November 01, 2020
Penulis — Mariodomo

Terjerat Hasrat Syahwat true story

SATU

Aku bukan anak orang kaya. Bahkan sebaliknya, orang tuaku hidup pas-pasan, karena mereka cuma buruh tani. Sementara kakak-kakakku yang 3 orang itu pun masih pada sekolah di SD semua. Karena itu sejak kecil aku diambil dan dianggap anak oleh adik ibuku, yang biasa kupanggil Bi Yayuk.

Berbeda dengan orang tuaku, Bi Yayuk hidup berkecukupan di rumah megahnya yang hanya 5 km jaraknya dari pantai selatan Jawa. Tapi Bi Yayuk hidup menjanda sejak suaminya tewas di dalam kapal penangkap ikannya yang tenggelam di laut selatan.

Bi Yayuk punya seorang anak perempuan yang usianya cuma lebih tua 6 bulan dariku, bernama Reni.

Aku dan Reni saling panggil nama saja. Tidak ada sebutan Bang atau Kak. Mungkin harusnya aku manggil Kak ke Reni, karenas usianya lebih tua dariku, meski cuma 6 bulan. Tapi di dalam sirsilah keluarga, Bi Yayuk itu adik kandung ibuku. Jadi seharusnya Reni memanggil Bang atau Mas atau Kang dan sebangsanya.

Tapi kami sudah terbiasa saling panggil nama saja. Dan itu terasa nyaman bagi kami.

Meskipun usia Reni 6 bulan lebih tua dariku, tapi di sekolah aku ini kakak kelasnya. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMA, Reni kelas 1 SMA. Waktu di SD kami selalu sekelas dengannya. Tapi pada waktu di SMP kelas 1, Reni tidak naik kelas. Sehingga kami mulai berpisah. Aku duduk di kelas 2, sementara Reni tetap kelas 1.

Bi Yayuk sangat menyayangiku. Ia tidak membeda-bedakan antara Reni dan diriku. Ketika Bi Yayuk membelikan Reni sepeda, aku pun dibelikan, dengan sepeda yang sama persis, hanya warnanya saja yang berbeda. Reni dibelikan sepeda berwarna merah, aku dibelikan sepeda berwarna hitam.

Sepeda memang benda yang kami perlukan setelah aku dan Reni sekolah di SMP. Karena SMP dan SMA cukup jauh dari rumah kami, sekitar 7 kilometeran. Dan pada masa itu angkutan umum yang lewat kampung kami masih sangat jarang. Maka sepeda – sepeda sangat menolong kami untuk tiba di sekolah di waktu yang tepat.

Aku dan Reni selalu kompak. Bermain halma atau ular tangga adalah kegemaran kami. Terkadang kami main ke hutan sambil main petak umpet.

Bi Yayukmembolehkan kami main ke mana saja, kecuali ke pantai. DIa sangat melarang kami main ke pantai, karena takut kami diseret ombak lalu tenggelam di laut selatan seperti suaminya dahulu.

Kami pun tidak berani melanggar larangan Bi Yayuk, karena pada dasarnya kami sangat patuh padanya.

Pada suatu hari… aku masih ingat hari itu hari Minggu, Bi Yayuk berangkat ke Semarang untuk mengurus usahanya. Saat itu aku sudah duduk di kelas 3 SMA, sementara Reni duduk di kelas 2.

Sebelum berangkat ke Semarang, Bi Yayuk menasehati kami agar jangan main keluar rumah selama ia di Semarang. Menurut Bi Yayuk, ia akan menginap di Semarang selama 3 harian.

Setelah Bi Yayuk berangkat, Reni menghampiriku. “Ben… mumpung Mama gak ada, kita main ke pantai yok,” ajaknya.

“Iiih… gak berani ah. Takut dimarahi mamamu,” sahutku, “Beliau kan sangat melarang kita main ke pantai.”

“Itu larangan waktu kita masih kecil. Sekarang kita kan sudah gede. Lagian Mama kan gak ada. Ya jangan ngomong ke Mama nanti dong.”

“Emang mau ngapain ke pantai?” tanyaku mulai terpengaruh oleh omongan saudara sepupuku.

“Ingin berenang. Kamu kan tau aku ini jago renang di sekolah.”

Aku tersenyum. Memang Reni jago renang di sekolah. Tapi aku masih sangsi dan berkata, “Berenang di pantai kan beda dengan di kolam renang, Ren.”

