November 02, 2020
Penulis — mikal8080

Kesalahanku

Perkenalkan namaku Mawar Setyaningrum umurku 46 tahun tinggi sekitar 165 cm dan berat badan ku 65 kg. Aku seorang ibu rumah tangga yg punya tubuh seperti umumnya ibu ibu rumah tangga setengah baya, payudaraku bisa di bilang berukuran besar seperti melon, dengan cup ukuran 40d. Aku tinggal bersama suami dan kedua anakku.

Di kampungku keluarga ku sangatlah terpandang. Rata rata orang dikampung ini menghormati keluargaku, mungkin karena jabatan lurah yang diemban suamiku. Meski di kampungku kami selalu dihormati tapi sebenarnya diriku selalu merasa biasa saja dan malah sering aku merasa kesepian. Karena suami dan anak-anakku setiap hari selalu sibuk dengan aktifitasnya masing masing.

Pakaianku sebenarnya saat keluar rumah biasanya selalu tertutup jilbab dan gamis yg lebar dan sopan, tapi saat dirumah karena belakangan ini udara cukup panas aku sering memakai daster tanpa lengan yang biasa dipakai ibu ibu dirumah.

Waktu itu aku ke pasar saat akan pulang menunggu angkot tiba tiba ada seseorang yang menghampiriku. Aku memang sudah kenal dengan nya, namanya Robi dia tetanggaku rumahnya berjarak sekitar 50 meter dari rumahku umurnya sekitar 23 tahunan sebaya anakku yg tua.

“Bu mawar sedang apa disini?”

“Eeh nak Robi.. Iya ni ibu lagi nunggu angkot mau pulang. Tadi habis belanja di pasar”

“Ya sudah pulang sama aku aja bu”

“Emang nak Robi sendirian nih?”

“Iya lah buk kalo gak sendirian gak mungkin lah nawarin ibu aku antar pulang”

“Iya juga sih.. hi.. hi.. hi. ya sudah ayo deh”.

Lalu aku naik ke motornya dan memboncengnya pulang, di jalan kami ngobrol ngobrol.

“Emang kamu gak kerja Rob?”

“Sudah tidak kerja Bu, habis kontrak bulan kemarin. Ini masih mau cari cari lagi”

“Oalah pantas kok jam segini masih kelayapan. Hi.. hi.. hi..”

“Bisa aja nih Bu mawar, emangnya aku ayam pake kelayapan segala”.

Dan kami tertawa bersama kami saling bercanda hatiku rasanya ada yang lain dengan anak ini aku merasa nyaman bicara dengan ya.

Tak lama kemudian sampai juga didepan rumahku.

“Akhirnya sampai juga. ayo masuk dulu nak Robi ibu buatkan minuman dulu”

“Eeh iya deh Bu.”

Lalu aku dan Robi masuk ke rumahku

“Silahkan duduk nak Robi ibu kedalam dulu ya”.

“Iya buk”.

Lalu aku masuk kekamar, aku merasa tubuhku penuh keringat karena habis dari pasar, lalu aku mengganti bajuku dengan daster rumahan. Kemudian aku ke dapur membuatkan minuman untuk Robi. Setelah selesai membuatkan minuman aku mengantarkannya ke depan. Kemudian aku meletakkan minuman ke atas meja. Aku melihat mata Robi selalu melirik ke belahan dadaku.

“Ini minumannya nak Robi”.

“Terima kasih ya buk… jadi nerepotkan ibuk ne”

“Gak repot kok nak Robi Cuma minuman aja. Malah ibu berterima kasih sekali tadi sudah di antar kerumah”

“Iya buk sama sama. Eeh ngmong ngomong kok rumahnya sepi begini buk?”

“Anak anak pada sekolah dan kuliah sedangkan suami ibu tahu sendiri kan lurah, jadi sangat sibuk sekali apalagi sedang ada pembangunan desa seperti sekarang ini”.

Saat kami mengobrol Robi masih curi curi pandangannya ke dadaku, aku pun menyadarinya tapi aku diamkan saja kalo aku tegur nanti dia malah malu. Memang sih payudaraku ini ukurannya sangat menggoda sekali bagi laki laki karena ukurannya yg montok.

