November 01, 2020
Penulis — demond0302

Mamaku kekasihku

Namaku Rei, saat ini aku berusia 21 ahun dan sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Aku akan meneritakan hubunganku dengan mama. Mamaku berusia 47 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Mama telah menjanda karena Papa telah meninggal dunia. Mama menurut kata orang cantik dalam usianya yang setengah baya.

Beberapa orang kudengar sudah mendekati mama, namun entah kenapa sepertinya mama tidak tertarik. Dari semua sex appealnya yang paling menonjol adalah payudara yang masih cukup kencang, body yang langsing, serta pantatnya yang semok. Maklum mama juga sangat menjaga tubuhnya dengan Yoga dan fitness. Walaupun dianugrahi tubuh seperti bintang porno, mama selalu berpakaian tertutup dan sopan ketika di luar rumah, namun menurutku itu semua tetap saja tidak bisa menutupi keseksian tubuh mama.

Sebagai anak tunggal, aku merupakan tumpuan harapan Mama walaupun prestasiku sebagai mahasiswa biasa saja. Mama juga sangat menyayangiku, karena statusku yang merupakan anak tunggal. Malam itu aku pulang mabuk berat karena hobbyku memang minum. Ini yang bikin Mama sering sedih, tetapi aku tetap tidak berhenti karena terpengaruh teman.

Tiba tiba Mama masuk kamarku sambil menyisir rambutnya yang panjang itu. Rupanya Mama mendengar suara aku menutup pintu depan. Mama bertanya apakah aku baik baik saja, karena mengapa langsung masuk kamar tanpa berkata apa apa kepada Mama. Karena aku diam saja, Mama kemudian duduk dipinggir tempat tidurku, tangannya yang kanan diletakkan disamping pinggang kananku, duduknya disebelah kiriku, jadi Mama seolah olah berada diatas badanku.

Rambutnya tergerai diatas badanku, dan tangan kirinya mengusap kepalaku setelah meletakkan sisir dimeja kecil disamping tempat tidurku. Aku memandang Mama dikeremangan kamarku yang disinari lampu tidur dimeja kecil. Aku terkesima soalnya Mama dandanannya sangat anggun dengan masih memakai longdress dengan make up yang tebal, bibirnya yang merah bergincu.

Tanpa sadar aku pegang tangannya yang kanan dan mengusapnya. Rambut Mama yang lebat itu memancarkan bau harum hairspray yang membangkitkan birahiku. Mama malam itu dimataku seperti geisha yang siap melayani pelanggannya. Karena kami berdua diam, aku mulai berani mengelus rambut hitam lebat yang tergerai diatas dadaku.

Kontolku mulai ngaceng meraba rambutnya yang menggerai tebal itu. Tangan kiriku pelan pelan aku angkat mengelus pipinya yang berbedak tebal karena make upnya. Uh aku tak tahan ingin mencumbu perempuan ini dihadapanku, seperti cerita Sangkuriang yang jatuh birahi dengan ibu kandungnya. Mulutku terbuka dan sedikit menganga menahan birahiku.

Entah mengapa Mama tiba tiba menunduk dan mencium keningku. Aku tak tahan lagi dan membalas menciumnya tetapi dibibirnya sambil tangan kiriku meraih lehernya. Mama agak berontak tetapi kemudian hanyut dengan kelembutanku menciumnya. Mama aku rebahkan didadaku dan kami mulai berciuman seperti sepasang kekasih, lembut tanpa ada keterpaksaan.

Aku mulai melepas celanaku dan bajuku, yang karena susah membukanya akhirnya beberapa kancingnya copot. Aku akhirnya telanjang menindih Mamaku yang tangan kiri dan kanannya erat mencengkeram sprei tempat tidurku. Matanya agak terpejam dan mukanya menengok kekiri atas sewaktu aku menjilat dan menggigit leher kanannya.

Aku mulai membuka resleting belakang long dress mama, dan dalam sekejap long dress hitam mama sudah terlepas dari tubuhnya dan hanya menyisakan bh dan cdnya yang berwarna putih. Kulepas tali bh mama, dan kulepas pengaitnya, serta kulempar bh mama ke lantai ranjangku. Susunya yang mulai agak kendor itu aku remas lembut, dan memang tetek Mama cukup besar.

