November 02, 2020
Penulis — Pemanah Rajawali

Karena Mirip

Karena Mirip

Aku akan bercerita mengenai suatu penggalan kisah dalam kehidupanku. Namaku Ajang, sekarang usiaku sudah 30 tahun, aku sekarang bekerja sebagai manajer keuangan di salah satu perusahaan besar di Singapura. Aku mempunyai seorang isteri bernama Wanda yang berusia 47 tahun dan lima orang anak, 2 laki-laki dan 3 perempuan.

Walaupun isteriku lebih tua, namun ia tetap cantik. Isteriku kulitnya putih dan memiliki bentuk tubuh yang semok atau bahenol. Ia gemuk di tempat-tempat yang strategis, seperti di dada, pinggul dan paha. Perutnya tidak buncit, melainkan sedikit gemuk karena sudah beberapa kali melahirkan. Cerita ini adalah cerita singkat mengenai bagaimana aku berhasil mendapatkan Wanda sebagai kekasihku dan akhirnya menjadi isteriku dan ibu dari kedua anak-anakku.

Sebelum menjadi kekasihku, Wanda adalah isteri orang. Aku dapat dikatakan sebagai orang ketiga, penghancur rumah tangga orang. Dan yang lebih hebat dari itu, lelaki yang berhasil kuambil isterinya adalah ayahku sendiri! Ya, Wanda adalah ibuku. Bukan ibu tiri, melainkan ibu kandung yang melahirkan aku dari rahimnya sendiri.

Semua ini terjadi adalah karena sebuah kecelakaan yang terjadi ketika aku berusia 16 tahun. Pertama kali aku harus menggambarkan keluargaku, namanya Tedy. Ketika aku berusia 16 tahun, ayahku berusia 48 tahun. Ia adalah salah satu pedagang emas di Jakarta. Ia menikah di usia yang cukup tua, yaitu 31 tahun.

Ibuku saat itu berusia 16 tahun, lulusan SMP yang bahkan tidak masuk SMA. Ibu adalah anak dari supir ayahku. Ketika ayahku melihat ibuku, ia langsung jatuh cinta dan meminta kakekku untuk menikahi ibuku. Kakekku senang sekali dapat naik status jadi mertua bossnya sendiri, sehingga terjadilah pernikahan itu.

Keluarga kakekku adalah keturunan tinggi besar. Kakekku sendiri tingginya 180 cm. Sementara ibuku, saat aku berusia 16 tahun itu tingginya 170 cm. Ayahku sebaliknya, tingginya hanya 160 cm saja. Bagusnya ayahku tubuhnya biasa saja, tidak gendut dan tidak kurus. Lucunya, saat itu, walaupun usiaku 16 tahun, tapi perawakanku mirip sekali dengan ayah apalagi suaraku juga mirip dengan ayahku.

Sehingga, bila ada orang melihat aku dalam kegelapan dan mendengar suaraku, terkadang suka salah mengenaliku sebagai ayah. Tetapi, bila orang melihatku di dalam ruangan yang terang, tentu langsung tahu, karena mukaku lebih mirip ibu. Inilah hal yang sebenarnya menjadi pokok permasalahan dalam cerita ini.

Dari kecil aku tahu ibu adalah wanita cantik. Tubuhnya tinggi dan cukup langsing, hanya pinggulnya saja besar karena melahirkanku. Namun bagusnya, karena anak ibu hanya satu, maka tidak ada perubahan lain lagi di tubuhnya. Berkali-kali aku melihat lelaki melihati ibu dengan terbelalak saat aku menemani ibu berjalan-jalan, entah ke pasar, mall atau ke mana saja.

Wajah ibu yang cantik itu dikarenakan paduan mata lentik, hidung mancung, pipi tinggi dan mulut yang tipis namun agak lebar, dihiasi rambut setengah punggung yang ikal, bergelombang di daerah leher ke bawah. Sementara, dadanya sangat menonjol di balik pakaian modisnya. Namun, selama aku kecil sampai aku berusia 16 tahun itu, belum pernah ada sedikitpun pikiran kotor mengenai ibu.

Sampai ketika suatu saat aku pulang ke rumah hampir tengah malam. Aku baru saja pulang dari bermain bilyar. Sebenarnya aku sudah ijin untuk menginap di rumah teman, tetapi ternyata teman-temanku membawa obat-obatan terlarang. Aku baru mengetahui hal itu ketika aku sampai di rumah teman-temanku setelah bermain bilyar.

Rumah kami besar, bertingkat dua. Kamarku sebenarnya berjauhan dengan kamar orangtuaku. Kamar kami berada di lantai dua. Kamarku di bagian belakang, dan kamar orangtuaku di depan sehingga langsung berhadapan dengan teras atas rumah. Untuk ke teras, aku harus melewati ruang keluarga di mana sebelah kirinya adalah kamar orangtuaku itu.

Suasana dalam rumah sudah gelap semua. Hanya cahaya di teras yang mengintip di celah tirai jendela yang menerangi sedikit ruangan keluarga. Baru aku mau masuk ruang keluarga, dari arah tangga kudengar langkah-langkah ringan dibarengi senandung ayahku. Rupanya tadi ayah di ruang kerjanya yang di bagian belakang rumah di tingkat satu sehingga tidak bertemu dengan aku ketika aku baru pulang.

Kulihat ayah masih memakai kemeja dan celana panjang dan dari sendandungnya tampaknya sedang happy namun terburu-buru. Dari koridor luar ruang keluarga aku memandangi tingkah lucu ayahku. Aku tidak akan terlihat dari tempatku berdiri karena sangat gelap sehingga ayah tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya.

“Ini dia yang ditunggu-tunggu!” kata ayah setelah ia membuka pintu dengan tiba-tiba. Lalu ayahku mulai melepas kancing kemejanya di ambang pintu itu yang membuatku kaget. Ia mendorong pintu dengan kakinya namun pintu tidak tertutup dengan baik karena kurang tenaga yang dikerahkan.

“eh… Tutup pintu yang benar dulu! Nanti dilihat orang!” terdengar suara ibu walaupun wajahnya tak dapat kulihat karena terhalang tembok.