“Silahkan diminum dulu Rob!”

“Eeh iya buk”

Kemudian dia meminum nya dan lalu berpamitan akan pulang

“Buk terimakasih ya, maaf lho jadi bikin ibu repot repot begini”.

“Ibuk yang berterima kasih karena sudah di antar pulang sama kamu”

“Udah sore ne buk, aku pulang dulu ya”

“Iya nak Robi hati hati dijalan ya”.

“Iya buk”.

Kemudian dia keluar dari rumahku dan pulang. saat dia pulang ada perasaan aneh dalam hatiku tapi aku tepis langsung mungkin aku kesepian dan butuh teman di sisi ku.

Ke esokan harinya saat aku sedang menyapu rumah tiba tiba Robi datang lagi ke rumahku.

“Assalamualaikum”.

“Walaikum salam eh nak Robi. mari masuk”

Kemudian dia masuk kerumah dan duduk di kursi tamu, ku lihat matanya selalu mengawasi tubuhku seperti kemarin. Saat itu aku hanya memakai daster tanpa lengan dengan belahan dada yg lumayan rendah.

“Ada perlu apa ya nak Robi?”.

“Ini buk mau minta tanda tangannya pak lurah, apa bapaknya ada?”

“Bapak lagi keluar kota lho nak Robi”.

“Waduh keluar kota ya Buk. aduh bagaimana ini ya? Kami butuh tanda tangan bapak buat propsal yg aku bawa ini”

“Tenang saja nak Robi, ibu bisa meniru tanda tangan suamiku kok. Lagian stempel kelurahan juga ada sama ibu. Sering juga kalo ada orang mau minta tanda tangan saat bapak sedang keluar ibu yang gantiin”.

“Syukurlah kalo begitu”.

“Ibu mau ngambil stempelnya dulu ya”.

“iya buk”

Setelah itu aku mengambil stempel dan membuatkan minuman untuknya. Aku membuat 2 minuman karena aku juga haus sehabis menyapu tadi.

Tiba tiba muncul ide dalam otakku kemudian aku masuk ke kamarku obat perangsang dan obat kuat suamiku. aku sambil senyum senyum sendiri lalu ku lepas juga BH dan CD ku kini aku tak memakai apa apa dalam dasterku. Kemudian aku ke dapur lagi dan memasukkan obat kuat itu ke minuman nya Robi lalu aku keluar mengantar minuman itu saat aku meletakkan minuman itu, aku sengaja berlama lama agar Robi jadi terangsang padaku.

“Nak Robi mana yang harus di tanda tangani?.. koq malah bengong gitu?”

“Eh ii.. inni buk”.

“Kok kayak kaget gitu seh Rob?”.

“Gak koq buk he.. he.. oh iya buk ini buat proposal pemuda kita acara Minggu besok”.

“Suamiku sudah menyetujuinya belum ini nak Robi?”

“Sudah buk, kemaren sedah dilihat bapak suratnya”

“Ya sudah kalo begitu, biar ibu aja yg tanda tangan”.

Lalu aku menantangani nya satu persatu saat aku menantangani beberapa kertas itu mata Robi selalu tertuju ke dadaku dan aku hanya tersenyum sedikit.

“Diminum dulu nak Robi”

“Eeh iya buk.

Kemudian dia meminum itu tak lama kemudian tingkahnya mulai berubah dia tidak tenang saat duduk. Aku tahu obat itu sudah bekerja dan dia menahanya sampai begitu. Aku tertawa kecil dalam hatiku.

“Buk aku ijin ke kamar mandi ya”.

“Iya nak Robi, yuk ibuk antar”.

Lalu kami berdiri dan berjalan ke arah kamar mandiku. lalu dia masuk ke kamar mandi dan aku sudah tahu apa yang akan di lakukannya pasti dia mau ngocok. Rasanya aku mau tertawa tapi aku tahan.

Kemudian terdengar suara desahan nya Robi lalu aku buka pintu kamar mandi. karena pintunya tidak ada kuncinya. benar dugaan ku dia sedang ngocok. Aku pun berlagak memarahinya.