“Memang aku tau berenang di laut selatan itu berbahaya. Tapi aku janji, aku hanya mau berenang yang dekat-dekat saja ke pantai. Takkan mau berenang terlalu jauh.”

“Tapi aku tak mau ikutan berenang ya. Aku mau duduk di pantai aja.”

“Iya,” sahut Reni ceria. Lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.

Saat itu aku hanya mengenakan baju kaus dan celana pendek yang biasa kupakai berolah raga.

Tak lama kemudian Reni muncul kembali, dengan mengenakan gaun merah polos. “Ayo kita pergi… pakai sepeda aja ya.”

“Iya… gak bawa baju renang?”

“Ini udah kupakai di balik gaunku,” sahutnya sambil melangkah ke garasi. Di situ ada sebuah mobil tua yang dibiarkan nongkrong tanpa dipakai oleh siapa pun. Kata Bi Yayuk, mobil tua itu takkan dijual, karena peninggalan suaminya. Mungkin mobil itu akan dijadikan kenang-kenangan yang sangat berarti bagi Bi Yayuk dan Reni.

Di garasi itu pula sepedaku dan sepeda Reni tersimpan.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas sepeda masing-masing, menuju pantai yang jaraknya 5 kilometeran. Jarak yang lebih dekat kalau dibandingkan dengan ke sekolah kami.

Meskipun hari itu hari Minggu, pantai yang kami tuju sepi-sepi saja. Maklum pantainya bukan pantai wisata. Pada masa itu jalannya pun belum diaspal. Hanya jalan tanah tertutup pasir, yang kecil dan hanya bisa dilalui oleh sepeda. Pada masa itu motor pun masih sangat jarang.

Seperti biasa, pantai yang kami kunjungi siang itu lengang sekali. Tiada orang selain kami berdua. Tapi suara ombak berdentum-dentum terus memukul batu-batu karang yang berderet di sepanjang pantai.

Reni pun menuju ke balik batu karang besar dan menanggalkan gaun merahnya di sana. Kemudian ia muncul lagi, dalam keadaan yang lain dari biasanya. Ia mengenakan pakaian renang, yang kuanggap hanya mengenakan celana dalam dan beha berwarna merah juga seperti gaun yang sudah dilepaskannya itu.

Reni menghampiriku. “Beneran gak mau berenang?”

“Gak ah. Aku nunggu aja di sana,” kataku sambil menunjuk ke celah seperti gua di tebing batu karang.

Reni mengangguk dengan senyum. Tapi tahukah dia bahwa aku terpesona menyaksikan keindahan sekujur tubuhnya dalam bikini itu? Tahukah dia bahwa ini untuk pertama kalinya aku punya perasaan berbeda padanya?

Tapi aku harus menindas perasaan yang bukan-bukan ini. Meski Reni itu saudara sepupuku, aku dibiasakan untuk menganggapnya sebagai saudara kandungku sendiri. Karena Bi Yayuk memperlakukanku seperti anaknya sendiri, memperlakukanku secara adil, tidak dibeda-bedakan dengan Reni.

Lalu aku asyik sendiri di celah batu karang yang mirip gua itu, sambil memandang indahnya gulungan-gulungan ombak yang berkejar-kejaran terus, lalu menghempas batu-batu karang yang seolah memagari pantai ini.

Sementara itu Reni tampak asyik sendiri juga. Berenang di laut dengan lincahnya. Cukup lama ia berenang di laut yang ombaknya besar-besar itu. Sampai akhirnya ia tampak melangkah menuju tempat menanggalkan gaunnya tadi.

Tak lama kemudian ia sudah muncul di depan mataku sambil menggenggam sesuatu. Ternyata ia menggenggam bikininya itu. Pasti karena banyak pasir yang melekat di bikini itu.

Tapi… itu berarti di balik gaun merah itu pasti tidak ada apa-apa lagi kecuali tubuhnya yang tinggi semampai itu…!

Dan setelah Reni berdiri di depanku, gaun merahnya itu terlalu tipis dan transparant. Sehingga aku tahu bahwa ia tidak mengenakan beha mau pun celana dalam di balik gaun transparant itu. Jelas benar ada dua titik menonjol di dadanya, karena terdorong oleh kedua puting payudaranya.

Dan yang membuatku lebih berdebar-debar lagi, ada yang menghitam di bawah perutnya, berbentuk segitiga terbalik… ooo… itu pasti rambut kemaluan Reni…!

