November 01, 2020
Penulis — romeoarjuna

Warung Sedap Rasa

Ini sebuah cerita dari banyak cerita tentang kehidupan gw di Bali. Kehidupan gw di tanah Dewata ini membawa gw kepada kebahagiaan setelah meninggalkan ibukota yang menurut gw sudah sangat sumpek. Nama gw Adit. Gw seorang cowok yang menurut gw ya biasa aja. Perawakan gw ya normal aja lah. Tinggi 180, berat 80, dan berkulit agak gelap.

Gw udah nikah dengan Rika selama tiga tahun dan belum dikaruniai anak. Umur gw 40 tahun sedangkan Rika beda lima tahun di bawah gw. Untuk seorang perempuan, Rika tergolong cantik. Kulit putih, tinggi sekitar 175 dengan berat proporsional. Dan payudara yang menurut gw juga pas. Tidak terlalu besar dan kecil.

Gw kerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang entertainment. Sebenarnya kantor gw ini merupakan kantor cabang dari Jakarta. Gw yang mengajukan diri untuk pindah ke kantor cabang Denpasar dengan harapan bisa hidup tenang. Rika juga bekerja di sebuah kantor hukum. Walaupun sama-sama sibuk, tapi kami selalu ingat untuk menghargai rumah tangga.

Jadi sebisa mungkin kami berdua menyediakan waktu untuk sekadar nonton atau makan malam di luar berdua. Kalau ada hari libur biasanya kami pergi ke luar kota Denpasar. Entah itu ke Ubud, Karangasem, atau Kintamani. Sesekali kami juga menyempatkan diri untuk ke pantai Kuta. Banyak teman-teman kami yang lebih senang hangout di Seminyak atau Canggu.

Tapi bagi kami berdua, Kuta tetaplah menjadi pilihan. Karena kami berdua ternyata punya kesamaan. Pantai Kuta adalah pantai kenangan yang selalu menempel di ingatan waktu pertama kali mengunjungi Bali puluhan tahun lalu ketika masih kecil. Sebenarnya gw bersyukur mendapatkan Rika, tapi memang nafsu gw dan “adik kecil di bawah” terkadang membuat gw suka lupa ada mahluk cantik di rumah yang selalu siap sedia.

Gw memiliki teman-teman yang menyenangkan di kantor. Selain menyenangkan secara pribadi, secara tim mereka juga sangat kompak. Ini juga merupakan salah satu yang gw syukuri saat gw pindah ke Bali. Walaupun memiliki kekompakan yang luar biasa, untuk urusan makan siang biasanya kami memiliki selera yang berbeda-beda.

Hal itu menurut gw masih bisa dimaklumi, karena memang lidah orang berbeda. Gw sendiri ketika makan siang lebih senang mencari warung kecil yang menyajikan masakan rumahan. Karena selain murah, menurut gw rasanya juga enak di lidah. Dari sekian banyak warung makan kecil yang sering gw datangi, ada satu warung yang akhirnya menjadi langganan gw.

Selain karena makanan enak dan harga murah, tempatnya yang agak sepi dan banyak pepohonan di sekitarnya membuat gw lebih senang mendatangi tempat itu. Ditambah lagi pemilik warung tersebut juga paling ramah di antara beberapa pemilik warung makan lainnya. Mereka adalah sepasang suami istri yang umurnya sudah 50 tahun.

Sang suami tinggi dan gendut serta berkulit hitam, sedangkan sang istri berkulit putih dengan tinggi gw perkirakan mungkin 160 sampai 165. Untuk umur 50 tahun, sang istri masih terlihat cantik. Dan badannya juga terlihat masih kencang. Penampilannya lebih seperti perempuan umur 40 tahun. Gw bisa berkata begitu karena memang sehari-hari sang istri lebih senang menggunakan legging dan kaos ketat.

Bahkan gw perkirakan ukuran payudaranya lebih besar dari RIka. Gw sering tertawa dalam hati kalau melihat mereka. Seperti bercermin dengan keadaan sendiri. Walaupun gw tidak gendut dan Rika juga tergolong tinggi untuk ukuran perempuan. Tapi warna kulit gw dan Rika sama seperti pasangan suami istri pemilik warung tersebut.

Gelap dan cerah. Mereka sudah memiliki anak-anak yang pergi merantau ke pulau Jawa. Jadi sehari-hari mereka hanya tinggal berdua saja. Dan mereka tinggal di rumah kecil yang menempel dengan warung tersebut. Karena seringnya gw makan di tempat mereka, pada akhirnya gw tahu kalau nama suaminya adalah Pak Sudiana dan nama istrinya adalah Bu Rahayu.