“Astaga nak Robi apa yang sedang kamu lakukan?”.

Ia pun seperti ketakuatan dan merasa bersalah. Aku melihat kontolnya, gila kontolnya cukup besar dan panjang.

Kini aku masuk ke kamar mandi dan langsung memegang kontol Robi kemudian langsung kukocok kontolnya. dia merem melek ke enakan. Kemudian ku bisikan di telinganya.

“Kita pindah kamar saja yuk”. dia hanya mengganguk lalu kami keluar dari kamar mandi dan langsung ke kamarku. Saat sudah didalam kamarku, aku dan Robi langsung berciuman mesra, tangannya juga ikut meremasi payudaraku sedangkan aku masih mengocok kontolnya.

Tiba tiba pintu kamarku terbuka di sana kulihat anak pertamaku sudah berdiri didekat pintu.

“Astaga…!! ibu apa yang sedang kalian lakukan. keluar kau bangssatt..!!” bentak Iqbal anak pertamaku pada si Robi. Robi langsung dengan cepatnya berlari keluar kamarku sambil menaikkan celananya. Aku cukup terkejut dan hanya bisa menangis saat Iqbal terlihat sangat marah padaku.

“Apa yang ibu lakukan. sungguh keterlaluan ibu ini, koq berani beraninya bawa laki laki lain ke kamar ibuk”

“Ibu bisa jelaskan semuanya Iqbal. Ibu tidak melakukan apa apa sama Robi”.

“Tidak melakukan apa apa kata ibu? jadi yang tadi kulihat itu apa?”.

“Kamu gak tahu yang ibu alami bal, ibu merasa kesepian sejak bapakmu sering keluar kota, dan ibu gak bisa menahannya”.

“Kalau ibu kesepian bilang saja samaku, aku kan selama ini sudah memani ibu dirumah”

“Kamu gak akan tahu apa maksud ibu nak”.

Aku menangis sesgukan sedangkan Iqbal berdiri di sampingku. Tak lama kemudian Iqbal duduk di sampingku dan langsung memeluk tubuhku.

“Sudah Bu jangan menangis lagi. Iqbal tahu ibu kesepian. Iqbal tau ibu apa yg ibu rasakan”.

“Kamu gak tahu yang ibu inginkan nak”.

“Iqbal sebenarnya tahu koq buk”.

Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan kemudian mencium bibirku. Di lumatnya bibirku aku terkejut tapi aku diam saja menikmati ciumannya.

“Aku janji mulai sekarang aku akan menemani ibu agar gak kesepian lagi, aku akan gantiin tugas bapak yang selama ini gak dia lakukan pada ibu”.

“Tapi kita ibu dan anak kandung lho nak, kita gak boleh berbuat seperti ini”.

“Aku gak perduli buk, yang penting ibu bisa bahagia dan gak merasa kesepian lagi karena bapak sering pergi”.

“Terima kasih ya sayang.. kamu memang anak ibu yg baik”.

Kemudian kami berciuman lagi dan kini aku membalas lumatan bibir anakku. Kami berciuman mesra dan tangan anakku mulai meraba kedua payudaraku, diremas remasnya. Aku mendesah keenakan.

“Sssstthhhhh eemmmmmbbbbbbb”

“Kok ibu gak pakai kutang?”

“Iya nak tadi ibu merasa gerah waktu siap menyapu”.

“Buk buka bajunya dong, aku mau ngisep tetek ibu”.

“Iya anakku sayang”

Kemudian aku membuka dasterku dan mengarahkan dadaku ke bibirnya. Lalu anakku langsung mengisap puting payudaraku. di sedotnya bergantian satu persatu buah dadaku yang kiri dan yg kanan.

“Eeessssshhtttt aahhhhh eennaakkkk gelliiiii baalllll uuhhhhhhh”

Kemudian tanganku meraba kontol anakku dan sudah tegang sekali. Aku buka celananya dan munculah kontol anakku. Ukurannya lumayan besar juga dari pada punya bapaknya.

“Besar juga punya kamu ya bal?”.

