November 02, 2020
Penulis — dhul gembez

Cah Rantau- Mbak Narti

Jam 4 pagi aku tiba di terminal Rawamangun setelah semalaman menempuh perjalanan dari pinggiran Kota Gudeg menaiki sebuah PO Bus yang berslogan “Safety dulu, baru Fulus” itu. Selain diriku, ada beberapa penumpang lain yang turun, termasuk perempuan muda yang tadi duduk di sebelahku. Wajahnya masih pucat karena tadi sempat melepaskan muatan makanan gara-gara melihat ceceran tubuh pembalap liar yang tergilas bus Muriaan di pinggir tol beberapa jam lalu, yang berakibat basahnya sebagian celana panjangku terkena muntahannya.

“Langsung jalan Mas?”

“Nggak Mbak, itu ada masjid, mau kesitu dulu” Jawabku. Yup, ini pertama kalinya aku ke Ibu Kota sendirian. Demi keamanan, aku akan bebersih dan istirahat sebentar sambil menunggu sampai agak terang.

“Yaudah Mas, aku bareng.” Sahutnya sambal mengekor di belakangku. Mungkin ia juga mempunyai pertimbangan yang sama sepertiku.

Selesai bebersih aku beristirahat di serambi masjid dan mengirim pesan kepada kakak sepupu bahwa aku telah sampai di Terminal, dan akan segera dijemput oleh anaknya.

Perempuan muda itu kembali mendatangiku. Kami pun terlibat obrolan sampai beberapa saat hingga ponakanku muncul menjemputku. Dari pengkuannya, ia bernama Indri dan bekerja di sebuah bank swasta di kawasan Kelapa Gading. Akupun pamit dan kami sempat untuk bertukar nomor HP sebelum berpisah.

Akupun sampai di kontrakan kakak sepupuku yang terdiri dari satu petak ruang depan, satu petak untuk kamar dan kamar mandi yang berhimpitan dengan dapur. Di sekelilingnya terdapat beberapa gedung perkantoran yang lumayan tinggi sehingga lokasinya sedikit tersembunyi dan akses jalan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor saja.

Satu setengah bulan kemudian aku memutuskan untuk kost sendiri karena telah diterima bekerja. Lokasinya hanya di belakang kantorku bekerja dan berjarak dua kilometer dari kontrakan kakak sepupuku. Lingkungan sekitar kost ku sebenarnya agak kumuh, tapi aku tak begitu mempermasalahkannya karena aku tinggal di lantai 3 dengan pertimbangan harga yang jauh lebih murah, terasa agak longgar karena tempat jemuran yang luas dan hanya ada 4 kamar, itupun yang dua sengaja dikosongkan karena bocor sedangkan kamar mandi ada 3 plus tempat cuci di masing-masing lantai.

Penghuni di lantai satu kebanyakan keluarga, lantai dua kebanyakan pasangan pasutri dan bujang, sedangkan kamar sebelahku adalah seorang wanita 38 tahun yang berasal dari Pesisir utara Jawa Tengah yang berprofesi sebagai pelayan di sebuah warteg tak jauh dari situ, namanya Mbak Narti. Di sini dia sendiri, karena kedua anaknya di kampung halaman bersama keluarga besar orang tuanya dan pulang paling cepat 6 bulan sekali.

Tak butuh waktu lama, aku pun cepat akrab pada Ibu dua anak yang mempunyai tubuh sedang ini karena mempunyai bahasa ibu yang sama. Pada awalnya, dia sedikit pendiam, tapi lama-lama cair dan bahkan sering bercanda dan berani main fisik dengan mencubit atau nyenggol. Dia seringkali membawa sayur dari warteg dan kemudian kami makan bersama.

Setiap sore Aku yang menanak nasi, dia yang bawa sayur dan lauk untuk makan malam dan sarapan pagi karena dia punya kompor gas yang ada di pojok tempat jemuran. Mbak Narti berangkat jam 6 pagi dan pulang selepas maghrib. Sedangkan aku sendiri biasanya berangkat jam 7 pagi tapi pulangnya sering tidak menentu.