Suatu hari ketika jam makan siang, seperti biasa gw langsung menuju ke warung tersebut. Seperti biasa, jam makan siang adalah satu-satunya waktu dimana kami menjadi sebuah tim yang tidak kompak. Dan gw meluncur ke warung makan langganan gw menggunakan motor matic andalan gw. Seampainya di warung, seperti biasa juga gw langsung memesan makanan.

Tapi ada yang beda pada hari itu. Bu Rahayu sendirian melayani pembeli, Pak Sudiana tidak kelilhatan ada di warung. Karena sudah kenal dan akrab dengan pasangan suami istri tersebut, langsung aja gw tanya ke Bu Rahayu kemana suaminya. Ternyata Pak Sudiana ada pekerjaan bangunan di Karangasem. Baru berangkat pagi hari di hari tersebut.

Karena hari itu kerjaan gw agak lowong, dan kebetulan warung tersebut juga tidak ada pelanggan lain. Bu Rahayu mengajak gw ngobrol sambil menemani gw menghabiskan makanan. Sebenarnya lebih tepatnya mendengar cerita Bu Rahayu tentang anak-anaknya yang pergi merantau dan hanya pulang setahun dua kali ketika Galungan.

Gw hanya sekali menimpali omongan Bu Rahayu, karena gw sendiri lebih fokus makan. Sesekali dia menanyakan tentang orang tua gw yang ada di Jakarta. Gw mulai fokus ke obrolan setelah makanan gw habis dan Bu Rahayu menanyakan mengenai kehidupan gw dan Rika. Akhirnya gw cerita mengenai kehidupan gw dan Rika yang sudah tiga tahun tapi belum memiliki keturunan.

“Mas Adit jarang nengokin istrinya mungkin?”

“Jarang nengokin gimana Bu? Kan satu rumah. Tiap hari ketemu.” Gw pura-pura bego,

“Haha… Mas ini pura-pura gak tau. Jarang dianuin mas. Ditidurin.”

“Haha. Bilang dong Bu. Kalau itu sih teratur Bu. Tapi mungkin saya juga masih sering nengokin yang lain.” Gw nyaut sekenanya.

“Wah. Mas Adit punya istri lagi?

“Ya gak gitu Bu. Maksudnya suka ada aja yang ngajak. Hehe. Sayanya masih suka bandel.”

“Mas Adit tiap hari ketemu istrinya gak ditengokin. Saya sekarang ditinggal suami jadi gak ada yang nengokin.” Kata Bu Rahayu.

Gw butuh waktu beberapa saat untuk mencerna arti omongan Bu Rahayu. Apakah itu hanya sebuah informasi. Atau itu sebuah kode. Tapi gw memutuskan untuk melemparkan pertanyaan lagi. Untuk memperjelas maksud dari omongan dia tadi.

“Ya kan cuma dua bulan Bu. Nanti juga ditengokin lagi. Hahaha. Sebelum ditinggal ditengokin dulu kan Bu?” Pertanyaan gw bermaksud memancing.

Pancingan gw akhirnya bekerja. Bu Rahayu akhirnya cerita kalau suaminya mengidap diabetes. Selain itu, badannya yang terlalu gemuk juga sudah masuk dalam golongan obesitas. Walaupun masih bisa beraktivitas dan bekerja, tetapi Pak Sudiana mudah lelah. Dan masalah terbesar dari penyakit yang diderita Pak Sudiana adalah aktivitas seksual mereka berdua sudah tidak bisa dilanjutkan terutama satu tahun belakangan ini.

Karena efek dari penyakit diabetes yang diderita Pak Sudiana adalah penisnya sudah tidak bisa ereksi lagi. Padahal hasrat seksual Bu Rahayu masih cukup tinggi walaupun sudah berumur 50 tahun. Mungkin karena Bu Rahayu masih rajin beraktivitas dan setiap minggu pagi masih menyempatkan untuk senam aerobik atau zumba bersama teman-temannya.

Ada pikiran iseng lagi yang melintas di pikiran gw untuk melemparkan pertanyaan.

“Terus kalau Bu Rahayu lagi mau, gimana Bu? Tanya gw langsung to the point.

“Ya pake ini mas.” Dia senyum-senyum kecut sambil menunjukkan jarinya.