“Iya lah buk. Aku kan sering ngocok dikamarku”.

“Pantas saja besar kaya gini, Eh.. jangan jangan kamu pernah ngocok pakai pakai kutang ibu ya?. kok pernah ada bekas sperma di kutang ibu yg digantungan kamar mandi”.

“He he he iya buk. Habisnya tetek ibuk besar banget sih. Aku jadi nafsu kalau bayanginnya”

“Dasar kamu anak nakal, mesum sama ibuknya sendiri”.

“Aku sebenarnya udah sering bayangin ibu kalau lagi ngocok, malah pengen banget ngentot sama ibu, sekarang aku bolehkan ngentot sama ibuk?”.

“Boleh seh, asal jangan sampai ketauan bapakmu dan juga asal bisa muasin ibuk, ibu juga udah gak tahan ini. sudah jarang bapakmu menggauli ibu”

“Aku akan muasin ibu kalau bapak udah gak mau lagi makek ibu”

Kemudian Iqbal mencopoti bajunya sampai telanjang bulat didepanku, lalu di suruhmya aku mengangkang ditengah ranjang. Selanjutnya ia mulai meraba rabanya memekku yang rimbun denga bulu jembut yg lumayan lebat. Tanggannya mengelusi memekku, aku mulai merasa keenakan. Tak lama dia mendekatkan kepalanya di memekku sepertinya dia mau menjilati memekku.

“Iqbal jorok itu jangan seperti itu. aahhhhhh ggeelliiiiii sudahlah iqbbaalll suudahhh. aahhhha hh”

“Sudah ibu diam saja mending ibuk nikmati aja”.

“Assssttttt aahhhhhh ahhhh iiyyaaaa uuuhhhhhhhh ahahhhhh”

Memekku sudah basah kuyup di sedot nya tanpa ada rasa jijik.

“Sudah cepat masuki naakkk ibuuu sudahhh gakkk kuuaatttt aahhh ahhh”

“Iya buk.. aku juga udah pengen banget ngentotin ibuk”

Kini Iqbal memasukkan kontolnya di memekku, bagai orang yg sudah sangat berpengalaman dan sepertinya dia memang pernah berhubungan intim dengan perempuan.

“Kok kamu udah pinter ginian? apa kamu sudah pernah ngentot sama cewek lain”.

“He.. he.. he Iya Bu, aku udah pernah ngentot sama mantan pacarku dulu”.

“Pantes saja kamu kok kayak udah gitu mahir ngentotin ibuk”.

Dia memasukakn kontolnya kedalam memekku begitu dalam.

“Aaahhhh ahhh ahhh Iqbal.. terus nak entot ibuk.. ahhh” dia menggenjot memekku dengan cepat dan bernafssu

“Iyyaa buuk.. aahhhh ahhhhh memek ibuk enak banget.. aahhh”

“Kontolmu juga enak besar dan mentok di rahim ibu nak. aahh ahh ahhh ahhh”

“Memek ibu masih sempit gak kalah sama memek mantanku dulu. ah ahh ahhhh ahhh ahhh.. akhirnya aku bisa ngentot sama ibukku sendiri”

Sudah hampir setengah jam kami bersetubuh, Iqbal masih terlihat bernafsu menggauli aku ibu kandungnya.

“Bal ibu mau keluar nak. Aahhh ahhh ahhh ahh”

“Aku juga bukkk”.

“Kita keluar sama ya nak”…

“Iya ibuku sayang… aahh”

“Aahhhh ahhh ahhh ahhh”

Crrootttt ccrrotottt ccrrrtooooootttttttt begitu banyak semprotan sperma Iqbal dalam memekku. Aku pun juga keluar menggapai orgasmeku.

Setelah kejadian itu, aku dan Iqbal menjadi semakin dekat. Kami hampir tiap hari berhubungan badan meski masih sembunyi sembunyi menyalurkan birahi kami. Waktu itu pukul 2 siang suamiku masih dinas di kelurahan sedangkan aku dirumah bersama iqbal yang baru pulang kulaih, tentu saja kalau kami sudah berdua saja dirumah kami akan bercumbu mesra dan pastinya bersetubuh walaupun disiang hari.