“Aaahhh… Si Ajang lagi nginep di rumah temennya. Ga ada siapa-siapa!” jawab ayah sambil sedikit berlari dan lalu melompat ke tempat tidur.

Aku terkejut menyaksikan ini. Rupanya kedua orang tuaku sebentar lagi akan melakukan hubungan seks! Pada mulanya aku berniat untuk kembali ke kamar, namun tiba-tiba punya ide brilian. Selama ini aku sering juga menonton film bokep, kadang di rumah teman, tapi lebih sering di kamar sendiri karena aku punya beberapa film blue barat maupun asia.

Perlahan aku berjingkat ke depan pintu kamar tidur orangtuaku. Bagusnya, kamar orangtuaku itu terletak di sebelah kiri ruang keluarga dan dekat dengan tangga. Tangga itu dibangun di antara 2 buah dinding yang menempel atap, suasananya begitu gelap.

Ketika aku sampai di dinding dekat pintu, perlahan aku melongok ke dalam. Pintu itu terbuka sedikit. Aku merangkak pelan dan melihat dari celah yang terbuka sedikit. Kulihat ayah sedang duduk bersimpuh di sebelah ibu yang juga duduk menghadap dinding, kalau dari arahku, wajah ibu melihat ke arah kiri, jadi tidak menghadap pintu.

“Pa… Aku ngantuk nih… Tadi kan baru arisan dari rumah Bu Dewo…” kata ibu perlahan dengan suara mengantuk saat gaun tidur ibu sudah terbuka dan memperlihatkan tubuhnya yang ramping yang kini hanya tertutup BH dan CD berwarna krem.

“Ya sudah,” kata ayah, sementara tangannya sedang asyik membuka kaitan BH di punggung ibu, “Mama ga usah ngelayanin. Diem aja. Udah ga tahan nih Papa…”

Aku semakin deg-degan memandang ayah yang sedang melucuti tubuh ibu. Ada perasaan penasaran ketika aku melihat tubuh setengah telanjang ibu yang ramping dan indah itu namun perasaan itu ditemani perasaan takut ketahuan. Entah kenapa kedua perasaan yang campur-aduk itu membuat adrenalinku tercapu menimbulkan perasaan kecanduan dan tak ingin rasanya aku melewatkan pemandangan indah yang bakalan aku rasakan.

“tadi katanya mau pergi ke Bandung, ada pindahan toko?” kata ibuku bersamaan dengan ayah telah berhasil membuka kaitan bhnya. Kemudian secara cepat BH itu sudah lepas dari tubuh ibu. Aku hampir saja mendesah melihat buah dada ibu tiba-tiba saja terpampang di hadapanku.

Kedua payudara ibu tidak lah besar tidak lah kecil. Ukurannya sedang. Bukan payudara yang biasa terlihat dimiliki bintang majalah Playboy. Tetapi payudara yang ukurannya biasa saja. Hanya saja membulat dan tegak. Mirip-mirip payudara bintang film Tarzan X, isterinya Rocco Siffredi. Hanya saja, kulit ibuku putih bagai pualam dan mengkilat, sangat mulus, apalagi dihiasi dua buah pentil yang mancung dan cukup mungil.

“Nunggu Si Yadi (supir kami), katanya ada urusan keluarga. Harusnya dua jam lalu udah dateng. Kayaknya sih ga jadi nih.” jawab ayah yang berusaha mencium bibir ibu. Ibu membalas tapi hanya sebentar.

“Ya udah cepetan sana, kalau Yadi dateng mau berangkat?” suara mengantuk ibu ditambah dengan suara ia menguap lebar-lebar.

Ayah hanya mengangkat bahu. Katanya.

“Kayaknya harus konsen sama yang satu ini…”

Ayah lalu mendorong tubuh ibu sehingga telentang. Dengan cepat kedua tangannya menarik celana dalam ibu. Jantungku kini berdetak tak menentu melihat jembut ibu secara mendadak. Jembutnya dicukur rapi sehingga hanya ada bulu kemaluan berbentuk segitiga kecil di atas bibir memeknya. Kulit di sekitar bulu memek ibu halus sekali, tanda sering dicukur.

Perlahan ayah memegang kaki ibu lalu ditarik ke ujung tempat tidur. Kaki ibu diposisikan agar ngangkang, tapi kaki ibu bagaikan tak bertenaga sehingga kedua kaki itu jatuh terus. Tampaknya ibu ngantuk berat. Akhirnya, ayah membalikkan tubuh ibu lalu menaruh ibu di posisi telungkup dengan kedua kaki jatuh di lantai.

Ketika ayah mulai membuka resletingnya, tiba-tiba terdengar bunyi bel.

“Sialan!” umpat ayahku. Tampaknya Pak Yadi sudah datang. Aku segera berjalan mundur ke arah tempat aku tadi masuk. Tak berapa lama, ayah keluar kamar buru-buru dengan pakaian sudah lengkap. Aku hendak kembali ke kamar tidurku sendiri, tetapi kulihat pintu kamar ibu terbuka setengah. Aku menjadi punya pikiran jorok.

Perlahan kuintip lagi kamar ibu. Terdengar suara nafas ibu perlahan dan teratur, seperti sudah tidur. Kupandangi pantatnya yang bulat dan telanjang itu. Tak terlihat memeknya dari sini. Kuberanikan diri masuk. Wajah ibu untungnya menghadap arah berlawanan dengan pintu, kepalanya menghadap kiri sementara aku dari arah kanan ibu.

Aku lalu ingat perawakanku yang mirip ayah. Aku mirip perawakan saja, kalau wajah jauh banget. Hanya dalam kegelapan aku mirip ayah. Maka aku matikan lampu kamar itu, beruntung saklarnya dekat pintu, lalu aku mendekat ke tempat tidur hendak melihat memek ibu. Kamar itu gelap, namun cahaya dari teras masuk melalui celah tirai dan lubang angin, sehingga mataku masih bisa melihat bayangan tubuh ibu dalam keremangan.

“Kirain udah jalan,” kata ibu perlahan, “pintu bukannya ditutup tadi. Tutup pintunya, tar Yadi kemari.”

Ibu menyangka ayah belum jalan. Aku lalu berbisik sambil menutup pintu.

“Iya.”