Aku jadi salah tingkah. Lalu memandang ke arah laut lagi sambil bertanya, “Sudah puas berenangnya?”

“Sudah,” sahutnya sambil duduk di sebelah kiriku, “Terima kasih ya sudah bersedia menemaniku di sini. Berenang di antara gulungan-gulungan ombak laut selatan asyik lho. Aku seolah ditantang untuk menghadapi medan berat. Tidak segampang berenang di kolam renang.”

“Ren… kamu pernah dicium cowok?” tanyaku tiba-tiba.

“Haaa?” Reni seperti kaget, “Kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal itu?”

“Ingin tau aja.”

“Belum pernah. Aku kan belum pernah pacaran, karena ingat pesan Mama, agar jangan pacaran sebelum tamat SMA. Kamu sendiri gimana? Sudah pernah mencium cewek?”

“Belum pernah juga. Tapi pengetahuan tentang hubungan dengan perempuan, sudah lengkap lah. Karena aku membaca bukunya, sampai hapal di luar kepala.”

Tiba-tiba Reni mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil berkata dengan suara bergetar, “Kalau gitu praktekkanlah pengetahuanmu itu padaku sekarang.”

Aku terperangah, “Kamu mau kucium?”

“Iya,” Reni mengangguk perlahan, “ingin tau bagaimana rasanya ciuman bibir…”

Aku mau menjawab, tapi Reni keburu mendaratkan bibirnya di bibirku. Dan akhirnya aku menanggapinya. Dengan menggamit bibirnya, lalu menjilatinya seperti dalam film-film yang pernah kutonton.

Reni pun menanggapinya dengan hal yang sama. Bahkan tanpa terasa air liur kami bertukar tempat… tapi kami tidak mempedulikannya. Bahkan pelukan Reni di leherku semakin erat saja.

Akhirnya ciuman kami terlepas. “Bagaimana rasanya? Enak?”

“Enak banget… sampai seperti melayang-layang,” sahut Reni, “Kamu sendiri gimana? Merasa enak juga?”

“Enak… tapi sayang bibirmu asin.”

“Hihihiii… kan abis berenang di air laut.”

“Mmm… sebenarnya mulut bukan cuma untuk mencium bibir. Ada lagi yang jauh lebih enak, kata penulis buku itu.”

“Menciumi apa lagi selain bibir? Pipi? Dahi atau…”

“Bukan. Bukan. Nanti aja kujelasin semua di rumah. Sekarang kita pulang aja yok. Nanti kita lanjutkan di rumah. Mumpung mamamu sedang gak ada.”

Reni mengangguk. Lalu kami menuju sepeda kami yang digeletakkan tak terlalu jauh dari celah bukit batu karang yang mirip gua kecil itu.

Beberapa saat kemudian kami sudah mengayuh sepeda kami masing-masing, menuju pulang ke rumah bibiku.

“Setibanya di rumah, aku langsung berkata, “Cepetan mandi gih. Nanti setelah kamu, aku juga mau mandi.”

Rumah Bi Yayukmemang termegah di kampung itu. Tapi kamar mandinya hanya satu. Maklum di masa itu belum trend kamar mandi yang bersatu dengan kamar tidur.

“Iya, badanku masih berpasir-pasir. Harus mandi sebersih mungkin, sampai pasir-pasirnya habis dari badanku.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang keluarga sambil menerawang.

Di pantai tadi, apa yang tampak di mataku sangat menggoda. Bahwa gaun merah yang Reni kenakan setelah berenang tadi terlalu tipis dan transparan. Apakah Reni menyadarinya atau tidak, entahlah. Yang jelas usiaku yang baru 17 tahun ini sedang gampang sekali digoda oleh hasrat syahwat. Apalagi kalau mengingat betapa manisnya wajah Reni yang punya tubuh tinggi semampai dengan kulit putih cemerlang itu.

Aku tak mau munafik. Tadi bagian di bawah perutku mendadak bangun, seolah menagih sesuatu. Tapi aku harus kuat mengontrol diri. Karena kalau salah melangkah, bisa fatal akibatnya bagi masa depanku sendiri.

Memang aku sudah hafal seluruh isi buku pelajaran tentang seksual itu. Sudah hafal pula tentang apa yang harus dilakukan, termasuk pengamanan agar pihak wanita tidak hamil tapi bisa menikmatinya.