Mama melenguh seperti orang kesakitan, pinggulnya menggisar gisar selangkangku. Sambil mengemot teteknya, aku turunkan celana dalam Mama. Mama ditengah nafsunya hanya bisa berbisik pelan melarangku, tetapi sepertinya merestuiku untuk mencopot celana dalamnya. Aku meraba memeknya dan mengelus itilnya, yang ternyata sudah mulai berair.

Aku akhirnya minta ijin Mama untuk memasukkan kontolku ke memeknya. Mama hanya menggumam tidak jelas ketika ujung kontolku sudah berada dimulut memeknya yang agak basah.

“Ohhh… Rei… jangan… jangan sayang, ini mamamu, please Rei… Ahhhh… ahhh” sahut mama yang diakhiri dengan desahan. Tanpa tertahan lagi Mama menangis tersedak sedak ketika aku mulai mengentotnya, anak kandungnya yang kurang ajar ini. Aku tak meperdulikan mama yang menangis sambil tetap mencoba melarangku melakukan persetubuhan itu, entah kenapa aku semakin birahi melihat mama walau dalam keadaan menangis, hujamanku semakin keras dan kupercepat.

Persetubuhan dengan Mama akhirnya hampir mencapai puncaknya dan aku menggemgam erat rambut dibelakang kepalanya sampai Mama terdongak kepalanya kebelakang.

“Ahhh… ah… emh… ahhh… Rei… ahh… hentikann sayang… ahhh… mama… udah ga kuat… ahhhhhh” sahut mama dengan nada kencang menandai mama yang sudah mencapai orgasme. Akupun langsung mencapai klimaks dan sambil dengan gemas kugigit lehernya, spermaku memancar deras kememeknya.

“Ahhh… ahhh… mah… ahhh… ouhhhh… mah… terima sperma Rei sayang… auhhhh” sahutku berteriak sambil menyemprotkan spermaku di dalam memek mama.

Oh, aku telah menyetubuhi pertama kali wanita cantik yang juga Mamaku tercinta. Malam itu Mamaku adalah kekasihku, lonteku dan sekaligus guruku. Aku yang sudah lemas hanya tersungkur menindih tubuh mama masih menangis menyesali perbuatanku padanya.

Pagi harinya aku membuka mataku, dan kulihat mama masih berada di sampingku dengan posisi membelakangiku. Kulihat mama masih sedikit terisak isak menangis. Aku mengingat kembali apa yang terjadi semalam tadi. Aku menyadari bahwa semalam aku telah memperkosa mamaku yang selama ini menyayangiku. Perlahan aku peluk mama dari belakang, walaupun mama berusaha melepaskan rangkulanku, namun aku semakin kencang mendekap mama.

“Rei… apa yang sudah kamu lakukan sama mama semalam Rei… kamu bemar bemar tega memperkosa mama, mama benci kamu” sahut mama memulai pembicaraan.

“Mah… maafin Rei mah, Rei khilaf, semalam Rei mabuk dan Rei terbawa pengaruh nafsu… maafin Rei mah, Rei sayang mama” sahutku memelas dan mulai menangis.

“Rei… berapa kali mama bilang, jauhi minuman keras, kamu kenapa sih selalu bandel kalau mama bilang, sekarang lihat apa yang sudah kamu lakukan ke mama akibat mabuk” sahut mama.

“Mah… maafin Rei mah… Rei janji ga akan mabuk lagi, Rei janji bakal jadi anak yang baik, mah… mama mau kan maafin Rei” sahutku. Kulihat mama masih membelakangiku dan terdiam sambil masih terisak.

“Mah… kalau memang mama ga mau maafin Rei, Rei sekarang juga akan keluar dari rumah, Rei benar bemar sudah membuat mama kecewa” sahutku. Tiba tiba mama langsung berbalik badan dan kami berdua saling bertatapan.

“Rei… jangan pergi… harta berharga mama saat ini cuma kamu satu satunya… mama senang mendengar kamu tidak akan mabuk lagi, dan jadi anak baik, bagi mama itu semua sudah lebih dari cukup.”sahut mama sambil kembali menangis.

“Mama… Rei sayang mama… maafin Rei mah” sahutku sambil kali ini memeluk mama. Keadaan kami berdua saat itu masih telanjang. Mama pun membalas pelukanku sambil menangis.

“Sudahlah Rei, mama sudah memaafkanmu, mama juga sayang kamu, mama ga mau kehilangan kamu.”sahut mama. Kali ini tangan mama membelai kepalaku. Akupun denga reflek membelai rambut mama, dan tak lama mama menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Rei… apa kamu sudah punya pacar sayang” tanya mama sambil tetap menyandarkan kepalanya di dadaku, sementara aku tetap membelai belai rambut mama.

