November 01, 2020
Penulis — bukhewa

Sweet Home

Tomi, adalah nama yang diberikan oleh orang tuaku padaku.. 18 tahun yang lalu. aku tinggal bertiga bersama kakak perempuanku Naya dan ibuku Sherly setelah meninggalnya ayahku 1 tahun lalu.

sebelum kepergian ayahku, kehidupan kami sebagai keluarga berjalan normal. tapi setelah itu semuanya berubah. ibuku sekarang bekerja, menggantikan posisi ayah sebagai pencari nafkah keluarga. kakakku yang sekarang berusia 19 tahun membantunya dengan berjualan baju di internet. hasilnya cukup lumayan, setidaknya bisa mencukupi biayanya kuliah.

hari-hari berlalu hingga saat ini adalah semester terakhirku di SMA. sebagai anak SMA aku dikenal sebagai pribadi yang penyendiri, jarang bergaul dan bersosialisasi. kebiasaanku saat pulang sekolah adalah pergi ke perpustakaan dan meminjam beberapa novel untuk kubaca dirumah. yah… cari hiburan pikirku.

Naya juga tidak jauh berbeda, sepulangnya dari kampus yang dia kerjakan adalah duduk di depan komputernya berjam-jam mengecek iklan bajunya dan sesekali menelpon pelanggan yang memesan. tak heran di usianya yang baru 19 tahun Naya sudah memakai kacamata. Dalam usia yang sudah menginjak 19 tahun rasanya aneh jika perempuan secantik Naya tidak pernah keluar dengan lawan jenisnya pada malam minggu.

hari itu sangat ku ingat dalam benakku. hari senin, aku pulang dari sekolahku. kuparkir motorku di pekarangan rumah dan segera ku gembok pagarnya. kubuka pintu rumah dengan tangan kananku sementara tangan kiriku menggenggam buku novel setebal 560 halaman. Naya yang berada di ruang tengah segera menghampiriku.

“kamu baru pulang Tom..??” tanyanya

“iya kak, ada apa kok tumben tanya-tanya?”

“mama hari ini ngak kerja Tom, dari tadi mama di kamar belum makan. aku udah bujuk supaya mama makan… tapi katanya nunggu kamu. coba kamu ajak mama makan, kasihan nanti mama sakit”.

ada yang aneh pikirku, biasanya hari senin mama justru pulang malam. tapi tiba-tiba dia tidak masuk kerja hari ini. segera kuhampiri mama di kamarnya.

mama sedang tertidur di kamarnya berselimutkan bed cover yang tebal. mungkin karena suhu AC terlalu dingin. segera ku ambil remote AC dan ku naikkan beberapa derajat.

“mam… kok mama belum makan…” tanyaku

“ohh kamu sudah pulang Tom.. yuk kita makan. kamu ganti baju dulu” pintanya

“ganti baju? memang kita mau kemana mam?”

“hari ini mama cuti, kita akan ziarah ke makam ayah” katanya

“oke mam…”

segera ku bergegas ke kamarku, ketika kulewati ruang tengah ku katakan pada Naya untuk segera mengganti bajunya juga karena kami akan ziarah ke makam ayah.

tak lama kamipun berangkat. aku menyetir mobil, sedangkan Naya dan mama dibelakang.

baru ku ingat bahwa hari ini adalah tepat satu tahun ayah meninggal. pantas mama agak murung hari ini.

sesampainya di makam kami berjongkok mengelilingi makam. menabur bunga dan berdoa untuk ayah, agar ayah mendapatkan tempat yang baik di sisi yang maha kuasa.

tak berselang lama kamipun pulang. mama segera masuk kembali ke kamarnya, aku dan Naya di ruang tengah menonton TV

“tumben komputernya gak dilihat…” tanyaku

“blom ada yg sms sih, lagian aku capek.. pijitin pundakku dong Tom” pintanya

“yeeee… aku sendiri capek nyetir mobil”

“ya nanti gantian” katanya sembari tersenyum lebar

kuturuti permintaannya, ku suruh dia duduk di lantai, sementara aku di sofa. sehingga aku dengan mudah bisa memijit pundak dan bahunya. cukup lama ku pijit pundaknya. setengah jam berlalu lalu kami berganti posisi.

“Tom.. mama kok ngurung diri di kamar, ada apa ya” tanyanya sembari memijatku. aku hanya mengangkat bahu menyatakan ketidak tahuanku.

“nanti abis ini kita tengok yuk ke kamar mama…“ajaknya.

aku hanya mengangguk sambil menikmati pijitannya di bahuku. tangannya cukup lembut karena memang dia jarang melakukan pekerjaan yang berat mungkin.

tak lama kami berjalan menuju kamar mama. baru ingin ku ketuk pintu kamarnya, Naya mencegahku. “Stttt… diam” bisiknya… “kenapa??” akupun berbisik.

“coba dengar deh” kata Naya

Aku dan Naya menempelkan telinga kami dengan posisi wajah kami berhadapan.. kurasakan dengan jelas hembusan nafas Naya di wajahku. dari dalam kami mendengar mama merintih, sepertinya dia sedang menangis. tapi kemudian dia mendesah… Aku dan Naya berpandangan satu sama lain sambil mengerutkan dahi.

“masa sih mama masturbasi…” bisik Naya.

“hus… kamu ada-ada aja kak..” kataku

“siapa diluar..?? Nay.. Tom… kalian di luar” tanya mama dari dalam kamarnya.

iya mam.. boleh kami masuk.. kata Naya.

Tanpa di persilahkan kamipun membuka pintu kamar

Kami bertiga terbelalak nyaris bersamaan, ketika kami melihat mama berada di ranjangnya tanpa busana sambil memegang sebatang dildo yang terbenam di vaginanya.

Wajah mama memerah. Kamipun terdiam.

kalian main masuk-masuk aja gak nunggu mama bilang iya kata mama

mmm.. mmma.. af mam kami gak tau.. kata Naya

Mama menarik bed covernya menutupi tubuh mama sampai batas payudaranya.

ya sudah gpp.. sini, ada apa? tanya mama

Aku dan Naya melangkah menuju tempat tidurnya. Kami duduk mengapit mama di tengah. Aku di kanan dan Naya di kiri.

mama kok masturbasi? tanya Naya. Mama terdiam. Tertunduk, ku pandangi matanya berkaca-kaca.

mama kangen sama ayah kalian. Ucapnya lirih.

