November 02, 2020
Penulis — fran81

Berbagi Ranjang Dengan Adik Ipar

Rangkaian rapat demi rapat siang tadi membuatku kelelahan, seakan semua energy kehidupanku terserap hanya dengan pemaparan presentasi didepan bos-bos besar yang seakan selalu memangdangku dengan sebelah mata. Padahal presentasi dari bangunan gudang dan factory ini sudah kusiapkan hampir tiga bulan lamanya.

Jadi, malam itu, aku sudah menggelosoh lemas di ranjang sebuah kamar suatu hotel bintang empat yang kusewa. Letih, namun kupaksakan diri merevisi hal-hal, sesuai yang diminta oleh bos-bos tadi. 19.30 malam, batinku pendek setelah melirik penunjuk waktu kecil yang ada di ujung layar laptopku. Aku meminimize program yang kupakai untuk bekerja, foto istriku tercinta terpampang di layar desktop desktopku.

Wanita cantik yang kunikahi hampir tujuh tahun yang lalu. Sepintas teringat, beberapa minggu belakangan ini, kami memang hampir tidak pernah memiliki me-time. Selain karena kesibukan – Istriku juga masih bekerja di sebuah perusahaan dengan karir yang sedang menanjak, juga karena anak pertama kami yang akhir-akhir ini menuntut perhatian sedikit lebih.

Kuraih dengan cepat handphone ku, berniat untuk melakukan Video call dengannya, sedikit Video Call Sex pasti bisa menurunkan ketegangan, pikirku. Aku meneleponnya dengan semangat

“Hallo…” sapaku riang saat panggilan itu tersambung

“Hai sayangg…” jawab istriku tak kalah riang “Hi… itu papah, say hi to papah…” lanjutnya lagi sambil menghampiri anakku, memeluknya dan mengarahkan layar handphone kepadanya

“Papah… “

“Hallo jagoan papah, kok seneng banget lagi main apa?”

“Main cama Opa…” jawabnya nggemesin

“Eh, bapak dateng sayang?” tanyaku kepada istriku yang kelihatan di layar sambil memeluk si kecil

“Iya, sama ibuk, sama tante Puput” jawabnya “Katanya ada acara di sini, makanya…” jelasnya kemudian

Hadeh, selesai deh, batal lagi kan Me-Time dengan istriku tercinta. Gapapa sih, cuman coba aja kali aja berhasil. Dan kami masih meneruskan video call-an sampai beberapa saat, sempet menyapa bapak dan ibu mertuaku juga.

Aku mendesah kembali diranjang hotel ku, kembali membuka laptop, browsing-browsing menghilangkan penat sambil menunggu kantuk. Entah gimana, aku tiba-tiba terdampar disalah satu grup Facebook yang menawarkan escort dikota ini. Iseng, ku klik salah satunya yang membuatku tertarik, kubaca profilenya singkat

Disertai foto yang disensor mukanya dengan emoticon, tetapi masih menampilkan body yang sangat sensual, walau sebenernya aku sudah banyak melihat foto-foto seperti itu, tetapi entah mengapa foto itu begitu menarik perhatianku. Atau aku-nya aja yang lagi sange akibat lama tidak… gituan…

Ditelpun enggak ya? Gumanku bergumul dengan akal sehatku sendiri. Ya, aku memang bekas orang nakal, tetapi, semenjak menikah, aku tidak pernah nakal lagi. Tapi…

Ah, jangan-jangan penipuan? Minta DP lalu setelah dikasih, dia menghilang… batinku lagi

Ah, 250K ini, kalau mau nipu, biar jadi duri dalam dagingnya ajah, ikhlasin!

Tapi… Aku masih ragu…

---

“Hallo…” kata suara diujung telepon. Ya, akhirnya tak beraniin juga nelepon. Akal sehat dan kesetiaan 0 – Setan 1 . Hadeh! Kalah juga!

“Iya… ee, bisa BO malam ini mba? Saya di Santika Premiere…” jawabku ragu

“Bisa” jawabnya pendek

---

Dan aku menunggu, dia bilang suruh nunggu sekitar 45menit, untuk siap-siap dan jalan, setelah tadi deal dan aku men-transfer DP ke rekening dengan nama laki-laki. Ah, masa harus kujabarkan dengan rinci sih tata-cara nya? Kayak suhu belum pernah BO aja! Hehehe…

Hampir satu jam aku menunggu. Hadeh, batinku, kena tepu deh!

Tapi gak-apa-apa, itung-itung aku masih dijagain sama malaikat dari perbuatan zina malam ini, belaku dalam hati sambil tersenyum geleng-geleng. Ada-ada ajah!

