November 02, 2020
Penulis — Peneduh

Fell in love with Mom

Aku, Irfan. dari keluarga yang cukup mapan dari Jakarta sehingga mengharuskan untuk kost di kota Y. Tempat kost saya adalah kost campur dengan kamar mandi berada di dalam kamar dan dihuni oleh 12 orang, 5 mahasiswa dan 3 perempuan dan 4 pasutri.

Sejak kuliah di kota Y, ibuku mempunyai kebiasaan sering mengunjungiku setiap akhir bulan. Setiap kali mengunjungiku, ibuku selalu menginap selama seminggu di kostku (kebetulan ibuku seorang IRT).

Ibuku bernama Dewi, 35 tahun. Penampilan ibuku sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Jakarta dan istri seorang pungusaha sukses, cara berpakaiannya selalu glamour. Tidak murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih.

Pada bulan pertama kunjungan ibuku, biasa – biasa saja. Mama menginap di kostku selama seminggu. Aku membeli 1 kasur tambahan, sehingga walau sekamar tapi aku dan ibuku tidur di kasur yang berbeda dan agak berjauhan (maklum, kamar kostku agak luas). Setiap Mama ingin berganti pakaian, aku selalu keluar kamar, begitu juga sebaliknya.

Pada akhir bulan kedua, Mama kembali mengunjungiku. Seperti kebiasaannya, ia kembali menginap di kostku selama seminggu. Pada kunjungan kedua inilah, alu mengalami sebuah kejandian yang akhirnya membuat aku terobsesi dengan ibuku sendiri.

Kejadian itu terjadi pada malam hari kira pukul 7. Aku sedang keluar membeli makanan untuk aku dan mama. Saat aku kembali, aku meliat Mama sudah mengganti pakeannya dengan daster tidur. Daster biru tua polos yang leher bajunya sangat rendah. Singkat cerita, kami makan bersama sambil duduk berhadapan.

Karena di kamar kostku tidak ada meja, akhirnya kami makan sambil duduk lesehan dan piring diletakkan di lantai. Sewaktu waktu saat hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, dengan tidak sengaja, Mama membungkuk kearah ku yang lagi asyik duduk di asyik makan. Kedua belah payudaranya yang tanpa beha hampir seluruhnya keluar dari leher dasternya.

Suatu hari, aku benar benar ketiban rezeki. Tidak sengaja Mama memberikan tontonan yang membuatku terangsang berat. Seperti biasa setelah keluar kuliah, aku tidur siang, bertelanjang dada, aku hanya memakai blue jeans ketat kegemaranku. Sambil berbaring di kasurku, aku menemani Mama ngobrol mengenai acara kuliahku, Mama asyik dengan majalahnya.

Entah kenapa, mungkin karena keasyikan ngobrol, Mama nggak sengaja jongkok tepat di depan mataku. Aku jelas – jelas melihat gundukan memeknya, mulus tercukur tanpa satu helai rambut. Ya ampun, mungkin Mama lupa memakai celana dalam !!!. Spontan aku jadi terangsang luar biasa. Saking terpananya, aku nggak peduli lagi sama batang kontolku yang udah menerobos keluar, menjulang gagah sampai ke atas pusarku.

Dengan wajah merah karena jengah, aku bangkit dan ngacir ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi ku buka resluiting jensku dan mulai mengocok kontolku sambil mencium Bra dan CD kotor milik mama yang tergantung di kamar mandi. Sejak saat itu aku mulai terobsesi dengan ibuku sendiri. Bahkan saat mama hendak balik ke jakarta, aku membunyikan satu Bra dan CD-nya untuk teman onaniku selama Mama di Jakarta.

Pada akhir bulan ketiga, sebelum datang berkunjung, Mama terlebihi dahulu menelpon. Dalam pembicaraanku dengan Mama di telpon, Mama mengatakan agak merasa sedikit ribet kalau harus bolak – balik dengan membawa barang bawaan yang banyak.

Mendengar itu, ide isengkupun muncul. Aku meminta Mama untuk tidak perlu membawa apa – apa saat berkunjung dan menawarkan untuk memblikan pakaian untuk keperluan Mama selama seminggu. Mama pun menyetujuinya.