Pada suatu malam, cuaca terasa begitu panas. Ceiling fan dan stand fan terasa tak mampu mengusir hawa panas di dalam kamarku. Aku pun berinisiatif mematikan lampu kamarku, dan memang terasa agak mendingan. Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa ada beberapa spot lubang dan renggangan pada dinding papan pembatas kamarku dan kamar Mbak Narti.

Iseng aku mencari celah untuk melihat kondisi ruang sebelah. Terlihat Mbak Narti baru saja pulang dan masih memakai baju seperti tadi pagi. Kebetulan tempat tidurnya mepet dengan dinding pembatas. Kulihat dia duduk di tempat tidur sambil bermain HP. Tanpa kuduga, tiba-tiba dia melepaskan kaos dan melemparkannya ke ember cucian di pojok kamar, memperlihatkan bra warna coklat yang biasanya hanya aku lihat tergantung di kawat jemuran, dan lipatan lemak pada perut tapi tak membuncit.

Belum hilang keterkejutanku, tiba-tiba dia berdiri dan melepaskan celana panjang dan menaruhnya di cantelan baju. Bra warna coklat dan celana dalam warna krem khas Ibu-ibu, itulah masih melekat di tubuhnya. Ia duduk kembali di ranjang dan melepaskan BH nya. Terlihat kilatan keringat membasahi tubuhnya.

Ia pun kemudian berbaring dengan posisi membelakangi dinding, tepat di depan posisiku mengintip. Kulihat ia memijat-mijat payudaranya dan kemudian sesekali meremasnya, kemudian bangkit dan mengambil HP lawas merk lokal dan kembali rebahan. Kuperhatikan dia sedang membuka file manager dan memutar video.

Tak pernah kusangka, dibalik kalemnya Mbak Narti, ternyata dia juga doyan nonton film porno walau dengan kualitas burik. Ia wanita beranak dua dan baru menjelang 40 tahun, kupikir wajar kalau gairahnya masih ada. Ternyata koleksi film pornonya hanya ada 3 saja, itupun durasinya pendek. Beberapa saat ia kembali meremas-remas payudaranya sebelum kemudian bangkit dan memakai daster dan keluar membawa perlengkapan mandinya.

Aku yang tadi berniat ngadem malah tambah kepanasan karena kegiatan mengintip tadi, dan fix, Mbak Narti jadi objek pengamatanku hampir setiap hari, dan membuatku sedikit berubah pandangan terhadapnya, walaupun aku belum berani berbuat lebih, selain sedikit senggol-senggol ketika guyon ataupun angkat jemuran.

Siang itu sekitar jam 11 aku mendadak dipanggil atasan untuk datang ke rumahnya tak jauh dari kantor, yang jujur saja membuatku agak panik karena hari itu tanggal merah dan aku masih malas-malasan. Sampai di rumahnya, ternyata beliau memberiku daging kurban (kebetulan waktu itu Lebaran Haji). Sampai di kost, sempat berpikir untuk kuberikan saja pada Kakak sepupuku, tapi kuurungkan ketika kulihat Mbak Narti sedang mencuci.

“Mbak Narti lagi sibuk?” Tanyaku.

“Nggak Mas, kenapa? Mau ngajakin dolan, mumpung aku libur?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Ealah Mbak, tanggal tua gini. Ini aku dikasih daging sama bos, Sampeyan mau masakin nggak, nanti kita makan bareng.”

“Yang bener mas?”

“Lah ini Mbak”. Sambil kutunjukkan plastik kresek hitam berisikan daging mentah padanya.

“Oalah, yowes aku tak selesaikan nyuci dulu, terus beli bumbu dulu sebentar”.

“Beli bumbu berapa Mbak?”

“Gampang, nanti saja. Wong sampeyan udah siapin daging kok”.

