November 01, 2020
Penulis — pemuja ketek wanita

Awal mula ku menjadi cuckold

Cerita yang akan saya bagikan mungkin menetapkan jalan istriku sekarang. Jalan yang membawa kesenangan bagiku, dan istriku tentunya. Jalan yang membuatku menjadi suami cuckold. Jalan, yang membiarkanku menikmati banyak pasangan.

Tahun 2009. Aku berusia 31 sementara istri 29 tahun.

Untuk menggambarkan istriku secara singkat, dia memiliki wajah manis yang selalu menarik perhatian.

Tapi, aset terbaiknya adalah bokong. Sangat besar.

Istriku ramping menambah perhatian yang dia dapat dan aku tidak pernah melihat lelaki yang tidak meliriknya. Satu fakta lain tentang istriku (yang menurutku berperan dalam kejadian itu sebagai pembuka) – dia suka fashion dan bisa membeli baju di manapun, kapanpun.

Jadi kami pergi ke mall, membeli jeans untukku. Ini bukan toko jeans bermerek tapi lebih seperti rumah butik dengan desainer jeans. Meskipun aku tidak tertarik membeli, tapi istriku mendesak membeli. Karena aku tidak tertarik, aku pura-pura tidak menyukai koleksinya.

Penjualnya, 20-an tahun, mungkin jengkel, meminta istriku mencoba koleksi yang baru datang. Dia yang pecandu pakaian jelas tertarik. Aku mengijinkannya mencoba di bagian wanita sementara aku ke bagian pria dan melihat-lihat jika ada yang kusuka.

(Peristiwa yang diceritakan di bawah diceritakan istriku setelah sesuatu menjadi terbuka di antara kami).

Penjual membawanya ke bagian wanita dan membawa beberapa jeans untuk dilihat. Jeans stylish, dirancang dengan bagus, jeans ultra low cut dan dia langsung menyukainya. Ini adalah ketika dia mengatakan sesuatu,

yang memuncak dalam kejadian hari itu. Menyadari ukurannya yang besar, dia bertanya ke penjual, mungkin dengan polos, “apa ini muat di bokongku?”.

Pertanyaannya tidak salah, tapi penggunaan kata bokong (bukan kata yang lebih formal), dengan santai,

oleh istriku, yang memang punya bokong yang besar,

menggerakkan rangkaian peristiwa.

Penjualnya pintar. Dia langsung menjawab “kenapa

Anda tidak mencobanya bu dan kita akan menemukan mana yang pas untuk pantatmu”.

Istriku tidak terlintas cara yang biasa di mana kata sehari-harinya seperti pantat, dan setuju mencoba lalu memanggilku untuk membantu mencoba, “bu, karena ada beberapa desain baru, kenapa Anda tidak mencoba beberapa ukuran dari beberapa desain dan setelah

Anda cocok, Anda bisa menentukan desainnya dengan konsultasi dengan bapak.” Istriku setuju lagi.

Penjualnya mengambil beberapa potong (sekitar enam)

dan mereka menuju kamar pas. Secara kebetulan, aku melihatnya menuju kamar pas dan terkejut bahwa istriku akan mencoba tanpa konsultasi denganku. Aku berjalan ke kamar pas dari sisi lain untuk membantu istriku saat aku mendengar penjualnya berkata, “bu,

cobalah tiga dulu lalu beritahu saya”.

Jelas bagiku bahwa istriku memang akan mencobanya tanpa konsultasi denganku. Agak mengejutkan dan karena itu aku memutuskan berkeliling dan melihat kenapa dia mencoba tanpa aku? Desain toko itu berbentuk W aneh sehingga bagian tertentu kamar pas berlokasi di sudut tersembunyi dari sisi lain. Penjualnya di satu sisi kamar pas sementara aku di sisi lain. Kami tersembunyi satu sama lain meskipun kami bisa mendengar apa yang dia katakan. Aku pura-pura membolak-balik pakaian di bagian itu sambil mendengarkan apa yang terjadi (karena aku tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi). Dalam beberapa menit aku mendengar istriku berkata: “aku mencoba yang pertama, yang paling aku suka dan tidak muat”.

