November 02, 2020
Penulis — jrjoker

MESIN PENGHAPUS MEMORI

Memori DUA

Seharian ku habiskan untuk berjalan menyusuri pinggiran desa, mengajak ngobrol penduduk desa yang kutemui, yang tinggal di sisi terluar desa itu. Beberapa mengenaliku sebagai keponakan Tante Ririn, membuat sesi wawancaraku lebih mudah. Dari penduduk desa yang aku ajak bicara, semuanya terkena dampak dari mesin penghapus memori.

Artinya, ingatan mereka tentang SEX hilang. Entah bagaimana, mesin itu berhasil bekerja sebelum kemudian rusak. Jika penduduk di pinggiran desa terkena dampaknya, maka, aku berani simpulkan mesin ini telah mempengaruhi seluruh penduduk di desa ini. Aku tersenyum puas. Sekali lagi percobaanku berhasil, meski masih banyak hal-hal yang perlu aku amati lebih lanjut.

Menjelang sore aku pulang ke rumah. Aku sempat mampir di peternakan Tante Ririn tapi tidak menemukan dia di sana,

_sudah pulang_batinku. Pikiranku kembali melayang kepergumulan kami tadi pagi. Ahh, libidoku jadi bangkit. Ku percepat langkahku.

_Semoga Tante Ririn mau aku ajak olahraga lagi nanti_harapku dalam hati.

Sesampainya di rumah, suasana sepi. Aku jadi bingung “Ke mana Tante Ririn?” tanyaku dalam hati.

“Tante?” panggilku begitu memasuki ruang tamu. Tidak ada jawaban. Aku juga tidak mendengar ada aktivitas di dapur. Tidak terdengar juga suara dari kamar mandi.

Aku berjalan menuju kamar Tante Ririn. Ku ketuk pintunya. Tidak ada respon, tapi, samar-samar aku dengar suara orang di dalam. Ku coba membuka pintunya, tidak dikunci. Begitu terbuka, aku langsung melongo melihat pemandangan di dalam kamar.

Tante Ririn terkulai lemas di atas kasur. Wajahnya pucat pasi, basah oleh keringat. Badanya menggigil, gemetaran. Rambutnya lepek tidak beraturan. Nafasnya terlihat sesak. Daster yang dia kenakan acak-acakan, terangkat bagian bawahnya hingga ke atas perut. Tidak ada celana dalam yang menutupi kemaluannya.

“Tante kenapa?!” tanyaku panik menghapirinya.

“Ikk.. koo,” katanya lirih.

Ku tarik tubuhnya supaya bisa duduk berseder di kepala tempat tidur. Kebetulan ada segelas air di meja kamar tidurnya. Aku ambil dan mencoba meminumkannya ke Tante Ririn, perlahan. Tante Ririn terbatuk kecil. Setelah memastikan Tante Ririn bisa ditinggal, aku ke dapur membikinkannya teh hangat. Ketika aku kembali kondisi Tante Ririn sudah sedikit lebih baik.

“Ada apa Tante?” tanyaku kembali masih bingung dengan keadaan Tante Ririn.

Tante Ririn kemudian bercerita. Setelah pertempuran kami tadi pagi, dia terbangun sekitar pukul sepuluh. Sudah terlalu siang baginya. Dia sebenarnya hendak membersihkan badan dan segera berangkat ke peternakan. Namun ketika mengingat kejadian dengan ku, nafsunya langsung meninggi. Nalurinya mengajarinya untuk memuaskan nafsunya sendiri, masturbasi.

Dia mencapai klimaks berkali-kali hingga kelelahan dan nafsunya mereda sejenak, namun tidak lama, nafsunya kembali memuncak setiap kali dia terbayang kenikmatan yang diperolehnya. Dia tidak dapat menahannya. Tangannya kembali menyetubuhi dirinya hingga meraih puncak kenikmatan. Dan terus berulang. Tepat sesaat sebelum aku masuk kamar, dia mendapatkan orgasmenya yang ke-27.

“TANNTEEEE!!” kataku gak habis pikir sambil menepuk jidat setelah mendengar ceritanya.

