November 02, 2020
Penulis — Obrunksjunior

Hukuman Untuk Ibu Mertuaku

Perkenalkan ini istriku, Nama ku Nuel berumur 28 Tahun.

Sejak aku dan istriku menikah aku tinggal dirumah Mertuaku, dimana tempat itu adalah tempat tinggal istriku sedari kecil.

Aku berpacaran dengan Istriku selama hampir 5 tahun dan akhirnya menikah. Aku akan mencritakan pengalaman ku dengan Ibu Mertua, yang memang sejak aku mulai pacaran dengan Istriku aku sudah sangat kesemsem dengan Ibu Mertuaku. Ibu Mertuaku bernama Dian, tapi kami biasa memanggil dengan pangilan, IBU, cukup itu saja.

Ibu mertuaku berumur 48 Tahun pada tahun ini, dimana memang terpaut umur cukup jauh dengan suaminya 10 Tahun lebih tua darinya. Bapak mertuaku biasa kami panggil dengan panggilan, AYAH yang berumur 58 Tahun. Hampir satu tahun kami menikah tapi kami belum dikaruniai seorang anak, tapi aku dan istriku pun memang sangat menginginkan seorang anak, itu pasti, mungkin memang belum waktunya. Dengan umur Ibu Mertuaku yang sudah STW, tetapi dia sangat memperhatikan kecantikan dan kesehatan tubuhnya.

Sering sekali aku melihat BH dan CD nya sewaktu dijemur ketika habis dicuci, ukuran BH-nya 34C memang sangat memukau bila dipadukan dengan tinggi badannya 165 cm dan berat badan 55 Kg, meski lingkar dadanya kecil tapi buah dadanya sangat aduhai. Apalagi jika dipadukan dengan wajah cantik dan rambutnya yang agak kecoklatan bila terkena cahaya, serta kulitnya yang mulus dan berwarna putih.

Bergetar selalu hatiku jika menatapnya. Bisa dibilang, Ibu Mertuaku ini lebih cantik dari Istriku dan memang aku sangat terobsesi agar aku bisa bercinta dengannya.

Suatu waktu aku pulang kantor agak cepat, kebetulan sesampainya dirumah aku melihat garasi cukup sepi hanya suara gongongan anjing2 kami yang mengisi keheningan itu. Mobil Ayah Mertua dan mobil istriku pun belum terlihat di garasi. Aku masuk dengan menaruh sepeda motor ku di garasi, dan aku melihat kedalam jendela ternyata ada Ibu Mertuaku yang hendak membukakan pintu, aku pikir pembantu rumah, setelah pintu di bukakan Ibu Mertua ku langsung ngacir kembali masuk kedalam kamarnya, aku hanya melihat sekelebat. Ketika aku masuk rumah aku lihat lantai agak basah dengan titik2 air, dan aku pun berpikir, ternyata Ibu Mertuaku ini sedang mandi sore, langsung otak kotor mulai membuju untuk memuaskan obsesiku terhadap ibu mertuaku, lagi pula pembantu rumah sudah pulang dan adik2 istriku belum pulang dari kuliahnya. Aku langsung naik kekamar ku dan mengganti pakaian, tetapi sayang, ketika aku turun lagi kebawah ternyata Ibu Mertuaku sudah selesai mandi, dan dia sedang berada di meja makan. Lalu aku mendekatinya dan berkata, Bu, tadi yang bukain pintu siapa, koq hanya terlihat sekelebat saja…??, lalu Ibu mertuaku menjawab, Iya Sorrry, tadi Ibu yang buka pintu, Ibu lagi mandi… jadi buka pintunya cepet2.. soalnya pas bgt lagi keramas.

Ternyata Ibu Mertuaku tadi membukakan pintu dengan mungkin dalam keadaan telanjang atau dengan hanya terbungkus handuk saja, pikiranku langsung menelanjangi tubuh Ibu Mertuaku sendiri.

Kadang2 sempat aku berhasil mengintip Ibu mertuaku yang sedang mandi, dari celah2 pintu kamarnya yang sedikit kubuka, memang tubuhnya sangat luar biasa, apalagi sewaktu dia menyabuni Payudara dan vaginanya… sumpah membuat ku ngaceng berat.