Menjelang kedatangan Mama, aku menggunakan sisa uang jajanku untuk membelikan pakaian untuk Mama, aku menggunakan sisa uang jajanku untuk membelikan pakaian untuk ibuku sesuai ukuran yang telah disampaikan. Aku memilih pakaian – pakaian yang sering kulihat dipakai para cewek – cewek di club malam. Akhirnya, aku membeli beberapa potong hot pant, kemeja tipis yang ukurannya aku pesan sedikit lebih kecil dari ukuran Mama, beberapa dress minim, lingerie dan Bra serta G-string yang seksi.

Saat Mama tiba, ia agak kaget melihat persediaan pakaian yang aku belikan untuknya. Pada awalnya dia menolak, tapi setelah agak kupaksa dengan mengatakan bahwa ia akan kelihatan lebih muda dan cantik dengan berpakaian seperti itu, Mama akhirnya mau.

Sejak saat itu lah pertualanganku dimulai. Selama seminggu mengunjungiku, aku dan Mama sering jalan berdua menggunakan pakaian – pakaian yang seksi. Suatu sore, aku dan Mama jalan – jalan ke sebuah mall. Mama mengenakan hot pant berwarna hitam dan kemeja putih lengan pendek. Tali Bra-nya nampak terlihat terikat di balik tengkuk.

Setelah bosan jalan – jalan, akhirnya aku dan Mama memutuskan untuk pulang ke kost. Sesampainya di kost Mama langsung mengambil handuk dan hendak mandi.

Sebelum masuk ke kamar mandi, Mama terlebih dahulu mengambil pakaian ganti di lemari. Kulihat pakaian yang lain telah kotor dan belum dicuci. Yang tersisa di lemari hanya celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuh pemakainya bila ada latar cahayanya.

Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkangan. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuh. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundak, dijamin gaun malam akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuh yang telanjang tanpa halangan. Semua itu sudah aku rencanakan sebelum Mama tiba.

Saat Mama mandi, aku duduk sambil menonton tv. Jantungku berdebar menanti pemandangan apa yang bakal aku lihat saat Mama keluar. Beberapa menit kemudian Mama keluar dari kamar mandi menggunakan gaun yang tadi diambilnya dan kembali memakai Bra yang tadi dipakai ke mall. Saat ibuku sedang mengeringkan rambutnya, aku protes

“Bukannya Bra itu udah mama pakai dari tadi pagi? “ “iya, emang kenapa” sahut mama

“seharian kan kita diluar rumah. Bra itu pasti udah banyak kena keringat. Nggak sehat”

“Bra mama udah pada kotor. Ini yang terakhir “ “yaudah nggak usah pake bra aja, daripada mama ke penyakit kulit karena pake bra kotor”

Setelah aku memaksa, akhirnya Mama menuruti. Mama kembali ke dalam kamar madni untuk melepas bra-nya. Mama keluar kembali sudah tidak menggunakan bra. Putingnya nampak keliatan di balik gaun tipis itu. Hal itu membuatku saat horni, sehingga saat giliranku mandi, aku berlama – lama di kamar mandi untuk beronani dengan pakaian dalam bekas Mama.

Pada saat makan malam, aku berpura – pura menumpahkan minuman ke atas kasurku, sehingga aku bisa punya alasan untuk tidur sekasur dengan mama malam ini. Mama sudah lebih dulu tidur, aku masih nonton. Saat Mama tidur, Gaun malamnya tersingkap sehingga memperlihatkan G-string yang Mama pakai. Tali gaun tidurnya yang sebelah kiri merosot ke siku sehingga puting payudaranya sebelah kiri nongol sedikit.

Melihat itu, aku horni hingga ubun – ubun kepala. Aku udah nggak tahan lagi untuk menyentuh tubuh Mama dan menyetubuhinya. Tapi, aku tidak berani. Aku akhirnya hanya mengocok batangku persis di depan wajah Mama yang sedang tertidur pulas. Saat pejuku hendak keluar, aku arahkan ujung batangku ke dada Mama sehingga pejuku tersembur mengenai dadanya.

Akupun akhirnya tidur di samping mama.

Menjelang dini hari, aku terbangun. Malam itu aku tidak bisa tidur membayangkan tubuh mama, gila pikirku dalam hati dia ibuku, tapi.. akh.. masa bodoh pikirku lagi. Aku mencoba onani lagi untuk “menidurkan burung”-ku yang berontak minta masuk ke sarang nya. Gila pikirku lagi.

