November 02, 2020
Penulis — McDodol

Dirumahku Banyak Acara

Bagian 1

“Eitsss… waduh oh… dasar nih kakak kurang ajar…! Mami…! Mami…! Nih kakak tidak sopan, pegang-pegang pepek Mai!”, teriak Marcy, adik perempuanku yang masih berusia 12 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD itu.

<Klotak…!>

Pintu kamar mama pun dibuka dengan tergesa-gesa. Mama muncul dengan bertolak pinggang. “Apaan lagi sih…! Bertengkar melulu…!,” ujar mama dengan kesal.

Segera Marcy menjelaskan apa yang telah terjadi.

Mama menoleh kearah aku dan bertanya kepadaku, “Ayo… sekarang apa penjelasanmu? Rodri Cumarekaan?!”

Bila mama memanggil dengan nama lengkapku seperti ini berarti dia sedang kesal hatinya.

Aku segera menjelaskan duduk perkaranya.

“Begini… mam…”, aku memulai penjelasanku.

Mama mendengarkan dengan kepalanya dimiringkan kearahku seperti minta penjelasan lebih jauh dariku.

“Aku baru pulang dari main basket, masuk kedalam rumah dan melihat Marcy berdiri sambil membungkukkan badannya ke lantai dan… terlihat celana dalamnya dengan jelas. Aku memang tidak bicara memberitahukannya khawatir dia terkejut jadi aku pegang saja celana dalamnya agar supaya dia sadar kalau dia telah memamerkan privacynya”, kataku.

Mama diam seperti sedang mengolah penjelasanku itu, kemudian kepalanya ditolehkan kearah Marcy dan memandangnya seperti minta penjelasan dari Marcy.

“Bohong…!”, kata Marcy dengan nada kesal.

“Apanya yang bohong, adikku sayang yang manis…”, aku menyela perkataan Marcy.

Mama mendehem dan melotot padaku. “Teruskan…,” katanya kepada Marcy.

“Begini mi… bagaimana tidak sopan, tangan kakak mengusap-usap nih… seperti ini…”, kata Marcy sembari mengangkat tinggi-tinggi T-shirtnya dan memperagakan perbuatanku tadi. Tangannya mengusap-usap memeknya yang masih terbalut celana dalamnya.

Bedanya ia mengusap-usap dari depan sedang aku tadi mengusap-usapnya dari belakang, he-he-he…

Tangan mama menutupi mulutnya seperti menahan tawa melihat ulah adikku Marcy itu.

Marcy terhenti dan memandangi mama dengan heran tapi masih diliputi perasaan kesal. “Mami…,” keluhnya.

“Sudahlah…“. Tangan mama sudah tidak menutupi mulutnya tapi sepertinya masih menahan senyumnya dengan sulit. “Ayo Rodri minta maaf pada adikmu yang tadi kamu katakan manis ini”.

Dengan senang hati karena kelihatannya mama sudah reda amarahnya, kudekati Marcy, “Marcy sayang… maafkan kakak ya…,” sembari mengusap dan mencium ubun-ubunnya.

Marcy luluh hatinya, membalikkan badannya dan mendekap aku.

“Lain kali jangan lupa pakai rok atau celana pendek dong say”, kataku sembari mengusap-usap punggungnya.

“Tapi aku tidak sedang diluar rumah, kakak…”, rengut adikku mendengar kata-kataku.

“Sudah… sudah… jangan memulai lagi”, mama menimpali kata-kata kami. “Kalian berdua makan dahulu dan kamu Rodri cepat ganti dulu pakaianmu yang lembab itu”.

Memang benar, pakaian seragam sekolahku yang mulai mengering tapi masih lembab. Kan habis bermain bola basket seusai sekolah tadi.

Mama berbalik badan dan berjalan menuju pintu kamarnya.

Tiba-tiba Marcy menarik tanganku kebawah sehingga mukaku sejajar tingginya dengan mukanya. Dia menempelkan mulutnya ke telingaku dan berbisik, “Lihat tuh… buruan. Punggung mami terbuka bebas, ayo pegang punggungnya seperti apa yang kakak lakukan padaku tadi. Kalau bertindak yang adil dong…! ,” katanya dengan licik.

Aku tergugah, bukan karena perkataan Marcy tetapi lebih disebab-kan oleh kemulusan punggung mama dan eh… tunggu dulu! Beliau tidak memakai BH! Buktinya tidak terlihat tali BH dipunggungnya.

“Pasti…!”, kataku dengan nada gagah-berani menjawab kata-kata Marcy adikku itu. Aku buru-buru mendekati mama dari belakang.

Marcy tersenyum puas. (‘Biar tahu rasa, dimarahi dan pasti Rodri… telingamu bakal dijewer mami’, Marcy dengan senang membayangkan akan menyaksikan hal yang bakal terjadi dan dia tersenyum simpul gembira).

Seandainya Marcy tahu strategi yang akan aku pakai menghadapi mama, bila kusentuh punggung mama dan ia marah, aku akan katakan saja padanya bahwa aku ingin membantu mama dengan menarik retsluitingnya untuk menutupi punggungnya yang mulus itu, he-he-he… dasar bulus!

Mama sudah memegang handle pintu kamarnya tapi ketika hendak masuk kamar tidurnya, langkah kakinya terhenti karena mendengar derap langkah kakiku yang tergesa-gesa.

“Kamu mau ap…”, kata-kata mama terhenti ketika merasakan usapan tanganku dipunggungnya yang putih mulus bak pualam itu.

Segera mama bergegas masuk kedalam kamar tidurnya dan langsung melompat menelungkup diatas tempat tidur sembari menggerutu, “Geli tahu… kamu jangan kurang ajar ya Rod…!” Tubuh mama berguncang-guncang diatas kasur yang empuk itu, disebabkan karena lompatan mama tadi.

Aku mendekati mama dan berkata, “Maaf mam… lupa menutup retsluitingnya ya mam…“.

Dan mama menjawab, “Ya… sudah, ayo tarik retsluitingnya”.

Tapi aku tidak melakukannya karena melihat disamping tubuh mama masih tergeletak sebuah vibrator yang agaknya seperti tergesa-gesa dimatikan dan aku melihat disekitar tubuh mama berserakan BH, CD dan sebuah cermin kecil untuk ber-make-up.

‘Wah rupanya mama sedang bermasturbasi saat aku dan Marcy berada diluar kamar tadi. Pantas saja mama kelihatan kesal tadi karena acara masturbasinya terganggu oleh kami, aku dan adikku Marcy’.

Dikeheningan sesaat itu tiba-tiba pecah oleh kata-kata mama. “Ayo… kok bengong…!”

Dengan malu aku menimpalinya, “Maaf mam… habis mama cantik dan tubuh mama mulus sekali sih…“.

Mama mendongakkan kepala dan menoleh kearahku, tapi kemudian sadar akan keadaan kamar tidurnya dengan adanya benda-benda pribadinya berserakan itu.

