October 31, 2020
Penulis — anjing_tanah

Ku rayu anak kost ku

Di rumahku ada tiga kamar yang sengaja kujadikan tempat kos untuk nambah-nambah penghasilan, soalnya sejak suamiku meninggal lima tahun yang lalu, aku hanya mengandalkan penghasilan dari gaji pensiunannya. Dengan menyewakan kamar, paling tidak aku punya tambahan uang untuk belanja. Sekaligus, dengan adanya anak-anak itu, rumah tak terasa terlalu sepi, meski kedua anakku lebih memilih tinggal bersama keluarganya masing-masing.

Biasanya, pagi-pagi aku sudah melihat ketiganya keluar rumah, Maki, mahasiswa itu belum terlihat keluar. Aku penasaran dan berjalan menuju kamarnya. Aku mengetuk pintunya, “Ki… Kamu di dalam?” tanyaku. “Iya Bun…” terdengar suaranya, kayak males-malesan. “Nggak kuliah?” tanyaku lagi. “Nggak Bun, lagi nggak enak badan…

” jawabnya. “Kenapa?” tanyaku lagi. “Mungkin masuk angin Bun, kemarin kehujanan!” jawabnya. “Bunda keokin mau?” tanyaku. “nggak usah Bunda, saya tiduran aja!” jawabnya. “Buka dulu pintunya!” kataku lagi. Tak lama Maki membuka pintu dan tampak ia memakai selimut dan wajahnya pucat. “Kamu pucet gitu, Ki, Bunda kerokin ya…

Aku lalu kembali ke rumah mengambil minyak angin dan kembali lagi ke kamarnya. “Udah, baringan situ, buka bajunya!” kataku. Anak itu nurut, lalu membuka bajunya dan tidur tengkurap. Aku lalu duduk di pinggiran tempat tidur dan mulai membaluri punggungnya dengan minyak angin. Punggung anak muda itu tampak kekar dan berotot, mungkin karena ia rajin ikut kegiatan di luar dan berolahraga.

“Balik badannya Ki!” kataku. Maki membalikkan badannya, lalu aku mulai memijat bagian dadanya, bolak-balik hingga ke perutnya yang berotot, nyaris six pack kalau kata anak sekarang. “Kamu tuh kalo main inget kesehatanmu juga Ki… Kalo kamu sakit kan repot…” kataku. “Iya Bun… Makasih sudah mau mijetin saya!

” katanya, “Pijetan Bunda enak banget, habis ini kayaknya saya bisa tidur nyenyak dan bangun seger!” lanjutnya. Aku hanya tersenyum, tapi tiba-tiba tanganku menyenggol sesuatu yang agak-agak keras, di bawah perut Maki. “Ototmu tegang semua Ki, sampai yang itu juga!” kataku, keceplosan. Maklum, zaman muda dulu aku termasuk cewek yang ceplas-ceplos dan agak-agak saru.

“Aduh maaf Bun.. Nggak sengaja…” jawabnya sambil menutupi selangkangannya. Aku menyingkirkan tangannya, “Udah biarin aja, Bunda udah biasa kok.. Nyantai aja…” kataku sambil mulai memijat bagian paha depannya. “Tapi saya malu Bun…” katanya. “Malu kenapa?” tanyaku. Entah kenapa aku jadi keasyikan memijat bagian itu, dulu aku sering melakukannya pada suamiku dan pasti burungnya langsung berdiri.

Entah setan dari mana yang membuatku melakukannya, mungkin karena lima tahun lebih aku nggak menyentuh dan disentuh laki-laki. Apalagi lelaki muda dan ganteng kayak si Maki ini. “Bunda liat ya?” tanyaku sambil menyentuh batang gede yang menyembul tertutup kolor itu. Maki langsung memegangi tanganku, “Jangan Bun…

“Udah… Kamu diem aja… Nikmati aja ya!” kataku sambil menarik celana kolornya hingga sesuatu melompat dari dalamnya, batang kontol yang gede dan mengacung tegak nyaris sejengkal tanganku. Aku melongo melihatnya, gede banget! Aku lalu menggenggam batang berurat itu dan mengocoknya perlahan, “Kamu pernah main sama perempuan Ki?

” tanyaku. Maki menggeleng dengan wajah yang mengernyit-ngernyit. “Bunda ajarin ya?” tanyaku sambil menggenggam kontolnya lebih kuat. Maki megap-megap, “Saya… Saya…” aku nggak menunggu jawabannya, langsung aja kumasukkan batang kontol itu ke dalam mulutku dan kusedot-sedot. Maki menggerinjal-gerinjal dan akhirnya dengan kasar mendorong kepalaku hingga aku terpelanting dan jatuh ke lantai.

Maki kaget dan ia bangkit lalu turun dari kasur, “Bunda… Bunda nggak apa-apa?” tanyanya. Aku menggeleng, lalu mencoba bangkit, “Ya sudahlah kalo kamu nggak mau… Maaf ya!” kataku sambil beranjak pergi. Tiba-tiba tanganku dipegang dari belakang. “Bunda… Jangan pergi!” terdengar suaranya. Aku meliriknya.