Dengan gemetar aku mencoba membelai paha Mama yang putih mulus dan sangat seksi, dengan tangan bergetar aku membelai dan menelusuri paha Mama dan terus naik ke atas. Kemaluanku sudah sangat keras dan terasa sakit karena batang kemaluanku terjepit oleh celanaku. Aku kemudian membuka celanaku dan keluarlah “burung perkasa”-ku yang sudah sangat keras.

Pada malam berikutnya, aku semakin berani menggerayangi tubuh Mama. Saat Mama sudah terlelap, aku pindah dari kasurku ke kasur mama. Perlahan – lahan aku menarik daster yang dipakainya ke atas hingga bagian dada. Tubuh Mama yang sexy hanya terbalut bra putih setengah cup dan celana dalam satin putih berenda sexy terpampang di depanku.

Waktu itu tidak ada sedikitpun reaksi dari Mama. Berulang-ulang aku menikmati buah dadanya dari yang sebelah kiri, ke kanan, ke kiri dan seterusnya sampai aku betul-betul puas. Remasan, gigitan, jilatan dan ciuman menghujani kedua buah dada ibuku itu.

Aku kemudian menarik celana dalam yang dipakainya agak ke bawah. Aku membuka kedua belahan kakinya dan mulai menjilati liang kewanitaannya. Walaupun tertidur, rupanya tubuh Mama memberikan reaksi terhadap apa yang aku lakukan. Cairan kewanitaannya mengalir dari liang itu dan segera saja dijilati olehku.

Setelah beberapa saat menjilat-jilat kemaluan Mama, aku tidak tahan lagi. Aku jongkok di depan Mama dan mengocok batang kemaluanku. Ujung batang kemaluanku aku arahakan ke vaginanya, hingga pejuku menyembur keluar dan membasahi selangkangannya. Setelah terselesaikan birahiku, aku kembali merapikan pakaian Mama dan kembali tidur di kasurku.

Keesokan harinya, Mama meminta aku membelikan tiket kereta api untuknya. Mama ingin pulang hari ini juga. Aku sangat ketakutan. Aku takut Mama mengetahui kelakuanku semalam dan hendak pulang menyampaikannya kepada ayahku.

Siang harinya sebelum ibu pulang, aku mengajak mama jalan – jalan. Mama masih bersikap seperti biasa. Masih menggunakan pakian – pakaian seksi yang kubelikan. Selama jalan berdua, kami tak banyak bicara. Aku mengajak mama nonton bioskop. Mama menyetujuinya. Saat di dalam ruangan bioskop, aku curi – curi kesempatan untuk merangkul mama.

Aku tidak fokus pada filmnya. Aku lebih fokus pada mama yang sedang bersandar di bahuku. Dengan ragu – ragu aku mencoba mencium keningnya. Mama hanya diam.

“mama beneran mau pulang jakarta malam ini?” bisikku

“iya beneran “ “sekarang kan udah jam 5. Kereta mama berangkat jam 6 “ “yaudah nggak jadi deh kalo gitu” jawab Mama tanpa mengangkat kepalanya dari bahuku.

“kalo gitu, setelah ini Mama mau nggak aku ajak ke suatu tempat yang indah?” tanyaku

Mama memandangiku sambil mengangguk manja. Tingkahnya ini membuatku semakin bernafsu ingin mencium bibirnya saat itu juga.

Pada malam harinya, aku mengajak Mama ke suatu daerah perbukitan di pinggiran kota. Di sana banyak cafe – cafe romantis yang menawarkan pemandangan kota pada malam hari dari puncak bukit. Cafe yang kami masuki terdiri dari dua lantai dengan lantai dasarnya agak turun ke bawah jurang, sehingga tidak terlihat dari jalan maupun parkiran.

Jam menunjukkan pukul 02.00. di lantai dasar hanya ada aku dan Mama, sedangkan di lantai atas, ada beberapa orang mahasiswa yang sedang asyik ngobrol.

Aku dan Mama asyik ngobrol ngalor – ngidul sambil menikmati kopi yang kami pesan.

Tak lama kemudian Mama berdiri dan menatap ke arah lampu – lampu kota yang berkilau di kejauhan. Tanpa menoleh, Mama berkata

“mama tau dua malam berturut – turut ini kamu mengocok batang kemaluanmu di depan Mama yang tertidur dan melempaskan pejumu di tubuh Mama “aku kaget dan tak dapat berkata apa – apa. Ibu melanjutkan lagi “dan bahkan malam keduanya kami sampai berani menelanjangi Mama. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?