Yawis!

Aku lalu beranjak ke kamar mandi, mandi trus bobo. Itu rencana terbaikku untuk malam ini

Dan saat aku sudah selesai mandi, pas handukan, kudengar pintu kamarku diketuk

Eh?

Cepat-cepat kuselesaikan proses handukan itu, trus menuju kamar, buat bukain pintu, hanya berlilit handuk di pinggang

Sampai didepan pintu, aku malah mendadak semakin gamang. Kuberanikan mengintip keluar melalui lubang intip di pintu. Eh, tau kan, lobang pintu hotel yang itu?

Kulihat seorang wanita berdiri didepan pintu kamar-ku mengenakan mini dress putih sexy yang press body.

Kupicingkan mata untuk melihat mukanya lebih jelas. Dan jantungku hampir saja berhenti!

DEG!!

What the Hell?

Aku masih kurang percaya, kali-kali aja cuman mirip. Kuintip sekali lagi…

Shit! Kalau ini disebut kemiripan, maka ini kelasnya kembar identik siam, nempel di jidat!

Wajah wanita itu…

Begitu kukenali…

Jangan-jangan beneran…

“Mampus!!” jeritku dalam hati

Dan wanita itu mengetuk lagi

“Permisi…” ujarnya lirih sopan

“Anjinggg!! Mampus gue!! Mampusss!!!” Aku menyumpah-nyumpah dalam hati dan aku semakin salah tingkah

Dan wanita itu mengetok lagi “Mas? Permisi…”

Setelah membulatkan tekad diiringi tarikan nafas panjang berkali-kali, akhirnya pintu itu kubuka juga

Begitu pintu kubuka, wanita itu sepontan membeliak kaget…

---

Wanita muda itu duduk tertunduk malu disofa kamar hotel

“Eeee… kamu sudah lama… kerja seperti ini Rik?” desis-ku tak kalah malu dengan wanita itu, sambil juga menunduk. Yep, aku kenal wanita itu. Namanya Rika. Dia…

“Jangan bilang-bilang bapak, atau siapapun ya mas…” desisnya masih dengan menunduk, hampir menangis

“Enggak lah, aku juga… eh…” sial, malu beneran aku

Namanya Rika, dia… Adik iparku…

Dia memang ikut ke Surabaya bersama dengan suaminya, Karena suaminya memang katanya mendapatkan pekerjaan di sana

“Aku terpaksa mas, suamiku kena PHK beberapa bulan lalu… aku…” ngakunya…

“Eh? Kenapa gak cerita sama mas, atau kakak-mu? Kan…” Aku mulai menguasai diri, bagaimanapun, aku kakaknya, walau hanya kakak ipar, tapi aku harus lebih dewasa darinya

“Kami malu mas…” jawabnya

“Dan suami-mu tau kalau kamu kerja ginian?” tanyaku lagi, sedikit menginterogasi

“Tau mas, kami terpaksa…”

“Trus nomor rekening tadi? Namanya cowok?”

“Iya mas, dia temen suamiku, dia yang mengenalkan kami didunia seperti ini…” desisnya, kali ini benar-benar hampir menangis

“Germo? Gilak !!” desisku…

Rika semakin menunduk

“Trus gimana ini? Aku cancel atau gimana? Yang ini, biar jadi rahasia kita berdua, hanya kuharap, kita bisa membicarakan masalah ini… kita akan mencai solusi bersama…” kataku sedikit menekankan kata rahasia. Ya, you know lah!

“Terserah mas saja…” jawabnya masih dengan menunduk

“Kamu, benar-benar butuh uangnya?”

“Anu… eh, iya mas… anu…”

“Anu apa?”

“GM ku galak mas, kalau di cancel, nanti dikira saya ogah-ogahan, atau bikin tamu tidak nyaman, kami sudah terlanjur menerima persekot dari dia diawal kita perjanjian kerja dulu. Dengan peraturan, saya tidak akan pilih-pilih tamu, dan kalau tamu sampai cancel, saya pasti yang disalahkan. Aku… takut mas…”

“Ya Tuhan Rik… kok bisa kamu terjebak seperti ini?” desisku melas

Rika malah mulai terisak-isak

Aku mendengus, berdiri menuju tas kerjaku, mengambil amplop yang masih berisi uang sekitar 5jutaan, cuman kepakai sedikit buat bayar taxi tadi. Cash itu sejatinya kuambil buat saku perjalanan-ku. Lalu mengulurkan ke Rika, yang diterimanya dengan gamang

“Apa ini mas?”

