November 01, 2020
Penulis — sabrinamahdewi

Mengintip Mama

Terlambat Sekolah

Sial sekali nasibku hari ini, aku terlambat datang ke sekolah. Aturan yang berlaku di sekolahku melarang siswa yang terlambat masuk ke kelas sebelum jam ke 2 dimulai. Sebagai gantinya siswa yang terlambat harus menjalani hukuman mengumpulkan sampah sebanyak satu kantong kresek ukuran sedang dan mencaputi rumput liar yang tumbuh di pekarangan sekolah.

Karena keterlambatan ini adalah pengalaman pertama sejak 3 bulan menduduki bangku SMP ini, aku merasa takut. Aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Bukan hukuman yang diberikan sekolah atas keterlambatanku yang aku takuti, melainkan petugas piket yang galak, petugas tersebut adalah ibu guru matematika yang terkenal pemarah dan menambah hukuman siswa atas kesalahan yang dilakukan dengan hal-hal yang memalukan.

Aku tidak termasuk anak bandel, nakal, pemalas di sekolah. Aku tergolong anak bisaa, tidak terlalu pintar, rajin dan mencolok di kelas. Karena hal inilah membuatku takut untuk menuju gerbang sekolah. Karena begitu petugas piket melihatku aku akan segera dikenai hukuman.

Sebab itulah aku kembali pulang ke rumah.

Rumahku berjarak sekitar 2 km dari sekolah, aku berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki. Sayang sekali aku terlambat berangkat hari ini karena aku mulai merasakan kebisaaan aneh. Mungkin ini adalah efek deri pubertas yang mulai mendatangi masa remajaku. Tadi pagi aku mandi terlalu lama, bisaanya aku mandi dengan cepat.

Mohon maaf karena aku tinggal di desa dan rumahku tidak memiliki kamar mandi aku mandi di sungai dibelakang rumah. Yang membuat aku mandi lama adalah aku tertegun saat melihat ibuku yang ikut mandi bersamaku. Sebelumnya aku memang mandi bersama ibuku, hanya saja semenjak kelas 6 SD, aku malu karena menjadi olokan untukku oleh teman-temanku.

Aku tertegun, bingung dan merasa ada yang lain saat melihat tubuh ibuku polos di hadapanku, walaupun hanya ibuku memunggungiku dan hanya terlihat ibuku dengan posisi jongkok dan membelakangiku mungkin karena menganggap aku sudah cukup dewasa. Aku hanya bermenung-menung tanpa sadaar kalo kontolku telah berdiri tegang.

Begitu ibuku selesai mandi dan memakai handuk ibuku menolehku dan menyuruhku agar cepat mandinya. Joni cepetan mandinya nati terlambat?. Ya bu.. Ibu duluan ya! Selepas kepergian ibuku aku terus terbayang sampai aku mandi karena takut terlambat. Dan ternyata aku memang terlambat, sial!.

Dalam perjalanan pulang saat inipun masih terbayang tubuh ibuku walaupun hanya tampak dari punggung. Sudah lama sekali rasanya, ibuku yang baru berumur 32 tahun masih memiliki body yang aduhai seperti CJ Parker tokoh Baywatch idolaku. Tapi yang jelas hanya bayangan punggung ibuku, karena bagian depan sudah lama tidak kulihat.

Aku tinggal berdua dengan ibuku, ibuku menikah 13 tahun yang lalu dengan ayahku seorang sopir truk. Tiga tahun yang lalu ayahku meninggalkan kami karena telah menikah dengan wanita lain diseberang pulau, tinggallah aku dan ibuku. Ibuku menghidupiku dengan usaha cuci baju.

Beruntung di dekat rumah kami ada kompleks perumahan, ibuku menerima cucian dari warga perumahan tersebut yang rata-rata adalah pendatang yang merupakan pekerja sibuk.