Hari2 yang kulalui dengan keluarga istriku sangat biasa saja, dan sudah pasti aku selalu curi2 pandang kepada Ibu Mertuaku sendiri. Saking terobsesinya diriku terhadap Ibu Mertuaku, sering kali ku curi sebentar CD-nya dan akupun berkhayal bercinta dengan Ibu Mertuaku, lalu aku menyemprotkan spermaku di CD Ibu Mertuaku, itu sangat sering kulakukan.

Atau kadang aku berpura2 sakit dan tidak masuk kantor, kadang aku pun bereksebisi di depan Ibu Mertuaku dari dalam kamarku dengan pintu yang sedikit aku buka agar Ibu Mertuaku bisa leluasa melihat kekamarku ketika dia sedang menyetrika pakaian atau sedang lewat di depan kamar ku. Sering pula aku mengintipnya jika iya sedang berganti pakaian, wah.. lekuk indah dan kemulusan tubuhnya.. sulit dilukiskan dengan kata2. Setelah itu kulampiaskan nafsu ku itu dengan ber-onani ria dengan pakaian dalamnya.

Hingga suatu hari, aku sengaja mengambil Cuti, pada saat itu Ayah mertuaku sedang ada urusan kerja di Luar kota sementara pada siang harinya adik2 istriku kuliah dan istriku sendiri ke kantor, dan pembantu jam 9 pagi sudah pulang karena memang hanya mencuci baju saja. Nah inilah saat yang kutunggu untuk benar2 mewujudkan obsesiku untuk menyetubuhi Ibu Mertuaku, dimana hasrat seksualku terhadap kesintalan tubuh Ibu Mertuaku semakin memuncak. Pada saat aku bangun pagi, kulihat istriku sedang ber make-up siap2 utk berangkat kerja, lalu istriku berpamitan padaku, mencium keningku saat aku masih berbaring di tampat tidur, lalu istriku langsung berangkat ke kantor. Ku lanjutkan tidurku karena itu masih jam 6 pagi, aku merancang rencanaku sambil terngantuk2 dan akhirnya kembali tertidur.

Dalam tidurku aku mendengar suara langkah kaki di depan kamarku, langkah kaki mondar madir, lalu aku terbangun dan kulihat jam sudah jam 9.30, dan aku langsung berpikir, itu pasti suara langkah kaki Ibu mertuaku, dan sudah jam segini pasti kami hanya berdua saja dirumah. Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke pintu kamar dengan kubuka sedikit pintu kamarku dari celah itu aku bisa melihat sesosok tubuh sintal, dan benar saja itu adalah ibu mertuaku yang sedang membereskan baju yang telah selesai disetrika oleh pembantu. Suatu pemandangan yang luar biasa yang sangat jarang sekali aku lihat selama aku tinggal di rumah mertuaku ini. Mungkin Ibu mertuaku berpikir bahwa dia sedang sendirian dirumah, karena pada saat itu dia masih memakai daster tidurnya yang berwarna krem berbahan katun tanpa lengan hanya sebuah tali tipis yang menggantung pada kedua pundaknya, daster itupun terlihat lumayan pendek kira2 10-15 cm diatas dengkul-nya.

Bulu kuduk-ku langsung berdiri ketika aku melihat pemandangan tersebut, dari celah pintu, kulihat lekuk tubuhnya yang sangat sintal terlihat jelas dengan bantuan sinar mahari pagi yang menerpa melalui sela2 jendela. Dari terpaan sinar tersebut lah mataku dapat menerawang dengan jelas kesintalan Tubuh Ibu mertuaku yang ada di balik dasternya itu. Aku sangat yakin akan pengelihatanku, bahwa pada saat itu Ibu Mertuaku tidak memakai BH, karena pentil buah dadanya menyembul terjeplak di Dasternya, tapi dia tetap memakai CD warna hitam dan berenda. Pahanya yang putih dan mulus, payudaranya yang montog membusung membuatku sangat terasang dan ingin sekali kuterjang dirinya pada saat itu. Melihat pemandangan seperti itu, aku langsung membuka baju dan celanaku, ku pandangi tubuhnya dari celah pintu sambil mengocok batang penisku. Tiba2 pergerakannya seperti mengarah kearah kamar ku, dan benar saja. Secara spontan dan panik tapi tetap berpikir, ini adalah kesempatan sesuai dengan rencanaku, aku langsung melompat ke tempat tidur dan aku hanya menutupi selangkangan ku dengan bantal dan berpura2 tidur.

