November 02, 2020
Penulis — ninja8484

Bu hanny yang aduhai

Perkenalkan namaku Bima Handrono umur 28 tahun tinggi 180cm dan berat 70 kg. Cerita ini terjadi pada saat aku mau bersilaturahmi ke partner bisnisku yang ada di kota M.

“Hallo?”, kataku ketika telepon sudah tersambung.

“Hallo?”, terdengar suara wanita menjawab.

“Ini pasti Bu Bu Hanny, ya? Saya Bima, Bu..”, kataku.

“O, Nak Bima.. Apa kabar?”, tanya Bu Hanny ramah.

“Baik, Bu.. Bisa bicara dengan Pak Ronny, Bu?”, tanyaku.

“Suami saya sejak kemarin malam pulang ke Semarang, Nak Bima… sekitar 5 hari katanya”, kata Bu Hanny.

“O begitu ya, Bu.. Well, kalo begitu saya pamit mundur saja, Bu..”, kataku cepat.

“Sebentar, Nak Bima!”, kata Bu Hanny menyela.

“Ya ada apa, Bu?”, tanyaku.

“Tidak ada apa-apa kok, Nak Bima. Hanya saja rasanya kita sudah lama tidak pernah bertemu”, katanya.

“Betul sekali, Bu. Kebetulan saja saat ini sebetulnya saya ada perlu dengan Pak Ronny tentang masalah bisnis kami, Bu”, kataku.

“Ada yang bisa saya bantu, Nak Bima?”, tanya Bu Hanny serius.

“Mm.. Kayaknya tidak ada, Bu. Terima kasih..”, kataku lagi.

“Sekarang Nak Bima sedang dimana?”, tanyanya kian melebar.

“Saya sedang di jalan, Bu. Tadinya mau ke rumah Ibu. Tapi ternyata Pak Ronny tidak ada di rumah..”, kataku seadanya.

“Kesini saja dulu, Nak Bima!”, ajak Bu Hanny.

“Gimana, ya?”, kataku ragu.

“Ayolah, Nak Bima.. Teman suami saya berarti teman saya juga. Please..”, pintanya.

“Baiklah, saya akan mampir sebentar..”, kataku setelah berpikir sejenak.

“Okay.. Saya tunggu, Nak Bima. Bye”, kata Bu Hanny sambil menutup telepon.

Segera aku menuju ke rumah Pak Ronny, teman bisnisku. Di teras sebuah rumah di kawasan Cipinang Indah, tampak seorang wanita tersenyum ketika aku mendekat, itulah istri teman bisnisku yang bernama Bu Hanny. Aku biasa memanggilnya dengan Ibu Hanny. Usianya sekitar 47 tahun, wajah lumayan enak dipandang.

Kulit putih, postur tubuh sedang saja. Yang membuatku suka adalah tubuhnya yang seksi terawat. Aku kenal dia sekitar satu tahun yang lalu ketika aku mengantar Pak Ronny suaminya, pulang dari urusan bisnis. Sejak pertemuan itu kami masih sering bertemu. Dan memang dalam pertemuan-pertemua itu mataku dan mata bu Bu Hanny sering bentrok tanpa setahu suaminya.

Bahkan pernah ketika aku nekat mengedipkan mata… ia membalasnya dengan menggigit bibir bawahnya dengan gaya yang nakal… Tapi itu semua berlalu…

Sampai suatu ketika…

“Silahkan masuk, Nak Bima”, katanya sambil membuka pintu rumahnya.

“Terima kasih”, kataku sambil duduk di ruang tamu.

“Mau minum apa, Nak Bima?’, tanyanya sambil tersenyum manis.

“Apa saja boleh, Bu..”, jawabku sambil membalas senyumannya.

“Baiklah..”, katanya sambil membalikkan badan dan segera melangkah ke dapur.

Mataku tak berkedip melihat penampilan Bu Hanny pagi itu. Dengan memakai kaos tank-top serta celana pendek ketat/hot span, membuat mataku dengan jelas bisa melihat mulusnya punggung serta bentuk dan lekuk paha serta pantat Bu Hanny yang bulat padat bergoyang ketika dia berjalan. Bu Hanny ini benar-benar semok…

“Maaf kelamaan..”, kata Bu Hanny sambil membungkuk menyajikan minuman di meja. Saat itulah dengan jelas terlihat buah dada Bu Hanny yang besar. Darahku berdesir karenanya.

“Silakan diminum..”, katanya sambil duduk.

Kembali mataku selintas melihat selangkangan Bu Hanny yang jelas menampakkan menggembungnya bentuk memek Bu Hanny.

“Iya.. Iya.. Terima kasih..”, kataku sambil meneguk minuman yang disajikan.

“Sudah lama sekali ya kita tak bertemu..”, kata Bu Hanny membuka percakapan.

“Betul, Bu. Sudah sekitar enam bulan saya tidak kesini..”, jawabku.

“Senang rasanya bisa bertemu Nak Bima lagi..”, kata Bu Hanny tersenyum sambil menyilangkan kakinya

Kembali mataku disuguhi pemandangan yang indah. Bentuk paha indah dan sekal-padat Bu Hanny membuat darahku berdesir kembali. Ini perempuan kayaknya bisa juga… pikiranku mulai kotor.

