November 01, 2020
Penulis — andra0077

Pelajaran dari Bi Jannah

Jam wekkerku berdering keras, tapi mata ini masih terasa sangat berat untuk kubuka. Perlahan kubuka mataku seiring pintu kamarku yang terbuka. Bi Jannah, pembantuku masuk. Mas, ayo nanti terlambat ke sekolah lho kata wanita itu sambil membuka jendela kamarku yang diikuti masuknya sinar mentari pagi ke hampir seluruh ruangan.

Aku segera beranjak ke kamar mandi. Oh iya, perkenalkan, namaku Doni. Usiaku baru sebelas tahun, aku hidup di tengah keluarga yang cukup berada. Ayahku seorang direksi BUMN ternama di negeri ini. Sedang ibuku seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah di kotaku. Sebagai anak tunggal hampir semua kebutuhanku tercukupi bahkan bisa dibilang berlebihan.

Setelah memakai seragam putih-merahku aku segera ke meja makan untuk menyantap sarapan pagiku. Bapak ama ibu tadi udah berangkat setelah subuh mas kata bi Jannah. Aku tidak menyahutinya karena aku memang sudah tahu sejak semalam. Tak kusadari aku memperhatikan gerak tubuh pembantuku itu yang sedang mencuci piring tak jauh dariku.

Entah kenapa di usia yang sangat dini itu aku sudah suka dengan lawan jenisku. Yang lebih membuatku heran, dadaku seakan berdetak lebih kencang, darahku seakan berdesir ketika melihat wanita-wanita cantik. Dan yang lebih mengherankan lagi, burungku menegang. Pernah aku melihat-lihat kemaluanku ketika tegak berdiri.

Kutarik kulup burungku sehingga bagian dalamnya tersembul, terasa geli dan dadaku semakin deg-degan. Di rumahku ada dua orang pembantu dan satu orang sopir. Bi Jannah kebagian tugas untuk memasak dan membersihkan rumah dan satu lagi bi Asih bertugas mencuci pakaian dan menyetrika. Bi Asih dan pak Karjo, sopir tidak menginap, sore mereka pulang.

Sampai menjelang akhir kelas V, aku masih belum tahu tentang apa yang terjadi denganku. Akupun tidak menceritakannya kepada siapapun. Tapi ternyata bi Jannah tahu tentang yang kualami. Ceritanya begini, siang sepulang sekolah, aku langsung makan. Bi Jannah pun dengan baik menyiapkan makananku. Papa mama kapan pulang bi?

Tanyaku basa basi karena sebenarnya aku tahu mereka akan kembali tiga hari lagi. Lho mas Doni nggak tau ta? 3 hari lagi bapak ibu datang, itupun mungkin malem sampe sini mas.. sahut wanita itu. Eh, mas Doni kapan disunat? tanya bi Jannah tiba-tiba. Aku agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Emang kenapa bi?

Tanyaku balik. Nggak apa-apa mas, hanya kayaknya dah waktunya jawabnya. Aku mengernyitkan dahi. Iya, mas Doni kan dah mimpi basah, berarti dah waktunya burungnya disunat sahut bi Jannah dengan tersenyum. Mimpi basah gumamku. Iya mas, mimpi basah, ga usah bohong mas, bibi tau kok jawabnya kemudian.

Aku semakin bertanya-tanya, apa yang kualami itu yang namanya mimpi basah. Iya mas, kapan hari kan mas Doni ngompol kan? Tapi yang keluar bukan kencing Lalu apa bi yang keluar potongku. Wanita itu tersenyum. Itu yang namanya air mani mas, ato orang sini biasanya bilang pejuh.. nah pejuh itu mengandung sperma mas.

Itu artinya mas Doni udah dewasa jelasnya. Dewasa bi? tanyaku pelan. Iya mas, eh burungnya mas Doni dah bisa berdiri khan? Iya kan? tanyanya sambil tersenyum. eee, anu bi eee aku bingung menjawabnya. Malu. Ga papa mas, itu wajar kok, cuman katanya biasanya gitu itu kalo udah sunat, tapi ni mas Doni belum sunat aja wis bisa gitu, hehe kata bi Jannah kemudian berlalu.

Penasaran, Aku lalu mengikutinya. trus bi? Tanyaku. Ya ga papa mas, sekarang tubuh mas Doni sudah memproduksi sperma, nah kalo ga dikeluarin, akhirnya numpuk trus ya itu, keluar sendiri lewat mimpi basah itu tadi sahut bi Jannah panjang sambil mencuci piring. Oh ya mas, kulup tititnya dah bisa ditarik ga?