“Eehmm… jangan cerita pada adikmu ya. Kamu kan sudah dewasa… dan… sudah tahu segalanya itu…”, ujar mama seakan memintaku memaklumi keadaan kamar tidurnya itu.

Darah mudaku yang penuh gairah langsung bergejolak disebabkan oleh suasana kamar dan kata-kata mama.

“Tapi mam… aku kan masih kelas 2 SMA dan belum tahu segalanya seperti yang mama maksudkan…”, timpalku. “Apa mama mau mengajariku semua itu…?,” tanyaku nekat.

“Ya sana… keluar, nanti adikmu curiga”, tukas mama lagi.

Aku bersikeras tetap berdiri ditempat, kataku, “Katanya mau mengajari Rodri tentang itu tuh…“.

Jawab mama, “Nanti malam setelah adikmu tidur, datang lagi kesini. Kan ayahmu masih 2 minggu lagi diluar kota mengurusi bisnisnya. Ayo buruan nanti keburu datang adikmu karena curiga”.

Sembari bicara, mama menyingkirkan benda-benda pribadinya yang tadi berserakan diatas kasur dan sekarang kasurnya sudah bersih dan rapi kembali.

Aku lalu bertanya pada mama, “Mama tidak berbohong kan…?”

Seketika itu mama menjadi kesal dengan pertanyaanku, “Tidak percayaan amat sih sama mamamu sendiri?!” Tiba-tiba mama menelentangkan tubuhnya keatas kasur dan segera mengangkat bagian bawah rok terusannya ke dadanya dan berkata, “Nih… lihat! Ayo kamu mau omong apa sekarang…?!”

Mataku lolong melotot… Mengapa tidak? Kulihat tubuh mama bagian bawah terbuka polos alias bugil… Betisnya yang indah, pahanya yang menggairahkan dan… vagina mama, maksudku bibir vagina mama terlihat dengan jelas karena vagina mama yang polos tanpa rambut pubis sehelaipun! Rupanya mama merawat bagian tubuhnya yang paling tersembunyi itu dengan cara mencukur habis semua bulu-bulu pubis sekitar vaginanya.

Nafsu birahiku langsung melonjak, ‘Seperti memek anak kecil saja yang tanpa bulu! ’, pikirku. ‘Pasti serupa dengan memeknya Marcy, adikku itu. Masih gundul… ’, aku membayangkannya. Jadi aku ingin sekali mengetahui vaginanya Marcy yang tadi sempat aku usap-usap walau masih terbalut dengan celana dalamnya.

Perlahan-lahan aku mendekati mama dan langsung menindih tubuh mama dengan seragam sekolahku yang masih lengkap dan lembab.

“Rodri kamu mau apa, ooh…!”, perkataannya terputus karena bibirnya keburu tertutup oleh bibirku.

Aku mencium mama dan berusaha meniru gaya French-kiss layaknya seperti yang pernah kulihat dalam film-film BF yang sering kutonton bersama-sama kawanku dirumah salah seorang dari mereka.

“Mmmh… hhm…”, mama berontak pelan dan menolak badanku.

Tapi karena aku sering olahraga basket, tenagaku jauh lebih besar ketimbang mama yang juga senangnya ber-olahraga senam demi kesehatan, menjaga keindahan tubuhnya agar tetap awet muda dan enak dipandang mata. Usia mama yang sekarang 38 tahun tapi dengan tubuh dan perawakan badan yang 28 tahun dengan wajah cantik dan manis keibuan dengan payudara 36B bagaikan milik penari striptease yang indah dan menggairahkan.

Lidahku menyusup masuk kedalam mulut mama dan membelit lidahnya,

didalam mulut mama, lidah-lidah itu saling berangkulan membelit berganti-ganti arah eh… rupanya telah sirna penolakan dari mamaku yang sexy ini.

Ketika aku ingin minta penegasan dan mulai ingin menanyakan lagi, tentunya aku harus melepaskan bibirku dari bibir mama terlebih dahulu tapi dengan cepat tangan mama membekap mulutku sehingga aku tidak bisa berbicara.

“Sudah jangan bicara lagi, pokoknya nanti malam setelah adikmu tidur. Cepat bangun…!”

Aku bangun dan berdiri disamping tempat tidur, mama buru-buru duduk ditepi tempat tidur sambil merapikan pakaiannya kembali… tepat Marcy masuk kedalam kamar tidur mama yang pintunya masih terbuka lebar dengan tersenyum-senyum yang mencurigakanku.

Begitu melihat Marcy masuk, segera mama berpura-pura memarahiku dengan menjewer telingaku (dengan pelan) sembari membentakku, “Rodri! Kamu mulai nakal ya…! Ayo keluar sana…!”

Marcy yang menyaksikan ini semua, kaget sekejap lalu tertawa terkikik-kikik dengan cepat membalikkan badannya lari keluar sambil berteriak.

Sempat aku dengar teriakannya. “BENAR KAN PIKIRKU… rasakan itu semua kakakku yang ganteng hi-hi-hi…!”

Mama tersenyum lega dan aku buru-buru keluar dari kamar tidur mama. Sebelum melewati pintu, sempat mama mengingatkan, “Jangan lupa nanti… DASAR NAKAL…!”

Tentu saja kata-kata mama yang terakhir ini masih terdengar oleh Marcy yang menimpali dengan… “Asyik… asyik… oh… bahagianya aku, hi-hi-hi…“.

Kataku dalam hati, ‘Dasar anak kecil sok pintar tapi lugunya minta ampun! Dibohongi saja mau!‘.

Selagi aku menuju kamarku aku berpikir tentang Marcy, adikku yang cantik, manis dan imut-imut itu. Tubuh Marcy mulai bertumbuh besar, baby-fat sudah banyak yang berkurang. Ya… adikku itu berubah dan sudah bertumbuh menjadi gadis cilik yang menggemaskan, dadanya mulai menonjol dan yang mencolok ketika ia mengenakan T-shirt nya yang kebanyakan tipis-tipis jelas terlihat tonjolan putingnya indah.

Sesampainya aku dalam kamarku, aku mengambil pakaian rumahku yang bersih dan masuk kekamar mandi.

Rumah yang kami tempati sungguh besar bagi kami berempat. David Cumarekaan, ayah kami yang berusia 43 tahun, Susan C, ibu kami tercinta yang berusia 38 tahun, aku, Rodri C berusia 17 tahun dan Marcy C, si bungsu yang berusia 12 tahun. Jumlah kamar dirumah ini, semuanya ada 12 kamar jika kamar yang di lantai atas ikut dihitung berikut kamar-kamar mandi yang ada pada masing-masing kamar tidur semuanya.

Ruang aula untuk keperluan keluarga besar berkumpul ada di lantai atas, sementara 2 kamar tidur yang berada disana tidak terpakai tapi telah rapi ditata dengan bersih dan siap sewaktu-waktu bila ingin ditempati dengan segera. Ini berkat keterampilan dari 2 orang pembantu rumah tangga kami, Ida dan Tati walau masih belia, segar tapi semuanya beres dikerjakan.