“Ambil aja” jawabku pendek “Dan kita harus membicarakan hal ini untuk mencari solusinya secepatnya, aku juga pengen bicara dengan suamimu”

Rika malah mulai menangis “Jangan mas, Rika takut, mas Hendra galak akhir-akhir ini…” jawabnya semakin terisak

“Justru itu, aku nanti yang akan menangani Hendra. Mau lihat, segalak apa dia kalau sama aku” jawabku mulai marah, entah kenapa juga aku rasanya tiba-tiba marah mendengar kata-kata adik iparku itu barusan

“Ampun mas, jangan mas… aku… aku masih mencintai mas Hendra mas…” ngakunya semakin terisak

“Cinta?” dengusku tambah marah, lalu geleng-geleng kepala. Cinta? Hadeh…

Inikah yang namanya cinta itu buta? Bangsad bener…

“Yaudah, terserah Rika aja, yang pasti kita harus membicarakan hal ini secepatnya” jawabku

“Trus saya sekarang gimana mas?”

“Maksudnya?” tanyaku, gak ngeh dengan pertanyaan iparku itu

“Aku gak bisa pulang sekarang mas, kalau aku pulang, trus mereka pasti nanya-nanya…”

“Trus?” tanyaku lagi

“Aku juga bingung mas…” jawabnya tak memberikan solusi

“Ah…” aku garuk-garuk kepala dengan gemas “Yaudah, Rika mas bokingin kamar disini, istirahat dulu, baru besok pagi rika pulang” putusku tagas

“Terserah mas Adri saja, Rika ngikut mas aja…” desisnya, masih disela isak kecilnya

Aku melangkah ke telepon hotel buat nelepon resepsionis dengan geleng-geleng kepala

“Mas…” panggil Rika

“Apa lagi?” jawabku malas

“Kalau boleh, tidak usah saja mas, Rika tidur disini saja, dilantai gak papa, biar tidak lebih merepotkan mas Adrian…”

Aku berhenti, melirik rika sekilas dan memutar arah. Kuhempaskan pantatku dengan keras ke ranjang hotel, duduk sambil mengucek-kucek mata dengan gemas. Kayak, tiba-tiba serasa migraine aja nih kepala

Rika tiba-tiba berdiri, aku meliriknya sekilas

“Rika mau ke kamar mandi sebentar mas” ijin-nya pendek

Aku hanya mengangguk sambil kembali memengucek-ucek mata dan dahiku sendiri. Ealah, kok ya malah jadi gini to ya… pikirku, menyesali keisanganku untuk coba-coba berbuat nakal malam ini, tetapi di satu sisi, aku juga bersyukur, kalau tidak begini, mungkin aku tidak akan pernah tau apa yang menimpa adik iparku selama ini.

Sudah sedikit lama Rika di kamar mandi, entah kenapa aku juga mulai khawatir, takut Rika melakukan hal-hal nekad, anak itu sifatnya memang sedikit nekat. Aku berdiri menghampiri kamar mandi dan kuketuk perlahan

“Rik… Rika… kamu tidak apa-apa kan?” panggilku, tak ada jawaban. Aku semakin khawatir, kuputar gagang pintu itu. Tak kusangka Rika, entah lupa atau sengaja tidak mengunci pintu kamar mandinya. Aku masuk dan kulihat Rika menjeplok di pojokan shower sambil memeluk lututnya sendiri, menangis tersedu-sedu.

---

“Makasih ya mas… aku…” ujar Rika dengan mata sembab, melepaskan diri dari pelukanku, setelah tadi berhasil ku-gusur dari kamar mandi ke ranjangku. Lalu melanjutkan tangisannya di sana. Aku memeluk, untuk menenangkannya

“yaudah, kamu sekarang tenang dulu, trus ganti bajunya, basah nih kamu sembarangan duduk di lantai shower yang masih basah… ntar masuk angin lagi kalau bobo pakai baju basah” ujarku sambil membelai rambutnya dengan sayang

“Aku gak bawa baju ganti mas…” jawabnya pendek

“Hadeh, pakai tuh kimono hotel” perintahku pendek

Rika kembali kekamar mandi, setelah tadi mengambil kimono hotel yang masih ada di lemari. Kali ini tidak lama kemudian dia keluar. Wajahnya Nampak lebih segar, mungkin dia tadi cuci muka juga. Berjalan dengan santai ke-arah tas kecilnya yang dia taruh di meja, membawa bajunya yang digulung dengan sembarangan

“Dihanger aja bajunya, jangan di gulung seperti itu, biar kering, besok bisa kamu pakai lagi, mungkin kalau di hanger semalam bisa agak kering” saran-ku pendek

