November 01, 2020
Penulis — Kurotokai

Mewujudkan Fantasy-ku

Namaku Rendi, aku anak pertama dari tiga bersaudara. Kami berasal dari keluarga berkecukupan sehingga kami tidak mempunya permasalahan dengan ekonomi. Ayahku merupakan seorang pengusaha kerajinan kayu menikahi Mamaku, Ratna. Mamaku ini sangatlah cantik, walupun sudah berumur 43 tahun tidak kalah dengan wanita lainnya.

Kecantikan mamaku tentu saja menurun kepada kedua putrinya. Dian, adik pertamaku saat ini kelas 2 SMA dan Uvi adik kedua ku masih di kelas 1 SMP, sedangkan diriku kuliah kedokteran semester 2 di salah satu PTN di kota besar. Selain mamaku, aku juga sering membayangkan bila dapat melakukan hubungan intim dengan kedua adikku.

Awalnya diriku tidaklah memiliki ketertarikan akan hubungan ‘Incest/Sedarah’. Saat SMA, suatu hari aku sedang browsing di salah satu website video dewasa dan mendapati sebuah video di mana sorang anak sedang menyetubuhi ibunya sendiri. Adegan tersebut sering membuatku terus membayangkan bagaimana rasanya bila dapat menikmati tubuh indah mamaku.

Pagi ini aku berangkat kuliah seperti biasa dan mengikuti perkuliahan hingga waktu siang. Saat istirahat aku sedang mengobrol dengan temanku Rony. Awalnya percakapan kami biasa saja, sebatas jam kuliah yang lama dan tugas yang yang tiada habisnya. Akhirnya percakapan kami menjerumus ke dalam hal yang mesum

“Ehh, tau gx lo. Akhirnya gw berhasil dapetin perawannya si Susan Ren.” Rony tiba-tiba mengatakan perkataan yang mengagetkan gw.

Susan adalah pacar Rony sejak SMA dan sepanjang yang gw tau, pacaran mereka cuman sebatas ciuman sampai pegangan tangan doang. Dan gw kenal Susan juga, dia gx bakal ngizinin apalagi sampe ngasih perawannya sendiri.

“Seriusan, lo gak ngelakuin hal kriminal kan? Lo gak sampe maksa dan memperkosa Susan kan?.” Dan gw bales karena si Rony pernah cerita ceweknya gak pernah mau diajakin gituan sampe menikah.

“G-Gak lah, lagian dianya juga diem pasrah.” Si Rony jawab dengan sedikit gugup.

“Trus gimana lo bisa dapetin perawannya si Susan?.” Aku jadi pensaran.

“Janji lo jangan bilang sapa2.”

“Iy gw janji.”

“Beneran lo jangan sampe cerita ke orang lain apalgi sama Susan.”

“Iya udah buruan, kyak lo baru kenal sama gw aja.”

“Jadi malem minggu kemaren gw main ke kost2an nya dan gw gak bisa pulang gara2 hujan, jadi gw nginep disana. Kebetulan Kost nya lagi sepi dan pada keluar semua. Pas jam sebelas malem, cewek gw minta dibuatin mie dang gw akhirnya nurutin. Pas di dapur, gw masukin obat tidur kedalam teh yang sekalian gw buat.

Gw langsung ngeluarin HP sehabis si Rony cerita.

“Ehh, lo mau ngelaporin gw ke Susan??” Si Rony tampak agak takut.

“Gak, gw cuman mau ngelaporin lo ke Polisi.” Gw bergaya seakaan beneran mau ngelaporin temen gw.

“Kalo bercanda jangan kayak gitu lah Ren. Masak lo tega ngelaporin gw. Kita dah temennan dari SD sampe kuliah bareng terus.”

“Parah lo, lagian apa si Susan gx sadar pas dia bangun?.”

“Pertama sih gw takut pas dia bangun bakalan sadar dan juga gw dah ngilangin darah sama ngerapiin pakaiannya lagi. Tapi pas dia bangun sih biasa aja dan langsung nyelonong ke kamar mandi. Sampe sekarang, gw ma cewek gw normal2 aja kyak gx terjadi apa-apa.”

“Gila tu obat, emang lo dapet darimana?”

“Gw dapet dari Bang Wisnu, kakak angkatan kita.”

Rony kemudian menjelaskan berbagai hal mengenai obat tidur tersebut dan dia juga nawarin ke gw. Entah kenapa gw tertarik dan mengikuti si Rony untuk nemuin Bang Wisnu. Walaupun ragu-ragu, gw akhirnya beli juga obat tidur tersebut. Setelah itu, gw pulang ke rumah dengan beberpa obat bius yang entah mau gw gunain sama siapa.

Sampe di depan rumah, gw liat ayah sama dua adek gw mau pergi. Dan liat beberapa koper pasti mereka mau pergi jauh.

