November 03, 2020
Penulis — ibenkz_69

A Taste of Honey

Pengalamanku ini adalah pengalaman pertama aku merasakan kehangatan tubuh wanita. Namun untuk mempermudah memahami kisah-kisahku, maka pengalaman pertama ini kutulis belakangan setelah kisah-kisahku bersama para wanita kubagikan dalam cerita sebelumnya. Aku menganggap bahwa dengan menuliskan pengalaman pertama ini setelahnya, maka para pembaca akan dapat menarik kaitan antara cerita satu dengan yang lainnya.

*****

Dengan bergantinya tahun akademik, maka aku memutuskan untuk pindah kos ke daerah pinggiran Kota Bogor. Toh kuliahku juga sudah tidak terlalu padat lagi, tinggal satu semester dan setelah itu mulai penyusunan skripsi.

Setelah cari sana cari sini akhirnya kudapatkan sebuah paviliun berukuran 5 X 4 di sebuah kampung dengan kamar mandi di dalam. Rumah ini terletak bukan di kompleks perumahan, melainkan hanya di sudut perkampungan warga biasa. Saat itu kondisi Bogor masih sejuk dan jarak antar rumah di daerah itu masih agak jarang.

Pertama kali tinggal di sini aku sudah merasa kerasan. Lingkungannya tidak terlalu ramai, tetapi angkutan ke kota dan ke kampus relatif lancar dan sampai malampun masih ada. Kalau siang hampir semua tetangga bekerja. Meskipun kalau siang sepi namun menurut bapak kosku lingkungan ini aman. Tidak pernah ada kejadian kehilangan jemuran atau sandal yang diletakkan di luar.

Rumahku terletak di sudut kampung, di depan dan samping rumah adalah kebun dan sawah. Jendela nako di kamarku menghadap ke pekarangan tetangga di belakang. Namanya Pak Suhaidi, kami biasa memanggil Pak Edi atau kadang Pak Hadi. Istrinya dipanggil Ibu Heni, umurnya tiga puluhan. Beda umur keduanya cukup jauh sekitar sepuluh tahun.

Pak Edi bekerja di lingkungan kampusku meski berbeda fakultas sebagai staf administrasi. Ibu Heni di rumah saja, namun kadang kulihat ia membawa baju untuk dikreditkan kepada orang-orang menengah ke bawah di dalam lingkungan kami. Anaknya laki-laki kelas empat SD, namanya Eka. Agak nakal tapi masih dalam batas-batas kewajaran.

Satu hal yang kuperhatikan bahwa Pak Edi tidak pernah pergi bersama-sama dengan Ibu Heni. Aku sebagai warga baru tentu tidak sopan untuk mencari tahu tentang hal ini. Namun lama kelamaan kudengar bahwa memang begitu dari dulu. Katanya mereka dijodohkan dan Ibu Heni sebenarnya tidak mencintai suaminya.

Wajah keduanya memang bertolak belakang. Pak Edi seorang yang gemuk, pendek dan raut mukanya seram meskipun sebenarnya ramah juga kalau diajak ngobrol. Ibu Heni terlihat sebagai seorang wanita yang pandai merawat dirinya dan menampilkan pesona dirinya. Ia aktif ikut berbagai kegiatan, mulai dari senam di lingkungan ibu-ibu PKK dan pada sebuah sanggar senam di Bogor, arisan ibu-ibu di lingkungan serta kegiatan lingkungan lainnya.

Tubuhnya terlihat segar dengan senyum yang selalu mengembang. Wajahnya cantik, kulitnya putih, badannya sintal dengan tinggi sekitar 163 cm dan berat seimbang. Dadanya montok, rambutnya berombak kecil dipotong sedikit dibawah bahu. Kalau kuperhatikan ia merupakan perpaduan tubuh Chintami Atmanegara dan wajah Cucu Cahyati.

Setiap pagi Ibu Heni menyapu halaman rumahnya. Aku sering mengintipnya dari jendela nako kamarku yang berkaca gelap dan kututup. Halaman rumahnya agak rimbun dengan berbagai tanaman perdu. Kadang ia menyapu ke arah kamarku dengan menggunakan daster longgar, tetapi tangan yang satunya selalu menutupkan leher dasternya ke dadanya sehingga aku tidak bisa menikmati buah dadanya.

Kalau sudah begitu ia melepaskan tangan yang menutup leher dasternya, namun arah menyapunya berubah menyamping sehingga yang kelihatan hanyalah silhouet tubuhnya dengan segumpal daging yang menggantung di dadanya. Tinggal aku di balik jendela nako hitam sedang meremas dan mengocok kemaluanku dengan membayangkan sedang menggumuli tubuh Ibu Heni sampai akhirnya mencapai klimaks.

Sehari-hari aku disibukkan dengan jadwal kuliah, praktikum dan laporannya. Ada satu dua teman yang datang dan minta advis untuk bermacam-macam masalah. Mulai dari masalah perkuliahan sampai pacaran dan masalah pribadi lainnya. Rasanya aku dipandang sebagai orang bijak yang mampu memecahkan masalah teman-teman.

Kadang aku merasa tidak enak mengetik sampai larut malam karena mengganggu tetangga. Ketika kutanyakan pada bapak kosku, ia mengatakan tidak apa-apa karena toh jarak antar rumah agak jauh. Saat itu komputer belum banyak dipakai. Lagian kata dosenku ia lebih menghargai laporan dengan mesin ketik manual, karena orisinalitasnya.

Kalau bertemu dengan Ibu Heni selama ini aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Kalaupun keluar suara hanya sekedar selamat pagi, siang, sore. Suatu sore ia berdiri di dalam pagar pekarangannya dan memanggilku yang baru pulang dari praktikum.

“Anto.. Dik.. Dik Anto sebentar Dik. Ada perlu sedikit,” katanya dengan suaranya yang manja dan merdu. Aksennya ringan, khas Sunda.

“Ada apa Bu? Apa yang bisa saya bantu?” kataku.

“Saya ada perlu nih. Masuk dulu yuk. Nggak enak bicara di pagar. Nanti disangka sedang nagih hutang”.

