November 03, 2020
Penulis — benja_mien

Anak Pengganti Ayah Impoten

Tommy, 18 tahun kurang, baru saja masuk kuliah. Memang waktu kecil ia masuk sekolah setahun lebih cepat.

Dari keluarga yang berkecukupan.

Papanya memiliki Perusahaan yang lumayan besar. Papanya Doni, 45 tahun, Mamanya Lena, 37 tahun.

Tommy adalah anak tunggal, walau orangtuanya berharap bisa punya 2 atau 3 anak, tapi tak kesampaian.

Sebagai anak tunggal, sedikit banyak orangtuanya memanjakan dirinya.

Untungnya Tommy tidak tumbuh menjadi anak yang lemah, ia tetap mandiri dan pergaulannya juga luas.

Kurang lebih 4 tahun yang lalu papanya mengalami kecelakaan.

Sebagai pengusaha sukses tentu saja ia memiliki supir, namun ada kalanya di hari libur, ia menghabiskan waktu bersama kolega atau relasi bisnisnya secara personal. Saat itu ia dijemput seorang relasinya untuk bermain golf. Saat mobil yang dikendarai relasinya melaju kencang di jalan tol, mereka mengalami kecelakaan, bertabrakan dengan truck di depannya yang mendadak mengerem. Relasinya meninggal di tempat, sedang papanya mengalami cedera berat sekali, pinggang dan kakinya tergencet dashboard mobil.

Sungguh keajaiban, akhirnya papanya bisa melewati masa kritis. Awalnya kaki papanya tak bisa berfungsi, namun berkat terapi dan pengobatan, baik di dalam dan di luar negeri, akhirnya papanya bisa berjalan kembali, hanya kadang suka mudah lelah. Papanya sangat mensyukuri karena bisa lolos dari musibah itu, selain itu juga menyadari, kasih dan perhatian Lena, istrinya serta Tommy anaknya juga berperan memberinya kekuatan untuk sembuh dan melalui semua itu.

Tommy kuliah di sebuah Universitas Swasta. Selain dia juga ada Sandi, 18 tahun, sahabat karibnya, dari SMP mereka sudah satu sekolah.

Sudah sangat mengenal satu sama lain. Tumbuh besar dan bandel bersama. Hari ini belum terlalu siang, masih jam 11 lewat, Sandi asik duduk di sofa di rumah Tommy.

Mereka sudah pulang kuliah, tadi ada pengumuman, kuliah siang nanti dosennya berhalangan, ada penggantinya, tapi mereka malas, paling juga asistennya, kasih foto copy-an. Sandi lalu mengajak Tommy buat menemani dia saja, katanya dia ada obyekan kecil di daerah Bogor.

Biasa, si Sandi memang dari dulu otak bisnisnya encer, apa saja kalau bisa dia obyekin maka dia akan kerjakan dengan serius. Tommy setuju saja. Berhubung Tommy kuliah mengendarai motor, dan Sandi hari itu bawa mobil, maka mereka pulang dulu ke rumah Tommy sekalian menaruh motor.

Sesampainya di rumah, Tommy mendapatkan rumahnya sepi.

Memang mamanya tidak mau pakai pembantu. Katanya cuma Tommy dan papa saja di rumah, tidak perlu pembantulah. Sandi sendiri sudah sering banget ke rumah Tommy, sering nginap, demikian juga Tommy, kedua orangtua mereka juga sudah saling kenal. Sandi sedang asik nonton TV, sambil menghisap rokok dan minum air es. Rencananya mereka pergi jam 1-an. Tommy menelepon mamanya.

Halo ma, ada di mana..? Mama lagi pergi sama teman mama, kamu di mana Tom…? Di rumah, tuh sama Sandi.

Lho, kamu nggak kuliah…? Nggak, dosennya berhalangan. Oh ya ma, Sandi ngajak Tommy ke Bogor siang ini. Pulangnya malaman dikit, boleh ya.

Ke Bogor…? Ngapain..? Naik apa? Katanya dia ada urusan. Dia bawa mobil… boleh ya.

Ya sudah, hati-hati. Bilang Sandi jangan ngebut. Kunci rumah sebelum pergi.

Oke… thanks ma.