Kami bertiga tertegun mendengar apa yang diucapkan mama. Aku dan Naya langsung memeluk perut mama, dan bersandar di bahunya. Berharap dapat menenangkan sedikit perasaan rindu karena telah di tinggalkan pasangan hidupnya.

mama kan masi punya kita mah. Ucapku sembari tersenyum.

bener tuh ma kata Tomi, masa mama tega. Nanti papa ngeliat jadi sedih loh kata Naya

Titik-titik air mata kembali jatuh membasahi pipi mama. Mama merangkul kami berdua dan berkata

terima kasih ya sayang.. kalian memang anak mama, ucapnya

Aku dan Naya langsung mencium pipi mama dari kanan dan kiri. Mama pun tersenyum dan membalas mencium pipi kami. Naya memeluk mama dan tidak sengaja menyentuh payudaranya yang masih mekar. Tak sengaja tersentuh olehnya putting mama yang masih mengeras. Naya tersenyum dan berkata.

mah ga di terusin lagi masturbasinya?? kata Naya.

haha oh iya mama beli dildo dimana.?? tanyaku.

Mama hanya tersenyum saja.

di toko peralatan sex lah. Ucapnya dengan tersenyum lebar.

mau di bantuin gak mah sama kita masturbasinya kata Naya

hus jangan ahh mama malu sama kalian. Ucapnya sambll menyeka air mata yang tersisa di pipinya.

Aku tersentak mendengar ucapan Naya. Jangan-jangan Naya sudah tidak virgin lagi.

emang kamu pernah masturbasi juga Nay…? tanya mama

Naya menggelengkan kepala.

makanya ajarin dong mah. Enak ga sih masturbasi ucap Naya

Edann.. pikirku. Apakah kakakku ini sudah tidak waras. Kalau dia masturbasi kan bisa-bisa perawannya hilang.

eh. Kakak nanti perawannya hilang loh. Kataku

mendingan perawan hilang sendiri dibanding diambil sama lelaki bejat ucapnya

iya sih tapi kan sayang aja, cewe secantik kakakku ini keperawanannya ilang

Pipiku kiriku dicubit olehnya. Agak kencang sampai aku mengaduh.

tuh kan mah lelaki bisanya gombal. Kata Naya

tapi memang betul loh Nay kata Tomi.. kamu kan cantik, sexy, pasti banyak cowo yg mau sama kamu kata mama.

iya mah.. banyak.. tapi rata-rata paling lama seminggu setelah di tolak mereka jadian sama cewe lain. Cowo macam apa itu. Naya maunya cowo yang ngotot ngejar-ngejar Naya berbulan-bulan. Baru Naya terima jadi pacar

nah kalo begitu aku setuju kak.. kataku sambil mengacungkan jempol.

kalian mau nenen ga kaya waktu kecil dulu? kata mama sambil membuka bedcover yang menutupi dadanya. Saat itu terpampang dengan jelas dada mama yang besar. Putingnya yang berwarna kemerahan mengacung ke depan. Mamaku memang cukup rajin berolah raga, tak heran badannya masih kencang di usianya yang sudah 45 tahun.

Aku dan Naya tidak menjawab apapun sambil langsung mengulum kedua puting mama.

Ahh.. desahnya pelan ketika kami menghisap putingnya. Sesekali kuhisap dengan kuat dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ohh.. sayang. Mama menggeliat dan menekan kepala kami berdua makin kuat ke dadanya.

Naya memulai aksinya dengan mengelus perut mama, turun ke selangkangannya. Dimana tumbuh bulu-bulu yang tipis disana. Diusapnya belahan vagina mama. Tepat di klitorisnya.

Mmmmpph Ohh. Mama kembali mengeliang.

Kulepas isapanku di payudaranya dan kucium bibir mama. Mama membalas ciumanku dengan beringas. Tampak nafsu birahi mulai menguasainya. Maka kumainkan putingnya dengan jariku.. kupilin dan kutarik.

Mama tidak tinggal diam menerima perlakuan kami. Dengan sebelah tangan dia perlahan membuka kancing baju kami satu persatu. Bedcover pun di dorongnya hingga jatuh dari ranjang.

Naya yang kancing bajunya sudah terlepas, menghentikan aksinya mengusap klitoris mama untuk melepas pakaiannya.

Oh man.. kini di pandanganku telah ada dua wanita cantik sudah tidak berbusana.

Aku pun melepaskan seluruh pakaianku dan kembai mencium mama sambil memainkan putingnya.

Mama meraba tubuhku mencari penisku yang sedaritadi telah mengeras. Di remasnya batang kejantananku sampai-sampai aku bergetar. Seumur hidup penisku belum pernah di sentuh oleh seorang wanita. Kini mamaku sendiri yang menyentuhnya. Tangan kanan mama juga mengusap klitoris Naya. Menyebabkan Naya menggumam sambil terus mengisap payudara mama.

Oh mah geli mah. kataku sambil melepaskan ciumanku darinya.

Ciuman mama turun ke leherku, dadaku, dan mengisap putingku. Oh my god. Sensasinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.

Tubuh mama mulai menggeliat tidak karuan menerima usapan pada klitorisnya. Tak lama lagi ia mencapai klimaksnya. Oh. Terus sayang. Mama sebentar lagi sampai Ahhhh Ah..

Melihat mama hampir mencapai klimaksnya aku langsung mengisap kembali putting mama. Di tekannya kepalaku hingga aku sulit bernafas.

Aaa.. jeritan mama tertahan. Ouuuhhhh. Mama melenguh panjang tanda ia sudah mencapai orgasmenya yang pertama.

Mama terkulai lemas setelah orgasmenya yang pertama. Namun aku dan Naya tidak melepas kulumanku dari putingnya. Diusapnya kepala kami berdua lalu berkata.

kok nenennya masih lanjut sayang?

abis udah lama ga nenen sama mama Tomi kangen mah. Kataku sambil tersenyum.

kok toket mama gede banget sih ma. Punya Naya gak segede ini.. kata Naya sambil mengelus payudara mama.

ya kan karena sering di remas-remas sama ayahmu kata mama

ah masa sih ma.. Cuma karena sering di remas-remas doang???

di remas, di isap, ya pokoknya di beri rangsangan sayang

mah isepin toket Naya dong mah biar gede kaya mamah pinta Naya seraya bangkit dan menyodorkan putingnya ke wajah mama. Kupikir benar juga ya. Payudara mama ukurannya cukup spesial. Besar, kencang, mengacung, padat. Mungkin memang benar bahwa payudara wanita harus sering di beri rangsangan.

Mama kemudian mengulum lembut puting Naya. Melihat mimik wajahnya, tampak Naya sangat menikmatinya. Tak sampai di situ, tangan mama mengusap lembut payudara lainnya hingga putingnya ikut menegang. Sssshhh Naya mendesah. Diusapnya klitoris Naya dengan lembut. Pelan tapi pasti mama mulai menaikkan temo permainannya.

aku mau juga dong kakisep punya kakak pintaku.

Naya mengulurkan tangannya ke leherku dan menarik wajahku mendekati payudaranya. Kuhisap payudara Naya dengan perlahan. Tampak nafsu birahi Naya mulai memuncak. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur agar usapan di klitorisnya makin cepat. Mama menyadari itu dan mempercepat usapan di klitoris Naya.

