November 01, 2020
Penulis — pengagum_stw

Aku dan arman anakku

Sejak kecelakaan mobil jatuh ke sisi jurang berkisar 21 meter itu, mas Deddy selalu mengeluhkan pinggangnya. Kami pergi ke berbagai dokter bahkan paranormal dan pengobatan alternatif. Semua nihil. Sejak itu pula, mas Doddy jadi trauma membawa mobil sendiri. Kalau bukan aku yang selalu mengantarkannya ke kantor, dia lebih suka naik bus.

Setelah dia menjadi pimpinan proyek, dia mendapatkan sebuah mobil dinas, lengkap dengan sopir. Hingga tugaskan mengantarkannya ke kantor, sudah selesai. Kondisi keluarga kami semakin membaik. Hingga mas Deddy kutemani untuk berobat ke Singapura. Menurut dokter di negara pulau itu, mas Deddy tidak mengalami apa-apa, kecuali trauma berat dan sedikit kelelehan serta kurang olah rega.

Sejak kejadian itu pula, hubungan suami istri dengan mas Deddy semakin kurang ternikmati. Aku harus memberikan semangat buat dia, agar dia tetap bersemangat untuk hidup. Mas Deddy tidak pernah mengetahui, kalau hubungan suami isteri kami sebenarnya sudah tidak normal lagi. Aku selalu melakukan kegiatan khusus di kamar tidur, setelah mas Deddy pergi bekerja.

Sore gerimis itu, aku pulang tergesa dari senamku. Aku memasuki rumah melalui garasi. Dari sini pula aku mendengar suara desahan yang membuatku heran dari kamar anak sulungku Arman. Yah… selain Arman 16 tahun kelas 1 SMU aku memiliki anak satu lagi bernama Oki, 13 tahun yang lebih suka tinggal bersama neneknya, ibunya mas Deddy.

Perlahan kuintip ke kamar itu melalui kaca nako. Aku terkejut, melihat Arman bertelanjang bulat sembari mengelus-elus penisnya, sembari menyaksikan VCD. Yah… VCD porno. Anakku sudah semakin dewasa, pikirku.

Perlahan aku meninggalkan garasi mobil. Aku segera ke dapur. Setelah meletakkan tas pakaian senam, aku memanggil Arman.

“Sebentar… ma…” Aku langsung ke kamar dan mandi. Baru saja aku menghidupkan air, terdengar suara Arman mengetuk pintu kamar mandi di kamarku.

“Ada apa ma…?”

“Ayu mandi, sudah sore. Ntar kita cari makanan ke luar,” kataku.

Aku denga cepat meneruskan mandiku. Pikiranku terus kepada kejadian yang baru saja kulihat tadi. Arman anakku sudah dewasa. Entah kenapa, pikiranku jadi tak menentu. Aku melihat dengan jelas, Arman mengelus-elus penisnya sembari terengah-engah. Betapa gagahnya penis itu. Berdiri dan menantang. Tubuhku menggeliat sendiri.

Kubersihkan seluruh tubuhku. Kukenakan daster putih sampai lutut. Daster yang selalu kupakai bila mau meminta yang khusus dari mas Deddy. Jika aku memakai daster itu, mas Deddy tahu, kalau sedang membutuhkan sex. Kebetulan mas Deddy ada tugas ke lapangan untuk meneliti jermbatan y ag sedang dibagun.

Saat aku bersolek, pikiranku terus kepada Arman si pemain basket di sekolahnya itu. Bergitu usah menata diri, aku segera memasuki kamar Arman. Aku menghidupkan VCD-nya saat dia masih di kamar mandi. Dan… gambar itu begitu hot. Membangkitkan gairahku. Aku asyik sekali menyaksikan si negero yang sedang menyetubuhi pasangannya.

“Kamu dapat dari mana VCD ini sayang…?” aku bertanya lembut, namun dengan tekanan suara seperti marah.

Arman terkejut mendengar pertanyaanku. Dia malu dan menjawab sekenanya.

“Dari teman, ma.” Aku tahu jawaban itu asal saja.

“Udah ma jangan ditonton. Itukan tontonan anak muda.” Arman berusaha mencegahku dan berusaha mematikan VCD. Saat dia menjulurkan tangannya mau memencet tombol VCD, terasa penisnya dari balik celana dalamnya menyentuh pinggangku.

“Jangan dimatiin dong. Mama mau nonton. Kok nggak boleh, sih?”

“Udah duduk sini, kita nonton bareng, kataku.” Aku semakin horny. Kusuruh dia mengunci kamar, agar si pembantu tak melihatnya. Arman mengunci pintu dan kuminta dia duduk di sampingku.

Kutarik tangan Arman untuk duduk di sampingku. Dia duduk sembari mengeringkan rambutnya yang baru di shampoo dengan handuk.

“Kamu suka nonton yang beginian sejak kapan?” selidikku.

“Ah… mama… baru dua kali kok ma,” Arman mengelak. Aku tak yakin dia baru dua kali menonton film seperti itu.

“Kamu sudah sering melakukan hal seperti itu?” kataku pula.