Ibuku mencuci pakaian tersebut di sungai belakang rumahku pada pagi hari di tempat aku dan ibuku mandi tadi pagi. Keaadaannnya cukup tertutup karena berada di belakang rumah, dan antara tebing yang penuh semak belukar yang tingginya sekitar 2 meteran diseberang sungai yang lebarnya hanya sekitar 2 meteran juga dan kedalaman sekitar 1 meteran, memiliki air yang jernih dan arus yang tidak terlalu deras.

Aku pikir ini adalah kesempatanku untuk menyelinap ke rumah agar ibuku tidak mengetahui aku tidak masuk sekolah. Aku berniat berdiam diri dikamarku agar tidak diketahui ibu. Karena ibuku bisaanya seteleh mencuci mengentarkan cucian yang telah selesai ke pemesan sebelum aku pulang. Aku pulang sekitar pukul 2.00 siang dan ibuku bisanya pulang saat jan 2.30 dimana aku lebih dulu sampai di rumah, aku juga tidak tahu kapan ibu pergi mengantar cucian, karena ibuku bisaanya hanya bekerja dari senin sampai sabtu dan hari minggu ibuku bisaanya jualan pagi hari di lapangan dekat rumah. Sedangkan aku sekolah dari senin sampai sabtu.

Aku terpaksa lewat belakang, karena ternyata pintu depan terkunci dari belakang. Aku mengendap-endap agar tidak diketahui ibu yang sedang mencuci di sungai, karena sudah pasti ibuku mencuci saat pintu depan di kunci dari dalam.

Tapi dari seberang di dekat tebing depan sungai tempat ibu mencuci terlihat tebing penuh semak, aku tidak bisa melihat ke arah sungai karena posisi sungai jauh berada di bawah, jika aku lewat terus ke samping rumah aku akan berada pas di tempat aku mandi bisaanya, Tapi sebelum sampai aku mendengar suara seperti ibu yang sedang mencuci.

Saat aku berada di dekat tebing aku melihat ada dua anak SMP sebaya denganku. Aku tidak mengenal mereka, hanya saja dilihat dari seragam mereka sekolah di SMP yang berjarak sekitar 100m dari SMPku. Mereka terlihat asyik merumput di semak. Aku penasaran ingin tahu apa yang mereka lakukan.

Hai! Sahutku pelan kepada mereka. Mereka berpaling terkejut dan menaruh jari telunjuk di mulut. Sssttt.. diam mau liat ga?? Tapi diam aja! kata salah satunya. Akupun menurut dan ikut menunduk dan mengarahkan pandangan ke arah yang mereka lihat.

Wow! Sungguh sangat mengejutkan aku melihat ibuku mencuci di sungai tanpa menggunakan sehelai benangpun, alias bugil. Aku baru tahu ternyata selama ini ibuku mencuci baju pesanan tersebut telanjang di sungai. Dan tidak seperti tadi pagi, kali ini terlihat ibu duduk menyamping sambil mencuci, terlihat buah dada ibu yang menggantung bergoyang mengikuti irama tubuhnya yang sedang mencuci.

Sekali-kali ibu berbalik ke arah kami, atau sungai tepatnya untuk mencelupkan kain. Sungguh pemandangan yang menakjubkan, dada ibu yang masih terlihat kencang dan besar dengan kulit yang kecoklatan dan berkilau karena basah dan diterpa oleh cahaya matahari. Tetesan keringat yang mengalir dari kening, mengucur ke leher, hingga ke dada, dimana terdapat dua buah dada yang menggantung dengan puting yang berwarna agak gelap kecokelatan dengan ukuran sebesar puntung rokok dan kira-kira sepanjang 1 cm dan warna kecokelatan yang mengelilingi puting tersebut.

Mantaph khan?? kata salah satu anak tadi. Akupun sadar, dan mau marah karena yang mereka intip adalah ibuku, tapi aku tahan dulu, entah kenapa aku merasa ini sangat memuaskan. Hai liat nich?? Mereka mengeluarkan cairan putih dari kontol mereka, akupun terkejut kenapa pipis mereka seperti ini.