Lalu Bu Rahayu bercerita, kadang kalau hasratnya sudah sangat besar. Timbul pikiran untuk mencari kepuasan dari lelaki lain. Tapi dia berpikir, apakah ada yang mau dengan perempuan seumuran dia.

“Ah masa gak ada Bu. Masih banyak lah yang mau.” Saat itu gw udah merasa yakin dengan adegan apa yang akan terjadi. Setidaknya dua bulan ke depan.

“Ya siapa yang mau mas sama perempuan setengah abad?”

“Kalau saya sih masih mau Bu. Umur 50 tapi masih cantik dan kenceng. Kalau saya punya kesempatan sih, gak akan saya lepas. Hahaha.” Gw langsung nyaut sekenanya.

Sejenak keadaan menjadi hening. Gw lihat Bu Rahayu hanya menunduk sambil senyum-senyum tipis. Gw masih duduk diam, sambil melihat perkembangan situasi selanjutnya. Ketika gw pikir situasinya sudah mulai bisa gw pegang. Tiba-tiba datang seorang bapak-bapak yang mau membeli makan. Sempat bikin gw bete, karena menurut gw situasi sudah mulai bisa dikendalikan.

Dan gw berpikir sebentar lagi gw bisa menikmati tubuh Bu Rahayu yang masih kencang. Gw berusaha menyembunyikan wajah bete gw, walaupun sebenernya gw udah nafsu berat. Tapi gak butuh waktu lama untuk menghilangkan rasa bete gw. Karena ternyata bapak-bapak tersebut hanya membeli makan untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Setelah bapak-bapak itu pergi, Bu Rahayu kembali duduk. Tapi kali ini posisi duduknya di sebelah gw. Sempat diam beberapa saat, lalu gw liat Bu Rahayu berdiri dan menuju ke arah depan warung dan menutup warung makannya. Gw agak kaget melihat Bu Rahayu menutup warungnya. Walaupun gw mengerti betul arahnya mau kemana, tapi gw tetap melemparkan pertanyaan basa-basi untuk mencari jawaban pasti dari Bu Rahayu.

“Oh. Mau tutup warung Bu? Ya udah saya balik dulu.” Sambil pura-pura mau balik ke kantor. Saat itu gw mau lihat respon Bu Rahayu selanjutnya.

“Mas Adit ini gimana sih? Tadi katanya kalau ada kesempatan gak mau dilepas. Udah mau dikasih kesempatan, malah mau dilepas.” Nada bicara Bu Rahayu sudah tidak seperti biasanya. Sekarang terdengar lebih lembut dan menggoda. Cara Bu Rahayu bicara juga beda. Dia menatap gw sambil senyum-senyum.

Mendengar jawaban dari Bu Rahayu jelas saja dalam hati gw tertawa. Karena ternyata jawaban dia sesuai dengan yang gw harapkan. Dan gak pakai basa-basi lagi, gw langsung bantu dia untuk tutup warung. Selesai tutup warung, Bu Rahayu sudah gak malu dan basa-basi lagi. Dia langsung gandeng tangan gw menuju ke dalam rumah.

Dari warung menuju ke rumahnya memang ada pintu penghubung. Sebelum masuk rumah gw lepas sepatu gw di pintu, Bu Rahayu terlihat masih berdiri menunggu gw selesai buka sepatu. Selesai buka sepatu Bu Rahayu menggandeng gw lagi. Saat masuk ke dalam rumah, suasana yang gw tangkap adalah rapih, sejuk, dan bersih.

Rumahnya cukup luas sebenarnya. Hanya saja kalau dilihat dari luar memang tampak kecil dan kumal. Mungkin karena pengaruh warung makan yang terletak bersebelahan dengan rumah. Bu Rahayu menuntun gw ke sebuah kamar. Yang ternyata setelahnya gw tahu kalau itu adalah kamar anaknya. Bu Rahayu gak mau ML sama gw di kamarnya, dengan alasan dia malah kepikiran suaminya.

Sampai di kamar Bu Rahayu berdiri menghadap ke gw dan langsung memeluk gw. Gak pake lama gw langsung cium bibir Bu Rahayu. Dan Bu Rahayu yang kelihatannya juga sudah dipengaruhi hawa nafsu, langsung membalas ciuman gw. Gw menikmati betul ciuman dengan Bur Rahayu. Karena saat itu yang gw rasakan adalah ciuman dari seorang perempuan yang seperti sudah lama tidak merasakan nikmatnya ciuman.