“Enggak pernah ma. Suer, ma. Sumpah mati,” katanya jujur. Aku melihat kejujurannya dari caranya mengucapkan dan dari matanya. Aku hafal betul siapa Arman. Anak yang kulahirkan dan kubesarkan. Sebagai ibunya, aku mempercayai apa yang dia katakan.

Kemudian kami dia. Aku melihat Arman semakin serius menyaksikan adegan demi adegan dalam VCD itu. Aku juga harus jujur, kalau semakin horny menyaksikannya. Tanpa sadar, kupeluk bahu Arman dengan tangan kriiku. Sedangkan tangan kanannya kuraih untuk memeluk pinggangku. Terasa sekali sentuhan kulit Arman yang telanjang dada itu mengena ke ketiakku, karena dasterku tanpa lengan.

Adegan semakin menjadi-jadi. Kurasakan, Arman semakin merapatkan tubuhnya dengan memelukku. Telapak tangannya terasa panas memeluk pinggangku. Dia merapatkan tubuhnya padaku. Kubalas dengan pelukanku yang semakin erat. Terasa peyudaraku mengena ke dadanya. Ku elus-elus dadanya dengan lembut, lalu turun ke perutnya.

Aku semakin berani, karean reaksi dari Arman semakin agresif mengelus-elus pinggangku lalu ke perutku. Aku yakin sekali, kalau aku dan Arman sudah benar-benar horny. Kulirik ke arah celana dalamnya. Ya… pennisnya semakin menegang. Aku yakin, kalau tadi tak sempat orgasme, karena keburu kupanggil, pikirku.

Begitu Arman mulai mengelus pahaku, kuberanikan diriku untuk memasukkan tanganku ke dalam celana kolornya. Dan… dadaku gemuruh, begitu menyentuh penis yang sudah tegak berdiri.

“Besar sekali sayang,” bisikku memancing.

Arman tak menjawab. Dia diam saja, sementara dengusan nafasnya terasa di leherku. Tangannya semakin dalam mengelus celana dalamku. Sengaja kukangkangkan kakiku, agar tangannya bisa bebas memasuki celana dalamku. Dan dengan sigap pula kubuka kancing dasterku. Kuangkat daster itu, hingga dia terbuka dari tubuhku.

Kurasakan Arman mulai menjilati tubuhku. Leherku. Ini tak boleh disia-siakan. Secepatny apula kubuka pengkait BH ku yang ada dio dapat. Lalu… bluuuurrr. Tetekku sudah terlepas dari penutupnya. BH itu kubuang ke lantai. Kuraih kepala Arman untuk mengulum tetekku. Dengan rakus dan buasnya, Arman mengulum dan menyedpt-nyedot tetekku.

“Terus sayang… mama bukakan celanamu ya…”

Tanpa menunggu jawabannya dan memang aku tak butuh jawabannya. Langsung saja kubuka celana dalam Arman. Arman ikut membantunya. Oh… penis besar itu, kini menantangku.

“Buka celana mama, sayang…”

Arman juga tak menjawab, tapi tangannya cekatan membuka celana dalamku. Kini dihadapannya sudah terbentang seonggung rimba hitam yang lebat. Tempat dia pernah lahir dahulu.

Aku merasakan, paginaku sudah basah dan becek. Aku tak tahan lagi. Aku berdiri dan meminta Arman untuk pindah ke tempat tidurnya. Perlahan aku bangkit dan menyeretnya. Langkahnya terus mengikuti langkahku, sementara mulutnya mash terus menyedot-nyedot tetekku.

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.

“Ayo tindih mama, sayang…” kataku.

Arman naik ke tubuhku dan menindihku. Aku mengangkangkan kedua kakiku. Kutuntun penisnya untuk menembus paginaku. Sleeep. Penis itu memasuki paginaku yang basah dan licin.

Oh… penis yang gagah perkasa itu sudah bersarang. Terasa begitu hangat dan mengganjal, namun begitu nikmatnya. Tiga tahun sudah tak pernah aku merasakan ganjalan yang begitu perkasa, walau aku masih terus melakkukannya dengan rutin bersama mas Deddy.

Aku merasakan, paginaku semakin basah dan basah. Terdengar suara plok… plok… plok, ketika Arman menarik maju-mundur peniisnya. Arman sudah mulai memainkannya. Aku sudah tak sabar. Aku sudah hampir sampai. Tak mampu lagi kutahan. Dan tiba-tiba, aku memuntahkannya. Melepaskan lahar panas itu keluar dari rahimku.

“Mama udah sampai sayaaaaang…”

“Aku juga maaaaa… Crooooot… cooot… crottttttt.” Arman mengejang. Aku merasakan, ada sesuatu yang menyerang jauh ke dalam rahimku. Terasa sekali, bagaimana dulu Mas Deddy menyemprotkan spermanya, hingga aku hamil. Hanya aku yang tahu, apakah aku hamil atau tidak. Setelah kami periksa ke dokter, ternyata aku hamil.