Dia langsung masuk membuka pintu kamarku, dari pengelihatanku melalui sela2 kelopak mataku, dia sangat kaget karena melihat Menantunya ternyata masih ada di tempat tidur dalam keadaan telanjang pula, tetapi karena dia melihat aku masih tertidur, dia tetap masuk dan mengambil majalah diatas meja sambil terus memandangi ketelanjangan tubuhku ini, entah dia memang mau mengambil majalah atau hanya berpura2 saja agar dia bisa melihat ketelanjangan menantunya ini. Secara tiba2 aku berpura2 terbangun dan pura2 kaget dengan menarik selimut untuk menutupi penuh penis ku, sambil berkata, Eh Ibu… knp Bu??, dengan lontaran kata2 ku seperti itu, Ibu Mertuaku semakin kaget dan bertambah malu lalu menjawab, Nuel gak kerja…

Maaf ya.. sorry.. sorry.. Ibu kira udah pada berangkat semua… mau matiin AC… Ibu kira udah pada berangkat tp koq AC masih nyala… Ibu mertuaku terlihat kelagapan dan sedikit malu. Iya Bu… saya lagi cuti nih Bu, kataku membalas pernyataannya. Lalu dia terlihat menganggukan kepalanya dan memohon maaf sekali lagi kepadaku, sambil bergegas keluar dari kamarku sambil menutupi sembulan pentil payudara yang terlihat jelas pada dasternya dengan menggunakan majalah yang diselipkan diantara lipatan tangannya, dan dia pun keluar dari kamar ku dan menghilang dari pandangan, untuk menuju ke kamarnya.

Begitu Ibu Mertuaku sudah tak terlihat pandangan mata, aku menunggu sekitar 10-15 menit dan aku langsung bangun dari tempat tidur dan segera berpakaian, aku langsung mengendap-endap menuju kamarnya. Setelah sampai pada depan pintu kamarnya, aku memperkirakan sepertinya dia sedang berada di dalam kamar mandi, kubuka sedikit pintu kamarnya, dari celah itu kutelusuri ruangan kamarnya yang memang kosong dan ketika aku melihat kearah pintu kamar mandi yang berada di dalam kamarnya memang seperti perkiraan ku dia sedang Mandi. Aku masuk kedalam kamarnya secara perlahan tanpa bersuara, kulihat sepertinya dia sudah melepas daster dan celana dalamnya yang digeletakan begitu saja di atas tempat tidurnya, kudekati pintu kamar mandinya yang dilapisi oleh kaca buram, tetapi tetap menampilkan suatu tampilan yang luar biasa, bayangan tubuh Ibu Mertuaku yang sedang mandi, lekukan tubuhnya yang sangat sintal dan bahenol, perutnya yang cukup rata, payudaranya yang membusung dan masih kencang serta pantatnya yang begitu menggemaskan membuat penisku ereksi total secara spontan, walau buram tapi tetap membuatku sangat bergairah. Secara otomatis aku mulai menggosok penisku dari luar celana, apalagi ketika dia menyabuni ketek lalu ke payudaranya dan terus kebawah sampai dia menyabuni selakangannya, yang terlihat samar2 buram aku perkirakan adalah bulu2 halus pada Vaginanya.

Sampai pada akhirnya dia mematikan pancuran air, dan aku agak panik dan segera keluar dari kamarnya, tetapi aku tidak menutup rapat pintu kamarnya, dan sebelum keluar aku berhasil mendapatkan celana dalamnya yang tergantung dibelakang pintunya, dan mungkin belum sempat tercuci, dimana celana dalam itu akan kugunakan sebagai obyek onani-ku. Sekeluarnya aku dari kamarnya aku tidak langsung pergi begitu saja, pintu kamarnya yang tidak kututup terlalu rapat akan menjadi media pengelihatanku sewaktu Ibu Mertuaku berpakaian.

Terlihat dari celah pintu kamarnya, dia keluar dari kamar Mandi hanya berlilitkan handuk, lalu dia duduk di kursi meja rias, sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan pengering rambut, sungguh pemandangan yang sangat seksi.