Pelukan gw mulai turun. Dari leher, ke punggung, dan ke area bokong Bu Rahayu. Gw rasakan saat itu bokong Bu Rahayu masih terasa kencang di tangan gw. Bahkan tidak beda jauh dari Rika yang berumur 35. Walaupun masih tetap lebih kencang Rika. Hanya saja gw sempat kagum juga, karena di umur 50 Bu Rahayu masih punya bokong yang kencang.

Sambil tetap berciuman gw mulai meremas bokong Bu Rahayu. Terasa sekali nafsu Bu Rahayu langsung bertambah setelah remasan di bokongnya. Karena gak lama berselang, tangan Bu Rahayu juga meremas bokong gw. Agak lama kami berdua menikmati ciuman dan remasan di daerah bokong masing-masing. Setelah itu gw memberanikan diri untuk memasukkan tangan gw ke dalam celana Bu Rahayu dan meremas bokong Bu Rahayu tanpa terhalang celana.

Tangan gw meremas sambil sesekali membelai kulit bokong Bu Rahayu. Akibatnya ciuman Bu Rahayu semakin ganas dan meremas area bokong gw semakin keras. Setelah gw tahu Bu Rahayu udah semakin panas, gw naikkan tangan gw dan langsung membuka kaosnya. Terlihat bra hitam menutupi payudara putih bulat yang masih memiliki bentuk yang bagus.

Nafsu gw yang awalnya masih bisa gw kontrol, mendadak menjadi lebih liar. Gw mencoba untuk meremas lembut payudara Bu Rahayu sambil menciumi daerah leher hingga pundaknya. Lalu turun ke area dada dan payudaranya. Rasa nafsu yang ada membuat kesabaran gw hilang dan langsung membuka bra yang menutupi payudara Bu Rahayu.

Melihat payudara Bu Rahayu, gw langsung menjilati bagian puting Bu Rahayu sambil memberikan remasan di payudaranya. Sesekali gw gigit pelan-pelan untuk memberikan sensasi pada area puting Bu Rahayu. Akibat dari perlakuan gw, Bu Rahayu mulai mengeluarkan suara-suara yang menandakan dia menikmati apa yang gw lakukan.

Gw rebahkan Bu Rahayu di kasur yang dari tadi hanya menonton kami berdua beradu nafsu. Gak pakai nunggu lama, gw tarik celana legging hitam Bu Rahayu sekaligus dengan celana dalam yang dia pakai yang ternyata berwarna hitam juga. Dan sekarang untuk pertama kalinya gw lihat Bu Rahayu tanpa memakai apa-apa alias telanjang di depan mata gw.

Terlihat daerah vagina ditumbuhi rambut kemaluan tipis yang sepertinya dicukur rapih. Setelah melihat pemandangan indah di depan mata, gw gak mau buang waktu untuk menikmatinya. Sebelum masuk ke menu utama gw putuskan untuk memberikan kenikmatan oral dulu untuk Bu Rahayu. Vagina yang terlihat terawat itu gw jilati.

Dari area vagina dan sekitarnya. Aroma khas vagina membuat gw semakin beringas untuk menjilati vagina Bu Rahayu. Suara desahan dan lenguhan dari Bu Rahayu terdengar semakin keras dan tidak teratur. Sesekali Bu Rahayu mengangkat pinggangnya menandakan sedang dilanda kenikmatan yang luar biasa. Gw terus menjilati vagina Bu Rahayu, dan gw berhenti menjilati vagina Bu Rahayu sampai gw lihat ada cairan putih bening keluar dari vagina Bu Rahayu diiringi dengan suara mendesah keras dan panjang dari Bu Rahayu.

Setelah mendapatkan orgasme pertamanya, Bu Rahayu menjadi lebih agresif. Tadinya gw berniat untuk buka celana dan langsung untuk mulai eksekusi. Tapi ternyata Bu Rahayu melihat gelagat gw yang mau membuka celana. Bu Rahayu langsung bangun dan memegang tangan gw. Hal itu membuat gw sempat kaget. Karena gw pikir Bu Rahayu sadar dari khilaf dan gak mau melanjutkan lagi.

Tapi ternyata dugaan gw salah. Bu Rahayu rupanya gak mau gw membuka celana sendiri. Tapi dialah yang membukakan celana gw. Setelah berhasil membuka celana gw, tampaklah dengan jelas di depan mata Bu Rahayu sebuah penis yang sudah ngaceng sempurna. Kalau menurut gw sebenarnya ukuran penis gw standar aja.