Demikian juga dengan semprotan Arman, aku tau, kalau spermanya menembus jauh ke dalam rahimku. Aku merasakan, ada yang menyedot-nyedot dari dalam rahimku. Begitu cepatnya permainan Arman. Mungkin Arman masih pemula, hingga begitu cepat menyelesaikan segalanya. Sedang aku, sejak di kamar mandi sudah benar-benar horny.

Hanya dengan memakai dasterku, aku ke luar kamat mengambil air minum dari ceret. Sebelumnya kuselimuti tubuh Arman dengan selimut yang terkapar terlentang di atas tempat tidur.

“Ayo… minum air hangat ini, biar segar,” pintaku. Kududukkan Arman dan menyodorkan gelas ke bibirnya. Dengan lahap, Arman meminum air hangat itu.

Setelah lima menit munim air putih, kelihatan Arman kembali segar. Kubimbing dia ke kamar mandi. Aku membersihkan penisnya dengan air setelah menyabuninya. Kami kembali lagi ke tempat tidur. Di bawah selimut aku memeluk Arman untuk memberinya kehangatan.

“Bagaimana kalau mama hamil sayang…?”

“Kalau sekali apa bisa hamil, ma?” tanya Arman.

“Bisa sayang. Tidak harus ratusan kali. Kebetulan, sekarang masa subur mama, sayang.”

“Biar saja hamil, ma.” Kata Arman dengan sangat tegas. Aku berpikir keras, tapi juga berharap agar aku tidak hamil. Walau aku mengetahui tanda-tanda itu ada, dari sedotan rahimku terhadap sperma Arman tadi.

Jawaban Arman itu, membuat aku tersenyum kecil. Dasar anak remaja, tidak mengerti apa yang sedang kupikirkan. Arman mulai mengelus-elus tetekku lagi.

“Ma.. Aku mau netek lagi…”

Langsung saja dia mengulum tetekku. Sementara tangannya yang lain meraba-raba rambut paginaku. Aku terikut terbawa arus. Aku mengelus-elus juga penisnya. Hanya sebentar, penis itu sudah bangkit. Bangkit dan bangkit. Keras dan mengeras, serta benar-benar keras. Kulepas tetekku dari mulut Arman. Aku mengarahkan mulutku ke penisnya dan menjilatinya.

“Jilati pagina mama… sayang,” Setelah itu kukulum panis itu masuk ke dalam mulutku. Kumainkan lidahku pada lubang penis itu dan mengelilingi kepala penis itu dengan lidahku. Sementara tanganku yang lain mengelus-elus buah zakar.

Sesekali gigi Arman mengenai ke klitorisku. Aku harus membimbingnya. Kuarahkan klitotrisku pada lidahnya. Nampaknya Arman dapat mengerti. Aku menggoyang-goyangkan tubuhku, agar tetekku mampu menyentuh-nyentuh perut Arman sedangkan paginaku kupermainkan dibibirnya. Ah… aku merasakan kembali paginaku basah.

Aku bangkit dan merebahkan tubuhku di sisi Arman.

“Ayo sayang, tindih mama. Mama sudah tak kuat… masukin dong ke dalam pagina mama,” pintaku tanpa rasa malu lagi. Arman menindihku. Dia kangkangkan kedua kakiku, lalu dia menusukkan penis itu ke dalam paginaku.

Sleeepppp. Penis itu masuk dengan cepat di tengah-tengah kelicinan paginaku.

“Ayo dimainkan sayang. di cucuk… terus…” kataku.

Arman menusuk-nusuk paginaku. Aku menjilati lehernya. Tiba-tiba Arman menjambak rambutku dengan kuatnya. Aku tau, dia bakal orgasme. Aku harus cepat mengimbanginya. Segera kugoyang pinggullku dan… Croooot… terasa sperma itu begitu hangat. Saat deburan kedua… aku merasakan diriku melayang. Tanpa sadar aku mengepit Arman.

Setiap kesempatan, Arman selalu meminta, agar kami melakukannya dan selalu kami lakukan. Pada bulan ketiga, aku lebih dahulu melaporkannya kepad Mas Deddy, bahwa KBku mungkin bobol dan aku hamil. Kami perika ke dokter dan mengirimkan kami ke laboratorium esok paginya. Poisitif, aku hamil. Mas Deddy begitu bangga atas kehamilanku.

Aku menyempaikan hal ini kepada Arman, dia memelukku dan bangga sekali, sebentar lagi dia punya anak dariku. Kami sepakat merahasiakannya. Setelah beberapa bulan aku melahirkan lagi anak laki-laki. Kini aku memiliki tiga anak laki-laki sekaligus seorang cucu. Dan… tiga tahu kemudian saat Arman sudah di semester dua, kami memiliki lagi seorang anak perempuan.

“Arman sayang sekali kepada kedua adiknya itu. Maklumlah dia baru memiliki adik kecil, kata mas Deddy. Aku diam dan diam. Juga Arman ikut diam.

Kini, kedua anak itu sudah Sd dan TK. Mereka gagah, cantik dan pintar.

© 2022 - CeritaSeru.xyz