Aku berdiri di belakang ibu. Kulihat dalam keremangan malam, belahan memek ibu yang gemuk.

“Jangan lama-lama. Yadi tar curiga,” kata ibu lagi.

Untuk sebentar, aku tak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus langsung mengentoti ibuku? Tapi di lain pihak, aku penasaran juga melihat kelamin ibu yang belum pernah aku lihat. Maka perlahan aku berlutut dan mendekatkan wajah ke pantat ibu. Bau tubuh ibu samar-samar tercium ketika hidungku mendekat.

“tumben. Mau jilat dulu? Jilat deh. Masih kering nih. Abis, belum diapa-apain sih.”

Aku mendekatkan hidungku ke vagina ibu. Bau tubuh ibu yang samar-samar itu bercampur bau sedikit pesing. Bukan bau yang membuat aku muak, melainkan bau yang membuat aku semakin birahi. Tadi aku hanya mau lihat saja sebenarnya, kini, otakku seakan hanya dipenuhi keinginan merasakan memek ibu saja.

Tak tahan lagi, aku membenamkan hidung di belahan memek ibu itu. Kedua tanganku memegang kedua pantat ibu yang bahenol. Kuhirup dalam-dalam bau memek ibu itu sementara hidungku perlahan menekan bibir vagina ibu itu sambil menggerakkan kepalaku naik turun.

“hmmmmm… Semangat banget… Tumben-tumbenan”

Kepalaku seakan berputar-putar menahan gejolak nafsu. Bau tubuh ibu perlahan mulai menguat dan memeknya yang tadi kering mulai melembap pula. Kukeluarkan lidahku dan kusapukan di kemaluan ibu itu.

“ssshhh… Terus pahhhh…”

Dengan penuh nafsu kucolok lidahku ke dalam dan secara rakus mulai menjilat bagian dalam memek ibu perlahan-lahan. Ada sedikit rasa asam dan pahit di lidahku, tetapi entah kenapa menjadikan aku bernafsu sekali. Aku buka celana panjangku, dari tadi aku tidak sempat memakai gesper. Aku tidak melepaskan celana panjangku, kubiarkan saja jatuh di pergelangan kakiku.

Makin lama memek ibu makin basah. Bahkan akhirnya sudah banjir sehingga selangkangan ibu dan wajahku sudah basah kuyup oleh cairan keintiman ibu. Ibu hanya menggumam keenakan terus sementara lidahku asyik menjelajahi memek ibu itu.

“terus paaahhh… Terusss… Ahhhhhh…”

Nikmat sekali rasanya memek ibu di lidahku, apalagi di kontolku, pikirku saat itu. Maka aku segera berdiri, memposisikan kontolku di lubang memek ibu, setelah beberapa saat kepala kontolku sudah menancap di permukaan lubang vagina ibu lalu dengan cepat aku sodok pantatku ke depan.

“aaaaahhhhhhh…”

Kami berdua mengerang saat penisku menerobos vagina ibu yang sudah licin itu dalam satu tusukan sehingga akhirnya selangkanganku mentok di pantat ibu yang bulat. Memek ibu menjepit keras kontolku. Hawanya hangat sekali. Aku menindih punggung ibu. Untuk sementara aku terdiam menikmati jepitan dinding memek ibu yang hangat itu.

Kepalaku telah menempel di punggung ibu yang sekarang melengkung. Ibu kini mendongakkan tubuh atasnya, kedua tangannya menyiku menahan badan. Ia menatap dinding kanan. Baru aku sadari di dinding kanan ada cermin besar. Dengan kaget kulihat cermin itu. Hanya terlihat dua tubuh dalam kegelapan sedang bertindihan.

“kontolmu terasa lebih besar hari ini, paaahhhh… Enak banget… Rasanya penuhhhh…”

“memek mama rasanya yang sempit… Minum jamu ya?” kataku untuk menghilangkan kecurigaan. Hanya saja aku setengah berbisik agar ibu tidak terlalu curiga. Suaraku memang mirip ayah, tapi aku tidak mau lengah. Jangan sampai ibu curiga dengan suaraku.

“abis papa jarang ngunjungin sih…”

“papa kan sibuk…”

“goyangin dong pah… Entot isterimu…”

Kami berbicara dengan memandang cermin, aku hanya melihat siluet wajah ibu saja dan aku yakin ibu juga hanya melihat siluetku yang mirip ayah. Karena merasa aman, aku mulai menggoyang pantat maju mundur sambil menyusupkan tangan ke depan. Ketika kedua tetek ibu yang lembut dan kenyal itu terpegang, perlahan aku meremasinya sambil terus mengaduk-aduk memek sempit ibu itu.

Ibu membalas goyanganku sehingga kami perlahan bergerak dari tidak seragam menjadi satu irama. Suara pantat dan selangkangan perlahan berbenturan mulai terdengar. Memek ibu bertambah licin dan sekarang terasa agak panas di kontolku. Dindingnya benar-benar sempit. Kami berdua mulai terengah-engah dalam naungan birahi.

Mulutku mulai menciumi punggung ibu. Kulitnya begitu halus terasa di bibirku. Buah dadanya begitu lunak dan pejal. Pentilnya kupelintir-pelintir. Bau tubuh ibu kini mulai tercium jelas sekali. Lama kelamaan kami mulai mendorong keras kedua pantat kami. Suara benturan dua tubuh semakin keras terdengar.

“terus pahhhh… Papah tumben kuat… Terus paaaahhhhh…”

Tahu-tahu ibu memutar tubuhnya ketika aku sedang menarik pantatku, sehingga kontolku lepas. Aku kaget, aku segera berfikir bahwa ibu mengetahui kenakalanku. Namun kekagetanku hanya sementara. Ibu lalu bergegas tidur telentang sambil memanggilku.

“Papa di atas aja… Biar lebih enak…”

Aku yang sedang dalam birahi tingkat tinggi tidak pikir panjang dan segera menindih ibu yang sudah mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Ibu memegang kontolku dan mengarahkan ke memeknya. Dalam satu tusukan aku membobol lagi memek ibu dan membenamkan kontolku sampai amblas semuanya dilahap lubang memek ibu yang sudah licin.

