November 01, 2020
Penulis — Saintprince88

PESTA NIKMAT

Namaku Andri, seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi terkenal di Kota Jakarta. Perceraian kedua orangtuaku pada akhirnya memaksaku untuk menerima kenyataan bahwa aku memiliki seorang ibu tiri bernama Ratna yang berusia 38 tahun. Selama ini ibu tiri kerap divisualisasikan sebagai sosok yang kejam dan jahat, namun tidak dengan ibu tiriku ini yang begitu baik sampai aku tidak merasa bahwa dia bukan ibu kandungku, kasihnya kepadaku sama seperti anak kandungnya sendiri.

Sampai suatu ketika aku mengetahui sebuah rahasia besar tentang ibu tiriku. Saat aku pulang kuliah, di pertengahan perjalanan ke rumah, tak sengaja aku melihat ibu tiriku berjalan dengan seorang pria, yang jelas bukan ayahku, yang usianya mungkin sama dengannya. Aku melihat mereka begitu mesra, bercengkrama dan saling tertawa.

Awalnya aku tidak ingin memperdulikan mereka, namun aku mendadak menjadi detektif karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Secara diam-diam aku ikuti kemana pun mereka pergi, yang pada akhirnya aku sangat terkejut ketika mereka memasuki sebuah hotel. Pikiranku mulai ngeres, membayangkan ibu tiriku sedang ‘digauli’ oleh pria itu.

Hari ini aku memang cepat pulang karena dosenku berhalangan hadir di kelas. Tetapi aku memang ingin cepat pulang. Singkat cerita akupun sampai di rumah. Aku menemukan sepasang sepatu di teras depan. Aku tidak tahu itu punya siapa. Aku yang penasaran pun segera masuk ke dalam rumah, ternyata pintu juga tidak terkunci.

Saat aku di dalam aku langsung mendengar suara cekikikan ibu tiriku dari dalam kamarnya. Segera aku menuju ke kamar ibu tiriku, dari celah pintu yang tak tertutup sempurna akupun mengintip apa yang terjadi di dalam. Astaga! Aku terkejut melihat apa yang aku temukan. Ibu tiriku sedang duduk berduaan di atas tempat tidur dengan pria selingkuhannya.

Aku bukannya marah dengan apa yang aku lihat, aku malah sangat senang untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kamu memang cantik, Ratna.” Puji pria itu sambil membelai rambut ibu tiriku.

“Kamu kemana saja sih Mas… Aku kangen.” Ucap ibu tiriku sangat manja. Dari ucapannya aku tahu kalau ini bukan pertama kalinya, mereka sudah sering melakukannya.

“Kemarin ada urusan di kantor, he he he …” jawab si pria lalu mencium bibir ibu tiriku.

Tidak hanya itu, si pria sepertinya berusaha meloloskan daster yang dipakai ibu tiriku. Kulihat ibu tiriku membiarkan dan tidak berusaha melawan, bahkan bantu berdiri sehingga daster itu turun merosot dari tubuhnya. Ibu tiriku kini bertelanjang bulat. Aku akui bahwa body ibu tiriku sangat aduhai ditambah paras cantiknya hingga tak sadar akupun merasakan ‘juniorku’ mulai bergerak dibalik celana.

_horny_berat. Kemudian, mereka naik dan rebahan di atas ranjang. Dari posisiku saat ini, aku tidak bisa lagi melihat mereka, tetapi aku masih terus mendengar suara cipokan, mereka bercumbu dengan ganasnya.

“Masukin Mas… Masukin kontol mas ke memekku!” Terdengar suara manja ibu tiriku yang cukup mengejutkanku. Aku tidak pernah membayangkan ibu tiriku akan berkata sevulgar itu, namun kali ini aku mendengarnya langsung.

Aku jelas sangat ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku ingin melihat ibu tiriku disetubuhi pria itu. Sayangnya, aku hanya bisa mendengar dan membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam. Ya, dari yang aku dengar mereka sepertinya sudah mulai bersetubuh. Suara erangan dan rintihan mereka terdengar sahut menyahut, plus suara kecipak peraduan selangkangan mereka yang terdengar cukup keras.