Tommy mematikan HP-nya. Dia sih tak keberatan menemani sohibnya.

Daripada di rumah. Si mama kadang suka reseh, nggak bisa lihat orang santai, ada saja yang disuruh.

Sekarang dia asik ngobrol sambil nonton TV sama Sandi. Biasa, ngomongin ceweklah, apa lagi sih bahan omongan yang menarik bagi remaja seusia mereka. Lumayan seru dan cukup lama mereka ngobrol, Sandi memanggil tukang mie yang lewat, lalu mereka makan. HP Sandi bunyi, Sandi melihat peneleponnya, lalu mulai bercakap.

Ternyata mengabarkan, siang ini orang tersebut tak bisa bertemu Sandi. Batal deh. Sandi mengakhiri percakapan. Kembali bicara sama Tommy.

Wah, sorry nih bro, loe dengar kan barusan, batal deh kita pergi.

Ya sudahlah, nggak masalah.

Gini saja, karena gue sudah bawa boil, kita jalan saja yuk, gimana…? Ah malas deh San. Loe sendiri saja.

Gue mau tidur.

Ya sudah kalau begitu. Gue cabut dulu ya, ke tempat si Susi, biasa… hehehe.

Dasar loe ngeres.

Susi itu pacarnya Sandi. Tommy bukannya malas jalan sama Sandi, tapi tadinya dia setuju nemani Sandi ke Bogor karena buat ganti suasana saja. Enak, udaranya sejuk. Kalau akhirnya batal dan cuma muter- muter di Jakarta juga, dia malas, mendingan dirumah, tidur. Akhirnya Sandi pulang. Tommy merapikan gelas dan asbak. Dia bermalasan.

Pikirnya, enakan juga tidur, lebih baik HP juga di silent saja ah.

Tommy lalu mengunci pintu dan mencabut kuncinya, mamanya punya kunci sendiri. Dia lalu ke kamarnya, kamarnya terletak berhadapan dangan ruang tamu, dibukanya pintu kamar lalu ia menutup pintunya, tapi tidak sampai rapat benar, biar nanti bisa dengar kalau ada orang. Lampu sengaja ia tidak nyalakan. Kamarnya jadi gelap walau hari masih jam 12 lewat. Tommy mulai merebahkan tubuhnya dan tidur.

Tommy membuka matanya perlahan, masih agak mengantuk, ia melihat HP-nya, jam 3 lewat. Tadi ia terbangun karena sepertinya ia mendengar suara-suara.

Ditajamkannya telinganya, sepertinya mamanya sudah pulang.

Tommy diam sejenak, biasa bermalasan sebentar kalau baru bangun tidur. Kondisinya sudah segar, ngantuknya sudah hilang. Baru saja ia memutuskan untuk turun dan menyapa mamanya. Paling mama akan bertanya kenapa ia tak jadi pergi.

Tiba-tiba ada suara HP berbunyi, kaget Tommy. Lupa HP nya sendiri tadi ia silent. Itu HP mamanya yang berbunyi, ia lalu mendengarkan suara mamanya. Tentu hanya suara mamanya saja yang ia dengar, suara lawan bicaranya tidak bisa ia dengar.

Iya, tadi aku baru pergi sama si Reni, dia minta temani beli baju buat anaknya.

Betul, katanya sih bagus. Kebetulan tadi di mall sekalian aku beli DVDnya, sekarang aku mau praktekkan, mumpung juga rumah lagi sepi.

Iya… aku dengar sih juga begitu, kabarnya gerakannya bagus buat kesehatan perut, juga punggung, nanti deh kalau memang jeng Tuti mau, aku bikin copynya.

Oh rupanya mama tadi pergi sama temannya, Tante Reni. Dari yang Tommy dengar juga, mamanya sedang asik bercakap di telepon dengan Tante Tuti, temannya dekat sini. Yang juga suka senam.

Sepertinya membahas kaset DVD senam. Mamanya memang rajin merawat tubuhnya, menjaga makannya, olahraga dan senam.

Kadang mama suka senam di sanggar senam dekat sini, kadang di rumah saja. Sepertinya mama baru membeli kaset DVD senam baru. Hal yang biasa, untuk praktek senamnya.

