena tidak ada keharusan bangun pagi, berangkat ke kantor. Setelah hampir setahun terasa jenuh juga. Hidup dengan penghasilan yang kurang memadai membuat kehidupanku jadi agak menurun. Kedua anak ku sudah dewasa dan sudah bekerja semua, untuk biaya rutin memang aku tidak pusing.

Entah dari mana idenya, tiba-tiba aku mencoba terjun jadi pemijat. Tetapi bukan pemijat biasa, aku ingin mengkhususkan diri memijat wanita. Aku jadi berminat mempelajari cara-cara memijat, baik membaca buku-buku sampai menelusuri berbagai website di internet. Agak sulit memang, tetapi sedikit-demi sedikit aku mulai hafal titik-titik syaraf, terutama di tubuh wanita.

Kenapa aku berminat menjadi pemijat yang khusus wanita. Aku ingin mempunyai pengalaman di bidang itu. Uang tidak terlalu menjadi tujuanku, tetapi pengalaman itu yang aku cari.

Aku memulai dengan memasang iklan di koran. Setiap hari selama satu bulan aku pasang iklanku. Setelah 10 hari iklan ditayangkan aku baru mendapat telepon. Peneleponnya seorang wanita. Dia bertanya sangat mendetail. Aku menjawab seadanya, tidak ada yang kulebih-lebihkan.

Dia kemudian memutuskan untuk minta aku pijat. Wanita ini tinggal di hotel, karena dia memang bukan orang Jakarta. Jantungku agak berdebar juga, menghadapi order yang pertama ini.

Sesampai di lobby aku menghubunginya melalui house phone. Dia mempersilakan aku langsung ke kamarnya. Ketika pintu dibuka aku melihat seorang wanita yang tidak muda lagi. Usianya kutaksir sekitar 45 tahun, badannya agak gemuk, tapi guratan wajahnya masih tersisa kecantikannya ketika muda dulu. Setelah ucapan selamat malam, aku dipersilakan duduk dan dia menanyaiku macam-macam.

Ibu ini khawatir bahwa aku bukan tukang pijat sungguh-sungguh. Dia tidak suka dipijat oleh gigolo dan semacamnya. Tapi dia juga kurang suka dipijat oleh perempuan, karena tenaganya kurang kuat. Aku hanya berbohong bahwa profesiku sudah kujalani sekitar 10 tahun. Padahal ini adalah yang pertama.

“Pak, aku pakai apa, pakai kimono ini bisa,” tanyanya.

“Terserah ibu, enaknya pakai apa.” Jawabku.

“Pakai body lotion saya saja ya pak, “katanya memberi body lotion lalu dia tidur telungkup.

Aku memulainya dengan memijat telapak kaki kanan. Aku mencoba dia sekuat apa mampu menahan tekanan jari-jariku. Pertama aku hanya menekan telapak kakinya biar agak lemas, setelah itu titik-titik syarafnya aku tekan satu persatu. Pada penekanan titik-titik syaraf itu baru dia menggelinjang-gelinjang kesakitan.

Aku jelaskan mengenai organ-organ tertentu yang kurang sehat. Dia mulai mengagumiku, karena aku mengerti pusat-pusat syaraf. Aku tekan beberapa pust syaraf di telapak kaki sampai dia tidak terlalu merasa sakit lagi. Aku mulai merambah ke betisnya. Betisnya cukup besar dan lemaknya tebal. Aku lumuri body lotin di sekujur betisnya.

Aku menekan bagian betisnya agar terasa lebih nyaman. Otot-otot betisnya terasa agak kaku. Mulanya dia merasa agak sakit, tetapi lama-kelamaan berkurang karena ototnya mulai melemas. Dibagian betis aku juga menekan simpul-simpul syaraf. Pijatanku kubatasi sampai belakang lutut, lalu aku pindah ke kaki sebelah lagi.

Dari berbagai simpul syaraf, yang paling kuhafal adalah simpul syaraf rangsangan. Dia kedua kakinya aku mainkan simpul syaraf rangsangan. Syaraf itu jika bereaksi maka pemiliknya merasa gerah, atau panas. Benar saja si ibu mulai mengeluhkan jika ACnya kurang dingin, padahal dari tadi ACnya sudah cukup dingin.

Aku perlu menekan syaraf rangsangan itu hanya untuk mencairkan suasana agar si ibu tidak kaku dan rasa malunya agak berkurang. Jika dia sama sekali tidak terangsang, bisa-bisa aku tidak bisa langsung memijat paha dan badannya langsung, tetapi dari balik kimono.

Aku merasa yakni bahwa si ibu sudah mulai terangsang, pertama karena dia mulai merasa gerah, dan kedua ketika aku minta ijin memijat pahanya, dia mengangguk saja. Aku memang tidak menyibak kimononya, tetapi tanganku menelusuri pahanya dari bawah kimono. Meski aku tidak melihat, tetapi tanganku merasakan betapa tebalnya paha si Ibu.

Bagian paha dipenuhi lebih banyak syaraf rangsangan, terutama paha bagian dalam. Aku memainkan tekanan pijatan di bagian itu. Gerakan pijatanku lama-lama mengakibatkan kimononya tersingkap makin tinggi. Kedua pahanya sekarang sudah terpapar jelas bahkan calana dalamnyanya juga sudah kelihatan. Aku sangat berhati-hati untuk tidak menyenggol bagian vaginanya.

Dalam keadaan seperti itu, aku mengatakan akan memijat punggungnya, dan minta persetujuan apakah dipijat dengan tetap tertutup kimono, atau kimononya dibuka, sehingga bisa dipijat dengan body lotion. Si ibu memperbolehkan aku memijatnya langsung. Kimono dibukanya dalam keadaan dia masih telungkup. Aku membantu melepas kimononya dan aku gantungkan di pintu kamar mandi.

Aku mulai beroperasi di pungungnya. Gerakan pijat di punggun memberikan rasa nikmat melonggarkan rasa cape, juga rasa nikmat rangsangan. Aku melakukan gerakan kombinasi keduanya.

“Pak kalau merepotkan BHnya dilepas saja,” kata si ibu.

Dengan gerakan hati-hati aku mencopot kaitan bhnya. Mungkin karena si ibu sudah terangsang sehingga dia malah ingin pula merangsangku dengan pancingan melepas bh. Aku masih mengontrol diri. Gerakan pijatanku berkali-kali masuk ke bawah celana dalamnya untuk menekan bagian pantatnya. Aku katakan bahwa efek pijatan itu mengendorkan otot-otot yang kaku di bagian pantat, karena terlalu banyak duduk. Kelihatannya dia percaya, sehingga dia menawarkan aku untuk membuka celana dalamnya.

© 2022 - CeritaSeru.xyz