“Iya mas” jawabnya nurut. Tapi saat Rika membuka gulungan baju itu, tanpa dia sadar, sesuatu jatuh dari gulungan itu. Jatuh kelantai, kulihat sekilas, sebuah celana dalam model Thong warna merah yang super sexy. Anjir, tiba-tiba pikiranku langsung ngeres. Kayak ngebayangin Rika memakai tuh cancut. Hadeh, pikiran model apa pula ini, dia kan adik-ku, adik ipar sih…

“Jatuh tuh” kataku sambil menunjuk ke benda lahnat yang sempat meng-Iblis kan pikiranku walau hanya sekejap

“Eh, maap, tadi ternyata ikutan basah, jadi kulepas sekalian hehehe…” kekeh Rika pendek sambil mengambil cancut merah itu, Rika sekarang sudah agak bisa tersenyum becandaan. Pada dasarnya Rika ini anaknya emang asik, easy going dan selalu riang. Kadang, dulu aku suka curhat sama dia pas ada kesempatan ketemu.

Eh, kalau cangcut itu dia lepas berarti, dibalik kimono itu, dia tidak pakai…

Ah…

Si-Iblis ini lagi, Menuhin pikiranku dengan kemesuman!

Rika berjalan ke arahku setelah selesai menaruh bajunya di hanger dalam lemari, abis gimana, hanger hotel kan gak bisa di lepas dari lemari. Takut dicolong kali yak? Lagian, emangnya siapa sih yang mau mempertaruhkan nama baik buat sekedar nyolong hanger?

Dan Rika duduk di sampingku, di bibir ranjang

Aku menelan ludah. Bangsad! Ngapain juga aku mesti menelan ludah?

“So! Aku tidur di lantai…” katanya sambil menatapku geli

“Gak usah sok kere gitu napa sih Rik?” candaku setengah jengkel “Bobo aja di ranjang, biar mas yang bobo di lantai…” lanjutku serius

“Ah, sok hero!” ledeknya

“Gundulmu!” maki-ku becandaan

Pandangan mata Rika malah kembali menerawang, ngalamun. Aku hanya memperhatikannya tanpa berkomentar

“Aku tuh, terpaksa banget mas, melakukan hal seperti ini… sebenernya malu banget…” desisnya kemudian

Aku menggeser duduku, mendekat kearah Rika dan menarik kepalanya kearahku, memeluknya dari samping. Dan tak kusangka, Rika dengan berani membalas pelukanku

“Mas tau, dan kita akan menyelesaikan hal ini, mas akan membawamu pulang…” desisku lirih

Rika mengeratkan pelukannya, dan kubelai rambut adik iparku tersayang ini. Kasihan benar kamu dik Rika

“Matursuwun banget mas…” desisnya tak kalah lirih

“Hmmm, iya… tapi…” jawabku

“Tapi apa?” tanyanya songong

“Tapi gak usah pake ngelus-elus dada mas juga keles, mas bisa baper ntar…” banyolku ngekek

“Hihihi… maap, abis kebawa suasana, mas baik sih… hehehe…” jawabnya selebor, masih belum berhenti jug angelus-elus dadaku, malah dengan songong mentowel-towel puting dadaku. Geli keles!

“Ya kalau maap, berhenti dong, ngelusnya, gimana sih?” rajuk-ku modus

“Gini doang!”

“Doang gundulmu!”

“Emang napa?” Tanya-nya mbayol bin konyol

“Lah kok emang napa? Kalau mas gak terima trus mas bales gimana?”

“Bales apa?”

“Ya bales ngelus dada-mu lah!”

“Hahaha… bales aja, Rika udah mas booking ini!” candanya ngawur

“Gundulmu!” hardik-ku becandaan sambil mentoyor jidatnya dengan sayang. Rika malah tambah ngekek

“Abisnya, mas dari tadi juga telanjang dada, cuman andukan doang!”

“Eh, iya juga ya?” baru nyadar juga gue “Yawis bentar, mas tak pakai baju dulu” kataku tengsin sambil berusaha bangkit. Suwer, aku emang ga nyadar kalau dari tadi semenjak Rika dateng aku emang belum pakai baju, telanjang dada, cuman belilit handuk aja, abisnya, Rika ngetok pintu pas aku mandi kan?

Salah siapa jal?

“Gak usah” cegah Rika pendek, sambil malah mengetatkan pelukan

“Maksudlo?”

“Lha iya, udah mau bobo ini, ngapain ganti baju?”

“Trus? Maksudlo guwe bobo telanjang gitu?”