Aku sudah berpakaian rumah yang bersih, badanku wangi maklum saja sesuai kebiasaanku seusai kegiatan olahraga sesampai dirumah, biasanya aku langsung mandi.

Jam dinding masih menunjukkan waktu 2:15 siang, pikirku jika ada yang diharapkan kenapa waktu berjalan lambat? Aku merebahkan diriku keatas tempat tidur, kembali aku mengingat keluguan Marcy, adikku itu. Jika aku ingat-ingat lagi, aku baru sadar sekarang kalau adikku telah tumbuh menjadi gadis manis yang imut-imut tapi hormon-hormon dalam tubuhnya mulai membentuk tubuhnya menuju ke bentuk tubuh yang sexy.

“Kak…! Kak Rodri! Ayo keluar… makan sama-sama Mai”.

Seketika lamunanku pun buyar-yar… oleh teriakan Marcy, adikku yang mengagetkanku membuatku sadar dari lamunan jorokku, langsung saja aku merasa sangat lapar… kan aku belum makan siang?

Sekeluar dari kamar, aku disambut oleh Marcy. “Ngambek ya… kak? Maafkan Mai ya…“.

Aku tersenyum saja mendengar kata-kata Marcy. ‘Marcy… Marcy lugu amat sih kamu’, pikirku mungkin dia harus dicium dan di French-kiss agar bisa berpikir dan berusaha berpikir lebih dewasa, tidak seperti anak kecil lainnya yang sedikit-sedikit panggil-panggil maminya.

Marcy membahasahan dirinya dengan panggilan Mai karena sejak kecil sewaktu dia mulai bisa berbicara, kurang bisa melafalkan huruf R. Sehingga namanya Marcy berubah menjadi Mai dan ini sudah menjadi kebiasaannya sampai sekarang. Tapi kami semua tidak menanggapinya, selalu kami memanggilnya dengan nama sebenarnya, yaitu Marcy.

Juga panggilannya terhadap mama, dia memanggilnya dengan kata mami. Demikian juga panggilannya terhadap papa dengan kata papi.

Orangtua kami happy saja tanpa meralat panggilan terhadap diri mereka. Aku Rodri dan adikku Marcy adalah anak-anak kandung mereka yang sangat mereka kasihi.

Siang ini Marcy sudah mengganti bajunya, untuk balutan tubuhnya bagian atas, dia mengenakan sejenis T-shirt, tapi bagian bawahnya lebih pendek dari T-shirt umumnya, kaos yang dikenakan sekarang itu tidak bisa menutupi pusar serta perut datarnya ini membuat hatiku mulai bergetar. Atau inikah yang disebut busana model tanktop, tak tahulah…

Selanjutnya pandangan mataku menelusuri tubuh Marcy bagian bawah, kali ini Marcy mengenakan sejenis celana pendek mini atau apa namanya minipant mungkin? Oh iya… mungkin ini namanya hotpant yang membuat gairahku bergejolak ‘to be hot’ tetapi mengenai istilah dan nama-nama model pakaian wanita, aku tidak mengerti sama sekali, ‘memangnya gue pikirin…

Heit… tungggu dulu, celana pendeknya yang jelas terlihat terbuat dari bahan kain yang tipis, kok… tidak ada garis-garis batas yang menandakan ia mengenakan celana dalam ya? Jangan-jangan… dia tidak memakai celana dalam?! Wah pikiran ‘ngeres’-ku sekarang terbelah dua. Yang satu masih memikirkan tubuh mamaku yang sexy habis dan satunya lagi sedang berpikiran jorok menebak-nebak tubuh adikku yang berada dihadapanku ini.

Kupandangi wajah Marcy, yang ternyata sedari tadi senyum-senyum saja sembari mengikuti gerak-gerik pandangan mataku. Tahu begini aku jadi salah tingkah dan malu jadinya, bagaikan maling tertangkap lagi mandi… basah tahu!

“Selama masih hanya dipandang saja dan tidak pakai pegang-pegang… aman-aman saja… tuh!”, ujar Marcy sembari duduk di kursi makan.

Aku pun sudah duduk di kursi makan seperti halnya Marcy dengan perasaan kesal, aku tahu dikerjai oleh adikku, Marcy ini. Aku bergumam kecil dengan kesal, “Kenapa tidak telanjang bulat saja sekalian… tanggung kan”.

Rupa-rupanya gumaman kecilku masih terdengar oleh Marcy, ia berkata lagi, “Mau bulat kek… mau lonjong kek… selama masih hanya dipandang saja dan tidak pakai pegang-pegang… aman-aman saja tuh…!”

Oh lagi…! Dia mengulangi kata-kata manteranya itu lagi. Aku pandangi Marcy dan melotot padanya.

Cepat Marcy berkata lagi. “Maaf… kak, Mai kan cuma bercanda. Please, sekali lagi Mai minta maaf, jadi seorang kakak jangan terlalu sensitif dong. Don’t Worry Be Happy…!,” katanya sembari menjiplak salah satu slogan iklan dari TV.

Aku diam saja. ‘Makin nakal saja adikku ini tapi… juga makin manis dan menggairahkan saja, nanti kalau sudah di French kiss olehku baru tahu rasa dia, pasti… merem-melek’. Aku jadi tersenyum-senyum dengan sendirinya.

Melihatku begini, Marcy pun tersenyum lebar, “Terima kasih kak… kak Rodri memang baik deh mau memaafkan Mai”.

Mendengar itu aku jadi gelagapan dan menjawab singkat sekenanya, “Ya… Yang aku lanjutkan dalam hati. ‘Kamu salah duga sayang, maksudku kau merem-melek di French kiss olehku dan… akan minta lagi… minta lagi… minta lagi…! Huh… kenapa ya penisku selalu bereaksi cepat seperti reflex saja yang sekarang menjadi tegang dan mengacung kedepan dengan gagahnya.

Makan siang kami yang sudah tertata rapi pasti ini hasil kerja pembantu-pembantu rumah kami yang gesit dan cekatan itu. Kami pun makan dengan lahap dan tanpa suara, maklumlah kami sudah dibiasakan disiplin dari kecil termasuk makan di meja makan tidak boleh pakai berisik.

Bagian 2

Sehabis makan, aku pergi keruang keluarga. Disana aku menonton TV keluarga kami Plasma TV flat 90”, dengan remote-nya kucari channel stasion TV yang sedang menayangkan tontonan yang ringan-ringan, seperti acara berita siang hari. Sedangkan Marcy sudah menghilang kekamar tidurnya, disana dia juga menonton TV 20”-nya yang tengah menayangkan acara TV yang biasanya disukai oleh kaum hawa…

Marcy tidak suka menonton diruang TV keluarga, disana pasti dia tidak bisa menikmati acara gossip kegemarannya apalagi kalau bersamaku yang tidak begitu suka menonton tayangan gossip atau sejenisnya. Diaturnya volume suara TV-nya tidak terlalu bising. Sementara TV itu masih terus menayangkan acara gossip sampai selesai yang tayangannya sebentar-sebentar diselingi oleh iklan-iklan apalagi kalau bukan barang-barang dagangan produsen untuk keperluan kaum hawa, dan…

<ZZZ-zzz…> <zzz…> Marcy sudah tertidur pulas diatas tempat tidurnya memulai acara rutin-nya setiap siang harinya yaitu tidur siang dengan irama napas yang tenang… sementara TV-nya juga dengan tenang tetap menayangkan acara-acara siangnya.