Tommy jadi mengurungkan niatnya untuk keluar kamar.

Sejujurnya Tommy di usianya yang sekarang ini, bukanlah remaja yang lugu lagi, tentu saja di usianya ia sudah mengenal dan belajar banyak tentang wanita dan juga seks.

Medianya banyak, lewat teman, majalah, film juga internet. Bahkan juga ia sudah sering melakukan hubungan seks dengan Yeni, pacarnya. Namun tetap saja ia mengagumi mamanya. Mamanya seringkali menjadi khayalannya. Ia sangat suka dengan mamanya yang di usianya yang ke 37 masih terlihat cantik dan juga memiliki tubuh yang menarik. Namun sejauh ini mamanya hanya menjadi khayalannya saja, tak pernah ia melihat tubuh mamanya secara langsung. Walau mamanya rajin senam di rumah, jangan harap Tommy melihatnya dengan baju senam mini atau seksi, mamanya hanya memakai kaos dan celana pendek saja. Ya, tak apalah, toh tetap saja menarik dilihat. Kali saja ada gerakan yang seru. Lagipula mama juga mengira ia sedang tak di rumah.

Tommy lalu mendekat ke dekat pintu kamarnya yang menyisakan celah sedikit, karena ia tak menutupnya rapat. Sempat ia khawatir mamanya akan melihat pintunya yang tak rapat, lalu merapatkannya. Ruang tamu itu masih kosong. Didengarnya suara dari kamar mamanya, memang di kamar mamanya juga ada TV dan DVD, namun mamanya lebih suka senam di sini, lebih luas dan sejuk.

Tak lama dilihatnya mamanya, memakai kaos agak ketat dan celana pendek, sedang menggelar matras kecil yang biasa ia pakai. Setelah itu mamanya kembali ke kamarnya, kembali lagi membawa benda di tangannya, Tommy tak melihatnya secara jelas, ada beberapa kotak film, juga benda berwarna merah jambu, mamanya menaruhnya di sofa, Tommy tak melihat terhalang pinggiran sofa.

Mamanya mendekat ke arah TV, menyalakan TV dan DVD, tak melihat sama sekali ke pintu kamar Tommy.

Tak lama terdengar suara TV, agak keras. Tommy mengintip dan melihat mamanya mulai melakukan senam mengikuti gerakan di TV. Dilihatnya sesekali tetek mamanya di balik kaos bergoyang saat mamanya bergerak, pahanya juga putih dan mulus. Walau mamanya memakai kaos yang agak ketat saja, namun Tommy dapat melihat lekuk tubuh mamanya yang seksi dan menarik. Teteknya terlihat besar saja. Saat gerakan berbaring, mamanya mengangkat dan meregangkan kakinya, Tommy jadi berfantasi, membayangkan seperti apakah keindahan di baliknya. Kont01nya rada mengeras.

Peluh mulai mengaliri wajah dan tubuh mamanya. Hampir sejam ia sudah melakukan senam. Tommy sebenarnya sudah memutuskan mengakhiri mengintip, dan mau kembali berbaring di tempat tidur, ketika ia mendengar mamanya bergumam sendirian…

Duh… gerah banget. Sekalian mandi deh habis ini…

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari ucapan itu. Yang luar biasa dan membuat mata Tommy nyaris melotot adalah sesudah kelar bergumam, mamanya membuka kaosnya dan celana pendeknya, Woowww… mamanya hanya mengenakan CD putih saja. Tommy melihat tetek mamanya, besarnya… dihiasi pentil yang menawan. Jantung Tommy berdetak kencang, kont01nya kini berubah, dari yang agak-agak ngaceng saja, sekarang mengeras sepenuhnya.

Tentu saja Tommy tak jadi mengakhiri kegiatan ngintipnya, sekarang lagi seru banget situasinya.

Mamanya nampak sedang melakukan gerakan pendinginan. Ya ampun… ketek mamanya ternyata lebat, Tommy sedikit mengernyit, setahunya saat mamanya memakai baju atau kaos yang berlengan pendek, dan ia mengangkat lengannya, biasanya keteknya bersih… tapi itu bukan masalah saat ini. Tommy menyaksikan tetek besar mamanya bergoyang-goyang, perlahan Tommy memelorotkan celananya, mulai asik mengocok kont01nya. Dilihatnya CD mamanya, tampak tebal sekali.