“Iya kan lebih enak dipeluk kalau telanjang, lebih anget… hihihi…”

“Gundulmu!” hardik-ku guyon, sambil berusaha bangun

Rika malah semakin mengeratkan pelukannya. Aku mendelik sok marah, yang dibalas nya dengan leletan lidah

“Emoh… Rika masih mau peluk mas…” masih ngeyel dia

“Manjamu ini memancing di air keruh deh Rik, nyadar gak sih? Lepasin ga?” protesku

“Moh! Weekkkzz !!” candanya sok maja lagi sambil meleletkan lidah lagi, kali ini dibarengin sama ekspresi mata sok dijuling-julingin manja. Baru leletan lidahnya deket banget ama mukaku lagi. Lha abis gimana, posisinya kan Rika melukin aku, gimana sih?

“Tak sosor baru tau rasa lu!” ancamku absurd

“Sosor aja!” tantang dia

Aku mengernyit “Kamu sadar gak sih? Aku nih kakak-mu lho!”

“Trus?” Tanya-nya songong

“Ya kakak-mu! Kok-trus-sih? Nyadar gak sih?” tegasku

“Kakak ipar!” jawabnya pendek

“Iya, dan artinya, aku nih nikah sama kakak-mu”

“Ya iyalah, itu deskripsi kakak ipar, trus masalahnya apa?” Tanya-nya tambah gak jelas

“Ya masalahnya ada pada pelukan itu sendiri, monyong! Nyadar gak sih?”

“Iya, trus masalahnya apa? Orang cuman pelukan ini, emang salah meluk kakak sendiri?” pembelaan diri-nya absurd

“Iya masalahnya kita nih dikamar, cuman berdua, dan sama-sama setengah telanjang! Trus pelukan! Nyadar gak sih?” geli juga gue lama-lama

“Trus?”

“Kok trus lagi sih? Nyadar gak sih?”

“Iya… trus masalahnya apa? Masalahnya apa, mas-ku tersayang…?? cuman pelukan aja kan? Orang kita juga gak ngentot ini…” jawabnya makin absurd

“Omongan-lo Rik! Dijaga napa?” aku memperingatkan

“Lah? Rika kan ngomong apa adanya, iya kan? Kenyataannya kita emang ga ngentot kan?”

“Bahasanya lho! Please!”

“Ngewe?”

“RIKA!”

“Iya maap… trus emang apa istilahnya?”

“Bersenggama? Hehehe…” haiyah, aku malah kebawa becandaan absurd iq

“KBBI banget iq, hihihi…”

“Iya, tapi paham kan maksud mas?” tanyaku lagi menekankan

“Paham lah mas…” desis Rika tiba-tiba sedikit lirih

“Nah!” jawabku pendek

“Tapi meluk mas nyaman banget, anget, trus serasa terlindungi… Aku, udah lama banget gak merasa nyaman dan terlindungi mas… “desisnya tiba-tiba terdengar sedih, pelukannya pun sedikit melonggar.

“Yaudah, sini…” jawabku melas, sambil kembali memeluknya dengan sayang “Pelukan bentar sama adik sendiri, mas kira gak papa…”

Rika kembali mempererat pelukannya “Lagian, meluk mas bener-bener nyaman, badan mas ber-otot, wangi lagi…”

“Ya kan abis mandi, wangi lah” jawabku pendek

“Mas…” desis Rika pendek, sambil mendongak menatapku

“Apa?”

“Aku kok tiba-tiba horny ya? Dah lama gak horny…” desisnya ngaco

“OKE, lepasin!” kataku pendek, sambil melepas pelukan lahnat itu, sambil beringsut menjauh. Kali ini Rika melepaskan juga pelukannya

“Becanda keles, serius amat sih mas? Hehehe…” kekehnya

Aku segera berdiri dan berjalan ke arah lemari hotel, mengambil kimono dan memakainya. Hotel ini memang menyadiakan dua kimono, buat ganti kali. Handuk setengah lembab yang dari tadi melilit pinggangku kulepaskan dan kusampirkan ke kursi dengan sembarangan. Kulihat Rika sudah mulai masuk ke selimut sambil dari tadi memandangku dengan aneh

“Geser” kataku pendek, sambil menuju ke ranjang

Rika menggeser tubuhnya, sekilas, tanpa sengaja, dada kimononya sedikit tersingkap, dan aku sekilas melihat dada putih menggembung indah berbalut Beha merah sewarna dengan cancut seksinya. Rika cepat-cepat membetulkan kimononya dan tersenyum tengil

“Ups” katanya

Dan aku-pun mulai berbaring disampingnya, diluar selimut, dengan pandangan menerawang, belum percaya aja sama kejadian aneh malam ini

“Masuk ke selimut keles mas, gak dingin apa?” Tanya Rika songong

“Gak” jawabku pendek, tapi sambil mulai memasukan badan ke selimut

“Mas!” Tanya Rika pendek, sambil memiringkan badan ke arahku saat aku sudah masuk sempurna ke dalam selimut

“Hmm” dengusku menjawabnya

“Mas sering ya sewa escort kayak gini pas di luar kota?”