Ia kemudian membuka pintu pagar sampingnya dan aku masuk ke dalam pekarangannya. Beberapa sudut rumahnya cukup terlindung oleh rimbunnya dedaunan perdu sehingga tidak terlihat dari luar pagar. Beberapa tempat di atas pekarangannya ditanami dengan rumput manila.

“Eka cawu kemarin rapornya jelek. Dapat ranking sepuluh dari belakang. Makanya kalau Dik Anto bisa, saya mau minta tolong agar bisa kasih pelajaran tambahan, les begitu, untuknya. Nanti ada upah lelahnya lho,” katanya lagi.

“Ah Ibu kok sungkan begitu. Saya dengan senang hati mau bantu. Tapi saya tidak mau dibayar kok,” jawabku.

“Jangan begitu Dik, saya yang jadinya nggak enak. sudah minta tolong tidak tahu berterima kasih,” rayunya.

“Begini saja Bu, saya akan kasih les pada Eka kapanpun sepanjang Eka mau dan saya ada di rumah, karena kadang ada perubahan jadwal kuliah. Mengenai lain-lainnya saya serahkan saja pada Bu Heni,” kataku memutuskan.

Bu Heni setuju dengan keputusanku tadi dan iapun mengucapkan terima kasih berkali-kali. Akupun mohon diri dan secara tak sengaja tanganku bergesekan dengan tangannya ketika menutup pintu pagar. Terasa lembut dan halus. Dadaku berdesir dan berdebar-debar. Aku jadi salah tingkah ketika berjalan pulang ke kamarku.

Mulai saat itu Eka menjadi muridku. Kemampuan otaknya sendiri memang lemah, tapi ia mempunyai semangat untuk belajar sehingga perlahan-lahan nilainya di sekolah mulai membaik. Ibu Heni sangat senang dengan perkembangan Eka. Kalau Eka datang ia membawa kue titipan ibunya untuk kami makan bersama-sama sambil belajar.

Suatu sore sekitar jam empat sepulang dari kampus aku melihat dari belakang tubuh Ibu Heni yang baru pulang senam. Ia mengenakan kaus tipis warna merah muda yang ditutup jaket training Pak kuning dengan garis putih. Sungguh serasi dengan warna kulitnya. Leher belakangnya masih terlihat berkeringat. Kembali dadaku berdesir melihatnya.

“Eiit.. Dik Anto. Baru pulang kuliah?” tanyanya.

“I i.. I.. Iya Bu,” jawabku tergagap. Sepanjang gang yang kami lalui terlihat sepi.

Kusejajarkan langkahku dengan langkahnya. Ritsluiting jaketnya terbuka setengah sehingga dadanya yang terbungkus kaus tipis tampak menonjol ke depan. Tangan kami bersinggungan dan seolah-olah tanpa sengaja telapak tangannya memegang telapak tanganku sebentar. Badanku panas dingin. Ibu Heni hanya tersenyum saja.

Sampai di kamar pikiranku menjadi tidak keruan. Sambil berganti celana pendek dan t-shirt kulihat dari jendela Ibu Heni sedang makan es cream menghadap kamarku. Ia mengulum es krimnya dengan nikmat sekali. Kubayangkan ia sedang menjilati kemaluanku. Langsung saja aku BT (Bawah Tegang). Kututupkan kaca nako, korden dan kuintip dia dari balik korden.

Belum sampai klimaks Ibu Heni sudah masuk ke dalam rumahnya. Dengan mendengus kecewa kuhentikan kegiatan tanganku. Kuputuskan kuteruskan saja nanti malam sambil berbaring.

Pintu kamar kubuka. Udara terasa panas karena mendung, kemudian kuhidupkan kipas angin. Kurapikan mejaku yang berantakan dengan membelakangi pintu. Karena asyiknya membereskan meja aku tidak menyadari ada orang lain yang masuk ke kamarku. Aku baru sadar ketika perasaanku kemudian mengatakan ada orang di belakangku.

“E e e.. Eh, Ibu. Ma.. Ma. A.. Aaf saya hanya pakai celana pendek,” kataku terbata-bata ketika tahu bahwa yang masuk kamarku adalah Ibu Heni.

“Nggak apa-apa. Saya yang minta maaf karena masuk tanpa mengetuk pintu. Kulihat kamu lagi sibuk beresin meja” katanya, “Eka aya di dieu To? Urang balik tadi masih ada di imah, sekarang geus ngilang. Ka mana eta budak?” Dia menanyakan apakah Eka, anaknya, ada disini, karena waktu di pulang Eka masih ada di rumah.

“Nggak ada Bu, saya sendirian aja dari tadi”.

Ia menatapku tajam. Aku menghindar dari tatapannya, namun aku mencuri pandang mengamatinya. Ia maih mengenakan kaus tipis merah jambu yang dipakainya tadi dan di bawah ia hanya mengenakan celana pendek sebatas paha berwarna biru. Paha bawahnya terlihat putih. Bulu-bulu halus terlihat di paha sampai di betisnya.

Ibu Heni mendekatiku dan memegang tanganku.

“Kamu sakit To, minum obat dulu gih!” katanya.

(“Alamak, kalau sakit begini cocoknya minum obat kuat Bu, mungkin kalau di sini ada kuku bima TL langsung kuminum”, keluhku dalam hati.)

“Nggak kok bu, saya nggak apa-apa,” kataku sambil menepis tangannya dengan halus.

Tetapi kemudian justru tangannya menangkap dan memegang tanganku, kemudian diusap-usapnya bulu tanganku yang tumbuh jarang. Sekujur badanku meremang.

Aku menahan desakan di balik celana pendekku. Adik kecilku mulai ingin ikut mencampuri urusan orang dewasa dan berontak. Dilepasnya tanganku dan Ibu Heni berjalan ke arah pintu, celingukan memperhatikan sekelilingnya sesaat, kemudian sandalnya dan sepatuku diangkat dan dimasukkan ke dalam kamar. Ia menutup pintu, menguncinya dengan gerendel dan kembali berjalan ke arah tempatku berdiri dan berhenti setengah meter di depanku.