Tante Ririn hanya terkekeh lemah, “Tante, lemas sekali,” jawabnya.

Tentu saja! jawabku dalam hati.

Akhirnya ku batalkan niatku untuk mengajaknya berolahraga. Sepanjang sore hingga malam ku habiskan waktuku untuk membantu Tante Ririn memulihkan staminanya. Sebisa mungkin aku menghindari untuk melakukan hal-hal yang mungkin bisa membangkitkan nafsunya. Aku mencoba mengalihkan pikirannya dari semua hal yang berbau SEX.

Keesokan harinya, Tante Ririn mengeluh karena merasa perih di vaginanya. Aku meyakinkan dia bahwa itu suatu hal yang normal. Hari itu, Tante Ririn menghabiskan waktunya di peternakan. Sedangkan, aku menyibukkan diri mengutak-atik mesin penghapus memoriku untuk melihat kerusakan yang terjadi. Kami kembali bertemu ketika makan malam.

Sebenarnya setelah makan malam Tante Ririn mengajakku untuk berolahraga, tapi aku menolaknya, aku beri dia pengertian. Bukannya tidak mau, tentu saja itu yang aku tunggu-tunggu, tapi aku sengaja menunggu staminanya pulih 100%. Kujanjikan menenmaninya olahraga besok pagi. Terlihat raut kekecewaan di wajah Tante Ririn, tetapi dia mengerti.

“Tante, olahraga SEX sebenernya juga mirip dengan olahraga pertandingan lainya seperti sepak bola atau basket.”

Tante Ririn khusuk menyimak.

“Kita bertanding. Masing-masing orang berusaha meraih skor dengan cara memuaskan pasangannya. Yang paling banyak mendapat skor, dia yang menang.”

Tante Ririn mengangguk-angguk paham.

Malam itu, seperti malam sebelumnya aku habiskan untuk memberikan pengetahuan SEX kepada Tante Ririn. Aku berikan informasi-informasi yang sekiranya dapat menguntungkanku, untuk tetap dapat menikmati tubuh indah Tante Ririn. Selain itu, aku juga berikan informasi untuk menyiapkan Tante Ririn ketika bertemu dengan Om Jono supaya nanti Om Jono tidak terlalu curiga.

Paginya Tante Ririn terlihat segar. Dia menyapaku riang, khas Tante Ririn. Senyum cerianya membuatku jatuh cinta. Entahlah ini cinta atau nafsu belaka, aku tidak peduli. Kami menghabiskan sarapan sambil bercerita, mengenai apapun.

“Err… kita awali pagi ini dengan olahraga, Tante?” kataku setelah suapan terakhir roti bakar coklat keju bikinan Tante Ririn.

Tante Ririn mengangguk tersenyum, “Yuk, Tante membersihkan ini dulu ya,” katanya menunjuk gelas dan piring kotor bekas sarapan kami.

Tante Ririn mengangkat gelas dan piring kotor ke dapur. Aku membantu membersihkan dan membereskan meja makan. Setelah selesai aku menyusul Tante Ririn ke dapur. Saat aku sampai dapur, Tante Ririn baru saja selesai mencuci gelas terakhir. Aku langsung memeluknya dari belakang. Tante Ririn kaget.

“Iko!” ucapnya kesal.

“Apaan sih, Tante,” jawabku tak merasa bersalah.

“Kenapa sih peluk-peluk Tante, buat kaget saja,” protesnya.

“Katanya mau olahraga?”

“Tante kan belum siap.”

Aku usap-usap perut Tante Ririn dari luar pakaian yang dia kenakan, kemudian jariku meluncur ke bawah hingga selangkangannya, aku colek lubang vaginanya.

“Eghh,” Tante Ririn terpekik, kaki Tante Ririn bergoyang.

“Oh iya belum basah,” kataku sambil nyengir.

Tante Ririn merengut, dia melepas pelukkanku sambil memukul ringan dadaku.

“Yuk ah, keburu siang, Tante mau ke peternakan,” katanya sambil berjalan ke arah kamar.

“Siap!” aku berjalan mengikutinya.