<Hohhh… ahhh… hmmm…!> aku menggeliatkan badanku dan merentangkan tanganku kesamping sembari menguap. Jam menunjukkan waktu 3:15 siang. Aku bangun dari dudukku, mematikan TV dan kembali kekamarku.

‘Sebaiknya aku istirahat sebentar memulihkan tenaga, kan nanti malam akan mendapat privat-les kilat teori dan mungkin saja… sekaligus praktek mengenal dunia sex, ‘gulat gaya bebas’ antara wanita dan pria’, he-he-he…

Aku kembali kekamarku, sambil berbaring telentang… lapat-lapat kudengar suara dari TV yang berada didalam kamar Marcy. Konsen aku mendengarkannya dengan seksama, kok… suaranya seperti suara host pada tayangan TV itu yang sedang menjajakan barang dagangannya yang transaksi-nya lewat telepon atau on-line, baik tunai atau secara kredit…

Aku segera menuju kekamar Marcy, membukanya (Marcy jarang menguncinya dari dalam, karena… ya itu memang kebiasaannya) lalu mematikan TV yang tanpa pemirsa dikamar itu dan kemudian menutup pintunya perlahan dari luar kamarnya.

Nah… ini dia… terbersit dibenakku, kenapa tidak kumanfaatkan saja situasi sekarang ini…? Dari pada menunggu lama saat nanti Marcy tidur dimalam hari… pasti Marcy nanti akan terlambat tidurnya karena dia sudah tidur siang, bisa-bisa sampai jam 12-an malam harinya. Kalau setelah Marcy tertidur saat itu dan…

Segera aku menuju kekamar mama dengan perasaan dag-dig-dug, tiba didepan pintu kamar tidur mama, aku memegang handle pintu dengan menekan kebawah sembari mendorong pintu itu hati-hati. Hmm… dasar rejeki tidak kemana…! Pintu itu terbuka perlahan-lahan…

Aku segera masuk dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Kulayangkan pandanganku pada sekeliling kamar dan berhenti pada tempat tidur mama, lho…! Kemana mama…? Kulihat pada tempat tidur itu tidak ada sesosok tubuh pun yang berbaring disana… Aku diam konsen mendengarkan… kayaknya juga tidak ada seseorang pun didalam kamar mandi disana.

Aku bingung jadinya, ternyata aku sendirian… mengurung diriku sendiri… didalam kamar tidur mama…!

Buru-buru aku membuka kembali pintu kamar tidur mama. Kan tidak lucu jadinya… kalau mama menemukan dan mengetahui kalau aku mengurung diri dalam kamar tidurnya…! Kubiarkan pintunya sedikit terbuka…

Tadi itu ternyata rejeki palsu alias… apes!

Aku duduk dipinggir tempat tidur mama sambil menumpukan kedua sikut dekat lututku. Daguku menempel diatas kedua telapak tanganku, sepintas terlihat seakan aku lagi tepekur sambil melamun… sebenarnya sih aku lagi… melamun sambil tepekur… eh… sama saja ya…? Maklum saja aku lagi bingung sih…!

Tak lama kemudian kudengar bunyi langkah-langkah kaki mamaku mendekati kamar tidurnya sendiri… Mama heran melihatku duduk dipinggir tempat tidurnya. “Lho… sedang ngapain kamu, Rod…?,” tanya mama mendekatiku lalu duduk disampingku sembari mengusap-usap lembut rambut cepakku.

“Mama habis dari mana?”, tanyaku.

“Ooh… itu, mama habis ngobrol dengan Ida dan Tati. Mereka itu kan sebenarnya gadis-gadis yang pintar, jangan salah lho… mereka berdua itu baru lulus SMA. Jadi mama menawarkan mereka untuk melanjutkan pendidikannya dengan biayanya seluruhnya ditanggung oleh mama semuanya, mama pikir pasti papamu tidak akan keberatan.

“Lantas Ida dan Tati keluar dari rumah ini?”, tanyaku pada mama.

“Tidak juga… mereka boleh memakai terus kamar yang mereka tempati sekarang, sedangkan pengganti-pengganti mereka bisa menempati rumah kecil dekat kebun belakang yang baru saja selesai direnovasi…“.

Kupotong perkataan mama, “Kenapa tidak, Ida dan Tati tetap bekerja saja… sambil kuliah?”

Mama tertawa sambil mengusap rambutku agak kencang. “Kamu pikir mamamu ini… producer sinetron apa? Tak mungkinlah… menjalankan kuliah itu harus dengan konsenstrasi dan tubuh yang segar”.

Memang benar, dalam hal ini mama ahlinya, mama lulusan S2 dalam bidang psikologi. Papa memohon padanya untuk merawat dan mengawasi saja anak-anak yang amat mereka berdua kasihi. Sebagai kompensasinya mama bebas bertindak apa saja yang mama anggap perlu dilakukan.

“Sudah pergi istirahat sana…”, mama dengan halus mengusirku.

Dengan ogah-ogahan aku berdiri dan berjalan menuju pintu… lalu kututup pintu itu dan menguncinya… dari dalam kamar! Dan kembali mendekati… mamaku lagi.

Mama heran melihat tingkahku itu sembari berdiri mama bertanya padaku, “Mau apa lagi… sayang?”

Aku menjelaskan apa yang kupertimbangkan tadi, sewaktu berada didepan pintu kamar tidur Marcy.

“Lalu bagaimana seandainya Marcy terbangun dan ada perlu dengan mama… kan jadi kalang-kabut… jadinya?!”, kata mama tenang.

Aku tidak menjawabnya, hanya telunjukku menunjuk kearah jendela kamar yang bagian luarnya adalah taman bunga letaknya disamping luar kamar tidur mama.

Seketika mama tersenyum dan berkata ceria, “Hi-hi-hi… rupanya kamu punya bakat yang ‘terpendam’ juga ya…“.

Jendela itu kan bisa dimanfaatkan saat darurat!

“Dan sekarang… baga…” belum juga selesai mama bicara, aku sudah mendaratkan ciuman-ciuman gencar pada bibir mama yang seksi. Terjadi lagi untuk kedua kalinya French kissing antara mama dan aku, lidah kami saling bergulat dan memiting ala gaya Romawi…

Selagi lidah kami lagi ‘seru-serunya’ saling berpitingan, tangan kiriku sudah mendarat lagi pada dada kanan mama, nah… ini dia baru namanya… rejeki! Mama tidak memakai BH! Tersentuh olehku bongkahan buahdada mama bagian kanan yang masih berbalut dengan gaun terusannya. Terasa sekali puting susunya yang sebesar koin Rp 100 alumunium pada jari tanganku, menonjol sudah mengeras…

Tangan kiriku meremas-meremas buahdada mama bergantian dari yang kanan lalu berpindah yang kiri, diselingi dengan ulah jari telunjukku yang berduet dengan ibunya jariku memilin-milin puting-puting susu mama. Tangan kananku memegang lembut tengkuk mama, membantu menjaga keseimbangan tubuhnya tatkala kami sedang ber-French kissing itu.