Pergerakan tangannya utk mengeringkan rambut, membuat lilitan handuknya sedikit demi sedikit melonggar dan akhirnya terlepas, kulihat dari pantulan kaca meja riasnya, sepasang buah Dada yang selama ini hanya bisa kulihat dari luar bajunya, kini aku bisa melihat dengan sempurna, apalagi ketika Ibu Mertuaku berdiri dan berjalan menuju lemari untuk berpakaian, tubuhnya yang sangat sempurna mambuat aku susah untuk menahan gejolak pada penisku, aku mulai mengocok penisku disitu, sampai akhirnya dia selesai berpakaian dan akupun kembali ke kamarku untuk meneruskan masturbasiku, tetapi tidak seperti biasanya kusemprotkan spermaku pada celana dalam-nya, tapi kali ini kusimpan sperma ku untuk nanti ketika aku bisa menetubuhinya dan aku pun bergegas mandi, untuk bergabung bersamanya di ruang tengah, sambil aku meletakan CD nya yg kucuri tadi di tempat pakaian kotor. Pada saat mandi aku berpikir mengulang semua kejadian tadi, menurutku tidak mungkin dia tidak tau, tadi aku mengintip, karena memang pintunya terbuka kurang lebih sekitar 3 inci, pasti dia tau tetapi dia diam saja, atau mungkin dia juga haus akan seks. Aku menjadi semakin penasaran. Dan akupun sudah mempersiapkan rencana selanjutnya, dengan menggodanya dan mengajaknya minum bir dingin dengan campuran sesuatu, karena sudah pasti dia akan tidur siang dengan sangat nyenyak.

Selesai mandi aku bergabung dengan Ibu Mertuaku di ruang tengah, hari menunjukan jam 12.00, waktunya makan siang.

Pada saat itu ibu mertuaku berpakaian biasa2 saja dengan daster berwarna pink memang daster berlengan dan cukup panjang sampai hampir menutupi betisnya, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang sintal.

Sejenak kami mengobrol satu sama lain, sampai pada waktunya Ibu Mertuaku mengajak makan, dan Ibu Mertua ku pun beranjak dari sofa ruang tengah menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang untuk kami. Siang itu memang udara Jakarta terasa sangat panas, seperti yang biasa terjadi sehabis makan siang kami masih berada di ruang makan dengan percakapan yang cukup ringan. Pada saat itu aku pun aku mulai menggodanya, Panas banget ya hari ini Bu, sambil menegadah keatas, dan mengipas2kan tangan ke leher. Lalu Ibu Mertuaku menjawab, Iya… gerah banget ya… abis mandi… trus makan… malah jadi tambah gerah. Langsung aku menimpali perkataannya.

Mungkin juga faktor baju kali Bu… makanya Ibu ke gerahan… mungkin kalo pake baju tanpa lengan dan agak sedikit longgar… bisa rada adem bu, lagi pula kalo menurut saya, badan Ibu tuh ya… masih pantes tau… klo pake tank top atau you can see. Dia terlihat mengerutkan dahinya, dan berkata, Ah… kamu bisa aja… orang udah umur segini, udah tua, malu ah. Aku balas pernyataannya dengan berkata, Bu… orang juga gak nyangka kli umur Ibu 48, klo bilang umur 35 juga orang masih percaya Bu… lagi pula kenapa harus malu, kan dirumah gak ada orang pula. Ibu Mertuaku terlihat tertawa simpul dengan rona merah di pipinya, lalu berkata, Iiiihhh kamu koq genit yach.. sama Ibu Mertua mu… kamu tuh yang harus ganti baju, basah keringatan tuh… nanti masuk angin !!!, kata2 nya itu mengakhiri percakapan kami di meja makan, dan dia langsung pergi dan masuk ke kamarnya. Mendengar komentarnya tadi, aku jadi sedikit deg2an dan makin penasaran, lalu aku pun masuk ke kamarku dan mengganti kaos ku yang basah berkeringat, dan sekalian mengganti celanaku dengan celana boxer tapi aku sengaja tidak memakai celana dalam.