“Belum mah… belum ada yang cocok” sahutku.

“Masa sih… anak mama yang ganteng ini belum punya pacar?” Sahut mama.

“Bener mah… yah belom ada jodohnya kali” sahutku.

“Memangnya tipe wanita yang kamu suka kaya apa” sahut mama.

“Emhhh… yang kaya gimana ya, Rei suka yang kaya mamah, cantik, seksi, pengertian, dan baik” sahutku

“Ihhh… kamu nakal ya Rei ngegodain mama” sahutku.

“Mama sendiri gimana, apa mama ga berniat buat kawin lagi, Rei lihat sepertinya beberapa pria juga sudah mendekati mama.”

“Rei… mama sudah ada kamu, bagi mama itu semua sudah cukup, kamu adalah kesayangan mama” sahut mama.

“Mah… kalau memang ada pria yang mama suka, dan sayang sama mama, Rei setuju kok, yang penting mama bahagia, oh ya waktu itu Rei pernah liat mama sering jalan sama temen pria kantor mama, dan sepertinya mama juga sudah dekat, tapi Rei tidak pernah melihat lagi sekarang mama jalan sama dia” sahut Rei.

“Rei… mama akui, mama sempat dekat dengan seseorang, dia namanya Mas Fandy, awalnya memang dia baik sama mama, tapi dibalik semua itu ternyata dia cuma suka seks doang” sahut mama

“Oh ya… suka seks, maksud mama gimana” sahutku penuh penasaran.

“Ihhh… kamu tuh ngegodain mama terus ya… sebel deh” sahut mama dengan nada manja.

“Boleh dong anak mama satu satunya ini tahu” sahutku. Kulihat mama sedikit terdiam dan muka mama sedikit merah. Mungkin mama malu menveritakannya.

“Iya Rei, awalnya dia baik sama mama, namun setelah berjalan beberapa lama, dia mulai meminta yang aneh aneh, awalnya dia minta mencium bibir mama, sebenernya mama agak riskan, namun mengingat hubungan yang sudah berjalan, akhirnya mama ijinkan dia mencium mama, cuma lama kelamaan bukan bibir aja yang bergerak tangan pun mulai bergerak meraba raba paha dan payudara mama, jujur mama agak risih dan belum siap jika masih hubungan pacaran namun muka sudah mesum dan nafsu, kaya kamu nih semalam” goda mama.

“Ihhh… mama nakal ya, punya pacar ga bilang bilang Rei” sahutku.

“Loh kok jadi kamu yang cemburu” sahut mama.

“Tapi wajar sih kalau om Fandy mupeng juga sama mama, soalnya mama memang nafsuin sih” sahutku.

“Ihhh… Rei… udah ah… kamu selalu goda mama terus” sahutku.

“Mah… kalau begitu Rei boleh ga minta mama jadi pacar Rei” sahutku.

“Hah… pacar? Gila ah kamu Rei, masa mama udah tua gini mau dijadiin pacar sama kamu, masa anak mama sendiri macarin mama” sahut mama dengan muka sedikit tersipu.

“Mah… Rei serius, lagian Rei rasa mama masih cantik ko dan ga kalah sama temen temen wanita Rei di kampus” sahutku.

“Aduh Rei kamu aneh aneh aja deh, mama jadi malu ah, ga mau ah, masa mama punya pacar berondong, lagian kamu itu harus mulai cari pacar sendiri yang seumuran kamu” sahut mama.

“Yah mamah ga adil ah, Om Fandy mama kasih kesempetan buat jadi pacar mama, bahkan udah sempet mencium bibir segala, masa Rei ga dikasih kesempetan” protesku.

“Loh kamu kan bukan dapet ciuman aja dari mama, bahkan kamu sempat menikmati tubuh mama malah semalam, hayo” sahut mama. Akupun terdiam sedikit malu juga dikatakan seperti itu oleh mama.

“Jadi gimana mah, diterima ga nih Rei jadi pacar mama” paksaku. Mama terlihat mulai berpikir sejenak.

“Emhhh… Rei… kamu ga mau apa punya pacar tua kaya mama, lagian masa mama udah tua gini dibilang seksi, kamu yakin mau sama nenek nenek kaya mama” sahutnya.

© 2022 - CeritaSeru.xyz