Tidak seperti waktu pertama kali, kali ini Tante Ririn sudah lebih rileks. Sampai di kamar, Tante Ririn inisiatif membuka pakaian terlebih dulu. Aku tersenyum, langsung ku lepas seluruh bajuku juga.

“Kosong-kosong, Tante,” langsung saja kutubruk tubuh bugil Tante Ririn, badan kami terhempas ke kasur. Bibirnya ku lumat, tubuhnya aku gerayangi.

Tante Ririn gelagapan, meronta-ronta, dia mendorongku, “Asal tubruk saja sih!” protesnya.

Aku tersenyum, “Ini kan pertandingan,” belaku.

“Ohh… begitu ya,” balasnya, jiwa kompetitifnya terbakar. Tante Ririn bergerak cepat mendorong dan berbalik menindih tubuhku. Untuk ukuran perempuan seusianya gerakkan Tante Ririn cukup gesit. Aku yang tidak siap dengan mudah dibalik Tante Ririn, kini dia berada di atasku.

Tante Ririn dengan buas melumat bibirku, lidahku disedot-sedot. Tangan kirinya meremas-remas rambutku. Tangan kanannya dengan cepat sudah hinggap di burungku dan meremas-remasnya kasar.

“Ahhghhh,” aku mendesah antara nyeri dan nikmat. Aku hanya diam saja pasrah terbuai kenikmatan. Tubuhku merinding merasakan gesekan-gesekan puting Tante Ririn di dadaku. Dalam waktu singkat nafsuku sudah mencapai batas atas, burungku sudah sangat keras.

Tangan kanan Tante Ririn kini mengocok batang keperkasaanku dengan cepat. Tidak mendapatkan respon dari ku, dia refleks menggesek-gesekkan vaginanya di pahaku. Aku merasakan cairan cinta sudah membasahi bibir bawahnya. Tante Ririn melepas ciumannya, aku menarik nafas panjang. Bibir Tante Ririn bergerak menelusuri leherku, mencumbunya diselingi dengan jilatan sporadis lidahnya.

“Uuuuhhh… Tante… ahhh… aahh,” aku tak bisa berhenti mendesah.

Cumbuan Tante Ririn turun, putingku kini menjadi bulan-bulanan, yang satu dipilin-pilin oleh jarinya, yang lainnya dia sesap dengan mulutnya, bergantian. Tangan kanan Tante Ririn masih belum berhenti mengocok burungku. Sedikit cairan sudah meleleh dari ujung burungku yang langsung saja diusap oleh jempol Tante Ririn yang kemudian menari-nari di ujung kepala kontolku.

“Ahhh… ahhh… aaah.” Suara desahanku memenuhi ruangan diselingi bunyi becek vagina Tante Ririn dan bunyi sesapan mulutnya di putingku.

Tidak ada sedikitpun dari tubuhku yang bisa menahan gelombang kenikmatan ini. Aku pasrah, bahkan tak kuasa membuka mata, hanyut dalam permainan Tante Ririn. Rangsangan demi rangsangan dari Tante Ririn datang bertubi-tubi menggempurku. Tubuhku tidak kuasa melawan, hanya rela untuk terus dihantam, dihatam, dan dihantam oleh kenikmatan ini.

“Ohhghhhh!” Aku melenguh tertahan, badanku membusung. Kenikmatan luar biasa aku rasakan di pangkal pahaku.

Burungku terasa lembab, dibelut dengan benda lunak yang menyelimuti dan membelai-belai setiap mili bagian burungku. Aku membuka mata karena penasaran. Tante Ririn sudah berada di bawah, melirikku usil. Seluruh batang pusakaku lenyap, tenggelam dalam mulutnya. Bulu kemaluanku yang lebat tampak merapat di bibir Tante Ririn.

“Akhhhh… eghhhh.” Ku rasakan lidah Tante Ririn menggelitik burungku. Tangannya tak tinggal diam, sibuk meremas-remas buah zakarku. Kepalanya mulai bergerak maju-mundur, menyetubuhiku burungku, “Aahhh… aahh… ahh… aaahh.” Aku sudah tidak tahan lagi.

