November 01, 2020
Penulis — ajatsurajati

Terdampar di Pulau Sunyi

PROLOG

Sebuah sekoci terombang ambing ombak menyusuri pantai. Terlihat dua orang paruh baya berdiri di bagian depan, sementara di bagian belakang dua orang muda kekar mendayung.

“Kapten… sepertinya pulau ini berpenghuni… “ “Ya… saya juga memperhatikan sejak tadi, chief”

Perahu terus menyusuri pantai berkarang dengan perlahan, hingga sampai di suatu bagian pantai berpasir putih.

“Kapten… lihat… ada gubuk di sela pohon !”

“Chief… kita kesana… seharusnya pulai ini tak berpenghuni. Ini di tengah pasifik”

“Siap Kapten”

“Beri kabar radio ke tanker, supaya mereka berjaga”

“Siap Kapten”

Tak berapa lama sekoci itu menyentuh pasir halus, Kapten dan Chief Officer berturut-turut melompat sementara dua ABK lain yang tadi mendayung kemudian menarik sekoci itu keatas pantai kemudian menunggu.

“Chief… parangnya tadi dibawa? kita harus tetap hati-hati”

“Maaf Kapten… ketinggalan di sekoci”

“Ya sudah… kita intip dulu pelan2… takutnya ini sarang perampok”

Diterangi sinar matahari sore yang menyoroti langkah mereka, membentuk dua bayangan panjang dari tubuh mereka, mengendap-endap keduanya menghampiri gubuk berdinding dedaunan itu. Tepat di depan gubuk keduanya berhenti, lalu kapten menyentuhkan telunjuknya di depan bibir menandakan Chief untuk tidak bersuara.

“Nnnngggghh… ngggggh… aaaaah” terdengar suara di dalam gubuk.

“Suara perempuan” ujar Kapten berbisik.

Tanpa dikomando mereka mencari lubang di dinding lalu mengintip bersamaan.

“Mamaaaa… Donny ngga kuat maaaa…”

“Mama juga… sssssh… aaaah… aaaah”

Kapten dan Chief berpandangan sambil mulut mengaga.

Tepat pada saat itu terdengar jeritan dan dengusan dari balik dinding.

“Mama keluaaaaaaar… aaaaaarggggghhhh… aaaaaaaah…”

***********

LIMA TAHUN SEBELUMNYA

Di tengah jeritan-jeritan perempuan, tangisan anak kecil, dan bisikan do’a beberapa orang tua, di loudspeaker di pesawat Boeing 747 Jumbo Jet terdengar perintah tegas Kapten Pilot.

“… Cabin Crew… prepare passenger for emergency landing…”

Namun para crew tak sempat lagi memeriksa seluruh penumpang yang sebagian besar telah mengenakan Life Vest, karena pada saat itu juga pesawat terbanting lalu meluncur di tengah ombak yang sedang bergulung di Samudera Pasifik.

Segera setelah itu emergency door dibuka, seluruh penumpang berebut keluar dan… ditelah ombak ganas…

**********

Perlahan, Nina membuka matanya. Kepalanya terasa sakit — teramat sakit — hingga ia kembali menutupkan mata. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, sementara perih yang menusuk-nusuk seluruh tubuhnya membuat ia merintih. Namun ia teringat sesuatu… dan memaksa diri untuk bangun.

Pandangannya terasa buram, pandangannya menyapu sekeliling. Dilihatnya ia berada di sebuah pantai berpasir, dan hari saat itu menjelang sore. Nina segera memegang tali yang terikat di pinggangnya, dan dengan panik ia menariknya, berusaha mencari sesuatu di ujung tali itu. Donny —anaknya— sempat ia ikat dengan sebuah tali yang didapatinya sebelum keluar dari pesawat yang terjatuh itu sehingga mereka tidak akan terpisah.

Dan ah… beberapa meter darinya, dilihatnya sosok tubuh yang terbaring: Donny.

Nina segera menghampiri dan memeriksa anaknya walaupun ia harus merangkak sambil merintih, diraihnya lengan donny dan Nina memeriksa denyutnya.

Masih ada.

Tak lama kemudian, perempuan cantik itu terisak dan kembali terbaring di samping anaknya yang masih belum siuman.

© 2022 - CeritaSeru.xyz