“Yah, pada mau kemana?”

“Udah pulang Ren. Ayah mau ke rumah Eyang beberapa hari, ada yang mau diurusin disana.”

“La si Dian ma Uvi ngapain ikut.”

“Kangenlah sama Eyang.” Dian tiba2 menjawab.

Aku dan adik2ku memang sangat dekat dengan Eyang yang sangat memanjakan kami.

“Aku juga ikut ya Yah?”

“Mas Rendi di sini aja, nemenin Mama.” Uvi mengatakan untuk aku menemani Mama.

“Emang Mama gx ikut?.”

“Mama mu bilang gak enak badan, jadi gak bisa ikut. Kamu juga kan ada kuliah sekalian jaga rumah ma Mamamu.” Ayah ku menyarankan.

Akhirnya mereka pun berangkat. Aku pun pasrah dan masuk ke rumah. Mama tidak ada di rumah yang pergi dengan tante periksa. Rumah kami lumayan besar, namun kami tidak memilki pembantu sama sekali. Orang tua kami selalu mengajarkan untuk melakukan semuanya seperti bersih2 rumah agar kami tidak malas.

Jam pun menunjukkan jam 7 malam ketika suara mobil memasuki rumah kami.

“Itu pasti Mama dan Tante.” Pikirku.

Dan benar setelah itu Mama dan Tante memasuki rumah.

“Ren bantu Tante ambil belanjaan di mobil.”

“Ayah, Dian ma Uvi dah berangkat Ren?.” Mama bertanya padaku.

“Udah dari jam 6 tadi Ma. Mama gx kenapa2 kan?.”

“Gak kenapa-napa kok, cuman gak enak badan aja.”

“Mamamu ini, udah tau capek masih aja dipaksaain. Ya udah tante pulang dulu, jangan lupa Mamamu suruh di minum obatnya.”

“Mbak ini, cuman agak pusing kok udah heboh.”

“Ehh, Mbak mu ini khawatir sama kamu Ratna.”

Setelah itu Tante pulang, kami masuk ke dalam rumah dan Mama langsung menuju ke dalam kamar tidur.

Akupun di ruang tengah sedang makan sambil menonton acara TV. Beberpa saat kemudian Mama turun dengan mengenakan pakaian tidur. Mama ku ini memang sangat cantik dan aduhai. Walaupun sudah cukup berumur tapi bodynya tidak kalah dengan cewek kuliahan. Dada Mama juga sangat besar dan aku selalu membayangkan bagaimana nikmatnya saat menyentuh dan meremasnya.

“Ren ngapain liatin Mama terus.”

Pertanyaan Mama tiba2 membuyarkan lamunanan ku.

“Gak pa2 kog Ma, Cuman Rendi ngarasa klo Mama gak kalah cantik ma temen2 cewek di kampus.” Gx mungkin gw bilang lagi bayangin ngeremes toketnya Mama.

“Haha, kamu ini bisa aja godain Mama. Mama kan sering Aerobik biar Mama sama Ayahmu tetep Harmonis.”

Pasti ini yang ngebuat Mama keliatan lebih muda. Gx mungkin ayah bakal cari wanita lain kalo istrinya kyak Mama ini. Akupun sebagai anak sampai gx tahan di buatnya.

“Mama mau tidur langsung, kamu ambilin air putih sama satu obat di dalam belanjaan tadi.”

“Siap. Laksanakan.”

Saat aku melewati Mama tercium aroma shampoo dari badannya.

Pasti Mama tadi mandi dulu pikirku.

Mama memang selalu menjaga kebersihan tubuhnya tapi itu malah membuatku penasaran dengan aroma asli dari tubuh Mamaku.

Membayangkan hal tersebut membuat Ko***l-ku semakin keras dan sakit rasanya.

“Ntar malem gw bakal Onani lagi sambil bayanganin Mama.” Langsung kupikirkan untuk melakukan Onani setelah Mama tdiur.

Gelas ku isi air setengah dan mengambil satu pil obat di dalam belanjaan. Saat itu kusadari bawah obat tersebut hamper mirip dengan obat tidur yang di gunakan oleh Rony. Menyadari hal itu, sebuah ide muncul di benakku.

“Kenapa aku gax coba saja dengan Mama.” Aku berpikir

“Lagian ngapain harus onani kalo bisa ngerasain langsung toket Mama yang besar.”

Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diri mengganti obat tadi dengan obat tidur.

“Ma ini o-obatnya.” Tangan dan suara ku agak gemetar saat memberikan obat dan air minum.

“Kamu kog agak aneh sih Ren.”

“Ini nih Ma, anginnya dingin banget bikin menggigil.”

“Angin apa, inikan di dalam rumah.”

