November 03, 2020
Penulis — Ayusnita

BILIK ASMARA

Aku merasa bahagia punya suami yang sabar dan penuh pengertian seperti Mas Pandu. Sehingga rumah tangga kami senantiasa teduh rasanya. Terlebih setelah lahirnya Monica, anak kami yang cantik dan lucu, terasa batinku makin sejuk dan damai.

Hobby Mas Pandu pun bukan yang aneh-aneh. Dia hanya senang main catur dengan teman-temannya. Main catur pun di rumah saja, tak perlu ngeluyur ke mana-mana. Sehingga aku hanya diminta menyediakan kopi dan snack seadanya kalau Mas Pandu sedang main catur dengan temannya.

Mas Pandu hanya main catur pada malam Minggu atau Minggu siang sampai jam sepuluh malam. Tidak pernah main di hari-hari kerja. Teman mainnya ada beberapa orang. Tapi yang paling sering datang itu Santos dan Darel.

Mungkin teman-teman Mas Pandu senang main catur di rumah kami, karena tempat main di lantai atas, satu-satunya ruangan di lantai dua. Sehingga mereka bisa bermain dengan tenang, tanpa gangguan orang lain.

Terkadang aku suka menemani mereka yang sedang main catur di lantai atas. Tapi kalau sudah ngantuk, aku pun turun dan masuk ke kamarku.

Monica sejak bayi tidurnya di kamar lain, bersama Nanik, adik sepupuku. Sehingga kalau sudah ngantuk, aku bisa langsung tertidur tanpa gangguan Monica. Terlebih lagi setelah Monica berumur 5 tahun, makin jarang dia masuk ke dalam kamarku. Dia lebih asyik belajar bersama tantenya. Dia hanya menghampiriku kalau sudah ada maunya, minta dibeliin ini dan itu.

Lalu apakah rumah tanggaku berjalan dengan sempurna, karena tak pernah ada masalah menyelip di antara aku dengan Mas Pandu?

Tadinya kuanggap sempurna. Karena aku tak pernah bertengkar dengan suamiku. Sementara anak semata wayangku pun tak pernah ribut menangis seperti anak tetangga sebelah. Dan Mas Pandu berpenghasilan yang lumayan besar, sehingga aku tak pernah merasa kekurangan.

Sampai pada suatu pagi, aku kedatangan tamu, teman lama yang se SMA denganku. Tapi setelah lulus SMA, aku melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi, sementara ia malah menikah dengan pacarnya. Teman lamaku itu bernama Anneke.

Tentu saja aku senang sekali mendapat kunjungan teman lamaku itu.

Anneke seolah saudara kandungku saking eratnya persahabatanku dengannya dahulu. Dan kini kami berjumpa lagi dengan status yang sudah sama-sama ibu rumah tangga.

Kami lalu ngobrol ke barat ke timur, tentang teman-teman se SMA dahulu yang semuanya sudah berumah tangga. Tentang mantan pacarku dan sebagainya.

Lama kelamaan, kami membicarakan sesuatu yang “khusus”. Tentang masalah sex…! Kebetulan saat itu Mas Pandu sedang kerja, karena Anneke datang di jam kerja.

Setengah berbisik Anneke bertanya, “Kamu berapa hari sekali digauli oleh suamimu, Dri?”

“Ah, paling juga seminggu sekali,” sahutku lugu.

“Haaa?! Masa cuma seminggu sekali?” Anneke tampak heran.

“Iya. Emang kamu berapa hari sekali?”

“Dua hari sekali,” sahutnya, “Padahal aku nikah enam tahun lebih cepat darimu kan?”

“Iya. Aku nikah enam tahun yang lalu. Kamu… mmm… duabelas tahun yang lalu.”

“Yo’i. Aku kan begitu lulus SMA, kawin. Kamu nunggu sarjana dulu toh?”

“Iya.”

“Tadinya kupikir kamu lebih kerap digauli oleh suamimu.”

“Suamiku terlalu sibuk dengan pekerjaannya, An.”

“Suamiku juga sama. Terkadang jam sepuluh malam baru pulang dari kantornya. Tapi dia memang lelaki hot. Sesibuk apa pun kerjanya, tetap aja minta jatah kalau sudah waktunya menggauliku. Yaaa… itu… dua hari sekali…”

Pertemuanku dengan teman lama itu membuatku cerah, seolah bertemu saudara kandung. Berjam-jam kami mengobrol dan saling curhat. Di antara kami memang tiada rahasia-rahasiaan.

