November 01, 2020
Penulis — Gasunat

Mbah gimah

Malam itu sehabis Isya aku dan kedua temanku seperti biasa nongkrong di warung milik tetanggaku. Kami nongkrong sambil bermain gitar mendendangkan lagu milik Noah Band. Belum selesai satu lagu tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Lalu temanku Andi bangun dari tempat duduknya dan memasuki warung untuk membeli rokok.

L A yang isi 16 Mbah, kata Andi pada pemillik warung.

Pemilik warung lalu mengambilkan rokok yang diminta dan menyerahkan pada Andi. Lalu Andi menyerahkan uang pada pemilik warung. Pemilik warung adalah seorang nenek-nenek, usianya 67 tahun. Namanya Mbah Gimah. Dia tinggal sendirian di rumahnya. Semua anaknya tinggal dengan suami masing-masing. Hanya warungnyalah sebagai penopang kehidupan sehari-hari.

Setelah membayar rokok maka Andi pun kembali berkumpul dengan kami. Tak beberapa lama kemudian Mbah Gimah datang dengan membawa tiga gelas kopi susu.

Malam minggu kok kalian tidak apel?, tanya mbah Gimah sambil meletakkan gelas kopi di bangku tempat kami duduk.

Kan ini juga sedang apel, ngapeli cewek cantik, jawab temanku Roni sambil tertawa terbahak-bahak.

Kalian ini, orang sudah tua begini kok dibilang cantik, jawab mbah Gimah sambil tersenyum.

Memang kami sudah sangat akrab, bahkan sering kami menggoda Mbah Gimah dengan memanggilnya cewek. Tentu saja hal ini tidak kami lakukan di depan umum.

Tua kan wajahnya, tapi barangnya kan masih enak, jawab Andi. Sok tau kamu itu le, kayak pernah merasakan saja, kata mbah Gimah. Lha kalau tidak pernah dikasih kesempatan ya tidak tahu rasanya enak apa tidak to Mbah, jawabku menimpali.

Kalian ini ada-ada saja, masak tempik orang tua masih kepengen juga, jawab Mbah Gimah sambil menjewer telingaku.

Kami berani menggodanya karena memang kondisi saat itu sedang hujan deras, jadi para tetangga tidak akan mendengar apa yang kami bicarakan.

Tua kan orangnya, tempiknya kan sama enaknya, kataku sambil tertawa terbahak-bahak.

Kontolku yang tadinya kedinginan dibalik celana dalam sekarang menjadi bangun karena omongan kami tadi. Mbah Gimah juga melirik ke arah kontolku yang ngaceng berat.

Oalah Le Le, sama orang tua kok ya napsu?, kata mbah Gimah sambil menepuk-nepuk bahuku. Gimana Mbah? Mau apa tidak? Udah kepengen ni? Udah tidak tahan, kataku. Aku ini sudah tua lo Le Tidak apa-apa Mbah, yang penting tempiknya masih bisa dimasukin, kata Andi. Nanti kalau ada orang yang tahu malu Le. Sekarang hujan deras Mbah, lagipula para tetangga rumahnya sudah tutup semua, mereka pasti sedang asyik nonton tv, bujuk Roni.

Akhirnya karena sudah tidak tahan aku menarik tangan Mbah Gimah ke dalam rumah. Diikuti oleh kedua temanku dari belakang. Mereka lalu mengunci pintu dan mematikan lampu ruang tamu. Setelah lampu padam mereka berdua menyusul aku yang sudah lebih dulu masuk kamar Mbah Gimah.

Di dalam kamar aku segera melepas pakaianku termasuk celana dan celana dalamku, sehingga nampaklah kontolku yang tegak berdiri. Mbah Gimah terlihat agak grogi.

Aku ini sudah tua lo Le, katanya. Tidak apa-apa Mbah, yang penting bisa ngasah kontol dengan tempik, bujukku.

Aku mulai melepaskan baju yang dikenakan Mbah Gimah. Setelah bajunya aku lepaskan kini giliran BHnya yang menutupi tetek besarnya. Walaupun sudah kendor, tapi tetek Mbah Gimah cukup membuat gairahku makin meningkat karena ukurannya yang besar.

