November 02, 2020
Penulis — Ichbineinbuch

Days of Quarantino

PROLOGUE

POV Lukas

Dreettt… drettt…

“Ughh!”

Suara alarm dari ponselku berbunyi dan memutus jalannya mimpi indahku ini. Padahal baru saja aku akan menggenggam tangan gebetanku Tania. Tapi tiba-tiba frekuensi dan getaran yang dihasilkan

_speaker_ponselku langsung mengganggu frekuensi otakku yang sedang bermimpi. Ah, bangsat!

Aku membuka mataku dan menguceknya. Kuhapus semua kotoran-kotoran yang menempel di mataku. Lalu aku menyingkap selimutku dan keluar dari ranjangku. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, aku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.

Kuturuni anak tangga dengan perlahan. Namun karena kesadaranku belum terkumpul seutuhnya, maka pandanganku agak sedikit memburam. Saat aku sudah hampir mencapai ujung dari anak tangga ini, tiba-tiba saja aku tersandung dan BRUAK! aku tersungkur ke depan.

Dadaku begitu sakit menghantam lantai. Perutku lebih sakit lagi karena menghantam anak tangga yang paling bawah. Yang terpenting, sepertinya kakiku tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kurasakan kakiku yang paling nyeri di antara semuanya. Aku mengelus kakiku itu dengan sedikit meringis.

“Ya ampun, Lukas!” teriak seorang wanita yang langsung meletakkan vacuum cleaner-nya dan menghampiriku.

Ia berjongkok dan memperhatikan kondisi diriku. Aku sendiri sedang mengelus bagian pergelangan kakiku yang lumayan ngilu. Ia pun akhirnya turut mengelus bagianku yang sakit itu.

“Lukas, kamu gak hati-hati sih,” ujarnya dengan nada yang khawatir.

Perlahan aku sudah mulai bisa menahan nyeriku. Aku langsung berdiri walau nyeri sedikit bertambah. Tanganku memegang pegangan tangga sebagai tumpuan. Wanita itu menatap diriku ini dengan wajah yang sangat khawatir.

“Maaf, Tan. Ngantuk banget nih,” ujarku sambil tersenyum cengir.

“Dasar kamu ah. Begadang mulu sih. Pasti kamu VC sama si Tania kan semalam.”

“Kok Tante bisa tahu sih?” tanyaku yang agak sedikit terkejut dengan terkaan tanteku ini.

“Emang kamu kira selama ini Tante gak tahu kamu dekat sama siapa?” tanyanya balik sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum. Namun saat melihat langkahku yang tertatih-tatih, tanteku ini dengan sigap langsung menjaga tubuhku agar tetap seimbang. Aku hanya berterima kasih saja kepada perhatian dari tanteku ini.

Untung saja aku sudah bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku bisa berjalan ke kamar mandi secara mandiri walau harus tertatih-tatih. Selesai mencuci muka dan gosok gigi, aku bergegas ke kamarku yang ada di lantai atas. Menaiki tangga dengan perlahan sambil menahan sakit, akhirnya aku bisa sampai ke lantai atas dengan selamat.

Sesampainya di kamarku, aku langsung mengganti kaos tidurku dengan kemeja yang formal. Namun untuk bawahanku, biarlah hanya celana pendek ini saja. Toh nanti di depan kamera, bagian kakiku gak bakal kesorot kok.

Setelah memastikan bagian atas diriku sudah rapi dan bersih, aku menyalakan laptopku. Kubuka aplikasi yang kami gunakan untuk melakukan kuliah

_online_Setelah menunggu 10 menit, akhirnya dosen kami memulai absensinya. Kemudian, dilanjutkan dengan mata kuliah Hidrologi yang kusimak namun tidak dengan terlalu seksama. Satu jam setengah ke depan, akhirnya mata kuliah ini berakhir dan kelas pun dibubarkan. Aku mematikan aplikasiku dan segera melepaskan baju kemejaku ini.

“KYAAA! LUKAS!” jerit tanteku begitu membuka kamar pintuku. Aku sontak langsung panik dan menutupi selangkanganku dengan handuk. Setelah beberapa saat, barulah ia membuka matanya tersebut.

“Tante! Kalau masuk ketuk dulu napa,” protesku sembari mengikat handukku betul-betul agar tidak lepas.

“Hihi… maaf deh. Tante pikir kamu baru selesai kuliah online-nya,” kata tanteku sembari terkekeh.

“Ya emang baru selesai, Tan.”