Terkadang obrolan kami disertai tawa cekikikan, terutama kalau sudah membahas pengalaman kami yang lucu-lucu di masa lalu.

Namun setelah Anneke pulang, aku terdiam sendiri di ruang tamu. Sambil memikirkan salah satu point pembicaraan dengan Anneke tadi. Tentang kehidupan seksual dengan suami…!

Dia bercerita panjang lebar tentang suaminya yang selalu hangat di ranjang. Dengan segala variasinya yang selalu fantastis.

Setelah Anneke pulang, masalah yang satu itu menggelayuti benak dan hatiku. Betapa tidak. Rasanya pengalaman Anneke jauh berbeda dengan pengalamanku. Karena suaminya selalu menggebu-gebu di atas ranjang. Sementara suamiku?

Ah… suamiku seperti tidak mengutamakan sex di atas segalanya. Mungkin ia menganggap sex hanya nomor 2 atau 3. Hanya sekadar bumbu di dalam perkawinan. Bukan sebagai hal yang utama.

Sedangkan aku? Apakah aku tidak menganggap sex sebagai hal yang utama? Yah… mungkin aku harus berkata jujur. Bahwa aku menganggap sex itu sebagai sesuatu yang sangat penting dan indah sekali.

Mungkin aku ini seorang wanita yang bernafsu besar, sehingga sering juga aku mencoba untuk merangsang suamiku ketika libidoku mulai meningkat. Tapi betapa kecewanya kalau aku hanya mendengar bisikan suamiku seperti ini, “Sayang… aku sangat letih. Pekerjaanku selalu numpuk di kantor. Mendingan kita tidur aja yok…

Kalau sudah mendengar ucapan suamiku seperti itu, aku cuma tersenyum. Lalu berusaha untuk tidur.

Memang beginilah kaum wanita timur. Jarang yang bisa memperlihatkan keinginan seksualnya. Lalu bersikap seolah-olah seks itu tidak terlalu penting.

Setelah membahas masalah itu dengan Anneke tadi, aku merasa bahwa di dalam perkawinanku dengan Mas Pandu ini ada yang kurang lengkap. Ya masalah seksual itu. Tapi aku bisa apa selain menyimpan saja keinginan itu di dalam hati. Sambil mencari kesibukan untuk melupakan hal yang kurang lengkap itu.

Sampai pada suatu hari, aku mendengar ucapan suamiku yang terdengar aneh dan di luar dugaanku.

“Santos itu kasihan ya,” katanya mengawali.

“Kasian kenapa?” tanyaku.

“Dia kan sudah duapuluh tujuh tahun tapi masih bujangan juga. Padahal dia tampan kan?”

“Terus… Mas mau jodohin dia dengan salah satu keluarga, gitu?”

“Bukan… bukan begitu. Aku malah punya rencana bagus, karena terdorong oleh perasaan kasihan padanya.”

“Rencana apa?”

Suamiku menjawabnya dengan membisiki telingaku, “Kasih aja sama kamu, biar dia jangan jablay terus.”

“Kasih apa?” tanyaku.

Sebagai jawaban, Mas Pandu menepuk bagian di bawah perutku yang tertutup gaun tidurku. “Kasih ini,” katanya perlahan, “Soalnya aku kasian sama dia.”

“Mas…! Abis minum apa sih?”

Mas Pandu mengelus rambutku dengan lembut sambil berkata, “Aku sadar sesadar-sadarnya, Sayang. Aku memang ingin sharing dengan orang yang baik seperti Santos.”

“Gila ih. Mas Pandu kok bisa punya pikiran seperti itu. Berbaik-baik hubungan dengan teman sih boleh aja. Tapi masa istri sendiri mau diberikan padanya?”

“Terus terang, selain ingin berbagi kehangatan dengan Santos, aku pun ingin mendapatkan pengaruh positifnya kelak.”

“Pengaruh positif apa?” tanyaku heran.

“Aku harus mengakui, bahwa hasrat seksualku kurang hot, tidak seperti suami-suami yang lain. Karena itu aku butuh sesuatu untuk semacam stimulants. Sebenarnya orang lain sudah banyak yang melakukannya. Mengundang lelaki lain untuk menggauli istrinya. Lalu… ketika sang suami melihat istrinya digauli lelaki lain itu, timbul perasaan cemburu.

“Iiih… Mas Pandu… aku merinding nih…”

Mas Pandu malah tersenyum. Lalu mengecup pipiku disusul dengan bisikannya, “Sebenarnya aku sudah lama memikirkan hal ini, Sayang. Karena aku ingin semuanya berjalan hangat lagi seperti pada bulan madu kita.”