Penjualnya bertanya, “Apa maksud Anda bu?” Karena itu istriku membuka pintu kamar, dan berkata, “Lihat, ini terlalu ketat, aku kesulitan menariknya ke pinggang”.

Penjualnya, aku pura-pura mencari sebentar lalu dia berkata, “bu Anda benar, ini terlalu ketat tapi bentuknya bagus.” Istriku menjawab, “ya, tapi aku juga perlu nyaman”. Penjualnya menjawab, “baiklah, aku akan membawa ukuran lain”, sementara itu kenapa Anda tidak mencoba yang ini”. Istriku tahu ini tidak akan muat juga, tapi dia sangat menyukai desainnya, dia setuju mencobanya. Saat penjualnya pergi membawa yang baru, istriku pergi ke kamarnya mencoba yang baru, aku buru-buru pergi dan mengunci diri di kamar pas dekatnya untuk mengetahui apa yang terjadi. Aku tetap tenang sehingga mereka tidak tahu ada orang di sana.

Penjualnya kembali dalam sekejap dengan beberapa jeans dan mengetuk pintu kamar di mana istriku berada.

Dia menjawab dari dalam, “ya?’ Penjualnya berkata, “bu,

saya membawa yang baru”. Istriku membuka pintu.

Penjualnya terkejut dia masih memakai jeans yang lama. Dia bertanya, “Apa Anda tidak mencoba yang baru saya kasih”. Istriku menjawab “sudah, tapi tidak menutupi seluruh pantatku, terlalu ketat”.

“Wow!” Pikirku. Istriku memakai kata pantat ke penjualnya.

Saat itulah aku mendengar penjualnya berkata “saya akui bu, Anda memiliki pantat yang besar dan bentuk yang unik”. Aku mendengar istriku tertawa dan berkata

“Ya, pemberian Tuhan tapi sakit kalau seperti ini”.

Keduanya lalu tertawa. Aku bingung. Apa ini benar terjadi? Tapi sesuatu memberitahuku bahwa akan ada kejadian lagi dan aku memutuskan untuk bertahan.

Penjualnya lalu meminta istriku mencoba yang baru dia bawa. Istriku mengambil satu dan masuk ke kamarnya,

menguncinya, dan memakainya lalu dalam sekejap membuka pintu, dan berkata dia menyukainya, pas dan meminta penjualnya melihat. Penjual memintanya berbalik. Setelah mengamati dia berkata “sepertinya agak longgar”. Istriku tidak setuju dan berkata dia pikir ini sempurna seperti yang terlihat di cermin. Saat itulah penjualnya mengambil langkah berani. Dia menaruh tangan kananya di bawah bokong istriku dan berkata

“taruh tangan Anda di sini, dan Anda tidak akan merasa kalau kainnya agak terangkat, walaupun membentuk pantat dengan sempurna”. Aku berpikir, dia menaruh tangannya di bokong istriku dan dia tidak mempermasalahkan!!!

Istriku meletakkan tangannya dan setelah meraba, dia setuju dengan penjualnya. Tapi ini menjengkelkannya juga karena tidak ketat atau longgar. Dia berkata,

“sepertinya tidak ada yang pas”. Penjualnya, tidak ingin melewatkan kesempatan ini, lalu memainkan trik selanjutnya. Dia berkata, “kenapa Anda tidak mencoba lagi yang pertama Anda coba dan paling Anda sukai dan yang menutupi seluruh pantat Anda. Saya akan mencoba apakah saya bisa merubahnya menjadi nyaman”.

Istriku setuju tapi lalu bertanya-tanya, “sekarang bagaimana menemukannya di tumpukan ini” (dari yang sudah dicoba dan yang belum dicoba dan jeansnya sendiri yang dipakai saat datang).