“Terus mas… Entotin aku terus… jangan kasih ampun…” Rintih ibu tiriku manja. Sialnya suara rintihan manja ibu tiriku malah membuat aku menjadi

horny. Suara racauan mereka terus terdengar. Aku lebih terfokus pada suaranya ibu tiriku yang membuat aku sangat

horny. Sebenarnya aku masih ingin terus di sana, tetapi aku tidak ingin ketahuan. Aku rasa sudah cukup dan memutuskan untuk menyudahi aksi mengintip dan menguping ini. Dengan pelan-pelan aku beranjak dari sana dan menjauh dari kamar ibu tiriku kemudian masuk kamar tidurku.

Aku pun berbaring di tempat tidur sambil menetralisir_horny_yang mendera tubuhku. Tak lama kemudian aku pun tertidur. Aku tidur lelap sekali, tetapi entah berapa lama aku tertidur aku tak tahu. Sebuah suara dan usapan lembut membangunkanku dari tidur. Kuusap mataku dan kubuka mataku perlahan, kulihat ibu tiriku duduk di pinggir tempat tidurku.

“Ka… kamu kok cepat pu… pulang sayang?” Tanya ibu tiriku tergagap dan sedikit panik.

“Gak ada dosen, Mah …” Jawabku sambil bangkit dari posisi tidurku dan duduk di sampingnya.

“Se… sejak kapan ka… kamu di… rumah?” Tanya ibu tiriku lagi yang sangat kelihatan kepanikannya.

“Udah lama juga… Oh ya… Tamu Mamah udah pulang?” Tanyaku tanpa ragu.

“Ta… tamu yang… mana?” Ibu tiriku mencoba berkelit.

“Mah… Jangan bohong, aku sudah tau kok.” Jelasku sambil tersenyum.

“Kamu sudah tahu sebelumnya? Sudah pernah lihat?” Tanya ibu tiriku. Kali ini aku mengangguk pelan. Kulihat ibu tiriku menghembuskan nafas, mungkin merasa pasrah karena ternyata aksinya ketahuan olehku.

“Aku gak apa-apa kok, Mah …” Aku mencoba menenangkannya.

“Sayang… kamu gak marah?” Tanya ibu tiriku lagi dengan suara lembut.

“Ya, Mah… Tenang saja. Aku akan jaga rahasia Mamah.” Jawabku.

“Maafkan mamah ya sayang… Iya, mamah tahu, mamah memang salah, tapi… itu salah papamu juga karena selalu jarang ngasih mamah jatah, kamu ngerti kan maksud mamah? Kamu bisa pahamkan?” Ujar ibu tiriku membela diri.

“Ya Mah… Aku ngerti.” Jawabku.

Akhirnya, ibu tiriku lebih terbuka padaku dan menceritakan perselingkuhannya dengan beberapa pria selain pria yang sering kulihat akhir-akhir ini. Alasan perselingkuhannya sangat klasik, yaitu ayahku jarang sekali memberikan ‘nafkah batin’ pada ibu tiriku. Selain itu, aku tahu kalau dari dulu banyak pria-pria di luar sana yang sering mencuri-curi pandang kepada ibu tiriku karena kecantikannya.

horny.

“Kamu pernah making love, sayang?” Tanya ibu tiriku setelah mengakhiri ceritanya.

“Hhhmmm… pernah.” Jawabku pelan.

“Hey… Ternyata anak Mamah nakal juga.” Ibu tiriku mencubit perutku.

“He he he… Kan nurut mamahnya.” Candaku sambil memeluk pinggangnya.

“Eit… eit… Awas! Jangan nakal ya?” Kata-kata yang keluar dari mulutnya bertentangan dengan sikapnya yang tidak menolak saat tanganku mulai meraba-raba pahanya.

“Kamu lagi pengen ya?” Kata ibu tiriku sambil menaruh tangannya di selangkanganku yang masih terbalut celana jeans.

“He eh …” Jawabku.

Rupanya kami sudah mengerti apa yang dimaui diantara kami berdua, setelah itu kami mulai melucuti pakaian masing-masing. Penisku terasa tegang karena tak menyangka tubuh ibu tiriku seindah itu. Lalu ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya telentang. Aku begitu takjub, tubuh ibu tiriku yang aduhai telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat di hadapanku.

Kulihat ibu tiriku memperhatikan kejantananku yang berdenyut-denyut, ibu tiriku tampak kaget, tetapi lalu tersenyum. “Ternyata kamu punya barang istimewa juga,” katanya sambil meraih kontolku dan menggenggamnya, mengocoknya dengan lembut, lalu mendekatkan wajahnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan mulai menyedotinya.