LO kok pipisnya putih??? Emang kamu ga tau ini apa?? Tidak jawabku. kamu keluarin dech burungmu lalu pegang dengan tangan kanan tarik naik turun seperti ini! kata salah satu anak sambil mempraktekkan. Akupun mencoba melakukannya dengan kontolku yang tegang sambil melihat adegan ibuku mencuci bugil, semakin lama tangan akupun semakin kencang karena terasa begitu nikmat, sekitar 5 menit kemudian akupun mengeluarkan cairan putih seperti mereka tadi.

Lalu akupun bersama mereka terus memperhatikan ibuku yang mecuci sampai dia selesai dan mulai menjemur pakaian ternyata ibuku juga melakukannya tanpa handuk, tetap bugil sampai ibu masuk ke rumah.

Setelah itu kamipun saling berkenalan, yang sama tinggi denganku sekitar 140cm namanya Bayu, dan satu lagi lebih pendek dariku sekitar 130 cm namanya Dani. Setelah berkenalan aku lega mereka rumahnya jauh dari sini, butuh naik angkutan umum dua kali nyambung dari rumahku, akupun juga mengaku kalo rumahku jauh juga, memalukan sekali jika mereka tahu yang mereka intip adalah ibuku.

Ternyata mereka sudah empat hari ini tidak masuk sekolah karena 4 hari yang lalu mereka juga sama terlambat sepertiku, karena takut dihukum dan takut untuk pulang ke rumah, mereka main berputar-putar saja keliling-keliling hingga menemukan tontonan gratis ibuku yang mencuci bugil katanya. Dan 3 hari berikutnya sampai sekarang mereka memang sengaja tidak masuk sekolah karena ketagihan.

Dan syukurlah ternyata yang mengetahui tontonan gratis tersebut baru mereka berdua, mereka belum bercerita ke teman-temannya karena belum masuk sekolah dan bertemu teman satu sekolah selama 4 hari terakhir ini. Karena terus terang aku juga tidak rela ibuku jadi tontonan banyak orang, akupun berdalih kepada Bayu dan Dani agar hal ini dirahasiakan, dengan alasan mumpung gratis mending kita aja yang tahu siapa tahu nanti dapat lebih, kataku.

Bayu: iya aku jadi ingin ngentot sama tuch tante, syukur-syukur bisa!

Dani: boleh juga tuch, kita mesti mikirin strategi agar bisa ngentot sama tuch tante, bosan juga kalo Cuma bisa ngocok, aku pengen meremas toket tante tuh, diisep..

Bayu: memeknya juga bagus, tapi baru keliatan bulu.. hahahaha

Karena aku tidak tahu apa itu ngentot aku Cuma diam, dan ikut mengiyakan biar tidak dibilang katro dan ketahuan kalo aku bukan berasal dari daerah yang cukup maju tapi dari desa ini.

Selanjutnya sekitar pukul 11.30 kamipun beranjak dari tebing itu dan berpisah di tepi jalan saat mereka naik angkutan umum dan aku berdalih berlawanan arah. Akupun pulang dan begitu lewat pintu depan sudah bisa dibuka dengan kunciku karena ibu sudah pergi. Karena lelah akupun langsung tertidur.

Sekitar pukul 4 sore ibuku membangunkanku karena Rudi temanku datang ke rumah mengajakku main bola. Aku keluar den beruntung Rudi tidak bicara dengan ibuku kalo aku tidak masuk sekolah, ya karena Rudi satu sekolah dan sekelas denganku sejak SD hingga sekarang. Aku keluar dengan Rudi dan minta Rudi untuk merahasiakan aku tidak masuk sekolah.