“Yowes nanti dihitung belakangan”. Pungkasku.

Agak luput dari perhatianku, ternyata Mbak Narti hanya mengenakan daster batik lusuh yang telah basah oleh air dan agak sedikit tersingkap, memperlihatkan paha mulus yang berkilatan terkena pantulan cahaya siang hari. Akupun tetap disitu sambil mengumpulkan beberapa alat makanku yang kotor dan berlama-lama sambil curi-curi pandang ketika dia menjemur karena dari posisiku, dasternya terlihat menerawang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh bagian bawahnya, yang membuat gairah pemuda seperempat abad seperti aku cepat naik.

Tak berapa lama, Mbak Narti pun membawa bumbu masak. Aku menyarankan untuk membawa perlengkapan masaknya ke dekat tempat jemuran yang agak teduh. Sementara dia meracik bumbu, aku mencuci daging dan kemudian dambil posisi duduk di depannya untuk mulai mengiris daging. Saking asyiknya, Mbak Narti tak menyadari kalau ujung daster yang dia kempit melorot ke bawah.

“Liatin apaan sih Mas, nyampe segitunya”. Katanya sambil mengatupkan kedua kakinya.

“Eh, enggak kok Mbak”. Jawabku kikuk karena tertangkap basah menatap perangkatnya.

“Tungguin di dalem aja, nanti tak anter kalau udah mateng”. Lanjutnya.

Akupun beranjak dan baru ingat kalau belum menanak nasi. Aku kembali ke tempat cucian untuk mencuci beras dan kembali ke kamar untuk menyalakan magic jar, sejenak Mbak Narti sempat melirik sambil tersenyum yang membuatku semakin kikuk. Beberapa saat kemudian Mbak Narti memberi tahu bahwa masakan sudah matang, akupun kemudian menyiapkan nasi di piring agar tidak terlalu panas untuk kami berdua sementara dia mau cuci tangan.

Cuaca yang dari tadi mendung ternyata berujung gerimis yang semakin deras. Akupun keluar untuk membereskan perlengkapan sementara Mbak Narti mengangkat jemurannya. Gerimis berubah menjadi hujan yang lumayan deras, hari pun menjadi gelap padahal belum ada jam 2 siang. Kami pun makan bareng lesehan di kasur tipis kamarku.

“Mbak, kalau makan habisin dulu. Main HP nya nanti, kan jadi nggak kerasa kalau dari tadi duduknya sembarangan”. Kataku sambil menyodorkan segelas air putih padanya.

“Halah, nggak apa-apa to, la udah emak-emak tuwek gini kok”. Jawabnya tanpa mengubah posisi duduknya, sambil meletakkan piring dan ambil minum.

“Jangan gitu lah Mbak, Emak-emak kalau seksi juga bikin panas juga, apalagi habis makan daging. Eh Mbak, kalau liat video saru nggak usah kenceng-kenceng suaranya. ” Dia sedikit terperanjat. Memang, pernah pada suatu malam, saat aku mengintainya, ia menonton video 3GP nya dengan suara agak agak keras hingga terdengar jelas dari kamarku, mungkin lupa mengecilkan volumenya.

Reflek dia terperanjat kaget dan wajahnya memerah malu, lalu langsung bangkit dan menjadikan aku sebagai sasaran cubit dan tabokannya. Saking semangatnya menyerangku dengan cubitannya, ia malah hilang keseimbangan dan oleng. Refleks aku berusaha memeganginya dan akhirnya kamipun jatuh berpelukan dengan payudaranya menghimpit dadaku.

Ia pun berusaha melepaskan diri tapi akupun malah sengaja menggulirkan badan hingga ia berada di bawahku. Kupandangi sejenak wajahnya, dan langsung kulumat bibirnya secepat kilat. Awalnya dia berusaha menolak dan memalingkah wajahnya, tapi usahanya sia-sia dan akhirnya hanya pasrah menerima ketika lumatanku semakin menjadi dan bahkan mulai mengimbangi permainan lidahku.