Lidah ibu bermain-main di mulutku. Untuk sebentar aku kaget, untuk kemudian membalas lidah ibu itu. Kami saling menukar ludah dan saling mengecup bibir dengan buasnya. Kedua pantat kami sudah saling mengimbangi, sehingga kini tanpa penyesuaian irama entotan kami berpadu dan selaras. Tiap kali aku dorong pantatku, ibupun mendorong pantatnya, tiap kali aku tarik ibu juga tarik.

Kami berpelukan dengan erat sekali. Kedua kelamin kami sudah menyatu, dada kami berhimpitan dan mulut kami melekat erat. Kurasakan tubuh ibu yang halus menjadi licin karena keringat kami berdua. Halus sekali kulit itu, sehingga kulitku yang masih muda itu sungguh amat beruntung dapat merasakannya. Semenjak kontolku terbenam pertama kalinya di vagina ibu, kami bersenggama sudah hampir sepuluh menit.

Antara aku dan ibuku sudah tidak terhalang satu apapun juga. Tubuh telanjang ibu dan tubuh telanjangku berhimpitan. Kulit menempel dengan kulit, kelamin menempel dengan kelamin. Sepuluh menit yang penuh kenikmatan itu, tubuh ibu dan tubuhku telah menjadi satu tubuh. Persetubuhan yang terlarang, tabu dan penuh dosa, namun terasa nikmatnya tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Kemudian ibu mempererat pelukannya kepadaku, kedua kakinya melibat kakiku erat-erat. Ciumannya semakin buas. Ibu menyedot-nyedot lidahku sementara nafasnya sudah memburu keras sehingga terdengar mendengus-dengus bagai kuda yang sedang berpacu.

“Aaaahhhhhh…” tahu-tahu ibu mengangkat kepalanya dan berteriak, sementara aku merasakan dadaku sesak karena pelukan ibu sangat kencang, sementara memek ibu kurasakan bagaikan mengejang-ngejang menjepiti kontolku dengan keras disertai cairan kemaluan ibu bagaikan merembes deras menyirami kontolku yang kini terbenam sedalam-dalamnya dan tidak bergerak karena kedua tangan ibuku sedang menggenggam pantatku dan menariknya keras-keras sementara selangkangan ibu mendorong kuat-kuat, seakan ibu ingin kontolku lebih dalam lagi masuk ke dalam tubuhnya.

Akupun merasa tak tahan sehingga akhirnya aku melepaskan spermaku di dalam tubuh ibu yang seksi itu. Semprotan demi semprotan peju keluar dari kontolku memasuki rahim ibu. Selama beberapa menit setelahnya kami tiduran saling menindih. Dalam posisi aku menindih ibu, aku pun tertidur.

Untung saja pada jam 4 pagi aku terbangun. Baru terpikir olehku, bila ibu mendapatiku tidur tanpa busana di sebelahnya saat pagi datang, tentu nasibku akan buruk sekali. Ketika aku beringsut bangun, aku mendapati ibu tertidur tengkurap. Cahaya bulan menyinari tubuhnya yang telanjang. Sekarang kalau ibu bangun, ia dapat melihat wajahku, namun saat itu aku sedang kesusahan dan aku menjadi serbasalah.

Ya, kesusahan itu adalah kontolku tegang lagi melihat punggung ibu yang indah. Otot-otot yang menghiasi punggungnya bagaikan lukisan jaman dahulu, apalagi pantatnya yang semok. Kupikir kalau aku entot ibu dari belakang, toh ibu tidak akan dapat melihat wajahku. Dan bila ia mau melihat cermin, aku akan membenamkan wajah di punggungnya.

Aku segera menciumi punggung ibu yang halus itu. Bau tubuh ibu sekarang mulai aku kenal. Bau tubuh ibu menyegarkan dan juga menyebabkan birahi. Sekujur punggungnya aku ciumi dengan telaten. Tak satu jengkalpun terlewati. Lama kelamaan ciumanku mengarah ke bawah dan setelah beberapa menit, bibirku telah mencapai pantat ibu yang putih dan seksi.

Bibirku mulai asyik mencium-cium pantat ibu. Kuberanikan untuk mulai menjilati pantat itu. Rasanya sungguh berbeda. Bukan kenikmatan yang didapat saat orang makan, tetapi kenikmatan di lidah ini membuat segala syaraf seksualku tergelitik. Aku mulai mengenyot-ngenyot pantat ibu itu.

“Belum jalan, pa?”

Aku kaget. Ternyata ibu terbangun. Mungkin karena aku terlalu semangat mengenyot pantat ibu. Aku hanya menggumam.

“tumben hari ini papa semangat…” kata ibu dengan suara mengantuk. Aku belagak tak mendengar dan terus mengunyahi pantat ibu yang semok itu. Tak lama suara nafas ibu kembali menjadi teratur dan kupikir ia mungkin sudah tidur lagi.

Kedua tanganku meremasi pantat itu sementara mulutku masih asyik merasakan pantatnya yang berisi itu, hingga suatu ketika kedua tanganku menarik kedua pantatnya kearah kanan kiri sehingga anus ibu terlihat dalam cahaya bulan. Ada bau yang eksotis yang keluar dari anusnya. Aku sering juga menonton bokep dan melihat orang menjilat dan menyodomi anus perempuan.

Perlahan-lahan aku membenamkan hidung di lubang tahi ibuku itu. Baunya agak keras dan aneh. Namun tidak membuatku kecil hati bahkan kontolku sudah keras lagi jadinya. Lalu aku mulai menjilati sekitar lubang anus ibu. Kurasakan tubuh ibu sedikit menggigil. Entah ia terbangun lagi atau tidak. Kemudian aku mulai menjilati anus ibu yang tertutup itu.

Entah berapa menit aku menjilat sebelum terdengar suara ibu.

“ih papa… Hari ini aneh banget… Sekarang jilat bool mama…”

“enak, ma?” kataku pelan.

“geli… Tapi enak… Emang rasanya bool mama apa, pa?”

“enak banget…” kataku sambil membuka pantatnya lebar-lebar menggunakan tanganku sehingga anusnya sedikit terbuka, lalu aku dorong lidahku masuk sedalam mungkin.