Penjualnya sukarela membantu dan berkata “biar saya bantu” dan masuk ke kamar pas, di mana istriku berada,

dan memilah lalu menemukan yang dicari dan memberikannya ke istriku. Di sini lah peristiwanya terjadi.

Mungkin alur kejadiannya, mungkin kenyamanan yang dibangun saat berbicara (penjualnya sangat tampan)

atau mungkin karena memang takdirnya, apapun itu, ini terjadi. Tanpa pikir panjang, istriku membuka kancing jeans yang dipakainya, sementara penjualnya masih di dalam kamar pas dan menurunkan jeansnya.

Penjualnya, melihatnya, sesaat terkejut tapi lalu menikmati mimpinya. (saat dia melepaskannya dia meminta yang baru) “berikan padaku”. Aku sadar,

bersembunyi di kamar lain, sementara mereka mereka seruangan saat dia ganti celana!!!!

Penjualnya dengan tenang menyerahkan jeansnya dan tetap di tempatnya. Istriku berputar, menghadap cermin dan membungkuk untuk memakaikan jeans ke kakinya.

Saat dia membungkuk, di kamar pas yang sempit, di belakangnya, orang baru dia kenal. Pria, yang sekarang melihat bokongnya yang besar, yang hanya ditutupi CD

putih tipis. Karena dia membungkuk, sehingga CDnya menyelip di celah bokongnya dan dia hampir telanjang bulat. Seperti yang istriku ceritakan kemudian, bahkan sampai saat ini, ia menyadari gawatnya situasi. Saat dia bangun untuk menarik jeans ke pinggang dia melihat penjualnya berdiri di belakangnya lewat cermin tapi keanehan situasi tidak menarik baginya. Saat dia berusaha menaikkan jeans ke pinggang dan menutup kancing, penjualnya mengumpulkan keberanian dan berkata “biar saya bantu” lalu tanpa menunggu jawaban dia menaruh tangannya di pinggang, di dalam jeans,

menyentuh pinggang, dan menaikkan jeansnya. Lalu dia berkata, “Lihat, pas”. Istriku menanggapi, “ini bagian yang mudah, menutup kancing rasanya terlalu ketat”.

Penjualnya lalu menawarkan diri membantu lagi dan menaruh tangannya di pinggang lalu mencari resleting untuk menutupnya. Tanpa sadar dia pindah ke depan untuk mendapatkan jangkauan lebih baik. Saat tangannya mencari resleting untuk ditutup, dalam sekejap terjadi dua hal. Jarinya menggesek memek

(karena CDnya telah bergeser) sementara kontolnya yang ngaceng menyodok celah bokongnya dari belakang.

Inilah saat situasi menekan istriku. Pria, yang baru kenal setengah jam lalu, menggesekkan jari ke memeknya dan menyodok kontol ngacengnya ke bokong. Tapi bukannya bereaksi keras atau terkejut, dia terpaku. Sebagian pikirannya tidak memahami dalam situasi ini sementara sebagian lainnya tidak bisa menentukan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Terperangkap dalam dilema, dia tetap diam sementara penjualnya masih mencoba menemukan resletingnya, yang macet di jahitan kainnya. Sambil kontolnya menggesek bokong istriku.

Jarinya mengusap memek lagi, tapi kali ini tidak bergerak melainkan diam. Istriku terpaku. Di luar kontrol akhirnya dia basah juga. Penjualnya merasakannya. Selanjutnya, dia memasukkan satu jari ke memeknya. Tanpa sadar istriku menoleh dan sebelum dia tahu bibir penjual sudah menciumnya dalam-dalam. Istriku membalas ciumannya karena pikirannya masih di luar kontrol. Selama beberapa menit, penjualnya memeluk dari belakang, mengocok jari di dalam memek sambil menciuminya. Saat penjualnya melepas ciuman, istriku sadar, mendorong penjualnya (walaupun tidak terlalu kuat) dan berkata

“cukup”. Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi aku ingat dengan jelas nada kata cukup –

bukan menegur tapi seperti mengingatkan untuk berhenti.