Tanya wanita itu sambil menaruh gelas terakhir yang dicucinya. Kulup?? apalagi itu bi? tanyaku. Itu lo mas, tititnya mas Doni kan masih ada kulit penutup kepalanya nah kalo udah bisa ketarik itu bagus, nanti sunatnya gampang.. tapi mas Doni harus rajin bersihkan bagian dalamnya trus kalo pas pipis usahakan tarik dulu kulupnya biar air kencingnya ga tersisa di kulupnya itu jawabnya panjang lebar.

Aku mengernyitkan dahi, bingung. Wanita itu tersenyum. Entah apa yang kupikirkan waktu itu, aku lalu membuka resleting celana pendekku dan menunjukkan burungku ke wanita itu. Dulu waktu awal SD aku sering dimandikan wanita itu, jadi aku tidak merasa malu. Gini ta bi? tanyaku sambil menarik kulup burungku sehingga bagian dalamnya yang berwarna kemerahan tersembul keluar.

Iya mas, bagus itu.. dah bisa ketarik.. nanti pas disunat gampang itu mas.. eh nah itu ada kotorannya ini lho mas.. putih-putih ini harus dibersihkan uppsss.. kata bi Jannah sambil menyentuh kemaluanku. Seperti tersengat listrik beberapa volt, sentuhan tangan wanita itu langsung membuat kemaluanku berdiri.

Lha kok jadi berdiri mas? Keluarin aja mas, biar enak kata bi Jannah pelan sambil menatapku. Kembali aku mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti. Iya mas kalo berdiri gitu tandanya mani nya pengen dikeluarin mas.. mas Doni kalo tahu cara ngeluarinnya pasti ketagihan lanjut wanita itu. Kalo mas Doni mau, bibi bisa kasih tau caranya ayo mas, sekalian bibi ajarin cara bersihkan burungnya mas Doni..

di kamar mandi aja ya.. eh, tapi jangan bilang ke siapa-siapa lho mas.. ajak bi Jannah lalu menggandengku menuju kamar mandi di belakang rumah. Aku menurutinya. Kemudian ia terlihat mencuci tangannya dengan sabun. Buka celananya mas, biar nggak basah gumamnya. Entah kenapa aku menurutinya. Kulepas celanaku dan kutaruh di gantungan.

Kulihat wanita itu menuangkan sedikit baby oil di tangannya kemudian mengusapkannya di kemaluanku. Bibi keluarin ya mas gumamnya yang tanpa persetujuanku langsung mengurut-urut kemaluanku perlahan yang makin lama makin cepat. Terasa sangat geli dan enak sekali. Nafasku semakin memburu. Aduhhh bi sstttsss aduhhh bi mulutku meracau.

enak mas? tanyanya yang tak kuindahkan. Aku konsentrasi pada kenikmatan yang diberikan tangan bi Jannah di kemaluanku. Pinggulku mulai kugerakkan mengimbangi irama permainan tangannya yang semakin menambah kenikmatanku. Lututku bergetar. Tangan kananku memegang pada bahu bi Jannah yang jongkok di sebelah kananku.

Ia lalu mengambil gayung air dan sabun kemudian membersihkan kemaluanku. Aku hanya terdiam ketika wanita itu melap burungku yang masih berdiri tegak dengan handuk. mas, dimasukin ke punya bibi ya ayo ke kamarnya bibi mas.. kata bi Jannah dengan suara serak, belakangan kutahu kalau suara serak itu menandakan ia sedang bernafsu.

Kulihat wanita itu menutup pintu kamar. Kemudian kedua tangannya melepas celana dalam krem yang dikenakannya tanpa melepas dasternya lalu menaruhnya di meja. Rebahan mas katanya ketika berdiri di depanku. Aku menurutinya. Ia lalu menyingkap dasternya ke atas sampai bagian perut dan mengikatnya sehingga bagian bawah tubuh wanita itu terlihat jelas.

Pandanganku tertuju pada bagian bawah perutnya yang ditumbuhi bulu lebat. mau ngapain bi tanyaku penasaran apa yang akan dilakukan wanita itu. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia lalu menaiki tubuhku. Tangan kanannya meraih batang kemaluanku dan diarahkan ke bagian kewanitaannya, sedang tangan kirinya bertumpu pada ranjang, tubuhnya ia tekan-tekan kebawah.