Aku tidak berani menatapnya. Ia diam saja di depanku dan kedua tangannya memegang, mengusap pipiku kemudian mengarahkan mukaku untuk menatapnya. Bau parfum yang lembut bercampur dengan bau tubuhnya bagaikan sebuah feromon pemikat lawan jenis. Lututku gemetar seakan tidak kuat menahanku berat tubuhku.

Setelah kupaksakan menatap dan melihatnya, baru aku tahu bahwa bra-nya yang berwarna putih terlihat kontras dengan kausnya, menutup hanya puting dan sepertiga buah dadanya yang seakan-akan mau tumpah keluar semuanya. Kepalaku berdenyut-denyut, mataku mulai berkunang-kunang dan agak kabur.

Ia memegang tanganku dan mendekapkan dengan kedua tangannya di dadanya. Gemuruh di dadaku seakan mau meledak. Kemudian dilepasnya tanganku dan dia merebahkan kepalanya di dadaku. Tubuhku serasa melayang tidak menginjak bumi.

“Ja.. Ngan Bu, nanti sebentar lagi Bapak pulang,” kataku.

Ia hanya tersenyum saja.

“Pak Edi pulangnya nanti malam, Bapak dan Ibu kosmu pulang kampung selama tiga hari. Ini kuncinya dititip sama aku tadi siang,” katanya sambil merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kunci rumah induk.

Aku kehabisan kata-kata, mulutku terkunci rapat. Di luar gerimis mulai turun. Sekilas ada rasa takut yang menyergapku, takut ketahuan oleh seseorang.

Ibu Heni menyapukan bibirnya ke bibirku dengan lembut. Aku tidak berani membalasnya. Ia kemudian mengulangi dan melumat bibirku. Dengan kaku kubalas lumatannya. Terasa lembut dan nikmat sekali bibirnya. Lama kelamaan ciumanku berubah menjadi lumatan ganas. Aku dulu pernah berciuman dengan gadisku, tapi tidak seganas dan sebuas ini.

Lidahnya mendorong lidahku dan menyelusuri rongga atas mulutku. Aku membalasnya, kudorong lidahnya, dia menyedot lidahku. Apapun yang dia lakukan kubalas dengan hal yang sama. Lihai sekali dia dalam berciuman. Aku mendapat banyak pelajaran dari Ibu Heni dalam teknik berciuman. Kepalanya miring sehingga mulut kami bisa saling menyedot.

“Lepas bajunya dulu, To!” ia menyuruhku.

Kulepas kausku, dan sekaligus kulepas celana pendek dan celana dalamku dalam sekali gerakan. Dadaku yang bidang dan berbulu lebat membuatnya berdecak kagum. Kejantananku langsung mencuat keluar dalam kondisi lurus, bahkan sedikit mengacung ke atas.

Kepala penisku lebih besar dari batangnya, kelihatan kemerahan dan mengkilat karena dari lubangnya sudah mulai keluar cairan bening agak kental dan lengket. Kalau ukuran batangnya menurutku normal-normal saja, namun karena kepalanya lebih besar secara keseluruhan maka terlihat lebih besar dari ukurannya.

“Hmm.. Besar di ujung, pasti hebat permainanmu,” komentarnya.

Diusapnya lubang kejantananku dengan ibu jarinya dan diratakannya cairan bening yang keluar tadi di atas kepalanya sehingga kini semakin mengkilat. Diusap-usapnya kepala penisku sampai membesar maksimal. Hujan telah turun dengan deras, udara mulai terasa dingin.

Ibu Heni melepaskan pelukannya. Dengan gerakan pelan dan gemulai ia melepas kausnya dan kemudian melepas celana pendek dan celana dalamnya. Tangannya membuka kancing bra-nya dan sebentar ia sudah dalam keadaan bugil. Aku benar-benar tercengang melihat keindahan tubuh yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.

Selang beberapa menit kemudian Ibu Heni berkata ditelingaku dengan lirih, “Kita ke ranjang.. Sa.. Yang..“.

Dengan naluriku tiba-tiba saja aku langsung menyergapnya dan mengulum bibirnya, dan dia membalasnya dengan sangat liar, kemudian aku merasa penisku semakin tegak dan terasa lebih keras dari biasanya. Aku berbaring di ranjang dan Ibu Heni merangkak di atasku. Dadanya disodorkan ke mulutku dan dengan rakus kusedot dan kujilati buah dadanya.

Tangan dan mulutnya menarik-narik bulu dadaku dengan lembut. Sekali waktu dia menarik terlalu keras karena gemasnya.

Aku terpekik.”Ouuw.. Pelan sedikit Bu. Sakit..“.

“Habisnya gemas melihat bulu dadamu”.

Dia terus memintaku meremas-remas payudaranya dan menghisap putingnya secara bergantian. Kemudian aku disuruh menjilat vaginanya yang basah dan tampak kemerahan, tetapi aku tidak bisa melakukannya karena ada perasaan aneh. Melihat hal itu ia mengambil inisiatif.

“Kayaknya Ibu yang harus memberikan pelajaran kepadamu nih..!!” Katanya lirih, lalu dia mulai menjilati tubuhku dari mulai leher perlahan-lahan turun kebawah dan berhenti disekitar paha. Dia juga menjilati biji zakarku.

“Agh.. Ugh.. Ouhh.. Enak Bu.. Ugh..!!” desahku.

“Hari ini aku benar-benar mendapat durian runtuh,” pikirku.

Hal yang belum pernah kualami akan kurasakan sore ini. Ibu Heni menggigit pahaku di bagian dalam dekat pangkal paha seolah-olah mengingatkan ini bukanlah mimpi tetapi kenyataan yang benar-benar sedang kualami. Ibu Heni terus melanjutkan aksinya, kini dia jongkok di atas pahaku.

Tangannya meremas kejantananku dan menggoyangkannya sebentar. Digesekkannya kepala kejantananku pada bibir vaginanya.

kemudian ia menurunkan pantatnya. Kepalaku sudah tertelan dalam vaginanya. Terasa vaginanya berair. Dengan pelan pantatnya bergerak turun sambil memutar-mutar. Kejantananku terasa ngilu dibuatnya.