Aku tak mau kehilangan kasih sayang Bi Yayukyang menganggapku seperti anaknya sendiri. Karena itu aku harus hati-hati. Harus kuat melawan hasrat syahwatku.

Reni muncul dari ambang pintu kamar mandi, dengan membalutkan handuk di tubuhnya. Hmm… baru sekali ini aku memandangnya dari sudut yang berbeda. Bahwa tubuhnya memang mulus dan menggoda, meski sebagian besar tertutup handuk itu.

Tapi aku masih berpura-pura tak melihat sesuatu yang menggoda. Aku pun bangkit dan melangkah ke arah pintu kamar mandi.

Aku pun mandi sebersih mungkin. Terutama penisku sengaja kusabuni dan kubilas sebersih-bersihnya. Karena aku tidak mau ada aroma kurang sedap jika rencanaku terwujud nanti.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Reni sudah duduk di ruang keluarga, di sofa yang tadi kududuki. Aku pun menyisir rambutku di depan cermin besar yang ada di ruang keluarga itu.

“Ben… aku penasaran sekali,” kata Reni ketika aku m asih menyisir rambutku, “Tadi di pantai ada yang belum selesai ngomongnya.”

“Masalah apa? Oooh… masalah fungsi bibir dan lidah ya?”

“Iya. Sekarang cerita dong selengkapnya Ben.”

Selesai menyisir rambut kuhampiri Reni yang sudah mengenakan daster putih bersih. Lalu aku duduk di sampingnya, sambil berkata, “Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya sekarang. Nanti kalau kamu ragu mendengar penjelaskanku, boleh kamu buka bukunya. Dan kalau kamu bisa membuktikan bahwa penjelasanku berbeda dengan isi buku itu, kamu boleh jewer telingaku.

“Jelasin aja, aku percaya apa pun yang kamu omongin. Gak usah nyuruh baca-baca segala,” sahut Reni sambil memegang pergelangan tanganku.

“Yang pertama, ciuman bibir dengan bibir, sudah kita praktekkan tadi ya.”

“Iya… dan aku ingin sering-sering mendapatkan ciuman darimu seperti di pantai tadi.”

“Iya. Tapi kalau mamamu sudah pulang, kita harus mencari tempat yang tepat untuk melakukannya. Jangan sampai ketahuan sama mamamu.”

“Ya iyalah. Kalau Mama tauy, pasti kita dimarahin. Terus… yang kedua apa?”

“Yang kedua… aku harus menyelomoti pentil tetekmu ini,” kataku sambil menyentuh tonjolan kecil di daster putih bagian dada Reni, yang membuatku yakin kalau Reni tidak mengenakan beha saat itu. Mau dicobain?”

Reni menatapku, lalu mengangguk perlahan.

Dengan tangan yang agak gemetaran, kubuka kancing-kancing daster yang berderet di depan itu. Lalu kubuka belahan daster itu sampai kelihatan sepasang payudara Reni yang agak montok itu. Aku memilih payudara yang sebelah kiri. Memegangnya tanpa meremasnya, meski ingin sekali meremasnya.

Batinku mulai bergejolak. Mungkin ini pertanda nafsu syahwatku mulai hadir. Kudekatkan mulutku ke pentil payudara kiri Reni, lalu mengemutnya, sementara tangan kiriku mulai membekap payudara kanannya.

Dalam waktu singkat saja tubuh Reni terasa menghangat. Sementara kedua lengannya memegangi kepalaku. Terlebih ketika tangan kananku mulai bergerak mengusap-usap perutnya… lalu kuselusupkan ke balik celana dalamnya…!

Reni seperti terkejut. Tubuhnya menghentak, tapi lalu terdiam. Sementara gejolak birahiku semakin menggebu-gebu ketika tanganku sudah menyentuh rambut tebal di balik celana dalam Reni.

Aku sudah prepare. Bahwa aku tidak boleh merusak keperawanan Reni. Karena itu aku tidak boleh memasukkan jariku ke lubang kemaluannya. Tanganku hanya boleh menyentuh clitorisnya, yang menurut isi buku sexology itu berada di bagian atas. Karena itu dengan sabar tanganku hanya mengelus-elus jembut Reni, sambil mencari-cari di mana letak clitorisnya.

Akhirnya kutemukan bagian yang sebesar kacang hijau itu. Kecil sekali. Tapi menurut buku yang sering kubaca, inilah bagian terpeka di tubuh perempuan.

© 2022 - CeritaSeru.xyz