Penjual sepertinya profesional, ia tidak ingin melakukan sesuatu yang membahayakan masa depannya. Jadi dengan tenang dia melepaskannya, mundur dan berkata, “maaf”. Aku tahu istriku memperparah apa yang terjadi dan dia tidak menyesal saat aku mendengarnya berkata, “Tidak apa-apa. Setidaknya kamu betapa ketat jeansnya”. Dan aku mendengar keduanya tertawa kecil.

Lega bahwa dia tidak marah, penjualnya mencoba trik terakhir. “Kamu suka jeans ini tapi masalahnya terlalu ketat bukan?” “ya, tapi itu masalah besar”. “Aku mungkin sudah menemukan cara untuk mengatasi masalah ini”

“Bagaimana?” “Jika kamu memakainya tanpa CD,

mungkin pas”. Aku dengar istriku tertawa kecil dan berkata, “kamu bercanda. Bagaimana bisa aku memakainya tanpa CD?” “Kenapa tidak? Lihat kain jeansnya. Tebal. Jadi tidak ada yang akan tahu tanpa CD.

Dan karena hanya sedikit ketat, akan pas.” “Tapi ini jeans ultra low waist. Apa yang terjadi saat aku membungkuk saat memakainya, celah bokongku akan kelihatan” “Tapi apa kamu keberatan? Sosok seperti kamu, kamu harus memamerkannya sekali-sekali” Aku yang mendengarkan percakapan ini dengan heran, di ruang sebelah,

mendengar istriku berkata: “Hmm. Akan kucoba. Kunci kamar pasnya biar aku bisa ganti”. Bukannya pergi dari kamar pas dan mengunci dari luar, penjualnya mengunci dari dalam. “Kamu sudah cukup. Sekarang keluarlah. Aku tidak akan ganti jika kamu di sini” “Bu,

aku akan pergi jika kamu memaksa. Tapi kuminta. Tidak akan ada yang pernah punya bokong sepertimu. Bisakah aku di sini dan melihatnya sekali saja, sementara kamu telanjang tanpa selembar kain. Janji aku tidak akan mengganggu. Hanya melihat. Kumohon. Tapi jika kamu bilang tidak, aku akan pergi”. Saat itu aku tahu apa yang akan istriku katakan dan terkejut saat aku mendengarnya berkata: “Baik. Tapi jangan macam-macam”. “Janji”.

Lalu istriku berbalik menghadap cermin dan tanpa ragu menurunkan jeans dan CD dan telanjang bulat pinggang ke bawah. Dia memakai atasan pendek dan karena itu bokongnya terlihat oleh pria yang berdiri beberapa inchi di belakangnya yang baru dikenal satu jam yang lalu.

Saat ini, tidak seperti beberapa saat lalu, pintunya juga terkunci. Setelah berdiri beberapa lama, aku mendengar istriku berkata, “Suka?” “Ya”.

Istriku tertawa dan dengan bercanda berkata “diam”.

Tapi dia tidak memakai bajunya, apalagi buru-buru memakainya. Dia hanya berdiri beberapa detik.

Penjualnya, jelas tidak ingin skandal di tokonya jadi dia bermain sangat hati-hati. Setelah beberapa detik dia berkata, “Bisakah aku memakaikan jeansnya?” Istriku lebih dari bersedia bahkan sebelum dia selesai bicara,

dia berkata “ya”.

Penjualnya mengambil jeans, meluruskan dan mendekat. Lalu dia berlutut di belakangnya, hanya beberapa centimeter di belakang punggungnya dan satu per satu memakaikan jeans ke kakinya. Tapi dia hanya menariknya sampai lutut sambil berlutut di belakang punggung. “Apa lagi” “Hanya mengagumi bu, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kulihat lagi”. “Hmm”

Tidak ada yang bergerak beberapa detik saat aku mendengar penjualnya berkata, “suamimu pria paling beruntung di dunia” “Kenapa?” Kudengar istriku. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Sebelumnya dia bicara percaya diri dengan nada normal. Tapi kata terakhir yang dia katakan hampir berbisik. “Karena dia setiap hari akan mengentot bokongmu yang terbesar di dunia?”

