November 02, 2020
Penulis — planet13th

Emosi Terhadap Keponakan

Sebelum masuk ke cerita, perkenalkan namaku Andi (nama samaran hehe). Dalam cerita ini aku ingin menceritakan kejadian yang aku alami 10 tahun yang lalu. Meskipun merupakan peristiwa nyata namun karena kurang barbuk berupa foto (10 tahun yg lalu hp kan lum ad kameranya..) maka aku berpikir tuk memasukkannya ke dalam kategori cerita panas saja.

Cerita ini bermula ketika aku diminta menjemput keponakanku yang bernama Ani (nama samaran juga yaaa) dari rumahnya di daerah Bogor untuk tinggal bersama keluargaku di Jakarta. Ani yang saat itu kelas 3 SMA diminta tinggal bersama keluargaku agar aku dapat mendidiknya karena orangtuanya sudah tidak sanggup lagi mngatur tingkah lakunya yang sering keluar rumah.

Tetapi satu hal yang tidak mereka ketahui bahwa Ani dan aku memiliki hubungan khusus. Perlu diketahui bahwa Ani yang berperawakan kutilang merupakan salah satu gadis idola di sekolahnya. Saat pertama kali dia datang ke rumah sebelumnya, aku langsung tertarik dengan wajahnya yg cantik dan bodinya yang seksi meskipun kategori kutilang tocil.

Kembali ke penjemputan, aku tiba di Bogor sore hari dan setelah beristirahat di rumahnya setengah jam, aku langsung pamit kepada kakak sepupuku yg merupakan ibunya Ani, tuk langsung membawa Ani ke Jakarta. Selama perjalanan di atas motor, kami mengobrol untuk menghilangkan kantuk sambil sesekali aku menggodanya kalau aku rindu petting dengan dia..

ia hanya tertawa kecil dan langsung mengalihkan pembicaraan. Tanpa terduga, ketika kami baru mencapai sekitar Gandaria, hujan turun dengan derasnya sehingga memaksa aku menepikan motor di halte untuk mencari perlindungan. Suasana hujan yg deras dan jam yang telah menunjukkan jam 7 malam membuat suasana di halte sepi..

disana hanya terlihat satu pasangan lain selain aku dan Ani. Sambil menunggu hujan reda aku dan Ani melanjutkan obrolan sambil memeluknya karena Ani merasa kedinginan. Entah saat itu kami sedang membicarakan hal apa, tiba-tiba saja meluncur pengakuan dari keponakanku itu kalau dia baru saja melepaskan keperawanannya kepada pacarnya satu hari sebelum aku jemput.

Aku yang berharap mendapat keperawanannya tentu saja langsung emosi dan tanpa bicara apapun langsung berjalan ke motor dan menyalakan mesinnya.. Ani yg bingung dengan reaksiku dan takut ditinggal langsung mengejar naik ke atas boncengan motorku. Aku pun langsung memacu motor butut milikku di tengah hujan yang deras dengan kecepatan penuh.

Kali ini dalam perjalanan tidak ada lagi obrolan ataupun bercandaan, yang terdengar hanya suara hujan dan tangisan Ani yang terus terdengar hingga dekat rumahku. Ketika mendekati tikungan terakhir sebelum sampai rumah aku meminta Ani menghentikan tangisnya karena takut nanti dimarahi kedua orang tuaku.

Sesampainya di rumah kami berdua disambut omelan kedua orang tuaku karena basah kuyup, beruntung air mata Ani tertutupi oleh basah air hujan. Ibuku langsung meminta kami berdua mandi agar tidak terkena masuk angin (sudah terbiasa dalam budaya suku ku tuk seperti itu untuk mandi (tapi di kamar mandi yang terpisah loh), dan setelah itu aku makan malam dan kemudian pamit tidur dengan alasan kepala mendadak pusing.

Tak berapa lama kemudian Ani pun menyusul aku ke kamar, biasanya kalau Ani menginap, aku tidur di depan TV karena Ani tidur di kamarku, entah alasan apa yang dikemukakan Ani kepada orangtuaku sehingga kami diijinkan tidur satu kamar. Di dalam kamar, Ani berbisik meminta maaf padaku namun aku terus pura-pura tidur.

Ketika menjelang tengah malam, aku bangkit menuju kamar mandi di luar kamarku untuk buang air kecil. Saat itu aku menyadari bahwa semua orang di rumahku sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing. Sejenak terlintas di pikiranku tuk menggarap Ani malam itu namun karena masih dalam keadaan emosi aku mengurungkan niatku dan langsung tidur kembali di samping Ani.

Belum sempat aku memejamkan mata, Ani bangun dan sekali lagi mengutarakan maafnya, tanpa menunggu ia selesai mengucapkan kalimatnya aku yang masih dalam keadaan emosi tanpa berbicara apapun menarik Ani dan langsung menyumpal mulutnya dengan bibirku. Ani yg kaget tak dapat bereaksi lain selain mengikuti permainanku.

Setelah puas menciumnya, aku mengajak Ani berdiri membelakangiku yg sudah lebih dahulu berdiri. Dari posisi tersebut kupeluk erat tubuhnya sambil tanganku menyibakkan baju dan bra nya ke atas. Setelah tocilnya yang padat itu terlihat, aku langsung menyusu, menjilat dan memilin putingnya yang menggairahkan.