“Aahhhh ahhh ahhhhh sodokkk yanngg dalaamm saayangggg aahhh aahhh ennaakkkk banngget kkoonntolllmmu anakku. ahhhh ahhh hhhhh” ucapku saat memekku sudah di genjot Iqbal anakku diatas ranjang kamarku. Sedang enak enaknya kami memacu birahi.

Tiba tiba kami di kagetkan kedatangan anak ku yang kedua yang bernama Ardi.

“Astaga ibuk..!!… kalian ngapain?” ucap anakku Ardi melihat kelakuan kami.

Tapi aku dan iqbal biasa biasa saja karena aku tahu kalo Ardi juga punya obsesi sama ibunya, karena dia juga suka ngocok dengan BH dan CD ku. bahkan banyak sekali BH ku yg disimpannya dialmari nya.

“Aahhhahh Aahhhahh. Ardiii mauuu ikkuutt juga sini gabung sama abangmu, kita maen bareng” ucapku pada Ardi

“Ibuk koq gak kaget aku melihat kalian lagi begini?”

“Sayang.. ibu tau koq kamu juga nafsu sama ibuk kan?. Sama kayak abangmu Iqbal yg sering ngocok pake daleman ibuk, yakan?“ucapku lagi pada Ardi

“He.. he.. he.. iya seh… aku memang suka nafsu kalau liatin ibuk”

“Kalian berdua memang sama aja ternyata, Nafsu koq sama ibuknya sendiri”

“Tapi bang Iqbal enak, udah duluan ngentot sama ibuk, padahal aku kan juga pengen ngentot sama ibuk”

“Ya udah, sekarang kamu juga boleh ngentot sama ibuk. Makanya ibu ajak sini gabung aja kita maen bertiga”.

Dan tanpa diperintah lagi Ardi langsung membuka seluruh pakaiannya, ikut telanjang seperti abang dan aku ibunya. Dia langsung meminta abangnya untuk gantian meggauli aku

“Bang geser dong.. aku udah pengen banget ne ngentot sama ibuk.. lu kan pasti udah sering ngentot sama ibuk, sekarang gantian dong aku yg ngentotin ibuk”

“Iiss.. ne anak gangguin aja, orang lagi enak enaknya malah gangguin aja”

“Udah sayang gak papa.. gantian dong sama adikmu, kamu kan udah dari jam 1 tadi ngentotin ibuk, ibuk juga kepengen ngerasai kontol Ardi”

Dengan wajah sedikit kesal Iqbal merelakan posisinya yg sedang menyetubuhi aku digantikan adiknya yang terlihat sudah tidak sabar kepengen juga menggauli ibunya.

Pertempuran birahi tentunya makin panas dengan kehadiran Ardi yg ikut juga mencicipi tubuh ibunya

Kini aku sudah lengkap ngentot dengan kedua anak laki lakiku, dan aku pun sekarang semakin binal saja selalu minta dipuaskan oleh mereka berdua.

Waktu itu suamiku akan mendaftarkan dirinya sebagai calon camat dikelurahan ku dia didukung banyak tokoh masyarakat karena menurut mereka suamiku cocok jadi calon camat. Akibat kesibukannyya dia jadi semakin jarang dirumah. Aku sendiri sih senang senang saja toh aku juga sudah mempunyai teman untuk urusan ranjang bahkan 2 orang sekaligus.

Kini suami ku dia ajak oleh para pendukungna itu untuk mengikuti beberapa tes dan lain lain aku pun tak mau tahu. Dia akan pergi 5 hari bersama orang yg mendukungnya itu aku di ajak dia tapi aku menolak nya.

Malam itu suamiku bersiap siap untuk mengikuti acara tersebut semua kebutuhannya sudah aku tata dengan rapi begitu pun juga perlengkapannya.

“Bu bapak berangkat dulu ya doain bapak supaya bisa jadi calon camat”

“Iya pak pasti ibu dan anak anak doain bapak”.

“Kalian jaga ibumu ya selama bapak pergi dan jangan bikin nakal sama ibumu”

“Iya pak kami sudah gede kok pasti aku akan jagain ibu ya gak Di?”