“Maaf deh. Oh ya, Tante ke sini mau minjam_flash disk_kamu sebentar.”

“Oh, ambil aja di laciku yang nomor dua,” ujarku sembari menunjuk jari jempolku ke belakang.

“Ok, sip deh.”

Aku berjalan meninggalkan tanteku yang sedang mengubek laciku. Kemudian aku ke kamar mandi dan melepas handukku. Segera kusiramkan air ke kakiku dan barulah kusiramkan ke tubuhku.

Tiba-tiba, insiden memalukan yang baru saja terjadi hinggap ke pikiranku. Aku tak bisa membayangkan, kalau tanteku itu melihat batang kemaluanku. Rasa malu semakin timbul dalam diriku. Namun, kurasakan penisku ini malah mengacung tegak saat aku semakin lama membayangkan kejadian itu.

Setelah berjuang dengan nafsu birahiku, aku akhirnya berhasil menyelesaikan mandiku dan menghindari perbuatan zinah dengan bantuan tanganku di dalam sana. Namun sembulan dari penisku tak mampu disembunyikan oleh handukku.

Aku berjalan menuju kamarku dan mengganti pakaianku dengan pakaian kasual, yaitu kaos oblong dan celana pendek selutut. Kemudian, aku turun ke lantai bawah untuk sarapan. Tanteku sudah menyiapkan semua makanannya dan ia juga sudah makan duluan dariku. Aku mengambil nasi dan lauk paukku.

“Makan, Tante,” ujarku dengan sopan.

“Iya,” jawabnya dengan singkat sebelum is kembali menyantap makanannya.

Aku menyantap makananku dengan lahap. Seperti biasa, masakan dari tanteku gak pernah mengecewakan. Sepiring nasi dengan ikan saus padang dan juga sambal rica-rica.

“Lukas, maafin Tante ya soal yang tadi,” ucapnya di tengah makan kami.

“Gak apa kok, Tan. Lupakan aja,” kataku dengan cuek.

“Tapi jujur aja, punya kamu gede juga loh, hihihi…”

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan tanteku ini. Namun aslinya jantungku sangat berdebar. Bagaimana kalau aku tunjukkan lagi ya barangku ke Tante sekali lagi? Memikirkan itu, membuatku jadi tidak konsentrasi untuk makan. Maka kulanjutkan santapanku ini hingga habis.

Selesai mencuci piringku, aku langsung bergegas untuk kembali ke kamarku dan mengerjakan tugas yang diberikan dosenku kemarin. Namun saat aku akan naik ke tangga, aku melihat tanteku itu yang sedang melangsungkan

_video call_dengan pamanku.

“Eh, ada Lukas tuh. Panggil ke sini, Yang,” ujar pamanku yang terdengar olehku karena suara_speaker_yang keras.

“Lukas, Pamanmu nyariin kamu tuh,” panggil tanteku yang langsung kuturuti.

Aku menghampiri tanteku dan langsung duduk di sampingnya. Sekilas aku dapat mencium bau harum tubuhnya. Kalau tak salah, itu adalah harum dari sabun mandi tanteku, bukan

handbody-nya.

“Lukas, kamu baik-baik aja kan? Tantemu bilang, kamu jatuh tadi dari tangga,” tanya Paman yang tak kalah khawatirnya dengan Tante tadi.

“Ah, gak apa kok, Paman. Paling keseleo dikit doang,” jawabku dengan santai.

“Jangan suka meremehkan loh, Lukas. Obatin tuh keseleo kamu. Nanti kalau makin parah, malah tambah nyusahin loh,” omelnya padaku.

“Iya, Paman. Nanti aku kasih balsem aja.”

“Kalau perlu, minta aja bantuan sama tantemu. Dia pandai mijit kok, iya kan, Sayang?”

Tanteku hanya tersenyum mendengar pujian dari pamanku. Aku turut tersenyum dan meyakinkan kalau aku akan baik-baik saja. Setelah pamanku berpesan untuk selalu menjaga kesehatanku, ia juga berpesan untuk menjaga tanteku. Tentu saja tak ada jawaban lain selain mengiyakan pesan pamanku ini.

Setelah semua pesan pamanku sudah diterima olehku, aku menuju ke kotak P3K yang ada di lemari ruang keluargaku. Kemudian, kubawa kotak tersebut ke dalam kamarku. Kini aku akan mengobati kakiku dengan harapan kalau kakiku ini tidak akan bertambah parah ke depannya. Semoga saja.

© 2022 - CeritaSeru.xyz