“Ibu masukin ya. Ayo To..!! Dorong ke atas, tunggu.. Ibu ganjal dulu pantatmu dengan bantal..!!” ia memberi komando.

Diganjalnya pantatku dengan bantal, kuangkat pantatku sedikit untuk memudahkannya mengganjal pantatku dan kemudian pantatnya semakin turun. Aku yang masih hijau mengikuti apa yang dimintanya. Dan perlahan penisku masuk ke dalam lorong hangat yang belum pernah dilewatinya. Aku merasakan penisku dihimpit oleh benda hangat dan basah, sebuah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

“Agh.. Auw.. Ooh.. Nikmat sekali rasanya, To.. Goyangkan pinggulmu!!” rintihnya terbata bata.

Kugerakkan pinggulku memutar berlawanan arah dengan gerakan pingulnya. Dibenamkam penisku dalam dalam sampai terasa tidak bisa masuk lebih dalam lagi, dan Ibu Heni menjerit. Tangannya memainkan putingku dan sesekali menjilat dan mengisapnya. Aku menggigit bibir menahan rangsangan. Dia terus menggoyangkan pinggulnya dengan teratur dan makin lama makin cepat.

“Ouchh.. Agh.. Ugh.. Ooo.. Yes..!!” desisnya terdengar berulang-ulang.

Aku mempercepat gerakanku mengimbanginya dan makin cepat lagi sampai akhirnya.

“Bu.. Aku.. Mau keluar nih.. Ouw..!!” memang kurasakan jepitan vaginanya semakin keras dan kuat sampai sampai penisku terasa ngilu, aku terus mempercepat gerakanku, dan mulai merasakan sesuatu terjadi pada tubuhku..

“Aku.. Bu.. Aku,” aku memberontak.

Ibu Heni tahu aku mau mencapai puncak, dilepaskannya kemaluanku dari kemaluannya dan kini dikocoknya kemaluanku dengan tangannya yang halus. Beberapa detik kemudian cairan kental menyemprot beberapa kali keluar dari kemaluanku. Mulutnya mendekat ke kejantananku dan menampung sperma yang memancar deras.

Kurasakan semprotannya sangat kuat sampai sebagian yang tidak tertampung dalam mulut Ibu Heni membasahi dadaku. Dengan hati-hati Ibu Heni menjilati dan menelan spermaku yang tercecer di tubuhku. Kemudian dengan lembut Ibu Heni mengurut kejantananku sampai akhirnya mengecil. Aku merasa bersalah karena sementara aku sudah mencapai puncak sementara ia belum meraihnya.

“Sorry Bu, aku tidak bisa menahannya,” kataku. Namun tatapan matanya menenangkan aku.

“Itu normal. Biasa bagi seorang perjaka. Ronde berikutnya ini aku yakin kamu akan membuatku puas bahkan kewalahan,” katanya.

“Ibu kok mau menelan sperma saya?” tanyaku pelan, takut tersinggung. Aku pernah dengar katanya ada wanita setengah baya yang menelan sperma perjaka agar awet muda.

“Kata orang sih mani perjaka bikin awet muda. Aku sih nggak percaya, hanya sekedar ingin melakukan dan menikmatinya saja,” jawabnya datar.

Setelah membersihkan diri, kami saling berpelukan dan aku masih menikmati sisa sisa kenikmatan tadi dalam keadaan telanjang bulat, hanya ditutup dengan selimut. Hujan belum lagi berhenti. Situasi seakan mendukung peristiwa sore ini. Hujan mulai reda. Suara titik-titik air masih terdengar di atas genting.

Ibu Heni kemudian membuka matanya, meregangkan tubuhnya dan menguap.

“Ngantuk aku, jam berapa sekarang?” tanyanya.

Kulihat jam beker di atas meja. “Lima lewat dua puluh,” kataku.

Kupeluk dia lagi dan kuhembusi belakang telinganya dengan napasku. Ia menggelengkan kepalanya. Kuremas dadanya dengan lembut.

“Sudahlah To, aku mau istirahat. Kecuali kalau kau bermaksud untuk..”

Tanpa menunggu lagi segera kulumat bibir indahnya. Lipstiknya sudah pudar, namun rona merah masih membayang.

“Hmm.. Kuda arabku rupanya mengajak berpacu lagi..“.

“Kok kuda arab?”

“Tubuhmu yang tegap dan dadamu yang berbulu mengingatkanku orang India atau Arab”.

Kami berciuman lagi, semakin lama kembali semakin liar seiring dengan nafsu kami yang mulai bangkit lagi. Tanpa terasa selimut yang tadinya menutup tubuh kami sudah tersingkap jatuh ke lantai dan tubuh kami berdua kembali tidak tertutup apa-apa lagi.

Tiba-tiba kedua mata kami beradu pandang. Lama kami berpandangan sambil saling meremas jari tangan. Nafas kami mulai terasa berat dan degup jantung meningkat. Sementara rintik gerimis masih terdengar dari dalam kamar kosku. Kulihat dari lubang ventilasi di luar mulai gelap. Sayup-sayup kudengar suara orang berbicara dari arah kejauhan.

Bibir kami saling berpagut, hangat. Kulumat bibir Ibu Heni itu dengan penuh nafsu. Sekali-sekali kugigit bibirnya dan kumainkan lidahku di atas langit-langit mulutnya. Nafsu sudah mengasai kami berdua. Aku tahu itu sebenarnya tidak boleh, tetapi kami tidak bisa lagi untuk menghentikannya. Terlanjur basah, apapun yang terjadi, kataku dalam hati.

Kami semakin tenggelam dalam birahi. Kini leher jenjang Ibu Heni menjadi sasaran berikutnya. Kuciumi dan kujilati sepuasnya. Hampir saja kucupang lehernya itu, kalau tidak ditepis oleh Ibu Heni.

“Jangan To.. Nanti kelihatan”, bisiknya.

Kemudian kujilat daun telinganya sambil kubisikkan sesuatu. Ia mengangguk dan tertawa kecil. Kupandangi tubuh indah itu agak lama. Lidahku tahu-tahu sudah memainkan puting payudara yang berwarna coklat muda dan keras itu. Pelan-pelan kaki kanannya ku angkat dan kuletakkan di atas perutku.