Himpitan badanku kulonggarkan dengan menyangga siku sehingga ia pun tidak sepenuhnya tertindih badanku, memperlihatkan dadanya yang naik turun dan nafasnya yang mulai tak beraturan. Mulutku kemudian berpindah dari mulut ke lehernya yang beraroma keringatnya yang khas, tidak wangi tapi sangat membakar gairah dan membuat kejantananku semakin memuai dan mengeras.

“Mas, pintunya tutup dulu”.

“Nggak ada orang Mbak, masih ujan deres”. Jawabku sambil bangkit menutup pintu.

Kami pun kembali mereuskan aktivitas yang sempat terjeda. Aku kembali mengecup bibirnya yang masih beraroma tongseng masakannya tadi dan ia pun berusaha mengimbangi aksiku dengan melingkarkan tangannya pada leherku. Mbak Narti mulai menikmati aktivitas kami. Terkadang kudengar erangan lembut dari bibirnya.

Kami pun terlibat dalam ‘adu mulut’ yang cukup lama dan menggairahkan. Tangan kananku melingkar di punggungnya sementara tangan kiriku mulai berpatroli menyusuri dengan halus mulai dari pipi, lengan, paha dan kemudian ke dadanya. Segera kupegang dan kuremas perlahan dari luar daster dan ketika kutatap matanya, dia langsung memalingkan muka dan menutup matanya.

Mulutku membali kususurkan ke bibirnya yang lembut sambil tangan kiriku mulai menyingkapkan dasternya ke atas hingga pinggulnya sehingga celana dalam krem itu terekspos walau saat itu minim cahaya karena diluar masih hujan deras dan lampu ruangan tak kunyalakan. Tangan kiriku kutelusupkan naik ke atas sedangkan tangan kananku berusaha melepaskan kaitan BH dari belakang melalui celah lengan kiri daster.

Setelah kedua payudaranya terbebas, aku naikkan lagi dasternya hingga ke atas dadanya, dia pun membantu dengan cara sedikit mengangkat pinggulnya. Langsung kubuka cup BH nya dan langsung kuarahkan jilatanku ke payudara kirinya sementara tangan kiriku meremas-remas dan memainkan putting sebelah kanan.

Dengan lembut kucium dan kadang kugigit lembut bulatan yang ternyata masih terasa kenyal itu sambil kadang kumainkan lidahku, bergantian kiri dan kanan. Tangannya terus membelai dan meremas rambutku sambil terus merintih lemah. Rabaanku pun mulai turun ke paha bagian dalamnya dan mulai mengelus bagian intimnya dari luar celana dalamnya yang ternyata sudah sangat basah oleh cairan yang hangat dan kental.

“Mas, udah ya?” Pintanya.

Aku tidak yakin dengan penolakannya itu dan kembali melumat bibirnya. Benar saja, ia menyambut pagutanku dengan kasar hingga air liurnya membanjiri mulutnya. Tangan kiriku kembali beraksi di belahan bawahnya dan langsung kusibak daging tebal di tepi kemaluannya dengan telunjuk dan jari manisku, sementara jari tengahku mengelus dengan intens daging clit nya.

Pinggulnya kontan mulai bergerak tak karuan dan lumatan pada mulutku semakin menjadi sambil terus mengerang dengan agak keras. Akupun penuh semangat melayani gejolak syahwatnya yang menggelora dan kejantananku pun sudah sangat tegang. Dia pun tak menolak ketika celana dalam lusuh itu kulolosi melalui kakinya dan kemudian melucuti celana kolor dan CD bersamaan.

Sambil terus menggosok clit nya, pahanya kubuka makin lebar dan aku menempatkan tubuhku diantara pahanya. Kewanitannya sudah sangat banjir akan cairan lengket dan lembab, menandakan sudah sangat siap untuk kuterobos dengan kejantananku. Mumpung Mbak Narti sedang panas-panasnya, aku menempatkan ujung stahlhelm ku pada celah kewanitannya karena akupun sadar bahwa aku tidak jago dalam berhubungan badan.