“oooooohhhhhh… Enaaak paaaaahhh…”

Sekarang lidahku sudah masuk ke dalam lubang dubur ibu. Hampir setengah lidahku yang masuk di dalamnya. Kulihat tangan kanan ibu sudah ada di selangkangannya, tampaknya ia sedang memainkan klitorisnya. Sensasi panas dialami lidahku ketika lidahku bergerak menjilati bagian dalam lubang anus ibuku itu.

“sssshhh… Geliiiii… Enak paaaahhhh… Terus paaahhhh…” ibuku semakin tenggelam dalam racauan kenikmatan, sementara kurasakan selangkangannya mulai bergerak cepat karena tangan ibu sekarang asyik sekali mengusap-usap klitorisnya sendiri dengan keras.

Aku semakin heboh menikmati lubang tahi ibu. Lidahku memutar-mutar agar seluruh dindingnya dapat kurasakan, terkadang aku jilati keras-keras. Bulir-bulir halus ibu sudah hilang aku telan semua, dan kini lidahku hanya menjilat-jilat lubang ekskresi ibu yang selain sempit menjepit, namun halus dan lunak.

Tak lama ibu berteriak sambil pantatnya menekan tangannya sendiri. Ibu orgasme dengan hanya kujilati anusnya. Lalu tangan ibu kembali ditarik ke samping badan, nafas ibu tampak tersengal, tapi selebihnya ibu tetap tengkurap dengan lemas.

Aku perlahan bergerak ke belakang tubuh ibu yang tengkurap itu. Kedua lututku kuletakkan di samping paha ibu. Perlahan tangan kananku memegang burungku yang sudah sangat tegang. Dengan tangan kiri aku menyibakkan pantat ibu hingga lubang anusnya terlihat sedikit menguak. Kutaruh kepala kontolku sehingga menempel di depan lubang dubur ibu yang sudah basah oleh ludahku dan keringat ibu.

Berhubung sudah sedikit yang masuk, kontolku tidak akan lepas lagi. Kuludahi tangan kananku dan kuusapkan ke kontolku agar menambah licin permukaan kulitku. Selain itu ludahku juga kupeperkan di sekitar lubang anus ibuku itu. Setelah kurasa cukup, dengan kedua tanganku aku buka pantat ibu kesamping kiri dan kanan, memperlebar rekahan lubang duburnya.

“aduuuuuhhh… Sakit paaaahhhhh…” tiba-tiba ibuku berteriak. Tangan kanannya berusaha menahan pinggulku, namun tenaganya tidak besar, berhubung ia sedang tengkurap, jadi, ia mendorong ke belakang.

Ketika aku menancapkan batangku ke dalam anus ibu, kurasakan kepala kontolku menerobos cincin sempit yang adalah otot pintu gua anus ibu dengan bunyi ‘plop’. Kontolku menerobos lubang dubur ibu sampai keseluruhan batangku tenggelam di sana. Dengan diiringi bunyi ‘plak’ selangkanganku menumbuk pantat ibu yang bahenol.

Aku terjatuh menindih ibuku. Sementara tangan kanan ibuku tetap memegang pinggulku seakan ingin menghentikan laju kontolku di anusnya, tentu saja tidak ada gunanya karena saat itu seluruh kontolku amblas di dubur ibu. Kudapati punggung ibu sudah basah oleh keringat. Badanku yang tadinya kering menjadi ikut basah juga.

Berhubung aku lebih pendek dengan ibu, wajahku kini berada di leher ibu yang tertutup rambut ikalnya yang berantakan. Kusingkap rambutnya ke samping kanan dan aku mulai menciumi lehernya yang harum dan licin oleh keringat. Ibu mulai mendesah, dan tak lama tangan kanannya ditarik kembali. Kedua tangannya kini meremasi sprei tempat tidur, sementara terdengar desah pelan keluar dari mulut ibu.

Kedua tanganku mulai menyusup ke dalam tubuh depan ibu. Ibu membantu dengan sedikit mengangkat badannya sehingga kedua tanganku tidak mengalami kesulitan untuk memegang kedua payudara ibu. Ibu kini bertumpu pada kedua tangannya, bagian atas tubuhnya jadi sedikit terangkat memudahkan kedua telapakku meremas-remas kelenjar susu ibu yang kenyal dan besar itu.

Karena aku merasa sudah saatnya, maka aku mulai memaju mundurkan pantatku. Agak susah juga kontolku menggesek memek ibu, pertama karena dubur ibu begitu sempitnya, kedua, karena posisi tubuhku yang menindih ibu sehingga kontolku kini hanya maju mundur di area anus ibu yang sedikit saja. Ibu mulai terdengar mengumam, badannya kurasakan kaku dan kepalanya menggeleng pelan tanda bahwa ia sedikit menahan sakit.

Kukocok kontolku di dalam lubang tahi ibu dengan bersemangat, setelah agak lama, kulihat tubuh ibu mulai santai lagi dan tidak kaku. Mungkin lubang duburnya sudah mulai dapat beradaptasi dengan gerakan kontolku yang menghujami duburnya bagaikan piston dalam mesin motor.

Aku menghentikan gerakanku, lalu kedua tanganku memegang pinggul ibu, sambil beringsut berlutut aku tarik pinggul ibu ke atas. Ibu tampaknya mengerti maksudku. Perlahan ia ikut bangkit hingga akhirnya, ibu kini dalam posisi nungging bertumpu tangan dan lututnya. Posisi doggy style dengan aku berposisi di belakang ibu, penisku terbenam di lubang anusnya, kedua kakiku mengengkang bagaikan naik kuda dengan berat tubuh terbagi antara kedua kakiku dan selangkanganku yang menindih pantat ibu.

Perlahan aku menarik pantatku, sensasi dinding duburnya yang sempit dan panas mengirimkan sinyal kenikmatan yang membuat lututku agak goyah.

“aaaaahhhhh… Pelan-pelan paaaahhhh…”

Rupanya lubang tahi ibu itu masih perawan, sehingga ibu tidak terbiasa disodomi. Tubuh ibu yang basah oleh keringat itu menggigil pelan seiring gesekkan batang kontolku sepanjang dinding anus ibu. Sementara, aku malah keenakan merasakan jepitan keras dari dubur ibu itu. Setelah hanya kepala kontolku saja yang berada dalam anus ibu, aku mendorong pelan kembali kontolku untuk memasuki liang pantat ibu itu.