“Bunda jangan marah..” katanya sambil menatapku. “Nggak… Bunda nggak marah, maafin Bunda ya, tadi Bunda khilaf!” kataku. Ia memegang tanganku lebih kuat dan menariknya. “Terusin yang tadi, Bunda…” katanya. “Kamu yakin, nggak terpaksa?” tanyaku. Ia menggeleng, “Tadi saya hanya kaget Bunda…” katanya.

Aku mendekat dan tanganku meraih lagi kontolnya yang masih tegang. Aku lalu berjongkok di depannya, mengocok kontolnya dengan tanganku, lalu kumasukkan lagi ke dalam mulutku dan kusedot-sedot, lalu kumainkan lidahku menyusuri batangnya. Maki menggeliat-geliat dan memegangi kepalaku. Setelah kontolnya tegang banget, aku beridiri, aku nggak mau anak itu muncrat duluan sebelum bertanding.

Aku lalu melucuti pakaianku hingga bugil abis. Maki melongo. “Kenapa bengong?” tanyaku sambil maju mendekat. “Bunda… Saya harus ngapain?” tanyanya. Ah tu anak ternyata beneran masih polos… Aku lalu duduk di tepi tempat tidur dan kubuka selangkanganku yang berbulu lebat, aku nggak pernah kepikiran mencukurnya sejak nggak punya suami.

Maki menurut, ia lalu berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, lalu kurasakan sentuhan bibirnya di bibir memekku. Lalu ada benda basah yang menelusuri bibir memekku, lidahnya… Ah, rupanya dia nggak lugu-lugu amat, mungkin sering nonton film. Aku membiarkannya melakukannya, dan menikmati setiap gerakan lidahnya, sampai akhirnya ia menemukan daerah yang bener-bener kuinginkan, itilku..

Maki bangkit dan berdiri di depanku, ia memegangi kontolnya, lalu melangkah maju. “Bunda, nggak apa-apa nih?” tanyanya sambil menatapku. Aku mengangguk, “Lakukan, jangan kebanyakan berpikir!” kataku. Maki mendekatkan kontolnya ke memekku, lalu kurasakan kepalanya menggosok-gosok bibir memekku, lalu perlahan, benda yang sudah mengeras itu melesak masuk ke dalam memekku.

Uuh… Bener-bener gede, sampai-sampai aku merasa memekku begitu sesak, dan tak berapa lama, kepala kontolnya sudah menyentuh dinding rahimku… Gila, panjang banget, punya suamiku nggak pernah nyampe ke situ walaupun sampai mentok. “Genjot pelan-pelan Sayang!” kataku. Maki mengangguk, “Iya Bunda katanya sambil menarik kontolnya sampai tertinggal kepalanya saja, lalu mendorongnya lagi, terus dan terus, makin terasa lancar dan makin terasa nikmatnya.

Saat dia makin lancar menggenjot kontolnya, aku menarik tangannya dan meletakkannya di tetekku yang sudah kendor… Maklum, umurku sudah lima puluh tahun. Dan Maki mulai meremasinya sambil terus menyodokkan kontolnya. “Aah Sayaang… Kamu suka nggak?” tanyaku sambil berdesah, desahan itu sama sekali nggak dibuat-buat, tapi karena aku memang bener menikmatinya.

“Suka Bunda…” jawabnya sambil mengusap keringat di wajahnya. “Cabut dulu Sayang… Ganti posisi!” kataku. Maki mundur selangkah dan kontol gedenya langsung tercabut dari memekku. Aku lalu membalikkan badanku dan nungging membelakanginya dengan dua kaki di lantai dan tanganku berpegangan di tempat tidur, aku meliriknya, “Masukin lagi Sayang!

Maki maju lagi, lalu tak berapa lama kurasakan kontolnya sudah melesak lagi masuk ke dalam memekku lalu kurasakan ia mulai menggenjotnya lagi sambil meremasi bokongku. Aku mengimbanginya dengan memutar-mutar bokongku dan kadang memaju mundurkannya sambil mengempot-empotkan memekku.. Ah ternyata aku masih bisa juga mengempotkan memekku.

Beberapa saat kemudian, aku memintanya mencabut kontolnya lagi, lalu kuminta ia baringan di atas tempat tidur. Aku naik ke tempat tidur dan mengangkang di atas kontolnya yang menunjuk ke atas dengan gagah. Kupegangi benda itu lalu kuarahkan lagi ke memekku dan kutekan bokongku sampai kontolnya amblas ke dalam memekku.

Setelah mentok, aku mulai menaik turunkan bokongku dan menggoyang setiap kali memekku menelan semua batangnya. Uuh rasanya nikmat sekali, batang kontolnya menyentuh dinding-dinding memekku sementara ujungnya mengetuk-ngetuk mulut rahimku, dan di luar, kantong pelirnya membelai-belai bibir memekku dan kadang menyentuh itilku.

Sesekali ia meremasi bokongku kadang tetekku sambil menyodokkan kontolnya dari bawah. Saat itu, aku merebahkan tubuhku dan merapatkan dua tetekku di dadanya yang bidang sambil menikmati sodokan kontolnya. “Aaaah Sayaaang, terus…” kataku sambil mengempotkan memekku. Maki makin bersemangat menyodokkan kontolnya, dan makin lama aku merasa sodokannya makin cepat.