Begitu aku keluar kamar aku melihat ruang tengah masih kosong, dan kulihat sepertinya Ibu Mertuaku masih ada didalam kamarnya, yang ada di benak ku… Apakah dia mengganti bajunya seperti yang aku sarankan?… Atau mungkin dia malu utk keluar karena memakai pakaian yang agak terbuka, dan telihat oleh Menantu laki2nya… Tetap ku tunggu kehadirannya di Sofa ruang tengah sambil aku persiapkan Bir dingin dari lemari es dan ku letakan di meja sofa, dan akupun menunggunya dengan menonton TV. Beberapa menit kemudian aku mendengar pintu kamarnya bedecit dan terbuka keluarlah Ibu Mertuaku dari dalam kamarnya, benar saja ternyata dia mengganti bajunya dan sekarang memakai daster berwarna merah tanpa lengan tapi tidak terlalu mini seperti daster tidurnya, tidak terlalu pendek juga pas sedengkul.

Aku tetap stay cool, pada saat itu… tetapi jantungku ini makin berdebar makin keras. Kami duduk dalam satu sofa tapi tetap dengan jarak yang berjauhan, kubuka kaleng Bir itu, dan menawarkan kepadanya… dengan senang hati dia menerima tawaranku. Karena aku tau Ibu Mertuaku pasti tidak akan minum banyak, makan dengan rencana busuk-ku, ku bubuh kan sedikit obat tidur pada gelasnya secara diam2, dengan harapan dia menjadi mengantuk, setelah beberapa saat. Obat tidur ini adalah sangat special, aku lupa namanya yang jelas… obat ini memang membuat orang tidak berdaya alias sedikit tertidur jika meminumnya, tetapi orang yang meminumnya akan tetap merasakan yang terjadi pada tubuhnya. Mungkin rasanya seperti mimpi yang nyata.

Jam menunjukan pukul 13.30, kami bercakap2, sambil sesekali aku melirik kearah payudara dan terkadang melihat betisnya, memang sangat menggiurkan. Setelah beberapa menit, percakapan itu berlangsung sambil kami minum minuman yang tadi kupersiapkan, dia mulai merasa bahwa dia sangat mengantuk. Pada saat itu obat tidur yang kuberikan mulai bereaksi pada tubuhnya. Lalu aku mengatakan kepada nya, agar tidur siang saja.

Akhirnya dia bangkit dari sofa dan masuk ke kamarnya. Ku tunggu sebentar kurang lebih 15 menit, dan aku sudah sangat tidak sabar ingin menikmati tubuh Ibu Mertuaku itu. 15 Menit terasa sangat lama tapi akhirnya menit demi menit itupun berlalu, waktu hampir menunjukan jam 14.00, aku harus segera melaksanakan dan menuntaskan birahi ini agar cepat terselsaikan, karena bila semakin sore takut istri dan adik2nya pulang. Aku punya waktu kurang lebih 1-2 jam. Maka aku segera bangkit dari sofa dan masuk ke kamar Ibu Mertua ku, kulihat dia sudah tertidur lelap dan agak mengorok pelan. Aku kembali keluar rumah untuk menggembok pintu dan tidak lupa mengunci pintu utama rumah, agar tidak ada siapapun yang bisa langsng masuk entah itu istriku ataupun adik2nya. Setelah semua sudah terasa aman aku masuk kembali ke kamar nya, pintu kamarnya tidak kututup terlalu rapat kubuka sedikit agak lebar agar bisa terdengar suara dari luar jika ada yang datang. Kumatikan lampu kamarnya dan kututup korden jendela kamarnya, agar agak remang2, berjaga bila Ibu Mertuaku mulai tersadar dia tetap merasa bahwa itu mimpi, karena memang dosis obat tidur yang kuberikan sangat ringan. Karena aku ingin suatu efek dan dampak dari dirinya bila disetubuhi, karena sensasinya itu pasti akan jauh lebih membawaku terbang.

Kubuka semua pakaianku, dalam keadaan bugil ini aku langsung naik keatas tempat tidur mertuaku.