Gila… jadi beginilah tubuh mamaku, lebih seksi dari Yeni pacarnya.

Tommy tiba-tiba berpikir… sayang banget melewatkan kesempatan langka ini, belum tentu aku seberuntung dan mendapatkan kesempatan langka ini lagi, harus kuabadikan. Perlahan ia melangkah mengambil HP-nya, ia segera mengaktifkan mode kamera. Tapi nanti bisa ketahuan dong pantulan cahaya di layarnya. Gampang, tutupi tangan saja. Lalu ia kembali ke tempatnya mengintip tadi. Dengan satu tangan diarahkannya lensa kamera HP-nya, sembari menutupi layarnya. Satu tangannya asik mengocok kont01nya. Mamanya masih melakukan senam pendinginan.

Untung pikir Tommy, kepikiran merekam, karena sebentar kemudian mamanya nampak melemaskan tubuhnya sambil menghembuskan nafas, tanda mengakhiri senamnya. Sedikit kecewa Tommy jadinya. Ia menurunkan HP-nya. Matanya melihat mamanya mendekat ke TV, Tommy lalu agak menjauh, namun ia masih melihat mamanya, mengeluarkan kaset senamnya.

Setelah mamanya menjauh dari TV, Tommy kembali mengintip, dia tak mau melewatkan moment yang akan segera berakhir ini.

Tadinya Tommy berpikir mamanya akan segera melipat matrasnya seperti biasa kalau ia sudah kelar senam. Tapi kok mama malah mengambil bantal sofa, meletakkannya di matras, lalu astaga mama malah berbaring di atas matras itu. Bantal sofa dijadikan bantal untuk kepalanya.

Hanya ber CD saja. Nampaknya kembali menyaksikan TV. Tommy baru sadar TV belum dimatikan, hanya suaranya kecil. Tadinya Tommy tidak terlalu mendengar, namun setelah ia coba mempertegas pendengarannya, sepertinya film barat, dari suara percakapannya.

Mamanya dilihatnya asik menonton TV. Tommy tak peduli lagi dengan acara TV itu, matanya fokus menjelajahi tubuh mamanya. Nampak pentil yang mencuat dan menantang.

Perlahan sambil mengocok kont01nya, ia merekam kembali dengan HP-nya.

Lama kelamaan Tommy mulai merasa aneh, dilihatnya mamanya mulai gelisah, sesekali tangannya nampak membelai CD putihnya, mula-mula jarang, lalu mulai membelai dan mengelus-ngelus CD-nya. Telinga Tommy mulai menangkap suara desahan dari TV, walau kecil namun terdengar. Astaga… mamanya sedang nonton film bokep. Tak lama tangan mamanya mulai menyusup ke balik CD-nya. Asik memainkan isi di dalamnya. Tommy terpaku memandangnya. Kont01nya keras sekali sudah. Hal berikutnya sangat mengejutkan Tommy, terlalu indah rasanya hari ini, membayangkannya saja rasanya tak mungkin. Seakan tak puas terhalang CD-nya, mama lalu memelorotkan CD-nya.

Gilaaa… lebat banget jembut mama, tebal dan hitam. Belahan m3meknya nampak agak mekar karena tadi mama memainkannya. Tommy makin berdebar, kocokannya makin cepat.

Sementara di ruang tamu, keadaannya juga sama.

Mama mulai memainkan jarinya, membelai belahan m3meknya, naik- turun, belahan m3mek itu lalu nampak makin m3mekar, dan menampakkan lobangnya yang kemerahan. Mama mulai memainkan jarinya di atas it1lnya, membelai dan memilin-milinnya, sesekali terdengar suara desahan mamanya.