Aaahhhh mulutnya mengerang seperti kereta api ketika batang kemaluanku masuk ke dalam bagian kewanitaannya. Aku rasakan kemaluanku seperti dihimpit sesuatu yang hangat, basah dan berdenyut. Sebuah sensasi luar biasa yang baru pertama kali aku rasakan. Ia lalu mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur kadang-kadang seperti diputar-putar.

sttttssssss ooohhhh. Ini namanya ngentot mas.. enak mas? Enak mas? Sttssstttsss ohhhhhh mulutnya meracau dan nafas yang terengah-engah. Aku diam merasakan sensasi kenikmatan pada kemaluanku. Beberapa menit kemudian aku merasakan ada sesuatu yang terkumpul di kemaluanku yang ingin keluar. Ingin kutahan tapi aku tak kuasa.

aduh bi biii aku pengin pipis udah bi aku mau pipisss teriakku. keluar yo mas? keluar yoo? sahut wanita itu yang malah semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya tubuhku mengejang. Karena takut tanganku meraih paha wanita itu agar dia segera melepaskan cengkraman kemaluannya pada burungku.

Dadaku seakan berhenti berdetak. cret.. cretcretttcrett kemaluanku memuntahkan sesuatu yang banyak sekali diiringi kenikmatan luar biasa. Beberapa saat aku seperti melayang-layang. Kemudian aku merasa lemas. Bi Jannah pun terus mengelus-elus burungku pelan. Enak mas tanyanya yang kemudian menyadarkanku.

Aku mengangguk pasti. wiii pejuhnya mas Doni buanyak kuentel pisan kata wanita itu. Kulihat memang air maniku banyak sekali. Bahkan tumpahannya ada yang sampe kena tembok kamar pembantuku itu. Wanita itu kemudian menjelaskan semuanya tentang apa yang barusan kurasakan. maaf ya mas, tadi harus dikeluarin di luar, kalo di dalem pasti tambah enak..

tapi bibi takut hamil, bibi tidak pernah minum pil, apalagi pejuhnya mas Doni buanyak kayak gitu kata bi Jannah panjang. Ia lalu beranjak sambil melepaskan ikatan dasternya di perutnya. Tak lama kemudian ia muncul sambil membawa handuk basah dan langsung mengusap kemaluanku yang mulai melemas. ia memintaku berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang hal itu.

Janji ya mas.. pintanya. Setelah aku mengangguk, ia pun keluar kamar. Ia lalu membuatkanku segelas susu agar tenagaku cepat pulih katanya sembari menyodorkan segelas susu hangat yang langsung aku habiskan. Bibi juga enak tanyaku sambil menyodorkan gelas kosong kepadanya. Wanita itu tersenyum mengangguk.

Iya mas, tapi bibi belum muncak, mas Doni dah keluar dulu.. ga jadi deh katanya. Maaf ya bi habis ga tahan jawabku. Nggak apa-apa mas, eh mas.. ee kata wanita itu. Apa bi? Tanyaku. Kalo mas mau, nanti malam lagi ya, bibi juga pengin muncak sahutnya seperti tersipu. bi.. aku boleh cium bibi?

tanyaku lugu. Oalah mas yo oleh tho mas.. lha wong mas Doni lho wis ngentotin aku, lha kok cumin minta cium mas mas.. jawabnya sambil tersenyum dan menunjukkan tangannya yang menggenggam, ibu jarinya diselipkan di antara jari tengah dan telunjuk melambangkan adegan persetubuhan. Aku juga tersenyum mendengarnya kemudian aku langsung mendekatinya.

kalo gitu ga usah nanti malem bi sekarang aja ya kataku sambil mencium pipi wanita itu. Ih mas Doni nakal kata bi Jannah. Bentar mas, bibi beli pil dulu, bibi takut hamil mas katanya menarik diri dariku. Ada uangnya bi, pake ini aja bi.. cukup? Tanyaku sambil menyodorkan beberapa lembar uang kepadanya yang sedang memakai celana dalam.

Kemudian wanita 30 tahunan itu pun beranjak pergi sambil memakai jilbabnya asal-asalan. Setengah jam kemudian ia datang dan permainan keduapun dimulai. Wanita itu benar-benar mengajariku segalanya dan akupun cepat belajar. Di ronde kedua itu ia mengajariku beberapa gaya dan cara untuk menunda ejakulasiku sehingga permainan menjadi lumayan lama.