“Ha. Tidak setiap hari” yang bisa istriku katakan. “Hari ini?” “Bagaimana bisa hari ini? Kita di sini. Aku dan kamu” istriku mendapatkan kembali suasana hati yang menyenangkan walaupun dia masih berbisik. “Siap melayanimu bu” “Diam” tapi istriku tidak marah. Dia tertawa. “Seperti kamu mencoba jeans baru untuk bokongmu, kenapa tidak kontol baru juga? Karena kita cocok bu” “Hmm. Tawaran yang menggiurkan”

Aku mendengar suara pelan dan menyadari bahwa penjualnya sudah berdiri dan dalam sekejap,

menurunkan jeans dan mengeluarkan kontolnya yang ngaceng dari CD. Istriku, yang menyadari penjual membuka baju, membungkuk, bersandar di tangan,

menaruhnya di dinding, sementara bokong besarnya ditunggingkan. Dia siap dientot.

Saat itulah, kebetulan, handphoneku berbunyi. Suara yang mengejutkan mereka berdua karena mereka menyadari tidak sendiri dan seseorang ada di kamar sebelah. Walaupun aku segera mematikan teleponku,

tapi impian di antara mereka sudah rusak.

“Maaf, sepertinya kamu tidak beruntung.” Bisik istriku dan segera menaikkan jeans dan mengancingnya.

Walaupun penjual sudah ngaceng, tetapi seperti kesempatan sebelumnya, dia tidak ingin skandal di tokonya. Dia pelan-pelan bangun dan memakai baju.

Istriku, yang sudah berbalik menghadapnya, melihat kontolnya saat dia berpakaian. Pasti besar karena aku mendengarnya dia berbisik, “kontolmu juga besar, pasti pas”. “Mungkin lain waktu, lain tempat”.

“Mungkin. Sekarang cukup puas”. Dan aku mendengar suara lembut ciuman. Kali ini istriku mengambil inisiatif mencium pria, yang baru kenal satu jam yang lalu. Di kemudian hari istriku memberitahu bahwa tangan penjual di bokongnya saat mereka berciuman. Beberapa detik kemudian, dia menghentikan ciuman dan keluar kamar berteriak, “Aku suka yang ini. Aku beli”.

Penjualnya juga keluar, kembali seperti semula. CD,

yang sudah dibuang istriku, disimpan di kantong penjual. Saat mereka keluar, aku juga menyelinap keluar diam-diam, pria yang sudah berubah. Apa yang baru saja kusaksikan mengubah hidupku dalam beberapa cara.

Istriku menemuiku di konter penjualan dan mendekat,

lalu bertanya, “ke mana saja kamu? Aku ingin menunjukkan sesuatu yang sudah kuambil. Lihat, kamu suka?” Aku memandangnya dan berkata, “Tentu. Pas,

sempurna”. Tagihan dibayar dan saat kami pergi,

penjualnya menyerahkan paket ke istriku, aku melihat senyum di wajahnya yang menyiratkan kepadaku bahwa dia tidak menyesal atas apa yang terjadi. Saat itu penjualnya berkata, “Terima kasih atas waktunya bu.

Semoga kembali lagi”. “Terima kasih. Walaupun agak lambat, tapi Anda sangat membantu. Aku menikmati belanjanya. Namaku Sari”. “Terima kasih bu Sari atas sarannya. Lain kali saya akan lebih cepat. Semoga kembali lagi” “Semoga.”

Saat kami meninggalkan toko, aku bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan lambat? Apakah dia menyiratkan penjual seharusnya tidak membuang waktu dan lebih cepat mengambil kesempatan sebelum mereka terganggu? Apa ini juga berarti bahwa dia akan kembali menyelesaikan apa yang belum selesai?

© 2022 - CeritaSeru.xyz