Tampak mama juga mulai di bakar nafsu. Tangannya yang tadi dipakai meremas payudara Naya kini telah berpindah ke klitorisnya sendiri. Aku yang melihat itu tanpa dikomando segera menyusupkan tanganku di selangkangan mama. Memasukkan dua jariku ke dalam vaginanya.

Uhhhm mah udah mah., Naya mau ke kkamar.. mandi… Nay.. Naya mau pipisss

pipis di sini aja gpp sayang kata mama. Mama sudah tau bahwa itu adalah tanda Naya akan mencapai orgasme. Di percepat usapannya sambil sedikit menekan vaginanya.

Ahhhhh mahhh.. lenguhnya ketika orgasme itu datang. Menghampiri Naya untuk pertama kalinya. Tampaknya Naya tidak kuasa membendung luapan energi yang terjadi ketika ia orgasme. Ia kini terkulai lemas di sebelah mama.

mah.. spreinya basah ya Naya kayanya tadi pipis.

ngak sayang.. itu tadi yang namanya orgasme.. kata mama

enak banget mah. Ucap naya seraya tersenyum dan memejamkan matanya.

Mama masih asyik dengan klitorisnya yang sejak tadi ia usap.

Tom mau gak jilatin memek mama? pinta mama.

sini mah.. mama buka yang lebar aku pun mengatur posisi. Mendekatkan wajahku ke arah vagina mama. Aroma vagina perempuan itu sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas au menyukainya.

Mama melepaskan tangan dari klitorisnya dan membimbing wajahku menuju kesana. Kujilat klitorisnya dengan perlahan. Reaksinya sungguh diluar dugaan. Mama mengeliang dengan liarnya. Di tekannya kepalaku dengan sebelah tangan, seakan tidak ingin melepaskan jilatanku pada klitorisnya.

Kumasukkan kembali dua jariku kedalam liang vaginanya. Tubuh mama menegang. Kuat sekali.

Naya yang berada di sampingnya kembali bangkit dan mengisap serta meremas payudara mama. Nafsu mama semakin menjadi-jadi.

Terus sayang. hmmph.. enakk.. Ahhh. Ahhh.. desahnya

udah mau orgasme lagi ya mah? tanya Naya. Mama hanya mengangguk.

Ku percepat gerakan mengocok pada vagina mama. tiba-tiba kedua kaki mama menekan kepalaku dengan kuat ke arah vaginanya. sebentar lagi sa.. yanggg. Ahhhhhh. Ahhhhh.. ceracaunya.

Ohhhhh Ahhhh. Orgasme mama tercapai seiring dengan lenguhan panjangnya. Cairan kewanitaannya menyembur dengan deras ke wajahku. Rasanya agak Asin, tapi tidak seperti air garam. Kubersihkan selangkangan mama dengan lidahku.

Mama terkulai lemas untuk kedua kalinya. Ditariknya tubuhku ke sebelah Naya.

Duduk sini sayang., mama mau isepin punya kamu kata mama

Aku pun bersimpuh di antara Naya dan mama. Kemudian mama meremas-remas penisku hingga menegang. Mama mendekat dan mulai mengisap penisku.

Aaa ahh. Enak mahh. Terus mahh kenikmatan yang saat ini kurasakan benar-benar tak bisa tergantikan. Naya kemudian mengambil posisi. Berlutut di depanku, sehingga payudaranya mengacung ke arah wajahku.

Tom isepin lagi tom. Enak tau di isepin kamu pintanya.

Segera kuturuti kemauannya sambil tanganku meremas payudara mama.

Naya mengusap-usap rambutku, menikmati jilatan dan gigitanku pada payudaranya.

Penisku yang sudah basah oleh liur mama kemudian dikocoknya. Jilatannya berpindah ke buah penisku.

Rangsangan itu begitu hebat kurasakan. Seakan kepalaku ingin meledak, tidak cukup menampung luapan birahi yang kurasakan. Ahhhmah cepetin lagi kocokannya mah. Enak erangku.

(sfx: Crooooottt, crotttt)

Spermaku jatuh diwajah mama. menandakan orgasmeku sudah sampai. Rasa lelah tiba-tiba menghampiriku. Lemas, lelah entah dari mana rasa ini berasal. Seperti habis berlari pikirku. Akupun ikut terkulai lemas di ranjang itu. Mama dan Naya ikut merebahkan diri. Mengapitku yang berada di tengah.

Pandanganku terpaku pada langit-langit kamar itu. Perlahan tapi pasti, rasa kantuk mulai menyerangku. Kelopak matakupun sudah tidak mampu lagi kutopang dengan sisa tenagaku. Saat mama dan Naya memelukku, saat itulah aku terpejam.

Sang fajar mulai menampakkan kehadiranya. Pertanda pagi telah datang. Mataku terasa berat pagi itu, kelopak mata yang tak kunjung mau terbuka lebar seakan menempel di pelipisku.

Ingatanku mulai pulih tentang apa yang terjadi kemarin malam. Permainan yang telah kulakukan bersama Naya dan mama. Kutersenyum sendiri dalam lamunanku. Kulihat mama dan Naya masih terbaring di sisiku. Masih terlelap nampaknya.

Aku bergegas bangkit dan berjalan menuju kamarku. Mengambil handuk dan mandi, membersihkan diri. Sisa-sisa keringatku semalam terasa lengket menyelimuti badanku.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian, kurapikan buku pelajaranku dan bergegas ke ruang tengah untuk sarapan. Kulihat mama telah berada disana, sibuk menyiakan makanan untuk sarapan pagi ini.

pagi ma. Kusapa mama dan kupeluk dia dari belakang.

eh sayang. Sudah rapi ya mama mengecup pipiku. Aku hanya tersenyum.

hari ini mama masuk kerja? tanyaku.

iya kerjaan mama sudah numpuk karena kemarin cuti..

Naya keluar dari kamarnya. Tampaknya ia pun sudah siap untuk berangkat kuliah.

pagi mah, pagi Tom. Sapa Naya. Ia pun duduk di sofa, memeriksa kelengkapan yang ada di dalam tasnya.

Tak lama mama selesai menyiapkan sarapan untuk kami. Telur dadar, tempe goreng, dan roti selai adalah menu pagi itu. Mama memang tidak begitu senang memasak makanan yang rumit. Tapi itulah keluarga kami, menu pagi ini memang menu favorit kami sejak dulu.

Tak lama kami bersiap untuk berangkat.

Motor ku panaskan di halaman. Mama mengambil tasnya dan meletakkannya di bangku depan mobil.

Aku dan Naya terbiasa berangkat bersama. Karena kampus Naya memang tidak begitu jauh dari rumah.

Dalam perjalanan kami berbincang. Menyinggung kejadian semalam. Naya hanya tertawa-tawa saja ketika kami membahasnya. Tampak dia tidak keberatan mengenai aktivitas kami semalam.

Tak butuh waktu lama aku sampai di sekolahku. Naya sudah ku antarkan terlebih dahulu ke kampusnya. Teman-teman memandangku sedikit aneh hari ini. Tidak biasanya aku semangat pergi ke sekolah kata mereka. Mereka tidak tau saja apa yang sudah terjadi padaku kemarin ^^.