“Iya pak tenang aja. yang penting bapak hati hati ya di luar sana”

“Iya anak anaku bapak berangkat dulu ya. Assalamualaikum”

“Waalikum salam.. hati hati ya pak” jawab kami serempak

Setelah suamiku pergi aku menutup pintu dan langsung kedua anakku menggendong ku ke kamar, sesampainya di kamar Iqbal langsung mencium bibirku sedangkan Ardi meremasi payudaraku di balik baju ku. Aku hanya bisa merem melek menikmati perlakuan mereka. kini pakaianku satu persatu di buka oleh Iqbal kulihat juga Ardi sudah telanjang bulat.

Melihat ibunya sudah tak memakai apa apalagi mereka berdua secara bersamaan mengisap di kedua payudaraku Iqbal di sebelah kanan Ardi di sebelah kiri di hisapnya kedua putingku rasanya geli geli nikmat. tangan Iqbal mengobok obok memekku Ardi menyuruhku mengemut jari telunjuknya aku hanya pasrah di perlakukan mereka berdua

“Sssshhtttt sshhhtttt sshhttttt “desis ku. memekku sudah sangat basah dan aku pun mencapai puncak orgasmeku mengejang.

Lalu aku di suruh terlentang oleh Iqbal karena dia sudah tidak sabar ingin memasukkan kontolnya di memekku sedangkan Ardi menyuruhku mengulum kontolnya. Bbblllesssssssss masuk sudah kontol anakku Iqbal di memekku, tak lama akupun digenjotnya perlahan tapi lama kelamaan semakin cepat

“ccllookkkk ccllookkkk ccllokkkkkk uuhhhhhhh ahhhhh ahhhh uuhhhhh” desah ku ketika kedua anakku sedang menyodokku di dua lobang yang berbeda.

Sekitar 15 menit Iqbal mengejang dan menyemburkan spermanya di dalam memekku. Setelah mencabut kontolnya dari memekku, gantian Ardi adiknya mendekatkan kontolnya ke memekku dan langsung dimasukkan semua kontolnya hingga tak tersisa diluar dan langsung saja dia menggenjot ku dengan kasar. Mungkin dari tadi dia sudah sangat ingin menyetubuhiku tapi harus mengalah dapat jatah kedua dari abangnya.

Plokkk pllokkkk plokkkk

Aku dan Ardi bersetubuh dengan binalnya, sementara Iqbal abangya duduk dipinggir ranjang melihat ibunya sedang dikawini adiknya.

Tak ada hujan atau petir suatu hari tiba tiba suamiku mengatakan akan menceraikan ku aku pun sontak kaget dengan ucapannya.

“Mas kenapa kau tiba tiba ceraikan aku apa salahku mas hiks hiks hiks” aku menangis tersedu sedu didepan suamiku

“Kau bukan istriku lagi kau tak lebih dari binatang dasar wanita murahan” ucap suamiku

“Hiks hiks hiks maksudmu apa mas kenapa kau bilang begitu. hikks hiks hiks” ucapku yang masih terus menangis

“Kau pikirkan sendiri apa yang telah kau buat. pergi dari rumahku dan bawa anak anakmu itu dasar biadab kalian semua “suara suamiku masih keras.

“Jika itu mau mu hiks hiks akan ku turuti mas. hiks hiks hiks”

Lalu aku menangis dan masuk ke kamarku untuk memgambil pakaia ku sedangkan ke dua anakku belum pada pulang. Aku terus menangis di kamar dan kemudian keluar dari rumah ini. kemudian dengan masih menangis aku berjalan menyusuri kampung ini kemudian aku menuju ke pangkalan ojek dan aku putuskan untuk pergi ke rumah orang tua ku yang ada di kampung sebelah.

Dijalan aku masih menangis tapi tak seperti yang tadi. Aku berfikir kenapa suamiku seperti itu padaku apa mungkin dia sudah tau semua yang aku lakukan dengan kedua anakku?. Aku terus bifikir dan aku merasa bersalah ke padanya mungkin dia menceraikanku gara gara kelakuanku itu. Hari ini pikiranku sangatlah kacau.