Tak lama, ibu tiriku melepaskan kontolku dari mulutnya dan menatapku, “Kamu udah pernah melakukannya kan?” tanyanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar. Aku mengangguk. Duh, memek itu, putih, mulus, tembem dengan bulu hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Aku sudah lupa segalanya, yang ada sekarang hanyalah nafsu, aku lalu mendekatkan wajahku ke selangkangannya, lalu kusosor celah basah itu dengan mulutku, kuciumi dan kujilati celah yang menggairahkan itu.

“Aaaah… kamu sudah pinter rupanya… tapi jangan lama-lama sayang… Mamah udah nggak tahan …” katanya.

Akupun tak berlama-lama, lalu bangkit, memegangi kontolku dan mengarahkannya ke lubang kenikmatannya. Kudorong kontolku dengan perlahan, ‘Bleesss …! ’ dan amblaslah ke dalam lubang kenikmatan ibu tiriku itu, dan bener-bener nikmat, hangat dan basah. Lalu aku mulai menggenjotnya dengan perlahan. Tampak sepasang gunung kembarnya yang membulat gede, putih dengan putingnya yang besar kecoklatan.

“Aaaaah… Sayaaaang… Mamah nggak nyangka kalo kamu punya barang istimewa, ya ukurannya… ya sodokannya… ooohhhh …” Katanya sambil mendesah-desah.

Wajahnya yang cantik sambil merem melek nikmat itu bikin aku tambah semangat untuk menggenjotnya, dan tanpa berpikir apa-apa lagi aku mendekatkan wajahku lalu menyosor bibir tipisnya dengan bibirku. Ibu tiriku membalasnya dengan penuh nafsu. Makin lama tubuhku makin condong ke depan dan akhirnya menindih tubuhnya sambil terus menggenjot kontolku dan melumat bibirnya.

“Sleep… sleep… Bless …!” kontolku menghujam-hujam memeknya, kali ini agak keras hentakannya.

“Ooooohhhhhh …” kontolku menancap sempurna di dalam memek ibu tiriku diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan.

Entah berapa lama aku melakukannya sampai akhirnya ibu tiriku memeluk tubuhku dan berguling ke samping, dan sekarang, giliranku yang terlentang di atas kasur. Ibu tiriku membetulkan posisinya, lalu dengan melipat dua kakinya, ia mulai menaik-turunkan bokongnya, duh nikmatnya, apalagi sambil meremasi dua bukit kembarnya yang terguncang-guncang di hadapanku.

“Aaaaahhh sayaaang… enak banget …” Katanya sambil mendesah-desah dan terus menggoyangkan bokongnya mengimbagi sodokan kontolku dari bawah.

“Aaaaahhh… kamu pinter banget sayang… Mamah nggak nyangka kamu sehebat ini …” Katanya sambil melumat bibirku lagi.

Setelah sekian lama, ibu tiriku menghentikan goyangannya dan bangkit, maka lepaslah kontolku dari memeknya itu. Ia lalu nungging di atas tempat tidur dengan melipat lutut dan sikunya. Aku juga bangkit dan berlutut di belakangnya, kuremasi bokongnya yang indah sebentar, kuarahkan batang kontolku ke lubang kenikmatannya lagi, dan kembali kugenjot setelah amblas, sambil meremasi bulatan bokongnya yang indah itu.

“Aaaahhh… sayang terus cepetin… aaaah… aaaah …” Sementara memeknya yang makin terasa basah mulai terasa menjepit-jepit dan mengurut-urut batang kontolku. “Ayo sayang… dikit lagi… terus… cepetin…” Desah ibu tiriku.

Aku menuruti permintaannya, menggenjot kontolku dengan lebih cepat keluar masuk memeknya bahkan agak sedikit kasar. Ibu tiriku menggeliat-geliat dan terus mendesah-desah, memeknya semakin sering mengempot, dan akhirnya, dalam sebuah sodokan, tubuhnya menggeliat, mengejang, dan ‘

cret-cret-cret …’ ada sedikit cairan yang menyemprot dari dalam memeknya diikuti desahan panjangnya, “Aaaaaah… Sayaaaaaang… enaaak bangeeet…” katanya sambil terus menggeliat-geliat keenakan menjemput orgasmenya.

Makin lama, kontolku mulai berdeyut, apalagi saat ibu tiriku menggoyangkan bokongnya mengimbangi sodokan kontolku. Lalu saat kontolku makin kencang denyutannya, kudorong tubuh ibu tiriku yang cantik dan montok itu ke depan, kupeluk, kuremas bokongnya, dan kupercepat sodokan kontolku. Ibu tiriku mengempot-empotkan memeknya yang sudah basah kuyup itu.