Tak ada suara kami yang bisa keluar, karena mulut-mulut kami yang saling membekap. Hanya suara napas kami yang memburu serta bunyi degup jantung saja yang terdengar.

Jari-jari tangan kiriku masih saja meremas-meremas dengan bersemangat seakan sedang rajin menjumput energi nafsu yang ditansfer darah langsung menuju bagian bawah tubuhku dan bermuara pada… penisku yang mulai sarat dengan muatan nafsu birahi.

Tangan mama yang kanan menggapai penisku dan meremasnya. Tersentak kaget aku merasakan remasan tangan mamaku itu meski tidak terlalu keras… momen ini dimanfaatkan mama dengan melepaskan mulutnya dari sergapan-sergapan mulutku yang masih saja ingin French kiss berkepanjangan…

“Whaaaow…! Besar juga penismu, sayang”, kata mama.

Memang potongan tubuhku tidak jelek-jelek amat sih, dengan tinggi badan 175 cm dan bobot badan 66 kg serta… penis 18 cm kalau lagi ereksi. Siapa dulu dong mamanya…! Yang mempunyai tinggi badan 170 cm dan bobot badan yang ideal 60 kg dan… yang lebih ideal lagi… mempunyai ukuran payudara 36B.

Aku tetap menyosorkan mulutku pada mulut mama, tapi mama menghindarkan sambil bergerak mundur kebelakang terus… akibatnya bagian belakang kaki mama tertahan oleh pinggiran tempat tidur dan… tubuhnya terjatuh terlentang bersamaan dengan tubuhku yang menindihnya. Tahu sudah tidak dapat menghindar lagi, mama yang napasnya masih megap-megap buru-buru berkata, “Sudah-sudah…

Dan kujawab. “Lalu… bagaimana dengan mama?”

“Yaaa… sama lah…”, jawab mama manja.

Kami berdua berdiri dipinggir tempat tidur, mulai melepaskan pakaian.

Bagai berlomba, kami menanggalkan pakaian kami semuanya. Pemenangnya sudah pasti mama… orang kata… dengan melepas baju terusannya saja… mama sudah bertelanjang bulat! Rupanya mama selain tidak memakai BH juga tidak mengenakan CD rupanya.

Terpana aku berdiam diri sambil berdiri kaku memandang tubuh molek mamaku yang ada dihadapanku… seakan melihat tubuh Marcy adikku dalam bentuk yang jauh lebih sempurna…! Buahdada mama yang semok dengan puting-putingnya berwarna maroon muda yang lembut. Tubuh mama yang putih mulus disinari lampu TL di plafon kamar tidur tepat berada diatas kepalanya, menciptakan silhouette yang teramat eksotis dimataku.

Pandangan mataku yang perlahan menyelusuri kebawah bagian tubuh mama… perutnya yang rata dihiasi pusarnya yang indah… sebersit sinar pantulan dari kuku kaki mama yang dicat dengan pewarna kuku yang berkilau yang menyebabkan pandangan mataku memulai selusurannya dari bawah menuju keatas… betisnya bak bernas padi yang siap dipanen…

Seketika aku tersentak oleh suara mama yang sedari tadi dengan sabar melihat tingkahku…

“Aaahem…! Hhm-hhm…”, mama berdehem dan membuyarkan kontemplasi-ku pada sekujur permukaaan tubuhnya. “Sudah selesai inspeksi-nya…?,” kata mama menggodaku.

Mukaku bersemu malu campur gairah, aku cepat memeluk mama ingin menciumnya lagi tapi mama ternyata lebih gesit dan menghindar langsung melompat keatas tempat tidur dan menelengkupkan tubuhnya disana.

Aku yang tak mau kalah langsung menindih tubuhnya. Jadilah tubuh mama yang menelungkupi tempat tidur sedang aku menelungkupi tubuh mama.

“Hi-hi-hi… untuk pemula sih… ini posisi yang salah…”, kata mama tertawa geli.

“Memangnya harusnya bagaimana ma…?”, kataku sembari menciumi kuduk diselingi usapan lidahku pada kedua bagian belakang daun telinga mama.

“Hei… sudah-sudah… geeeli… nih… hi-hi-hi…” mama tertawa kegelian. Sambungnya lagi, “Pura-pura tak tahu saja! Kamu kan sering nonton BF bareng… dirumah Joni, temanmu itu…“.

“Kok mama tahu sih?”, tanyaku kaget.

“Tahu saja lah… kan bu Erinna, mamanya Joni itu temannya mama”.

“Jadi bagaimana dong… nih”, kataku. “Dalam BF itu kan… ceweknya… yang telentang… mama dong yang seharusnya telentang bukannya telungkup kayak begini…,” kataku membujuk mama.

“Tidak bisa! Hi-hi-hi… mama sudah nge-tap duluan posisi ini…”, kata mama tertawa geli. Aku yang mendengarnya jadi bingung sendiri.

“Masak sih… Rodri yang harus telentang… Rodri kan cowoknya”, kataku protes.

“Biarkan saja… kalau cowoknya tidak mau mengalah… ya sudah… begini juga tidak apa-apa… hi-hi-hi”, kata mama menggodaku.

Akhirnya dengan terpaksa aku yang mengalah, menggelosor dari tubuh seksi mama sembari menggulirkan diriku kesampingnya.

Jadilah aku terlentang sekarang dan… penisku yang ngaceng berat sudah tidak ada lagi yang menghalangi… langsung tegak berdiri dengan gagahnya. Aku yang melihatnya, berpikir, ‘Untung diujungnya tidak ada bendera putihnya…! He-he-he…‘.

Mama menoleh padaku sambil tersenyum manis, “Nah… begitu dong… sekali-sekali mengalah kan tidak apa-apa…“.

Tiba-tiba mama mengejutkanku seraya tangannya menunjuk ke tembok seberang yang dekat denganku. “Eh! Itu aaapa…!”

Terkesiap aku menolehkan kepalaku menghadap tembok yang ditunjuk mama…

Tahu-tahu eh… mamaku sudah ada diatasku sembari menindih tubuhku…

“Ahhh mama…! Mengagetkan Rodri saja…“.

“Hi-hi-hi… biarpun telentang… harus siap siaga dong…!”, kata mama sembari tertawa.

Pikirku, ‘Ini privat les tentang nge-seks dengan pasangannya… apa pelajaran tentang bagaimana caranya mengagetkan pasangan mainnya… sih?!‘.