“Gx tadi pas Rendi lagi di luar anginnya banter, dinginnya masih kerasa.” Balasku.

“Kamu ni aneh2 aja.”

Semoga Mama tidak merasa aneh dengan tingkah ku.

Jantungku semakin berdegup dengan cepat saat Mama mulai memasukkan ‘Obat’ kedalam mulutnya tanpa menyadari bahwa itu adalah obat tidur dan kemudian mulai meminum air putih digelas hingga habis.

“Hoammm.. Mama ke atas y Ren. Kamu jangan malem2, ntar kesiangan besok ada kuliah pagi kan?”

“Iy mah habis nonton acara ini Rendi tidur.” Aku merasa obat tersebut mulai bekerja.

Aku tak tau berapa lama sampai obat tersebut bekerja secara efektif. Jadi kuputuskan untuk menonton acara tv hingga selesai.

Rony mengatakan obat tersebut seharusnya dihaluskan terlebih dahulu dan dilarutkan kedalam air, tapi kuharap obat tersebut tetap bekerja.

Setengah jam berlalu dan kuputuskan untuk memasuki kamar Mama. Kunaiki tangga dan bersiap di depan pintu kamar Mama.

Jantungku terus berdetak dengan cepat, perasaan was2 dan menegangkan ini baru pertama kali kurasakan. Tanganku ku arahkan ke gagang pintu dan dapat kurasakan mulai mengeluarkan keringat dingin. Kuputar gagang pintu dan saat itu kusadari ada yang salah.

“Sialan, pake dikunci lagi kamar.” Pikir ku.

“Aduh udah tegang banget ni, masak sia-sia sih.”

Hati ku yang dongkol karena tidak dapat memenuhi angan-angan ku untuk melihat dan menyentuh tubuh indah Mama. Membuatku akhirnya mengurungkan niat ku dan menguburnya untuk sementara.

Aku yang jengkel akhirnya memutuskan untuk merokok di taman belakang sebelum kembali ke kamar dan menidurkan si Ko**ol yang sudah tersiksa ini.

Saat di taman saat aku mengeluarkan rokok dan menyalaknnya, pandanganku tertuju pada jendela kamar Mama yang terbuka dan lampu kamar yang masih menyala.

“Apa Mama belum tidur?.”

“Tidak, seharusnya obat tidur sudah bekerja dari tadi dan saat ini Mama pasti telah tertidur lelap. Karena terlalu mengantuk sampai lupa mematikan lampu.”

Sebuah ide kembali muncul di benakku.

“Kenapa aku harus menyerah sekarang, selalu ada jalan menuju Roma dan jendela itulah jalan menuju impian ku”.

Langsung ku buang rokok yang belum habis dan lari menuju gudang untuk mengambil tangga di sana. Setalh itu ku dirikan tepat di bawah jendela kamar Mama secara perlahan dan mulai naik. Saat kutengok melalui jendela, tampak Mama tergeletak di kasur dengan posisi tengkurap.

Aku mulai perlahan meamsuki jendala dan masuk ke dalam kamar. Gerakanku sangat perlahan dan hati-hati. Seakan-akan suara sekecil apa-pun dapat merobohkan rumah ini. Semakin diriku mendekati Mama semakin keras suara jantungku dan entah kenapa pendengaranku semakin tajam.

Kulihat wajah Mama yang cantik, lalu ku telusuri sekujur tubuh Mama yang berbalut baju tidur dan seketika si Ko**ol langsung tegang dan keras bukan main di buatnya. Aku merasa bisa langsung croot dengan hanya memandangi Mama saja.

Sekarang aku tepat berada di samping Mama. Aku ragu2 apakah Mama sudah terlelap atau belum. Kusentuh pundak Mama dan sedikit menggerakkannya. Namun Mama tidak merespon sama sekali.

Kusentuh lagi dan kugoyangkan tubuh mama serta kupanggil Mama.

“Ma.. Mama.”

Tampaknya Mama sudah sangat terlelap, tapi aku masih belum yakin. Aku takut bila Mama terbangun dan memergoki diriku yang sedang melakukan hal mesum pada dirinya. Lagipula bila Mama tidak menyadari niatku sebenarnya, ia juga pasti akan menayakan bagaimana aku bisa masuk ke dalam kamarnya. Pastinya aku akan mati kutu.

Jadi kuputuskan untuk mencari kunci kamar Mama dan membuka pintu kamar.

“Yosh.. jalur alternative sudah aman.” Pikirku.

Kudekati Mama dan sekali lagi memandang posisi tidurnya yang terlungkup. Niat awal ku hanyalah ingin melihat dan meremas dada montok Mama. Tapi dari posisi ini aku tidak dapat melihatnya, jadi kuputuskan untuk membalik tubuh Mama agar terlentang.