“Hei! Nak Bima lihat apa?”, tanya Bu Hanny tersenyum nakal ketika melihat mataku tertuju terus ke pahanya.

“Eh.. Mm.. Tidak apa-apa, Bu..”, jawabku agak kikuk.

“Hayoo.. Ada apa?”, kata Bu Hanny lagi sambil tersenyum menggoda dan kerlingan matanya menatapku. Aku suka tatapan matanya yang terkesan binal.

“Saya suka lihat bentuk tubuh Ibu, jujur saja..”, kataku memancing.

“Memangnya kenapa dengan tubuh saya?”, tanyanya sambil matanya menatap tajam mataku.

“Mm.. Nggak ah.. Nggak enak mengatakannya..”, jawabku agar dia penasaran.

“Tidak enak kenapa? Ayo dong Nak Bima..”, katanya penasaran.

“Sudah ah, Bu.. Malu sama orang.”, kataku sambil tersenyum.

“Iihh! Nak Bima bikin gemes deh..”, katanya sambil bangkit lalu menghampiri dan duduk di sebelahku. Aroma tubuhnya benar-benar membangkitkan birahi…

“Saya cubit nih..! Ayo dong katakan apa?”, katanya sambil mencubit pelan tanganku.

“Yee.. Ibu ternyata agresif juga ya?!”, kataku sambil tertawa.

“Tapi suka, kan?”, katanya nakal dan manja.

“Iya sih..”, kataku mulai berani karena melihat gelagat Bu Hanny seperti itu.

“Kalau begitu, ayo dong Nak Bima kasih tahu ada apa dengan tubuh saya?”, tanya Bu Hanny agak berbisik sambil tangannya ditumpangkan di atas pahaku. Aku tak menjawab pertanyaannya, hanya tersenyum sambil mataku tajam menatap matanya.

“Ihh, kenapa Nak Bima tak mau jawab sih?”, suara Bu Hanny berbisik sementara matanya menatap mataku.

Beberapa saat mataku dan mata Bu Hanny saling bertatapan tanpa bicara. Sedikit demi sedikit kudekatkan wajahku ke wajahnya. Terdengar jelas nafas Bu Hanny menjadi agak cepat disertai remasan tangannya di pahaku ketika bibirku hampir bersentuhan dengan bibirnya.

“Tubuh Ibu seksi..”, bisikku sambil menempelkan bibirku ke bibir merahnya.

“Ohhh… mmmmhh..”, desahnya ketika kukecup dan kulumat perlahan bibirnya.

“Pantatmu bahenol Bu Bu Hanny…” kataku smbil tanganku meremasi pantatnya.

“Nggghhhh…”Bu Bu Hanny mendesah. Ia melepas bibirnya, lalu mendesakku makin rapat. Bibirnya terbuka… lalu melumat mulutku dengan liar. Ia memutar-mutar mulutnya dan sambil mendesah ia memaguti bibirku.

Tak kusangka nafsu Bu Bu Hanny begitu liar dan panas. Lumatan bibirku dengan sangat panas dan liar dibalas dengan pagutan yang lebih liar lagi. Lumatan bibir, hisapan dan permainan lidahnya benar-benar membuatku bergairah. Apalagi ketika tangan kiri Bu Bu Hanny dengan berani langsung memegang dan meremas celana bagian depanku yang sudah mulai menggembung.

“Mmhh..”, desahnya ketika tanganku mulai meraba buah dadanya yang cukup besar menantang.

Kamu secara bersama-sama melepaskan bibir kami yang berpagut ketat… Lalu seperti dikomando kami saling menjilat leher… Di sela kilatanku di lehernya kudekati kupingnya lalu aku berbisik…”Ohh… bu… susumu montok…” desahku. Aku begitu intens meremasi susunya.

“MMhhhh… mmm suka iyah… mmm…” desahnya di kupingku. Ia begitu liar menciumi dan menjilati leherku. Kadang ia mengigitnya lembut.

Lalu di sela-sela jilatanya di leherku ia berbisik di telingaku… “Kita pindah ke kamar saja, Nak Bima..,” bisiknya. Ia melepaskan bibirnya. Matanya memandangi ku dengan nakal sambil tangannya meremasi kontolku… Ia memandangiku penuh birahi… “Kita ke kamar… aku mau ini… aku mau kontol ini…

Aku tak sanggup menahan nafsuku. Kukelurkan lidahku lalu kujilati bibirnya yang tersenyum mesum itu… “Hmmmhhh…” desahku sambil mengusap lengannya dan mengajaknya bangkit.

Segera kuikuti Bu Hanny ke kamarnya sambil sesekali memegang dan meremas pantatnya. Di dalam kamar. Bu Hanny tanpa segan lagi langsung melepas semua pakaiannya hingga dengan jelas aku bisa menyaksikan betapa seksinya tubuh dia. Aku suka buah dadanya yang cukup besar dengan puting susu kecil berwarna agak coklat. Apalagi ketika melihat memeknya yang dihiasi bulu yang tak terlalu banyak tapi rapi.

© 2022 - CeritaSeru.xyz