“Ayo Sayaang, selesaikan… keluarin di dalam, jangan ragu-ragu, aaaah aaaah…” Tantang ibu tiriku sambil melirik ke arahku. Kusodokkan kontolku lebih dalam, dan disambut jepitan memeknya, kusodokkan lagi, dijepit lagi, dan akhirnya, dalam sebuah sodokan terakhir, kontolku pun tak bisa lagi menahan dorongan amunisinya, ia memuntahkan amunisinya di dalam lubang kemaluan perempuan cantik yang tak lain adalah ibu tiriku sendiri.

“Aaaaccchhhh …!!!!” Erangku merasakan nikmat yang makin luar biasa hebatnya, dengan seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan tubuhku terkulai sambil menindih tubuhnya yang basah oleh keringat. Setelah beristirahat sejenak, aku menggulingkan badanku ke samping dan tidur terlentang.

“Kamu luar biasa sayang… Mama puas banget main sama kamu…” katanya sambil tersenyum lalu mencium pipiku.

“Mama juga …” Kataku.

“Kamu suka?” Tanyanya, dan sebuah anggukan sebagai jawabannya.

“Terima kasih ya, Ma …” Kubisikkan lirih di telinganya sambil kukecup pipinya.

“Mama juga Ndri… baru kali ini Mama merasakan kenikmatan seperti ini, kamu hebat.” Kata ibu tiriku lalu mengecup bibirku.

Sambil bertelanjang bulat kami berbincang tentang pengalaman sex masing-masing, memang aku yang lebih banyak mendengarkan, maklumlah yang namanya wanita biasanya lebih ingin bercerita dan mengungkapkan isi hatinya. Tetapi dengan mendengarkan aku mendapatkan banyak hal baru terutama teman-teman ibu tiriku yang juga suka berselingkuh.

“Mah… Aku ingin ngerasain memek tante Fina.” Pintaku.

“Hey… Kamu naksir dia ya?” Tanya ibu tiriku.

“Sejak dulu aku ngebet ama dia Mah, tapi malu.” Aku mengakui bahwa aku suka dengan teman ibu tiriku itu.

“Hi hi hi… Boleh… Nanti Mamah undang tante Fina ke sini. Tapi Mamah juga mau minta temanmu Roni ajak juga ke sini.” Ibu tiriku menyetujui permintaanku dengan syarat.

“Mamah ternyata naksir si Roni …” Candaku sambil tersenyum.

“Hi… hi… hi… Masa Mamah mau bengong. Kamu main, Mamah juga harus main.” Kata ibu tiriku membalas candaanku.

Keesokan hari …

Sesuai rencana, aku menghubungi Roni dan ibu tiriku mengundang temannya, tante Fina. Kedua orang itu menyambut rencana kami begitu bersemangat. Sampai pada akhirnya, menjelang jam 10 pagi, kami berempat telah berkumpul di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang banyak hal dan berakhir tentunya pada masalah sex.

Selanjutnya, obrolan kami mengalir begitu lancar, sehingga masing-masing kami mulai merasa tidak canggung lagi. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh ibu tiriku, mulai ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati tante Fina dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Roni juga menarik ibu tiriku dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, tante Fina juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini.

Kuperhatikan Roni perlahan-lahan mulai mendudukkan ibu tiriku di meja yang ada di depan kami. Tidak lama kemudia Roni pun mengangkat rok yang dikenakan ibu tiriku, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Ibu tiriku juga tinggal hanya mengenakan BH dan CD-nya saja. Saat itu ibu tiriku masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

Sementara Roni kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh ibu tiriku. Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kewanitaan tante Fina. Kuelus bagian itu, aroma khas kemaluan wanita sudah terasa dan bagian tersebut sudah mulai basah. Nampak bulu-bulu yang begitu lebat menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha tante Fina ini.

“Oughhhh… Sssss… Aghhhhhh…” Desah tante Fina menikmati.

Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, tante Fina meracau nikmat. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada tante Fina, kuhisap bagian putingnya, tubuh tante Fina bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kejantananku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas.

Sementara itu, Roni dan ibu tiriku sudah berada di atas sofa sebelahku, Roni dan ibu tiriku seperti membentuk angka 69. Ibu tiriku ada di bawah sambil mengulum kemaluan Roni, sementara Roni menjilati memek ibu tiriku. Nafas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan.