Melihatku kewalahan, Tante Ririn semakin semangat meningkatkan serangannya. Kepalanya bergerak semakin cepat maju-mundur. Mulutnya semakin lincah menyetubuhi batang keperkasaanku. Lidahnya tak henti-hentinya menambahkan cambukan-cambukan kenikmatan di pusakakku. Tante Ririn juga menambahkan sedotan-sedotan kuat yang menarik paksa air maniku untuk keluar dari wadahnya.

Serangan Tante Ririn sangat efisien dan efektif. Kurang dari 60 detik sejak dia menyesap batangku, ketika Tante Ririn melahap penuh burungku, aku menahan kepalanya. Kuhujamkan dalam-dalam burungku ke mulutnya. “ARGGHHHHHHHH!!!” Tubuhku kaku.

Crot crot crot, semburan deras spermaku memberondong tenggorokan Tante Ririn, membanjiri mulutnya.

“EGHHUGHHH!” Tante Ririn meronta-ronta. Tangannya menarik-narik tangaku untuk melepaskan kepalanya. Tidak berhasil. Dia memukul-mukul tubuhku. Aku tidak peduli. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Hanya mengikuti nafsuku.

Ketika tubuhku melemah, Tante Ririn berhasil menarik kepalanya. Tepat ketika burungku lepas dari mulutnya, aku kembali menyemburkan mani.

Crot crot. Dua tembakan lemah mengenai mukanya.

“Ughh… ughhuk… hughh.” Tante Ririn terbatuk-batuk parah. Dia mencoba meludahkan cairan dimulutnya. Matanya merah berair.

Aku tersadar, segera membantunya. Kutepuk-tepuk punggungnya. Tante Ririn mendorongku menjauh. Sial! Aku terbawa suasana hingga tidak mempedulikan Tante Ririn dan kelihatannya sekarang dia sangat marah.

Hampir saja aku membuat pertandingan pagi itu selesai di situ. Butuh beberapa saat untuk membujuk dan menenangkan Tante Ririn.

“Itu bagian dari strategi, Tante,” kataku memberi pengertian setelah emosi Tante Ririn mereda, “Lagian cairan sperma ini juga bagus buat tubuh, mengandung banyak protein, dan dapat mengencangkan kulit muka,” tambahku asal.

Setelah satu-dua kalimat lagi, akhirnya aku bisa menenangkan Tante Ririn. Aku sedikit lega.

“1-0!” kata Tante Ririn ketus.

“Huhh!” kataku pura-pura kesal, “Ngomong-ngomong Tante Ririn kok tiba-tiba bisa jadi kayak atlet pro gitu sih?”

“Kan Tante belajar dari video yang kamu berikan kemarin,” kata Tante Ririn nyengir.

“Ouww.” Aku menjadi paham, kemarin memang aku mengirim video bokep ke Tante Ririn, untuk dipelajari, dengan syarat dia tidak boleh berolahraga sendiri seperti sebelumnya. Dan inilah hasilnya. “Ok, tunggu pembalasan Iko.”

Aku langsung menarik dan menelentangkan Tante Ririn di tempat tidur. Lubang surgawinya langsung menjadi sasaranku. Mulutku dengan cepat menyesap klitoris Tante Ririn. Dua jariku dengan sigap menyelusup ke liang vaginanya, masih basah. Jariku bergerak keluar masuk dengan lancar. Tidak butuh waktu lama lubang kenikmatan itu sudah menjadi sangat becek.

“Ahhh… ahhh… aghhh.” Tante Ririn mendesah sambil meremas-remas rambutku.

Itil Tante Ririn menegang merah. Aku gigit-gigit kecil, aku tekan-tekan dengan jempolku, dan jariku yang lain masih asyik menyetubuhi vaginanya. Kurasakan lubang nikmatnya menyempit, meremas-remas jariku. Aku yakin Tante Ririn tidak akan bertahan lama.

“Ohh… Iko… enakk… ahhrgg.” Aku tau Tante Ririn akan mencapai klimaksnya, maka aku percepat gerakan jariku keluar masuk di liang vaginanya. Mulut dan lidahku bermain semakin liar.