Aku terdiam saja. Tanpa keberanian untuk menanggapi ucapan suamiku. Karena aku berada di posisi yang serba salah.

Suamiku panjang lebar mengutarakan kenapa ia memilih Santos untuk menggauliku. Karena ia tahu bahwa Santos itu tampan. Sehingga ia yakin bahwa Santos akan mampu membuatnya cemburu. Dan justru dari perasaan cemburu itulah akan bangkit gairah untuk menggauliku, katanya.

Aku tidak menanggapinya sepatah kata pun. Karena aku masih bingung mengapa suamiku punya obsesi seaneh itu.

Berhari-hari aku memikirkannya.

Sebenarnya pilihan suamiku tidak salah. Sejak lama aku punya perasaan simpati kepada Santos. Karena selain tampan, ia pun sopan dan murah senyum. Tapi sedikit pun aku tak pernah memikirkan yang bukan-bukan padanya. Apalagi hal seperti yang direncanakan oleh suamiku itu. Iiiih… sedikit pun aku tak pernah memikirkannya sebelum suamiku mengutarakan keinginan anehnya itu.

Tapi setiap hari suamiku bertanya, apakah aku sudah siap melaksanakan rencananya itu?

Maka diam-diam aku mulai memikirkannya.

Bahkan pada suatu hari suamiku berkata, “Kalau tidak mau langsung, kan bisa secara step by step. Rayu dulu dia dengan kata-kata gombal kek atau gimana gitu. Sampai akhirnya dia akan tertuju ke sana.”

Dan untuk pertama kalinya aku menanggapi kata-kata suamiku itu. “Ngegombalin dia di depan Mas Pandu? Mana bisa lah… memangnya lagi main drama di atas panggung?”

“Untuk tahap awal aku takkan hadir. Kan bisa di ruang atas aja. Misalnya, tiap malam Minggu dia pasti datang untuk main catur denganku. Kamu temani dia di atas, sementara aku akan sengaja melambatkan pulang dari kantor.”

Entah kenapa, saran dari suamiku itu cukup menarik. Tapi aku belum menyatakan setuju. Lalu suamiku mengutarakan skenarionya, yang diam-diam kusimak.

Sampai pada hari Sabtu pagi, sebelum berangkat ke kantornya, suamiku berkata, “Beginilah nasibku. Kantor perusahaan lain hari Sabtu itu libur. Tapi kantorku hanya mengenal hari Minggu sebagai hari libur.”

“Tapi Mas kan punya hari libur lima hari tiap bulan.”

“Iya sih. Ohya… nanti malam dia pasti datang, mau ngajak main catur,” kata suamiku melompat ke masalah yang satu itu, “Temani aja dia di atas. Aku baru akan pulang setelah lewat jam sepuluh. Kasih pembukaan aja dulu. Main gombal-gombalan dulu. Terus… cium aja bibirnya. Sambil mengatakan bahwa kamu udah lama suka sama dia gitu.

“Iiih… main cium aja. Nanti kalau berlanjut dan kebablasan gimana?”

“Hahahaaaa… kalau kebablasan malah aku suka! Yang penting laporan aja nanti mengenai yang sudah terjadi !”

“Iiih… Mas… aneh gitu sih…!” sahutku sambil mencubit perut suamiku, sementara bulu-bulu di tanganku terasa pada berdiri. Karena sesuatu yang aneh itu diam-diam mulai kupikirkan.

Bahkan setelah suamiku berangkat kerja, aku semakin memikirkan semuanya itu. Dengan tanda tanya di hati… haruskah keinginan suamiku itu kuturuti?

Lalu… kenapa diam-diam aku dijalari perasaan aneh ini, sambil berkaca di depan cermin rias pula?!

Aku terus-terusan memandang bayangan wajah dan tubuhku di depan cermin., Dan aku yakin, yakin sekali bahwa aku ini cantik dan punya body yang putih mulus, masih kencang dan terawat pula. Memang sejak masih di SMA aku dinilai yang tercantik di sekolahku. Lalu setelah menjadi mahasiswi, aku pun jadi primadona kampusku.

Masa sih mantan primadona kampus gak bisa “menjinakkan” Santos?!

Tapi kenapa aku seperti sudah bertekad untuk menjinakkannya? Apakah aku sudah patuh total pada desakan suamiku untuk mendapatkan Santos yang tampan dan murah senyum itu?

Entahlah. Yang jelas sebelum malam tiba, aku sudah mandi sebersih-bersihnya, sudah menyemprotkan parfum ke setiap lekuk di tubuhku.