Andi juga tidak tinggal diam, setelah melepaskan semua pakaiannya, dia mulai melepaskan rok dan celana dalam yang dipakai oleh Mbah Gimah. Ternyata tempik Mbah Gimah bersih tidak ada jembutnya. Kelihatannya Mbah Gimah rajin mencukur jembutnya.

Karena kontolku rasanya sudah cenut-cenut, maka aku langsung memasukkan kontolku ke dalam tempik Mbah Gimah. Rasanya agak kesat dan longgar, tapi aku tidak peduli, aku terus saja menggenjot dengan penuh semangat. Rasanya agak geli-geli nikmat di kontolku.

Kulihat wajah Mbah Gimah, dia memejamkan matanya. Aku menggenjotnya sambil memegangi teteknya yang besar. Kurasakan rasa geli di kontolku makin menjadi. Maka aku mempercepat genjotanku dan akhirnya aku membenamkan kontolku sedalam-dalamnya ke dalam tempik Mbah Gimah. Rasanya sungguh nikmat sekali. Setelah kontolku tidak mengeluarkan mani lagi aku mencabutnya dan berdiri untuk memberi giliran kepada temanku.

Ketika melihat ke arah kedua temanku, aku melihat Andi menggenggam botol minyak goreng. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Andi.

Sampean nyedit Mbah (Kamu nungging Mbah), suruh Andi.

Mbah Gimah yang sedang kelelahan setelah aku genjot, menurut apa yang dikatakan Andi. Dia lalu menunggingkan pantatnya membelakangi Andi. Andi lalu menuang minyak goreng ke telapak tangannya setelah itu mengoleskannya ke kontolnya. Setelah merata, lalu Andi menuang minyak goreng ke silit (dubur) Mbah Gimah.

Sekarang adalah saatnya Andi menghujamkan kontolnya ke dalam silit Mbah Gimah. Dia memasukkan kontolnya dengan pelan. Setelah masuk semua lalu Andi menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Oh koyo tempik’e perawan (oh seperti tempik perawan), oceh Andi.

Semakin lama genjotan Andi semakin cepat. Benturan antara paha Andi dan pantat Mbah Gimah yang besar menimbulkan bunyi ceplok-ceplok. Aku memperhatikan wajah Mbah Gimah. Wajahnya nampak seperti orang sedang mengejan.

Aduh Le, wetengku mules, rasane silitku koyo arep ngising (aduh Le, perutku mules, rasa di duburku seperti saat kebelet buang air besar).

Tapi Andi tidak peduli, dia tetap saja menggoyangkan pantatnya dengan cepat. Hingga akhirnya dia menghujamkan kontolnya sedalam-dalamnya ke dalam silit Mbah Gimah.

Ah rasane mantep tenan, koyo ngenthu perawan (ah rasanya enak tenan, seperti menyetubuhi perawan).

Andi mencabut kontolnya dari silit Mbah Gimah. Terlihat mani keluar meletup-letup dari silit Mbah Gimah. Warna mani Andi yang tadinya putih sekarang menjadi agak kekuning-kuningan. Mungkin karena bercampur dengan tahi Mbah Gimah.

Sekarang giliran Roni, dia mengambil celana dalam Mbah Gimah yang sudah usang dan menggunakannya untuk mengelap dubur Mbah Gimah. Setelah bersih, Roni memasukkan kontolnya ke dalam silit Mbah Gimah. Seperti halnya Andi, Roni juga menggoyang silit Mbah Gimah sangat cepat. Sehingga membuat tubuh Mbah Gimah terguncang-guncang.

Bahkan mulut Mbah Gimah sampai ternga-nganga mendapat sodokan kontol Roni di silitnya. Tak sampai satu menit kemudian Roni menghujamkan kontolnya sedalam mungkin hingga tersisa telurnya. Dia melenguh panjang.

Setelah dirasa kontolnya mulai mengendur dia mencabut kontolnya. Manipun keluar dari silit Mbah Gimah. Melihat silit Mbah Gimah yang termonyong-monyong saat mengeluarkan mani Roni, nafsuku timbul lagi. Tapi aku tidak tega akan memompa Mbah Gimah lagi, maklum tenaganya sudah tidak sekuat waktu muda dulu.

Maka aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat agar tenaganya cepat pulih dan bisa melayani kontolku lagi.

FIN

© 2022 - CeritaSeru.xyz