Dalam posisi terlentang berdampingan jemari kirikupun memainkan bulu-bulu halus di sekitar vaginanya. Kadang agak kutarik pelan. Jariku kemudian merambat menggesek-gesek lipatan pahanya. Pinggangnya terangkat dan bergerak-gerak tidak beraturan. Kudengar Ibu Heni melenguh-lenguh tanda terangsang.

“Ahh.. Ouuhgh.. Sedaap.. Ssshh.. Nikkmaatt.. Terusskan..“.

Kakinya kuturunkan dan dengan penuh nafsu serangan kuteruskan. Lidahku sudah berada di lipatan pahanya, menggantikan jariku tadi. Sejenak aku kembali ragu apakah akan kuteruskan atau tidak. Kudekatkan hidungku ke sela pahanya. Tidak ada bau yang tidak sedap, kalaupun ada sekilas tercium bau segar yang khas seperti bau tubuh seorang wanita.

Akhirnya kuserang bibir vaginanya yang sudah agak basah. Kujilat-jilat sambil sesekali menjepit bagian dalam bibir vaginanya itu dengan kedua bibirku. Dengan sentuhan ringan tanganku sesekali mencolek daging kecil sebesar biji kacang tanah. Rupanya seranganku membuahkan hasil. Ibu Heni bergetar keras dan mulai meracau.

“Hmm.. SShh.. Ngghh.. Akhh. Hmm.. Pintar kamu. Aku juga mau To, berputar.. Berputar”.

Aku tidak tahu apa maunya, tapi tangannya kemudian memegang kepalaku, meraih pinggang dan menangkap kakiku dan memutarnya ke arah mukanya. Kuikuti saja kemauannya. Kuanggap aku sedang berguru mempelajari ilmu bercinta.

Kami berbaring berlawanan arah. Aku tengkurap diatas tubuhnya. Selangkanganku berada di atas mulutnya dan sebaliknya sambil kami terus melakukan stimulasi di sekitar paha. Ia langsung melahap penisku sampai habis. Diisap-isap, dikocok-kocok dan dijilati sampai puas. Gantian aku yang menggelinjang hebat.

“Mmmhh.. Srup.. Srup..“.

Penisku dihisap-hisap dan dijilati sampai badanku merinding semua. Ia memberi isyarat agar berubah posisi. Kami berguling ke samping dan kini masih tetap dalam posisi kepalaku pada selangkangannya dan sebaliknya, aku sekarang yang berada di bawah.

Rupanya dengan posisi demikian ia lebih mudah menikmati penisku. Akupun demikian, lebih leluasa untuk menjelajahi selangkangannya. Kami saling merintih dan melenguh memberikan respon terhadap rangsangan yang diterima. Ibu Heni menggelinjang penuh kenikmatan ketika kujilat dan kugigit klitorisnya. Tetapi sebaliknya Ibu Henipun semakin gencar menyerang penisku dengan tak kalah hebatnya.

Kami tetap dalam posisi ini sampai beberapa menit. Tiba-tiba ia menghentikan serangannya dan duduk di tepi ranjang. Ditariknya tanganku. Kupeluk dari samping dan kemudian ditariknya badanku sehingga kami jatuh ke karpet di lantai dekat ranjangku. Dipeluknya tubuhku dengan eratnya dan dengan gencar menciumiku, sampai aku kesulitan mengambil napas.

Sejenak kemudian ia menghentikan gerakannya. Aku mencoba bangkit dan mengangkatnya kembali ke ranjang. Tapi dia menggigit daun telingaku dan berkata lirih.

“Jangan To.. Jangan. Lebih nikmat di bawah.. Di lantai ini saja”.

Aku tidak jadi mengangkatnya dan kembali kurebahkan di atas karpet. Kutindih tubuhnya dan ia mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar. Kucoba untuk menerobos lubang guanya, meleset, kucoba lagi meleset lagi sampai tiga kali. Kepala penisku sudah masuk dan menyentuh bibir vaginanya, tetapi setiap kali kudorong batangnya terlipat dan terlepas lagi, maklum belum pengalaman.

“Asupkeun.. To.. Masukin sekarang!”

Rupanya dia tidak sabar lagi. Ia segera menggenggam batang penisku dan mengarahkan ke vaginanya yang merekah. Begitu seluruh kepala penisku yang besar sudah menerobos masuk ke bibir vaginanya, ia tersentak dan menekan pantatku dengan kedua tangannya.

“Dorong To.. Anto dorong kuat-kuat,” desahnya.

Kudorong pantatku dengan kuat sampai semua batang penisku amblas di dalam liang guanya. Ia berteriak agak kuat, kututup dengan tanganku. Aku takut suaranya terdengar sampai ke luar kamar. Ia menggoyangkan kepalanya ke kanan ke kiri dan melakukan gerakan-gerakan tak beraturan. Aku masih diam saja, menunggu aba-aba darinya.

“Gerak To.. Naikkan sedikit dan turunkan lagi. Kocok dalam lubangku,” desisnya membimbingku. Kugerakkan badanku mendatar ke arah kepala dan kakinya.

“Bukan.. Bukan begitu, naik turun.. Yaa.. Gerakkan naik tu.. run, seperti mem.. momm.. paahh!”

Kuangkat pantatku sedikit naik dan tangannya kemudian memegang pinggangku untuk membantuku melakukan gerakan memompa. Gesekan kulit penisku dengan dinding vaginanya membuat aku mendesis nikmat. Kucium dadanya dan kugigit sampai merah. Ia sudah tidak peduli lagi dengan aksiku, hanya aku saja yang menjaga agar cupangku tidak sampai pada bagian tubuh di luar baju, kelihatan orang nantinya.

Gelang kakinya mengeluarkan bunyi, crik.. crik.. criik, seirama dengan gerakannya. Semakin cepat gerakannya, maka bunyi crik.. crik.. criik tadi semakin sering terdengar. Terasa indah sekali di telingaku. Dan sampai pertemuan terakhir nantinya dengan Hanny aku sangat senang kalau mendengar bunyi gelang kakinya.

