November 01, 2020
Penulis — andra0077

Akhirnya Kunikmati perkosaan itu

Malam itu, setelah kukunci semua pintu dan jendela rumah, kurebahkan badanku di samping anakku yang sudah tertidur sejak tadi. Kupandangi wajah anak laki-laki berusia 6 tahun itu, begitu pulas tidurnya. Malam itu untuk kesekian kalinya, mas Hari, suamiku dinas luar kota yang mengharuskannya bermalam.

Jabatan baru yang di sandangnya sering menugaskannya ke ibukota Propinsi yang jaraknya 4 jam perjalanan dari kota kami. Rutin sih, sebulan dua sampe tiga kali. Perlahan kuhidupkan TV di kamar sambil mengecilkan volumenya. Takut membangunkan mimpi buah hatiku. Waktu baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam tapi kurasakan kantukku sudah tidak terbendung.

Walhasil tak lama kemudian TV yang melihatku alias aku tertidur. Oh ya, perkenalkan, namaku Yanti, usiaku baru menginjak 32 tahun. Aku seorang ibu rumah tangga, suamiku, mas Hari, begitu aku biasa memanggilnya adalah seorang pejabat di Pemerintah Daerah kotaku. Kami sudah mengarungi bahtera rumah tangga sekitar 8 tahun dan sudah dikaruniani seorang putra yang masih TK.

Dari segi materi, keluargaku bisa dibilang berkecukupan akan tetapi setahun belakangan, untuk urusan nafkah batin, suamiku kurang bisa memberikan yang terbaik. Hal itu dikarenakan penyakit diabet yang dideritanya. namun hal itu tidak begitu merisaukanku, meskipun aku dapat dibilang punya hasrat seks yang tinggi tapi aku terlalu takut untuk mengkhianatinya.

Entah pukul berapa, aku terbangun karena merasakan ingin pipis. Acara TV pun sudah habis. Perlahan aku beranjak keluar kamar menuju kamar mandi yang letaknya di bagian belakang rumah. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba seseorang mendorong tubuhku ke tembok sambil mengacungkan senjata tajam tepat di leherku.

Jangan teriak, atau kamu mati! kata lelaki yang mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya. Saking terkejutnya, tubuhku sampai lemas. Dimana kamu simpan uang dan perhiasan? Tanya seorang lagi muncul dari ruang tengah. Aku hanya menggeleng tidak menjawab, air mataku mengalir, entah karena takut atau kenapa.

Kami tidak akan melukaimu kalau kamu mau kerjasama. Katakan dimana kamu simpan hartamu?! Tanya salah seorang dari mereka. Di lemari kamar tengah, tolong jangan lukai saya sama anak saya tolong pintaku memelas. Air mataku semakin deras mengalir. Kemudian seorang lainnya menuju kamar yang kutunjuk dan menghidupkan lampunya.

Kulirik lelaki yang ada di depanku yang ternyata memandangiku. Cantik juga kamu gumamnya. Tolong jangan jangan pintaku lagi. Laki-laki itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan ingin menciumku. Aku berusaha mengalingkan muka akan tetapi bibir lelaki itu mendarat di leherku. Gila! Kamu begitu merangsang bisiknya.

Aku ingin bersenang senang denganmu sayang tambahnya. Jangan berteriak, atau kau dan anakmu kuhabisi lanjutnya sambil menjilati leherku. Aku berusaha berontak, tetapi tubuh lelaki itu terasa sangat kuat. Tolong.. jangan.. jangan rontaku tapi tangannya sudah mulai meremas payudaraku yang lumayan besar.

Dengan tangan terikat aku berusaha menghalanginya. Tetapi entah bagaimana aku merasakan darahku mengalir lebih cepat. Sentuhan dan jilatan lelaki itu membangkitkan gairahku. Pergulatan batin antara takut, ingin bercinta dan sedih berkecamuk di dadaku akan tetapi semua terjawab ketika kurasakan vaginaku mulai basah.

Udah beres mas.. kata lelaki yang tadi masuk ke dalam kamar dan mengambil uang serta perhiasan yang kusimpan. Ia tampak terkejut ketika mengetahui apa yang dilakukan temannya padaku. Tolong jangan tolong rontaku yang masih ingin membela kehormatanku tetapi lelaki itu malah semakin beringas meremas remas payudaraku.

Wan, lepas ikatannya, pegangi tangannya perintah lelaki yang menindihku kepada temannya yang entah bernama Iwan, Erwan atau siapa, yang jelas panggilannya Wan. Tanpa menjawab, si Wan tadi melepas ikatan tali di tanganku dan memegangi kedua tanganku dengan erat. Seakan tanpa pertahanan, lelaki satunya langsung mengakangkan kedua kakiku.