Sebelum kulucuti pakaiannya, sedikit kutampar pipi-nya tetapi tidak keras, untuk memastikan dirinya tidak berdaya. Setelah yakin, baru kulepaskan satu2 pakaiannya, mulai dari dasternya kulepaskan memang agak sulit karena dia berbaring agak meringkuk, tetapi akhirnya lepas juga, setelah itu BHnya, yang dapat dengan mudah kulepaskan karena pengaitnya ada di depan diantara cup BH-nya, lalu terpampanglah payudara seorang Ibu2 berumur 48 tahun yang sangat ranum, putih dengan pentilnya yang berwarna merah muda kecoklatan, dengan sedikit remasan pada kedua payudaranya, aku langsung menuju kebawah, yaitu CD nya yang berwarna coklat dengan renda. CD seperti itulah yang selama ini membuat ku sangat bernafsu, kali ini aku bisa mendapatkan isi dari CD itu.

Kuturunkan CD nya sampai terlepas dari kedua kakinya, dan terlihatlah Vagina Ibu Mertuaku dengan bulu2 halusnya yang sangat terawat dan tercukur rapih.

Sekarang kami berdua sudah dalam keadaan telanjang, ketelanjangan antara seorang Ibu Mertua dengan menatu laki2nya.

Kupandangi beberapa detik tubuh telanjangnya yang terlentang pasrah di tempat tidur, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, terlihat sangat indah, cantik, putih mulus tak bercela dan sangat menggairahkan, lalu ku lebarkan sepasang kakinya selebar mungkin dan terlihatlah Vagina-nya yang terawat dengan bulu2 yang tercukur sangat rapih.

Penisku sudah ngaceng total, kereksian yang benar2 fulll. Lalu aku beranjak berlutut diantara kedua pahanya yang telah ku lebarkan, dan aku mulai membaringkan tubuh bugilku diatas tubuh Ibu Mertuaku, kucium dahinya sambil ku belai rambutnya, kulumat bibirnya sambil terus ku jejali lidahku ke dalam mulutnya sedalam mungkin dan penis ku yang sudah mengeras secara otomatis tergesek membelah bibir Vaginanya dan membuat gesekan pada klitorisnya, setelah itu kutelusuri leher-nya yang jenjang kuberikan sedikit cupangan kecil pada lehernya, aku ingin membuatnya penasaran saat dia sadar nanti, kuremas payudaranya dan kusedot satu persatu kedua puting susunya, dan aku merasa puting susunya seperti mengeras dan semakin meruncing, ketika kuraba Vaginanya yang sudah agak basah, menurutku mungkin dia sudah sedikit tersadar tetapi mungkin dia masih bertanya dalam hatinya ini mimpi atau fakta.

Kuturunkan kepalaku diantara pahanya lalu kujilat Vaginanya dengan sedikit membuka bibr vaginanya dengan jari2 ku, kumasukan jari telunjuk kedalam Vaginanya yang sudah basah, sambil kuhisap klitorisnya yang juga sudah membesar sebesar kacang, sambil terkadang ku lihat kearah wajahnya, matanya seperti membuka sedikit demi sedikit, lalu terpejam lagi, belum puas aku melihat efek dari raut wajanya, kumasukan 2 sampai 3 jari kedalam vaginanya, kucocok dan kuaduk jari2 ku di dalam Vaginanya, aku mulai mendegar rintihan kecil dari mulutnya yang agak terbuka. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Ibu Mertuaku ini. Maka kusiapkan batang penisku yang sudah keras dan tegang, tetapi sebelum kutancapkan kedalam vaginanya, kumasukan terlebih dahulu penisku kedalam mulutnya, kujejali semua batang penisku kedalam mulutnya dengan gaya 69, sambil aku menjilati Vaginanya dan kuputar lidahku di sekitar liang anusnya. Kurasakan mulutnya mulai melakukan pergerakan2 menolak dan berusaha memuntahkan penisku dari dalam mulutnya, sepertinya dia sudah mulai tersadar, dengan pergerakan tubuhnya sedikit demi sedikit, dan matanya pun mulai terbuka sedikit.

Ku perbaiki posisiku dengan kembali berbaring diatasnya, lalu dengan sekali sodok saja, penisku masuk kedalam Vagina Ibu mertuaku… blesssss… rasa yang sangat luar biasa, dalam keadaan tidak sadar saja Vaginanya seperti menghisap dan memijat dari dalam… apalagi bila dalam keadaan sadar. Kukocok penisku sedalam2 nya, dengan sangat brutal dan liar… Vaginanya lama kelamaan makin becek aku mulai merasakan ada sesuatu yang mengalir yang menyemprot kepala penisku dari dalam Vaginya, dan tubuhnya pun seperti menegang dan bergetar.