Kini aku sudah bisa menikmati dan melakukan gerakan memompa dengan terkendali. Payudaranya kukulum sampai setengahnya dan putingnya kugigit kecil. Kepalanya tersentak menengadah sehingga lehernya yang jenjang terlihat semakin menggairahkan. Kalau mulutku di payudaranya, maka tanganku mengusap pipi dan lehernya, jika mulutku ada di lehernya maka tanganku meremas payudaranya.

Kutambah kecepatan permainanku karena akupun merasa sudah mendekati saat-saat terakhir menggapai puncak. Kurasakan darah mengalir deras ke penisku. Kugoyang, kugenjot dan kugoyang terus. Putaran pinggulnya juga dipercepat. Tubuh kami saling merapat. Kusemburkan spermaku ke dalam vagina Ibu Heni dengan menekan pantatku kuat-kuat sampai menyentuh dinding rahimnya.

Kurasakan dinding rahimnya berdenyut-denyut. Aku mencapai puncak kenikmatan terlebih dulu dan dalam hitungan hanya beberapa detik ketika penisku masih berdenyut, Ibu Henipun kemudian mendapatkan orgasmenya. Hampir saja ia ketinggalan lagi. Kulihat ia akan berteriak dan kusumbat dengan mulutku karena akupun rasanya juga akan berteriak sambil memperketat pelukanku.

Semenit berikutnya kami berpagut mesra. Hingga akhirnya ia mendorong tubuhku ke samping.

“Apa kataku tadi, hanya sekali diajarin kamu pasti sudah pintar”, katanya sambil mencubit lenganku.

Sambil kupondong badannya kami masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuh kami. Di dalam kamar mandi kami masih sempat untuk saling mencubit dan saling menggelitik perut. Sebentar kemudian kami sudah menenakan pakaian kami kembali.

“Bu.. Bu Heni” panggilku.

“Mmhh..” jawabnya manja.

“Kalau hanya kita berdua dan nggak ada orang lain boleh enggak aku memanggilmu dengan nama Hanny tanpa sebutan Ibu? Rasanya lebih enak diucapkan dan didengar,” tanyaku.

Ia tersenyum dan mengangguk. “Terserah kamu,” katanya.

Bagiku nama Hanny terdengar lebih manis dan mesra. Tasting as sweet as honey!

“Ada satu rahasia yang mau kuungkapkan. Aku sebetulnya sering mengintip setiap kali Ibu menyapu halaman,” godaku.

“Ahh.. Kamu nakal..” sungutnya sambil mencubit lenganku keras-keras.

Canda tawa dengan bisikan tertahan berakhir sampai dia berpamitan pulang dan kulihat hujan sudah agak reda dan langit sudah gelap. Sebelum keluar pintu dikecupnya pipi dan bibirku. Aku membalasnya lagi dengan penuh gairah dan dadanya kuremas agak kasar. Ia mendorongku sambil berbisik di telingaku.

“Sudah dulu. Kutunggu kamu lain waktu”.

Ia keluar dari kamarku setelah mengintip keluar beberapa saat sampai ia yakin tidak ada orang yang melihatnya keluar dari kamarku. Malam itu aku tidur telanjang dan masih membayangkan Ibu Heni ada di sisiku.

Esoknya aku bangun dan kulihat seperti biasa Ibu Heni menyapu halamannya. Kali ini kubuka kaca nako jendelaku. Ia melihatku dan terus menyapu ke arah kamarku dengan membiarkan leher dasternya tergantung. Kulihat buah dadanya menggantung bebas tanpa ditutupi bra. Kuberikan isyarat dengan gerakan kecupan pada bibirku.

Beberapa hari setelah malam kejadian pertama itu, aku berjumpa Hanny di mulut gang sedang menunggu angkot.

“Kemana Ibu Heni, eh.. Hanny?” tanyaku.

“Ini, mau ambil baju untuk dikreditkan. Bisnis kecil-kecilan”.

“Han.. Ngghh boleh nggak aku.. Aaku..” tanyaku tergagap, bingung mau bilang mengajak bercinta lagi.

Ia mengerti keadaanku dan menukas, “Hmm.. Besok pagi jam sembilan kutunggu kamu di depan pintu masuk SM. Kita ke Puncak. OK?” katanya.

Aku berpikir sejenak. Besok ada jadwal kuliahku dua jam, tapi untuk mata kuliah ini aku masih belum pernah bolos dan rasanya aku sanggup untuk mengikuti ujian semester kalau hanya bolos satu kali.

“Setuju,” jawabku.

“Dan jangan lupa nanti malam istirahat yang cukup. Besok pagi jam sembilan teet kamu sudah ada di SM”.

Malam harinya aku sulit untuk memejamkan mata. Bayangan indah tubuh Hanny selalu melintas di khayalku. Adik kecilkupun juga menegang. Ingin rasanya kutumpahkan dengan berswalayan ria. Namun kutahan, mengingat besok pagi aku memerlukan stamina khusus yang prima. Akhirnya menjelang tengah malam akupun tertidur.

Esok harinya jam sembilan kurang sepuluh menit aku sudah di depan SM. Kikuk juga aku menunggu di sini. SM belum buka dan karyawan yang datang masih antri di depan pintu. Aku sedikit menyesali mengapa kemarin bikin janji di tempat ini. Jam sembilan lewat sepuluh aku sudah mulai gelisah, namun Hanny belum kelihatan juga.

Akhirnya lima menit kemudian kulihat ia datang. Hanny mengenakan baju lengan panjang tipis warna merah dengan motif bunga kecil-kecil. Ada gambar bunga tulip besar di dada kirinya. Bawahannya rok panjang di bawah lutut warna hitam dengan belahan di belakang sampai di atas lutut. Ia mengenakan sepatu dengan hak tinggi runcing, sehingga betisnya terlihat penuh bak padi bunting.

“Sudah lama nunggu ya? Sorry aku tadi ada keperluan lain, mendadak,” katanya.

“Tiga puluh menit di sini, artinya itu sama dengan satu babak permainan bukan?” kataku pelan tapi agak ketus. Pura-pura saja, karena jangankan menunggu setengah jam, setengah haripun aku mau menunggunya.