“Gak pernah, iseng sekali malah nemu kamu” jawabku jujur

“Boong deh!”

“Jujur” jawabku pendek

“Aku kok percaya ya? Hehehe…”

Aku mendelik ke arah-nya

“Kenapa?”

“Maksudnya?”

“Kenapa malam ini cari escort?”

“Hmm, gak tau, lagi iseng? Lagi bego? Mas gak tau juga kenapa…”

“Lagi horny?”

“Omonganmu ndul!” jawabku sarkasme

“Emang mba Ine ga mau kasih ya?”

“Bukan gak mau, cuman beberapa minggu ini memang lagi ga memungkinkan aja…” jawabku jujur

“Dan mas tiba-tiba horny berat, trus onani gak menyelesaikan masalah, trus nyari cewe bookingan?” tebaknya ngawur

Aku mendengus pendek, dan memandang wajah Rika. Manis banget sih anak ini sebenernya. Wajahnya memiliki kemiripan yang luar bisa dengan kakaknya, istriku. Rika beringsut semakin mendekat. Wajah kita hampir menempel

“Mas…” panggilnya pendek

“Hmm…” dengusku menjawabnya

“Boleh peluk lagi?”

“Terserah”

Rika beringsut lagi, kali ini sambil menelusupkan tangannya ke dalam kerah kimono-ku. Merayapkan tangan hangat dan halusnya sampai ke punggungku dan mendengus

“Badannya mas Adri anget banget… wangi…” racaunya

“Hmm” aku kembali mendengus pendek. Kukira gak perlu juga menjawab statement konyol itu juga kan?

“Mas…”

“Hmm…” dengusku lagi

“Tali kimono-nya tak lepas ya, biar bisa nempel tubuh mas, biar tambah kerasa angetnya…” Tanya-nya absurd

“Serah”

Lalu Rika menarik simpul kimono-ku. Selain kimono itu, aku kan tidak memakai apa-apa di dalamnya. Rika juga menarik tanganku, memposisikan-nya dibawah kepalanya, memakainya sebagai bantal, lalu menempelkan tubuh kami. Jujur aku gak tau kapan tepatnya dia melepas tali kimono-nya sendiri, yang pasti saat ini, tubuh kami benar-benar menempel.

Kurasakan kulit kemaluanku, yang memang batangnya sudah mengeras dengan sempurna, beradu dengan rambut kemaluannya. Dan Rika mulai mengelus-elus punggungku. Dan mendesah-desah ringan

“Mas…”

“Hmm…”

“Kontol-nya mas Adri keras banget…” desisnya sambil mengecup-ngecup ringan dadaku. Posisi kepalanya memang saat ini tenggelam di dadaku, dalam pelukan yang… ah…

“Aku laki-laki normal Rik…” desis-ku pendek, sambil juga mulai mengelus-elus punggung-nya dalam pelukanku

“Aku juga wanita normal mas…” desisnya lagi, sambil terus mengelus punggung, mengecup ringan dadaku bahkan kurasakan beberapa kali menjilatinya sedikit.

Rika lalu mengangkat kakinya, mengapitkan-nya ke pinggulku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya sendiri. Posisi ini, membuat kepala penisku yang batangnya sudah berdiri sempurna, menggesek-gesek mulut vaginanya yang juga kurasakan sudah sangat basah. Dan saat posisi kepala penisku berada tepat didepan liang senggamanya yang sudah sangat siap dipenetrasi itu, Rika menekan pinggulnya

CLEK…

Kepala penis itu meleset, mungkin karena mulut vaginanya belum membukuka sempurna

“Ahh…” aku mendesah

Rika menahan nafas, mengeratkan pelukannya, lalu ikut mendesah. Dan dia mencobanya lagi. Menggoyangkan pinggulnya, mencari-cari ujung batangku, memposisikan di mulut senggamanya sendri dan menekan

CLEK…

Meleset lagi…

“Aaagghh…” kali ini Rika yang mendesah

Nafasku pun sudah mulai tidak teratur. Aku terangsang berat, iya. Namun, entah mengapa aku masih juga pasif. Aku hanya memeluknya sambil mengelus-elus pungung Rika, adik iparku sendiri