Gilanya, Tante Ririn ternyata sengaja menahan-nahan agar tidak orgasme. Aku jadi semakin tertantang mengerjainya dan semakin aku menyerang, semakin Tante Ririn berusaha keras membendung gelombang klimaksnya. Aku akhirnya kewalahan, tanganku sampai pegal, dan jariku kriput penuh dengan cairan cintanya.

“Eghhhh!” Tante Ririn melenguh nikmat ketika aku menarik keluar jariku dari vaginanya, pantatnya secara refleks diangkat mengejar jariku yang lepas dari sarangnya. Raut muka Tante Ririn antara kecewa dan lega.

“Ahha… ahh… ahhh.” Tante Ririn mencoba mengendalikan nafasnya.

Aku tak meberikan waktu untuknya. Tubuhnya kubalik dan kutarik ke pinggiran tampat tidur hingga dia siap dalam posisi doggy style. Kontolku yang sudah mengeras langsung aku sarangkan ke vagina Tante Ririn.

“AAAGHHHHH!” Tante Ririn teriak demi merasakan kenikmatan yang memenuhi vaginanya.

Aku langsung mengerakkan pinggulku maju mundur. Setiap kali, kutusukkan hingga ujung kontolku melesak jauh ke dalam. Kuangkat sedikit ke atas tubuh Tante Ririn sehingga dia bertumpu dengan tangannya. Payudaranya mengayun-ayun indah mengikuti gerakan kami. Tanganku langsung sibuk mengerjainya. Kuremas-remas kasar, kupilin-pilin putingnya yang sudah menegang keras.

“Uhh… ohhh… oohhh… oghh.” Tante Ririn mendesah nikmat masih belum mau menyerah.

Kepalaku bergerak menyusuri tangkuk Tante Ririn, ku hirup aroma wangi tubuhnya. Kucium tengkuknya, bibirku meluncur hingga kebelakang kepalanya, dan menyusur ke telinganya.

“Ayo Tante, gak usah ditahan-tahan,” bisikku kepadanya, “Tante gak pengen merasakan puncak kenikmatan?” godaku.

“Eghhh… ehh… ahh.” Tante Ririn masih berusaha bertahan.

Seluruh badanku ku gunakan untuk meningkatkan rangsangan ke tubuh Tante Ririn. Vaginanya terasa semakin kuat mencengkram dan meremas burungku tapi Tante Ririn masih keras kepala bertahan. Ku tingkatkan kecepatan sodokanku hingga maksimal, dengan kecapatan seperti ini staminaku akan langsung terkuras habis.

Mendapat serangan seperti itu tubuh Tante Ririn bergerak liar. “AGHH… AHHH… AKHH” Tante Ririn mendesah keras tidak kuasa menahan kenikmatan.

Staminaku hampir habis ketika tiba-tiba pertahanan Tante Ririn jebol, “OOGHHHHHHEGEEEHHH!” Tubuh Tante Ririn kaku sejenak kemudian bergetar hebat. Sepertinya dia baru dihajar dengan gelombang kenikmatan yang maha dahsyat.

Staminaku seperti mendapat booster, aku tidak berhenti dan terus menyetubuhi Tante Ririn dengan kecepatan yang bahkan semakin cepat. Tangan Tante Ririn meraih-raih kebelakang menepuk pahaku menyuruhku berhenti. Tante Ririn tak sanggup menerima guyuran kenikmatan yang datang bak air bah. Mulut Tante Ririn megap-megap tapi tidak ada suara yang keluar.

“Satu sama, Tante,” bisikku di telinga Tante Ririn masih terengah-engah.

Tante Ririn tidak menjawab hanya terdengar engahan nafasnya cepat.

Tidak lama, setelah aku bisa mengendalikan nafasku, aku balik tubuh Tante Ririn dengan burungku masih kubiarkan menancap di vaginanya yang sekarang basah kuyup akibat luapan cairan cintanya hingga menciptakan genangan di kasur. Tante Ririn masih memejamkan matanya, terengah-engah belum bisa mengendalikan nafasnya.

Aku kembali menggoyangkan pinggulku. Tante Ririn kaget tangannya langsung mencengkeram pergelangan tanganku kuat.