“Sorry deh, nanti saya tambahin waktu untukmu. Kamu dapat lembur,” suaranya merendah.

“Ayo. Jadi berangkat atau tidak..” katanya lagi.

Kami berdua segera berangkat. Di dalam angkutan sambil duduk berdempetan kami saling berbisik, ke mana kami akan beraksi. Akhirnya kami putuskan tidak usah terlalu jauh sampai ke atas, cukup di sekitar Ciawi saja. Lewat Ciawi sedikit, udara mulai terasa dingin. Akhirnya kami turun dan masuk ke sebuah hotel yang tidak terlalu mencolok.

“Berikan KTP mu, nanti aku yang urus di resepsionis,” katanya meminta KTP-ku.

Kuberikan KTP-ku, aku maklum agaknya ia masih ada rasa segan untuk check in dengan menggunakan KTP-nya. Akhirnya kami masuk ke dalam kamar. Dia bilang kalau tadi harus mengantar baju pesanan temannya dua puluh potong. Sayang memang kalau rejeki ditolak.

Hanny tidak kelihatan kaku sama sekali masuk ke hotel ini. Setelah ngobrol dan kupancing-pancing tentang isu hubungan gelapnya dengan seorang pejabat akhirnya ia mengaku kalau dulu sering check in ke sini dengan pejabat teman selingkuhnya tersebut. Jadi ternyata benar selentingan yang pernah kudengar.

“Room service!” terdengar ketukan di pintu kamar.

Minuman yang kami pesan sudah datang. Sambil nonton TV kami minum lemon tea pesanan kami. Sepatuku telah kulepaskan dan kutaruh di sudut ruangan. Hanny mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tasnya dan menuangkan isinya ke dalam gelas kami masing-masing. Kucium gelas minuman. Ada aroma lengkeng.

“Kamu curiga minumannya kucampur racun ya?” Hanny menggodaku sambil menggelitik perutku.

“Bukan, takut kamu salah masukin obat tidur saja. Sia-sia jadinya jauh-jauh kita ke sini”.

“Itu tadi madu lengkeng penambah stamina, jangan takut”.

Sebentar kemudian ia sudah merapatkan badannya ke tubuhku sambil berkata.

“Puasin aku ya.. Aku percaya kamu sudah jauh lebih pintar sekarang ini”.

Aku langsung merapatkan bibirku ke bibirnya. Kamu berciuman sangat bernafsu. Lidahnya masuk ke mulutku sambil menjelajahi setiap sudut dalam mulutku. Aku sangat terangsang, apalagi melihat tangannya mengusap-usap pangkal pahanya yang masih tertutup rok. Wanita ini nampaknya mempunyai nafsu seks yang besar, aku harus mengerahkan kemampuanku untuk memuaskannya.

Kuangkat badannya sehingga kami berdiri berdekapan. Aku membuka kancing bajunya dan langsung menyusupkan tanganku ke buah dada kirinya. Dia dengan cepat membuka tali branya sehingga menyembul dua bukit yang cukup besar. Kubuka bajunya dengan menggigit bagian krahnya dan menarik ke arah lengannya satu demi satu.

Branya dibiarkan jatuh di lantai, payudara bebas menantang di depanku. Aku langsung mengulum salah satu putingnya. Kurasakan makin lama makin keras. Kepalanya bergerak ke belakang menahan isapanku. Aku sangat menikmati ekspresinya ketika terangsang dan mengerang.

Begitu kancing dan ritsluitingnya kubuka maka roknya telah lepas dengan sendirinya. Ia kemudian membuka sepatunya. Kubisikkan aku ingin menikmati gaya seperti yang sering kulihat di film biru. Sambil berciuman ia membuka kancing bajuku dan melepaskannya dengan sedikit tarikan kasar. Kubuka ikat pinggang, kancing dan rilsuitingku dan langsung melorot.

Tanganku telah masuk ke dalam celana dalamnya. Agak basah. Jari tengahku mengusap-usap klitorisnya yang masih terbungkus celana dalam. Ini membuat ia tak tahan. Kami saling mengisap sambil mengerang.

“Aaah.. Eeeh.. Haahh..“.

Kutarik celana dalamnya ke bawah dan kulepas. Aku berjongkok di depannya sambil menciumi paha dan daerah sekitarnya. Kuangkat kaki kirinya ke atas bahu kananku dan bibirku segera mengulum klitorisnya, ia melenguh panjang keenakan.

“Aaauu.. Enak, To”.

Ditekannya kepalaku semakin dalam ke sela-sela pahanya. Aku lakukan ini sekitar lima menit sampai Hanny menarik tubuhku dan gantian dia yang jongkok di depanku, dan mengulum, menjilati penis dan dua telur di bawahnya. Aku merasakan gairah kenikmatanku makin meningkat. Kepala penisku mengkilat oleh ludah dan cairan bening yang keluar dari lubangnya.

Hanny berdiri dan kudorong ke arah meja. Kupeluk dia dari belakang. Kedua tangan kami bertumpu pada bibir meja. Kutarik pinggulnya ke belakang hingga dia dalam posisi nungging dengan tangan tetap bertumpu pada meja.

“Ayo Anto, nggak tahan nih. Masukin cepet..”

Kuangkat kursi di dekatku, kutaruh bantal di atasnya dan kaki kanannya kulipat. Lututnya kuletakkan di atas kursi. Dengan lapisan bantal di atas kursi maka sudah kuperhitungan lututnya tidak akan merasa sakit.

Aku mencari posisi yang tepat, mengarahkan kejantananku ke liang senggamanya yang sudah sangat basah. Perlahan-lahan kupaskan pada lobang guanya dan kudorong masuk, meleset. Tangannya bergerak kebelakang menangkap penisku dan mengarahkan pada lubang vaginanya.

“Dorong To.. Tekan.. Enak sekali!”

Hanny melenguh, “Aaah.. Ya teruuss To”.

Perlahan-lahan kupompa liang senggamanya sementara dia memaju-mundurkan pantatnya dengan gerakan cepat dan kaku. Ia ingin segera mendapatkan orgasme yang pertama.