Hari itu berjalan menyenangkan. Sampai tiba saat guru BP mengadakan penyuluhan tentang sex. Tumben, topik hari ini begitu vulgar. Teman-teman satu kelas yang biasanya gaduh, kini hening. Seakan begitu tertarik tentang materi yang diberikan. Terlebih karena guru BPku adalah seorang wanita cantik. Primadona sekolah katanya.

Topik hari itu memang tidak jauh dari free sex, kenakalan remaja, dan akibat yang ditimbulkan karenanya. Saat itu aku termenung sejenak. Apakah yang telah kulakukan semalam patut di benarkan? Tanyaku kepada diri sendiri. memang secara teknis aku tidak melakukan hubungan sex. Tetapi apa yang kurasakan di dalam hati ini mengartikan serupa seperti itu.

Ketika penyuluhan telah berakhir, bel pulang sekolah berdering. Tanda bahwa sudah saatnya kami pulang.

Kurapihkan buku-buku pelajaranku ke dalam tas dan bergegas menuju gerbang sekolah. Kulihat saat Bu Reni baru menuju ke ruangannya yang terpisah dari ruang guru. Membawa proyektor yang cukup berat yang tadi digunakan untuk memberi penyuluhan pada kami. Kuberanikan diri untuk menawarkannya bantuan.

sini saya bantu bu. Kelihatannya berat kataku

ohh kamu Tom. Boleh.. memang berat banget proyektornya ucapnya seraya menurunkan proyektor itu ke lantai.

OMG belahan dadanya terlihat. Tiba-tiba kepalaku mulai hangat membayangkan apa yang ada dibalik kemeja putih itu. Kutepis jauh-jauh bayangan itu dan kuraih proyektor di lantai. Dalam perjalanan bu Reni menanyakan padaku tetang tanggapanku terhadap materi yang diberikannya.

gimana materi saya tadi Tom tanyanya.

materinya bagus bu memang materi seperti itu yang dibutuhkan oleh anak-anak jaman sekarang. Teman-teman di kelas aja yang biasanya ribut terus sampe terdiam, kataku. Bu Reni tertawa kecil mendengarnya.

kalo kamu sendiri gimana nakal juga ngak bergaulnya? tanyanya.

bergaul gimana bu pacar aja ngak punya, kataku.

halah bohong kamu kan ganteng, tinggi, proporsional. Saya tau kok beberapa cewe yang suka sama kamu di sekolah ini, katanya.

saya ga minat pacaran bu

lho.. kenapa? kok tumben ada anak kaya kamu. Emang kamu belom pernah pacaran?

Aku menggelengkan kepalaku.

selama saya belum punya penghasilan sendiri, saya ga mau punya pacar bu. Saya ga mau nyusahin mama dan kakak saya yang cape-cape nyari uang. Masa saya habisin cuma buat pacaran ga jelas jawabku

Bu Reni hanya tersenyum.

baguslah masih ada anak kaya kamu. Yang sadar capenya orang tua nyari uang katanya

bu Reni juga kenapa belum nikah bu. Kan umur ibu sudah cukup matang tanyaku. Bu Reni saat itu umurnya sekitar 23-24 tahun.

baru juga putus Tom. Ucapnya pelan.

aduh maaf bu saya ga maksud menyinggung

gpp Tom. Soalnya ibu yg mutusin dia. Habis dia minta sex terus sih katanya

tapi ibu gak kasih kan. Kataku seraya membukakan pintu ruangannya.

ya ngak lah.. ibu sebagai guru BP kan harus bisa memberi contoh yang baik. Jangan cuma bisa nasehatin orang tetapi diri sendiri gak bener katanya.

Ku acungkan jempolku ke arahnya. Dia hanya tersenyum.

Kuletakkan proyektor itu di sudut ruangan. Sesungguhnya pikiranku cukup terganggu dengan apa yang kulakukan semalam. Ingin sekali ku bertanya pada bu Reni, tapi canggung sekali aku untuk bertanya.

kok ngelamun Tom..? ada yang mau ditanyakan bu Reni memecah lamunanku.

Dasar lulusan psikologi, pikirku. Bisa-bisanya dia menebak apa yang kupikirkan.

kalau ada yang mau di tanyain jangan di pendam. Kali aja ibu bisa kasih pendapat

ada sih.. sedikit bu.. tapi ini aib. Saya takut aib saya tersebar kalau saya cerita sama orang lain kataku seraya mengambil bangku dan duduk di seberang bu Reni.

Bu Reni terdiam, mimik wajahnya mulai serius.

sudah kewajiban saya untuk menjaga rahasia dari murid-murid saya Tom termasuk kamu. Jadi apapun yang kamu ceritakan tidak akan saya bocorkan kesiapapun kata bu Reni.

Terdiam sesaat, mempertimbangkan antara bercerita atau tidak. Akhirnya kuputuskan untuk mempercayakan rahasiaku kepadanya. Kuceritakan apa yang terjadi semalam dan sebab kenapa semua itu terjadi. Bu Reni terdiam sesaat.

tapi kamu gak ngesex kan? tanyanya

Aku menggelengkan kepala. Bu Reni menghela nafas lalu memajukan tempat duduknya mendekat kearahku.

ini rumit Tom jujur ibu gak bisa bilang apa-apa katanya.

Aku tersenyum mendengarnya. kamu sayang sama ibu dan kakakmu? tanyanya lagi.

sayang banget bu.. saya rela ngelakuin apapun demi mereka bahagia.. jawabku

Bu Reni tersenyum.

ibu juga punya adik laki-laki seumuran kamu lah, katanya.

semenjak orangtua kamu meninggal hanya dia yang ibu punya. Apapun akan ibu lakukan untuk melindungi dia dari pergaulan yang tidak benar lanjutnya

Aku menarik napas panjang mendengar apa yang dikatakanya. Apa jangan-jangan bu Reni juga punya problem yang sama denganku.

apa yang kamu pikir benar Tom, ibu juga punya problem yang sama kayak kamu katanya

Lagi-lagi dasar lulusan psikiater, batinku.

ibu pernah mergokin adik lagi nonton film porno ibu tanya baik-baik, apakah dia punya pacar. Jawabannya tidak lanjutnya.

Aku terdiam mendengarkan lanjutan ceritanya.

memang normal untuk anak seumur kamu dan adik ibu untuk mulai punya orientasi sex. Tapi ibu khawatir dia terjerumus jalan yang salah. Katanya.

akhirnya saya sebagai kakaknya mencari cara bagaimana agar orientasi sex itu tersalurkan. Lanjutnya

Aku tersenyum mendengarnya.

kamu jangan tertawakan ibu ibu kan juga cewe normal yang punya nafsu.. katanya

Senyumku langsung berubah menjadi tawa kecil.

tuh kan kamu tertawakan. Bu Reni cemberut.

hehehe gpp bu lanjutkan pintaku.

tapi ya hanya sebatas seperti kamu, tanpa aktivitas sex hanya sebatas handjob, blowjob, dll katanya

tapi semenjak kejadian semalam, saya merasa ada perasaan yang berbeda kepada mama dan kakak saya bu kataku.