Tapi kedongkolanku tidak berlangsung lama… langsung ‘dibayar tunai’ mama dengan memundurkan tubuhnya, duduk diantara kangkangan kakiku. Mama memundurkan tubuhnya sedikit lagi lalu menundukkan kepalanya kearah penisku. Dengan tangannya yang lentik tapi halus itu mama memegang batang penisku dan mengarahkan palkon-ku masuk kedalam…

Inilah BJ pertamaku yang kudapat justru dari mamaku sendiri!

Tangan kiri mama mencekal erat pangkal batang penisku, sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok sepanjang batang penisku, sembari mulutnya yang seksi mengulum-ngulum palkonku. Ada sekitar 6 menitan, mama melakukan BJ untukku lalu tiba-tiba menghentikan kegiatannya itu.

“Aduh… ma! Jangan distop donggg… lagi enak-enaknya… nih”, protes kerasku pada mama.

“Hi-hi-hi… protes tidak diterima! Kan… mama yang jadi tutor-nya sekarang, hi-hi-hi…”, kata mama sambil tertawa.

‘Waduhhh… streng amat sih tutor-nya’, pikirku kecewa.

Mama merebahkan tubuhnya menelungkup menindih tubuhku kemudian mencium lembut bibirku… tapi hanya sekilas… buru-buru menarik kembali wajahnya… rupanya mama takut bibirnya yang seksi itu… dipagut lagi oleh bibirku yang ‘galak’. Mama berkata pelan, “ML itu bukanlah seperti ayam jago yang mengepak-ngepakkan dahulu sayapnya <kepleeekk…

Aku tertawa dalam hati mendengarkan penjelasan mama, ‘Memangnya aku ini ayam jago… apa?!‘.

Lanjut mama, “ML yang dilakukan sepasang manusia adalah memberi dan menerima… diberi dan diterima… mudah saja bukan? Dalam prakteknya tidak semua orang yang melakukannya dengan benar…“.

Mama melihat pada wajahku, katanya, “Mulai bosan ya…?”

“Ti-tidakkk… tidak kok!”, jawabku gugup.

“Nah… ketahuan ya… bohong nih yeee…”, kata mama sembari menjulurkan tangan kirinya menggapai penisku yang tidak setegang dan sekeras tadi.

Kembali mama duduk kembali ditengah, diantara kangkangan kakiku

dan… memulai BJ ronde kedua. Tidak diperlukan waktu lama… penisku langsung tegang sejadi-jadinya. Merasakan tegangnya penisku didalam mulutnya… mama menghentikan lagi sesi BJ-nya.

Aku yang merasakan palkonku tidak berada dalam mulut mama, tidak mengajukan protesku lagi, hanya menunggu tindakan mama selanjutnya…

Lalu mama berjongkok mengangkang diatas tubuhku, dengan memegang batang penisku, palkonku diusap-usapkannys disepanjang ‘garis’ vertikal vaginanya. Sekali-sekali kulihat mama tersentak-sentak sendiri tubuhnya, tatkala clitorisnya terusap oleh palkonku.

Aku tetap terlentang, rangsangan-rangsangan yang dilancarkan mama sungguh membuatku mabuk kepayang aku bagaikan terhanyut terbawa oleh arus deras birahi yang meluap-meluap… Hari ini adalah BJ pertamaku, akankah…

Desah napas mama makin jelas terdengar, “Oooh… nikmatnya…“.

Tak sabar tangan mama mengarahkan palkonku tepat pada gerbang lubang vagina yang sudah licin dan menekannya…

Aku yang sudah kalang-kabut merasakan kenikmatan seksual ini ikut ‘membantu’ dengan mendorong pinggulku keatas…

<Bleeesss…!> batang penisku yang keras menerobos masuk kedalam gua nikmat vagina mama… seakan pulang kembali ketempatnya dimana aku berasal…

Dimulailah persenggamaan incest ini berlangsung, mama menurunkan dan menaikkan pinggulnya dengan penuh nafsu, kelihatan olehku mata mamaku terpejam tapi mulutnya terbuka seakan-akan tengah melafalkan kata ‘oooh… ’ tapi tak terdengar. Aku menanggapi ini semua dengan berusaha setenang mungkin, berharap mamaku cepat menjemput…

Kurasa tempo gerakan pinggul mama semakin cepat bercampur dengan sendatan-sendatan sesaat… “Oooh… OMG! Rooodri… nikmatnya…! ,” seiring semburan-semburan cairan dari dalam vagina mama menyemprot keluar… yang kurasa seperti mengguyur sekujur batang penisku yang masih berada dalam gua nikmat vagina mama.

Aku bertahan untuk tidak menggerakkan pinggulku sebentar, sementara batang penisku menjadi sangat keras kurasa…

Diam sesaat… hening suara dan tanpa ada gerakan.

Kemudian mama mencium pipiku sambil berbisik, “Maafkan mama sayang… terasa penismu… masih sangat tegang mama rasakan… kalau kau menginginkannya… tindih tubuh mama dari atas… lakukan seperti apa yang pernah kau lihat dalam BF itu…“.

Tanpa basa-basi lagi aku berusaha membalikkan tubuh mama tanpa penisku terlepas dari vagina mama. Dan dengan cepat aku menggerakkan pinggulku memompakan batang penisku… keluar-masuk vagina mama… semakin cepat… dan lebih cepat lagi… dan… “Ahhh… mama sayanggg…! ,” tidak lebih dari 5 menitan aku sudah melepaskan semprotan-semprotan spermaku…

Diam sesaat… kemudian tubuhku bergulir terlentang merapat disamping tubuh mama. “Terima kasih banyak mam…,” aku berbisik ke telinga mama.

Kami tertidur sampai larut sore dengan posisi seperti itu…

Bagian 3

Hari ini, Sabtu pagi. Aku sudah bangun dan selesai mandi. Kami (Rodri dan Marcy) dalam seminggu minimal libur 2 hari (Sabtu dan Minggu) dari sekolah kecuali ditambahkan lagi kalau ada hari raya libur nasional.

Aku keluar dari kamarku, kulihat jam dinding menunjukkan waktu

pukul 7:00 pagi. Tak lama kemudian Marcy keluar dari kamarnya dan langsung menyapaku dengan manis. “Selamat pagi kakak…,” sembari berlalu melewatiku menuju meja makan untuk sarapan pagi.

Kujawab singkat, “Pagi… say”.

Kuperhatikan Marcy dari belakang dirinya, pagi ini pakaiannya ringkas saja. Diatas dia mengenakan tanktop berwarna kuning sedangkan dibawah, rok tidak terlalu ketat berwarna dasar jingga muda bermotif bunga-bunga beraneka warna. Seperti biasa semuanya dari bahan tekstil yang cukup tipis. Aku mengernyitkan dahiku…

Aku bergegas mendekatinya. “Say… kamu tidak memakai CD ya?,” tanyaku asal.

Cepat Marcy menolehkan wajahnya kebelakang dan menjawab kesal. “Eenak… saja! Nih… lihat!” sambil mengangkat bagian belakang rok pendeknya keatas.