Kecupan demi kecupan kurasakan semakin intens menyusurin dadaku. Kali ini diikuti dengan jilatan-jilatan manja diputingku. Aku paling suka dijilatin di puting. Dan aku selalu dengan tidak sengaja mendesah kalau putingku di jilati. Kurasa desahanku ini juga mempengaruhi Rika. Entah bagaimana Adik iparku itu melakukannya, kurasakan kini batang kemaluanku sudah dia pegang, diarahkan ke bibir lobang senggamanya sendiri dan menggesek gesekkannya dengan bibir goa kenikmatan yang sudah sangat basah itu

Dan saat kepala penis itu kembali berposisi tepat di mulut vaginanya, Rika kembali menekan-kan pinggulnya

BLESS…

Dan kami berdua melenguh bersamaan…

“Mas…”

“Hmm…” dengusku

“Masukk…” desahnya manja

“Kan Rika yang masukin…”

“Iyaa… jangan digerakin dulu mas… biar memek Rika kebiasa dulu… kontol mas, gedeh… penuh banget rasanya memek Rika…” desisnya vulgar

Dan aku merasakan kedutan-kedutan erotis setelahnya

“Rik, punyamu…”

“Napa?”

“Berkedut-kedut…”

“Ahhh… iya… memek Rika keenakan dikontolin mas Adrian…” jawab rika manja sambil mendongakkan kepala dan menatapku sayu. Dan bibir indah itu kukecup. Mesra dan hangat. Dan Rika juga memagut-magut bibirku dengan erotis. Menjulurkan lidahnya untuk ku hisap yang akhirnya saling berpilin dengan lidahku

“Rik…”

“Ya mas…”

“Apa yang kita lakukan?”

“Bersenggama…” jawabnya songong, dengan kata-kata EYD yang sesuai KBBI – Kamus Besar bahasa Indonesia

“Maksudku…”

“Sssttt…” Jawab Rika sambil membekap mulutku dengan jemari lentiknya. Mencegahku mengatakan apapun yang ingin kukatakan. Yang mungkin saja merusak suasana ini

“Rik…” desisku lagi setelah jamari itu tidak lagi mendekap mulutku

“Entotin Rika mas, entotin Rika malam ini, Karena malam ini, Rika milik mas…” desahnya manja

Dan aku memutar badanku. Menindih Rika yang saat ini sudah terlentang dengan pasrah dibawah-ku. Adik iparku yang manis ini, saat ini sudah kutusuk lobang kewanitaannya dengan batang penisku yang seharusnya adalah milik kakak-nya. Dan aku mulai memompa.

“Ohhh… Rika…” Racauku memanggil namanya dengan sayang

“Ooo… iya mas-ku sayang… genjot terus masss… eegghh… mentok mass… enaakk…”

CLEK… CLEK… CLEK…

JDUK… JDUK… JDUK…

“Eghh… menttook Rik, sakit sayang?”

“Linnuu… Linuuh enak mass… terus mass… genjot Rika mas… lebih kenceng mas… Aahhh…”

Dan aku mempercepat pompaan-ku, menjelajahi lorong kenikmatan adik iparku sejauh yang bisa di lakukan oleh batang-ku. Dan Rika semakin meracau. Keringat membasahi tubuh kami berdua. Tubuh mungil adik iparku itu tersentak-sentak seiring dengan gerakan menusuk pinggulku. Namun, sesekali gerakan itu ku kombinasikan dengan putaran-putaran ritmik yang semakin memperluas jelajah batang penisku didalam sempitnya goa kenikmatan duniawi-nya

“Cepetin dikit! Cepetin dikit! Teruss… Teruss… Teruss… Cepetiinn… Mass… Terusss… Dikit lagi… Cepertinnnn… Aaaaaggghhh… Aku udah mau dapet… Teruss… Teruss… Masss… dikit lagiiii… Aaagggggtth… Masss… Akuuu nyampeeee…” Racaunya yang ditutup dengan menegangnya badan mungilnya.

Rika memelukku dengan erat, mengapitkan kakinya di pinggulku, menahan batang yang bersarang di lobang senggamanya sedalam mungkin. Melejang-lejang sebentar dengan kalut lalu terhempas lemas dengan nafas tersenggal-senggal

Aku menatap wajah puas adik iparku itu sambil tersenyum. Wajah memerah yang dibalur keringat itu terlihat memiliki ekspresi kenikmatan yang ikut menghanyutkan ku. Senyumnya lepas, bersamaan dengan ekspresi kegembiraan yang sulit kudeskripsikan

“Aku orgasme mas…” aku-nya disela senggalan nafasnya dalam ekspresi kesenangan yang kelihatan original banget

“Orgasme itu, enak ya?”