Tanpa memperdulikan apa yang dirasakan oleh ibu, aku memompa lubang pantat ibu itu dengan perlahan. Kontolku menghujami anus ibu berkali-kali dan setiap kalinya dinding dubur ibu itu mencengkeram erat sekujur batang kontolku. Seluruh tubuhku bergetar mengalami kenikmatan menyodomi ibu kandungku sendiri.

Dengan semangat aku mempercepat gerakanku. Kedua tanganku yang memegang pinggulnya, membantu gerakan pantatku. Tiap kali aku menusukkan kontolku ke dalam anus ibu, kedua tanganku menarik pinggulnya ke arahku, sementara ibu juga mulai mengikuti irama entotanku. Ibu juga ikut memaju mundurkan tubuhnya sesuai dengan goyanganku, tiap kali aku menusuk maka ibu akan mendorongkan tubuhnya ke arahku dan tiap kali aku menarik kontolku, ibu pun akan mendorong tubuhnya menjauhiku.

Kini suara “plok! Plok! Plok!” yang secara teratur terdengar, menandai benturan pantat ibu dengan selangkanganku tiap kali kami saling mendorong tubuh. Lubang pantat ibu yang sempit itu kini juga seakan hidup. Saat badan kami berbenturan, lubang pantat ibu akan menutup yang menyebabkan dinding anus ibu meremas kuat kontolku dan akan terus meremasnya saat aku menarik keluar kontolku, ketika aku dorong lagi kontolku ke dalam duburnya, maka lubang tahi ibu akan mengendurkan cengkeramannya sampai seluruh kontolku kembali terbenam di lubang pantatnya itu.

“aaahhhh… Anus mama enaaakkkk…” kataku yang sudah lupa daratan. Cengkraman anus ibu memang membuatku lupa segalanya. Dari pertama kali aku menyetubuhi ibu, aku berusaha berbicara pelan, bahkan berbisik. Namun kini aku suaraku tak dapat kutahan lagi. Saat itu aku tidak memikirkan apakah ibu akan mengenali suaraku atau tidak, karena walaupun suaraku mirip dengan ayah, tetapi suara ayah sebenarnya sedikit lebih berat dari suaraku.

“kontol papa juga enaaaaakkk paaahhhh…” kata ibu disela-sela erangannya.

Makin lama aku mengentot ibu dengan keras sepertihalnya ibu yang mengentot balik. Tangan kanan ibu kini menggeseki klitorisnya dengan cepat, secepat irama kami berdua bersenggama. Suara plok plok plok pantat ibu yang bertumbukkan dengan selangkanganku semakin keras dan frekuensinya semakin intens. Tanpa kutahan-tahan lagi, aku mengentoti lubang pantat ibu dengan sekuat tenaga dibantu dengan kedua tanganku yang memegang pinggul lebar ibu.

“Ah! Ah! Ah!” kini ibu dan aku hanya berteriak itu saja bersamaan dengan benturan tubuh kami. Sepertinya kami berdua sudah menyatu, bukan hanya tubuh kami yang bersatu, bukan hanya goyangan kami yang bersatu dalam satu irama persetubuhan, tapi ucapan kami bahkan mungkin pemikiran kami saat itu juga sudah bersatu, sehingga kami seirama meneriakkan kenikmatan kami dengan teriakan yang sama.

“Mama mau sampe paaahhhh…”

“Papa jugaaahhh…”

Dalam hentakan yang keras, aku membenamkan kontolku dalam-dalam di dubur ibu sementara ibu menekan balik dengan tak kalah kerasnya. Spermaku berkali-kali menyembur di dalam lubang tahi ibu, sementara tubuh ibu menggigil lalu mengejang kaku untuk sementara waktu. Kemudian ibu ambruk di ranjang dengan aku menindihnya.

Selama beberapa saat kami tersengal-sengal dengan lemas, namun akhirnya nafas kami sudah teratur lagi. Tubuh kami banjir keringat. Kontolku akhirnya keluar dari anus ibu setelah aku membaringkan tubuh di samping ibu. Dalam keheningan kami terdiam selama beberapa menit. Namun punggung ibu yang mengkilat betul-betul membuatku kecanduan.

Handphone ibu tiba-tiba berdering. Perlahan ibu mengambil handphone itu. Aku yang sedang asyik tidak menyadari bahwa ringtone itu adalah ringtone ayahku.

“Ya?” jawab ibu perlahan, setengah berbisik.

Aku tidak dapat mendengar suara orang yang menelpon dan sejujurnya aku tidak ambil peduli.

“Baru aja bangun. Ada apa Pah?”

Bagaikan petir di siang bolong aku terkejut tak terkira. Jilatanku berhenti, namun sikap ibu biasa saja. Ia terus berbicara di telpon. Jadi mama tahu bahwa bukan ayah yang mengentoti dia. Apakah ibu tahu bahwa aku yang ngentoti dia.

“Oh? Papa taruh di mana? Ya udah nanti Mama suruh Ajang cari deh. Kenapa?… Oh… Ajang udah bangun… Iya… Ada kok di sini… Mau ngomong?… Iya tumben… Kayaknya bangun-bangun dia lapar jadi cari Mama… Udah kok… Udah kenyang dia tadi… Baru aja selesai…

Ternyata ibu tahu. Sebenarnya aku sedang merasa takut kalau ibu marah, tetapi tampaknya dia tidak marah. Maka aku menarik tubuh ibu hingga ia kini telentang. Aku beringsut menindih tubuh ibu yang telanjang itu. Payudaranya yang indah itu nampak tertarik oleh gravitasi ke bawah, namun tetap menunjukkan gumpalan yang sangat menggairahkan.

Aku menghisap pentil kiri ibu sambil meremas tetek kanannya dengan tangan kiriku. Ibu membelai rambutku dengan tangan kanannya yang nganggur, karena tangan kirinya memegang handphone.

“Tau tuh… Sekarang dia minta nambah lagi… Ga ada kenyangnya tuh anak…”

Kedua tanganku menggenggam kedua payudara ibu sementara mulutku kini menjilati dan mengecupi sekujur buah dadanya dari yang kiri sampai kanan.