Sepuluh menit berlalu.. Mas, bibi di atas ya, bibi kayaknya mau keluar bisik bi Jannah dengan suara parau. Menurutinya, aku segera rebahan disisinya. Tanpa membuang waktu bi Jannah langsung menaiki tubuhku dan langsung menggoyangnya dengan kecepatan tinggi. Aduhh mas pelimu uenak mas aduhh mass bibi mau keluar mas ni aku keluar mas.

oooochhhhhhhh.. wanita itu menggelinjang. Kemaluanku dibenamkannya dalam-dalam. Aku rasakan liang kewanitaannya mencengkram erat dan terasa lebih hangat dan mengeluarkan cairan yang sampe merambat di batang kemaluanku. Tubuhnya roboh di atasku sambil memelukku dengan kuat. Nafasnya tersengal. Perlahan aku menggerakkan pinggulku yang langsung dilarangnya.

bentar mas.. jangan gerak dulu mas pinta bi Jannah. Aku menurutinya. Beberapa saat ia diam lalu kembali mengangkat tubuhnya yang menindihku. Maaf ya mas.. bibi barusan keluar wuenak pol mas katanya pelan. Ia lalu merebahkan tubuhnya disampingku. Ayo mas, sekarang mas Doni keluarin.. mas Doni di atas ya?

Aku segera menempatkan diriku di depan selangkangan wanita itu. Kulihat dengan jelas kemaluan bi Jannah. Aku memandanginya sejenak. Sepertinya wanita itu agak risih, tangannya lalu menutupinya. Jangan dilihatin mas bibi malu gumamnya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung menjilati bagian kewanitaannya.

Aduhh mas.. mas ngapain mas stttsstttss.. racaunya. Tapi ia malah bangkit setengah duduk. Tangan kanannya yang tadi menutupi kemaluannya malah mengelus-elus kepalaku. Aku semakin bernafsu menjilati kemaluannya yang berbau khas dan sangat merangsang. Kutelan habis cairan kenikmatan yang meleleh dari lubang vagina wanita itu.

Nggak jijik ta mas? Stttsss aduhh mas gumam bi Jannah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku masih penasaran, kubuka lipatan daging itu sehingga lubangnya terlihat jelas, merah merekah. Bagian atasnya ada sesuatu yang bentuknya seperti kacang. Ayo wis mas entot aku mas masukin mas masukin pelimu mas aku ga kuat wis mas masukin ta mas oooocchhh pinta bi Jannah setengah mengiba yang membuatku semakin bernafsu menjilati bagian kewanitaannya.

Beberapa saat kemudian.. lho mas aduhh masmas.. aku arep keluar lagi mas aduhh mas ooochhh tangannya yang tadi hanya mengelus elus kepalaku, malah menekan-nekannya di kemaluannya. Kedua pahanya mengapit kepalaku sehingga aku seperti sesak. Oooooocccchhhhhhhh teriaknya ketika mencapai puncak kenikmatannya untuk kedua kalinya.

Beberapa saat aku diam. Kemudian kedua pahanya mulai terbuka. Ia mengatur nafasnya. Aku segera menusukkan kemaluanku ke lubang kewanitaannya dan langsung menggempurnya dengan rpm tinggi. Aku juga ingin segera mencapai puncak. ayo mas keluarin wis masstttssss ahhhh. Ayo mas keluarin pejuhmu mas..

keluarin di dalem mass mulut bi Jannah meracau, tangan kirinya memilin-milin puting susuku. Kurasakan klimaksku semakin dekat. Tapi tiba-tiba aku masih ingin menundanya. Aku langsung menghentikan gerakan pinggulku dan mengatur nafasku. Kenapa kok berhenti mas tanya bi Jannah sambil mengusap peluh di wajahku dengan tangannya.

Eman-eman bi jawabku pelan langsung menjilati leher wanita itu yang membuatnya kegelian. Jilatanku turun ke dadanya, langsung mengulum pentilnya. aduhh mas suka ya ama teteknya bibi aww.. jeritnya ketika kugigit pelan payudara bi Jannah yang lumayan besar itu. Aku rasakan vagina bi Jannah mulai berdenyut-denyut lagi, mungkin ia mulai bergairah lagi.

Aku semakin bernafsu, kuangkat kedua tangan wanita itu ke atas kepala. Wanita itu memberontak. Jangan mas, bibi malu, keteknya bibi gondrong katanya. Aku tidak memperdulikannya, bahkan kuciumi juga ketiak pembantuku itu, baunya kecut sih, tapi juga menambah gairahku. Biarin gitu bi jangan dicukur yaawas kalo bibi cukur kataku sambil terus menyodok-nyodokan kemaluanku.