Aku mengimbanginya dengan empotan memekku. Aku mendesah dan dia melenguh lenguh. Tak lama, aku merasakan kontolnya mengedut, dan ia tetap berusaha menyodokkannya. Aku juga merasa dinding-dinding memekku makin ngilu, aku berusaha terus mengempotnya, tapi dalam sebuah sodokan kontolnya yang menghentak mulut rahimku, aku tak kuasa lagi bertahan.

Memekku mengedut lalu cret aaaah… Tubuhku mengejang dan memekku menjepit kontolnya kuat-kuat diiringi sebuah semprotan dari dalam memekku. Darahku berdesir dan aku merasakan seluruh tubuhku bergetar. Memekku mengempot-empot sekuatnya dan akhirnya kenikmatan yang sudah lama tak kurasakan itu datang juga…

Tepat pada saat aku menjepit kontolnya, batang berurat yang memenuhi dinding memekku sejak tadi itu mengedut lalu dalam sebuah hujaman, batang kontol itu menyemburkan amunisinya di dalam memekku… Diiringi dengan lenguhan panjangnya, “Aaaah Bundaaaaaa…” Cairannya terasa hangat membasahi dinding memekku.

Ia pun terkulai sambil megap-megap ditindih tubuhku. “Kamu sudah selesai Sayang?” tanyaku. Ia mengelap keringatnya dan mengangguk, “Maaf Bunda, tadi saya keluar di dalam…” katanya. Aku tersenyum dan mengusap pipinya, “Nggak apa-apa Sayang… Rahim tua ini sudah nggak bakalan bisa lagi menampung sperma…

Nikmati saja!” jawabku. “Saya menikmatinya Bunda… Makasih banget Bunda…” katanya sambil mengecup bibirku. Aku tersenyum lalu bangkit dan lepaslah kontol gede yang tadi gagah itu, kini terkulai layu belepotan cairannya dan cairan dari memekku. Aku berguling ke sebelah, lalu bangkit. “Makasih ya Sayang..

“Bunda…” aku mendengar panggilannya dan berbalik, “Makasih Bunda. Bolah kapan-kapan kalau saya…” ia nggak meneruskan omongannya. Aku mengangguk dan tersenyum, “Kapan saja kamu mau, Sayang!” kataku. Dan kututup pintu kamarnya lalu kembali ke kamarku, masuk kamar mandi dan membersihkan badanku lalu berbaring di tempat tidur. Aku memikirkan apa yang terjadi barusan… Ah… Kenikmatan yang sudah lama tidak kurasakan, tiba-tiba kudapatkan dari anak muda yang kos di tempatku. Mungkin aku gila, tapi aku sungguh menikmatinya!

Dua hari berselang, saat aku tengah memasak di dapur, tiba-tiba ada yang mengejutkanku, ada yang memelukku dari belakang. Aku berbalik terkaget dan kudapati anak muda itu tersenyum. “Maki, ngapain kamu ke sini?” tanyaku. “Saya kangen Bunda…” katanya sambil memelukku dan meremas bulatan bokongku. “Indah sama Maya masih ada?” tanyaku setengah berbisik. “Seperti biasa Bunda, mereka sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali!” jawabnya sambil tersenyum, aku membalas senyumnya, lalu ia mulai menyosor bibirku dan aku mengikuti saja apa maunya. Sampai akhirnya ia mengangkat dasterku tinggi-tinggi, melepas celana dalamku, membalikkan badanku dan menyodokkan kontol gedenya ke dalam memekku dari belakang. Setelah itu, aku bergumul dengannya, di dapur, dan berakhir di ruang tengah setelah aku mearasakan kembali orgasme dan ia kembali menumpahkan amunisinya di dalam memekku.

Setelah itu, nyaris tiap hari ia menemuiku, menggumuliku, dan aku seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Tapi, suatu ketika, aku harus menyadari usiaku dan daya tarikku sendiri, ketika suatu malam, aku menemukannya sedang bergumul dengan anak kosku yang lain, si Maya di kamarnya.. Aku hanya bisa menyaksikan tubuh perempuan muda itu menggerinjal-gerinjal nikmat saat kontol gede Maki menyodok-nyodok memeknya. Ahhh aku tau bertul rasanya kontol itu… Tapi sudahlah… Setelah menonton sampai selesai aku kembali ke kamarku dan tidur… Tadinya, aku ingin melupakan anak muda itu dan hidup seperti biasa. Tapi rupanya, dia anak muda yang doyan bercinta, buktinya, meski sudah kupergoki bercinta dengan si Maya lalu dengan si Indah, ia masih sering saja mendatangiku… Dan aku tak pernah bisa menolak.. Ya sudahlah… Untuktubuh tuaku bisa menikmati kontolnya sudah sangat beruntung, meski aku tau harus berbagi dengan dua perempuan yang jauh lebih muda dariku!

*****

© 2022 - CeritaSeru.xyz