Bu Reni tersenyum.

perasaan kamu adalah alasan ibu mutusin pacar ibu juga Tom, katanya.

jadi ibu mulai cinta sama adik ibu? tanyaku.

Bu Reni mengangguk. Dia menghela nafas dan berkata yah.. ibu juga ngak tau sampai kapan harus begini Tom.

apakah wajar kalau saya mencintai mama dan kakak saya. Seperti cinta antara laki-laki dan perempuan? tanyaku.

sulit untuk dikatakan.. antara ya dan tidak, disatu sisi cinta tidak pernah memiliki batasan, baik itu gender, hubungan, usia, dll tapi resiko untuk hubungan incest memang cukup serius. Jika sampai lahir anak dari hubungan incest, anak tersebut memiliki resiko cukup tinggi mengalami buta warna katanya.

dan hubungan incest itu dilarang keras oleh agama, lanjutnya.

tapi itu semua tergantung diri kita masing-masing ibu percaya tuhan pasti punya maksud tersendiri terhadap umatnya. Seperti saya saya dan adik saya saling melengkapi

Pembicaraan berlanjut hingga hampir setengah jam. Perasaan mengganjal dihatiku sudah menghilang. Pembicaraan hari itu dengan bu Reni membuka mataku. Menambah wawasan baru untuk hidup. Ku naiki motorku dan bergegas untuk pulang.

Sesampainya di rumah motor kuparkir di halaman rumah dan ku gembok pagarnya, pintu tidak dikunci. Tanda bahwa Naya telah lebih dahulu sampai di rumah. Kulepaskan sepatuku dan kuletakkan di rak sepatu diteras.

Naya seperti biasa sudah asyik dengan komputernya. Melihat aku memasuki pintu dia menghampiri dan memelukku.

ehh adikku sayang sudah pulang, katanya

kakak baru mandi kak… wangi bener badannya

iya dong. Kamu sudah makan? tanya Naya

belum. Pengen makan dirumah sama kakak kataku sambil tersenyum.

Kami bergandengan ke ruang tengah. Tempat kami biasa makan. Kami sekeluarga memang jarang makan di meja makan. Kami lebih suka makan di ruang keluarga sambil menonton TV.

Setelah makan, kakak menyodorkanku segelas eskrim.

mau eskrim gak.? Tanyanya.

mauuuu.. ucapku seperti anak kecil.

Naya tersenyum mendengarnya. Kami berdua memakan eskrim sambil menonton TV.

Tom.. habis ini pijitin kakak mau ga? pintanya

hayooo apanya nih yang dipijit? Pundaknya kemaren udah. Kataku nakal.

sekarang yang ini Tom naya menunjuk payudaranya.

emang masih kurang gede kak? kataku sambil mengusap payudara Naya.

WTF. Ternyata Naya sudah tidak mengenakan bra. Terasa di telapak tanganku putingnya yang mulai mengeras. Kuusap-usap dan Naya mulai mendesah.

Sssshhhh. Enak Tom.. desahnya.

Eskrim kami letakkan di meja. Kuselipkan tanganku memasuki kaosnya, dan kuraba dari dalam. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Naya membuka kacamatanya. Sungguh cantik sekali kakakku ini tanpa kacamata yang biasa di kenakannya, pikirku. Kudekatkan bibirku dengan bibirnya dan mulai menciumnya. Tampak Naya agak canggung.

kenapa kak? tanyaku

kakak belom pernah ciuman jawabnya

aku juga baru kemarin di ajarin mama. kataku sambil tersenyum.

Kulumat pelan bibirnya, dan kumasukkan lidahku. Tanganku kini mulai meremas payudaranya.

kak segini mah udah cukup gede kak kataku.

masa sih.. tapi punya mama gede banget loh katanya.

mama kan udah lama sering begini sama papa wajar lah kataku sambil membuka kausnya.

Naya mengangkat tangannya ke atas, memudahkanku melepaskan pakaiannya.

Ku selipkan wajahku di antara payudaranya. Naya mendekapku, erat sekali. Ku jilat belahan payudaranya.

Ahhh. Geli Tom, katanya sambil tersenyum.

kamu lepasin bajunya juga dong masa cuma kakak yang telanjang pintanya sambil membuka kancing seragamku. Tak lama kamipun sudah telanjang di ruang keluarga.

Kulanjutkan lagi remasanku di payudaranya. Perlahan tapi pasti aku kuatkan remasanku.

Naya merangkulkan tangannya di leherku. Menarikku untuk merebah di atas tubuhnya. Kujilat lehernya agar dia merasa nyaman. Desahanya kini mulai berubah. Tampak dia sangat menikmati aktivitas kami. Perlahan jilatanku turun ke dadanya. Ketiak Naya sangat bersih, bebas dari bulu-bulu yang mengganggu. Iseng saja ku jilat ketiaknya.

geli tau katanya tapi tidak berusaha menepis jilatanku.

enak gak di jilat di situ kak? tanyaku. Naya mengangguk.

Kulanjutkan menjilat ketiaknya. Wangi sekali, mungkin karena Naya baru selesai mandi.

Tom. Isepin toket kakak tom pintanya. Kuturuti saja, kapan lagi ada payudara virgin yang bisa kunikmati^^.

Aktivitas kami berlanjut cukup lama. Namun tampaknya Naya tidak puas hanya dengan rangsangan di payudaranya. Kudengar desahannya mulai berkurang.

bosen ya kak? Memeknya mau di jilat juga ga? tanyaku.

mau dong kemarin mama dijilatin kayaknya enak

Aku merubah posisi. Naya tetap kubaringkan di sofa. Kuarahkan lidahku ke klitorisnya dan kujilat perlahan sambil tetap kuremas payudaranya.

Ohhhh. Ahhh Ahh.. gila enak banget tom katanya. Aku tersenyum saja dan melanjutkan aksiku.

Jilatanku makin kupercepat, sesekali kucium dan kuhisap klitorisnya. Naya mulai menegang, matanyapun terpejam. Birahinya mulai memuncak. Kuremas payudaranya dengan kuat, dan ia melenguh panjang.

Uhhhh Ohhhhh.. dikit lagi sampai Tom.

Sudah hampir orgasme, pikirku. Kupilin puting Naya agak keras. Kuhisap klitorisnya dengan kuat.

Aaaaaa jeritan Naya tertahan. Cairan kewanitaanya menyembur ke wajahku, banyak sekali pikirku. Tampaknya Naya puas sekali dengan oral sex yang kuberikan.

udah belum kak? tanyaku.