Kuposisikan berat badanku pada siku kiri dan lutut, sementara tangan kananku mengarahkan ujung stahlhelm ku. Aku membungkuk perlahan dan terus mendorong Little P ku ke dalam celahnya yang kurasa lumayan sempit. Mulut Mbak Narti ternganga dan badannya pun menjadi sangat kaku. Terus kudorong perlahan hingga akhirnya melesak masuk semuanya.

Akupun berdiam untuk beberapa saat, kurasakan tubuhnya sedikit bergetar. Aku membukuk dan kembali melumat bibirnya, dia menyambut dengan lilitan lidahnya dan sesekali menggigit bibir dan lidahku yang sebenarnya terasa sakit. Aku tarik pinggulku dan aku dorong lagi. Kemudian dia melilitkan kudua kakinya ke pinggangku.

“Pelan aja Mas, aku sudah lama nggak dimasuki”.

“Iya Mbak, maaf”.

Kemudian aku mulai aktivitas maju mundur kembali, tapi kali ini secara pelan dan perlahan. Kutarik hingga sebatas ujung, kemudian kudorong sampai mentok. Mbak Narti sepertinya sudah tak mampu menahan erangannya, pertanda bahwa dia benar-benar sudah sangat terangsang dan pasrah menerima hujaman Little P ku, untungnya di luar masih hujan deras.

Aku terus melakukan gerakan memompa, menikmati miili demi mili gesekan dengan dinding liang nikmatnya. Sekuat tenaga aku berusaha menahan agar tidak sampai duluan kerana Little P ku serasa diremas-remas di bawah sana. Semakin lama goyangan pinggulnya semakin tak beraturan, nafasnya semakin tersengal-sengal dan bahkan terkadang menggigit pundakku yang masih berbalut kaos tipis.

Akupun terprovokasi olehnya dengan respon mempercepat gerakan pompaanku pada kewanitaannya, sampai pada akhirnya perempuan beranak dua ini mengejang dan merintih panjang, sedang Little P terasa diplintir dan disedot-sedot di bawah sana yag membuatku blingsatan, sambil tangannya menjambakku dan menggigit pundakku agak keras.

Sementara kurasakan sensor pada Little P ku mulai tak kuasa menerima rangsangan yang sedemikian hebatnya, mendorong muatan liquid yang hampir sebulan belum menemukan jalan keluar. Hingga akhirnya aku mendengus panjang, kutarik Little P ku dan kemudian kugesekkan ke belahan kewanitaannya sampai dia melepaskan muatannya membanjiri bulu kemaluannya yang lebat.

Kami berdua pun lemas dengan nafas masih terengah-engah dan akupun berpindah ke sampingnya.

“Maaf ya Mbak, aku kebablasan.”

“Yowes, mau gimana lagi. Lagian, bisa-bisanya kamu terangsang sama Mbak, udah tuwek, gendut, jelek lagi, masih aja diembat. Baru nyesel kan sekarang?”.

“Nyesel banget Mbak, kalo besok nggak ngulang lagi, wong enak banget kok”.

“Kamu tu edan Mas, aku sampe lemes gini”.

“Ya maaf Mbak, kalau Mbak jadi nyesel”. Ia hanya tersenyum.

Kami pun bercakap-cakap sebentar sampai Mbak Narti terkapar mendengkur di pelukanku, dan baru kutahu bahwasanya dia telah lama menjanda setelah ditinggal suaminya kawin lagi dengan seorang TKW. Tapi apes, nggak lama kawin, si TKW berangkat lagi ke Hongkong. Mantan suaminya mau ngajakin balik tapi Mbak Narti terlanjur sakit hati dan memutuskan untuk merantau demi menghilang dari mantan suaminya.

© 2022 - CeritaSeru.xyz