Lalu kukenakan kimono sutra putihku seperti anjuran suamiku. Menurut suamiku, aku sangat seksi mengenakan kimono sutra putih ini.

Namun anjuran untuk tidak mengenakan bra dan celana dalam di balik kimono ini, tidak sepenuhnya kuikuti. Memang aku tidak mengenakan bra. Tapi celana dalam tetap kukenakan, karena risih kalau tidak bercelana dalam.

Dan ketika terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah, aku mulai degdegan. Karena aku sudah hafal, itu suara mesin mobil Santos.

Bergegas aku keluar dari kamar menuju ruang tamu. Dan membuka pintu depan setelah terdengar suara ketukan.

Seorang lelaki muda yang tampan, dengan baju kaus biru dan celana blue jeans, mengangguk dengan senyumnya yang sangat kusukai, “Selamat malam Mbak Indri,” katanya.

“Malam,” sahutku denhgan sikap lebih manis daripada biasanya, “Ayo masuk San.”

Santos melangkah masuk sambil bertanya, “Mobil Mas Pandu gak ada. Belum pulang, Mbak?”

“Belum. Mungkin sebentar lagi juga pulang. Silakan tunggu aja di atas. Mau main catur kan?”

“Hehehee… iya Mbak.”

Santos melangkah ke arah tangga menuju lantai atas. Sementara aku bergegas masuk ke dalam kamar. Dan langsung menghubungi suamiku lewat hape.

“Mas… dia sudah datang,” ucapku setengah berbisik di depan mick hape.

Terdengar suara suamiku di hapeku, “Bagus. Temani aja dia di atas. Seandainya sampai terjadi ML juga gak apa-apa. Tapi harus dilakukan di atas. Jangan dibawa ke kamar kita.”

“Mas pulang jam berapa nanti?”

“Aku lagi ngawasin buruh yang sedang lembur, Sayang. Jadi mungkin besok pagi baru pulang.”

“Terus?”

“Ya jalankan aja rencana kita, asalkan di lantai atas. Kalau kamu pandai merangsangnya, pasti dia mau menggaulimu. Enjoy aja Sayang. Jangan takut-takut. Aku berjanji akan semakin menyayangimu kalau sampai terjadi hal yang sudah menjadi obsesiku itu.”

“Gak tau apa yang akan terjadi Mas. Mungkin takkan sampai sejauh itu. Aku… aku degdegan ini Mas.”

“Iya, iya… gak usah merasa terpaksa. Ikuti apa adanya aja, seperti membiarkan air mengalir. Tapi minimal harus terjadi awal… yang bisa membuat dia mulai tertarik padamu.”

Setelah hubungan telepon dengan suamiku ditutup, aku keluar dari kamarku, menuju dapur. Di situ kubuatkan secangkir kopi panas, lalu kukuncikan pintu depan dan kopinya kubawa ke atas.

“Ini ada kopi Toraja Arabica, San. Pasti kamu suka,” kataku sambil meletakkan cangkir kopi itu di atas meja kecil di depan sofa yang sedang diduduki oleh Santos.

“Wah asyik Mbak. Tapi.. tiap aku ke sini selalu ngerepotin Mbak ya.”

“Walaaah… cuma nyuguhin kopi aja masa ngerepotin.”

“Monica sudah tidur Mbak? Kok jam segini udah sepi?” tanyanya.

“Dia tidur di rumah neneknya yang udah kangen berat,” sahutku sambil duduk di samping Santos dengan otak berputar-putar mencari celah untuk “memulai” seperti yang disarankan oleh suamiku.

“Ooo… pantesan sepi,” gumamnya ketika aku sedang menatapnya dengan senyum manis.

“Iya sepi,” sahutku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya, “Makanya kedatangan Santos membuatku seneng sekarang ini.”

“Iya Mbak,” sahut Santos dengan sikap bingung.

“Rasanya sekaranglah aku harus berterus terang,” bisikku di dekat telinga lelaki yang lebih muda dariku itu. Sementara lenganku mulai kulingkarkan di pinggangnya.

“Me… mengenai a… apa Mbak?” tanyanya tergagap

“Sebenarnya sejak kamu suka main ke sini, aku suka… bener-bener suka padamu, San,” bisikku lagi, diakhiri dengan gigitan perlahan di daun telinganya.

“Sa… aku seperti ber… bermimpi nih… Mbak…” gumamnya tergagap. Namun lalu ia tak bersuara lagi, karena aku mencium bibirnya dengan sepenuh kehangatanku.