“Been… tarr, I… ko,” ucapnya tidak jelas.

Aku tidak peduli, justru kupercepat goyangan pinggulku.

“Eghhh… aghhh… akkhhh.” Tante Ririn mendesah lemah karena tenaganya sudah terkuras habis. Kepala Tante Ririn mendongak, mukanya mengernyit sensual.

Sungguh sangat sensual dan sangat membuat nafsu siapapun yang melihatnya, membuat semangatku semakin berkobar untuk menyetubuhi Tante Ririn habis-habisan.

“Ikoo… aghh… akhhh,” rintih Tante Ririn lemah.

“Nikmatin aja, Tante,” balasku sambil terus menggagahi tubuh lemah Tante Ririn.

Tidak sampai hitungan menit, tubuh Tante Ririn kembali mengejang kuat.

“Ikkoo… iko… AGGHHH… AKHHH… AHHH… AHHH… AAAGGHHHHH!” Tante Ririn kembali meronta-ronta liar dihantam gelombang orgasme lagi.

Aku tidak menduga Tante Ririn akan mendapat orgasme kembali secepat itu. Hal itu justru membuat libidoku seperti dipompa masuk ke dalam tubuhku secara besar-besaran. Aku menghujamkan burungku semakin dalam dan semakin cepat. Tubuh Tante Ririn melemas sejenak, kemudian tiba-tiba dia meringis sambil mengangkat pantatnya ke arahku.

“OOOGHHHHHH… EGHHHKKK… AGGGHHHHH!” Tante Ririn teriak dengan sisa-sisa tenaganya, gelombang orgasme berikutnya kembali menghantam.

Kali aku sedikit kewalahan, karena tiba-tiba aku rasakan burungku seperti diremas sangat kencang oleh vagina Tante Ririn. Tiba-tiba ada sedotan sangan kuat di burungku menyelusup masuk ke lubang burungku menarik paksa cairan kental di dalam untuk keluar hingga buah zakarku kaku, mengkerut. Bahkan aku sedikit kesulitan menarik batangku ke luar, namun ketika aku menghujamkan kembali batangku ke liang vaginan Tante Ririn rasanya bagai ditarik oleh gaya yang sangat besar.

Aku pun akhirnya tak kuasa, “Tanntee… keluarr!! AGHHH… AGHH… AGHHH!” SROOTT SROTT SROOT. Cairan maniku tidak terasa seperti menyemprot tapi seperti disedot dengan pompa terkuat. Alirannya terasa kuat mengalir dari pabriknya, mengalir cepat, memberikan sensai nikmat disetiap saluran yang dilaluinya dan begitu keluar langsung tersedot masuk ke dalam rahim Tante Ririn.

Tidak berhenti disitu, kenikmatan itu terus berlanjut bahkan ketika aku merasakan sudah tidak ada lagi cairan sperma yang keluar, vagina Tante Ririn terus meremas-remas dan menyedot-nyedot burungku dengan sangan kuat dan puncaknya Tante Ririn kembali melengking membusungkuan tubuhnya.

“OOGHHHH… OOGGGHHHH… EGHHHH!!” Tante Ririn kembali dilanda gelombang kenikmatan.

Akhirnya kami berdua ambruk terengah-engah badan kami basah kuyup oleh keringat. Untuk beberapa saat kamar Tante Ririn hanya dipenuhi oleh suara engahan nafas kami. Ketika aku merasakan ada sedikit tenaga ku cabut burungku dari vagina Tante Ririn kemudian menghempaskan tubuhku disamping Tante Ririn.

Untungnya kami masih punya sisa tenaga untuk menjalani hari itu. Setelah membersihkan diri dan berbenah, Tante Ririn bersiap berangkat ke peternakan dan aku tetap di rumah tapi banyak hal yang harus aku kerjakan.

“Iko, lain kali kalo mau olahraga jangan pagi-pagi deh. Tante capai sekali, Tante takut sudah tidak kuat melakukan apa-apa lagi,” usul Tante Ririn sesaat sebelum keluar rumah.

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.

§​

© 2022 - CeritaSeru.xyz