Ketika mulutku mengulum pentilnya yang kanan maka satu tanganku meremas-remas tocil bagian kiri dan sebaliknya, sedangkan tangan yg lainnya berusaha membuka kaitan bra miliknya. Ketika mulai merasakan enak, Ani pun tidak tinggal diam, ia mulai menanggalkan baju atasnya dan branya sehingga kini terlihat topless.

setelah itu tangannya masuk ke dalam celanaku mencari-cari batang penisku, dan langsung diremas-remasnya dg penuh semangat. Tak lama kemudian Ani meminta aku menanggalkan seluruh pakaianku dan pakaiannya tanpa melepas genggamannya dari penisku. setelah bugil, Ani berlutut dan tanpa kuduga memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan mulai menggerakkannya maju mundur di dalam mulutnya, padahal sudah beberapa bulan sebelumnya ia selalu menolak setiap kali aku meminta mengoral pensiku.

Aku yg terpana hanya diam menikmati blowjob ternikmat dari keponakanku. Sekitar 30 menit aku belum juga keluar, Ani menghentikan servisnya, kali ini ia kembali berdiri dan menciumku, tangannya membimbing tanganku tuk memainkan vaginanya yg sudah becek karena terangsang. Ani membisikkan padaku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya, mendengar hal tersebut aku langsung menarik diri dari pelukannya.

Ani kupinta melonggarkan kedua kakinya, dan dalam posisi kami berdua masih berdiri perlahan-lahan aku mencoba mengarahkan rudal dagingku ke sasaran, namun setelah dicoba beberapa kali penisku gagal menembus liang vaginanya. Ani yg terangsang hebat dan menanti genjotan penisku di dalam vaginanya tidak kehabisan ide, ia mundur menyender ke pojok kamar dan sedikit merendahkan posisinya dg menekuk sedikit kedua lututnya sehingga vaginanya kini menghadap ke arahku, kemudian ia memintaku mencoba lagi dan akhirnya aku berhasil dengan sekali mencoba.

Ani sedikit terpekik ketika kepala penisku berhasil menembus vaginanya karena memang penisku kepalanya lebih besar dari badannya. Perlahan namun pasti sedikit demi sedikit lubang itu menelan penisku. Ketika baru seperempat batang yg masuk, kurasakan ada yg menghalangi di dalam vaginanya, namun setelah aku tambahkan tenaga dan menusuknya sekuat-kuatnya akhirnya seluruh penisku dapat masuk ke dalam vaginanya meskipun saat kulakukan tusukan itu Ani merintih kesakitan dan setetes air mata mengalir di pipinya.

Tanpa berani menggerakkan penis, aku mencium Ani di keningnya, dan tanganku kembali bergerilya meremas-remas payudara kecilnya sambil sesekali memainkan putingnya. Tak berapa lama Ani memintaku melanjutkan menggerak-gerakkan penisku, ketika ku gerakkan penisku maju mundur, erangan kesakitan dari mulutnya perlahan-lahan berganti menjadi erangan kenikmatan.

Setelah mulai terbiasa dg penisku, ia meminta berganti posisi. Ani menyuruhku duduk di lantai, Ani memasukkan kembali penisku itu dg style WOT.. Tak berapa lama kami berganti posisi kembali.. aku memintanya duduk di pinggiran meja belajarku, kemudian aku kembali menusuk vaginanya dengan sekuat-kuatnya.

Dengan gaya itu kami bisa saling berciuman dan saling memeluk hingga akhirnya aku dan dia sama-sama mencapai orgasme dan aku menyemprotkan seluruh isi penisku ke dalam liang vaginanya. Ketika hendak kucabut penisku, Ani malah memelukku erat dan membisikan ucapan terima kasih. Aku yg saat itu tak mengerti hanya membalasnya dengan ciuman hangat di pipinya.

Malam itu kami habiskan tidak dg mengobrol dan langsung tertidur setelah kami berdua memakai kembali pakaian kami. Menjelang jam 5 pagi aku dikagetkan oleh ciuman mesra dibibirku oleh Ani. Rupanya ia baru juga bangun. Ia menanyakan apakah aku masih marah kepadanya. Aku hanya menjawab dg gelengan sampai kulihat Ani membuka CDnya di hadapanku dan menunjukkan bercak-bercak merah yg ada di CDnya.

Kemudian ia menurunkan celanaku (waktu itu kupikir Ani menginginkan bercinta lagi) dan menunjukkan batang penis dan CD ku juga terdapat sedikit bercak darah. Rupanya ia mau menunjukkan bukti bahwa ia masih perawan dan memberikan keperawanannya hanya kepadaku. Masih setengah percaya aku hanya menariknya dan mengucapkan terima kasih dan pamit untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Malam harinya, di kamar tidur yg sama aku menanyakan kebenaran ceritany tentang pacarnya sekaligus mengecek apakah darah yg tadi pagi ada di CD merupakan darah haidnya. Ani hanya tersenyum dan menceritakan bahwa pengakuannya tentang direnggutnya keperawanannya oleh kekasihnya hanyalah pancingan belaka untukku agar berani memerawaninya.

Dia bilang memang kekasihnya meminta hubungan badan namun Ani merencanakan baru minggu depan memenuhi keinginan kekasihnya itu dg maksud memberikan pengalaman pertamanya kepadaku. Aku yg keras kepala masih belum percaya mengingat servis yg dia berikan kepadaku malam sebelumnya bukanlah servis amatir, namun langsung dijawab Ani bahwa ia belajar dari film2 khusus untuk memuaskan diriku.

Untuk membuktikan dia tidak sedang dalam keadaan haid, Ani membuka seluruh pakaiannya di hadapanku dan terpampang vaginanya yg bersih tanpa bercak darah. Aku pun tersenyum bahagia dan tak lupa langsung menyerbu dan mengulang kembali pertempuran malam sebelumnya, kali ini tidak dengan emosi melainkan dengan penuh kasih sayang seakan keponakanku itu pacar kesayanganku.

© 2022 - CeritaSeru.xyz