Naya yang sedaritadi memejamkan matanya hanya mengangguk pelan. Menikmati sisa-sisa orgasmenya.

banyak banget keluarnya sampai belepotan begini, kataku seraya meninggalkannya menuju dapur untuk mencuci mukaku.

Kuputar kran air di dapur. Air mengucur deras, kuambil air itu dengan kedua telapak tanganku dan kuusapkan ke wajahku.

Tiba-tiba Naya merangkulku dari belakang. Kurasakan payudaranya yang besar menempel erat di punggungku. Kupikir dia tertidur di sofa, ternyata dia mengikutiku kesini.

makasih ya Tom. Kamu emang pinter banget nyenengin perempuan dikecupnya pipiku.

hehe masih belajar kok kalo ada yang kakak pengen bilang aja. Kataku

Naya memelukku. Aku kembali membasuh wajahku dengan air.

Tangan kanan Naya mulai ia turunkan ke selangkanganku, meraih penisku yang sedaritadi tegang.

nah lo yang ini belum dapat jatah ya. Kata Naya sambil tersenyum.

hehehe.. iya. Isepin donk kak kemaren enak banget di isepin sama mamah, pintaku.

yuk kamu ke sofa lagi sana, kakak mau cuci memek kakak dulu becek banget ujarnya sambil berjalan menuju kamar mandi.

Kusudahi mencuci muka dan ku bergegas ke ruang tengah. Kurebahkan diriku di sofa. Tak lama Naya pun datang. Ia duduk di sampingku, kemudian merebahkan tubuhnya ke pangkuanku.

gede banget sih kontol kamu Tom..? ucapnya seraya meraih penisku yang menegang.

ya kalo udah keras ya segede ini kak kalo masi lembek ya tetap aja kecil kataku.

Naya hanya tersenyum dan mulai meremas-remas penisku. Kini tanganku bergerilya di dadanya. Meremas payudaranya yang kenyal, dan memilin putingnya yang kini mengeras lagi.

Naya mendekatkan wajahnya ke dadaku dan mulai menjilat putingku. Nikmat sekali rasanya, pantas Naya dan mama senang sekali di hisap putingnya. Rasa geli mulai menjalar di seluruh tubuhku. Nyaman sekali posisi yang kualami sekarang ini. Tapi rasanya ada yang kuranng kalau kami tidak bermain bertiga seperti kemarin.

Jilatan Naya lama kelamaan mulai turun ke penisku. Di jilatnya penisku layaknya menjilat eskrim.

Ohhh. Kak.. terusin kak.. kakak pinter banget. Kataku.

Naya diam saja, meneruskan jilatan di kepala penisku. Batang penisku kini di kocoknya pelan.

Ahhhh Emmmmm. Enak banget kak

hayo jadi ketagihan ya di oral? tanya Naya.

iya lah apalagi yang oral cewe secantik kakak.

gombal banget. Kata Naya, ia pun melanjutkan aksinya.

Tak terasa 15 menit berlalu. Kini Naya menjilat dan menghisap buah penisku. Kurasakan agak sakit di perutku karena otot yang menegang akibat jilatan itu. Tak kukira efeknya akan seperti ini. Tapi entah dorongan dari mana, aku sangat menikmatinya. Rangsangan ini membuat birahiku makin memuncak.

kak di masukin kemulut donk kak isepin pintaku.

Naya menurutinya di masukkan batang penisku kemulutnya. Tampak Naya belum terbiasa, batang penisku hanya masuk sepertiganya. Tapi rasanya sudah amat nikmat.

Naya mempercepat gerakannya. Membuatku kehilangan kontrol atas diriku.

ohh. AhhhSssshhh. Terus kak.. mau keluar nih kataku

Naya memperkuat isapannya pada penisku. Saat itulah kurasakan batang penisku mulai berdenyut. Kepala penisku memanas seperti akan meledak pikirku.

(sfx: Crooottttt Crooottttt..)

AhhhhAhhhhh. Haaaahhhh Haaaaahh.. desahku.

Spermaku tumpah di mulut Naya. Ditelannya spermaku hingga bersih.

agak asin ya Tom? Kalo punya kakak agak asin juga ga? tanya Naya.

iya kalo punya kakak juga agak asin. Tapi punya kakak enak kok punyaku enak ga kak? aku bertanya baik. Naya hanya mengangguk dan melanjutkan menjilat sisa-sisa sperma di penisku.

kita mandi bareng yuk Tom ajak Naya.

Naya bangkit dari sofa dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut uluran tangannya dan bangkit berdiri.

kami berjalan bergandengan menuju kamar mandi. Kami masuk ke dalamnya. Sengaja kami biarkan pintu kamar mandi terbuka agar kami tau jika mama telah pulang kerja.

kakak sexy banget sih kak kataku ketika aku memeluknya dari belakang.

ahh bisa aja kamu, sabunin badan kakak dong.

Kuambil botol sabun cair di pojok kamar mandi. Kutuangkan sedikit ke telapak tanganku dan mulai kuusapkan ketubuhnya.

Baru kali ini aku memandikan seorang perempuan. Sensasinya sangat sulit untuk diceritakan. Mengusap payudaranya dalam keadaan licin. Eksotis sekali.

Naya ikut mengambil sabun dan mengusapkannya ke tubuhku. Benar-benar tak terlupakan. Baik aku yang mengusap, atau aku yang diusap, keduanya betul-betul sangat nikmat. Dobel kenikmatan kupikir.

Kudekatkan wajahku pada wajah Naya dan kami mulai berciuman. Menikmati usapan, sentuhan, dan rabaan ditubuh kami masing-masing. Sungguh nikmat. Tak terasa cukup lama kami melakukannya hingga sabun ditubuh kami mengering.

Kuputar kran shower untuk membasahi tubuh kami. Kami masing saling mengusap tubuh satu sama lain untuk menghilangkan sisa sabun yang masih menempel. Dirasa sudah cukup bersih, aku keluar mengambil handuk untuk kami berdua.

Dingin sekali angin yang kurasakan menerpa tubuhku. Karena handuk kami jemur di halaman belakang, terpaksa aku keluar mengambilnya tanpa busana. Untunglah halaman belakang kami tertutup tembok yang cukup tinggi. Sekitar lima meter, sehingga aku tidak khawatir ada orang yang melihat.

Kuberikan handuk untuk dipakai Naya. Kami mengeringkan tubuh masing-masing lalu kembali duduk di sofa.

Tom kamu sayang gak sama kakak? tanya Naya.

ya sayang lah.. kakak kan baik sama aku, cantik, kakak satu-satunya pula.. masa aku gak sayang sama kakak jawabku.

kakak juga sayang sama kamu. Katanya sambil tersenyum dan mencium pipiku.

tapi kalo nanti kakak udah punya pacar, pasti kakak lebih sayang sama pacar kakak kataku.

kalo gitu kita pacaran aja gimana.? Kata Naya sambil tersenyum lebar.

lah mana boleh begitu.. masa saudara pacaran kataku

ihhh. Ini yang kita lakuin aja aktivitas suami istri.. masa pacaran gak boleh..

ya tapi apa kata orang kak, kalau sampe tetangga tau gimana? tanyaku

mana mungkin tetangga tau, kita peluk-pelukan aja wajar sebagai kakak adik. Asal jangan ciuman di depan umum aja katanya.

oke siapa takut, kataku.

janji ya kamu harus setia sama kakak kata Naya.