Aku telah sampai didepan rumah orang tuaku, kemudian aku mengetuk pintu tak lama kemudian pintu itu terbuka yang membukakannya adalah adik perempuanku namanya Lilis umurnya 43 tahun dia janda ditinggal mati suaminya. Dia tinggal bersama emakku yang sudah tua. Emakku sering sakit sakitan, sedangkan abahku sudah lama meninggal.

Aku ditanya oleh adikku kenapa aku menangis dan membawa semua barang barangku, tapi aku tak menjawabnya aku hanya diam membisu tak perlu orang lain tahu masalah yang aku hadapi saat ini. Kemudian aku ke ingat kedua anakku, aku harus memberitahu supaya jangan pulang kerumah itu. Lalu aku kirim pesan ke mereka berdua.

“Kenapa kok gak boleh pulang kerumah kita buk? “SMS nya

“Ibu sudah di ceraikan bapakmu. lebih baik kamu gak usah kerumah itu. ibu tinggal dengan nenek. kamu pulangnya ke rumah nenek saja”

“Iya buk Ardi pulang kayanya 3 hari lagi. kenapa ibu di ceraikan bapak???”

“Kamu gak perlu tahu ini semua kesalahan ibu”,

Kemudian Ardi tak membalas pesanku lagi.

Aku dan kedua anakku kini tinggal dirumahnya orang tuaku bersama Lilis adik ku. Sudah sebulan kami tinggal di sini setelah ku ceritakan bahwa aku sudah diceraikan suamiku. Dan untungnya dia mengerti keadaanku dan tak bertanya yang lebih lagi.

Kini aku mulai kehidupan dengan status janda. Meski janda kebutuhan seks ku selalu terpenuhi dengan kedua anakku yang selalu memberi kepuasan bathin padaku. Meski kami kalau sedang kepengen harus melakukannya sembunyi sembunyi.

Tak berselang lama Emakku meninggal dunia dan aku merasa kehilangan tapi apa lah daya karena sudah tua dan sakit-sakitan aku hanya pasrah saja.

Tak terasa sudah sebulan sejak kematian orangtuaku dan kini aku hanya tinggal dirumah dengan Lilis kedua anakku sudah kerja semua tak meneruskan kuliahnya karena mereka menyadari ekonomi di keluarga kami. Aku kini kembali sebagai ibu ibu desa yang bekerja di sawah. Kehidupan kami berbalik 180 derajat tapi aku malah menyukai kehidupanku yg sekarang ini dari yang dulu waktu jadi istri seorang lurah.

Wajahku dan Lilis tak jauh beda padahal kami terpaut 4 tahun mungkin dulu aku selalu perawatan sedangkan lilis hanya wanita desa yang selalu di sawah dan kebun.

Malam itu aku baru saja pulang dari pengajian ibu ibu didesaku. Aku pergi hanya sendiri sedangkan Lilis tak mau ikut katanya dia lagi gak enak badan. Sekitar pukul 8 malam aku pulang aku langsung masuk saja kedalam rumahku. Tapi aku sedikit heran karena kudengar ada suara erangan orang. Aku langsung bergegas menuju sumber suara erangan tersebut.

Arah suara itu ternyata dari kamar Lilis. Kupegang gagang pintu kamarnya, ternyata tak terkunci, langsung kubuka saja pintu kamar Lilis. Mataku terbelalak saat kulihat diatas ranjang Lilis sedang ngentot dengan seorang lelaki muda yang seumuran dengan Iqbal anak pertamaku, dan yang membuatku tambah kaget ternyata lelaki itu adalah Agus anak kandungnya yg selama ini bekerja dikota.

“Astaga Lilis. Apa yg kalian lakukan?” Tapi anehnya Lilis dan anaknya terlihat tidak kaget saat aku melihat kegiatannya dan malah tetap meneruskan kegiatannya

“Eh mbak mawar sudah pulang ahhh ahhh ahhh kenapa mbak? Mbak kaget lihat kami ngentot ahh ahh ahh”

“Kamu ternyata binal juga ya Lis?”