Gantian aku sekarang yang menciumi memeknya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam memeknya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang tante Fina terengah-engah dan menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kontolku.

Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir sofa, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kontolku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan kontolku menuju liang kenikmatan milik tante Fina. Ketika kepala kontolku memasuki liang senggama itu, tante Fina mendesis.

“Ssss… Aghhhhhh… Oughhhh… nikmatnya… Ughhh… Terus Ndri, masukkan lagi, Aghhhh… !!!” Desahnya.

Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Tanganku sekarang sudah meremas payudara tante Fina dengan lembut. Tante Fina lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggannya dan ketika sampai di kepala kontolku ia turunkan lagi.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat ke arahku. Mulutnya mendesis-desis, sungguh seksi wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha mencapai puncak kenikmatan. Wajah tante Fina terlihat sangat cantik seperti itu ditambah lagi rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya.

Pantatku masih maju mundur di antara kedua paha tante Fina. Luar biasa memek tante Fina ini, seperti ada vacum cleaner saja di dalamnya, kontolku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.

Posisi sekarang berubah, tante Fina sekarang membungkuk menghadap sofa sambil memegang sisi sofa yang tadi tempat dia berbaring, sementara aku dari belakangnya dengan masih berlutut memasukkan kontolku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kontolku yang besar, liang memek tante Fina juga semakin kencang.

Kemudian aku posisikan kaki tante Fina dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya, lalu dengan perlahan kucoba memasukkan kontolku. Kali ini berhasil, tetapi tante Fina melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kontolku sambil sesekali menariknya. Memek tante Fina terasa kencang sekali. Setelah beberapa saat, tiba-tiba keluarlah lendir kawin tante Fina membasahi kontolku hingga terasa nikmat sekarang.

Kembali kudorong kontolku dan kutarik sedikit, lalu aku bergoyang semakin lincah, dengan memaju-mundurkan pantatku secara konstan. Sepertinya tante Fina pun menikmati posisi sex ini. Buah dada tante Fina bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat tante Fina sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu.

Erangannya semakin panjang, kecepatan sodokanku pun kutambah, dan saat itu goyangan pinggul tante Fina pun semakin cepat dan liar. Saat itu tubuhku terasa semakin panas. Saat itu aku merasakan ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kontolku.

Aku masih berusaha menahannya. Dengan cepatnya kemudian aku mencabut kontolku dan mengangkat tubuh tante Fina ke tempat yang lebih luas dan menyuruh tante Fina telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak memek tante Fina menyembul seakan menantang kontolku untuk segera menacapkanya kembali.

Segera kumasukkan kontolku kembali ke dalam liang memek tante Fina. Pantatku kembali naik turun berirama, tetapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut tante Fina semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap yang kulakukan padanya. Tiba-tiba tante Fina memelukku sekuat-kuatnya, goyanganku pun semakin menjadi liar.

“Ah… Ndri.. tante… ti… tidak… tah… aku… sssstt aaah… ya… ke… luar… aaaaacchh …!!!” kata tante Fina sambil menempelkan badannya ke badanku dan dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya untuk mengocok batang kontolku dan aku membantunya dengan mengangkat sedikit pantatnya dan mengocok dengan kecepatan penuh.

“Seeerrr… seeeerrr…!” terasa semprotan cairan hangat di ujung batang kemaluanku yang masih di dalam vagina tante Fina, lalu tubunya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat membasahi batang kejantananku. Cairan hangat menyirami batang kontolku dan kurasakan dinding vaginanya seakan akan menyedot kontolku begitu kuat dan akhirnya aku pun tidak kuat.

Di atas sofa Roni dan ibu tiriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat ibu tiriku tersenyum puas. Sementara tante Fina tidak mau melepaskan kontolku dari dalam memeknya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kontolku masuk ke liang memek milik tante Fina.

Pesta sex ini terus berlangsung sampai sore, melampiaskan keinginan birahi kami yang semakin menggebu. Kami juga bertukar pasangan untuk memperoleh sensasi persetubuhan yang mengagumkan. Pengalaman sex ini bisa dibilang sangat menyenangkan dan pada akhirnya kami pun mengulanginya kembali di hari-hari berikutnya dengan peserta yang lebih banyak lagi.

© 2022 - CeritaSeru.xyz