“Oke… Ya… Yaa… Daaaahhhh…” ibu mematikan handphonenya lalu melemparnya begitu saja ke atas tempat tidur.

“Anak bandel… Kamu udah menyetubuhi ibu… Udah ngentotin memek ibu… Udah ngentotin bool ibu… Masih kurang?”

Aku menghentikan hisapanku di dada ibu yang kini sudah bertandakan cupang di sana-sini. Aku beringsut sehingga kini kepalaku sejajar dengan kepala ibuku.

“Kok ibu tahu Ajang yang ngentotin ibu?”

“Kontol ayahmu itu kecil. Waktu pertama kamu jilatin memek ibu, ibu udah heran. Soalnya ayah kamu itu kalau ngentot maunya cepet-cepet aja. Nyampenya juga cepat. Sering ibu belum sampe, ayahmu udah sampe duluan. Terus waktu kamu masukkin kontol kamu ke memek ibu, ibu tahu bahwa kontol itu bukan kontol ayahmu.

Seharusnya ibu marah waktu tadi, tapi berhubung ibu sudah hampir sampai saat itu, ya diterusin aja. Lagian, ibu jarang sekali puas sama ayahmu. Dan, selama ini ibu selalu berniat untuk selingkuh mencari cowok yang lebih jantan, tapi ga pernah kesampaian. Waktu kamu masukkin kontolmu yang besar itu, akhirnya ibu putuskan untuk membiarkan kamu ngentotin ibu.

Aku kemudian meninggalkan tubuh ibu untuk menyalakan lampu. Kini tubuh ibu yang seksi terlihat jelas.

“Penasaran?”

“Wah, ibu cantik dan seksi banget. Tubuh ibu indah dan menggairahkan. Kok mau-maunya sama ayah, ya?”

Ibu tersenyum cantik. Ia duduk di tempat tidur bersandarkan kepala tempat tidur. Buah dadanya yang sedang itu menggantung sempurna. Hanya sedikit saja turun karena usia, namun pentilnya yang merah muda seukuran setengah kelingking tampak dihiasi areola yang tidak terlalu besar dengan warna yang sama.

Puting dan areolanya tegak menantang menghiasi gundukan yang hampir membulat sempurna. Karena ukurannya itu, maka ada celah di antara kedua payudara ibu yang menambahkan daya tarik seksual, apalagi, kulihat ada tahi lalat kecil yang menghiasi bagian belahan dadanya, sedikit lebih dekat ke tetek sebelah kiri ibu.

“Ayahmu kan kaya…” kata ibu tertawa kecil saat aku sudah duduk di samping ibu.

“ih… Ibu kok matre…” kataku sambil mendekap ibu dari samping.

“Kalo ibu ga matre, kamu ga akan menikmati hidup kayak begini. Ya nggak?”

“Iya juga ya,” kataku. Kami duduk bersamping-sampingan. Dengan aku di samping kiri ibu. Ibu duduk dengan kaki lurus, sementara aku menghadap ibu dengan bersimpuh. Tangan kananku memeluk pinggangnya dan ibu memeluk bahuku dengan tangan kirinya. Kami bersender di kepala tempat tidur.

Tangan kiriku meraih payudara kanan ibu, agak sulit juga karena aku harus menjangkau, namun ibu segera memutar tubuhnya ke arahku, lalu tahu-tahu ibu menaikkan tubuhnya ke arahku, lalu duduk di pahaku. Kontolku yang memang sudah lemas, namun ukurannya masih sepertiga dibanding tegak lurus. Ibu memposisikan kontolku agar mengacung ke atas lalu ia duduk dengan memek yang menjepit kontolku.

Dengan posisiku yang berlutut dan ibu yang duduk di atas paha dan kontolku, kepalaku kini langsung menatap kedua payudara ibu. Aku memeluk tubuh ibu dan mengelus-elus punggungnya, sementara kedua tangan ibu merangkul kepalaku dengan lengan di atas bahuku. Kami bertatapan beberapa saat. Wajah ibu yang cantik tampak penuh kasih sayang, namun matanya menyinarkan suatu pandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya, pandangan birahi.

Bau tubuh ibu lama kelamaan tercium lagi, karena beberapa menit kami berangkulan, kami mulai berkeringat.

“tubuh ibu harum…”

Ibu hanya tersenyum.

“ibu cantik sekali kalau tersenyum. Ajang… Ajang jatuh cinta sama ibu…”

Ibu tertawa kecil.

“Kamu sih bukan jatuh cinta, tapi nafsu. Anak seusia kamu itu cuma memek aja pikirannya.”

Saat itu kontolku sudah mengeras lagi. Kata ibu.

“tuh, kan?”

Aku tersipu malu, namun tetap menatap wajah ibu.

“Ajang cinta ibu. Ajang akan ngelakuin apa saja agar ibu jadi milik Ajang. Ajang ga mau ibu disentuh laki-laki lain. Sekalipun itu ayah. Ajang mau ibu jadi milik Ajang seorang.”

“Terus, kamu mau menikahi ibumu sendiri?”

Aku kecup bibir ibu dan berkata.

“Iya… Ajang mau tubuh yang sekarang Ajang peluk menjadi milik Ajang seorang. Ajang mau ibu jadi isteri Ajang untuk selamanya.”

“Mana bisa? Apa kata orang-orang, Jang?”

“Ajang ga mau tahu… Pokoknya Ajang akan nikahin ibu. Lihat aja nanti…”

Lalu sambil agak mendongak, karena ibu lebih tinggi, aku pegang kepala ibu lalu menariknya, untuk aku jilati bibir ibu. Aku terobsesi film jepang yang ciumannya pake lidah. Tahu-tahu ibu ikut mengeluarkan lidahnya dan menjilati lidahku yang sedang menyapu bibirnya itu. Lidah kami asyik bersentuhan saling menggesek dan menekan.

Terkadang kami mengecupkan bibir kami. Makin lama ciuman dan jilatan kami makin intens. Ibu menjulurkan lidahnya yang penuh liur, lalu aku perlahan menjilat lidah ibu sehingga ketika kepalaku aku mundurkan, ludah ibu yang menempel di lidahku tertarik membentuk tali ludah dari lidahnya ke lidahku. Ketika tali itu putus, sebagian lidah ibu jatuh di dagunya.