“Banget mas…” jawabnya masih dengan tersenggal

“Emang kamu jarang orgasme?”

“Hampir gak pernah…”

“Boong deh…”

“Beneran… masa mas gak bisa bedain antara orgasme asli dan palsu?”

“Hmmm… maksudku, boong kalau Rika jarang orgasme…”

“Hampir gak pernah…”

“Sama suamimu?”

“Dulu-dulu saat awal-awal kita ngwee… tapi sekarang, aku kayak gak pernah nikmatin lagi sama dia, kayak kesel terus gitu sama dia… lagian semenjak…”

“Semenjak?”

“Semenjak dia mulai makai… dia udah jarang ngejamah aku, juga kalau pas dia sange, bentar juga tumbang, dan punya-nya juga sudah gak bisa berdiri maksimal…” erang-nya jujur. Dan sekilas, kulihat kesedihan dimatanya

“Dia narkoba?” tanyaku. Rika mengangguk

“Dia semakin parah mas…”

“Eh… trus sama tamu? Pastinya pernah dong dapet yang punya barang gede… hehehe…” ucapku mengalihkan pembicaraan. Jujur, kali ini aku jahat. Niatku mengalihkan pembicaraan, bukan untuk menjaga perasaannya. Melainkan menjaga suasana, apalagi aku belum keluar, kalau dia minta udahan, waduh… sia-sia dosa ini… ah…

Dan kontolku yang batangnya masih ada didalam lorong jalan bayi-nya pun masih menuntut untuk diselesaikan hajatannya

“Boro-boro sama tamu, pengennya juga selesai trus udahan…” erangnya

“Tapi sama mas, mau udahan juga?” godaku sambil mulai menggoyangkan pinggul lagi

“Hihihi…” kikik-nya binal “Emang mas bisa bikin cewek orgasme berapa kali?” tantangnya

“Ya, itu sesuai dengan mood ceweknya dong…”

“Tapi… meluk ma situ nyaman banget… pasti mood ceweknya juga cepet terbangun…” selorohnya

Aku hanya mengangkat bahu

“Tapi kok bego-nya mba Ine, sampe berminggu-minggu kontol enak kayak gini di anggurin ya?”

“Bukan di anggurin, neng… tapi emang kesempatannya kadang belum memungkinkan…”

“Ah, kalau aku, tak sempetin, quicky-quicky deh! Orgasme itu enak banget tauk!”

“Hahaha… “aku ngakak “Emang Rika mau orgasme berapa kali malam ini?”

“Hmmm… Sebanyak-banyaknya…”

“Yakin?”

“Hu’um…”

“Kalau memek Rika sampai sakit gimana? Lecet gitu?”

“Lecet enak ini… hihihi…”

Dan aku mulai memgecup bibir menggoda milik adik iparku ini. Menelusuri wajah manisnya, leher jenjangnya dan membuka Beha yang sampai saat ini masih bertengger di dada membusungnya dengan sia-sia, dan mulai menjilati serta mencecapi putingnya. Dan Rika kembali melenguh…

Kali ini, aku yang ‘bertindak’

Malam itu, aku menggrap adik iparku sampai menjelang subuh. Entah berapa kali dia kubuat mencapai orgasme, dan entah berapa kali aku juga orgasme disela gempuran goyangan-nya yang ternyata lebih liar dari kuda birahi. Atau berapa kali kita orgasme bersamaan.

Dan pagi harinya pun, saat kita mandi bareng, kita masih sempat melakukannya lagi di Bath-Tub. Memek legitnya, selain ku gempur habis-habisan dengan rudal kebanggaanku, juga kujilat dan ku cecapi dengan rakus. Batang penisku pun, tidak hanya menjelajah lobang kewanitaannya. Tenggorokan mungil adik iparku itupun juga tidak luput dari keberingansan-nya.

Aku juga berjanji untuk ‘menyelesaikan’ msalahnya dengan suaminya. Memisahkannya dan memboyongnya ke kotaku untuk memberinya masa depan yang lebih menjanjikan.

Hanya satu yang sedikit terasa mengganjal

Disela-sela kebejatan yang kita lakukan hari itu, dia kelepasan bilang “Kalau three-Some dengan mbak Ine, kayaknya asyik ya mas? Kapan-kapan ku atur ah, biar bisa ngewe bertiga”

Ah…

Kehidupanku…

Bakalan runyam??

End-Tot…

Eh, Tobe Conticrot ding…

Eh?

Enaknya diceritain gak ya??

© 2022 - CeritaSeru.xyz