“Besar Mas Adit. Hmmpppfh.”

Gak pake lama Bu Rahayu langsung melancarkan serangan blow job ke penis gw. Walaupun gw rasa Rika tetaplah juara blow job dari semua cewek yang pernah ML sama gw. Tapi untuk ukuran perempuan 50 tahun yang gw rasa konvensional, Bu Rahayu termasuk jago. Tangannya ikut bermain mengocok penis gw. Sesekali bermain di area kantong biji.

Lidahnya juga aktif menjilati kepala dan batang penis gw. Hanya sebentar dia blow job dengan posisi gw berdiri. Kemudian Bu Rahayu meminta gw untuk rebahan di atas kasur. Setelah gw rebahan dia menuntun kedua kaki gw untuk posisi mengangkang seperti orang mau melahirkan. Kemudian dia melanjutkan lagi mem-blow job area selangkangan gw.

Setelah gw rasa cukup, gw menghentikan aksi oral Bu Rahayu di area Penis gw. Karena gw gak mau di kejadian pertama ini gw keluar terlalu cepat. Gw langsung posisikan Bu Rahayu untuk tiduran di atas kasur. Perlahan gw tempelkan kepala penis gw di bibir vagina Bu Rahayu. Gw gesek-gesek sebentar sebelum gw mulai memasukkan penis gw ke vagina Bu Rahayu.

Setelah itu gw masukkan penis gw ke dalam vagina Bu Rahayu pelan-pelan. Hingga akhirnya penis gw masuk dengan sempurna ke dalam vagina Bu Rahayu. Gw diamkan sebentar sambil melihat Bu Rahayu yang matanya sudah setengah tertutup dan mengeluarkan desahan dari mulutnya. Gw mulai goyangkan bokong gw pelan-pelan tapi pasti.

“Aaah.. Aaahh… Hmmhh… Ssshh..” Suara yang keluar dari mulut Bu Rahayu sudah mulai gak teratur. Nafas Bu Rahayu juga semakin keras gw rasakan. Pompaan penis gw pada vaginanya membuat Bu Rahayu terlihat semakin menikmati. Terkadang kepala Bu Rahayu menengok ke kiri dan kanan sambil matanya tetap tertutup.

Payudaranya terlihat bergoyang karena tubuh Bu Rahayu sedikit terguncang akibat pompaan gw yang semakin cepat juga. Goyangan payudara Bu Rahayu membuat gw tergoda juga untuk menjilatinya sambil meneruskan pompaan gw. Tiba-tiba Bu Rahayu menghentikan goyangan bokong gw yang sedang dalam tempo tinggi.

Rupanya Bu Rahayu ingin bertukar posisi. DIa ingin di posisi WOT. Gw merebahkan diri di kasur dan Bu Rahayu bergerak ke atas gw. Lalu dia mulai mengarahkan vaginanya ke penis gw. Gak pakai lama penis gw kembali masuk ke dalam vagina Bu Rahayu. Dan sekarang gantian Bu Rahayu yang menggoyangkan bokongnya.

Goyangan Bu Rahayu terasa nikmat di penis gw. Tekanan dan cengkraman pada penis gw justru menghasilkan kenikmatan yang luar biasa. Tapi di lain sisi rupanya itu juga menghasilkan sensasi yang luar biasa untuk Bu Rahayu. Karena dalam beberapa goyangan tiba-tiba tangan Bu Rahayu mencengkram pundak gw.

Setelah orgasmenya selesai, tubuh Bu Rahayu sudah tidak tegang lagi dan bersandar di dada gw. Dengan posisi penis masih tertancap di vagina Bu Rahayu. Gw memutuskan untuk menggeser badan hingga tepi kasur dengan tubuh Bu Rahayu masih ada di atas gw. Sampai di tepi kasur gw bangun untuk duduk dengan penis masih menancap di vagina Bu Rahayu.

Kemudian gw mencoba untuk berdiri. Dengan badan Bu Rahayu yang agak kecil, tidak sulit buat gw untuk berdiri sambil menggendong Bu Rahayu. Dengan posisi berdiri ini, penis gw semakin dalam masuk ke vagina Bu Rahayu. Dan di awal berdiri terasa sekali penis gw semakin menancap masuk. Hal itu membuat Bu Rahayu kembali bereaksi.

Dalam posisi digendong sambil memeluk gw membuat Bu Rahayu semakin erat memeluk gw. Ketika gw lihat Bu Rahayu sudah mulai bisa menyesuaikan dengan posisinya, gw mulai untuk menurunkan tangan gw dari memeluk pinggangnya menjadi memegang bokongnya. Hal ini memudahkan penis gw untuk keluar masuk di vaginanya.