Kami mengaitkan jari kelingking kami sebagai tanda janji.

Sore menjelang. Langit telah berubah warna menjadi jingga. Saat itu kudengar mobil mama sudah sampai di depan pintu gerbang. Aku bergegas mengenakan celana pendek dan membukakan gerbang untuk mama.

kamu sudah makan Tom? tanya mama

Mama keluar dari mobilnya sambil membawa setumpuk kertas di tangannya.

belum mah tadi Cuma makan eskrim. Dibeliin sama kakak Aku menghampiri mobilnya untuk memasukkannya kedalam garasi.

yaudah mama masuk duluan ya

ya mah

Segera aku masuk kedalam mobil dan memutar kuncinya. Deru mesin mobil mulai terdengar.

Tak lama mobilpun selesai kuparkir. Tak lupa kugembok pagar rumah kami agar tidak ada rasa khawatir.

Ketika aku memasuki pintu rumah, mama sedang duduk di samping Naya yang masing mengenakan handuk. Mama mengengok ke arahku.

hayo kalian habis ngapain? Gak nunggu-nunggu mama ya. Kata mama

Aku hanya tersenyum.

mah aku sama Tomi udah jadian jadi pacar lho mam kata Naya.

ehh dasar kalian bilang aja biar lebih mesra dirumah ya kan? kata mama sambil mencubit pipi Naya. Naya pun tersenyum lebar dan memeluk mama.

mama mau mandi dulu ah.. keringetan nih habis macet-macetan dijalan

mau kita mandiin gak mah? tanyaku.

iya mahh.. mandi bareng yuk Naya tanpa dikomando langsung menyergap mama dari belakang dan membuka kancing kemejanya satu persatu.

yuk mama kan belum dapet jatah hari ini kata mama sambil membantu Naya melepaskan pakaiannya.

Aku menghampirinya dan membuka kait pada celananya. Mama menaikkan pinggulnya agar memudahkanku melepaskan celananya. Kuturunkan perlahan celananya dan kuletakkan dilantai.

Bra dan celana dalam mama juga tak lupa kami lucuti. Tak lama kemudian mama telah bugil di ruang tengah.

yuk mah.. kita mandi. Naya bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan pada mama.

nanti abis mandi kita pijitin deh mama pasti cape abis kerja kataku.

iya tuh.. karena kemarin cuti kerjaan mama numpuk sampai harus lembur. Makanya mama bawa pulang aja habis kangen sama kalian.. kata mama.

Kami menggandeng mama ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam aku menyalakan shower dan Naya mengambil botol sabun.

Kami melumuri tubuh mama bersama-sama. Naya dari depan, dan aku dari belakang. Ohh.. lagi-lagi penisku mulai mengeras. Mama menyelipkan penisku di antara pahanya dalam posisi berdiri tegak.

Ahh.. mah enak banget mah di jepit.. kataku.

kamu gerakin dong biar lebih enak kan udah licin kena sabun kata mama.

Kumajukan pinggulku kedepan dan kebelakang. Kunikmati sensasinya, merasakan penisku berada di selangkangan seorang perempuan. Naya yang berada di depan menyabuni perut dan payudara mama. di usapnya payudara mama yang licin karena terkena sabun.

OhhhSsssshhh.. mama mendesah. Tampaknya gesekanku di selangkangannya ikut mengenai klitorisnya.

Nafsu mama mulai bangkit. Dikecupnya bibir Naya yang sedari tadi mengelus dan meremas payudaranya. Naya membalas ciuman itu. Mamapun membalas remasan di payudaranya dengan meremas payudara Naya. Pergumulan mereka terlihat begitu panas.

Nafas mereka memburu. Mama yang telah dirasuki nafsu menyelipkan tangannya ke selangkangan Naya. Diusapnya klitoris Naya seraya kini mama menghisap payudara Naya.

Pergumulan kami berlangsung cukup lama. Akhirnya kami merasa cukup kedinginan dan menyudahi permainan kami.

Kami mengeringkan diri dan bergegas menuju kamar mama. Naya membiarkan lampu dalam keadaan mati, ia berjalan menuju ke jendela untuk menutup tirainya.

Mama kini merebah di ranjangnya. Naya segera mengambil posisi di samping mama. mama mulai meraba dan meremas payudara Naya sementara aku bermain di vaginanya. Kujilat klitorisnya agar mama mulai bernafsu lagi. Benar saja tidak lama berselang mama mulai mendesah dan menekan kepalaku dengan tangannya.

Masukin pake jarimu dong Tom. Mama pengen dimasukin kata mama. Sepertinya mama merasa tidak tega jika memintaku memasukkan penisku kedalam vaginanya. Mungkin karena aku masih perjaka. Kuturuti kemauan mama. kumasukkan dua jariku ke dalam vaginanya.

Desahan mama semakin menjadi-jadi. Diiringi dengan rangsangan yang di berikan Naya di payudaranya, mama semakin dekat dengan orgasmenya. Kupercepat kocokanku untuk mengimbangi nafsunya.

Mama sangat menikmatinya, pikirku.

Keringat kini telah membasahi tubuh kami. Permainan berlanjut semakin panas. Mama tampaknya sudah terhanyut dalam luapan nafsunya.

Ahhh.. Ahhhh. Aaaa, sedikit.. lag.. gii Tom desahan mama terputus.

Kini tiga jari kumasukkan ke dalam vagina mama. berharap mama cepat menggapai orgasmenya.

Tidak dipungkiri tubuhku sudah sangat lelah karena bermain dengan Naya tadi siang.

Hmmmpphhh Ohhhhhh. Ahhh. Mama melenguh panjang.

Aku memperlambat kocokanku, membiarkan mama menikmati sisa-sisa orgasmenya.

enak banget sih kayanya ma tanya Naya.

iya lah.. kalian kan pinter memuaskan mama. kata mama.

emang sama jari aja udah enak ya ma? tanyaku

sebenernya sih tetap ada yang kurang tapi kan kamu masih perjaka. Masa perjakamu diambil mama kata mama.

kalo gitu perjakamu buat kakak aja Tom.. Naya tersenyum.

berarti perawan kakak buat aku donk.. kataku

Kami tertawa bersama. Sore itu cukup melelahkan bagi kami. Namun mama tetap harus mengerjakan tugas kantor yang telah dibawanya.

Akhirnya hanya aku dan Naya yang berbaring di ranjang mama. mama telah mengenakan kimononya dan menuju ruang tengah untuk menyelesaikan tugasnya.

besok kita ngesex yuk kak kataku.

makanya kamu pulang cepat besok kata Naya sambil mulai memejamkan matanya.