Saat main bola aku merasa bosan, pikiranku hanya terbayang kejadian saat ibu mencuci bugil. Tiba-tiba terlintas dibenakku kalo ibu biasanya akan mandi sore tidak lama lagi. Aku membuat alasan dan pulang ke rumah.

Beruntung aku pulang dalam keadaan dekil, penuh keringat. Ibuku menyruh aku mandi segera. Karena melihat ibuku belum bersiap untuk mandi aku berdalih untuk rebahan dulu dan menunggu dengan sabar saat ibuku akan mandi.

Sekitar pukul 6 sore ibukupun bersiap-siap mau mandi. Aku bergegas mendahului agar ibuku tidak berprasangka buruk. Beruntung ibuku juga ikut mandi tanpa rasa curiga. Seperti biasa aku mandi bugil dan menceburkan diri ke sungai, ibuku juga telanjang bulat seperti biasa, hanya saja kali ini berdua denganku di sungai.

Ibu: Tumben jon, kamu mau mandi lagi sama ibu, ga malu diliat teman??

Aku pura-pura marah, aku duluan kesini ibu, ibu malu-maluin saja. Dan ibuku dengan santai berdiri dan senyum, terlihat jelas pemandangan indah dari dekat memek ibuku segaris mulus bermahkotakan bulu yang layu basah oleh air karena ibuku berdiri tepat di kepalaku. Dada yang indah terlihat lebih jelas, ternyata ukurannya selebar hampir dua kali ukuran lebar botol AQ*A satu liter.

Puting yang menonjol sebesar puntung rokok, dan ternyata panjangnya dari posisi sekarang lebih dari 1 cm, dan dilingkari oleh warna kecokelatan seluas 5 sampai 7 cm.

Ibuku mengambil sabun dan menyabuni dadanya, putaran tangan di dadanya di depanku membuat aku terpana dan kontolku semakin tegang, beruntung tertutup oleh air sungai. Ibuku cuek tanpa memperhatikan aku. Ibuku menyabuni tubuhnya sambil bercerita denganku. Joni sekarang udah semakin besar, ibu kangen bersama-sama dengan joni lagi, bisa mandi bersama lagi sini ibu mandiin.

Akupun terkejut, bukan karena ibu mau memandikan ku, tapi karena kontolku masih tegang. Aku panik, tapi ibu menarikku dan menyabuni kepalaku, aku menunduk dan terus mempertahankan posisi kontolku tetap di dalam air. Ibuku mendekatkan kepalaku ke dadanya membuat mukaku bersentuhan dengan dada ibuku, semakin dekat semakin jelas, napasku tak karuan, saat akan beralih ke bagian lain aku memalingkan badanku membelakangi ibuku.

Spontan ibuku menyabuni punggunggku, kali ini aku duduk di samping sungai dan ibuku di belakang menyabuni punggungku. Aku semakin gelisah karena kontolku semakin tegang. Karena gemataran ibuku bertanya apakah aku kedinginan, aku tak sengaja menjawab kontolku tegang bu..

Ibuku terkejut dan berhenti sejenak, dan lalu berkata, itu tandanya kamu sudah mulai dewasa nak. Kenapa begitu bu kataku spontan. Coba balik kesini kata ibuku. Aku berdiri dan kontolku tepat berada di depan wajah ibuku. Ibuku terkejut melihat kontolku yang tegang dan membesar dengan ukuran panjang sekitar 12 cm dan lebar sekitar 4 cm.

Aku malu karena dalam benakku ibu pasti mengira aku bernafsu dengannya sehingga kontolku tegang. Dan semakin tegang dengan pemandangan tubuh ibuku yang telanjang. Tapi ibu dengan santai menyabuniku sambil berdiri. Terlihat jelas lagi tubuh ibuku dengan kulit sawo matang, dada yang berbusa sabun, memek yang indah dengan bulu layu karena basah, dan ibuku memang agak sedikit semok, terlihat dari ukuran pipi yang agak tembem, pantat yang besar, bahu lebar dan perut yang agak sedikit buncit sekitar 10 cm menonjol ke depan tetapi terlihat sempurna dengan ukuran payudara selebar dua kali ukuran AQ*A satu liter dan tinggi ibu sekitar 170cm lebih tinggi dariku yang hanya 140 cm.