Tunggu! kataku kemudian yang langsung menghentikan aksi lelaki itu. Jangan perkosa saya. Akan kulayani kalian! kataku tegas menjelaskan keputusan nekad yang kuambil. Apa? Tanya salah seorang dari mereka. akan kulayani kamu, tapi ada saratnya jawabku. hahaha.. nggak usah sarat, akan kunikmati tubuhmu!

jawab lelaki itu kemudian menyibakkan daster yang kupakai sampai perutku. Hentikan, atau saya akan teriak. Sekalian bunuh saya saja. Tidak apa-apa, yang jelas kalian akan tertangkap kataku lagi. Ia menghentikan aksinya. akan kulayani kalian, tapi tolong jangan sampai anak saya terbangun dan jangan ambil harta saya..

saya tidak akan melapor kejadian ini kataku lagi. Lelaki itu tampak berpikir. Banyak Wan? tanyanya pada temannya. Nggak mas, sedikit jawab si Wan tadi. Oke, lepasin wan perintah lelaki itu. Aku segera bangkit. Di kamar belakang saja, saya takut anak saya bangun kataku. Aku dengan santai meninggalkan mereka, masuk ke kamarku mengambil kondom yang biasa kupakai ketika masturbasi dengan dildo.

Seperti seorang pelacur yang akan melayani tamunya, aku dan lelaki itu masuk ke kamar belakang yang dulu biasa ditempati pembantuku sebelum berhenti. Tanpa banyak bicara aku langsung melepas daster yang kupakai. Kala itu aku tidak memakai BH sehingga tubuhku hanya terbalut CD hitam yang kontras dengan kulitku yang kuning langsat.

Aku lalu melepas juga CD yang kupakai sehingga aku telanjang bulat. Kemudian kurebahkan tubuhku di ranjang. Lelaki itu tampak sibuk melepas celananya. Kuamati sebentar dan aku tercengang dengan ukuran kemaluan lelaki itu yang sudah tegang. Dengan cekatan ia memasang kondom pada alat kelaminnya lalu langsung menaiki tubuhku yang langsung kusambut dengan mengakangkan kedua kakiku, siap menyongsong batang kemaluannya.

Tapi lelaki itu ternyata tidak ingin langsung menyetubuhiku. Ia menjilati buah dadaku. Mendapat serangan itu, aku langsung merem melek. Napasku mulai terengah. Dengan cepat aku sudah melupakan segalanya. Suamiku, anakku, kehormatanku semuanya tertutup birahi yang hebat. Masukin mas stsss ohhh rintihku.

Lelaki itu juga tampaknya sudah sangat bernafsu. Diarahkannya batang kontolnya kearah vaginaku. Ia tampak sangat berpengalaman, dengan sekali dorong, batang kemaluannya ambles di dalam liang surgaku. Ohhh jeritnya pelan lalu mulai memompa tubuhku semakin cepat. Vaginaku semakin licin oleh cairan kenikmatanku.

Baru beberapa menit entah kenapa aku merasakan aku semakin dekat dengan orgasmeku. Terus mas oohh terus mas aduhh sttssss mulutku meracau. Lelaki itu semakin cepat menyodok-nyodokkan kemaluannya. Beberapa saat kemudian, pertahananku jebol. Aduhh mas aku mau keluar mas Occcchhhhhh jeritku ketika aku mencapai puncak kenikmatanku.

Orgasme yang sangat hebat, yang sudah lama sekali tidak kurasakan. lelaki itu terus memompaku dan dengan sekali hentakan ia membenamkan kemaluannya dalam-dalam. Ooooccchhhh. Jeritnya. Rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Beberapa saat ia terdiam dengan kontolnya masih menancap dalam liang vaginaku.

Tak lama kemudian temannya si Wan tadi masuk. Ayo cepet kataku sambil menyerahkan kondom kepadanya. Dengan cekatan pula ia memasangnya. Kulihat kemaluannya masih belum seberapa tegang. Ukurannya lebih kecil tapi bentuknya unik. Melengkung seperti buah pisang. Ingin sensasi lain, aku segera menungging menyuruhnya agar dia menusukku dari belakang. Tanpa banyak bicara, ia mengentotku. Sebentar saja, ketika aku mulai merasakan enaknya, ia ternyata sudah muncrat duluan. Tanpa banyak kata juga aku segera merapikan tubuhku. Ia lalu keluar kamar. Aku sadar ternyata kedua orang itu sudah menghilang ketika aku keluar kamar.

© 2022 - CeritaSeru.xyz