Mataku jadi melotot disuguhkan pemandangan syur, seluruh bokongnya terlihat jelas tapi… diantara celah bokongnya terlihat jelas seutas gulungan kain kecil. Ohhh… aku baru tahu sekarang… dia mengenakan G-string toh… pantas saja…!

Kuingatkan dia, “Marcy… jangan sedikit-sedikit memamerkan tubuhmu… tak baik. Bukankah kau bisa dengan mengatakan saja… tak pantas kalau dilihat orang…“.

Cemberut Marcy menjawab, “Haabis… kakak sih… tanyanya aneh-aneh saja! Mata kakak genit yaa…?”

“Tidak… cuma kakak merasa tergoda saja…”, jawabku membela diri.

“Iidih… kakak kok begitu sih…? Selama masih hanya dipandang saja dan tidak pakai pegang-pegang… aman-aman saja… tuh!”, jawabnya ketus.

“OK deh kalau begitu… maafkan kakak ya adikku yang manis…“.

Tak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan sarapan pagi, kami yang setiap pagi harinya biasa mengkonsumsi satu atau dua tangkup roti yang telah diolesi selai ditambah segelas perasan jeruk asli yang segar.

Segera setelah suapan potongan roti yang terakhir masuk kedalam mulutnya, Marcy segera bergegas meninggalkan meja makan.

“Mau kemana say?”, tanyaku heran atas ketergesa-gesaannya.

“Sini kalau mau tahu…”, kata adikku kembali ceria sambil menggamit tanganku agar mengikutinya.

Itulah adikku yang modis, gampang marah tapi cepat reda. Aku sangat menyayanginya.

Setelah dari dapur lalu melewati koridor yang pendek dan satu pintu sampailah kami ke kebun belakang rumah yang bagian dekat dengan pinggiran rumah adalah hamparan rumput gajah mini yang pendek-pendek (rumput ini jarang dipangkas karena memang tumbuhnya pendek-pendek). Hamparannya tidak terlalu luas sih, lebarnya paling 5 meteran.

Wowww…! Indahnya disana… sudah ada 3 ‘bidadari’ cantik berdiri ditengah hamparan rumput itu, elok nian… penyebabnya adalah semuanya pada berbikini ria…! Ida dan Tati (PRT kami) ternyata dadanya montok juga ya… kemulusan tubuh mereka sungguh tidak mengecewakan mataku yang rada genit ini. Kalau mama sih jangan ditanya lagi, melihat tubuh beliau yang berbikini membuat badanku ‘kaku’ semuanya…

Marcy telah melepaskan gamitannya dari tanganku, bergegas berlari sambil meloncat-loncat kecil bergabung dengan para ‘bidadari’ disana.

Mereka rupanya sedang mengadakan acara senam pagi yang biasa dilakukan bersama-sama pada setiap Sabtu dan Minggu pagi.

Yang jadi pengarah senamnya adalah mama sendiri. Marcy yang sudah bergabung, membalikkan badannya dan berteriak padaku, “Ayo kak…! Gabung sini dong…“.

Aku berteriak menjawabnya, “Tidak ahhh…! Terima kasih dehhh…! Nanti dadaku jadi… montok lagi!”

“Grrr… hi-hi-hi…!”, semuanya mendadak tertawa mendengarkan perkataanku.

Marcy langsung berteriak lagi, “Iiih… kakak! Ngomongnya… kok jorok sekali!”

Mama menimpali, “Itu tidak jorok, sayang… cuma pikirannya saja yang… terlalu ngeres…!”

Aku yang tidak mau menjadi bulan-bulanan sasaran kata-kata mereka segera berlalu masuk kedalam rumah kembali. Mengapa pula aku berlama-lama disana… di-‘keroyok’ oleh empat wanita, aku tidak sanggup menghadapinya…

Tanpa sadar… aku sudah berada didalam kamar mama, tempat dimana kemarin siangnya menjadi ajang aku mendapatkan pertama kalinya dalam hidupku… sekaligus… BJ dan ML.

Kuarahkan langkahku menuju tempat tidur… tapi seketika aku ‘banting stir” langkahku mendekati TV 32” yang ada dalam kamar itu dan menghidupkannya. Dasar mujur tak kuatur… TV segera me nayangkan acara olahraga, dari arena ke arena… segera aku berbaring setengah duduk diatas tempat tidur mama sambil menonton.

Tak terasa lebih sejam telah berlalu… ada langkah yang semakin mendekat. Muncul sosok mama yang masih tetap berbikini sembari menyandang gaun terusannya di lengan kirinya. Tersenyum manis mama melihatku. “Lagi asyik bersantai… nih ya! ,” sapanya, sembari menutup kembali pintu kamarnya dan… <klik…

“Ehh… mama! Seksi… amat sih, sudah selesai acara senam wanitanya…?”, kataku merayu mama.

Mama bergegas menuju kamar mandi, tidak menjawab perkataanku hanya melontarkan senyumnya yang manis sembari… mencibirkan lidahnya padaku. Membuka pintu kamar mandi dan segera masuk tanpa menutup kembali pintunya…!

Aku yang terus mengawasi mama tanpa hentinya sejak beliau memasuki kamar tidurnya tadi, jadi berdegup kencang detak jantungku, wahh… sinyal ‘free to pass’ nih…!

Langsung saja aku bangun dari tempat tidur, langkahku otomatis menuju kamar mandi… Sampai didalam kamar itu, kulihat mama berdiri menghadap cermin yang berukuran lumayan besar kurang lebih 1 m kali 1, 5 m, sehingga bayangan nyata dari tubuh mama didalam cermin kira-kira dari lututnya sampai keujung rambut diatas kepala mama.

Dikiri dan kanan samping bawah cermin masing-masing ada sebuah celah dalam tembok untuk menaruh sabun. Mama sudah melepas BH-nya tapi celana bikininya masih dikenakannya. Kulihat mama sedang mengurai rambutnya yang tidak terlalu panjang (kira-kira hanya sebatas bagian bawah lehernya). Tentu saja mama bisa melihatku didalam cermin itu.

“Sayang… tutup pintunya… dari dalam…”, kata mama dengan tenang.

Setelah menutup pintu kamar mandi itu, aku berbalik lagi menghadap mama. Kulihat mama menyodorkan sabun dalam genggaman tangannya yang dijulurkan kebelakang tanpa berbalik badan kepadaku. Aku tahu maksudnya, mama ingin aku membantu menggosok punggung yang mulus itu dengan sabun. Baru saja tanganku ingin mengapai sabun itu, mama segera menarik lagi tangannya seraya berkata, “Buka dulu dong pakaianmu…

Dengan gesit aku segera menanggalkan semua pakaian yang aku kenakan di badanku sampai aku telanjang bulat. Mama tertawa melihatku (lewat cermin). “Hi-hi-hi… cepat juga ya… mama sampai kalah… hi-hi-hi…“.

Aku gregetan jadinya. “Maaf mam… biar seri,” kataku sambil menarik celana bikininya kebawah, yang ditanggapi mama dengan mengangkat kakinya keatas sedikit secara bergantian, aku meloloskan celana itu dan langsung menaruhnya pada gantungan baju yang ada di dinding kamar mandi.