Ayo bi nungging.. kataku sambil berdiri beralaskan lututku. Iya mas jawabnya kemudian membalikkan badannya. Tanpa banyak bicara aku langsung menggarapnya dari belakang. Kedua tanganku memegangi pantatnya yang besar sambil sesekali meremasnya. Tidak sampai lima menit, kurasakan maniku sudah ingin keluar. Ayo bi, terlentang aja, aku wis ga kuat perintahku yang langsung diturutinya. Kedua kaki wanita itu langsung mengapit pinggulku begitu kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. Aku mempercepat gerakanku, aku ingin segera menuntaskan birahiku. bi aku keluar bi jeritku. Iya mas.. keluarin di dalem mas keluarin masaduh mas.. aku juga mau keluar mas oocchhhhh aduhhh massmas Donieee oooooccccchhhhhhhhh jeritnya. Tubuh bi Jannah menggelinjang lagi. Kepalanya menengadah. Aku tak peduli karena aku juga akan mencapai puncak kenikmatanku. Kubenamkan dalam-dalam kemaluanku di dalam liang kewanitaannya. cret.. cret.. cret air maniku muntah di dalam rahim wanita itu mengiringi puncak kenikmatanku. Beberapa saat kami terdiam, kemaluanku masih di dalam liang vaginanya sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami rasakan. Kemudian kutarik keluar burungku yang mulai melemas dari lubang yang nikmat itu lalu merebahkan badanku disebelah bi Jannah. Bibi juga enak? tanyaku pelan. Terlihat wajahnya tersenyum dengan mata sayu. Ia mengangguk. tiga kali mas Sudah lama bibi nggak ngerasain kayak gini mas kata bi Jannah pelan. Janji lho ya mas, jangan bilang sapa-sapa kalo sampe bapak ato ibu tahu, bibi pasti dipecat mas lanjutnya. Aku mengangguk pasti. Kemudian aku merebahkan tubuhku di sampingnya. Lemes bi, cuapek gumamku. Gimana ga capek mas, hampir sejam punya mas Doni ga keluar-keluar jawabnya sambil tersenyum. Saking capeknya aku tertidur.

Menjelang maghrib aku terbangun. Tidak terasa dua jam lebih aku terlelap. Rasanya segar sekali, tubuhku terasa fresh, hanya saja cacing-cacing di perutku yang membuat rasa lapar tidak tertahankan. Segera aku memakai celanaku dan menuju ruang makan. Dah bangun mas? Bibi tadi mau bangunkan nggak enak, kayaknya mas Doni lelap sekali sapa bi Jannah ketika aku datang. Rupanya ia sedang memasak. Segera kudekati wanita itu yang terlihat baru saja mandi, handuknya masih terlilit di kepalanya. Masih lama bi? Laper nih.. tanyaku sambil mendekatinya dan berdiri di sampingnya. Mandi dulu mas.. nanti setelah mandi, makanannya pasti udah siap. Aku menurutinya.

Malam harinya, sekitar pukul setengah sebelas aku terbangun karena kebelet pipis. Setelah beranjak dari kamar mandi, tiba-tiba darahku berdesir menandakan aku ingin bercinta. Akhirnya aku kembali menuju kamar pembantuku. Seperti malam-malam biasanya, pintu kamarnya tidak terkunci. Perlahan aku masuk tanpa menimbulkan suara. Aku duduk di tepi ranjang tempat wanita itu tergolek lelap. Kupandangi wajah bi Jannah. Wanita itu begitu nyenyak dalam tidurnya sehingga keinginanku untuk membangunkannya perlahan terkikis. Beberapa saat kemudian aku beranjak untuk meninggalkan kamar itu. Tetapi ketika aku membuka pintu kamar, wanita itu bersuara. mas Doni aku menoleh. Maaf bi, aku ganggu, sampe bibi bangun kataku pelan. Wanita itu kemudian duduk sambil membetulkan rambutnya yang acak-acak’an. Ada apa mas? Anu ya mas Doni pingin lagi ya? tanya bi Jannah sambil tersenyum kecil. eee.. bibi mau? Tanyaku balik sambil memandangnya. Wanita itu tersenyum lalu mendekatiku. ya mau dong mas jawabnya singkat. Bentar ya mas bibi pipis dulu.. sekalian cuci muka katanya kemudian meninggalkan kamar menuju kamar mandi.