Harus kuakui Vagina Ibu Mertua ku lebih mantap dari Vagina Istriku. Sepertinya Ibu Mertuaku sudah mengalami orgasme. Waktu terus berjalan, aku kocok terus penisku sedalam dalamnya pada Vagina Ibu Mertuaku semakin kencang, akupun sudah khampir keluar, tetapi aku sepertinya mulai merasakan tolakan2 dari tubuhnya, tanganya mulai bergerak lemas seperti mau melepaskan penetrasiku terhadapanya, pahanya pun seperti ingin merapat, tapi pergerakan itu malah membuat penetrasiku semakin kencang. Akhirnya kumuntahkan cairan maniku ku dengan 4-5 kali semprotan ke dalam Rahim Ibu Mertuaku, dan aku langsung terkulai lemas terbaring diatas tubuhnya.

Sambil kucium bibirnya, kucabut penisku dari vaginanya, ku bersihkan penisku memakai celana dalam Ibu Mertuaku, lalu aku duduk di kursi yang berada disebelah tempat tidurnya, sambil memandangi tubuh Ibu Mertuaku. Sperma yang kusemprotkan sangat banyak, mengalir keluar dari dalam Vagina-nya yang telah bercampur dengan cairan kewanitaan Ibu Mertuaku. Aku sedikit termenung, apakah dia juga puas akan perbuatan ku kepadanya, posisi nya belum berubah masih terlentang dan mengangkang. Apakah dia sudah sadar atau belum, jika sadar berarti dia juga mau… mungkin setengah sadar dan masih menganggap semua ini adalah mimpi indah.

Penisku yang tadinya sudah lemas kembali bangkit lagi bergairah, setelah beberapa saat, kulihat jam waktu menunjukan pukul 15.00, mungkin aku masih ada sedikit waktu. Kuambil sedikit bodi lotion Ibu Mertuaku dari meja riasnya, dan aku pun merubah posisinya…

membalikan badannya menjadi tengkurap dan mengganjal perutnya dengan dua buah bantal agar pantatnya membusung ke atas, dan juga tidak lupa melebarkan sepasang pahanya. Posisi ibu mertuaku menjadi menungging, dan aku pun sudah berlutut di belakangnya siap menyodoknya dengan posisi doogy style, kumasukan kembali penisku kedalam vaginanya… posisi ini rasanya memang lebih nikmat, sambil kusodok Vaginanya…

aku mengambil lotion dan kutaruh pada jari telunjuk ku kugosokan jari telunjuk ku pada lubang anus Ibu Mertuaku sambil sedikit demi sedikit kumasukan telunjuk ku ke dalam anusnya, dalam beberapa saat pada posisi doogy style aku merasakan kembali sesuatu menyemprot penis ku dari dalam Vaginanya, serta di iringi getaran pada tubuhnya serta desahan lembut yang terdengar seperti bebisik pelan, dia telah mengalami orgasme untuk yang kedua kalinya, kataku dalam hati. Pikiranku makin liar, kucabut penisku… dari Vaginanya yang becek oleh cairan oragsmenya, dan kembali mengoleskan lotion itu pada kepala penis dan batang penis ku, kukocok dengan tanganku agar rata…

lalu aku mulai mengambil ancang2 untuk memasukan penisku kedalam lubang anusnya, saat itu memang menegangkan, karena Ibu Mertuaku seperti tersadar dari tidurnya… pinggulnya mulai bergerak menolak bergeser ke kanan dan ke kiri, kulihat wajahnya tetapi matanya masih tertutup tetapi memang dahinya agak berkerut, aku takut dia sadar, tapi experiment ku kali ini harus berhasil. Ku pengang erat pinggulnya agar tidak bergerak, sampil tetap ku tekan tanganku pada punggungnya agar dia tetap merebah, lalu kutekan kuat2 penisku kedalam anusnya, sulit sekali masuk…

akhirnya dengan sedikit ludah yang kuteteskan dari mulutku ke kepala penisku, penisku dapat masuk mulai dari kepala, kutekan sedikit lagi sampai pada batangnya, setelah masuk semua dengan perlahan mulai kukocok penisku di liang anusnya, sambil sesekali kulihat kearah wajahnya dengan mata tertutup tetapi giginya seperti mengigit bibir bawahnya dan dahinya pun berkerut…