Sesekali jarinya menusuk dan memainkan lobang m3meknya, Tommy benar-benar terangsang menyaksikan adegan yang tak pernah ia bayangkan ini. Ia masih asik merekam, juga tetap mengocok kont01nya. Kocokannya makin cepat… cepat dan croot… croot… pejunya muncrat membasahi pintu kamar. Namun Tommy tak peduli, kont01nya masih keras, dan pemandangan di luar juga masih berlanjut. Ia tetap mengocok kont01nya. Di luar sana, mama nampak makin asik memainkan m3meknya dengan jarinya, memainkan it1l dan lobangnya, sesekali pantatya agak terangkat, desahannya juga terdengar enak sekali. Tak lama berselang, Tommy melihat mamanya makin cepat memainkan jarinya, desahannya juga agak meningkat… dan diiringi desahan yang kuat dan pantat terangkat, Tommy menyaksikan mamanya orgasme, nampak mamanya terdiam lemas.

Namun Dewa keberuntungan sedang suka sekali sama Tommy hari ini.

Belum berakhir keberuntungan Tommy hari ini, setelah terdiam sebentar, dan Tommy hanya mendengar suara desahan dari TV saja, mamanya mulai bergerak, agak menaikkan badannya, tangannya nampak menggapai sesuatu, mata Tommy terhalang pegangan sofa, tangan mamanya meraih benda itu, merah jambu cerah… astaga… itu… itu kan dildo… kont01 imitasi. Mau apa mamanya? Belum kelar kebingungan Tommy, mamanya mulai beraksi kembali. Tangannya mulai memainkan Dildo itu, mengeluskan ujungnya ke m3meknya yang sudah basah dan melebar. M3mek itu nampak kemerahan sekali, terlihat jelas bagian dalamnya. Tommy meneguk ludahnya… Puas mengelus-ngelus, mamanya lalu mulai memasukkan kont01 imitasi itu ke lobang m3meknya, tanganya asik mengeluar masukkan mainan itu, sementara sesekali satu tangannya asik meremas tetek besarnya, memilin pentilnya. Terdengar desahan mamanya, sangat merangsang, membuat kocokan Tommy makin cepat saja pada kont01nya. Sesekali dilihatnya mamanya memencet tombol diujung mainan itu, membuat mainan itu bergetar, menggelitik m3meknya dan membuatnya mendesah kembali. Gila… pikir Tommy.. tak kusangka mama ternyata suka seperti ini. Lena, masih asik memainkan dildo tersebut, mengocokkannya dengan cepat sambil memainkan tombolnya, pantatnya sedikit terangkat sesekali, dan akhirnya ia kembali orgasme… lemas… terkulai… puas…

setidaknya saat ini. Tommy juga baru saja ngecret untuk yang kedua kalinya, matanya masih memelototi mamanya yang terbaring lemas setelah orgasme tadi.

Tak lama mamanya, Lena, mulai bangkit, menuju TV, Tommy segera menjauh dari pintu, HP-nya ia turunkan, nampak mamanya mematikan TV dan DVD, membereskan kaset, lalu dilihatnya mamanya merapikan bantal sofa dan matras, tak lama ia mendengar mama membuka pintu kamarnya, mandi, kamar mandi mamanya ada di dalam kamarnya. Tommy masih di kamarnya yang gelap, masih belum sepenuhnya tersadar, sungguh… hal yang baru dilihatnya hari ini sangat… sangat menakjubkan, tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya yang paling liar sekalipun.

Satu hal yang pasti, mamanya pasti mengira rumah benar-benar kosong saat ini. Dibukanya hasil rekaman HP-nya, sangat bersyukur dapat merekam semuanya, nyaris tak terekam semua, karena dari sisa memorynya, sangat minim saat ini.

Hanya sekilas ia melihat, lalu mematikannya. Buru-buru ia mencari kaos yang kotor, melap sisa pejunya di pintu kamar dan ubin. Lalu ia memakai celana panjangnya dan kaos, pelan-pelan keluar kamar.

Motor tak bisa dibawa. Mamanya mengira ia sedang pergi sama Sandi, maka sebaiknya sekarang ia keluar.

Pulangnya nanti agak malam, biar mama tak curiga. Dibukanya pintu rumah perlahan, lalu ia kunci kembali dari luar. Di luar ia berjalan menuju pangkalan okek, minta antar ke jalan raya di depan. Naik Bus ke kostnya Yeni. Ia benar-benar butuh pelampiasan yang sepadan untuk hari ini. Dan apalagi yang pas kalau bukan Yeni, pacarnya.

*bersambung*

© 2022 - CeritaSeru.xyz