Rasa lelah ditubuhku mengundang rasa kantuk yang tak tertahan. Hari ini memang melelahkan, tapi hari ini sangat menyenangkan.

Bunyi detik jam dinding mulai menghipnotisku. Membuat rasa kantuk mengambil alih kendaliku. Mataku mulai terpejam, hanyut dalam buaian kenikmatan.

Tak seperti biasanya, pagi itu aku bangun kesiangan. Sampai-sampai aku terlambat masuk sekolah.

Satpam sekolah memarahiku, padahal semenjak sekolah disini baru sekali ini aku terlambat. Brengsek, pikirku. Dia menyuruhku menghadap kepala sekolah.

Langkahku sangat tidak bersemangat ketika aku menuju ke ruangan kepala sekolah.

Kuketuk pintunya. Tapi tak ada yang menjawab. Kuputuskan untuk kembali menemui satpam.

pak.. saya ketok pintunya gak ada yang jawab, kataku.

ya sudah minta ijin bu Reni sana. Saya gak mau kena masalah.. katanya.

Aku segera berjalan menuju ruangan bu Reni. Kali ini agak bersemangat, mungkin karena pembicaraan kami kemarin. Semoga saja dia tidak marah padaku karena keterlambatanku ini.

Kuketuk pintu ruanganya. Tak sampai sepuluh detik dia sudah membukakan pintunya untukku.

kamu Tom. Kenapa? Telat ya? tanya Bu Reni.

Aku mengangguk. Bu Reni mempersilahkanku masuk

maaf bu saya kesiangan, mungkin karena kecapean kataku.

emang kemarin permainannya lama ya..? katanya.

Ihh. Ibu nanyanya to the point banget. Kataku.

hahaha. Tuh kan sudah ibu duga.. katanya.

ya maaf bu, padahal saya ngak begadang lho tadi malam.. tapi tau-tau kesiangan. Aku menjelaskan padanya.

sebenarnya sih ibu mau-mau saja ngasih kamu ijin masuk kelas, tapi ini sudah lewat 2 jam pelajaran kalau kata ibu sih lebih baik kamu pulang. Nanti kamu bilang sama wali kelasmu besok kalo ibu gak kasih kamu ijin kata bu Reni.

gpp nih bu, sy takut nilai pelajaran saya di potong aja kataku.

kamu bilang aja kamu kesiangan karena ngak enak badan beres kata bu Reni sambil mengedipkan sebelah mata padaku.

ibu tau aja kalo sebenernya saya kepingin pulang kataku sambil tersenyum.

halah paling-paling dibenakmu bilang dasar lulusan psikologi.. ya kan?

Aku tertawa mendengar ucapannya. Ketahuan juga pikirku.

Saat itu aku bercerita kepadanya bahwa sekarang aku sudah berstatus pacaran dengan kakakku. Bu Reni malah mentertawakanku. Tampaknya dia sudah bisa memprediksikan apa yang akan terjadi, pikirku. Kami berbincang cukup lama diruangannya.

hayo pasti sebentar lagi kamu perawanin kakakmu katanya

ah ibu.. jangan di omongin juga kali. Habis kak Naya yang nawarin sih. Kan saya serba salah kataku.

terus nanti kalo kakakmu hamil gimana?

Deg. Jantungku kurasakan seakan berhenti mendadak, walaupun kenyataanya kini sedang berdegup kencang. Kuakui bahwa aku masihlah anak bau kencur yang belum berfikir sejauh itu. Kubayangkan kini, akibat seperti apa yang akan menimpa keluarga kami seandainya semua itu terjadi.

kok diem aja. Khawatir ya? tanya bu Reni.

Aku mengangguk dan menunduk.

apa sebaiknya jangan saya lakukan bu permintaan kakak? aku bertanya balik tanpa memberikan jawaban pada pertanyaanya.

hidup ini tidak sulit tom. Yang sulit hanyalah membuat pilihan. Pahami resikonya dan buat pilihan yang menurutmu berhasil baik. Kalau kamu tolak permintaan kakakmu apa yang akan terjadi, kalau kamu turuti apa yang akan terjadi. Ibu percaya kamu sudah dewasa. Bisa menentukan pilihan. Katanya.

ya kalo nurutin nafsu sih maunya lakuin aja bu… tapi kalau akibatnya bisa merusak keluarga, saya jadi bimbang. Kataku.

kalau gitu ya jangan di keluarin di dalam Tom keluarin aja diluar. Kalau mau keluarin di dalam, ya pastikan kamu pakai alat kontrasepsi katanya.

kondom maksudnya bu? tanyaku.

hus pake di sebut lagi katanya sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya.

ya tapi mana mungkin saya beli itu di minimarket pake seragam sekolah begini apa kata orang nanti

nih. Katanya sambil menyodorkan plastik berisi karet berbentuk cincin.

itu apa bu? tanyaku polos.

ya ini yang namanya kondom. Kamu belum tau?

Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Kusentuh plastik berisi kondom itu dengan ujung jari telunjukku seakan itu adalah benda yang aneh.

Sejenak kuterdiam. Sadar akan kenyataan yang tersirat dari ucapan bu Reni.

Kuangkat telunjukku ke arahnya tanpa berkata apapun.

iya. Ibu udah ngelakuin itu kemarin lagi-lagi dia tau isi pikiranku.

lho.. katanya ngak mau. Kataku menyindirnya sambil tersenyum lebar.

Wajah bu Reni memerah. Kini ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Imut sekali, seperti anak remaja pikirku.

kamu sih cerita-cerita sama ibu., ibu kan jadi kepengen jadinya, kata Bu Reni.

trus adik ibu gimana..? kursiku kugeser mendekatinya.

uhhh seneng banget dia. Kan sama masih perjaka juga adik ibu.. jawabnya.

Kami tersenyum bersama. Bu Reni menceritakan padaku bagaimana semuanya terjadi. Lagi-lagi beban pikiranku serasa longgar. Memang Bu Reni sangat cocok memegang jabatan sebagai guru BP. Dia sangat mengerti akan murid-muridnya.

Pembicaraan pun kuakhiri. Aku bergegas menuju gerbang sekolah.

tuh ga dikasi masuk kan? kata satpam.

iya pak saya dimarahin sama bu Reni.. kataku dengan wajah memelas, berharap satpam tidak curiga sama sekali.

yaudah sana pulang., besok jangan terlambat lagi.. katanya

Kuacungkan jari jepolku menandakan setuju. Kuputar kunci kontak motorku dan aku bergegas pulang. duh dirumah ngapain ya, kakak belum pulang.. masa aku sendirian pikirku.

Tak butuh waktu lama hingga aku sampai di rumah. Ku masukkan motorku dan kugembok pagar rumah.

Sepatuku kubereskan di rak di depan pintu. Kuambil kunci rumah dan kubuka pintunya.

ke bag 2

© 2022 - CeritaSeru.xyz