Aku tak menjawab pertanyaan mama tadi. Aku berdiri membawa jacket dan memakaikannya kepada Mama dari belakang.

“mama kedinginan?” tanyaku

“iya. Daerah ini sangat dingin” jawab mama masih tanpa menoleh

“yaudah kalo gitu kita pulang aja “ “kamu belum menjawab pertanyaan mama tadi. Jawab dulu dan kita pulang “ “aku nggak mau jawab kalo mama nggak mau noleh ke aku” jawabku bingung

Mama membalik badannya dan menghadap ke arahku. Kami berdiri sangat berdekatan, sehingga aku bisa meliht wajahnya dengan sangat jelas. Mama yang kebetulan lebih pendek dari aku, menengadah dan memandang wajahku. Kami diam beberapa menit. Aku bingung mau jawab apa. Kami hanya diam dan saling berpandang.

“kenapa?” mama kembali bertanya

“aku sangat mencintaimu dewi. Aku ingin memilikimu dewi” jawabku dengan langsung menyebut nama Mama.

“apa? Kamu memanggilku dengan sebutan dewi. Aku ibumu” tanya Mama dengan ekspresi yang kaget.

“iya. Kalo aku memanggil Mama, aku akan takut untuk mencium bibirmu” jawabku santai. mama nampak mau tersenyum tapi ditahannya. Kembali kupegang kedua pipi Mama lalu aku bertanya lagi

“dewi, kamu mau jadi kekasihku?”

walaupun mama menunjukkan ekspresi kaget, tapi ia tidak bisa menyembunyikan wajahnyanya yang terlihat seperti hendak terntawa.

Tanpa menunggu mama bereaksi, aku udah kembali mencium bibirnya. Kali ini aku mencoba memasukan lidahku ke dalam mulutnya. Mama membuka bibirnya perlahan dan membiarkan lidahku bertemu dengan lidahnya. Beberapa menit kemudia, mama mendorong tubuhku dan berkata

“aku mau ngomong. Tapi nggak bisa gara – gara ciumanmu”

“kamu mau bilang apa dewi?”

“ayo kita pulang. Kita bicarakan lagi apa yang telah terjadi di kost”

Aku dan mamapun akhirnya pulang. Sebelum sampai di kost, mama meminta untuk singgah di sebuah minirmarket lalu membeli sebotol minuman ringan. Saat memasuki kamar kost, aku harap – harap cemas apa yang akan dikatakan mama. Aku duduk di atas kasur. Mama meletakkan minuman ringannya di atas lantai di depanku lalu mengambil pakaian di lemari dan masuk ke kamar mandi.

Saat Mama keluar, ia menggunakan Daster biru tua polos yang leher bajunya rendaah banget. Tidak pakai bra, payudaranya gampang banget diintip lewat leher baju itu, Perfect. Mama duduk di depanku dan membuka botol minuman.

“wi, ngapain subuh – subuh gini minum kayak gituan?”

“udah deh, kamu diam aja. Aku nggak mau kamu sampe khilaf dan memperkosaku. Makanya hanya ini yang aku mau kasi” jawab Mama dan langsung mencium bibirku. Aku membalas ciuman mama. Tak lama kemudian mama melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Aku sengaja pake daster ini, jadi kalau kamu mau grayang-grayang and kissing-kissing payudara Aku kan gampang, tinggal tarik dikit, beres. Dan untuk anumu tuh, aku hanya bisa ngasih handjob”

Aku tersenyum, dan memeluk Mama. Pelukanku erat. Aku bisa merasakan jantung mama berdetak agak lebih kencang. Aku bisa merasakan napas mama agak memburu. Dan Aku bisa memberikan kecupan-kecupan dan belaian lidah di leher mama, turun ke dada, ke payudara, Uhh.. enaknya. Sementara tangan Mama terus mengocok kemaluanku.

“ooohhhh dewi… aku mau nyampe…”

Dengan segera Mama mengaambil botol minuman ringan tadi, mama minum seteguk (tapi tidak ditelan). Lalu Mama memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, sambil terus mengocok batangku hingga akhirnya pejuku keluar dan mama menelannya bersama – sama dengan minuman tadi.

“I love you Dewi…”

“ssssstttt… buruan tidur. Ini yang pertama dan terakhir. Mulai besok aku kembali menjadi ibumu seperti semestinya. Kalo kamu horni, aku akan carikan kamu wanita bayaran”

© 2022 - CeritaSeru.xyz