Pada mulanya ia gelagapan, mungkin karena tak menyangka akan kusergap dengan ciuman ketat dan hangat ini. Namun akhirnya ia membalas ciumanku dengan lumatannya yang sangat membangkitkan hasrat birahiku. Lengannya pun mulai merengkuh leherku ke dalam pelukannya.

Dan setelah ciuman kami terlepas, Santos tertunduk sambil berkata, “Kalau ketahuan Mas Pandu, pasti aku takkan boleh bertamu ke sini lagi.”

“Tenang aja,” sahutku sambil memegang tangan Santos, lalu meremas-remasnya, “Sebenarnya Mas Pandu takkan pulang malam ini, karena harus mengawasi buruh yang sedang kerja lembur.”

“Ja… jadi…?”

Dengan tatapan dan senyum menggoda, kujawab perlahan, “Kita bebas melakukan apa saja malam ini…”

Santos menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan di lantai dua ini. Di ruangan yang biasa dipakai suamiku untuk bermain catur ini ada lemari rak untuk menaruh pesawat televisi, DVD player. Ada kulkas kecil, ada kamar mandi, ada satu set sofa, antara lain yang sedang kupakai duduk bersama Santos ini.

Ruangan ini tadinya dipersiapkan untuk tamu yang akan menginap di rumah kami. Tapi sejauh ini baru dua-tiga kali datang tamu (saudara dari luar kota) dan ditempatkan di sini.

Ada ketegangan di dalam jiwaku, karena aku harus melakukan sesuatu yang benar-benar baru. Melakukan sesuatu dengan lelaki yang bukan suamiku sendiri. Untuk mengusir ketegangan ini aku bangkit. Berdiri dan melangkah ke arah bed berseprai corduroy light brown itu. DI situ aku merebahkan diri. Memiringkan tubuhku, dengan tangan menyangga daguku sambil memperhatikan Santos yang tengah minum kopi panas itu.

Dan ketika ia menoleh ke arahku, yang seolah sedang menyaksikan suatu keindahan, ia tersenyum sambil berkata, “Kopinya mantap sekali Mbak.”

Aku berpikir sesaat. Haruskah kulanjutkan ke arah yang lebih jauh lagi? Kenapa ciuman dan lumatannya tadi membuat libidoku berdesir-desir dan mengkhayalkan betapa indahnya kalau lelaki muda yang tampan itu menggumuliku di atas bed ini? Bukankah aku memang sudah mempersiapkan diri untuk menikmati kejantanannya?

O, suamiku tercinta… kenapa aku harus mengikuti keinginan anehmu, sehingga aku makin mengagumi temanmu ini?

Dalam batin yang semakin limbung, aku duduk di pinggiran bed sambil memberi isyarat agar Santos duduk di sampingku.

Seperti terkuasai daya magnetis, Santos menghampiriku. Lalu duduk di sampingku. Dengan sikap yang semakin menggugah hasratku.

Seperti harimau betina yang sedang naik birahi, kudorong dada Santos sampai ia terlentang di atas bed. Lalu kududuki perut Santos, dengan kedua kaki berada di kanan kiri tubuhnya. Kutatap wajahnya dengan senyum yang menggoda. Sambil menanggalkan kimonoku.

Santos terlongong, karena tinggal celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku.

Sambil memegang sepasang payudara, aku melayangkan tatapan menggoda lagi dan bertanya, “Toketku bagus gak?”

“Ma… mantap sekali Mbak,” sahutnya tergagap.

Aku tersenyum senang. Lalu menjatuhkan dadaku ke dada Santos, diikuti bisikan binalku, “Jangankan cuma toket… malam ini sekujur tubuhku boleh kamu miliki San…”

“Oooh… Mbak Indri… aku… aku masih merasa seperti bermimpi… karena tak pernah menduga semuanya ini akan terjadi…” sahut Santos yang lalu terputus karena bibirku sudah menyumpal mulutnya.

Lalu kubisiki telinganya, “Kalau mau, buka dulu dong pakaianmu…”

“Iya Mbak…” Santos bangkit, menanggalkan celana jeans dan tshirtnya.

Aku senang sekali menyaksikan dada dan perut Santos yang atletis itu. Maka kuusap-usapkan telapak tanganku ke dadanya yang bidang dan perutnya yang six pack… tapi ketika pandanganku tertumbuk ke celana dalam Santos… kelihatan benar betapa menggembungnya celana dalam itu, pasti ada sesuatu yang menegang di balik celana dalam itu.

© 2022 - CeritaSeru.xyz