Ssshhhh… Mmmpffffff…

itu saja yang terdengar dari mulut Ibu Mertuaku, Aku merasa bahwa pasti sekarang Ibu Mertuaku sedang menahan perih pada anusnya, sementara aku sedang menahan nikmatnya anus Ibu Mertua yang memang belum pernah di jamah siapapun, dan menahan semburan spermaku pada lubang anusnya. Karena saking sempitnya anus Ibu Ku dan sangat kesat, dengan beberapa kocokan yang sangat cepat dan dalam, aku langsung menyemburkan spermaku kembali pada liang anusnya. Rasa yang luar biasa… surga Dunia yang sempurna.

Setelah kucabut batang penisku dari dalam anusnya.

Aku langsung beranjak dari tempat tidur, kubiarkan posisinya tetap seperti itu, akan kubereskan nanti setelah aku selesai membersihkan penisku. Ku langkahkan kaki ku ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya… kucuci penisku, sambil merenung dalam hati, aku tidak pernah berhungan anal dengan istriku karena memang dia sangat tidak mau, hahaha… tetapi aku bisa mendapatkanya dari Ibu- nya, yang mungkin ayah mertua ku pun belum pernah merasakan lubang yang satu itu.

Setelah selesai aku kembali lagi kepadanya, dan melihat posisinya sudah berubah menjadi meringkuk sangat rapat, dan melihat sperma segarku yang mengalir dari anusnya membasahi seprai tempat tidur. Melihat keadaannya yang seperti itu, gairahku kembali memuncak, kulihat jam menunjukan hampir jam 4 sore, kupikir masih ada waktu 15 menit untuk satu buah ekxperimen lagi. Dalam keadaan ku yang masih telanjang, kupandangi wajah Ibu Mertuaku, ekor matanya agak basah, apakah dia sadar terus menangis… masa bodoh apa boleh buat… kupegang rahangnya kubuka paksa dan aku menyodokan penisku kembali kedalam mulutnya, saking bernafsunya aku…

Ibu mertuaku sampai mengeluarkan air mata, kutanamkan penisku sampai kepada kerongkongannya… dan aku rasakan ibu mertuaku seperti menahan ingin muntah… sekitar 10 menit eksperimen ini berlangsung, dan akhirnya ku semprotkan sisa spermaku memang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu kental kedalam tenggorokannya kujepit hidungnya sesaat agar dia mau menelan spermaku, dan spermaku pun habis tertelan olehnya. Kucabut penisku dari mulutnya.

Dan ku lap penisku dengan celana dalamnya, lalu aku langsung berpakaian, dan aku pun tidak lupa untuk membereskan dan memakaikan kembali pakaiannya BH sampai celana dalamnya yang penuh dengan ceceran cairan surge milik kami berdua, dimana celana dalam itu kupakai untuk membersihkan penisku, Vagina Ibu Mertuaku dan lubang anusnya dari aliran2 spermaku. Setelah kuyakinkan semua beres, aku buka kembali semua pintu yang tadi kukunci dan aku masuk kekamarku duduk dengan manis menunggu istriku pulang.

Pas jam setengah enam sore, istriku pulang dan aku keluar dari kamar untuk menyambutnya, kulihat ibu mertuaku juga sudah bangun, dan agak menatap sinis kepadaku, aku hanya tersenyum sedikit, walau memang agak deg2an, tapi aku yakin dia tidak akan bilang pada siapapun, karena aku tau dia pun juga menikmatinya.

Ku sapa Ibu Mertuaku, dan dia membalas tegoranku dengan sangat datar. Saat makan malam tiba dan kami makan bersama, Aku dan Ibu Mertua ku pun saling bertatapan penuh arti, sampai pada keesokan paginya… aku masih cuti… kulihat dia dengan pakaian tidur yang seksi dan sudah agak cuek dengan penampilannya yang minim di depan menantunya. Kulihat Ibu Mertuaku sedang menjemur sperai, celana dalamnya, ternyata dia pun langsung mencucinya mungkin untuk mengilangkan jejak… hahaha tawaku dalam hati. Mungkin lain kali akan kusetubuhi dia dalam keadaan sadar.

TAMAT.

© 2022 - CeritaSeru.xyz