asiik pikirku dalam hati. Kemudian aku beranjak ke dapur membuat dua gelas teh hangat. oalah, ternyata disini tho mas.. kata bi Jannah ketika melihatku sedang mengaduk teh. ni bi buat bibi kataku ketika menyodorkan segelas teh panas lengkap dengan lepeknya ke wanita itu yang berdiri di sebelah pintu dapur. yee.. yang lagi ada maunya.. sampe-sampe dibuatin teh ujar bi Jannah sambil tersenyum. Kemudian ia duduk di kursi makan dan langsung meminumnya perlahan. Aku juga langsung menghabiskan minumanku sendiri. di atas aja ya bi.. di kamarku kataku sambil menaruh gelas di tempat cucian. Ayo bi.. ajakku ketika melihat wanita itu menaruh gelas kosongnya di meja. Tanpa menjawab, ia lalu melangkah menuju kamarku yang terletak di atas. Aku mengikutinya dari belakang. Ia lalu melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai akhirnya tubuhnya tidak tertutup sehelai benang sama sekali alias telanjang bulat. Akupun demikian, kulepas seluruh bajuku sampai bugil sehingga nampaklah kemaluanku yang sudah tegang sekali berdiri mengacung lengkap dengan kulupnya. Aku lalu mendekati bi Jannah yang berdiri di samping kasur. Wiii.. wis nguaceng ya mas gumamnya ketika melirik ke arah kemaluanku. Tanpa menjawab aku lalu memegang payudaranya dan meremas pelan benda yang terasa kenyal itu. Lalu aku langsung menjilati putingnya yang berwarna coklat tua. Perlahan terdengar mulut bi Jannah mulai mendesis. Tangannya lalu meraih kemaluanku dan mengurut-urutnya. masukin mas.. punya bibi dah basah kok kata bi Jannah dengan suara parau pelan lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia lalu membuka kedua kakinya ketika aku menaiki tubuhnya. Tangan kirinya meraih batang kemaluanku dan mengarahkannya ke bagian kewanitaannya. Hanya dengan sekali dorong, kemaluankupun masuk. Perlahan kugoyang pinggulku yang makin lama makin cepat. ooohhhh. Sssttttsss. oooohhhhh sstttsssss mulut bi Jannah meracau yang membuat birahiku semakin memuncak dipompa oleh kenikmatan melalui kemaluanku. Lima menit pun berlalu. Keringat mulai membasahiku dan wanita itu. Mas bibi di atas ya pinta bi Jannah dengan suara parau. Aku lalu menghentikan gerakanku dan langsung berbaring di sebelah wanita itu. arep metu bi? gumamku. Wanita itu tidak menjawab, ia langsung menaikiku dan menggoyangkan pinggulnya dengan rpm tinggi. sssstttsss. Ooohhhhh sstttsssss. Aaaahhhhhh. Ooooccchhhhhhhh jeritnya ketika wanita itu mencapai puncak kenikmatannya. Kepalanya menengadah. Tubuhnya meregang. Aku hanya diam, memberikan kesempatan buatnya untuk menikmati orgasmenya. Liang kewanitaan bi Jannah terasa berdenyut lebih hebat dan lebih panas. Beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk kearahku, nafasnya masih tersengal. Enak bi? Bisikku. pol mas gumamnya pelan. Ia lalu menarik tubuhnya. plup ketika kemaluanku terlepas dari liang vagina bi Jannah. Ia lalu rebahan disisiku. nungging bi pintaku. Iya mas jawabnya lalu berbalik menurutiku. Aku segera ke belakangnya dan menggarapnya. Belum semenit aku ingin segera mengakhiri permainan itu. Memang kuakui doggy style ini cepat sekali menjebol pertahananku. Aku semakin cepat memompanya hingga akhirnya. cret.. cret.. cret air maniku muntah di dalang rahim bi Jannah mengiringi puncak kenikmatanku. Beberapa saat kemudian aku roboh di samping wanita itu. Ia juga merebahkan tubuhnya. makasih ya bi kataku pelan. Wanita itu tersenyum. Iya mas sama-sama.. makasih juga mas jawabnya. Sejak saat itu, aku dan bi Jannah rutin berhubungan badan, tapi ya itu ketika keadaan memungkinkan, lebih seringnya di tengah malam, karena pada siang atau sore hari, meski kedua orang tuaku tidak ada, masih ada bi Asih disana.

© 2022 - CeritaSeru.xyz