Saat ibuku menyabuni kontolku yang tegang, tak terasa cairan putih keluar sedikit dari kontolku. Ibukupun terkejut dan keheranan. Wah kamu udah dewasa nak, liat kata ibu sambil mengambil sperma yang keluar dan melihatkan ke wajahku. Aku gugup dan diam saja. Ibuku lalu berkata kamu tahu ini apa. Dengan terbata-bata akupun menjawab.

HahahahaIbuku tertawa, joni-joni, ini namanya sperma nak, kalo udah keluar sperma dari burung joni itu tandanya joni udah dewasa. Aku mulai tenang dan bicara, ooo gitu ya bu.. jadi selanjutnya pipis joni putih ya bu

Hahahahabukan nak ini, kalo kamu lagi teransang baru bisa keluar sperma. Mendengar kata teransang aku jadi malu, tapi beruntung ibuku juga orang desa yang lugu sepertiku. Aku diam dan ibu terus menyabuniku. Selanjutnya giliranku seperti dulu waktu kecil sebelum kelas 6 SD aku menyabuni punggung ibuku.

Aku menunduk malu, sambil menyabuni tangan dan bagian atas dari buah dada ibu yang besar. Tapi aku tidak mau kehilangan kesempatan emas ini, aku beranikan diri menyabuni dada ibu yang besar, ibuku Cuma tersenyum dan mengusap kepalaku. Ibuku mungkin merasa geli tanpa rasa risih saat kami berdiri berhadap-hadapan dengannya dengan kontolku yang dari tadi terus menegang dan mengacung keatas, ingin rasanya aku Mengocok kontolku seperti tadi pagi saat megintip ibuku, namun aku tidak punya keberanian.

Ibuku tertawa saat aku mulai menyabuni buah dadanya yang besar, mungkin gemetar tanganku terasa oleh ibuku di dadanya. Bagaimana tidak gemetar, terakhir kali aku melakukan itu adalah waktu bocah sebelum kelas 6 SD. Memegang dada ibuku yang besar terasa kenyal dan ternyata ukuran tanganku hanya 2/3 dari ukuran buah dada ibuku.

Nak.. udah hampir gelap, udahan yuk.. Ucapan ibuku membuat aku tersadar ternyata aku sudah cukup lama menyabuni dada ibuku, mungkin sekitar sepuluh menitan.

Lalu kami berendam ke dalam air dan untuk membilas sabun yang menempel di tubuh kami. Dan ibu terus bicara berhadapan denganku, sementara aku Cuma diam dan memperhatiakan dada ibuku karena hanya dari bagian perut ke atas saja yang terlihat, karena bagian bawahnya tertutup kedalaman air sungai, sama seperti kontolku yang tegang.

Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengocok kontolku sambil melihat dada ibuku, yang berayun-ayun naik turun, karena ibuku menyelam berdiri sebatas leher berulang kali. Akupun semakin tak karuan bernafas, tubuh yang gemetar membuat kocokanku sering lepas.

Lalu ibu berkata, naik ke atas lagi nak! Kamu udah menggigil kedinginan. Sayang sekali spermaku belum keluar. Dengan berat hati aku mengikuti ibu ke penggir sungai dengan kontol yang masih tegang dan kepala kontolku yang merah dan batang yang masih bersih tanpa bulu.

Saat ibu berbalik mau mengelap badanku ibu melihat ke arah kontolku yang masih tegang. Wah bisa sampai memerah seperti ini jon??. Aku terkejut dan malu, tapi tidak bisa berkata apa-apa??.