Kamar mandi mama dimana kami berada sekarang adalah model kombinasi, ada bathtub, ada dus (pancuran air yang mengarah kebawah) diatas dan closet duduk yang berada diujung dekat sudut kamar. Mama tidak suka berlama-lama berendam didalam bathtub sebab kata mama, itu menyebabkan kulitnya menjadi sedikit keriput walau sebentar.

Aku langsung merapatkan dadaku pada punggungnya yang putih mulus itu sembari tanganku mengambil sabun dari tempatnya dan langsung ingin menggosok-gosokkan sabun itu di dada mama.

“Hei…! Stop sayang… kalau bagian didepan, mama bisa mengerjakannya sendiri… jadi sorry ya…”, kata mama tanpa menoleh.

Terpaksa… aku menarik mundur tanganku yang memegang sabun itu dan mulai menggosok-gosokkannya pada sekujur permukaan punggung mama. Sementara itu air hangat yang suam-suam kuku sudah mengucur agak deras dari dus yang diatas.

Cara mandi demikian sungguh cepat sekali membersihkan tubuh dari sisa-siaa sabun yang masih menempel dibadan.

Aku yang berdiri merapat pada bagian belakang tubuh mama menyebabkan penisku yang sudah ngaceng berat dan palkonku sudah menyundul-nyundul bokong mama yang semok. Mama malah sengaja menggoyang-goyangkan pantat semoknya kekiri dan kekanan. Tak sabar sudah, aku segera menciumi kuduk mama serta kedua belah telapak tanganku sudah menjulur dari belakang mama dan mendarat pada kedua buahdadanya dan langsung meremas-remasnya.

“Oooh… geli tahu…!”, kata mama sembari menggeleng-gelengkan lehernya. Mama paling tidak tahan merasakan geli ketika kuduknya diciumi terus oleh mulutku yang ‘galak’. Tanpa sengaja aku telah menemukan ‘titik lemah’ pada tubuh mama yang memicu gairah birahinya dengan cepat.

Mama berusaha menghindarkan kuduknya yang terus ‘diserang’ oleh mulutku dengan membungkukkan tubuhnya kedepan sambil kedua tangannya berpegang pada pinggiran celah tempat sabun yang ada dipinggir kiri kanannya cermin.

“Nah… aman deh sekarang!”, kata mama lega karena kuduknya jauh dari jangkauan mulutku yang ‘galak’. Mama meluruskan punggungnya dan mulai mengangkat sedikit keatas pantat semoknya.

Meskipun aku pemula dalam ber-ML tapi ‘ilmu’ yang kudapat dari nonton BF bareng bersama-sama teman-temanku, pasti dan aku yakin takkan mengecewakan mamaku.

ML doggie style sudah siap digelar… aku lebih merapatkan lagi

pinggulku ke bokong semok mama dan ingin menggapaikan kedua tanganku pada buahdada mama yang montok… tapi kalah cepat dengan gapaian tangan mama pada batang penisku yang sudah tegang sedari tadi lalu langsung menggosok-gosokkan palkonku pada clitorisnya dari belakang.

Aku terpaksa berdiri lagi, urung mendaratkan tanganku pada payudara mama, aku jadi mendaratkan tanganku pada pinggul mama dan memegangnya dengan erat agar supaya aku dapat lebih menyorongkan penisku lebih kedepan lagi.

Tersentak-sentak pinggul mama sembari menggoyang-goyangkan pinggulnya yang kurasa agak memutar. Kurasakan pada ujung palkonku ketika bergesekan dengan tonjolan clitoris mama… licin sekali… bukan karena air mandi yang belum diseka tapi lebih disebabkan oleh keluarnya cukup banyak cairan nikmat dari dalam bagian vagina mama, melicinkan jalan menuju gua nikmat memek mama.

Bagaikan diterpa bahana badai birahi keseluruh tubuhku, menambah keras dan panjang batang penisku yang berada dalam cekalan tangan mama. Oh… nikmatnya… kurasa.

Tak sabar, mama menempelkan palkonku pada pintu masuk vaginanya lalu mendorong sedikit tubuhnya kebelakang seiring dengan dorongan pinggulku kedepan…

<Bleesss…!> Biar betapa sempitnya lubang vagina mama… tetap saja batang penisku meluncur masuk dengan sempurna… amblas sudah batang penisku semuanya… terdiam sejenak kami menikmati sensasi ini.

“Aaayo… nak! Digoyang… dooong…!”, sergah mama bergetar.

Dengan sigap aku menggoyangkan pinggulku maju-mundur… diiringi dengan desahan sensual mama yang menambah nikmat yang kami rasakan…

Tidak memakan waktu lama, sekitar 10 menitan ritual ini kami akhiri dengan…

<Seeert…!> <Crottt…!> <Seeert…!> <Crottt…!> <Seeert…!> <Crottt…!> kami mencapai orgasme bersamaan…! Sungguh nikmatnya…!

Kami mulai berdiri tegak kembali sembari berangkulan… beristirahat sejenak memulihkan sengal napas dan degupan kencang jantung kami…

Membersihkan diri kami dengan kucuran air dus… kemudian mengeringkan badan kami dengan handuk milik mama secara bergantian.

***

Sambil saling memeluk pinggang, kami jalan seiring keluar dari kamar mandi bagaikan sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta…

Ketika langkah kami mendekati tempat tidur, aku ingin mengalihkan arah langkah kami tetapi mama mencekal erat pinggangku seakan memberitahuku tetap melanjutkan langkah kami. Dekat dengan pintu kamar mama mencium mesra pipiku sembari berbisik pelan dekat telingaku.

“Jangan mengambil resiko sayang…”, sambil memandu langkah kami kekanan menuju… jendela.

‘Kena deh batunya…’, pikirku. Aku harus keluar dari kamar tidur mama melalui jendela! Tapi aku memakluminya karena kurasa ini pilihan tepat saat ini daripada aku amprokan dengan adikku, Marcy.

Sampai didepan jendela, mama melepaskan tangannya dari pinggangku… dan tiba-tiba melancarkan ciuman bertubi-tubi pada tengkukku. Aku hanya mengangkat bahuku sedikit sambil tertawa…

“He-he-he… tidak mempan…! Kacian deh…”, kataku sedikit mengejek mama. “Tapi aku boleh kan datang kekamar ini lagi… mamaku sayang…,” kataku merayu mama.

Mama memberi senyumannya yang mesra padaku. “Setiap saat sayang… kalau situasi memungkinkan… yang pasti mama akan selalu memakai syal pada setiap saat ‘kunjungan’-mu…!”

***

Aku telah berada ditengah taman kecil disamping luar kamar tidur mama. Sambil bersiul-siul kecil aku melangkahkan kakiku menuju pintu utama depan rumah. Tak ada yang perlu kukhawatirkan… banyak jalan menuju… ‘kesitu…!‘.

Tamat

© 2022 - CeritaSeru.xyz