“Emangnya mbak aja binal. Emang mbak pikir aku gak tau kalau mbak juga ngentot sama anaknya”

“Lho kok kamu tahu Lis”

“Haha ya tau lah Mbak. Kan sering kedengaran kalau mbak lagi dientot sama Iqbal dan Ardi. Untung aku punya Agus anak lanangku yg perkasa, walau cuma sebulan sekali pulang yg penting tiap dia pulang kami selalu ngentot sampe puas. Iya kan gus?”

“Iya mak.. aku juga sama kayak Bude Mawar nafsu sama ibunya sendiri.. he.. he..”

“Ya udah sini Mbak gabung aja kontol Agus lebih besar dari kedua kontol anaknya mbak lho”

“Kamu koq tau emang kamu pernah ngerasain kedua kontol anakku Lis”

“Ya belom seh Mbak, tapi aku kan sering ngintipin kalau kalian lagi ngentot”

“Dasar janda gatal kamu Lis”

“Mbak lebih gatal. hahaha. Udah sini gantian mbak yg ngentot sama Agus, enak lho sodokan kontol Agus”

Kemudian Lilis berhenti dan menarik tanganku menuju ranjang. tanganku di arahkan ke kontol Agus yang super besar baru kali ini aku melihat kontol sebesar itu.

“Gimana mbak besar kan kontol anakku”

Aku hanya mengangguk malu lalu kucocok pelan kontol Agus. sedangkan Lilis sedang berciuman mesra. lalu ku kulum kontol Agus mulut ku sampai tak muat rasanya.

“Mbak buka gamisnya dan rasakan kontol Agus di memeknya mbak pasti ketagihan”

Lalu ku buka semua pakaianku sekalian BH yg membalut payudaraku yang besar. Begitu BH ku terbuka tumpahlah payudaraku keluar bergelantungan

“Tetek Bude rupanya besar sekali ya mak” seru Agus melihat payudaraku

Lalu aku terlentang dan Lilis menetek padaku sedangkan Agus berusaha langsung memasukan kontolnya ke memekku.

Blesssss masuk sudah kontol besar itu rasanya penuh mentok sampai ke rahimku. lalu dia menggenjotnya

“Aahhhh sakit pelan pelan aja dulu gus ahh ahhh”

Si Lilis terus mengenyoti pentilku sampai merah. Agus dengan ganasnya menyodok memekku aku sampai kewalahan dengan sodokannya memekku rasanya sangat ngilu. Aku sudah orgasme 2 kali sedangkan Agus belum sama sekali. lalu dia mencabut kontolnya dari memekku, perih sekali rasasna lalu kontol agus di kulum oleh ibunya.

“Lis sejak kapan kamu ngentot sama anakmu?”

“Sejak dulu mbak sebelum mbak kesini”

“Nikmat banget kontol Agus besar dan panjang, selalu bikin emaknya puas”

“Pantes kamu tahan menjada segitu lama, rupanya ada yg udah bikin puas selama ini”

“Iya dong mbak, dua minggu sekali Agus pulang kampung. Setiap dia pulang aku pasti minta jatah kontol anakku yang besar itu. Aku selalu puas lho mbak dientot Agus”

“Iya Lis aku juga puas tadi ngentot sama dia. Tapi kamu apa gak takut hamil Lis ngentot sama anakmu”

“Nggak mbak kan aku selalu minum pil KB kalau Agus pulang”

Setelah itu kami tiduran dalam keadaan masih telanjang. Tak lama Agus kembali dan langsung berbaring disamping ibunya. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, sepertinya Agus masih mau menggauli ibunya. Kulihat mereka kembali berciuman dan saling meraba, dan bisa dipastikan mereka akan bersetubuh lagi.

“Lis.. aku tidur disini ya? Udah gak kuat mau pindah” hanya itu yg mampu aku katakan sama Lilis yg kulihat hanya mengangguk sambil tetap merintih karena sedang disetubuhi anaknya dan selanjutnya aku sudah terlelap tak tau apa apa lagi.

© 2022 - CeritaSeru.xyz