“suka ludah ibu?”

Aku hanya mengangguk sambil terus melumat dagu dan bibirnya. Ibu menangkap kepalaku, menahannya di hadapan wajahnya. Ibu memainkan mulutnya dan terlihat ia sedang mengumpulkan ludah. Aku membuka mulutku lebar-lebar. Lalu ibu perlahan meludahi lidahku yang terbentang. Perlahan ludah ibu yang berbusa masuk ke mulutku.

Lalu kami berciuman lagi, tapi kini kami bagaikan kesetanan, dengan penuh nafsu bibir kami saling mengecup dan lidah kami saling menjilat. Terkadang aku menjilati wajah ibu yang tak mau kalah juga gantian menjilati wajahku. Pelukan kami makin erat, dan keringat kami makin membanjir. Aku jilati leher ibu yang asin namun ibu melawan dan menjilati bahuku dengan nafsu.

Kurasakan memek ibu sudah basah menggencet kontolku yang bersandar pada jembutku sendiri. Ibu menggesek-gesek batang kontolku dengan klitorisnya. Dengusan kami terdengar makin memburu, bagaikan dua binatang yang sedang birahi. Ketika pundak ibu kujilati, kucium bau tubuh ibu yang keluar dari ketiak kanannya itu.

Dengan tangan kiri aku angkat tangan kanannya dan mendapati ketiak ibu yang putih itu dihiasi sedikit bulu yang ikal di bagian tengahnya. Bulu ketiak yang sudah basah terkena keringat. Kupentangkan lidah lebar-lebar dan mulai menjilati bulu ketiak ibu yang ikal dan jarang itu. Rasa asin terkecap lidahku, sementara bau badan ibu menyergap langsung hidungku.

“Auuuhhsssssshhhhh…” lenguh ibu ketika aku mencicipi ketiak ibu. Ibu kemudian menaikkan tubuhnya, mengarahkan kontolku ke lubang surgawinya, lalu setelah kepala kontolku sudah pada posisi di depan lubang itu, ibu menghenyakkan diri ke pangkuanku sehingga kontolku amblas ke dalam kemaluan ibu kandungku sendiri dalam satu gerakan yang cepat.

Ibu memegang kepalaku dan mulai menjilati wajahku bagaikan anjing yang kehausan. Ibu mengenyoti hidungku dengan rakus lalu mencolok-colok hidungku dengan lidahnya. Kini aku hafal bau mulut ibu. Bau mulut yang memabukkan. Ketika lidahnya menjilati bibirku, aku segera menangkap lidahnya dengan mulutku, lalu aku hisap kuat-kuat lidah ibu.

Walaupun tidak sesempit anusnya, memek ibuku ini memiliki sensasi sendiri. Memek ibu cukup sempit, namun begitu hangat dan licin. Selain itu, memek ibu dapat membuka dan menutup, mencengkram dan mengendur, istilahnya empot-empot ayam. Cairan memeknya begitu banyaknya sehingga kontolku bagaikan sedang mandi sauna.

Giliran lidahku menjilati wajah ibu. Setiap jengkalnya, pipi, dagu, jidat bahkan bagian dalam telinga dan hidung yang terjangkau lidahku sudah aku sapu habis. Ibu harus menundukkan wajahnya karena aku lebih pendek. Kemudian ibu menarik kepalanya keatas dan duduk tegak, membusungkan dadanya sambil berkata.

“isep pentil ibumu, nak. Dulu ibu ga pernah neteki kamu, makanya dada ibu masih mancung dan pentilnya ga besar. Sekarang kamu boleh netek sama ibu.”

Aku jilati dada ibu dengan penuh nafsu. Keringatnya yang asin bagaikan bumbu penyedap bagi nafsu binatangku ini. Kemudian, aku mulai menyedot-nyedot payudara ibu. Aku sedot dan cupang sekeliling pentil ibu sehingga setelah beberapa lama kedua payudara ibu terlihat bagaikan orang cacar, merah di sana-sini.

Setelah lama mencupangi payudaranya, aku mulai menghisapi pentil susu ibu. Ibu melengkungkan tubuhnya dan melenguh keras, tanda bahwa ia suka disedot putingnya. Gerakan tubuh naik turun ibu semakin lama semakin cepat, aku juga sudah merasakan bahwa tak lama lagi pertahananku akan jebol. Aku coba untuk mengalihkan perhatianku dengan memikirkan pelajaran matematika, namun efeknya hanya sedikit saja, berhubung kontolku yang sedang dientoti ibu berkali-kali mengalihkan perhatianku dari upayaku untuk mengalihkan perhatian daripadanya (bingung ga?

Akhirnya, dalam satu lenguhan panjang dan keras, ibuku mencapai orgasme lagi. Memeknya bagai bergetar dan cairan memeknya membanjiri kontolku, membuat aku tak sanggup lagi menahan klimaksku. Aku menyemprotkan spermaku di dalam memek ibu untuk kedua kalinya.

Setelah itu, perhubungan kami berdua tidak sama lagi, kami bagaikan pengantin baru yang selalu berhubungan badan bila ada kesempatan. Ibu akhirnya cerai dengan ayah dikarenakan ayah mendapati tubuh ibu penuh cupangan. Ayah meminta identitas lelaki yang berselingkuh dengan ibu, namun ibu tidak bersedia.

Ibu hamil anak pertamaku setelah tiga bulan semenjak kami berhubungan badan. Setelah itu, agar tidak dibicarakan orang, ibu memakai alat kontrasepsi. Selepas sma aku dapat beasiswa kuliah di singapura. Maka aku belajar di sana hingga aku lulus. Kebetulan ada tawaran kerja di sana, maka aku terima. Ibu akhirnya tinggal denganku.

Setelah melahirkan anak pertama, ibu tidak selangsing dulu. Namun juga tidak gembrot. Tubuh ibu menjadi bahenol dengan lekuk yang menggairahkan, apalagi kedua payudara ibu kini makin besar karena menyusui, ia menyusui bayinya dan anak pertamanya. Hidup bagiku tak mungkin melebihi indahnya hidupku saat ini.

Tamat

© 2022 - CeritaSeru.xyz