Gak pakai lama gw langsung melancarkan goyangan sambil menggendongnya. Akibat dari goyangan yang gw lakukan, tubuh Bu Rahayu terlihat seperti berguncang. Payudaranya juga bergoyang naik turun. Dan suara desahan dan erangan Bu Rahayu semakin keras. Goyangan itu juga menambah beban di tangan gw yang menahan bokong Bu Rahayu sambil sesekali meremasnya.

Karena tangan gw yang sudah mulai pegal, gw melangkah menuju dinding kamar. Gw tempelkan tubuh Bu Rahayu di dinding kamar sambil sedikit gw tekan. Sehingga dinding kamar tersebut membantu gw untuk menopang tubuh Bu Rahayu. Goyangan yang gw lancarkan ke vagina Bu Rahayu tetap gw jaga dalam tempo tinggi.

Dan hal ini membuat Bu Rahayu terlihat meracau semakin tidak karuan. Tak lama kemudian tangan Bu Rahayu gw rasakan mencengkram keras leher tempat dia memeluk gw. Kemudian dia mengerang keras sambil menempelkan wajahnya di dada gw. Sekali lagi dia orgasme. Dan akibat dari orgasme ini dia terlihat agak lemas.

Melihat Bu Rahayu sudah orgasme lagi, gw putuskan untuk mengembalikan ke posisi awal lagi. Gw rebahkan tubuh Bu Rahayu di atas kasur. Gak pakai nunggu lama, gw langsung memasukkan penis gw ke dalam vagina Bu Rahayu yang sudah basah akibat dari cairan orgasmenya. Sekitar lima menit gw melancarkan goyangan di vagina Bu Rahayu, akhirnya gw merasakan sesuatu mendesak keluar dari dalam penis gw.

“Saya mau keluar Bu. Udah gak tahan lagi.”

“Di dalam aja Mas. Terusin jangan dicabut.” Bu Rahayu menjawab sambil setengah lemas.

“Arrrgghhhhh.”

Gw mengerang panjang ketika sperma keluar dari penis gw di dalam vagina Bu Rahayu. Terasa sekali banyaknya sperma yang keluar dari penis gw. Setelah gw rasa aliran sperma sudah berhenti, gw mencabut penis gw dari vagina Bu Rahayu. Terlihat sedikit sperma gw mengalir dari vagina Bu Rahayu. Setelah itu gw merebahkan badan di sebelah Bu Rahayu dan memeluknya.

“Terima kasih Mas. Saya sudah lama gak begini.”

“Sama-sama enak Bu. Gak usah terima kasih.”

Setelah itu kami terdiam sejenak untuk mengembalikan tenaga yang terkuras. Setelah itu kami berdua menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Gw sempat mengobrol selama satu jam sebelum gw pamit untuk kembali ke kantor. Karena gw juga gak mau terkesan selesai ML terus pergi. Itu akan membuat Bu Rahayu menjadi seperti perempuan panggilan.

Setelah kejadian itu hingga Pak Sudiana pulang, gw rutin ML dengan Bu Rahayu. Terkadang gw berangkat lebih pagi untuk ML pagi dengan Bu Rahayu. Dan sorenya gw akan kembali untuk ML dengan Bu Rahayu. Terkadang gw bilang ke Rika kalau gw harus menginap di kantor karena pekerjaan yang harus selesai. Tapi sebenarnya gw menginap di tempat Bu Rahayu.

Kalau menginap biasanya dalam semalam kami bisa ML sampai tiga kali. Dan kalau sedang gila, kami berdua ML di warung. Bu Rahayu di usianya yang 50 tahun masih memiliki hasrat yang menggebu untuk urusan seks. Dan hasratnya sudah lama tidak tersalurkan. Sejak ML dengan gw, Bu Rahayu mulai berani untuk dandan.

Tapi ketika suaminya pulang, kesempatan untuk kami ML jelas sangat tidak mungkin. Sesekali kami lakukan kalau memang Pak Sudiana sedang ada urusan ke luar kota. Kegiatan seks kami benar-benar terhenti ketika Bu Rahayu dan Pak Sudiana pindah ke Karangasem. Karena Pak Sudiana mendapatkan pekerjaan untuk menjadi security sebuah resort di Karangasem.

© 2022 - CeritaSeru.xyz