Namun ku urungkan niatku setelah melihat bokong Mama. Bokong yang bulat dapat terlihat walaupun terhalang celana tidur dan tampak samar terlihat celana dalam Mama. Tanganku yang gemetar akhirnya ku arahkan ke celana Mama dan sedikit demi sedikit kuturunkan hingga mencapai paha. Terlihat CD berwarna putih dengan sedikit renda di pinggirnya.

Walaupun masih terhalang dengan CD tapi sensai kenyal dan hangat dapat kurasakan melalui kulit tangan ku. Kemudian kuturunkan CD Mama dan Nampak bokong putih besar dan bulat tanpa cacat sedikit pun. Tanganku pun langsung meremasnya dan benar mantap saat itu.

Terlihat celah gundukan bokong menggoda Mama membuat rasa penasaranku untuk membuka dan melihat apa yang ada di balik lipatan tersebut. Tampak terlihat lubang anus Mama dan saat kubuka lebih lebar lagi terlihat lipatan yang merupakan lubang peranakan Mama. Pintu keluar dimana Aku dan adik2 ku di lahirkan.

Celana dan CD Mama yang tertahan dipaha membuatku tidak leluasa untuk melihat lebih jelas. Jika kuturunkan semua dan melepasnya maka aku sangat leluasa untuk menikmati pemandangan di depanku ini. Tapi aku cukup takut bila Mama akan terbangun dan aku tidak sempat memakaikannya kembali. Aktifitas menjelajahi bokong Mama membuatku lupa apakah Mama akan terbangun atau tidak.

Saat selesai melepasnya, kurentangkan kaki Mama lebih lebar dan sekarang terpampang dengan jelas dua lobang yang sangat menggiurkan. Kusentuh bibir vagina Mama dan dengan dua tangan kubuka meperlihatkan dengan jelas lubang yang Indah Mama. Di bagian atas vagina Mama terlihat sesuatu seperti kacang.

“Ini pasti yang dinamakan Clitoris.”

Kuberanikan diriku untuk memasukkan satu jari berlahan ke dalam lubang dimana aku pernah melewatinya. Terasa hangat, sempit dan sedikit berlendir membuat jantungku seakan mau capot. Diriku yang tidak tahan akhirnya melepas celana pendekku dan mengeluarkan SI Ko**ol yang semenjak tadi sudah sangat tersiksa.

Jariku yang entah mungkin insting alami, bergerak maju mundur dan mengorek vagina Mama sementara tangan kiri mengocok si K**tol. Sensasi Onani yang baru pertama kali kurasakan. Sesekali kulihat ekspresi Mama, namun tidak ada perubahan sama sekali. Obat ini memang sangat kuat tampaknya. Sensasi onani sambil mengocok vagina Mama terasa sangat hebat membuatku tidak tahan lagi.

“Ahhhhh… AHHHHHH Rendi udah gak kuat Maaaaaaaa… AHHHH”

Crrrooooootttt…

Pejuhku keluar sangat banyak dan menyemprot dengan dahsyat berkali-kali. Baru kali ini kursakan onani tedahsyat sampai ngilu dan kaki ku menegang. Tidak sampai lima menit sejak aku memulainya. Biasanya aku sangat kuat, entah kenapa pengalaman onani sambil kali ini benar-benar hebat.

Setelah si ko*t*l lemas aku langsung jatuh di samping Mama dan mengatur nafasku. Kemudian kudekatkan mulutku di telinga Mama.

“Ha ha ha, Bokong Mama bener mantap dan lubang memek Mama hangat dan rapet di jari Renda Ma.” Kubisakan perkataan ku di telinga Mama tidak peduli Mama mendengar perkataanku tidak..

Kulihat ceceran pejuhku berceceran di paha, pantat, punggung, rambut bahkan sampai ada yang mengenai wajah Mama. Aku belum pernah mengeluarkan peju sebanyak ini sebelumnya. Kulihat pula lelehan pejuhku yang mengalir di celah pantat Mama juga.

Kuambil HP ku dan ku foto sekujur tubuh Mama dimana pejuhku berada.

Cpret, Ckreck, ckreck.

Sangat banyak foto yang kuambil, dan senyum puas muncul saat aku melihat hasil ulahku.

Jam menunjukkan Jam 12 lebih dan aku sudah sangat lelah dan puas. Aku berniat untuk membersihkan semua pejuhku dan memakaikan pakaian Mama. Entah kenapa saat itu aku teringat akan ide pertama ku.

“Rendi Rendi, niat lo pertama kan pengen liat dan ngeremes dada montok besar punya Mama lo” seakan muncul bisikan memasuki telinganya.

“Masih jam 12, tampaknya waktu masih cukup lama.”

Kuputuskan untuk melanjutkan angan-angan ku dan mungkin mewujukan fantasy gila lainnya.

© 2022 - CeritaSeru.xyz