“Terus To, aku suka sekali.. Enak.. Banget”.

Kupompa makin cepat dan kuputar-putarkan kejantananku dalam liang senggamanya. Semenit kemudian badannya mengejang dan mulutnya berteriak..

“Aaah. sudah To aku sampai puncak. Aku dapat.. Aaah”.

Aku menghentikan gerakanku agar ia bisa menenangkan napas dan detak jantungnya.

“Hebatth.. Sayang, Sudah kuduga pasti dalam waktu singkat kamu akan cepat belajar dan menghajarku habis-habisan. Enak sayang”, katanya dengan manja setelah keadaan menjadi tenang. Kejantananku masih keras tertancap di liang vaginanya.

“Aku hanya mengikuti petunjukmu dan dengan menggunakan naluriku. Kita akan bertempur sampai tetes sperma penghabisan hari ini”. Aku memulai memompa liang senggamanya lagi.

“Iya dong, kuharap kita dapat mencapai puncak bersama-sama. Terima kasih telah memuaskanku, mengantarku sampai ke puncak setinggi-tingginya”, Hanny menjawab.

Kami telah bertempur lagi dan nampaknya Hanny telah kembali terangsang. Kadang-kadang aku memutar-mutar pantatku dengan arah yang berlawanan dengan putaran pantat Hanny.

“Aku capek yang, kita pindah ke ranjang.. Ouhh”.

Kucabut penisku dan kurebahkan dia ke atas ranjang yang empuk, siap melanjutkan permainan kami. Ia mengangkat kedua kakinya dan membuka selebar-lebarnya. Ia kelihatan sangat seksi dalam keadaan seperti ini. Kuciumi sekujur betisnya dan kugigit bagian belakang lututnya. Ia merinding dan memekik.

“Ouuhh.. Kamu ppintar sekali. Puaskan a.. Kkk.. Ku!”

Kukocok penisku sebentar untuk mengembalikan ketegangannya dan kuarahkan ke vaginanya yang merekah merah. Sebentar kemudian penisku sudah mentok dan menyodok dasar rahimnya. Kuciumi dan kugigit dadanya. Kali ini dia menolak.

“Jangan To, nanti merah. Kemarin hampir ketahuan suamiku waktu aku berganti pakaian”.

Kami benar-benar menikmati hubungan seks kami yang kedua ini. Suatu ketika tanpa sengaja kukencangkan otot perutku ketika kepala penisku dalam keadaan setengah masuk di bibir vaginanya. Aku terkejut merasakan efeknya. Penisku seperti membesar dan mendesak dinding vaginanya. Hannypun terkejut merasakan desakan pada vaginanya.

“Ouwww.. Nikmat sekali. Kamu apakan punyaku. Ouhh lagi dong.. Lagi” ia merintih.

Kembali kukencangkan otot perutku beberapa kali dan iapun memekik-mekik. Kaki kanannya kuangkat ke atas bahuku. Gerakan naik turunku semakin cepat dan lebih cepat lagi. Erangan, pekikan, rintihan dan desahan kami saling bersahutan. Tubuh kami sudah basah oleh keringat yang mengalir. Akhirnya aku hampir mencapai puncak.

“Hanny… Akk.. Kkku mau nyam.. Pppe. Uuiih.. Aaahh”.

“Yaah… aku juga!”

Kulepaskan kakinya dari bahuku. Semenit kemudian aku telah mencapai orgasme yang luar biasa sambil berteriak keras.

“Aaahh!!”

Kuhunjamkan penisku dalam-dalam. Hanny menyambutnya dengan mengangkat pinggulnya, kedua betisnya membelit pinggangku. Tangannya memukul-mukul kasur dan giginya tertancap di pundakku. Ia mencapai orgasmenya yang kedua sambil melenguh keras sekali.

“Aaauu.. Enak To.. To Uuffp. Aeeaahh”.

Bahuku terasa sakit. Gigitannya tadi meninggalkan bekas, meskipun tidak sampai merah atau berdarah. Kami terdiam sejenak. Setelah reda, kami berciuman lagi secara lembut sekali. Kami mandi berendam bersama dalam bath tub sambil saling menyabuni dan sesekali saling menyentuh daerah-daerah sensitif sambil bersenda gurau dan tertawa cekikikan.

Sementara berendam dalam bath tub dan bercumbu, gairahku naik lagi lagi. Hanny juga terangsang karena penisku kugesek-gesekkan ke vaginanya ketika kami berpelukan. Setengah jam kemudian kami bercinta lagi. Kuangkat sebelah kakinya ke atas dinding bath tub. Aku ingin melakukan sambil berdiri. Karena sulit melakukannya, kami kembali ke tempat tidur untuk menyelesaikan satu babak permainan yang sangat seru dan lebih lama.

“Aaahh.. Aaahh”.

Kami tertidur sampai sore dan setelah terbangun, kami memesan makanan. Setelah makan dan mandi kami lalu berkemas-kemas untuk pulang. Ketika melihat Hanny sedang mengenakan bajunya, namun tubuh bagian bawahnya masih telanjang, aku merasakan getaran nafsu lagi. Kupeluk dari belakang dan kuajak bercinta lagi.

“Sudah.. Sudah. Brengsek kamu To.. Lepaskan aku!”

Payudaranya kugigit dari luar bajunya. Kubisikan dengan lembut tapi penuh tekanan.

“Sorry Hanny, tapi sekali ini lagi saja.. Please!”

Iapun diam dan menurut. Ketika kutanya dengan pelan apakah ia ingin menikmatinya, Hanny menjawab hanya akan mengimbangi dan mengantarku ke klimaks, ia tidak berminat untuk mendapatkan orgasme lagi. Jadi dengan cepat kuselesaikan partai tambahan ini.

Akhirnya kami pulang setelah membersihkan diri lagi. Hanny masih sedikit marah dengan perlakuan terakhirku. Aku minta maaf dan kukecup bibirnya dengan lembut. Akhirnya dia luluh dan bahkan kejadian ini menjadi inspirasi bagi kami dalam berbagi kenikmatan pada waktu berikutnya.

jangan lupa gan GRPnya…!!

© 2022 - CeritaSeru.xyz