Ya sudah dech, sini ibu bantu. Ibuku berjongkok di depan kontolku yang mengacung tegang tepat di depan wajahnya. Aku menunduk ke bawah dan melihat ibuku yang jongkok dengan tubuh polosnya yang telah kering oleh handuk. Aku bingung tak tahu apa maksud ibu, dan diam saja melihat ibuku yang menatap wajahku.

Lalu ibu memegang kontolku, mencengkram dengan tangan kanannya dan mulai menarik kontolku naik turun sepeti kegiatanku tadi bagi, hanya saja kali ini ibuku yang melakukannya. Aku diam mengatur nafasku yang tersengal-sengal, sambil kedua tanganku memegang kepala ibuku. Aku rasa inilah yang disebut ngentot oleh Bayu dan Dani tadi.

Tidak lama kemudian, spermaku muncrat dan mengenai wajah ibuku. Lebih cepat keluarnya dari tadi pagi saat mengocok sendiri.

Mungkin sekitar 1 menit spermaku baru keluar. Wah banyak juga sperma anak ibu. Aku merasa sangat puas. Ibuku kembali memandikanku setelah membersihkan wajahnya. Lalu kami masuk ke dalam rumah, kali ini kontolku sudah tidak tegang lagi.

Saat makan malam, aku tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada ibuku atas pertolongannya. Ibuku tertawa, dan berkata, jangan terlalu sering ya nak, nanti kamu capek!. Oh iya makasih bu, kataku. Setelah itu karena lelah akupun tidur ke kamarku meninggalkan ibuku yang menggosok pesanan cucian.

Saat bangun pagi hari ini adalah hari sabtu, kejadian kemaren sore terbawa mimpi olehku. Saat mau beranjak mandi aku merasa celanaku basah. Aku malu karena sudah SMP mengompol. Aku cepat-cepat memasukkaan seluruh pakaianku ke dalam ember cucian ibu, saat mau menyiram dengan air ibu melihatku dan bertanya.

Aku hanya diam, karena aku sudah telanjang ibu melihat bagian selangkanganku berkilau terkena cahaya lampu. Aku sadar dan malu, aku minta maaf pada ibuku. Maaf bu, joni ngompol. Ibuku tertawa dan mendekat, lalu mencolek pipisku di bagian sekitar selangkanganku dan tertawa. Ini mah kamu bukan ngompol tapi mimpi basah nak..

Mimpi basah?? Apa itu bu, tanyaku heran.

Ya, mimpi saat bangunnya celana basah bukan oleh pipis tetapi oleh sperma. Aku memperhatikan lagi dan menyentuh cairan itu ternyata benar kata ibu.

Mandi lagi nak.. nanti terlambat.

Akupun mandi, kali ini dengan ibuku lagi. Aku merasa senang karena bakalan melihat ibuku bugil lagi. Aku kembali menyabuni tubuh ibuku. Ibuku kembali tertawa saat melihat kontolku yang tegang. Akupun minta ibu untuk mengocok kontolku seperti kemaren.

Tapi ibu tidak melakukannya dan mengajarkan aku untuk melakukan sendiri. Aku mengocok sambil memperhatikan tubuh ibuku yang bugil. Ibuku senyum-senyum memperhatikanku, dan mengusap-usap kepalaku dan berkata jangan keseringan yah nak!. Aku hanya diam saja sambil terus mengocok sampai spermaku keluar, Ibu tertawa melihatnya.

Dada ibu yang besar dengan puting yang mulai mengacung kuat ke depan, tubuh semok, pantat besar, dan memek dengan bulu yang layu karena basah adalah tubuh milik ibuku yang baik hati dan mengizinkanku untuk melihatnya lagi tanpa busana. Bahkan aku bisa kembali menyentuh tubuh ibuku seperti waktu bocah dulu, menyabuni dadanya yang lebarnya 2 kali ukuran AQ*A 1 liter.

Cerita Sedarah | Mengintip Mama (Bagian 2)

© 2022 - CeritaSeru.xyz